Ada
Ringan Sedang Berat Sangat Berat Perasaan Cemas 8,3% 18,8% 41,7% 25,0% 6,3% Ketegangan 4,2% 31,3% 37,5% 22,9% 4,2% Ketakutan 52,1% 29,2% 12,5% 4,2% 2,1% Gangguan Tidur 22,9% 41,7% 20,8% 14,6% 0% Gangguan Kecerdasan 6,3% 58,3% 20,8% 14,6% 0% Perasaan Depresi 20,8% 37,5% 25,0% 16,7% 0% Gejala Somatik 39,6% 31,3% 18,8% 10,4% 0% Gejala Sensorik 47,9% 27,1% 22,9% 2,1% 0% Gejala Kardiovaskuler 14,6% 18,8% 41,7% 20,8% 4,2% Gejala Resiratori 16,7% 29,2% 35,4% 12,5% 6,3% Gejala Gastrointestinal 31,3% 37,5% 18,8% 8,3% 4,2% Gejala Urogenital 37,5% 37,5% 10,4% 8,3% 6,3% Gejala Autonom 27,1% 29,2% 27,1% 14,6% 2,1% Perubahan Sikap 6,3% 29,2% 45,8% 12,5% 6,3%
Tabel diatas menunjukkan bahwa semua responden mengalami berbagai
perubahan terkait kecemasan yang meliputi perubahan fisik, mental, dan perilaku.
Perubahan fisik yang dialami mahasiswa saat menghadapi ujian praktikum
melibatkan berbagai sistem dalam tubuh. Respon saraf utama terhadap rangsangan
stres adalah pengaktifan sistem saraf simpatis generalisata dan secara bersamaan
sistem simpatis mengaktifkan penguatan hormon epinefrin dari medula adrenal
dan berbagai hormon lain (Stuart dan Michele, 2005; , 2007; Sherwood, 2012;
Stipanuk, 2013). Secara spesifik, sistem simpatis dan epinefrin meningkatkan
kecepatan dan kekuatan kontraksi jantung dan menyebabkan vasokontriksi
generalisata (Sherwood, 2012). Epinefrin menyebabkan dilatasi saluran
pernafasan, meningkatkan heart rate (MacDougall, 2011) dan bersama
norepinefrin mengurangi aktifitas pencernaan dan menghambat pengosongan
kandung kemih (Sherwood, 2012).
Kecemasan yang dialami mahasiswa selain meningkatkan kadar epinefrin,
juga mengaktifasi sistem CRH-ACTH-kortisol dan sistem
renin-angiotensin-aldosteron pada tubuh sehingga menimbulkan gejala ketegangan fisik, perubahan
sistem kardiovaskular, sistem urogenital, dan gejala gastrointestinal (Goodman,
2010; Sherwood, 2012; Bolen, 2014). Stres dan kecemasan juga meningkatkan
kinerja retikular neuron dalam batang otak dan medulla spinalis yang mengontrol
fungsi vital dalam tubuh (Potter dan Perry, 2005) sehingga menyebabkan gejala
somatik dan autonom. Seseorang yang mengalami kecemasan tinggi menunjukkan
gejala respiratorik seperti hiper- atau hipoventilasi, semakin tinggi kecemasan
semakin tinggi pula frekuensi pernafasan (Giardino et al., 2008; Homa dan Yuri,
Kecemasan yang dialami mahasiswa saat menghadapi ujian praktikum
juga mengakibatkan perubahan psikologis, seperti timbulnya rasa takut, perasaan
depresi, gangguan tidur, gangguan kecerdasan, dan perubahan sikap. Shin dan
Israel (2010) menyebutkan bahwa kecemasan tingkat tinggi dapat meningkatkan
aktivasi beberapa regional otak, seperti Cortex Prefrontal Dorsolateral bagian
kanan (DLPFC) dan sulcus kiri bagian depan dan bawah serta penurunan aktivasi
cortex rostral-ventral anterior cingulate yang dapat menurunkan kinerja otak.
Kecemasan tingkat tinggi juga dapat menyebabkan perubahan psikologis dan
gejala insomnia (Drake et al. 2003; Branes et al., 2009) dan menurunkan
Emotional Intelligence (Jacobs et al., 2008).
