• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Landasan Teori

2.2.7. Teori Perdagangan Internasional

Menurut arti yang sederhana perdagangan internasional adalah suatu proses yang timbul sehubungan dengan pertukaran komoditi antar negara.

Menurut Lindert dan Kindleberger (1995) perdagangan internasional dianggap sebagai suatu akibat dari adanya interaksi antara permintaan dan penawaran yang bersaing. Terdapat dua hal penting untuk terjadinya perdagangan internasional yakni spesialisasi produksi dan informasi akan kebutuhan barang yang diperdagangkan. Spesialisasi produksi terjadi karena keadaan yang alamiah, yakni tumbuh atau tersedianya bahan alamiah yang ketersediaannya berbeda-beda di

berbagai tempat di dunia. Hal kedua adalah ketersediaan informasi yang berkaitan erat dengan tingkat kemajuan daya pikir manusia. Adam Smith dalam Salvatore (1997) menyatakan bahwa perdagangan antar dua negara didasarkan pada keunggulan absolut (absolute advantage). Jika sebuah negara lebih efisien daripada (atau memiliki keunggulan absolut terhadap) negara lain dalam memproduksi sebuah komoditi, namun kurang efisien dibanding (atau memiliki kerugian absolut terhadap) negara lain dalam memproduksi komoditi lainnya, maka kedua negara tersebut dapat memperoleh keuntungan dengan cara masing-masing melakukan spesialisasi dalam memproduksi komoditi yang memiliki kerugian absolut.

Menurut teori Heckssher-Ohlin dalam Salvatore (1997), sebuah negara akan mengekspor komoditi yang diproduksinya lebih banyak menyerap faktor produksi yang relatif melimpah dan murah di negara itu, dan dalam waktu yang bersamaan dia akan mengimpor komoditi yang produksinya memerlukan sumberdaya yang relatif langka dan mahal di negara itu. Singkatnya, sebuah negara yang relatif kaya atau berlimpahan tenaga kerja akan mengekspor komoditi-komoditi yang relatif padat tenaga kerja dan akan mengimpor komoditi komoditi yang relatif padat modal (yang merupakan faktor produksi langka dan mahal di negara bersangkutan). Pada prinsipnya perdagangan antara dua negara timbul karena adanya perbedaan dalam permintaan dan penawaran, selain itu karena adanya keinginan untuk memperluas pemasaran komoditi ekspor untuk menambah penerimaan devisa dalam upaya penyediaan dan pembangunan negara yang bersangkutan.

Secara teoritis, suatu negara (misalnya negara A) akan mengekspor suatu komoditi (misalnya sayuran) ke negara lain (misalnya negara B) apabila harga domestik di negara A (sebelum terjadi perdagangan internasional) relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan harga domestik di negara B. Struktur harga yang relatif lebih rendah di negara A tersebut disebabkan adanya kelebihan penawaran (excess supply) yaitu produksi domestik yang melebihi konsumsi domestik.

Dalam hal ini faktor produksi di negara A relatif berlimpah. Dengan demikian negara A mempunyai kesempatan menjual kelebihan produksinya ke negara lain.

Di pihak lain, di negara B terjadi kekurangan penawaran karena konsumsi domestiknya melebihi produksi domestik (excess demand) sehingga harga menjadi tinggi. Dalam hal ini negara B berkeinginan untuk membeli komoditi dari negara lain yang harganya relatif lebih murah. Jika kemudian terjadi komunikasi antara negara A dan negara B, maka dapat terjadi perdagangan antar kedua negara tersebut dimana negara A akan mengekspor komoditi sayuran ke negara B (Salvatore, 1997).

Secara grafis terjadinya perdagangan antara negara A dan negara B dapat dilihat pada Gambar 2., sebelum terjadinya perdagangan internasional, keseimbangan di negara A terjadi pada titik Ea dengan jumlah produksi sebesar Qa1 dan harga yang terjadi adalah P1. Di negara B keseimbangan terjadi pada titik Eb dengan jumlah produksi sebesar Qb1 dan harga yang terjadi adalah sebesar P3. Harga di negara A (P1) lebih rendah daripada harga di negara B (P3).

