• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.4 Tinjauan Tentang Spionase Siber (Cyber Espionage)

Internet diartikan sebagai jaringan-jaringan yang telah berkembang diseluruh dunia dan menjadi suatu fenomena yang mengasyikan dengan tantangan baru. Dalam kontek yang lebih kompleks, fenomena internet kemudian dikenal dengan cyber space.54 Namun dalam hal ini istilah cyber space juga sering dikenal dengan sebutan yang lebih sederhana yaitu Cyber atau biasa dikenal oleh masyarakat Indonesia, siber yang merujuk pada sistem komputer dan informasi atau dunia maya.55

Sedangkan untuk pengertian Spionase itu sendiri adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi secara sembunyi-sembunyi guna mendapatkan informasi rahasia dari target intaian yang biasanya merupakan tindakan ilegal dan dapat dihukum.56 Maka dari definisi diatas, spionase siber adalah tindakan yang memanfaatkan jaringan internet untuk melakukan kegiatan mata-mata terhadap pihak lain, dengan memasuki sistem jaringan komputer (computer network system) pihak sasaran.57 Spionase bukanlah hal baru dimata internasional, selama masa perang dunia kegiatan memata matai sudah sering dlakukan oleh pihak yang berperang guna mendapatkan informasi yang berguna untuk membuat strategi penyerangan berikutnya.

54 Maskun. Kejahatan Siber. Jakarta: Kencana.2013 hal.30

55 http://kateglo.com/?mod=dictionary&action=view&phrase=siber#panelGlossary diakses pada tanggal 03 mei 2017

56 Anonim. Pengertian spionase. https://kbbi.web.id/spionase, diakses pada tanggal 4 april 2017 57 Maskun. Op.Cit. hal 52-53

2. Sejarah Spionase Siber

Spionase telah dilakukan oleh manusia sejak massa lampau, terkhusus pada massa peperangan atau massa perebutan sebuah kekuasaan. Dalam sejarah Islam tindakan spionase juga pernah terjadi ketika perang khandak dimana pihak berseteru saling mengirimkan orangnya untuk melakukan spionase guna mendapatkan informasi.58 Adapun kemudian spionase juga terjadi pada masa perang dunia kesatu antara pasukan jerman dan pasukan sekutu kala itu, mereka mengirimkan pasukan mata mata yang menyamar menjadi warga sipil dan nantinya mereka akan mengirimkan inforsmasi berupa kode kode yang rumit.

Namun sayangnya hal tersebut digagalkan oleh Alan turing dengan mesin pemecah kode enigma yang merupakan penemuan canggih dibidang intelijen tantara sekutu. Mesin enigma tersebut diciptakan untuk memecahkan kode rahasia milik pasukan jerman yang berada di garis depan peperangan kepada pasukan jerman yang berada di pusat sehingga membuat nama Alan turing dikenal sebagai bapak internat karena berkat penemuannya ini cikal bakal pengkodean dimulai dan mesin mesin pemecah kode mulai bermunculan seiring dengan perkembagan teknologi.59 Seperti munculnya sebuah software yang dapat mendeteksi wajah dan identitas seseorang berdasarkan rekaman yang didapatkan melalui cctv bukanlah hal yang mustahil, karena perlu diketahui bersama, teknologi internet pada zaman ini bukanlah merupakan hal yang sulit dipisahkan oleh masyarakat dari aspek kehidpuan mereka.

58 The battle of the trench. https://www.thewaytotruth.org/prophetmuhammad/trench.html diakses pada tanggal 22 maret 2018

59 The Enigma of Allan Turing. https://www.cia.gov/news-information/featured-story-archive/2015-featured-story-archive/the-enigma-of-alan-turing.html diakses 22 maret 2018

3. Ciri Ciri Spionase Siber

Adapun ciri ciri tindakan spionase siber terdapat dalam Undang-Undang Negara Republik Indonesia yang berbunyit:

1. Pasal 30 ayat 2 adalah Setiap orang dengan sengaja dan atau melawan hukum mengakses computer dan atau sistem elektronik dengan cara apapun dengan tujuan memperoleh informasi elektronik dan atau dokumen elektronik”.

