• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi

2.1.4 Teori Morfologi Generatif

Dalam analisis penelitian ini, penulis menggunakan teori morfologi generatif supaya jangkauan pembicaraan tidak terbatas dan tidak hanya bersifat deskriptif tradisional. Untuk itu perlu suatu model teoretis yang lebih mutakhir (seperti Morfologi Generatif) dalam pendekatan terhadap analisis penelitian ini sehingga menghasilkan pemerian yang lebih komprehensip.

Perhatian para linguis terhadap teori morfologi generatif mulai berkat ajakan Chomsky pada tahun 1970 melalui tulisannya yang berjudul "Remarks on Nominalisation". Dalam tulisannya itu ia memaparkan betapa pentingnya bidang morfologi terutama proses pembentukan kata yang ditinjau dari teori transformasi. Dardjowijojo (1988:32) mencatat bahwa orang yang pertama kali menaruh minat yang serius terhadap morfologi generatif adalah Morris Halle dalam papernya yang berjudul "Morphology in a Generative Grammar" yang disajikan pada Congress of Linguists di Bologna tahun 1972. Tahun berikutnya karya tersebut diterbitkan dengan judul "Prolegomena to a Theory of Word Formation". Tulisan Halle memberikan dampak yang sangat kuat dan diikuti oleh ahli-ahli lain seperti Siegel pada tahun 1974, Botha pada tahun 1974, Boas pada tahun 1974, Lipka pada tahun 1975 dalam bentuk artikel dan oleh Aronoff pada tahun 1976, serta Scalise pada tahun 1984 dalam bentuk buku.

Secara umum dapat diidentifikasi bahwa di kalangan kelompok orang-orang yang menekuni bidang morfologi generatif, terdapat 2 pandangan. Kelompok pertama dipelopori oleh Halle yang berpijak pada asumsi bahwa yang menjadi dasar dari

semua derivasi adalah morfem (morpheme-based approach); Asumsi dasar Halle di tahun 1973 adalah bahwa secara normal penutur bahasa di samping memiliki pengetahuan tentang kata juga paham tentang komposisi dan struktur kata tersebut. Dengan kata lain penutur asli dari suatu bahasa mempunyai kemampuan untuk mengenal kata-kata dalam bahasanya, bagaimana kata itu terbentuk dan sekaligus bisa membedakan bahwa suatu kata tidak ada dalam bahasanya. Misalnya, penutur asli bahasa Inggris akan secara intuitif mampu memahami bahwa look dan careful adalah bahasa Inggris sedangkan lihat dan hati-hati bukan bahasa Inggris. Ini segera bisa menunjukkan bahwa careful dibentuk dari penambahan morfem bebas care dengan sufiks –ful.

1.

Tatabahasa merupakan perwujudan formal mengenai apa yang semestinya dipahami penutur suatu bahasa. Menurut model teoretis Halle morfologi terdiri dari atas:

List of Morpheme 2.

yakni Daftar Morfem selanjutnya disingkat dengan DM Word Formation Rules

3.

atau Kaidah Pembentukan Kata yang selanjutnya disingkat KPK

Filter 4.

atau saringan

Dictionary atau kamus. Ini ditambahkan oleh Halle dua tahun kemudian sebagai tempat menyimpan morfem yang telah lolos dari KPK dan Saringan.

Dalam komponen DM bisa diketemukan dua macam anggota yakni akar kata dan berbagai macam afiks baik yang bersifat infleksional maupun derivasional yang

disertai dengan rentetan segmen fonetik dengan beberapa keterangan gramatikal yang relevan.

Komponen KPK menentukan bagaimana bentuk-bentuk yang ada dalam DM tersebut diatur. Dalam kaitan ini tugas KPK membentuk kata dari morfem-morfem yang berasal dari DM. KPK bersama-sama dengan DM menentukan kata yang bena- benar kata atau bentuk potensial dalam bahasa yakni satuan lingual yang belum ada dalam realitas tetapi mungkin akan ada karena memenuhi persyaratan. Dengan kata lain KPK bisa menghasilkan bentuk-bentuk yang memang merupakan kata serta bentuk-bentuk lain yang sebenarnya memenuhi segala persyaratan untuk menjadi kata tetapi nyatanya tidak terdapat dalam bahasa tersebut.

Komponen Saringan merupakan wadah untuk menyaring segala ideosinkrasi sehingga kata-kata yang aktual saja boleh lewat saringan. Terdapat tiga jenis ideosinkrasi, yakni (1) ideosinkrasi semantik berupa keanehan dalam bidang semantik, misalnya kata recital dalam bahasa Inggris yang tidak merujuk pada apa saja yang di "recite", tetapi hanya merujuk pada suatu pertunjukan konser oleh seorang pemain tunggal dan transmission hanya merujuk pada proses pemindahan gigi pada mobil, (2) ideosinkrasi fonologis yang berujud ketidaklaziman fonologis dan (3) ideosinkrasi leksikal yakni keanehan yang menyangkut fakta dalam bahasa di mana suatu bentuk yang seharusnya ada tetapi nyatanya tidak terdapat dalam bahasa bersangkutan seperti misalnya bahasa Inggris mengenal kata arrival tetapi tidak diketemukan dalam bahasa tersebut kata *derival.

