BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Landasan Teori
2.3.1 Teori Matrealisme (Marxisme)
Marxisme, atau Sosialisme Ilmiah, adalah sebutan untuk seperangkat gagasan yang pertama dirumuskan oleh Karl Marx (1818-1883) dan Friedrich Engels (1820-1895). Secara keseluruhan, gagasan-gagasan ini menyediakan dasar teoritis yang sudah lengkap dijabarkan untuk mencapai bentuk masyarakat yang lebih agung - sosialisme
.
Sebelum menjelaskan tentang konsep materialisme historis Marx, kiranya perlu bagi penulis untuk menjelaskan terlebih dahulu prinsip dasar pandangan materialisme historis, yakni keadaan dan kesadaran. Marx menyatakan bahwa bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka, melainkan
sebaliknya keadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka.
Keadaan sosial manusia, menurut Marx, adalah produksinya atau pekerjaannya.
Manusia ditentukan baik oleh apa yang mereka produksi maupun bagaimana mereka berproduksi.
Pandangan inilah yang kemudian disebut materialis karena sejarah dianggap ditentukan oleh syarat-syarat produksi material. Jadi, Marx menggunakan istilah Marxisme bukan sebagai kepercayaan bahwa hakikat seluruh realitas adalah materi, tetapi menunjuk pada faktor yang menentukan sejarah, yaitu keadaan material manusia (cara manusia menghasilkan apa yang dibutuhkannya untuk hidup) bukan pikiran manusia.
Selain itu, Marx juga mengambil filsafat dialektikanya GWF Hegel untuk mengembangkan konsepnya mengenai materialisme historis. Dialektika Hegel ini menyatakan bahwa sesuatu hanya benar apabila dilihat dengan seluruh hubungannya, yang semuanya terkait dalam satu gerak penyangkalan dan pembenaran (tesis-antitesis-sintesis). Apapun merupakan kesatuan dari apa yang berlawanan, hasil dari proses dialektis yang melalui negasi atau penyangkalan.
Dalam menjelaskan karakteristik penyangkalan dialektis ini, Hegel menggunakan istilah Jerman aufheben yang mempunyai tiga arti:
menyangkal/membatalkan, menyimpan dan mengangkat. Dengan demikian, Hegel telah mengenalkan sebuah filsafat yang telah mempengaruhi pemikiran Marx bahwa sesuatu pada dasarnya mengandung unsur kebalikan/negasinya (opposite).
Negasi dianggap sebagai penghancuran dari yang lama, sebagai hasil dari perkembangan sendiri yang diakibatkan oleh kontradiksi-kontradiksi internal.
Jadi, segala sesuatu bergerak dari taraf yang rendah ke taraf yang lebih tinggi, atau dari keadaan yang masih sederhana kea rah yang lebih kompleks. Inilah yang
kemudian mendorong Marx untuk mengembangkan filsafat materialisme dialektis.
Konsep materialisme dialektis ini, yang menyatakan bahwa setiap materi menghasilkan negasi di dalam entitasnya, merupakan aspek utama yang mempengaruhi Marx dalam menganalisa masyarakat, mulai dari permulaan zaman (primeval period) hingga masyarakat dimana Marx berada, sehingga teori ini disebut Materialisme Historis. Karena materi, oleh Marx, diartikan sebagai keadaan ekonomi, maka teori Marx juga sering disebut ‘analisa ekonomis terhadap sejarah’ (the economic interpretation of history). Marx beranggapan bahwa perkembangan dialektis awalnya terjadi pada struktur bawah (basis) masyarakat, yang nantinya menggerakkan struktur atas-nya (supra-struktur). Basis masyarakat bersifat ekonomis dan tersusun atas dua aspek, yaitu cara berproduksi (teknik dan alat-alat) dan relasi ekonomi (sistem kepemilikan, pertukaran dan distribusi barang). Sementara itu, supra-struktur, yang berdiri diatas basis ekonomi, terdiri atas kebudayaan, hukum, ilmu pengetahuan, kesenian, agama, dan ideologi.
