BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Karakteristik Sampel Penelitian
4.2.3 Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap pola pembelian dan konsumsi pangan suatu rumah tangga. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka diharapkan pendapatan rumah tangga tersebut pun akan meningkat, karena dengan adanya pendidikan yang tinggi maka akanmenentukan pekerjaan yang lebih baik pula.
Pekerjaan yang baik akan mendapatkan pendapatan yang tinggi, dengan demikian, pendapatn yang tinggi tersebut dapat memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Sebaran tingkat pendidikan ibu rumah tangga di Kelurahan Belawan II dapat dilihat pada tabel berikut.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.7 Sebaran Tingkat Pendidikan Responden
Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)
SD 11 11,83
Sumber: Data Primer Diolah, 2020
Tabel 4.7 menunjukkan sebaran tingkat pendidikan ibu rumah tangga di Kelurahan Belawan II. Tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA, yaitu 51 orang atau 54,84% dari keseluruhan sampel penelitian. Sedangkan untuk tingkat pendidikan yang paling sedikit adalah yaitu tingkat SD sebesar 11 orang atau 11,83% dari keseluruhan sampel penelitian.
4.2.4 Tingkat Pendapatan Rumah Tangga
Pendapatan rumah tangga mempengaruhi suatu rumah tangga dalam pembelian dan konsumsi pangan sehari-hari. Semakin rendah pendapatan suatu rumah tangga maka rumah tangga tersebut akan lebih memperhatikan kuantitas dibandingkan kualitasnya. Pendapatan rumah tangga miskin tidak terlalu bervariasi. Sebaran pendapatan rumah tangga di Kelurahan Belawan II dapat dilihat dari tabel berikut.
Tabel 4.8 Sebaran Pendapatan Rumah Tangga Responden Pendapatan Rumah
Tangga
Jumlah
(Rumah Tangga) Persentase (%)
< 1.000.000 5 5,38
Sumber: Data Primer Diolah, 2020
Tabel 4.8 diketahui bahwa pendapatan rumah tangga terbanyak di Kelurahan Belawan II yaitu antara Rp 1.000.000/bln sampai Rp 2.000.0000/bln yaitu sebanyak 58 rumah tangga atau 62,36% dari keseluruhan sampel.
44
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Ketersediaan Pangan
Ketersediaan pangan yang cukup beragam, bergizi, dan berimbang, baik secara kuantitas maupun secara kualitas, merupakan pondasi yang sangat penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Kekurangan pangan berpotensi memicu keresahan berdampak kepada masalah sosial, keamanan, dan ekonomi.
Ketersediaan pangan rumah tangga dapat dianalisis dengan menghitung jumlah bahan pangan yang disimpan atau distock oleh rumah tangga selama dua hari terakhir untuk konsumsi rumah tangganya. Banyaknya bahan pangan yang tersedia kemudian dikonversi ke dalam satuan kalori dengan tingkat kalori yang berbedabeda yang dimiliki oleh setiap kelompok pangan.
Berdasarkan hasil Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WKNPG) tahun 2012 sebagai acuan dalam pembangunan pangan dan gizi. Angka Kecukupan Energi (AKE) di tingkat konsumsi sebesar 2.150 kkal/kap/hari, dan 2.400 kkal/kap/hari di tingkat ketersediaan.
Tingkat ketersediaan pangan rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II dapat ditentukan berdasarkan kuantitas atau mutu yang ditunjukan melalui energi per kapita per hari, selain itu tingkat ketersediaan pangan juga dapat digunakan untuk mengetahui keragaman pangan dari wilayah tersebut dengan menggunakan skor pola pangan harapan (PPH). Pada Tabel 5.1 berikut ketersediaan pangan rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II masih berada dibawah skor PPH ideal.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 5.1 Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Miskin di Kelurahan Belawan II
Kelompok
Pangan Berat ( gr/kap/hari) Energi*(kkal/kap/hari)
Padi-padian 220,03 807,40
Umbi-umbian 48,24 53,94
Pangan Hewani 133,52 192,19
Minyak dan
Lemak 30,04 269,52
Buah/Biji
Berminyak 6,20 22,15
Kacang-kacangan 32,56 121,44
Gula 34,12 124,23
Sayur dan Buah 202,15 80,55
Lain-lain 2,50 4,21
Jumlah 709,36 1.675,63
Sumber: Data Primer Diolah, 2020 Keterangan:
*) Energi: 2.400 kkal/kapita/hari
Dari hasil Tabel 5.1 menunjukkan ketersediaan pangan rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II. Ketersediaan pangan pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II per hari yaitu sebesar 709,36 gram/kapita/hari atau setara dengan 1.675,63 kkal/kapita/hari. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan pangan pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II dapat dikatakan belum mencukupi kebutuhan energi per hari yang dianjurkan sesuai dengan acuan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WKNPG) tahun 2012 Angka Kecukupan Energi (AKE) sebesar 2.400 kkal/kap/hari di tingkat ketersediaan. Atau dengan kata lain stock atau ketersediaan pangan pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II tergolong dalam kategori kurang tersedia.
