• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

G. Perhitungan Z-Score Model Foster

I. Tingkat Kebangkrutan Perusahaan Textile dan Garment

Go-Public di Bursa Efek Indonesia Tahun 2007-2009

Menurut Undang-Undang Kepailitan No. 37 Tahun 2004

Berdasarkan analisis prediksi kebangkrutan menurut Undang-Undang Kepailitan No.37 tahun 2004 diperoleh hasil seperti dalam tabel I.1 sebagai berikut :

Sumber : Hasil Penelitian, diolah

Tabel I.1 menunjukkan daftar perusahaan yang diprediksi dalam dua kategori yaitu bangkrut dan tidak bangkrut.

No Nama Perusahaan

Ratio Hutang Prediksi Ratio Hutang Prediksi Ratio Hutang Prediksi

1 98% Bangkrut 74% Bangkrut 80% Bangkrut

2 101% Bangkrut 100% Bangkrut 113% Bangkrut

3 36% Tidak Bangkrut 35% Tidak Bangkrut 65% Bangkrut

4 81% Bangkrut 91% Bangkrut 100% Bangkrut

5 42% Tidak Bangkrut 37% Tidak Bangkrut 36% Tidak Bangkrut

6 117% Bangkrut 106% Bangkrut 68% Bangkrut

7 58% Bangkrut 57% Bangkrut 56% Bangkrut

8 86% Bangkrut 90% Bangkrut 92% Bangkrut

9 84% Bangkrut 88% Bangkrut 85% Bangkrut

10 85% Bangkrut 85% Bangkrut 75% Bangkrut

11 47% Tidak Bangkrut 34% Tidak Bangkrut 36% Tidak Bangkrut

12 95% Bangkrut 93% Bangkrut 26% Tidak Bangkrut

13 16% Tidak Bangkrut 16% Tidak Bangkrut 16% Tidak Bangkrut

14 65% Bangkrut 63% Bangkrut 69% Bangkrut

15 63% Bangkrut 65% Bangkrut 74% Bangkrut

Daeyu Orchid Indonesia Tbk

2007 2008 2009

Apac Citra Centertex Tbk Argo Pantes Tbk

Tifico Tbk Eratex Djaja Tbk Ever Shine Textile Industry Tbk

GT Petrochem Industries Tbk Indorama Synthetics Tbk

Karwell Indonesia Tbk Panasia Filament Inti Tbk

Panasia Indosyntec Tbk Pan Brothers Tex Tbk Ricky Putra Globalindo Tbk

Roda Vivatex Tbk Sunson Textile Manufacture Tbk

119 a. Kategori Perusahaan Bangkrut

Berdasarkan tabel I.1 tersebut, dapat dilihat ada 73,33% atau 11 perusahaan yang menurut model prediksi Undang-Undang Kepailitan No.37 tahun 2004 terklasifikasi “tidak aman” pada tahun 2007,2008 dan 2009. Artinya model prediksi memberi sinyal bahwa kesebelas perusahaan tersebut termasuk dalam kategori “bangkrut”. Perusahaan-perusahaan yang diprediksi bangkrut pada tahun 2007 dan 2008 adalah PT Apac Citra Centertex Tbk, PT Argo Pantes Tbk, PT Eratex Djaja Tbk, PT GT Petrochem Industries Tbk, PT Indorama Synthetics Tbk, PT Karwell Indonesia Tbk, PT Panasia Filament Inti Tbk, PT Panasia Indosyntec Tbk, PT Ricky Putra Globalindo Tbk, dan PT Sunson Textile Manufacture Tbk, PT Tifico Tbk.

Pada tahun 2009 ada perubahan nama-nama perusahaan bangkrut meskipun tetap berjumlah 73,33% atau 11 perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang diprediksi bangkrut pada tahun 2009 adalah PT Apac Citra Centertex Tbk, PT Argo Pantes Tbk, PT Daeyu Orchid Indonesia, PT Eratex Djaja Tbk, PT GT Petrochem Industries Tbk, PT Indorama Synthetics Tbk, PT Karwell Indonesia Tbk, PT Panasia Filament Inti Tbk, PT Panasia Indosyntec Tbk, PT Sunson Textile Manufacture Tbk, dan PT Tifico Tbk.

