• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK PENYALAHGUNA NAPZA

8. Tingkat penerimaan Orangtua Rendah (< Rp 1.100.000,-)

Sedang (Rp. 1.100.000,- – Rp. 3.000.000,-) Tinggi (> Rp. 3.000.000,-) 23 15 12 46.0 30.0 24.0 Jumlah 50 100.0

Usia

Pada penelitian ini responden berada pada rentang usia 11 sampai dengan 24 tahun saat pertama kali menggunakan Napza. Persentase data responden menurut kelompok usia dapat dilihat pada Tabel 3. Pada tabel tersebut terlihat bahwa responden penelitian didominasi oleh responden kategori usia remaja awal (usia dibawah 15 tahun) yaitu sebesar 44 persen. Sebesar 36 persen responden berusia 15 sampai 19 tahun (remaja) dan sebesar 20 persen responden berusia 20 sampai 24 tahun (remaja akhir). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penyalahguna Napza saat pertama kali menggunakannya masih berusia sangat dini.

Laporan tahunan Badan Narkotika Nasional tahun 2004 mengungkapkan bahwa 30 persen dari penyalahguna Napza Indonesia didominasi dimulai oleh pengguna usia 7–18 tahun, dan terus mengalami peningkatan di setiap tahunnya. Penelitian yang dilakukan Asian Harm Reduction Network (AHRN) di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan bekasi tahun 2005 menemukan 50 persen pengguna Napza memulai penggunaannya pada usia 9–15 tahun Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil penelitian yang menemukan bahwa usia pertama kali pengguna mengonsumsi Napza didominasi oleh kategori usia di bawah 15 tahun. Hasiil wawancara mendalam juga mengungkapkan bahwa di lingkungan responden tinggal pada usia di bawah 15 tahun rata-rata sudah mencoba menggunakan zat adiktif berbahaya.

Jenis Kelamin

Pada Tabel 3 terlihat perbedaan persentase yang jauh antara responden berjenis kelamin laki-laki dengan responden berjenis kelamin perempuan, yaitu sebesar 88 persen responden berjenis kelamin laki-laki dan 12 persen responden berjenis kelamin perempuan. Hasil dokumentasi yang dilakukan oleh komunitas JANGKAR di 12 Kota di Indonesia pada tahun 2008 mengungkapkan bahwa 90 persen penyalahguna Napza berjenis kelamin laki-laki. Hal tersebut juga terlihat pada hasil penelitian ini yang didominasi oleh pengguna berjenis kelamin laki- laki. Hasil wawancara mendalam mengungkapkan laki-laki cenderung lebih bebas ketimbang perempuan.

“Kalau laki-laki sih lebih bebas main kemana-mana kalau perempuan kan susah, makanya temen-temen saya yang pemakai kebanyakan ya laki-laki juga” (XX, Laki-laki,18)

Tingkat Pendidikan

Tabel 3 menyajikan jumlah dan persentase responden menurut tingkat pendidikannya. Sebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan tidak memiliki ketimpangan yang jauh di setiap kategorinya, kecuali untuk kategori responden dengan tingkat pendidikan tamat perguruan tinggi. Hanya sebesar 2 persen responden yang tamat perguruan tinggi. Sementara responden yang tidak tamat SD memiliki persentase 20 persen. Untuk responden yang tamat SMP dan tamat

SMA memiliki jumlah persentase yang sama yaitu sebesar 24 persen. Persentase paling tinggi adalah kategori responden tamat SD yaitu sebesar 30 persen.

Hasil penelitian yang didapat menunjukkan bahwa mayoritas penyalahguna Napza pada penggunaan pertama kali masih berada pada jenjang pendidikan yang rendah. Hal ini bisa dikaitkan dengan usia rata-rata responden penyalahguna Napza berada pada rentang usia dibawah 15 tahun. Selain memang tidak sampai tamat SD, ada pula beberapa responden yang belum tamat SD saat itu.

Status Pekerjaan

Hasil penelitian menyebutkan bahwa sebagian besar responden saat pertama kali menggunakan Napza tidak bekerja. Persentase data responden menurut status pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel tersebut menunujukkan bahwa status pekerjaan responden saat perama kali menggunakan Napza didominasi oleh responden yang tidak bekerja, yaitu dengan persentase sebesar 62 persen.

Hasil penelitian yang menunjukkan status pekerjaan tidak bekerja dominan pada penyalahguna Napza dapat dikaitkan dengan mayoritas responden yang berada pada kategori usia remaja awal atau kurang dari 15 tahun. Selain itu, tingkat pendidikan yang rendah juga menyebabkan responden didominasi kategori status pekerjaan tidak bekerja.