Kamus sebagai

Model Teori Morfologi Generatif Morris Halle dalam Ba’dulu & Herman (2005 :31) tempat menyimpan bentuk-bentuk yang lolos dari saringan sedangkan bentuk yang tidak berterima tertahan di saringan, Walaupun Halle tidak menganggap kamus sebagai komponen morfologi namun dari uraiannya nampak jelas kamus ini merupakan unit yang sama penting dengan ketiga komponen sebelumnya.

Model diatas terdiri atas empat komponen, yaitu : (1) Daftar Morfem (DM), (2) Kaidah Pembentukan Kata (KPK), (3) Filter, dan (4) Kamus. Cara Kerja model Halle dapat digambarkan sebagai berikut yang dikutip oleh scalise (1984:31) dalam Ba’dulu & Herman (2005:31)

DM KPK Filter Kamus

Daftar Morfem Kaidah Pembentukan Filter Kamus

Output Fonologi Sintaksis

1. friend 2. boy hood 3. recite al 4. ignore ation 5. mountain al [+penyim- pangan] X [-LI]

Keterangan :

1) Kata friend masuk kamus sebagaimana adanya, yaitu melewati KPK dan filter tanpa mengalami perubahan. Kata itu harus dicantumkan dalam DM, karena diperlukan untuk pembentukan kata lain, seperti friendly.

2) Kata boyhood tidak terdapat dalam DM ; yang ditemukan adalah boy dan hood. Kedua unsur ini digabungkan oleh KPK ; dan hasilnya, yaitu boyhood, masuk ke dalam kamus tanpa memperoleh sesuatu ciri idiosingkretis; kata itu bersifat regular dari segi sintaksis dan semantis. Perubahan ciri [-abstrak] dari pangkal boy menjadi [+abstrak] dalam output dilakukan oleh KPK, menurut Halle.

3) Kata recital dibentuk secara regular oleh KPK, seperti boyhood, sebelum kata itu sampai ke kamus, filter memberinya ciri-ciri idiosinkretis tertentu menyangkut makna (yaitu, ‘performansi seorang solois’).

4) Kata ignoration dibentuk oleh KPK, tetapi diblokir oleh filter, yang memberinya ciri [-LI]; kata ini dipandang sebagai suatu kata yang ‘mungkin’ tetapi “non-eksisten”, dan karena itu tidak didaftar dalam kamus.

5) Kata mountainal tidak dibentuk oleh KPK, karena –al hanya dapat dirangkaikan dengan verba menurut kaidah, bukan dengan nomina. Kata ini merupakan kata yang “tidak mungkin’ dan “non-eksisten’.

Secara diagramatik, Dardjowijojo (1988:36) mempresentasikan model Halle sebagai berikut:

KELUARAN

Kelompok yang kedua dipelopori oleh Aronoff yang memakai kata dan bukan morfem sebagai dasar (word-based approach) dikutip dalam Dardjowijojo (1988:33).Untuk kepentingan ilmu itu sendiri (dalam hal ini linguistik pada umumnya dan morfologi pada khususnya) berbagai konsep dan model teoretis muthakhir tersebut perlu diujicobakan atau diaplikasikan pada studi kasus dalam berbagai bahasa sehingga keunggulan dan kelemahan teori tersebut bisa diidentifikasi serta selanjutnya bisa dipakai mengungkap atau mengkaji fenomena linguistik khususnya dalam bidang morfologi suatu bahasa secara lebih tuntas.

Aronoff pada tahun 1976 dalam tulisannya yang berjudul Word Formation in Generatif Grammar mengajukan hipotesis bahwa bentuk minimal yang dipakai dalam pembentukan kata didasarkan pada kata bukan morfem. Penolakan konsep Halle tentang morfem sebagai dasar pembentukan kata didasarkan pada dengan argumentasi bahwa morfem tidak memiliki makna tetap, dan dalam hal tertentu morfem tidak memiliki makna sama sekali.

DM KPK SARINGAN KAMUS

Aronoff memandang KPK sebagai kaidah yang beraturan yang hanya akan menurunkan kata yang bermakna dari dasar yang bermakna. Oleh karena itu hanya kata yang dapat dijadikan unit dasar dalam pembentukan kata. Meskipun demikian istilah 'kata' sebagai dasar ini harus diartikan sebagai leksem sehingga teori Aronoff yang dikenal dengan word-based morphology lebih tepat disebut lexeme-based morphology.