120 Hasil perhitungan menurut Undang – Undang Kepailitan No.37 tahun 2004 untuk kelompok perusahaan yang bangkrut tahun 2007 dan 2008 diperoleh rasio hutang tertinggi sebesar 117% dan 106% yaitu PT GT Petrochem Industries Tbk, dan rasio hutang terendah sebesar 58% dan 57% yaitu PT Indorama Synthetics Tbk. Dan perhitungan raio hutang untuk kelompok perusahaan yang bangkrut tahun 2009 diperoleh rasio hutang tertinggi sebesar 113% yaitu PT Argo Pantes Tbk, dan rasio hutang terendah sebesar 56% yaitu PT Indorama Synthetics Tbk.

b. Kategori Perusahaan Tidak Bangkrut

Berdasarkan tabel I.1 tersebut, dapat dilihat ada 26,67% atau 4 perusahaan yang menurut model prediksi Undang – Undang Kepailitan No.37 Tahun 2004 terkalsifikasi “tidak bangkrut” pada tahun 2007,2008 dan 2009. Perusahaan yang diprediksi masuk kategori perusahaan “tidak bangkrut” pada tahun 2007 dan 2008 adalah PT Daeyu Orchid Indonesia Tbk, PT Ever Shine Textile Indusrty Tbk, PT pan Brother Tex Tbk, dan PT Roda Vivatex Tbk.

Pada tahun 2009 ada perubahan nama-nama perusahaan yang masuk dalam kategori perusahaan tidak bangkrut meskipun tetap berjumlah 26,67% atau 4

121 perusahaan. Perusahaan – perusahaan yang diprediksi tidak bangkrut pada tahun 2009 adalah PT Ever Shine Textile Industry Tbk, PT Pan Brother Tex Tbk, PT Ricky Putra Globalindo Tbk, dan PT Roda Vivatex Tbk.

Hasil perhitungan rasio hutang untuk kelompok perusahaan yang tidak bangkrut tahun 2007 diperoleh rasio hutang tertinggi sebesar 47% yaitu PT Pan Brother Tex Tbk, dan rasio hutang terendah sebesar 16% yaitu PT Roda Vivatex Tbk. Perhitungan rasio hutang untuk kelompok perusahaan yang tidak bangkrut tahun 2008 diperoleh rasio hutang tertinggi 37% yaitu PT Ever Shine Textile Industry Tbk, dan rasio hutang terendah sebesar 16% yaitu PT Roda Vivatex Tbk. Dan perhitungan rasio hutang untuk kelompok perusahaan yang tidak bangkrut tahun 2009 diperoleh rasio hutang tertinggi sebesar 36% yaitu PT Ever Shine Textil Industry Tbk dan PT Pan Brother Tex Tbk, dan rasio hutang terendah sebesar 16% yaitu PT Roda Vivatex Tbk.

122 J. Pengujian Hipotesis

Tabel J.1 : Hasil Means (Nilai rata – rata) Antara Z-Score Model Altman dan Foster pada Perusahaan Textile dan

Garment Go-Public di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 –

2009. (dihitung secara periode)

Pada tabel diatas memuat hasil ringkasan Mean (nilai

rata – rata) dari kedua variabel yang dihitung secara periode

yaitu untuk Z-score Model Altman pada tahun 2007 mempunyai nilai rata – ratanya sebesar 0,909 dan untuk Z-score Model Foster mempunyai nilai rata – rata yang lebih kecil sebesar -1,591, hal ini terjadi karena disebabkan karena banyaknya perusahaan yang dikategorikan bangkrut didalam perhitungan Z-score Model Foster dibandingkan Z-score Model Altman sehingga Z- nila rata – rata Z-score Model Altman > Z-score Model Foster.

