4.1.2 Transformasi Alur Novel ke Film Dalam Mihrab Cinta .1 Cerita novel Dalam Mihrab Cinta
4.1.2.3 Transformasi Alur Novel ke Film Dalam Mihrab Cinta
Transformasi alur novel ke film Dalam Mihrab Cinta perbandingannya ditampilkan dalam bentuk tabel yang bertujuan untuk meletakan alur novel dan film pada posisi seimbang dan sejajar, sehingga perbedaan alur cerita antara keduanya terlihat jelas. Transformasi alur ini hanya dibatasi pada alur penceritaan yang dianggap penting.
Tabel 4: Kedatangan gadis berjilbab dan pemuda berambut gondrong ke stasiun Pekalongan. No. CN Novel No. SF Film 1. Deskripsi suasana sore hari,
sebuah becak berpenumpang seorang gadis yang sedang menangis dengan tujuan stasiun Pekalongan.
1. Deskripsi stasiun Pekalongan malam hari. Para penumpang kereta yang telah menaiki kereta dan kereta yang telah berangkat.
2. Gadis tersebut naik kereta dan kembali menangisi kepergian ayahandanya K.H. Baejuri. 3. Para penumpang terus menaiki
kereta. Seorang penumpang berambut gondrong lari tergesa-gesa membeli tiket, kemudian naik kereta. Pemuda tersebut menanyakan letak gerbong empat kepada petugas kereta.
Pada awal peceritaan novel menyajikan tentang perjalanan tokoh gadis berjilbab yang sedang bersedih menaiki becak menuju stasiun Pekalongan. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan 25 di bawah ini.
(25.) “Becak itu memasuki halaman Stasiun Pekalongan. Bagunannya Nampak sudah tua. Tidak berubah sejak dibuat oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Gadis itu turun dan menyerahkan uang beberapa ribu kepada tukang becak. Ia lalu melangkah membawa barang bawaannya memasuki Stasiun.”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 1)
Pada kutipan 25 di atas, disajikan deskripsi perjalanan tokoh gadis berjilbab yang meniki becak ke stasiun Pekalongan. Selanjutnya cerit beralih
kepada tokoh gadis berjilbab yang menaiki kereta dan kembali terlarut dalam kesedihanya. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan 26 di bawah ini.
(26.) “Setelah duduk ia menarik nafas dan kembali menangis. Wajah cantiknya tidak bisa menutupi kesedihannya. Ia berusaha menahan tangisnya agar tidak terdengar oleh penumpang di sekitarnya. Ia menangisi kematian orang yang sangat dicintainya. Yaitu ayahandanya yang sangat menyayanginya”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 2)
Kutipan 26 di atas menjelaskan alasan kepulangan gadis berjilbab tersebut dan juga alasan kesedihan dan duka yang sedang dia rasaka. Selanjutnya cerita beralih pada kedatangan tokoh pemuda berambut gondrong. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan 27 di bawah ini.
(27.) “Ia langsung berlari. Alarm tanda kereta siap diberangkatkan masih berbunyi. Tangga-tangga dari kayu untuk naik ke pintu kereta mulai ditarik. Peluit panjang dibunyikan. Ia berlari. Kereta mulai berjalan pelan. Ia melompat ke pintu dan masuk kereta dengan selamat. Ia melihat kembali tiketnya. Tempat duduknya ada di gerbong empat.”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 4)
Pada kutipan ke 27 diuraikan tentang kedatangan tokoh pemuda berambut gondrong yang tergesa-gesa membeli tiket dan naik kereta yang sudah mulai berjalan pelan.
Pada awal penceritaan film, gambar yang disuguhkan langsung kepada papan nama stasiun Pekalongan yang menandakat tempat awal cerita. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar 15 di bawah ini.
Pada gambar 17 ditampilkan gambar stasiun Pekalongan hal tersebut untuk menampilkan tempat dimana cerita tersebut berlangsung dan juga awal mula penceritaan. Selanjutnya penceritaan berlanjut pada keberangkatan kereta seperti yang ditampilkan pada gamabar 17 di bawah ini.