Kecemasan yang dialami responden dapat disebabkan oleh berbagai
faktor, diantaranya tindakan klinis yang masih dianggap asing, yaitu pemasangan
AKDR, responden penelitian belum pernah mengikuti ujian pemasangan AKDR
sebelumnya, dan persiapan yang kurang. Hal ini ditunjukkan dengan kesibukan
sejumlah responden untuk mengulang dan menghapalkan kembali Standar
Operasional Prosedur (SOP) tindakan yang akan diujikan. Hal lain yang dianggap
dapat menyebabkan kecemasan mahasiswa adalah tindakan yang selalu diawasi,
karena keberadaan penguji dapat meningkatkan kecemasan. Cato (2013)
menyebutkan beberapa hal yang menyebabkan mahasiswa keperawatan
mengalami kecemasan saat melakukan ujian praktikum, yaitu situasi klinis dan
orientasi atau persiapan tindakan. Permasalahan yang sering dihubungkan dengan
situasi klinis saat ujian yaitu kemungkinan pengambilan keputusan atau tindakan
Intervensi zikir yang dilakukan pada penelitian ini merupakan integrasi
dari tiga tehnik lain yaitu; tehnik relaksasi autogenik, meditasi, dan tehnik
relaksasi napas dalam. Pada hal ini responden diminta untuk mengulang-ulang
kalimat zikir “Ya Lathyfu” dengan jumlah bilangan tertentu (11 x 3 kali) dan
memfokuskan fikiran pada satu titik; Allah Yang Maha Lembut dalam kondisi
tenang (relaksasi) dengan dibarengi penggunaan napas dalam selama proses
intervensi.
Penghitungan beda rata-rata skor kecemasan antara pre-test dan post-test
pada kelompok perlakuan menunjukkan perbedaan secara nyata dan signifikan
(p=0,000). Rata-rata skor kecemasan kelompok perlakuan pada pre-test adalah
16,71 dan 11,17 pada post-test. Perbedaan rata-rata skor kecemasan ini
menunjukkan penurunan tingkat kecemasan, karena semakin kecil skor
kecemasan menunjukkan individu tersebut mengalami penurunan tingkat
kecemasan, sehingga dapat disimpulkan zikir dapat menurunkan tingkat
kecemasan mahasiswa keperawatan dalam menghadapi ujian praktikum. Hal ini
sejalan dengan penelitian Maimunah (2011),Yuliza (2012) dan Abdullah et al.
(2013) yang ketiganya menyimpulkan bahwa zikir dapat menurunkan kecemasan
secara signifikan.
Penelitian yang dilakukan Maimunah (2011) membahas pengaruh zikir
terhadap kecemasan kehamilan pertama yang dilakukan pada 10 ibu hamil
primipara. Meskipun menghasilkan kesimpulan yang sama, ada beberapa hal yang
membedakan penelitian ini dan yang dilakukan Maimunah (2011), diantaranya
angka signifikansi perubahan kecemasan (p=0.008), jenis zikir yang digunakan
dalam penelitian ini jenis zikir yang digunakan adalah lafaz “Ya Lathyf” yang
diajarkan dalam satu kali pelatihan, dan menghasilkan angka signifikansi lebih
rendah (p=0.000).
Sebagaimana yang dilakukan Maimunah (2011), Yuliza (2012) juga
melakukan penelitian yang sama yaitu mengenai pengaruh zikir terhadap
kecemasan namun menggunakan responden berbeda yaitu pasien pre-operasi
Sectio Caesaraea (SC) yang menyimpulkan bahwa ada pengaruh antara zikir
terhadap tingkat kecemasan pasien pre-operasi setelah dilakukan intervensi
(p=0.001). Hal yang membedakan penelitian penelitian ini dengan penelitian
Yuliza (2012) adalah interval waktu penelitian, Yuliza (2012) melakukan
penelitian selama 2 bulan dengan jumlah responden 15 orang, sedangkan
penelitian ini dilakukan selama 2 hari dengan melibatkan 48 responden.
Perbedaan ini dikarenakan kecemasan yang dialami dialami mahasiswa saat
menghadapi ujian praktikum lebih ringan dari pada kecemasan yang dialami
pasien pre-operasi. Allah S.W.T berfirman :
Artinya: “ Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah, ingatlah dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang.” (QS.
Ar-Ra’du: 28).
Sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat diatas, bahwa mengingat Allah,
tenang. Seseorang yang mengalami kecemasan, hatinya menjadi risau dan gelisah,
dan dengan berzikir dapat menghilangkan kegelisahan dan kecemasan tersebut
(Zainul, 2007) dan menumbuhkan rasa percaya diri (Maimunah, 2011). Potter dan
Perry (2005) menyebutkan bahwa aktivitas spiritual seperti berdoa dan meditasi
dapat menurunkan stres. Assegaf (2009) menyebutkan bahwa kulitas respon
relaksasi akan lebih optimal jika disertai dengan zikir, karena rasa berharap akan
kasih sayang Allah dapat menumbuhkan optimisme dan menyeimbangkan gejolak
emosi, hal tersebut akan menormalkan metabolisme tubuh dan memperbaiki
regulasi hormon. Dengan berzikir sebelum mengikuti ujian praktikum, dapat
menurunkan kecemasan yang dialami mahasiswa saat menghadapi ujian tersebut.
Selama menjalani intervensi zikir, responden juga melakukan tehnik
relaksasi autogenik, yaitu mengulang-ulang kalimat zikir dalam keadaan relaksasi.
Kecemasan sering dihubungkan dengan kejadian penurunan variabilitas detak
jantung (Heart Rate Variability/HRV) yang disebabkan oleh peningkatan kerja
saraf simpatis dan penurunan kerja saraf parasimpatis (Gallo dan Harry, 2008;
Carlstedt, 2009; Miu et al., 2009; Everly dan Jeffrey, 2012). Miu et al. (2009)
dalam penelitiannya menemukan bahwa autogenik dapat meningkatkan HRV dan
mengefektifkan vagal control terhadap kerja jantung. Schalmann et al. (2010)
menyebutkan bahwa autogenic training dapat menyeimbangkan aktivitas saraf
simpatis dan parasimpatis pada sistem saraf autonom.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa zikir yang dibarengi dengan
tehnik autogenik dapat menurunkan kecemasan secara signifikan (p=0.000). Hal
ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Kanji et al. (2004) tentang
kecemasan yang dialami mahasiswa keperawatan (p<0.001) dan pasien
post-operasi coronary angioplasty (p<0.001). Hidderlay dan Martin (2004) juga
menunjukkan hal yang sama dalam penelitiannya mengenai pengaruh autogenik
terhadap kecemasan pasien kanker stadium awal yang menyimpulkan bahwa
relaksasi autogenik dapat menurunkan kecemasan (p=0.0027).
Penelitian ini memiliki beberapa perbedaan dengan apa yang dilakukan
Kanji et al. (2004) dalam penelitiannya, diantaranya penggunaan instrumen untuk
mengukur kecemasan, penelitian ini menggunakan Hamilton Anxiety Scale
(Ham-A) sedangkan Kanji et al. (2004) menggunakan State-Trait Anxiety
Inventory (STAI). Perbedaan ini disebabkan karena penggunaan interval waktu
penelitian yang berbeda. STAI merupakan kuesioner kecemasan yang terdiri dari
40 pertanyaan (Tusaie dan Joyce, 2013) sehingga sangat sesuai digunakan untuk
penelitian yang dilakukan dalam waktu lama (2 bulan), seperti yang dilakukan
oleh Kanji et al. (2004), sedangkan Ham-A hanya terdiri dari 14 pernyataan dan
dianggap tidak terlalu panjang sehingga sangat sesuai untuk digunakan dalam
penelitian ini yang dilakukan dalam waktu yang relatif singkat.
Intervensi zikir yang dilakukan oleh responden, selain mengandung unsur
autogenik, juga memuat unsur meditasi, sehingga ketika melakukan zikir,
responden juga melakukan proses meditasi. Bermeditasi dapat memunculkan
respon relaksasi (Losyk, 2005) yang dapat menurunkan respon fight-or-flight
(melawan atau terbang) pada sistem saraf simpatis dengan meningkatkan respon
saraf parasimpatis (Hanson, 2011; Johnson, 2012). Keadaan cemas dapat
meningkatkan kerja amygdala(Antony dan Murray, 2008; Essau dan Thomas,
lainnya (Hjemdhal et al., 2011). Goldin dan James (2010) menyebutkan bahwa
meditasi dapat menurunkan aktifitas amygdala sehingga dapat menurunkan respon
autonom terhadap kecemasan tersebut.