Dan pada tahun 2008 nilai rata – rata Z-score Model Altman sebesar 0,895 dan untuk nilai rata – rata Z-score Model Foster sebesar 1,382, hal ini terjadi disebabkan karena

Group Statistics 15 .90887 1.054604 .272298 15 -1.59107 3.411905 .880950 15 .89520 .998028 .257690 15 1.38173 5.109408 1.319243 15 1.02880 .935213 .241471 15 -1.81540 7.356798 1.899517 ALTMAN & FOSTER

1 2 1 2 1 2 ALTMAN & FOSTER 2007 ALTMAN & FOSTER 2008 ALTMAN & FOSTER 2009

N Mean Std. Deviation

Std. Error Mean

123 banyaknya perusahaan yang dikategorikan bangkrut didalam perhitungan Z-score Model Altman dibandingkan Z-score Model Foster, sehingga nilai rata – rata Z-score Model Altman < Z-score Model Foster. Serta pula pada tahun 2009 untuk nilai rata – rata Z-score Model Altman sebesar 1,029 dan untuk nilai rata – rata Zscore Model Foster sebesar -1,815, hal ini terjadi disebabkan karena banyaknya perusahaan yang dikategorikan bangkrut pada perhitungan Z-score Model Foster dibandingkan Z-Z-score Model Foster, sehingga nilai rata – rata Z-score Model Altman > Z-score Model Foster.

Tabel J.2 : Hasil Means (Nilai rata – rata) Antara Z-Score Model Altman dan Foster pada Perusahaan Textile dan

Garment Go-Public di Bursa Efek Indonesia Tahun 2007

-2009. (dihitung secara akumulasi periode)

Pada tabel diatas memuat hasil ringkasan Mean (Nilai rata – rata) dari kedua variabel yang dihitung secara akumulasi periode yaitu untuk nilai rata – rata Z-score Model Altman pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 sebesar 0.944, sedangkan untuk nilai rata – rata Z-score Model Foster

Group Statistics

45 .94422 .976054 .145502 45 -.67491 5.603818 .835368 ALTMAN DAN FOSTER

1 2 ALTMAN DAN FOSTER

N Mean Std. Deviation

Std. Error Mean

124 dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 sebesar -0,675, hal ini terjadi dikarenakan secara akumulasi perhitungan secara periode banyaknya perusahaan yang dikategorikan bangkrut pada Z-score Model Foster dibandingkan Z-score Model Altman, sehingga nilai rata – rata secara keseluruhan Z-score Model Altman > Z-score Model Foster.

Tabel J.3 : Hasil Uji F-hitung dan t-hitung Antara Z-Score Model Altman dan Foster pada Perusahaan Textile dan

Garment Go-Public di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 –

2009. (dihitung secara periode)

Berdasarkan tabel J.3 diatas bisa dilihat bahwa F-hitung untuk Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2007 dengan Equal variances assumed (diasumsi kedua varians sama atau menggunakan pooled variance t-tes) adalah 4,547 dengan probabilitas 0,042 dan oleh karena probabilitasnya < 0,05, maka Ho ditolak atau kedua varians benar – benar berbeda.dan terlihat pula bahwa t-hitung untuk Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2007 dengan

Independent Samples Test

4.547 .042 2.711 28 .011 2.499933 .922073 .611152 4.388715 2.711 16.651 .015 2.499933 .922073 .551417 4.448449 8.921 .006 -.362 28 .720 -.486533 1.344175 -3.239952 2.266885 -.362 15.067 .722 -.486533 1.344175 -3.350470 2.377403 2.849 .103 1.485 28 .149 2.844200 1.914804 -1.078098 6.766498 1.485 14.452 .159 2.844200 1.914804 -1.250619 6.939019 Equal variances assumed Equal variances not assumed Equal variances assumed Equal variances not assumed Equal variances assumed Equal variances not assumed ALTMAN & FOSTER 2007

ALTMAN & FOSTER 2008 ALTMAN & FOSTER 2009

F Sig. Levene's Test for Equality of Variances

t df Sig. (2-tailed) Mean Difference

Std. Error

Difference Lower Upper 95% Confidence

Interval of the Difference t-test for Equality of Means

125 equal variances not assumed adalah 2,711 dengan probabilitasnya 0,0075 dan oleh karena probabilitasnya 0,0075 < 0,025, maka Ho ditolak atau kedua varians benar – benar berbeda.