Gambar 18: Kereta yang mulai berjalan
Gambar 18 menampilkan kereta yang mulai berjalan diikuti suara dari bagian informasi yang terdengar mengungumkan “Atas nama PT. Kerata Api Indonesia mengucapkan trima kasih atas kesediaan anda menggunakan jasa kereta api. PT Kereta Api Indonesia mengucapkan selamat berpergian dan semoga selamat sampai di tempat tujuan.”
Pada proses transformasi dari novel ke film, terlihat pengurang penceritaan novel mengenai kedatangan gadis berjilbab, pemuda berambut gonrong dan keadaan gadisberjilbab tersebut. Penceritaan dalam film langsung kepada stasiun Pekalongan dan kereta yang mulai berjalan meninggalkan stasiun.
Tabel 5: Pertemuan tokoh pemuda berambut gondrong dan gadis berjilbab. No.
CN
Novel No.
SF
Film 4. Pemuda berambut gondrong
masuk ke dalam gerbong empat lalu mencari kursinya. Diaolog anatar gadis berjilbab dan pemuda berambut gondrong.
2. Pemuda berambut gondrong yang memasuki gerbong sambil melihat karcisnya dan mencari nomor bangkunya.
berambut gondrong dan gadis berjilbab yang terlihat sedang bersedih.
(28.) “Pemuda itu sampai di gerbong empat. Ia mencari tempat duduk nomor 8C. Akhirnya ia menemukannya. Ia tersenyum. Nomor 8C telah diduduki seorang berjilbab biru…”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 5)
Pada kutipan 28 diuraikan pemuda berambut gondrong yang memasuki gerbong empat, mencari tempat duduknya sesuai dengan yang tertera dalam karcis. Dia kemudian tersenyum melihat seorang gadis berjilbab yang telah menduduki kursinya. Selanjutnya cerita beralih pada dialog antara peuda berambut gondrong dan gadis berjilbab seperti pada kutipan 29 di bawah ini.
(29.) “Gadis itu menoleh dan kaget. Mukanya langsung pucat pasi dan langsung mendekap tas kecil yang ada di tangannya. Pemuda gondrong itu langsung sadar, mungkin penampilannya yang awut-awutan telah membuat gadis itu ketakutan…”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 5)
Pada kutipan ke 29 diuraika penceritaan tentang dialog antara pemuda berambut gondrong dan gadis berjilbab mengenai tempat duduk mereka. Diuraikan juga ketakutan gadis berjilbab tersebut yang melihat penampilan pria berambut gondrong itu.
Gambar 19: Pria berambut gondrong memasuki gerbong
Pada gambar 19 di atas, ditampilkan seorang gadis berjilbab yang terlihat bersedih dan seorang pemuda berambut gondrong yang baru memasuki gerbong tersebut.
Gambar 20: Pemuda berambut Gambar 21: Dialog antara pemuda Gondrong sedang mencari nomor berambut gondrong dan gadis
kursinya berjilbab
Pada gambar 20 ditampilkan pemuda berambut gondrong yang sedang mencari nomor kursinya kemudian melihat nomor kursinya telah diduduki oleh seorang gadis berjilbab. Selanjutnya, diikuti dengan dialog antara pemuda berambut gondrong dan gadis berjilbab mengenai nomor kursi mereka seperti terlihat pada gambar 21 di atas.
Dalam prosesnya transformasi novel ke film pada penceritaan bagain ini diuraikan dengan sama antara nove dan film transformasi dari novel Dalam Mihrab Cinta.
Tabel 6: Kilas balik masa lalu pemuda berambut gondrong No.
CN
Novel No.
SF
Film 5. Pemuda berambut gondrong
kemudian kembali berfikir tentang masa lalunya. Dia merupakan seorang yang pantang menyerah dan pintar. Dia juga berkeinginan untuk belajar islam lebih dalam. Oleh imam Masjid Agung Pekalongan, dia disarankan untuk mondok di Kediri.