Produsen di negara A akan memproduksi lebih banyak untuk harga di atas P1. Hal tersebut akan menyebabkan terjadinya excess supply di negara A. Sementara untuk harga di bawah P3, konsumen di negara B akan meminta lebih banyak

daripada yang dihasilkan oleh produsen di negara B. Hal tersebut akan menyebabkan terjadinya excess demand di negara B. Kemudian terjadi perdagangan antara negara A dan negara B. Penawaran ekspor pada pasar internasional digambarkan oleh kurva Sw yang merupakan excess supply dari negara A. Permintaan impor digambarkan oleh kurva Dw yang merupakan excess demand dari negara B. Keseimbangan di pasar dunia terjadi pada titik Ew yang menghasilkan harga dunia sebesar P2, dimana negara A mengekspor sebesar (Qa2- Qa3) yang sama dengan jumlah yang diimpor negara B (Qb2-Qb3) jumlah ekspor dan impor tersebut ditunjukkan oleh volume perdagangan sebesar Qw pada pasar dunia.

Sumber: Salvatore (1997)

Gambar 1. Terjadinya Perdagangan Intenasional

Keseimbangan perdagangan internasional di atas dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya GDP per kapita, tarif dan nilai tukar. Perubahan faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan pergeseran pada kurva penawaran dan

berikut akan dipaparkan mengenai perubahan-perubahan pada ketiga faktor tersebut di negara pengekspor maupun di negara pengimpor.

GDP per kapita merupakan rataan dari pendapatan nasional yang diperoleh penduduk suatu negara. Dampak perubahan GDP per kapita negara importir terhadap keseimbangan perdagangan internasional dapat dilihat pada Gambar 3.

Pada negara importir, peningkatan GDP per kapita merupakan peningkatan pendapatan masyarakatnya. Peningkatan pendapatan akan meningkatkan permintaan terhadap sayuran. Peningkatan ini menggeser kurva demand negara pengimpor menjadi DX’. Dengan kurva penawaran yang tetap keseimbangan berubah menjadi F”. Pada titik F”, jumlah excess demand bertambah dari G-H menjadi G-I. Jumlah impor meningkat sehingga kurva excess demand sayuran di pasar dunia juga bergeser ke kanan menjadi ED’. Excess demand sayuran di pasar dunia semakin besar, sehingga mendorong harga untuk naik.

Keseimbangan baru terjadi pada titik E**. Harga sayuran di pasar dunia menjadi B**. Peningkatan harga dunia tersebut memberikan insentif bagi negara eksportir untuk meningkatkan ekspor sayurannya. Ekspor meningkat dari titik B-C menjadi B’-B-C’. Berdasarkan uraian di atas keseimbangan yang terbentuk setelah terjadinya peningkatan GDP per kapita importir yaitu peningkatan aliran perdagangan sayuran di pasar dunia.

Sumber: Salvatore (1997)

Gambar 2. Dampak Peningkatan GDP Negara Pengimpor terhadap Keseimbangan Perdagangan Internasional

Kondisi nilai tukar seperti terdepresiasinya rupiah terhadap dollar Singapura merupakan faktor yang dapat menyebabkan pergeseran kurva permintaan. Terdepresiasinya rupiah terhadap mata uang asing membuat harga komoditi Indonesia relatif lebih murah sehingga mendorong terjadinya peningkatan jumlah permintaan ekspor.

Perubahan dalam produksi dunia akan mempengaruhi penawaran dunia dan perubahan dalam konsumsi dunia akan mempengaruhi permintaan dunia.

Kedua perubahan tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi harga dunia (Salvatore, 1997). Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa ekspor suatu negara sangat ditentukan oleh harga domestik, harga internasional, serta keseimbangan penawaran dan permintaan dunia. Selain itu secara tidak langsung ditentukan pula oleh perubahan nilai tukar (exchange rate) mata uang suatu negara terhadap negara lain.

Dokumen terkait