Pencapaian ketersediaan panagn dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berkaitan dengan pola konsumsi dari masyarakat tersebut diantaranya kondisi iklim yang selalu berubah tidak menentu, kondisi geografis, kondisi sosial, kondisi
ekonomi, budaya, pendidikan, dan gaya hidup dari masyarakatnya sendiri (Prasetyarini et al. 2014).
Dalam penelitian ini, rumah tangga responden dalam kondisi ekonomi yang tidak baik. Rumah tangga responden merupakan rumah tangga dengan tingkat pendapatan yang rendah, dengan jumlah anggota keluarga yang terbilang banyak, yakni sebanyak 55,91% rumah tangga dengan jumlah anggota keluarga 5-6 orang.
Hal tersebut membuat rumah tangga responden harus menyesuaikan pendapatan yang mereka peroleh agar dapat memenuhi kebutuhan pangan setiap anggota keluarga, maka mereka mengurangi porsi makan sesuai dengan pendapatan yang mereka peroleh.
Gambar 5.1 Grafik Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Miskin di Kelurahan Belawan II
Ketersediaan sembilan jenis pangan pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II masih didominasi oleh ketersediaan padi-padian. Hal ini disebabkan
Padi-padian; 31% Minyak dan Lemak Buah/Biji Berminyak Kacang-kacangan
Gula Sayur dan Buah Lain-lain
Universitas Sumatera Utara
oleh karena padi-padian adalah salah satu kelompok makanan pokok yang dikonsumsi masyarakat Indonesia tiap harinya.
Adapun ketersediaan masing-masing kelompok pangan adalah sebagai berikut:
a. Padi-padian
Padi-padian merupakan salah satu kelompok makanan pokok yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia tiap harinya. Dalam penelitian ini kelompok padi-padian yang yang dikonsumsi oleh rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II adalah beras, terigu dan jagung. Kelompok padi-padian ini merupakan makanan yang kaya akan kandungan karbohidrat sehingga dapat dijadikan sebagai makanan pokok.
Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ketersediaan makanan yang bersumber dari padi-padian oleh rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II pada tahun 2020 per harinya ada sebanyak 220,03 gram/kapita/hari. Untuk jelasnya diuraikan pada tabel sebagai berikut.
Tabel 5.2 Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Kelompok Padi-padian Jenis Pangan Berat
Sumber: Data Primer Diolah, 2020 Keterangan:
*) Energi: 1.200 kkal/kapita/hari
Dari hasil Tabel 5.2 menunjukkan ketersediaan pangan rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II untuk kelompok padi-padian. Terdapat perbedaan jumlah ketersediaan beras yang cukup jauh dibandingkan dengan jumlah ketersediaan
terigu dan gandum. Ketersediaan beras pada rumah tangga ada sebesar 97,03%
yang artinya, sampai saat ini konsumsi pangan kelompok padi-padian rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II masih didominasi oleh jenis pangan beras.
Ketersediaan kelompok padi-padian pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II termasuk kedalam kategori dengan kontribusi energi rendah dapat diketahui dengan tingkat ketersediaan padi-padian sebanyak 807,40 kkal/kapita /hari sedangkan tingkat ketersediaan yang ideal untuk padi-padian adalah 1.200 kkal/kapita/hari.