(30.) “Ia memang suka tantangan. Waktu masih sekolah dasar, ia paling tidak suka dengan matematika. Karena nilai matematikanya merah. Ia sering dihina kedua kakaknya perihal kebodohannya dalam mata pelajaran matematika…”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 7 )
Pada kutipan 30 diuraikan tentang tokoh Syamsul yang suka dengan tantangan yang membuat ia terdorong untuk mencari hal yang baru. Hal yang baru tersebut ia temukan setelah berdialog dengan seorang lelaki berambut gondrong di alun-alun kota Palembang tentang agama Islam.
(31.) “Ia takjub dengan penjelasan Sang Imam. Ia merasa jalan yang dicarinya menjadi jelas. Ia harus ke pesantren. Tekatnya sudah bulat…”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 12)
Pada kutipan 31, diuraikan penceritaan Syamsul dengan Imam Masjid Agung Pekalongan yang menyarankannya untuk mondok. Dia kemudian bertekat untuk belajar agama Islam lebih mendalam dengan cara pergi mondok yang tujuannya adalah pesantren di Kediri sesuai saran dari imam masjid tersebut.
Pada proses transformasi dari novel ke film, bagian penceritaan yang terdapat dalam novel ini tidak ditransformasikan ke dalam bentuk film.
Tabel 7: Kereta api yang berhenti disebuah stasiun. No.
CN
Novel No.
SF
Film 6. Kereta tersebut terus meluncur
melewati malam. Kereta tersebut singgah di stasiun Jebres, Solo.
4. Kereta tersebut terus meluncur melewati malam. Kereta tersebut singgah di sebuah stasiun.
(32.) “Kereta itu terus meluncur menembus malam. Setelah melewati Batang, Kendal, Semarang dan Grobogan, kereta itu menerobos hutan jati melewati Gemolong hingga akhirnya sampai di Stasiun Jebres, Solo. Roda-roda kereta berhenti total. Beberapa penumpang bangkit mengambil barangnya dan turun. Gadis berjilbab biru itu bangun dari tidurnya. Ia melongok kek jendela.”
Pada kutipan 32 diuraikan perjalaan kereta yang ditumpangi gadis berjilbab dan pemuda berambut gondrong tersebut melewati beberapa kota. Setelah itu, kereta tersebut berhenti di stasiun Jebres, Solo untuk menurunkan beberapa penumpang dengan tujuan stasiun tersebut.
Gambar 22: Kereta yang melaju Gambar 23: Kereta yang baru menembus malam sampai di stasiun Jebres, Solo
Pada gambar 22 terlihat perjalanan kereta yang melewati hutan menembus malam. Diikuti dengan gambar 23 yang menampilkan gambar kereta yang
berhenti di stasiun Jebres, Solo.
Pada proses transformasinya dari novel ke film, penceritaan tentang perjalanan kereta melewati kota tidak digambarkan serta lokasi dimana kereta berhenti. Dalam film hanya mengambarkan perjalanan kereta tersebut dan kereta yang berhenti di sebuah stasiun.
Tabel 8: Deskripsi pencurian yang terjadi di atas kereta. No.
CN
Novel No.
SF
Film 7. Seorang pencuri sedang
melakukan aksinya dan tertangkap mata oleh pemuda berambut gondrong.
5. Seorang pencuri sedang melakukan aksinya dan tertangkap mata oleh pemuda berambut gondrong.
(33.) “Pemuda itu merasakan ada langkah kaki. Ia memincingkan kedua matanya. Nampak seorang berjalan dengan langkah tenang. Seolah dia adalah penumpang biasa. Kaosnya rapi, keren, wajahnya juga bersih. Orang itu melihat ke kanan dan kiri. Memutar pandangannya ke seantero
gerbong. Lalu perlahan-lahan tangannya mengambil tas berwarna merah kekuning-kuningan.”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 16-17)
Pada kutipan 33 diceritaka tokoh pemuda berambut gondrong yag kaget ketida mendengar suara kaki kemudian melihat seseorang yang sedang mengambi tas, dia lagsung meneriaki orang tersebut.