Sebuah kata baru dibentuk dengan menerapkan kaidah beraturan pada kata tunggal yang telah ada. Kata baru dan kata yang sudah ada merupakan anggota dari katagori leksikal utama. Hipotesis yang dikemukakan Aronoff tersebut bertitik tolak dari sejumlah syarat seperti: (1) sesuai dengan namanya, kata dasarnya haruslah kata (bukan yang lebih kecil dari kata), (2) kata dasar tersebut haruslah kata-kata yang benar-benar ada dan kata yang potensial tidak dapat menjadi dasar KPK, (3) KPK hanya berlaku untuk kata tunggal dalam arti bahwa kata dasar ini bukan berwujud frase ataupun bentuk terikat, (4) Input dan output dari KPK haruslah menjadi anggota katagori leksikal yang utama. Dengan demikian kata dalam konteks ini merupakan bentuk tanpa infleksi.

Di samping tidak memiliki DM seperti model Halle, Aronoff tidak pula menunjukkan adanya komponen khusus untuk menangani kata-kata yang potensial dalam bahasa. Walaupun demikian Aronoff (1976:43) memiliki mekanisme lain yang disebut blocking yang mencegah munculnya suatu kata karena sudah ada kata lain yang mewakilinya.

Umumnya tidak ada masalah yang timbul apabila menurunkan suatu kata dari kata lain melalui KPK. Tetapi kenyataannya cukup banyak contoh dalam bahasa (Inggris) pada penambahan afiks mensyaratkan adanya perubahan ujud kata dasar (seperti nominate dan evacuate + -ee menjadi nominee dan evacuee setelah melalui proses pemenggalan ate) yang perlu ditampung melalui suatu aturan. Dalam kaitan dengan masalah ini Aronoff (1976:105) mengajukan seperangkat aturan yang dinamakan Adjustment Rules yang menangani alternasi akibat faktor-faktor lain yang termasuk dalam komponen leksikal. Kaidah penyesuaian ini terdiri atas (1) aturan pemenggalan (truncation rule) dengan cara menghilangkan sebuah morfem yang ada dalam kata dasar ditambah afiks dan (2) aturan alomorfi (allomorphic rules) dengan menyesuaikan bentuk morfem atau kelas morfem dalam lingkungan di mana morfem tersebut berada.

Model Aronoff tersebut di atas yang dikutip oleh Scallise (1984:68) dalam Ba’dulu & Herman (2005:34), sebagai berikut :

Output Komponen Leksikal Kamus KPK Kaidah Penyesuaian

Terdapat suatu kesamaan dalam kedua model teoretis morfologi generatif ini. Baik Halle maupun Aronoff tidak menangani masalah pembentukan kata yang terdiri dari dua kata atau lebih (compounding). Di samping itu mengenai isi dan kodrat dari elemen yang ada dalam DM, baik Halle maupun Aronoff mengabaikan bentuk dasar yang statusnya bukanlah kata (seperti kata prakatagorial juang, temu dan anjur

Menurut Halle dalam Scalise (1984:43) studi morfologi generatif terdiri dari empat komponen yang terpisah yaitu (1) daftar morfem (list of morphemes) (2) kaidah pembentukan kata (word formation rules) (3) saringan (filter) dan (4) kamus (dictionary). Komponen pertama adalah DM yang terdiri dari dua macam anggota yaitu morfem dan bermacam-macam afiks, baik yang derivasional maupun yang infleksional. Butir leksikal dalam DM tidak cukup diberikan dalam bentuk urutan segmen fonetik tetapi harus pula dibubuhi dengan keteranganketerangan gramatikal yang relevan. Contohnya dalam bahasa Inggris ditemukan morfem write yang harus dijelaskan sebagai kata verbal, tidak berasal dari bahasa Latin dan konjugasinya bukan konjugasi yang umum.

dalam bahasa Indonesia) maupun afiks dan akan memiliki status sebagai kata hanya setelah diberi afiks. Kajian morfologi generatif terhadap kasus pembentukan VK bahasa Inggris ini bertumpu pada perpaduan konsep dan model teoretis Halle di tahun 1973 dan Aronoff di tahun 1976.

Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa kata-kata yang telah dibentuk di pembentukan kata (KPK) ada yang mengalami proses morfofonologis. Uraian metode struktural tentang morfofonologis diakhiri dengan penemuan kaidah yang

berupa penambahan fonem, pelesapan fonem, peluluhan fonem, sementara dalam morfologi generatif proses morfofonologis dimasukkan ke dalam komponen filter dengan kaidah Struktur Asal (SA), proses asimilasi dan Struktur Lahir (SL). Selain itu kata-kata yang potensial ada yang diberi idiosinkresi baik idiosinkresi fonologi, leksikal maupun semantik. Kata-kata tersebut dibentuk dan (akan) dipakai oleh masyarakat pemakai bahasa sebagai alat komunikasi. Jadi bentuk bunyi apapun yang digunakan manusia sebagai pengguna bahasa itulah kenyataan bahasa. Hal lain yang menunjukkan perbedaan antara morfologi generatif dan struktural dapat dilihat pada adanya komponen ciri-ciri pembeda (distinctive fitures) untuk membedakan kata-kata yang ditemukan di dalam kamus.

Berdasarkan uraian di atas, teori struktural tidak digunakan pada penelitian ini karena dianggap tidak mampu lagi mengakomodasi fenomena kebahasaan pembentukan kata pada saat ini. Hal ini sesuai dengan tujuan morfologi yang dikatakan oleh Katamba bahwa salah satu tujuan morfologi tidak hanya memahami dan membentuk kata yang ada (real) dalam bahasa mereka tetapi juga membentuk kata-kata potensial yang belum digunakan pada saat mereka berujar. Berdasarkan temuan data dalam penelitian ini, proses pembentukan katanya dibatasi hanya dengan data morfem (DM) dan kaidah pembentukan kata.

Proses Morfofononologis (Morfofonemik)

Studi mengenai perubahan-perubahan pada fonem disebabkan oleh hubungan dua fonem atau lebih serta pemberian tanda-tandanya, disebut morfofonologi atau

morfofonemik. Morfofonologi (morfofonemik) adalah terjadinya perubahan bunyi atau perubahan fonem sebagai akibat dari adanya proses morfologi, baik proses afiksasi, proses reduplikasi maupun proses komposisi.

Gejala morfofonemik timbul apabila fonem-fonem yang bersinggungan menyebabkan perubahan tertentu pada fonem-fonem tersebut. Perubahan bunyi fonem terjadi oleh pengaruh lingkungan yang dimasuki oleh tiap morfem. Menurut Parera (1994:41) bahwa perubahan bentuk sebuah morfem berdasarkan bunyi lingkungannya ini, yaitu yang menyangkut hubungan antara morfem dan fonem, disebut perubahan-perubahan morfofonemik. Tipe-tipe perubahan morfofonemik yang biasa terjadi dan yang pada umumnya ditujukan untuk memperlancar pengucapan dikarenakan : (1) asimilasi, (2) disimilasi, (3) elipsis, (4) metatesis, dan (5) sandi.

Asimilasi adalah perubahan morfofonemik tempat sebuah fonem yang cenderung lebih banyak menyerupai fonem lingkungannya. Asimilasi dapat terbagi lagi atas asimilasi progresif dan asimilasi regresif. Asimilasi progresif ini terjadi jika bunyi yang mengalami perubahan terletak di belakang bunyi lingkungannya. Dalam bahasa Turki /gitti/ ‘ia pergi’ berasal dari /git/ + /di/. Bunyi /t/ mempengaruhi bunyi /d/ sehingga bunyi itu cenderung menyerupakan diri dan terjadi asimilasi bunyi total. Sedangkan asimilasi regresif terjadi bila bunyi yang mengalami perubahan dan penyerupaan terletak di depan bunyi lingkungannya. Misalnya pada kata /imperfek/ yang berasal dari /in/ + /perfek  imperfek.

Disimilasi yaitu perubahan morfofonemik yang terjadi karena fonem seakan- akan menjauhi persamaan dengan fonem sekitarnya. Dengan kata lain terjadi kelainan bunyi demi kepentingan kelancaran ucapan. Misalnya, pada kata belajar. Proses ber + ajar belajar menunjukkan kelainan itu. Hal ini terjadi karena bunyi /r/ yang berdekatan cenderung untuk menjadi tidak sama.

Elipsis yaitu perubahan morfofonemik yang terjadi bila dua bunyi yang sama dalam proses pembentukan kata, salah satu bunyi itu tanggal atau hilang. Misalnya, pada kata bekerja. Proses ber + kerja  bekerja. Terjadi penghilangan bunyi /r/ demi kelancaran pengucapan.

Metatesis yaitu perubahan dalam urutan fonem-fonem. Metatesis secara sinkronis jarang terjasi dalam suatu bahasa. Dalam bahasa Indonesia terdapat kata /lemari/ yang berasal dari bahasa portugis : /almari/

Sandi yaitu proses morfofonemilk yang merupakan proses peleburan atau sintesis dua fonem vocal atau lebih menjadi satu fonem vocal. Misalnya, pada kata bhineka diturunkan dari bhina + ika bhineka. Bunyi vokal /a/ bertemu /i/ dan kemudian melebur menjadi /e/.

Dokumen terkait