2. Pasal 31 ayat 1 adalah setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hokum melakukan intersepsi atau penyadapan atas informasi elektronik dan atau dokumen elektronik dalam suatu komputer dan atau sistem elektronik tertentu milik orang lain.

3. Pasal 31 ayat 2 adalah setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hakatau melawan hokum melakukan interpsesi atas transmisi informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang tidak bersiat publik dari keadaan didalam suatu komputer atau sistem elektronik tertentu milik orang lain baik yang tidak menyebabkan perubahan apapun maupun yang menyebabkan adanya perubahan penghilangan, dan penghentian informasi elektronik dana tau dokumen yang sedang ditransmisikan.

4. Pasal 32 ayat 2 adalah setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun memindahkan atau mentransfer informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik kepada sistem elektronik

orang lain yang tidak berhak.” 60

Dikarenakan oleh sifat dari tindakan Spionase Siber yang begitu rahasia maka ada baiknya kita melihat pada ciri ciri umum tindakan ini. Kesadaran akan adanya tindakan telah disepakati seccara internasional menurut kesepahaman internasional tentang spionase siber sebagai berikut :

“…ETS 185-Convention On Cybercrime, Article 2 Illegal Access “Each Party

shall adopt such legislative and other measures as may be necessary to establish as criminal offences under its domestic law, when committed intentionally, the access to the whole or any part of a computer system without right. A Party may require that the offence be committed by infringing security measures, with the intent of obtaining computer data or other dishonest intent, or in relation to a

computer system that is connected to another computer system.”

“…ETS 185-Konvensi atas kejahatan Siber, Artikel 2 akses illegal “Masing-masing Pihak harus mengambil tindakan legislatif dan tindakan lainnya yang mungkin diperlukan untuk ditetapkan sebagai tindak pidana berdasarkan hukum nasionalnya, bila dilakukan dengan sengaja, akses ke keseluruhan atau bagian dari sistem komputer tanpa hak. Pihak dapat meminta agar pelanggaran dilakukan dengan cara melanggar tindakan pengamanan, dengan maksud memperoleh data komputer atau maksud tidak jujur lainnya, atau sehubungan dengan sistem komputer yang terhubung ke sistem komputer lain.”61

Dari penjabaran diatas kita dapat memahami jika ciri ciri dari spionase siber adalah tindakan criminal apabila dari padanya menimbulkan kerugian bagi pihak yang dimata maiai.

4. Pelaku Spionase Siber

Pelaku spionase siber dapat dikenal sebagai peretas (yaitu orang orang yang mempelajari, menganalisis, memodifikasi, menerobos masuk ke dalam komputer dan jaringan komputer, baik untuk keuntungan atau dimotivasi oleh tantangan)62. Berdasarkan pelaksanan kerjanya, pelaku dapat dibedakan menjadi: 1. Individu merupakan unit terkecil pembentuk masyarakat. Walaupun individu

namun kemampuan mereka tidak dapat diremehkan apalagi jika dirinya sudah menjadi peretas elit yang mana berada di tingkatan tertinggi pengalamannya. 2. Kelompok sosial adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama

akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Adapun lingkup kelompok terbagi menjadi dua, besar dan kecil yang kemudian terbagi kelompok peretas dibagi menjadi dua golongan yaitu black hat dan white hat.

3. Organisasi adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama. Amerika dikenal sebagai negara adidaya yang terkenal akan organisasi intelijennya seperti NSA dan CIA yang kerap kali ditampilkan dalam film film garapan hollywood. Tidak hanya diamerika organisasi mata mata juga terdapat di negara lain seperti SVR (Sluzhba Vneshney Razvedk) yang dimiliki oleh Russia, The Mossadl Ministry of State Security (MSS) yang dimiliki oleh Israel, dari China, dan organisasi mata mata yang kerapkali muncul dalam layer lebar James bond adalah Secret Intelligence Service (M16) dari Inggris.

62 Ahmad M Ramli. Cyber Law dan Haki dalam sistem Hukum Indonesia. Bandung: Refika aditama. 2010. Hal.24