Gambar 24: Keterkejutan pemuda Gambar 25: Seorang pencuri yang berambut gondrong mengambil tas
Pada gambar 24 ditampilkan tokoh Syamsul yang terkejut melihat seseorang yang sedang mengambi tas seperti yang ditampilkan pada gambar 25.
Pada proses transformasinya, penceritaan bagian ini antara novel dan film hasil transformasi dari novel Dalam Mihrab Cinta tidak memiliki perbedaan.
Tabel 9: Pencuri menyandera gadis berjilbab No.
CN
Novel No.
SF
8. Pencuri yang panik kemudian menyandera gadis berjilbab. Karena keberanian pemuda berambut gondrong gadis itu berhasil diselamatkan dan pencuri tersebut berhasil dilumpuhkan.
6. Pencuri yang panik kemudian menyandera gadis berjilbab. Karena keberanian pemuda berambut gondrong gadis itu berhasil diselamatkan dan pencuri tersebut berhasil dilumpuhkan.
(34.) “…Dengan gerakan sangat cepat ia meraih badan gadis berjilbab itu dan menodongkan pisaunya ke lehernya…”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 17) Pada kutipan nomor 34, diuraikan pencuri yang ketahuan tersebut karena panik dan takut tertangkap langsung menarik badan gadis berjilbab dan menjadera gadis tersebut dengan pisau di lehernya.
(35.) “Tiba-tiba kereta berjalan menyentak. Penjahat itu jadi limbung. Kesempatan itu langsung digunakan pemuda gondrng itu untuk menendang si penjahat…”
(Dalam Mihrab Cinta,hal. 18)
Pada kutipan 35, pencuri yang menyandera gadis tersebut diajak kompromi oleh pemuda berambut gondrong. Namun, pencuri tersebut tidak memperdulikannya, hingga saat kereta berjalan menyentak pemuda berambut gondrong menggambil kesempatan itu untuk melumpuhkan pencuri.
(36.) “…Dengan cepat pemuda itu berlari melewati pintu lalu meloncat keluar kereta. Ia jatuh berguling-guling di sawah dalam kegelapan malam.
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 19)
Pada kutipan 36 diuraikan pencuri yang btelah dilumpuhkan pemudah berambut gondrong berhasil melarikan diri dan meloncat keluar dari gerbong tersebut. Dia langsung jatuh dan berguling-guling di sawah.
Gambar 26: Pencuri yang menyandera Gambar 27: Pencuri yang berhasil Gadis berjilbab dilumpuhkan pemuda berambut
gondrong
Pada gambar 26 ditampilkan bagaimana pencuri yang panik kemudian menarik dan menyandera gadis berjilbab tersebut. Selanjutnya gambar 27 menampilkan gambaran kereta yang berjalan menyetak yang mengakibatkan pencuri tersebut oleng dan berhasil dilumpuhkan oleh pria berambut gondrong.
Pada proses transformasinya, penceritaan bagian ini diceritakan sama kecuali pada bagian dimana pencuri tersebut lari keluar dari kereta dan terguling-guling di sawah. Bagian ini hanya diceritakan dalam novel sedangkan film hasil transformasi dari novel tersebut tidak mengangkat penceritaan ini.
Tabel 10: Dialog antara tokoh pemuda berambut gondrong dan gadis berjilbab. No.
CN
Novel No.
SF
Film 9. Dialog antara pemuda
berambut gondrong dan gadis berjilbab mengenai tujuan pemuda berambut gondrong untuk mondok di Kediri. Gadis berjilbab tersebut menyarankan dia untuk mengunjungi empat pesantren yaitu, Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Al falah Ploso, Pesantren Al Ihlsan
7. Dialog antara tokoh pemuda berambut gondrong dan gadis berjilbab yang membantu membalut luka pemuda tersebut.
Semen dan Pesantren Al Furqan, Pagu.