Padi-padian adalah kelompok bahan makanan yang dijadikan makanan pokok, sehingga ketersediaannya harus cukup, agar kebutuhan pangan manusia terpenuhi.
Namun pada penelelitian ini, rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II tidak memiliki ketersediaan kelompok bahan pangan padi-padian dalam jumlah yang cukup. Menurut Sukandar (2006) faktor yang berpengaruh pada ketersediaan pangan rumah tangga utamanya dipengaruhi oleh struktur demografi rumah tangga (jumlah anggota keluarga), tingkat pendidikan anggota rumah tangga, dan pendapatan rumah. Dalam hal ini pendapatan rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II tergolong rendah, hal tersebut menyebabkan mereka melakukan adaptasi dengan mengatur/mengurangi porsi dan frekuensi makan anggota keluarga. Sehingga mereka mengurangi kebutuhan mereka akan kelompok padi-padian sesuai dengan pendapatan yang mereka peroleh.
Universitas Sumatera Utara
Gambar 5.2 Grafik Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Kelompok Padi-padian
b. Umbi-umbian
Umbi-umbian merupakan hasil tanaman sumber karbohidrat di samping padi-padian. Jenis umbi-umbian antara lain: ubi jalar, ubi kayu, kentang, talas dan lain-lain. Umbi-umbian merupakan kelompok pangan yang dapat digunakan sebagai makanan pokok penganti beras, karena kandungan karbohidrat yang dimilikinya.
Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ketersediaan makanan yang bersumber dari umbi-umbian oleh rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II pada tahun 2020 per harinya ada sebanyak 48,24 gram/kapita/hari.
Untuk jelasnya diuraikan pada tabel sebagai berikut.
Tabel 5.3 Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Kelompok Umbi-umbian Jenis Pangan Berat
( gr/kap/hari)
Energi*
(kkal/kap/hari)
Persentase (%)
Ubi Kayu 22,67 29,79 47,00
Kentang 13,78 9,72 28,56
Ubi Jalar 11,79 14,43 24,44
Jumlah 48,24 53,94 100,00
Sumber: Data Primer Diolah, 2020 Keterangan:
Beras; 97%
Terigu; 2% Jagung; 1%
Padi-padian
Beras Terigu Jagung
Dari hasil Tabel 5.3 menunjukkan bahwa ketersediaan pangan umbi-umbian pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II per harinya menunjukkan perbedaan jumlah ketersediaan ubi kayu yang paling banyak dibandingkan dengan jumlah ketersediaan ubi jalar dan kentang. Ketersediaan ubi kayu pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II adalah yang terbesar yaitu sebanyak 47%
dibandingkan jenis pangan lainnya. Hal ini berarti dalam pangan umbi-umbian, ubi kayu masih mendominasi dalam konsumsi atau ketersediaan pangan rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II.
Ketersediaan kelompok umbi-umbian pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II termasuk kedalam kategori dengan kontribusi energi rendah dapat diketahui dengan tingkat ketersediaan umbi-umbian sebanyak 53,94 kkal/kapita /hari sedangkan tingkat ketersediaan yang ideal untuk umbi-umbian adalah 144 kkal/kapita/hari.
Umbi-umbian merupakan salah satu bahan makanan yang menyumbang energi yang besar seperti halnya kelompok padi-padian, sehingga dapat juga dijadikan sebagai makanan pokok. Oleh karena itu, pemerintah giat mengembangkan program diversifikasi konsumsi pangan. Pemerintah mulai menganjurkan konsumsi bahan pangan pokok selain beras, seperti umbi-umbian. Namun kenyataannya, beras masih mendominasi pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia. Menurut Mewa (2003), kebiasaan mengonsumsi beras sebagai bahan pokok membuat masyarakat mengalihkan fungsi umbi-umbian bukan sebagai makanan pokok tetapi sebagai makanan selingan atau snack, sehingga jumlah yang dikonsumsi juga sangat terbatas. Hal tersebut juga terjadi pada pola konsumsi masyarakat miskin di Kelurahan Belawan II, beras merupakan bahan makanan
Universitas Sumatera Utara
pokok masyarakat disana. Beras merupakan bahan makanan pokok yang tidak tergantikan. Rumah tangga responden berpendapat bahwa jika belum makan nasi itu artinya belum makan, sehingga menjadikan umbi-umbian hanya sebagai makanan selingan bukan makanan pokok, sehingga jumlah yang dikonsumsi rendah.