Serta perubahan dari penggunaan equal variance

assumed ke equal variance not assumed mengakibatkan

menurunnya degree of freedom (derajat kebebasan) yaitu dari 28 menjadi 16,651 atau kegagalan mengasumsikan kesamaan varians. Setelah dilakukan uji dengan F-test dan t-test,

kemudian diketahui penggunaan equal variance assumed dan

equal variance not assumed dan dikeahui pula ada perbedaan

yang nyata antara Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2007 langkah selanjutnya adalah mengetahui seberapa besar perbedaan tersebut.

Dari output terlihat pada baris “Mean Difference”, untuk Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2007 adalah 2,499 dan dari F-test pada bahasan sebelumnya didapat bahwa uji perbedaan rata – rata dilakukan dengan equal

variance not assumed yang dapat dilihat pada keterangan

95% Confidence Interval of the Difference” dan kolom equal

variance not assumed, sehingga pada baris tersebut didapat angka : Lower (perbedaan rata – rata bagian bawah) adalah 0,551 dan Upper (perbedaan rata – rata bagian atas) adalah

126 4,448. Dan hal ini berarti perbedaan Z-score Model Altman & Foster pada tahun 2007 berkisar antara 0,551 sampai 4,448 dengan perbedaan rata – rata adalah 2,499.

Dan untuk F-hitung Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2008 dengan equal variances assumed (diasumsi kedua varians sama atau menggunakan pooled variance t-test) adalah 8,921 dengan probabilitas 0,006 dan oleh karena probabilitasnya < 0,05, maka Ho ditolak, atau kedua varians benar – benar berbeda. Dan terlihat pula bahwa t-hitung untuk Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2008 dengan

equal variances not assumed adalah -0,362 dengan

probabilitasnya 0,361 dan oleh karena probabilitasnya 0,361 > 0,025, maka Ho diterima atau kedua varians sama.

Serta perubahan dari penggunaan equal variance

assumed ke equal variance not assumed mengakibatkan

menurunnya degree of freedom (derajat kebebasan) yaitu dari 28 menjadi 15,067 atau kegagalan mengasumsikan kesamaan varians. Setelah dilakukan uji dengan F-test dan t-test,

kemudian diketahui penggunaan equal variance assumed dan

equal variance not assumed dan dikeahui pula ada perbedaan

yang nyata antara Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2008 langkah selanjutnya adalah mengetahui seberapa besar perbedaan tersebut.

127 Dari output terlihat pada baris “Mean Difference”, untuk Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2008 adalah -0,486 dan dari F-test pada bahasan sebelumnya didapat bahwa uji perbedaan rata – rata dilakukan dengan

equal variance not assumed yang dapat dilihat pada

keterangan “95% Confidence Interval of the Difference” dan kolom equal variance not assumed, sehingga pada baris tersebut didapat angka : Lower (perbedaan rata – rata bagian bawah) adalah -3,350 dan Upper (perbedaan rata – rata bagian atas) adalah 2,377. Dan hal ini berarti perbedaan Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2008 berkisar antara -3,350 sampai 2,377 dengan perbedaan rata – rata adalah -0,486.

Sedangkan untuk F-hitung Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2009 dengan equal variances assumed

(diasumsi kedua varians sama atau menggunakan pooled

variance t-test) adalah 2,849 dengan probabilitas 0,103 dan

oleh karena probabilitasnya > 0,05, maka Ho diterima, atau kedua varians sama. Dan terlihat pula bahwa t-hitung untuk Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2009 dengan

equal variances not assumed adalah 1,485 dengan

probabilitasnya 0,0795 dan oleh karena probabilitasnya 0,0795 > 0,025, maka Ho diterima atau kedua varians sama.

128 Serta perubahan dari penggunaan equal variance

assumed ke equal variance not assumed mengakibatkan

menurunnya degree of freedom (derajat kebebasan) yaitu dari 28 menjadi 14,452 atau kegagalan mengasumsikan kesamaan varians. Setelah dilakukan uji dengan F-test dan t-test, kemudian diketahui penggunaan equal variance assumed dan

equal variance not assumed dan dikeahui pula ada perbedaan

yang nyata antara Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2009 langkah selanjutnya adalah mengetahui seberapa besar perbedaan tersebut.

