• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Lampiran 3 Transkrip Wawancara Informan 2

TRANSKRIP WAWANCARA

2. Transkrip Wawancara Informan 2 Hari/Tanggal : Sabtu, 27 April 2013 Waktu : 09.25 WIB

Lokasi : Kantor TBM, Medan Polonia

Keterangan: P : Peneliti I2 : Informan 2

P : Selamat pagi pak, saya yang akan wawancarai soal TBM yang kemarin itu pak.

I2 : Oh iya, silakan.

P : Pertanyaan pertama tentang ide awal gagasan bapak mendirikan TBM? I2 : Iya, Didasari atas adanya kebutuhan masyarakat terutama di sekitar

TBM yang masih saya lihat minat bacanya rendah, yang kita pingin dari TBM ini muncul orang-orang yang kreatif menambah ilmu dan rajin membaca

P : ee...kreatif agar masyarakatnya bisa lebih...

I2 : Masyarakatnya lebih kreatif jika dia bisa membaca sehingga mereka bisa mendapatkan ide dengan apa mereka dapat mengisi kehidupan ini, mencari peluang untuk menambah kesejahteraan hidupnya ke depan. P : Jadi ini kan namanya TBM ya pak. Kenapa bapak memilih namanya

TBM bukan perpustakaan?

I2 : TBM itu kan dari program pendidikan masyarakat dari direktorat PNFI, kalau perpustakaan itu cenderung lebih besar, kalau TBM itu lebih dekat ke masyarakat, yang saya lihat kalau perpustakaan itu dengan ukuran ruangan sekian meter buku-buku yang mahal. Terus TBM ini lebih langsung dan dekat ke masyarakat. karena saya punya prinsip

lebih baik satu buku dibaca seribu orang daripada seribu buku dibaca satu orang. Karena kita kan mensosialisasikan membaca yang penting segmen membacanya bukan lembaga membaca tersebut.

P : Jadi biar kecil pun yang penting berguna bagi masyarakat I2 : Aa...yang berguna bagi masyarakat.

P : Tujuan didirikannya TBM? I2 : Pertanyaan nomor 2 belum?

P : Iya itu tadi pertanyaan kenapa bapak memilih nama TBM I2 : Oh saya pikir nama TBM cellpowernya

P : Iya jadi pertanyaan tadi begini, kenapa bapak memilih nama TBM bukan perpustakaan karena tempat ini kan bisa disebut juga seperti TBM. Terus tujuannya lagi pak?

I2 : Tujuannya itu dari sini akan muncul katakanlah orang-orang kreatif yang bisa menulis, adanya orang wirausaha, adanya penggalian potensi dan lebih jauh dari itu kita ingin menunjukkan ke masyarakat bahwa TBM ini bisa menjadi pusat informasilah bukan sekedar TBM saja tapi nanti sehingga melahirkan orang-orang besar

P : Jenis koleksi TBM?

I2 : Terutama buku-buku bacaan pelajaran karena banyak yang belajar di sini makanya kita utamakan kebutuhan mereka dulu, novel, buku kepribadian, buku-buku umum, beberapa komik, majalah-majalah anak- anak, majalah ibu-ibu.

P : Jumlah bisa bapak sebutkan?

I2 : Sebenarnya kalau totalnya bisa lebih sekitar 14.500 eksemplar. Karena Ada hibah dari Djarum Super buku pelajaran.

P : Ini datangnya buku-buku dari bapak beli atau hibah?

I2 : Intinya mula-mula kita karena saya pecinta buku dari SMA beberapa merupakan koleksi pribadi, setelah banyak orang melihat ada juga sumbangan masyarakat, kemudian adanya katakanlah dukungan program pemerintah seperti Rintisan TBM.

P : Usia yang bisa menggunakan TBM ini, dari usia berapa sampai usia berapa?

I2 : Untuk semua usia, jadi katakanlah dari dia mulai membaca dari usia 3 tahun, kita juga menyediakan buku anak-anak. Untuk orang dewasa juga ada novel. Untuk orangtua tentang buku-buku kepribadian.

P : Itu kan yang terdaftar sebagai anggota?

I2 : Ada dari usia 6 tahun lah dan paling tua orangtua murid sekitar usia 50 tahun.

P : Promosi untuk pengembangan TBM. Apa aja yang sudah dilakukan? I2 : Jadi kalau dulu kita agak jarang, sekarang kita sudah rutin pameran

buku sebagai income pendapatan utama, sekarang kita setiap bulan usahakan live music yang akan diadakan sebulan sekali, supaya orang heran ada menyanyi di sini dan mereka akan bertanya ini ada TBM, apa ini lalu mereka akan mengerti. Dari duduk-duduk, merapat, mendekat dan mereka akan tahu tentang TBM ini.