(37.) “Saya mau ke Kediri, Mbak. Mau Nyantri.”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 21)
Kutipan 37 menguraikan dialog antara tokoh peda berambut gondrong dan gadis berjilbab tentang tujuan pemuda berambut gondrong tersebut. Pemuda berambut gondrong tersebut pergi ke Kediri untuk mondok.
(38.) “Ya di Kediri kota dan kabupaten banyak pesantren bagus. Tapi kalau boleh saran coba kunjungilah empat pesantren ini. Pertama Pesantren Lirboyo Kediri, kedua Pesantren Al Falah Ploso, Ketiga Pesantren Al Ihsan Semen, dan keempat Pesantren AL Furqan, Pagu.”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 22) Pada kutipan 38 diuraikan beberapa pesantren yang disarankan oleh gadis berjilbab. Dia menyarankan empatpesantren besar kepada pemuda berambut gondrong untuk dikunjungi. Keempat pesantren tersebut adalah, Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Al Falah Ploso, Pesantren Al Ihsan Semen, dan Pesantren AL Furqan, Pagu.
Gambar 28: Dialog gadis berjilbab dan emuda berambut gondrong
Transformasi novel ke film Dalam Mihrab Cinta dalam film hanya ditampilkan dialog antara pemuda berambut gondrgong dan gadis berjilbab mengenai tujuan pemuda berambut gondrong. Sedangkan, untuk empat pesantren yang bisa dikunjungi oleh tokoh pemuda berambut gondrong yang disarankan gadis berjilbab tidak ditransformasikan ke dalam film.
Tabel 11: Perkenalan Syamsul dan Zizi, meninggalnya Kiai Baejuri, perkenalan tokoh dua orang gadis dan sopir mobil yang menjemput Zizi.
No. CN
Novel No.
SF
Film 10. Zizi sampai di komplek
pesantren yang dipenuhi oleh orang-orang yang datang melayat. Zizi disambut oleh Kiai Miftah kakanya. Beliau menyarankan Zizi untuk berhenti menangis dan mengikuti sholat jenazah ayahandanya.
9. Deskripsi para penumpang yang baru tiba dan keluar dari stasiun Kediri. Dialog antara pemuda berambut gondrong dan gadis berjilbab di depan stasiu. Gadis tersebut menjelaskan kepulangannya karena ayahnya yang telah meninggal. Mereka berdua
kemudia saling
memperkenalkan diri Syamsul Hadi dan Zidna Ilman (Zizi). 10. Dua santriwati yang datang
menghampiri Zizi dan seorang laki-laki supir mobil yang menjemput Zizi.
(39.) “Zizi dipapah oleh dua orang gadis yang menjemputnya di Stasiun Dhoho.”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 26)
Pada kutipan 39 diceritakan Zizi yang baru tiba di pesantren Al Furqan yang sedang dipenuhi oleh para pelayat, masuk dengan di papah oleh dua orang gadis yang menjemputnya di Stasiun Dhoho. Dia kemudian disambut oleh kakaknya Kiai Miftah yag langsung memeluk Zizi.
Gambar 29: Syamsul dan Zizi yang Gambar 30: Dua orang santri yang tiba di stasiun Kediri menjemput Zizi
Pada gambar 29 ditampilkan Syamsul dan Zizi yang keluar dari dalam stasiun Kediri. Merekaberdua kemudaian dialog mengenai luka yang dialami Syamsul. Kemudian mobil yang menjemput Zizi tiba di stasiun tersebut dua orang santri dantang dan mencium tanggan Zizi serta mengajak Zizi untuk pulang.
Transformasi dari novel ke film penceritaan bagian ini berbeda. Dalam novel kedua santri yang menjemput Zizi di stasiu Kediri diceritakan pada saat mereka memapah Zizi masuk ke pesantren Al Furqan. Sedangkan, dalam film digambarkan kedua santri tersebut mencemput Zizi di stasiun Kediri. Penambahan juga terjadi pada bagian kedatangan dan dialog antara Zizi dan Syamsul di depan stasiun Kediri dalam film.