Dari output terlihat pada baris “Mean Difference”, untuk Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2009 adalah 2,844 dan dari F-test pada bahasan sebelumnya didapat bahwa uji perbedaan rata – rata dilakukan dengan equal

variance not assumed yang dapat dilihat pada keterangan

“95% Confidence Interval of the Difference” dan kolom equal

variance not assumed, sehingga pada baris tersebut didapat

angka : Lower (perbedaan rata – rata bagian bawah) adalah -1,250 dan Upper (perbedaan rata – rata bagian atas) adalah 6,939. Dan hal ini berarti perbedaan Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2009 berkisar antara -1,251 sampai 6,939 dengan perbedaan rata – rata adalah 2,844.

129 Tabel J.4 : Hasil Uji F-hitung dan t-hitung Antara Z-Score Model Altman dan Foster pada Perusahaan Textile dan

Garment Go-Public di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 –

2009. (dihitung secara akumulasi periode)

Berdasarkan tabel J.4 diatas bisa dilihat bahwa

F-hitung untuk Z-score Model Altman dan Foster pada tahun

2007 sampai tahun 2009 dengan equal variances assumed

(diasumsi kedua varians sama atau menggunakan pooled

variance t- test) adalah 6,540 dengan probabilitas 0,012 dan

oleh karena probabilitasnya < 0,05, maka Ho ditolak, atau kedua varians benar – benar berbeda. Dan terlihat pula bahwa

t-hitung untuk Z-score Model Altman dan Foster pada tahun

2007 sampai tahun 2009 dengan equal variances not assumed

adalah 1,909 dengan probabilitasnya 0,031 dan oleh karena probabilitasnya 0,031 > 0,025, maka Ho diterima atau kedua varians sama.

Serta perubahan dari penggunaan equal variance

assumed ke equal variance not assumed mengakibatkan

menurunnya degree of freedom (derajat kebebasan) yaitu dari 88 menjadi 46,667 atau kegagalan mengasumsikan kesamaan

Independent Samples Test

6.540 .012 1.909 88 .059 1.619133 .847945 -.065979 3.304245 1.909 46.667 .062 1.619133 .847945 -.087033 3.325299 Equal variances assumed Equal variances not assumed ALTMAN DAN FOSTER

F Sig.

Levene's Test for Equality of Variances

t df Sig. (2-tailed) Mean Difference

Std. Error

Difference Lower Upper 95% Confidence

Interval of the Difference t-test for Equality of Means

130 varians. Setelah dilakukan uji dengan F-test dan t-test, kemudian diketahui penggunaan equal variance assumed dan

equal variance not assumed dan dikeahui pula ada perbedaan

yang nyata antara Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2007 sampai tahun 2009, langkah selanjutnya adalah mengetahui seberapa besar perbedaan tersebut.

Dari output terlihat pada baris “Mean Difference”, untuk Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2007 sampai tahun 2009 adalah 1,619 dan dari F-test pada bahasan sebelumnya didapat bahwa uji perbedaan rata – rata dilakukan dengan equal variance not assumed yang dapat dilihat pada keterangan “95% Confidence Interval of the Difference” dan kolom equal variance not assumed, sehingga pada baris tersebut didapat angka : Lower (perbedaan rata – rata bagian bawah) adalah -0,087 dan Upper (perbedaan rata – rata bagian atas) adalah 3,325. Dan hal ini berarti perbedaan Z-score Model Altman dan Foster pada tahun 2007 sampai tahun 2009 berkisar antara -0,087 sampai 3,325dengan perbedaan rata – rata adalah 1,619.

131 J.5 Pembahasan

Rasio keuangan merupakan alat yang sering digunakan dalam analisis kinerja keuangan perusahaan. Dalam menganalisis kinerja keuangan perusahaan, analisis rasio keuangan memiliki keterbatasan yang berasal dari kenyataan bahwa pada dasarnya metodologinya adalah univariate,

dimana setiap rasio dianalisis secara terpisah. Jadi untuk mengurangi kelemahan analisis rasio ini, adalah penting menggabungkan beberapa rasio menjadi suatu model peramalan yang berarti. Dengan cara menginterpretasikan laporan keuangan pada suatu model atau tekhnik tertentu, maka Altman dan Foster merumuskan suatu model analisis diskriminan yang dapat digunakan untuk memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan.