Berdasarkan hukum dialektika, masyarakat telah berkembang menjadi masyarakat kapitalis seperti dimana Marx berada. Gerak dialektis ini, yang disebabkan oleh kontradiksi dari dua kelas utama dalam masyarakat, dimulai dari komune primitif, dimana mereka masih tidak mengenal kelas dan kepemilikan pribadi, menjadi sebuah masyarakat-kelas yang mulai mengenal milik pribadi dan pembagian kerja, sehingga mengenal pula pembagian kelas-kelas sosial. Dalam masyarakat-kelas yang pertama, masyarakat budak (the slave-society), terjadi pertentangan/negasi antara kelas budak dan kelas pemilik budak, yang kemudian
secara dialektis menjadi masyarakat feodal (the feudalist-society) dan pada akhirnya masyarakat kapitalis (the capitalist-society).
Menurut materialisme historis ini, masyarakat-kapitalis, terdesak oleh kontradiksi antara kaum kapitalis dan kaum proletar, akan bertransformasi sebagai gerak dialektis terakhir menjadi masyarakat komunis (the communist-society), dimana masyarakat-tanpa-kelas ini akan terlepas dari segala bentuk kepemilikan pribadi, eksploitasi, opresi dan koersi.
Untuk memahami pokok-pokok Marxisme, kita bisa memecahkannya menjadi tiga bagian, seperti yang dipaparkan oleh Lenin, yakni:
1. Materialisme Dialektis 2. Materialisme Historis 3. Ekonomi Marxis
Tiga bagian ini yang biasanya menjadi bagian utama dari Marxisme. Namun pada dasarnya, Materialisme Historis adalah pemahaman sejarah dengan metode materialisme dialektis, dan Ekonomi Marxis adalah pemahaman ekonomi dengan metode materialisme dialektis. Semua aspek kehidupan bisa ditelaah dengan materialisme dialektis. Kebudayaan, kesenian, ilmu sains, dll., semua ini bisa dipelajari dengan metode materialisme dialektis, dan hanya dengan metode ini kita bisa memahami bidang-bidang tersebut dengan sepenuh-penuhnya.
Jadi, pada dasarnya, pokok dari Marxisme adalah materialisme dialektis.
Oleh karenanya kita akan memulai dari pemahaman materialisme dialektis. Tanpa pemahaman dialektika materialisme, maka kita tidak akan bisa memahami Materialisme Historis dan Ekonomi Marxis.
2.3.2 Materialisme
Ketika kita berbicara mengenai Materialisme, kita berbicara mengenai filsafat Materialisme yang berseberangan dengan filsafat Idealisme. Di sini kita harus membedakan Materialisme dengan “materialisme” yang kita kenal dalam perbincangan sehari-hari. Biasanya kalau kita mendengar kata materialisme, kita lantas berpikir ini berarti hanya memikirkan kesenangan duniawi, hanya suka berpesta-pora, mementingkan uang di atas segala-galanya. Dan ketika kita mendengar kata idealisme, kita lalu berpikir ini berarti orang yang punya harapan, yang bersahaja dan punya mimpi dan cita-cita mulia. Pengertian sehari-hari ini bukanlah pengertian yang sesungguhnya untuk Materialisme dan Idealisme dalam artian filsafat.
Sepanjang sejarah filsafat, ada dua kubu utama, yakni kubu Idealis dan kubu Materialis. Filsuf-filsuf awal Yunani, Plato dan Hegel, adalah kaum Idealis.
Mereka melihat dunia sebagai refleksi dari ide, pemikiran, atau jiwa seorang manusia atau seorang makhluk maha kuasa. Bagi kaum Idealis, benda-benda materi datang dari pemikiran. Sebaliknya, kaum Materialis melihat bahwa benda- benda materi adalah dasar dari segalanya, bahwa pemikiran, ide, gagasan, semua lahir dari materi yang ada di dunia nyata.
Ini bisa kita lihat dengan mudah. Sistem angka kita yang mengambil bilangan sepuluh, ini adalah karena kita manusia memiliki sepuluh jari sehingga kita pun menghitung sampai sepuluh. Bilamana manusia punya dua belas jari, tidak akan aneh kalau sistem angka kita maka akan mengambil bilangan duabelas dan bukan sepuluh. Jadi konsep dasar matematika bukanlah sesuatu yang datang dari langit, bukanlah sesuatu yang tidak ada dasar materinya. Sedangkan kaum
Idealis akan berpikir bahwa bilangan sepuluh ini adalah konsep abadi yang akan selalu ada dengan atau tanpa kehadiran manusia berjari sepuluh.
Kesadaran kita, cara berpikir kita, tabiat-tabiat kita, semua ini adalah akibat dari interaksi kita dengan lingkungan sekeliling kita, yakni dunia materi.