Gambar 5.3 Grafik Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Kelompok Umbi-umbian
c. Pangan Hewani
Pangan hewani adalah bahan makanan yang berupa atau berasal dari hewan atau produk-produk yang diolah dengan menggunakan bahan dasar dari hewan. Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik, jumlah dan mutunya, seperti telur, susu, daging, unggas, ikan dan lainnya. Protein hewani pada umumnya mempunyai susunan asam amino yang paling sesuai untuk kebutuhan manusia. Untuk menjamin mutu protein dalam makanan sehari-hari, dianjurkan sepertiga bagian protein yang dibutuhkan berasal dari protein hewani. Jenis pangan hewani yang dikonsumsi oleh rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II adalah daging unggas, ikan, telur dan susu.
Ubi Jalar; 24%
Ubi Kayu; 47%
Kentang; 29%
Umbi-umbian
Ubi Jalar Ubi Kayu
Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ketersediaan makanan yang bersumber dari pangan hewani oleh rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II pada tahun 2020 per harinya ada sebanyak 133,52 gram/kapita/hari.
Untuk jelasnya diuraikan pada tabel sebagai berikut.
Tabel 5.4 Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Kelompok Pangan Hewani Jenis Pangan Berat
Sumber: Data Primer Diolah, 2020 Keterangan:
*) Energi: 288 kkal/kapita/hari
Dari hasil Tabel 5.4 menunjukkan bahwa ketersediaan pangan hewani rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II per harinya menunjukkan perbedaan jumlah ketersediaan ikan yang paling banyak dibandingkan dengan jumlah ketersediaan daging unggas, telur, dan susu. Ketersediaan ikan pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II adalah yang terbesar yaitu sebanyak 76,32%
dibandingkan jenis pangan hewani lainnya. Hal ini disebabkan oleh letak Kelurahan Belawan II yang dekat dengan lautan sehingga memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memperoleh ikan.
Ketersediaan kelompok pangan hewani pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II termasuk kedalam kategori kurang tersedia dapat diketahui dengan tingkat ketersediaan pangan hewani sebanyak 192,19 kkal/kapita /hari sedangkan tingkat ketersediaan ideal yang disarankan oleh Dinas Ketahanan Pangan untuk pangan hewani adalah 288 kkal/kapita/hari.
Universitas Sumatera Utara
Menurut Ermawati (2012), pemenuhan konsumsi pangan hewani tidak menjadi prioritas bagi rumah tangga miskin. Pola makan rumah tangga miskin hanya mementingkan utuk menghilangkan rasa lapar dan tidak memperhatikan terpenuhinya konsumsi gizi dalam hal pemenuhan gizi seimbang. Selain itu, pangan hewani merupakan bahan pangan yang ditergolong dalam bahan pangan mahal. Hal ini juga terjadi pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II, masyarakat miskin di sana hanya mengonsumsi pangan hewani dengan seadanya saja, bahkan mereka yang bekerja sebagai nelayan lebih memilih untuk menjual hasil tangkapan mereka dan menyisihkan sedikit saja untuk dikonsumsi agar mereka dapat memperoleh pendapatan yang lebih tinggi, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang lainnya. Sumber protein lain seperti susu jarang dikonsumsi rumah tangga responden, alasannya karena susu harganya mahal.
Gambar 5.4 Grafik Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Kelompok Pangan Hewani
Daging Unggas;
7%
Ikan; 76%
Telur; 15%
Susu; 2%
Pangan Hewani
Daging Unggas Ikan Telur Susu
d. Minyak dan Lemak
Minyak dan lemak merupakan kelompok bahan pangan yang hampir selalu dikonsumsi oleh masyarakat dan ketersediaannya selalu ada. Dalam mengolah bahan pangan biasanya, selalu menggunkan minyak dalam pengolahannya. Jenis minyak dan lemak yang dikonsumsi oleh rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II adalah minyak sawit dan margarin.
Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ketersediaan makanan yang bersumber dari kelompok minyak dan lemak oleh rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II pada tahun 2020 per harinya ada sebanyak 30,04 gram/kapita/hari. Untuk jelasnya diuraikan pada tabel sebagai berikut.
Tabel 5.5 Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Kelompok Minyak dan
Sumber: Data Primer Diolah, 2020 Keterangan:
*) Energi: 240 kkal/kapita/hari
Dari hasil Tabel 5.5 menunjukkan ketersediaan pangan kelompok minyak dan lemak pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II per harinya. Rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II hanya mengonsumsi dua jenis kelompok minyak dan lemak yaitu minyak sawit dan margarin. Dari hasil tabel diatas menunjukkan perbedaan jumlah ketersediaan minyak sawit yang paling banyak dibandingkan dengan margarin. Ketersediaan minyak sawit pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II tahun 2020 adalah yang terbesar yaitu sebanyak
Universitas Sumatera Utara
97,40% dibandingkan dengan margarin. Hal ini dikarenakan semua rumah tangga responden menggunakan minyak sawit untuk menggoreng lauk pauk dan menumis sayuran. Rumah tangga responden jarang mengonsumsi mentega untuk mengolah makanannya.
Tingkat ketersediaan kelompok minyak dan lemak pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II yaitu sebanyak 30,04 gram/kapita/hari yang setara 269,52 kkal/kapita/hari. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan kelompok minyak dan lemak pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II sudah baik (ideal).
Bahkan tingkat energi yang dihasilkan yaitu 269,52 kkal/kapita/hari, telah melebihi dari jumlah ideal yang ditetapkan oleh Dinas Ketahanan Pangan yaitu 240 kkal/kapita/hari. Ketersediaan minyak dalam keadaan tersedia ini disebabkan oleh kemudahan dalam memperoleh minyak serta harga yang bervariasi sesuai dengan kemampuan masyarakat. Selain itu jumlah yang dibutuhkan juga tidak banyak sehingga kebutuhan akan minyak selalu tersedia dan terpenuhi.
5.5 Grafik Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Kelompok Minyak dan Lemak Minyak Sawit;
97%
Margarin; 3%
Minyak dan Lemak
Minyak Sawit Margarin
e. Buah dan Biji Berminyak
Terdapat dua jenis makanan kelompok buah dan biji berminyak yang dikonsumsi oleh rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II, yaitu kelapa dan kemiri.
Ketersediaan makanan yang bersumber dari buah dan biji berminyak pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II pada tahun 2020 per harinya ada sebanyak 6,20 gram/kapita/hari. Untuk jelasnya diuraikan pada tabel sebagai berikut.
Tabel 5.6 Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Kelompok Buah dan Biji
Sumber: Data Primer Diolah, 2020 Keterangan:
*) Energi: 72 kkal/kapita/hari
Dari hasil Tabel 5.6 menunjukkan jumlah ketersediaan pangan kelompok buah dan biji berminyak pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II per harinya.
Ketersediaan kelapa pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II adalah yang terbesar yaitu sebanyak 94,52% dibandingkan dengan ketersediaan kemiri.
Hal ini berarti dalam pangan kelompok buah dan biji berminyak, kelapa masih sangat mendominasi dalam konsumsi atau ketersediaan pangan rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II. Hal ini disebabkan karena wilayah Keluarahan Belawan II merupakan daerah pesisir sehingga masyarakat di Kelurahan Belawan II dapat dengan mudah memperoleh kelapa. Selain itu dalam mengolah makanan, rumah tangga responden menggunakan kelapa dalam jumlah yang banyak
Universitas Sumatera Utara
dibandingkan kemiri, mereka menggunakan kemiri dalam jumlah sedikit saja hanya sebagai tambahan bumbu masakan.
Berdasarkan hasil yang diperoleh tingkat ketersediaan pangan kelompok buah dan biji berminyak pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II, tergolong dalam kategori pangan yang tidak tersedia. Hal ini disebabkan oleh tingkat ketersediaan kelompok buah dan biji berminyak yang hanya 22,15 kkal/kapita/hari, jauh dibawah standar yang ditetapkan oleh Dinas Ketahanan Pangan yaitu sebesar 72 kkal/kapita/hari. Rumah tangga respon jarang menggunakan kelapa ataupun meniri dalam olahan masakan mereka. Rumah tangga responden umumnya memasak masakan dengan olahan yang sederhana, sehingga penggunaan kelapa dan kemiri dalam jumlah yang sedikit saja.