Menurut Hanafi dan Halim (2000) indikator kebangkrutan bisa dilihat dari aliran kas, analisis strategi perusahaan, laporan keuangan perusahaan dan lembaga penilai (rating). Pada tahun 2007 sampai 2009 perusahaan – perusahaan textile dan garment mengalami kesulitan dalam aliran kas, sumber pengeluaran kas lebih besar bila dibandingkan dengan sumber penerimaan kas karena sebagian besar pendapatan perusahaan mengalami penurunan dilain pihak biaya operasional makin membengkak. Hal ini

132 berakibat pada laba perusahaan mengalami penurunan, ada 6 perusahaan textile dan garment mengalami kerugian pada tahun 2007, bahkan pada tahun 2008 dan 2009 naik menjadi 8 perusahaan.

J.6 Rasio Keuangan Altman

a. Working Capital to Total Asset Ratio (X1)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas aktiva perusahaan relatif terhadap total kapitalisasinya atau untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.

PT Apac Citra Centertex Tbk dan PT Argo Pantes Tbk merupakan perusahaan dengan rasio X1 terendah yang mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut tingkat likuidasinya paling rendah diantara perusahaan – perusahaan lainnya dalam kelompok tersebut, karena mempunyai tingkat kesulitan keuangan yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan – perusahaan lainnya.

Pada tahun 2007 PT Apac Citra Centertex Tbk tercatat sebagai perusahaan yang ilikuid yaitu jumlah hutang lebih besar dari jumlah aktivanya, tetapi pada tahun – tahun berikutnya perusahaan ini sudah dapat memperbaiki kondisinya. Keadaan yang sama juga dialami PT Argo Pantes Tbk, pada tahun 2008 dan 2009 perusahaan ini juga tercatat

133 sebagai perusahaan yang ilikuid, pada suatu waktu akan menghadapi kesukaran financial (Riyanto,2001 : 33).

PT Pan Brother Tex Tbk adalah perusahaan yang masih dalam kondisi likuid, yaitu total aktiva perusahaan bisa berubah menjadi kas dalam jangka waktu pendek setelah dipakai melunasi kewajiban lancarnya. Hal tersebut mengindikasikan bahwa PT Pan Brother Tex Tbk mempunyai tingkat likuiditas lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan – perusahaan lainnya dalam kelompok industry textile dan

garment.

Selama tiga tahun berturut-turut mean Working

Capital to Total Assets Ratio (X1) bernilai sangat rendah, hal

tersebut menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan textile dan

garment mengalami tingkat kesulitan keuangan.

b. Retained Earnings to Total Assets Ratio (X2)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur

profitabilitas kumulatif. Rasio ini mengukur akumulasi laba

selama perusahaan beroperasi. Umur perusahaan berpengaruh terhadap rasio tersebut karena semakin lama perusahaan beroperasi memungkinkan untuk memperlancar akumulasi laba ditahan. Hal tersebut menyebabkan perusahaan yang masih relatif muda pada umumnya akan menunjukkan hasil

134 rasio yang rendah, kecuali yang labanya sangat besar pada masa awal berdirinya.

Rasio X2 dari PT Ricky Putra Globalindo Tbk, PT Karwell Indonesia Tbk dan PT Panasia Indosyntec Tbk bernilai negatif, ini berarti bahwa selama itu pula perusahaan tidak pernah membukukan laba ditahan atau selalu mengakumulasikan rugi ditahan. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan aktivanya untuk memperoleh laba ditahan sangatlah rendah bila dibandingkan dengan perusahaan – perusahaan lainnya. Rugi usaha yang dialami perusahaan tersebut disebabkan karena penghasilan yang diterima tidak mampu menutupi beban – beban yang menjadi tanggungannya. Beban – beban yang harus ditanggung selama periode tersebut lebih mengarah kepada beban usaha

(operating Expenses) dan biaya pokok penjualan (cost of

goods sold).