P : Harapan bapak dari pengembangan TBM untuk masa depan?

I2 : Ya tentunya, masyarakat itu bisa jadi seperti saya terutama saya dari minat membaca lalu mengelola TBM dan sekarang sudah bisa menjadi penulis.

P : Lanjut pertanyaan ya pak. Bagaimana sambutan masyarakat dengan adanya TBM?

I2 : Mula-mulanya masyarakat heran dan aneh (banyak bertanya), bapak uangnya dari mana? Saya bilang, saya mulai dari apa yang ada kemudian dari buku-buku saya lalu saya buat program-program untuk masyarakat dan pemerintah menyambut positif, disitulah dibutuhkan tanggung jawab moral saya. Ketika kita sudah diperhatikan mengapa kita tidak memperhatikan orang lain, disitulah saya melihat transpansi pengelola. Dari situ lah saya akan menarik perhatian masyarakat dengan adanya TBM ini.

I2 : Makanya kita mengundang pak lurah, ya tahu siapa yang bisa datang de sini. Kalau orang diundang dengan surat susah datang. Kita buat suatu yang aneh, macam live music, bikin pameran buku. Dia heran, dia akan singgah akhirnya dia tahu, setelah dia tahu dia akan melakukan perbandingan dan dengan itu kita akan tahu apa kelemahan kita.

P : Jadi emang membuat suatu yang unik untuk membuat orang menarik perhatian.

I2 : Iya menarik, nanti suatu saat kita bikin badut lucu, orang nantikan heran. Lama-lama akan tercipta image orang, sebetulnya ada itu seperti rumah-rumah buku, TBM entah apalah namanya, harus begitu memang dan kita juga harus berani untuk melakukan itu. Lebih bagus 10 orang aktif daripada 100 orang ndak mau tahu, itu yang saya pikir.

P : Bapak kan sudah mendirikan TBM sejak tahun 2010, sudah banyak biaya yang bapak habiskan dan dari acara-acara yang dibuat kan gak selalu berhasil. Apa gak jera bapak?

I2 : Lumayan lah, ya pasti. Saya pikir dibalik perjalanan panjang itu pasti ada suatu kesuksesan. Kalau rugi pasti rugi. Kalau jera pasti saya tidak. Kenapa? Karena ketika saya melakukan suatu yang unik prestasi saya pasti datang.

P : Peranan TBM bagi masyarakat?

I2 : Peranan TBM bagi masyarakat, ya saya pikir memang itulah tugasnya saya bagaimana caranya supaya orang segala usia bisa datang dia. Lama-lama saya berpikir TBM ini kurang luas. Bapak-bapak misalnya saya kasih dia main catur, tapi main caturnya tertib artinya main catur gak boleh merokok, dikasih minum kalau baca buku. Nah seperti itu idenya saya. Memang sekarang banyak orangtua di rumah ya kan, stress. Anaknya cucunya kerja semua dia ditinggal di rumah dikunci, dikasih makan minum. Tapi coba kalau dititip di TBM, ada game, ada main gitar, ada buku. Tapi masalahnya bagaimana kita mendatangkan uang dengan itu, ini kan lembaga sosial, seperti kursus ini ya, ini kan

menerima uang. Kita terima uang, kita belikan buku, anak-anak stress, nah begitu.

P : Nilai, norma atau kepercayaan yang ingin ditanamkan dengan adanya TBM?

I2 : Membaca adalah harga mati untuk perubahan. Yang membaca selalu kalah, namun sebenarnya ide-ide orang itu yang akan terpakai. Dari membaca akan memiliki ide yang tidak boleh ditawar lagi . Di era literasi, membaca itu adalah suatu keharusan. Sehingga akan dicanangkan Hari Berbagi Buku Nasional pada 17 November mendatang.

P : Kenapa bapak membuat TBM di daerah ini?

I2 : Karena tempat tinggal, karena saya percaya dari buku yang saya baca, dimanapun kita berada kalau kita itu emas akan tetap menjadi emas, kalau dibuang dia ke lumpur akan tetap menjadi emas dia. Dimanapun lokasi kita, kalau kita memberikan yang terbaik, orang akan tetap datang. Selain itu juga karena terletak di tepi jalan merupakan tempat yang strategi agar orang dapat melihat dan mengunjungi.