“Waktu pertama kali jadi pemakai sih belum kerja, masih

sekolah waktu itu. Ya umurnya juga kan masih muda banget, masih jadi murid SD.” (PO, Laki-laki,30)

Tingkat Penerimaan

Tabel 3 menunjukkan bahwa tingkat penerimaan responden mayoritas berada pada kategori rendah dengan persentase sebesar 48 persen. Sementara itu, sebesar 34 persen responden memiliki tingkat penerimaan yang tinggi, dan sebesar 18 persen responden memiliki tingkat penerimaan sedang. Hal ini menunjukkan kecenderungan tingkat penerimaan penyalahguna Napza berada pada tingkat penerimaan rendah yaitu dibawah Rp 250.000,-. Hal ini sesuai dengan penelitian Sulistyorini (2008) yang menunjukkan bahwa sebagian besar penyalahguna Napza berasal dari tingkat ekonomi rendah.

Hasil penelitian yang menunjukkan tingkat penerimaan rendah pada penyalahguna Napza dapat dikaitkan dengan dominasi karakteristik usia dan tingkat pendidikan responden yang rendah serta status pekerjaan yang didominasi oleh responden tidak bekerja. Beberapa responden dalam wawancara mendalam juga mengungkapkan selain mereka yang belum bekerja sehingga tidak memiliki penghasilan, mereka juga berasal dari keluarga dengan status ekonomi yang rendah.

“Pas pertama kali ‘make’ sih ga punya penghasilan, belum kerja waktu itu, sekolah aja ga lulus. Dikasih uang sama orang tua juga syukur soalnya buat makan aja

susah.” (XX, Laki-laki,18)

Status Pernikahan Orangtua

Status Pernikahan responden dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu menikah dan bercerai atau duda/janda karena pasangan meninggal dunia atau ditinggal pergi selama rentang waktu yang sangat lama tanpa kabar. Tabel 3 menunjukkan sebesar 70 persen responden yang mewakili penyalahguna Napza di kalangan remaja Bogor menurut status pernikahan orangtua termasuk dalam kategori bercerai/duda/janda saat pertama kali menjadi pengguna Napza. Sisanya sebanyak 30 persen termasuk dalam kategori menikah. Dapat dikatakan mayoritas penyalahguna Napza berasal dari keluarga yang orangtuanya bercerai/duda/janda. Hal ini sesuai dengan penelitian Harahap (2008) yag menunjukkan bahwa sebagian besar penyalahguna Napza yang ditemukan berasal dari keluarga dengan sistem Separated (terpisah) dan Disanganged (tercerai berai).

Tingkat Pendidikan Orangtua

Tabel 3 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ayah responden mayoritas berada pada kategori tinggi yaitu tamat SMA dengan persentase sebesar 52 persen. Sementara sebesar 26 persen responden memiliki tingkat pendidikan ayah tamat Perguruan Tinggi. Untuk kategori lainnya dalam variabel tingkat pendidikan ayah memiliki persentase masing-masing sebesar 10 persen untuk tamat SMP, 8 persen untuk tamat SD, dan 4 persen tidak tamat SD.

Tabel 3 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu responden berbeda dengan tingkat pendidikan ayah responden. Hasil penelitian ini menunjukkan mayoritas tingkat pendidikan ibu berada pada kategori rendah atau tamat SD, yaitu sebesar 32 persen. Responden yang tingkat pendidikan ibunya tidak tamat SD memiliki persentase sebesar 16 persen. Untuk kategori tamat SMP persentase yang didapat sebesar 26 persen. Sementara untuk kategori tamat SMA didapat hasil dengan persentase sebesar 22 persen. Hanya sedikit responden yang memiliki tingkat pendidikan ibu sangat tinggi atau tamat Perguruan Tinggi, yaitu sebesar 4 persen.

Tingkat Penerimaan Orangtua

Tabel 3 menunjukkan bahwa tingkat penerimaan orangtua responden dominan berada pada kategori rendah, yaitu sebesar 46 persen. Sebesar 30 persen responden memiliki tingkat penerimaan orangtua yang sedang, dan sebesar 24 persen responden memiliki tingka penerimaan yang tinggi. Hal ini menunjukkan mayoritas penyalahguna Napza memiliki tingkat penerimaan yang tergolong rendah, yaitu dibawah Rp 1.100.000,-. Hal ini sesuai dengan penelitian Sulistyorini (2008) yang menyebutkan bahwa kebanyakan pengguna Napza berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah. Hasil wawancara mendalam juga mengungkapkan bahwa kebanyakan orangtua responden tidak memiliki

pekerjaan tetap. Selain itu, status pernikahan yang didominasi bercerai juga menyebabkan penghasilan hanya berasal dari satu orang saja.

“Orang tua saya sih udah cerai, bapak nggak tau kemana. Jadi cuma ibu yang kerja itu juga nggak tetap. Kalau lagi ada ya ada kalau lagi nggak ada ya udah” (MM, Perempuan,18)

POLA INTERAKSI PENYALAHGUNA NAPZA DAN

Dokumen terkait