Gambar 5.6 Grafik Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Kelompok Buah dan Biji Berminyak
f. Kacang-kacangan
Terdapat beberapa jenis makanan kelompok kacang-kacangan yang dikonsumsi oleh rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II, yaitu kacang kedelai, kacang
Kelapa; 95%
Kemiri; 5%
Buah dan Biji Berminyak
Kelapa Kemiri
hijau, dan kacang tanah. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa jenis kacang-kacangan yang paling diminati adalah kacang kedelai. Ketersediaan makanan yang bersumber dari kacang-kacangan oleh rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II pada tahun 2020 per harinya ada sebanyak 32,56 gram/kapita/hari. Untuk jelasnya diuraikan pada tabel sebagai berikut.
Tabel 5.7 Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Kelompok Kacang-kacangan Jenis Pangan Berat
Sumber: Data Primer Diolah, 2020 Keterangan:
*) Energi: 120 kkal/kapita/hari
Dari hasil tabel 5.7 menunjukkan ketersediaan pangan kelompok kacang-kacangan pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II per harinya. Ketersediaan kacang kedelai pada rumah tangga di Kelurahan Belawan II adalah yang terbesar yaitu sebanyak 92,60% dibandingkan dengan ketersediaan kacang hijau dan kacang tanah. Hal ini berarti dalam pangan kelompok kacang-kacangan, kacang kedelai masih sangat mendominasi dalam konsumsi dan ketersediaan pangan rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II. Kacang kedelai merupakan bahan baku dalam pembuatan tempe dan tahu. Tahu dan tempe menjadi bahan makanan yang sering dikonsumsi oleh rumah tangga responden. Tahu dan tempe merupakan lauk-pauk sumber protein nabati yang harganya murah, mudah diperoleh, dan tersedia terus-menerus di pasar. Cara pengolahannya pun mudah, rumah tangga responden mengonsumsinya dalam bentuk tahu dan tempe goreng.
Universitas Sumatera Utara
Tingkat ketersediaan kelompok kacang-kacangan pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II yaitu sebanyak 32,56 gram/kapita/hari yang setara 121,44 kkal/kapita/hari. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan kelompok kacang-kacangan pada rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II dalam jumlah yang tersedia. Besar tingkat energi yang dihasilkan yaitu 121,44 kkal/kapita/hari, sudah mencapai jumlah ideal yang ditetapkan oleh Dinas Ketahanan Pangan yaitu 120 kkal/kapita/hari. Hal ini disebabkan meskipun ketersediaan pangan olahan kacang-kacangan seperti tahu dan tempe banyak ditemukan dipasar dengan harga yang murah, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan makanan sumber protein pengganti bahan pangan hewani.
Gambar 5.7 Grafik Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Kelompok Kacang-kacangan
g. Gula
Gula merupakan suatu karbohidrat sederhana yang umumnya dihasilkan dari tebu.
Namun ada juga bahan dasar pembuatan gula yang lain, seperti air bunga kelapa,
Kacang Kedelai;
92%
Kacang Hijau; 3% Kacang Tanah; 5%
Kacang-kacangan
Kacang Kedelai Kacang Hijau Kacang Tanah
anggota dari disakarida. Gula merupakan salah satu pemanis yang umum dikonsumsi masyrakat. Gula biasa digunakan sebagai pemanis di makanan maupun minuman. Selain sebagai pemanis, gula juga dapat digunakan sebagai pengawet makanan.
Terdapat dua jenis makanan kelompok gula yang dikonsumsi oleh rumah tangga miskin di Kelurahan Belawan II, yaitu gula pasir dan gula merah. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ketersediaan makanan yang bersumber dari gula oleh masyarakat Kota Medan pada tahun 2019 per harinya ada sebanyak 34,12 gram/kapita/hari. Untuk jelasnya diuraikan pada tabel sebagai berikut.
Tabel 5.8 Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Kelompok Gula
Tabel 5.8 Ketersediaan Pangan Rumah Tangga Kelompok Gula