Tabel 12: Deskripsi Kota Kediri. No.
CN
Novel No.
SF
Film
11. Syamsul tiba di pesantren Lirboyo dan menemukan muka-muka yang sedang bersedih atas meninggalnya K.H. Baejuri. Syamsul bertanya tentang K. H. Baejuri namun mereka tidak terlalu mengenal beliau.
11. Deskripsi kota Kediri dengan seluruh kegiatan masyarakat dan keindahan kota tersebut.
13. Syamsul telah mengunjungi tiga pesantren besar yaitu pesantren Lirboyo, Al Falah Ploso dan Al Inayah Semen. Tetapi, dia belum merasa cocok dengan ketiga pesantren tersebut karena kurikulum di pesantren tersebut tidak mengizinkannya untuk melakukan percepatan studi.
(40.) “Tiga pesantren besar telah ia kunjungi. Pesantren Lirboyo, Al Falah Ploso dan Al Inayah Semen…”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 35)
Pada kutipan 40, diuraikan tempat-tempat dimana Syamsul datang untuk mondok. Namun, dari ke tiga tempat tersebut tidak ada kurikulum yang sesuai dengan keinginannya untuk melaksanakan percepatan studi.
Gambar 31: Deskripsi Kota Kediri
Gambar 31 menampilkan gambar deskripsi kota Kediri. Gambar ini ditapilkan setelah kedatangan Syamsul dan Zizi di stasiun Kediri.
Dalam proses transformasinya, dalam film kepergian Syamsul ke tiga pesantren besar yaitu Pesantren Lirboyo, Al Falah Ploso dan Al Inayah Semen tidak ditampilkan. Bagian ini hanya diceritakan dalam novel. Sedangkan, dalam film ditambahkan deskripsi kota Kediri dengan seluruh aktifitasnya.
Tabel 13: Deskripsi kamar Zizi dimana Zizi sedang membaca surat wasiat dari ayahnya. No. CN Novel No. SF Film 12. Zizi membaca surat yang
ditinggalkan oleh ayahandanya sebelum beliau wafat di kamarnya.
(41.) “Nduk, simpanlah surat ini. Bacalah jika abah sudah meninggal nanti. Jangan kau baca ketika abah masih hidup.” Begitu pesan ayahnya.”
Kutipan 41 menceritakan tentang Zizi yang sepulang dari pemakaman ayahnya beristirahan di kamr. Dia kemudian teringat surat yang diberikan ayahnya. Pesan ayahnya tersebut aga dia membaca suarat itu ketika ayahnya telah wafat.
(42.) “Zizi duduk di tempat tidurnya. Pelan-pelan ia mengeluarkan surat wasiat ayahnya dan membacanya dengan hati berdebar-debar.”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 30)
Kutipan 42 menceritakan Zizi yang sedang membaca surat wasiat dari ayahnya yang berisi tentang nasehat serta perintah untuk menjalankan sesuatu sesuai dengan aturan dan ajaran agama islam.
Pada proses transformasi dari novel ke film, bagian ini tidak ditransformasikan kedalam film.
Tabel 14: Deskripsi keadaan pesantren Al Furqan tempat Syamsul mondok. No.
CN
Novel No.
SF
Film 14. Syamsul mendatangi pesantren
AL Furqan. Dia di terima oleh Zaim selaku Lurah Pondok. Syamsul menyampaikan tujuannya kepada Zaim. Zaim mengatakan akan
membicarakan keinginannya dengan Kiai Miftah.
12. Para santri pesantren Al Furqan yang terlihat sedang
melantunkan ayat-ayat suci dan seorang santri yang hanya sedang bermain telfon genggamnya.
17. Baru enam bulan di pesantren, Syamsul telah memperlihatkan kemajuan dalam belajar. Zizi menegtahui kemajuan Syamsul tersebut lewat Asiyah adik Ayub.