Penelitian ini menunjukkan bahwa relaksasi zikir yang dibarengi dengan
meditasi dapat menurunkan kecemasan mahasiswa saat menghadapi ujian skill-lab
(p=0.000), hal ini sejalan dengan yang dilakukan Beauchemin et al. (2008)
mengenai pengaruh meditasi terhadap kecemasan dan penampilan akademik siswa
berkebutuhan khusus yang menyimpulkan adanya penurunan kecemasan setelah
melakukan meditasi (p<0,05). Namun, sebuah telaah juranl mengenai meditasi
menyebutkan bahwa setidaknya ada 15 penelitian tentang efek meditasi yang
tidak menemukan efek positif yang jelas terhadap gangguan depresi dan
kecemasan, namun pendapat ini tidak disertai alasan, meditasi hanya digunakan
sebagai tindakan alternatif (Saeed et al., 2010).
Selama proses intervensi zikir, responden melakukan tehnik relaksasi
autogenik dan meditasi, dibarengi dengan penggunaan tehnik napas dalam, ini
merupakan kunci pada intervensi ini. Seperti halnya relaksasi, tehnik napas dalam
dapat mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, menurunkan frekuensi jantung dan
tekanan darah, mengurangi konsumsi oksigen, dan meningkatkan fungsi
pernafasan dan sistem kardiovaskular (Brody dan Paula, 2009; Seaward, 2012).
Tehnik napas dalam disebut juga tehnik pernafasan diafragma (difraghmatic
breathing), tehnik dasar pernafasan diafragma adalah dengan mengurangi
frekuensi nafas menjadi 4-6 kali permenit (Seaward, 2012).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi zikir dengan
mahasiswa, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Chiang et al. (2009)
mengenai pengaruh pernafasan diafragma terhadap kecemasan pasien anak
dengan asma yang menunjukkan adanya penurunan kecemasan yang siginifikan
pada kelompok perlakuan.
Ghofur dan Eko (2007) mengemukakan hasil yang sama dalam
penelitiannya tentang pengaruh tehnik napas dalam terhadap kecemasan pada ibu
persalinan kala I yang menemukan adanya perbedaan yang signifikan (p=0.000)
antara kecemasan sebelum dan setelah pelakuan. Penelitian ini memiliki
perbedaan dalam penggunaan desain penelitian dengan penelitian yang dilakukan
Ghofur dan Eko (2007). Penelitian ini menggunakan rancangan randomized
control group pre-test and post-test design, yaitu dengan membagi responden
menjadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol sebagai pembanding,
sedangkan Ghofur dan Eko (2007) menggunakan one group pretest-postest, yaitu
hanya menggunakan satu kelompok perlakuan, dan tidak memiliki kelompok
pembanding, sehingga dapat menyebabkan bias hasil.
Kelompok kontrol merupakan kelompok yang tidak diberikan perlakuan
zikir sebelum post-test. Digunakannya kelompok kontrol bertujuan sebagai
pembanding untuk kelompok perlakuan, baik untuk nilai pre, nilai post, dan beda
antara keduanya. Dalam hal ini, responden pada kelompok kontrol dibiarkan
menggunakan cara adaptasi masing-masing ketika menghadapi ujian praktikum,
seperti halnya dengan membaca doa, atau dengan mengulang-ulang materi yang
akan diujikan.
Pada penghitungan uji beda rata-rata antara skor kecemasan pre dan post
(p=0.000). Namun perbedaan skor kecemasan ini menunjukkan adanya
peningkatan. Pada saat pre-test ditemukan bahwa rata-rata kecemasan kelompok
kontrol adalah 12,00 sedangkan pada post-test menunjukkan rata-rata 22,33.
Peningkatan skor kecemasan ini menunjukkan adanya peningkatan kecemasan
kelompok kontrol saat menghadapi ujian praktikum. Peningkatan kecemasan yang
paling signifikan terlihat dari peningkatan tingkat kecemasan berat, dimana saat
pre-test menunjukkan tidak ada anggota kelompok kontrol yang mengalami
kecemasan berat (0%) sedangkan saat post-test yang mengalami kecemasan berat
meningkat menjadi 5 orang (20,8%).
Hasil penelitian ini yang menemukan bahwa kelompok kontrol mengalami
peningkatan kecemasan sejalan dengan penelitian yang dilakukan Suyamto et al.