Namun, di dalam kehidupan sehari-hari, ternyata Idealisme merasuk ke dalam cara berpikir kita tanpa kita sadari. Kaum kapitalis pun giat menyebarkan Idealisme ke dalam cara berpikir rakyat pekerja guna melanggengkan kekuasaan mereka. Ditanamkan ke dalam pikiran kita bahwa ada yang namanya itu sifat alami manusia, dan bahwa sifat alami manusia ini adalah serakah dan egois. Oleh karena sifat alami manusia ini maka kapitalisme, sistem masyarakat yang berdasarkan persaingan antara manusia karena keserakahan mereka, adalah sistem yang paling alami dan akan eksis.
Kaum Materialis berpikir berbeda, bahwa sifat serakah dan egois manusia ini bukanlah sifat alami, bukanlah sebuah ide atau gagasan di dalam pikiran manusia yang jatuh dari langit. Materialisme mengajarkan bahwa sifat manusia itu adalah hasil dari interaksinya dengan dunia materi di luarnya, bahwa kesadaran manusia ditentukan oleh keberadaan sosialnya. Maka dari itu, sifat serakah dan egois manusia ini sesungguhnya adalah hasil dari sistem produksi dan sosial yang ada sekarang ini. Keserakahan dan keegoisan manusia yang kita saksikan di jaman sekarang ini tidak ditemukan di dalam masyarakat jaman dahulu, ketika sistem produksi dan sosialnya bukanlah kapitalisme. Dari sudut pandang ini, maka bila kita ubah sistem produksi dan sosial masyarakat, maka akan berubah juga tabiat dasar manusia. Tentunya perubahan ini tidak akan terjadi dalam sekejap, namun penggulingan kapitalisme dan pembangunan sosialisme akan menyediakan
pondasi untuk pembangunan karakter manusia yang baru, yang tidak berdasarkan keserakahan, tetapi berdasarkan semangat gotong royong yang sejati-jatinya.
Dari sini kita bisa lihat bagaimana filsafat idealisme ini pada dasarnya kontra- revolusioner karena filsafat ini membenarkan kapitalisme sebagai sistem yang alami dan kekal. Sedangkan materialisme adalah filsafat yang revolusioner, karena ia mengajarkan kita bahwa kapitalisme bukanlah sistem yang lahir dari apa yang disebut tabiat alami manusia, tetapi justru sebaliknya bahwa tabiat manusia itu adalah hasil dari sistem sosial yang ada.
Akan tetapi materialisme tanpa dialektika adalah materialisme yang formalis dan kaku. Tanpa dialektika, materialisme tidaklah lengkap untuk bisa menjelaskan dunia.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Pengertian metodologi penelitian menurut Hidayat dan Sedarmayanti (2002 : 25) adalah pembahasan mengenai konsep teoritik berbagai metode, kelebihan dan kekurangan, yang dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan. Pengetian metodologi adalah “pengkajian terhadap langkah-langkah dalam menggunakan sebuah metode”. Sedangkan pengertian metode penelitian adalah mengemukakan secara teknis tentang metode-metode yang digunakan dalam penelitiannya. Metodologi adalah metode ilmiah yaitu langkah-langkah yang sistematis untuk memperoleh ilmu, sedangkan metode adalah prosedur atau cara mengetahui sesuatu dengan langkah-langkah sistematis tersebut.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori marxisme dalam film (露水红颜 Lù Shuǐ Hóng Yán) For Love or Money karya Gao Xixi ialah metode
deskripsi dengan analisis dokumen yang bertujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis, fakta dan akurat.. Metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang perilaku yang dapat diamati (Moleong, 2006:4).
3.2 Data dan Sumber Data
Dalam penelitian ini sumber data yang dipakai yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer yaitu sumber data secara langsung berkaitan dengan objek penelitian, sedangkan sumber data sekunder yaitu sumber data yang berupa buku-buku serta kepustakaan yang berkaitan dengan objek penelitian (Kalaen, 2005:148).
3.2.1 Data Primer
Data primer berupa percakapan dan adegan antar tokoh yang terdapat dalam film. Sumber data primer dalam penilitian ini berupa file vidio film (露水红颜 Lù Shuǐ Hóng Yán) For Love or Money karya Gao Xixi yang dirilis tahun 2014 yang berdurasi 98 menit merupakan data utama dan data pokok
J Judul Film : (露水红颜 Lù Shuǐ Hóng Yán) For Love or Money
Sutradara: Gao Xi
Penulis Skenario : Amy Cheung
Bintang Film : Rain, Liu Yifei, Wang Xuebing
,Joan Chen, Shao Feng.