P : Bukan karena di tepi jalan, jadi banyak orang lihat? I2 : Iya, itu salah satunya juga lah.

P : Ee...tanggapan anda tentang kaitan pendidikan nonformal dengan TBM?

I2 : Khususnya sangat erat, orang formal itu malas belajar. Kalau ilmu yang diberikan tinggi-tinggi akan langsung hang jadi mereka butuh pendekatan yang manusiawi dulu, maksudnya yang dekat dan enak- enak dulu, baca-baca novel dulu komik. TBM ini kan pendidikan nonformal, bahwa TBM menurut UU Pendidikan No. 20/2003 bahwa TBM itu adalah lembaga sosial masyarakat yang bernaung di bawah pendidikan nonformal sebenarnya setara dengan PKBM, konsistensi utamanya untuk pemberantasan buta aksara, karena di kota Medan tidak ada yang buta aksara, jadi saya tidak mau menipu diri untuk program tersebut.

P : TBM disebut sebagai sarana pendidikan berbasis masyarakat?

I2 : Ya, memang yang intinya kan untuk semua umur itu. Jadi memang masyarakat yang terlupakan yang intinya itu. Jadi yang gak ada kerjaannya, yang pengangguran, yang hanya ngantar anaknya duduk di situ lah dia, dan itulah yang umumnya menjadi, yang terlupakan itulah yang menjadi pangsa pasar kita.

P : Kegiatan atau program yang ada di sini atau kegiatan rutinnya yang pasti ada.

I2 : Setiap tahun ada kegiatan Pekan kreatifitas dan prestasi, ada lomba cerpen, lomba baca puisi, ada try out sebelum ujian nasional, pelatihan jurnalistik dari Koran Analisa. Karena emang saya itu istilahnya sudah menjadi darah daging, sesuatu yang saya mulai itu tidak akan berhenti selama saya masih ada. dan saya mau generasi saya berpikir begitu, karena kita malu, habis juara, habis. Maunya harus dijaga normatiknya itu.

P : Pendapat bapak tentang TBM, bisa gak disamakan perannya dengan perpustakaan umum di masyarakat?

I2 : Sebenarnya TBM ini lebih dekat ke masyarakat. karena biasanya perpustakaan itu kan lebih besar dan butuh ongkos untuk pergi ke sana, kalau TBM kan ada di setiap kecamatan, jadi bisa lebih gampang trus persyaratan lebih ringan. Kalau di perpustakaan mencuri buku pasti di tangkap, kalau di TBM mungkin tidak, karena kenapa kita tidak begitu ketat sekali peraturannya. Saya pun gak begitu marah, karena saya aja dikasih buku sama orang, jadi kenapa kalau buku saya dicuri orang harus marah. Itu kan bukan untuk dijual, untuk dibaca kan, jadi kalau untuk dibaca ya untuk apa. Nanti ketika dia sudah besar akan ada cerita dari itu, dari buku yang dia curi itu misalnya. Tapi seharusnya kita bangga, dia mengambil buku kita untuk dibaca, walaupun dari cara yang salah.

P : Harusnya ditambahkan untuk ruangnya ya pak. Dan ditambahkan lagi kalau masuk ke ruangan itu tidak boleh membaca tas.

I2 : Ya harusnya memang begitu, tapi semakin dibuat begitu, saya tengok itulah yang terjadi di perpustakaan. Pengunjung tidak leluasa.

P : Hubungan TBM dengan instansi pemerintahan misalnya perpustakaan umum atau dinas pendidikan?

I2 : Ya kalau dinas pendidikan itu otomatis sebagai pembina kita. P : Kesulitan dan kendala selama membuat TBM?

I2 : Ya jelas kalau kita tidak ada penghasilan itu tidak bisa hidup. Makanya dilakukan kegiatan pameran buku dengan bekerja sama dengan penerbitan agar mendapatkan pendanaan mandiri, selain dari sumbangan masyarakat.

P : Pendapat bapak tentang fenomena tentang keberadaan TBM yang terdapat di daerah perkotaan bukan derah pedesaan?

I2 : Sebenarnya kalau TBM diberdayakan lebih maksimum akan menjadi nilai jual yang tinggi. Saya lebih bagus mengusung bendera TBM karena lebih dekat dengan masyarakat, dekat untuk bisa berbuat lebih banyak. Saya saja diberi buku oleh orang, maka saya juga akan memberikan buku kepada orang lain

P : Baik pak, pertanyaannya sudah dijawab semua. Terima kasih pak. I2 : Iya buk, sama-sama ya.