(2009) tentang pengaruh relaksasi otot terhadap kecemasan mahasiswa
keperawatan menghadapi ujian ahir program, dan penelitian yang dilakukan Kanji
et al. (2006) tentang pengaruh autogenik terhadap kecemasan yang dialami
mahasiswa keperawatan. Keduanya menyimpulkan bahwa kelompok yang tidak
diberikan perlakuan (kelompok kontrol) mengalami peningkatan kecemasaan saat
pot-test. Pada pilot study menunjukkan bahwa kecemasan mahasiswa saat
menghadapi ujian praktikum dapat meningkat ketika semakin dekat dengan waktu
ujian. Ketika seseorang tidak bisa beradaptasi dengan baik terhadap
kekhawatirannya, maka perasaan cemas akan terus meningkat. Begitupula yang
dialami kelompok kontrol, kecemasan yang dibiarkan terus menerus tanpa
Keterbatasan Penelitian
Dalam penyusunan penelitian ini, terdapat beberapa keterbatasan yang
diakui belum dapat dipenuhi dan menjadi kekurangan dalam penelitian ini.
Berbagai kekurangan tersebut terdapat pada isi dan metodologi penelitian.
1. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kecemasan menggunakan
kuesioner, sehingga penilaian kecemasan responden sangat bersifat
subjektif dan sangat dimungkinkan adanya bias data.
2. Houthrone effect; subjek penelitian mengetahui bahwa dirinya sedang
menjadi responden penelitian sehingga dapat mempengaruhi respon saat
77 BAB VII PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan
dan dijelaskan pada bab sebelumnya, maka berikut kesimpulan yang dapat
ditarik dari penelitian ini:
1. Rata-rata skor kecemasan mahasiswa keperawatan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta menghadapi ujian skill-lab saat pre-test adalah
16,71 dengan skor terendah 4 dan tertinggi 43 pada tingkat kecemasan
ringan 37% (n=9) untuk kelompok perlakuan dan 12,00 dengan skor
terendah 0 dan tertinggi 32 pada tingkat kecemasan ringan 37%(n=9)
untuk kelompok kontrol.
2. Rata-rata skor kecemasan mahasiswa keperawatan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta menghadapi ujian skill-lab saat post-test adalah
11,17 dengan skor terendah 0 dan tertinggi 39 pada tingkat kecemasan
tidak ada kecemasan 41,7% (n=10) untuk kelompok perlakuan dan
22,33 dengan skor terendah 5 dan tertinggi 41 pada tingkat kecemasan
sedang 33,3% (n=8) untuk kelompok kontrol.
3. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa zikir mempengaruhi skor
kecemasan mahasiswa keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
saat menghadapi ujian skill-lab (p=0,000 t=6,882). Dengan nilai t
hitung lebih besar dari t tabel (2,069) menunjukkan ada perbedaan
setelah perlakuan. Dan perbedaan rata-rata skor tersebut mengarah
pada nilai yang labih kecil, sehingga dapat disimpulkan bahwa zikir
dapat menurunkan skor kecemasan mahasiswa keperawatan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta saat menghadapi ujian skill-lab.
4.2. Saran
4.2.1. Bagi Mahasiswa Keperawatan
Kecemasan saat menghadapi ujian praktikum dapat
menganggu penampilan mahasiswa saat ujian, bahkan dapat
menurunkan kemampuan siswa sehingga tidak dapat melakukan
tindakan dengan tepat, sehingga kecemasan saat menghadapi ujian
praktikum mesti ditangani. Salah satu metode yang dapat dilkukan
untuk menurunkan kecemasan saat mengahadapi ujian praktikum
adalah zikir. Dengan menggunakan pendekatan religi, selain dapat
menurunkan kecemasan, zikir juga dianggap dapat meningkatkan
kepercayaan diri. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan
mahasiswa dapat meluangkan waktu untuk berzikir dan berdoa saat
menghadapi ujian.
4.2.2. Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan
Penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa mengalami
gejala kecemasan saat menghadapi ujian praktikum. Kecemasan ini
dapat mengganggu penampilan mahasiswa saat melakukan tindakan.
Dengan mempertimbangkan hasil penelitian ini disarankan kepada
dan berzikir dalam rangkaian ujian atau bahkan dimasukkan kedalam
Standar Operasional Prosedur (SOP) tindakan keperawatan.
4.2.3. Bagi Peneliti Selanjutnya
1. Dilakukan penelitian lain tentang hubungan kecemasan saat
menghadapi ujian praktikum dengan nilai hasil ujian praktikum.
2. Dilakukan penelitian lain untuk mengetahui faktor-faktor yang
menyebabkan ujian praktikum menimbulkan kecemasan.
3. Dilakukan penelitian lain tentang pengaruh zikir terhadap
kecemasan pada responden lain, seperti pasien yang akan
melakukan operasi, pasien yang sedang mengikuti program
kemoterapi, pasien, pasien yang didiagnosis penyakit keganasan,