Genre Film: Drama
Tanggal Realese: 7 November 2014
Gambar 1.2
3.2.2 Data Sekunder
Data sekunder yaitu data tambahan atau perlengkapan dari data primer yang ada. Data sekunder ini berupa dokumentasi yang di dapat dari buku, artikel, dokumentasi dari internet, jurnal yang berhubungan dengan film tersebut serta info mengenai film. Data sekunder ini merupakan bahan pendukung dari data primer yang biasanya sangat membantu penelitian apabila data primer sulit diproleh atau terbatas.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang tepat serta sesuai dengan objek penelitian, teknik pengumpulan data yang sesuai dengan objek sangat diperlukan. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah:
1. Mengunduh film : (露水红颜 Lù Shuǐ Hóng Yán) For Love or Money
2. Menonton film berulang ulang.
3. Mengumpulkan data buku, jurnal yang berkenaan pada film tersebut.
4. Mengumpulkan teori-teori yang berkenaan dengan penelitian yang akan Dikaji
5. Simak dan catat data cuplikan-cuplikan film
3.4 Teknik Analisa Data
Teknik analisa data dalam penelitian adalah dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif memaparkan, memberikan menganalisis, dan menafsirkan. Adapun langkah-langkah yang di lakukan dalam menganalisis film (露水红颜 Lù Shuǐ Hóng Yán) For Love or Money
1. Tahap identifikasi, yaitu data diindentifikasi sesuai dengan permasalahan yang di teliti, matrealisme dalam film (露水红颜 Lù Shuǐ Hóng Yán) For Love or Money karya Gao Xixi.
2. Tahap klasifikasi, yaitu data yang telah diindentifikasi, selanjutnya dikelompokkan sesuai dengan urutan data pada pokok permasalahan, yaitu matrealisme, yang terdapat dalam film(露水红颜 Lù Shuǐ Hóng Yán) For Love or Money karya Gao Xixi.
3. Tahap analisis, yaitu memberikan penafsiran terhadap data yang telah diklasifikasikan sesuai dengan pokok permasalahan
4. Tahap deskripsi, yaitu mendeskripsikan hasil penafsiran pada tahap interpretasi, sehingga dapat diambil kesimpulan dari data yang telah di teliti, mengenai magtrealisme, matrealisme yang terdapat pada (露水红颜 Lù Shuǐ Hóng Yán) For Love or Money karya Gao Xixi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Perubahan Karakter Tokoh Utama Ditinjau dari Psikologi Sosial
Dalam bab ini peneliti menyajikan hasil penelitian tentang karakteristik dan permasalahan psikologis yang dialami tokoh Xing Lu, tokoh utama dalam film ( 露水红颜 Lù Shuǐ Hóng Yán) For Love or Money , melalui pendekatan psikoanalisis. Karakteristik dalam bab ini berfungsi sebagai jembatan menuju analisis permasalahan psikologis yang dialami tokoh Xing Lu. Permasalahan psikologis yang dimaksud dalam kajian ini merupakan segala masalah yang dialami oleh tokoh Xing Lu dan dianalis secara psikologis sosial. Analisis ini dilakukan dengan teori kepribadian yang dikemukakan dalam teori Psikoanalisis Freud, bahwa sumber dari proses kejiwaan manusia terdiri dari tiga sistem yaitu ego, id, dan superego. Ketiga sistem kepribadian ini berfungsi sebagai suatu kesatuan, bukan sebagai tiga komponen yang terpisah. Kepribadian berkaitan dengan keempat sumber tegangan yaitu proses pertumbuhan fisiologis, frustasi, konflik, dan ancaman (Suryabrata, 2007: 32).
Pertama-tama peneliti melakukan pembedahan karakteristik tokoh Xing Lu setelah menonton dan memahami film (露水红颜 Lù Shuǐ Hóng Yán) For Love or Money berulang kali. Karakteristik dilakukan menggunakan teori Marquaβ.