18. Burhan tidak menyukai kemajuan yang diraih Syamsul. Burhan telah mengetahui penyelamatan Syamsul terhadat Zizi di kereta. Burhan mulai cemburu dengan Syamsul.
(43.) “Akhirnya ia melangkahkan kakinya ke Pagu, Kediri. Tujuannya adalah Pesantren Al Furqa….”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 36)
Kutipan 43 menceritakan kedatangan Syamsul ke pesantren Al Furqan setelah tiga pesantren terdahulu yang dikunjunginya tidak bisa menyetujuinya melakukan percepatan belajar.
(44.) “Ia di terima oleh ketua pengurus pesantren yang biasa disebut lurah pondok. Namanya Zaim…”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 36)
Kutipan 44 di atas menceritakan tentang kedatangan Syamsul ke pesantren Al Furqan yang disambut oleh Zaim selaku lurah pondok. Kepada Zaim lah dia menyampaikan maksud dan tujuannya, serta keinginannnya untuk melaksanakan percepataan belajar.
(45.) “Baru enam bulan di pesantren itu, ia sudah khatam Kitab Fathul Qarib. Dan bahkan ia membaca dan memahami kitab Fathul Qarib dengan cukup baik…”
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 54)
Kutipan 45 menjelaskan bahwa Syamsul telah menjadi santri di pesantren Al Furqan dan dalam proses belajarnya dia mengalami kemajuan pesat.
(46.) “Tidak semua orang suka dengan kemajuan yang diraih Syamsul. Salah satu orang yang kurang begitu suka pada kemajuan yang diraih Syamsul adalah Burhan, teman satu kamarnya. Bukan tanpa alasan Burhan tidak suka. Dalam logika Burhan, kemajuan yang diraih Syamsul adalah bertujuan untuk meraih simpati Zizi.
(Dalam Mihrab Cinta, hal. 54)
Pada kutipan ke 46 dijelaskan bahwa kemajuan yang diraih Syamsul tidak semua orang menyukainya, salah satunya Burhan. Burhan beranggapan bahwa Syamsul berniat untuk memikat hati Zizi dengan kemajuannya tersebut. Hal itu karena Burhan telah mengetahui cerita kejadian yang menimpa Zizi di kereta.
Gambar 32: Syamsul menjadi santri di pesantren Al Furqan
Gambarr 32 menampilkan tokoh Syamsul yang mulai belajar di pesantren Al Furqan bersama dengan para santri lainnya yang sedang mengalunkan ayat-ayat suci.
Proses transformasi bagian ini mendapatkan banyak perubahan. Dalam novel diceritakan tentang awal kedatangan Syamsul di pesantren Al Furqan, kemudian aktifitas serta proses belajar Syamsul di pesantren dan kemajuan yang diraih Syamsul. Tetapi, ketika novel ditransformasikan ke dalam film penceritaan yang muncul adalah gamabaran tokoh Syamsul bersama para santri lain yang sedang mengalunkan ayat-ayat suci sebagai penanda Syamsul telah menjadi santri di pesantren Al Furqan.
Tabel 15: Pencurian yang mengemparkan pesantren. No.
CN
Novel No.
SF
Film 20. Di kantor pesantren Lurah
pondok Zaim dan santri bagian keamanan sedang
membicarakan dan
menyepakati sebuah taktik untuk menjebak pencuri yang selama ini berkeliaran di lingkungan pesantren. 21. Burhan mengetahui taktik
bagian keamanan dari Karyono selaku wakil koordinator
bagian keamanan pesantren. 22. Bagian keamanan telah
menjalankan taktik mereka. Namun, mereka tidak mendapatkan pencuri yang mereka cari.
(47.) “Jurus dan taktik bagian keamanan disetujui oleh seluruh pengurus. Mereka semua dijanji untuk tidak membocorkan hasil rapat itu kepada siapa pun. Ketua pengurus lalu melaporkan hasil rapat kepada Kiai