Rasio X2 pada PT Roda Vivatex Tbk selama tiga tahun berturut-turut mengalami kenaikan. Hal ini mengindikasikan bahwa PT Roda Vivatex Tbk mempunyai kemampuan untuk memperoleh laba ditahan lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan – perusahaan lainnya. Kemampuan memperoleh laba ditahan oleh perusahaan ini tidak terlepas oleh

135 perusahaan ini tidak terlepas pula oleh umur perusahaan, yang mana perusahaan ini telah berdiri sejak tahun 1980.

Tahun 2007 sampai tahun 2009 secara rata – rata X2 bernilai negatif dan mengalami penurunan, ini berarti bahwa selama itu pula hamper semua perusahaan mengakumulasikan rugi. Rugi yang dialami perusahaan sebagai akibat karena penghasilan yang diterima tidak mampu menutupi beban – beban yang ditanggung selama periode tersebut. Beban – beban yang ditanggung tersebut lebih mengarah pada beban operasional dan beban bunga atas hutangnya, maka rugi bersih yang harus ditanggung oleh perusahaan menjadi lebih besar. Rugi bersih yang dialami oleh perusahaan secara otomatis akan mengurangi akumulasi laba ditahan bila sebelumnya perusahaan mengakumulasikan rugi. Dengan kata lain bahwa adanya keuntungan akan memperbesar retained

earning yang berarti akan memperbesar modal sendiri,

sebaliknya adanya kerugian yang diderita akan memperkecil

retained earning yang berarti akan memperkecil modal

sendiri (Riyanto,2001 : 244).

Retained Earnings to Total Assets Ratio (X2) yang

menurun mengindikasikan berkurangnya kemampuan aktiva untuk memperoleh laba ditahan, dengan adanya penurunan laba ditahan maka perusahaan akan lebih mengandalkan

136 modal asing untuk mendanai aktivanya. Dengan demikian perolehan aktiva yang dibiayai melalui modal sendiri semakin berkurang. Dengan adanya penurunan laba ditahan bahkan munculnya fenomena rugi ditahan, maka perusahaan akan lebih mengandalkan modal asing untuk mendanai aktivanya, dengan demikian perolehan aktiva yang dibiayai melalui modal sendiri semakin berkurang. Tambahan besarnya modal asing dan modal sendiri akan mempunyai efek terhadap tingkat solvabilitas perusahaan.

c. Earnings Before Interest and Taxes to Total Assets Ratio (X3)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur produktivitas yang sebenarnya dari aktiva perusahaan. Rasio tersebut mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva yang digunakan. Semakin kecil tingkat profitabilitas berarti semakin tidak efisien dan tidak efektif perusahaan menggunakan keseluruhan aktiva di dalam menghasilkan laba usaha begitu juga sebaliknya.

Perusahaan dengan X3 terendah adalah PT Roda Vivatex Tbk, PT Eratex Djaja Tbk, dan PT Panasia Filament Inti Tbk. Rasio X3 dari ketiga perusahaan bernilai negatif, hal ini menunjukkan bahwa pihak manajemen tidak dapat mengelola aktivanya secara efektif. X3 yang bernilai negatif

137 disebabkan karena probabilitas perusahaan selama tiga tahun penelitian mengalami kerugian yang mana operating profit

yang dicapai perusahaan lebih kecil daripada total aktivanya. Dalam laporan laba rugi perusahaan, terlihat bahwa biaya operasi perusahaan selalu lebih besar dari laba kotornya, bahkan terjadi rugi secara berturut – turut selama tiga tahun. Akibatnya perusahaan tidak dapat membukukan laba rugi usahanya.

Perusahaan dengan rasio X3 tertinggi adalah PT Pan Brother Tex Tbk, dan PT GT Petrochem Industry Tbk. Hal ini mengindikasikan bahwa kedua perusahaan tersebut lebih tinggi tingkat produktivitasnya dibandingkan dengan perusahaan – perusahaan lain dalam sektor industri textile dan