Setelah mengetahui karakteristik tokoh Xing Lu, kemudian peneliti memulai untuk mengklasifikasikan permasalahan yang dialami tokoh Xing Lu serta mencari berbagai upaya yang dilakukan tokoh Xing Lu sebagai bentuk penyelesaian permasalahan yang dialaminya. Hasil analisis dari bab ini dimulai dari deskripsi film (露水红颜 Lù Shuǐ Hóng Yán) For Love or Money, kemudian
dilanjutkan dengan pemaparan karakteristik tokoh Xing Lu yang terbagi dalam tiga bagian, yakni:
1. Karakterisasi tokoh
Karakterisasi tokoh (menurut Marquaβ (1997: 36-39) dapat dilakukan dengan mengidentifikasi berbagai macam hal yang berkaitan dengan tokoh tersebut, Karakter tokoh disebut juga penokohan. Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan sifat, watak, dan karakter pelaku dalam cerita. Cara mengetahui asal muasal karakter yang paling mudah adalah dengan mencari tahu dari mana karakter ini berasal. Contohnya, dari kota mana dia berasal, bagaimana keadaan kota tersebut, bagaimana keluarganya, apa yang dilakukannya semasa kecil, dan bagaimana dia tumbuh besar. Lingkup latar belakang ini tidak harus melulu dari karakter kecil, bisa juga disesuaikan dengan konteks cerita. Cara lain untuk mengetahui asal muasal karakter dengan mudah adalah dengan mencari tahu apa kata penulis script atau sutradara film tentang karakter tersebut. Gambaran dari penulis atau sutradara film ini bisa kita jadikan acuan, atau bahkan komparasi dari apa yang ditulis dalam script dengan yang terlihat di cerita film yakni mengenali sifat-sifat tokoh berdasarkan beberapa aspek, yaitu:
a. Ciri-ciri lahiriah adalah karakteristik tokoh dalam sebuah film yang biasanya, di bawa semenjak lahir. Seperti bentuk fisik dan kehidupan glamor yang di ajarkan oleh leluhur sebelumnya. Sehingga setelah beranjak dewasa ciri-ciri tersebut masih melekat pada dirinya. Inilah yang dituliskan pengarang cerita, agar setiap tokoh mempunyai ciri dan khas masing-masing.
Gambar 1.3 (04:13-04:41)
Xing Lu: 嘿,我们走我会邀请你吃饭.
Hēi ,wǒ men zǒuwǒ huì yāo qǐng nǐ chī fàn.
Hei, ayo kita pergi. Aku akan mengajak mu makan.
Ming Zhen: 好吧,我想要最贵的食物.
Hǎo ba, wǒ xiǎng yào zuì guì de shí wù..
Baiklah, aku mau makanan yang paling mahal.
XingLu: 我有我男朋友的信用卡,没想到你可以回家,在你吃很多之前你 pulang, sebelum kau makan banyak yang kau muntahkan Ming Zhen: 哈哈,好吧.
Hā hā , hǎo ba. Hahaha,, baiklah.
Seperti Xing Lu adalah seorang wanita cantik, yang mempunyai tubuh proposional, berkulit putih dan bergaya modern, dia suka berbelanja, bahkan membelanjakan temannya,bisa kita liat dari cuplikan gambar di atas. Dan untuk kata-kata yang juga menunjukkan nilai lahiriah Xing Lu adalah “Hei, ayo kita pergi. Aku akan mengajak mu makan”. Dalam kalimat ini terlihat jelas kehidupan mewah yang ada pada diri Xing Lu, dengan cara menteraktir temannya. Agar kehidupan modern yang dimilikinya selalu terlihat oleh teman-temanya.
b. Ciri-ciri sosiologi memiliki hakikat sebagai suatu ilmu yang dapat dipelajari dan mempunyai metode dalam mepelajaranya, selain metode sosiologi pun dapat dikaji melalui serangkaian pendekatan ilmu sosial lainnya. Hakikat sosiologi sebagai ilmu pengetahun adalah sebagai ilmu sosial, hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa sosiologi mempelajari atau berhubungan dengan gejala-gejala kemasyarakatan. Berdasarkan penerapannya, sosiologi digolongkan dalam ilmu pengetahuan murni (pure science) dan dapat menjadi ilmu terapan (applied science).
Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian dan pola manusia dan masyarakatnya. Sosiologi meneliti dan mencari apa yang menjadi prinsip dan hukum-hukum umum dari interaksi manusia serta bentuk, sifat, isi dan struktur masyarakat. Sosiologi merupakan ilmu umum, bukan khusus, artinya mempelajari gejala-gejala pada interaksi antarmanusia.
Gambar 1.5 (19:15-19:24)
Xing Lu: 你的头呢,我应该带什么去医院?
Nǐ de tóu ne, wǒ yīng gāi dài shén me qù yī yuàn?.
Bagaimana dengan kepalamu, apa perlu ku bawa ke rumah sakit?
Cheng Xun: 没关系,只是擦伤.
Méi guān xi , zhǐ shì cā shāng.
Tidak apa-apa, hanya luka goresan.
Seperti Xing Lu mempunyai jiwa sosial yang tinggi terhadap temannya dan selalu berinteraksi antar manusia dengan baik. Kalimat yang memperkiuat bahwa Xing Lu mempuyai jiwa sosial yang tinggi adalah “Kau tidak apa-apa?” dan Bagaimana dengan kepalamu, apa perlu ku bawa ke rumah sakit?. dari kalimat tersebut sangat terlihat jelas bahwa Xing Lu sangat peduli antar sesama manusia, serta berinteraksi pada sesama manusia dengan cara yang baik dan selalu menggunakan kalimat yang bagus.
c. Tingkah laku adalah sekumpulan tingkah laku yang ditonjolkan manusia, di pengaruhi oleh budaya sikap, emosi nilai dan etika terhadap sesma manusia lain. Ensiklopedi Amerika mendefinisikan tingkah laku adalah sebagai suatu aksi reaksi terhadap lingkungan. Tingkah laku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan. Jadi, secara umum prilaku manusia pada
hakekatnya adalah proses interaksi individu dengan lingkungan sebagai rangsangan pada diri bahwa dia adalah makhluk hidup.
Gambar 1.6 (15:27-16:10) Xing Lu: 谢谢你昨天,因为你帮助我了.
Xiè xiè nǐ zuó tiān , yīn wéi nǐ bāng zhù wǒ le.
Terima kasih atas kemarin, karena kau sudah membantu . Cheng Xun: 梅关喜.
Méi guān xǐ.
Sama-sama.
Gambar 1.7 (19:50-20:03)
Xing Lu: 谢谢你带我回家.
Xiè xiè nǐ dài wǒ huí jiā.
Terima kasih telah mengantarkan ku pulang.
Cheng Xun: 我们是同学,没有正式的需要。没关系.
Wǒ men shì tóng xué , méi yǒu zhèng shì de xū yà. Méi guān xi.
Kalimat yang menunjukkan tingkah laku Xing Lu adalah wanita yang baik, mudah bergaul dan selalu mengucapkan terima kasih dengan tulus kepada siapapun yang membantunya adalah “Terima kasih atas kemarin, karena kau sudah membantu ku”, dan “Terima kasih telah mengantarkan ku pulang”.
Semua itu ada karena rangsangan dari suatu objek. Ucapan terima kasih yang di lontarkan Xing Lu kepada sesama manusia, merupakan suatu rangsangan atas kebaikan yang telah di lakukan oleh temannya kepada Xing Lu , sehingga timbullah reaksi yang memunculka tingh laku baik.
d. Pikiran dan Perasaan, perasaan sebagai segala sesuatu yang kita rasakan.
Ada perbedaan yang mendasar antara rasa yang dirasakan oleh jiwa perasaan, tetapi fungsi indrawi. Sedangkan pikiran adalah hasil dari berpikirnya manusia. Namun apa yang disebut dengan berpikir itu ? Banyak orang menyatakan bahwa orang berpikir ketika ia menghadapi masalah. Apakah benar orang berfikir hanya ketika menghadapi masalah. Bahwa ketika kita menghadapi masalah kita berpikir, ya, tapi berpikir tidak harus menunggu ada masalah. Apa yang disebut dengan masalah adalah adanya kesenjangan antara nilai-nilai kebenaran yang kita anut dengan fakta yang terjadi.
Gambar 1.8 (1:04:17-1:05:05)
Xing Lu: 你为什么在这里?我不再需要你了.
Nǐ wèi shén me zài zhè lǐ?wǒ bú zài xū yào nǐ le.
Kenapa kau kemari? Aku tidak membutuhkan mu lagi.
Cheng Xung: 我不敢相信你忘了一切.
Wǒ bù gǎn xiāng xìn nǐ wàng le yí qiè.
Wǒ bù gǎn xiāng xìn nǐ wàng le yí qiè.