• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. DOA BERSAMA SEBAGAI SARANA PEMBINAAN IMAN

B. Keluarga Katolik

3. Tugas dan Peranan Keluarga Kristiani

Rencana Allah tidak hanya menyerukan makna keluarga tetapi juga peranannya, yaitu dengan melakukan apa yang harusnya di lakukan. Suami istri adalah sepasang pria dan wanita yang telah disatukan oleh Allah, sehingga mereka tidak lagi dua melainkan satu (Mat 19). Kepada mereka berdua itulah Allah menyerahkan anak, sebagai sebuah “titipan” dari-Nya.

Sebagai komunitas hidup yang penuh cinta, menurut sinode Para Uskup Gereja mempunyai empat tugas yakni:

a. Membentuk Komunitas Pribadi-Pribadi

Cinta merupakan dasar dan tujuan keluarga. Keluarga harus memperkembangkan cinta, agar ia bertumbuh menjadi komunitas antarpribadi yang saling mencintai (FC 18). Unsur pemersatu yang utama adalah cinta kasih seorang ayah dan ibu kepada anak-anaknya tanpa cinta kasih itu, keluarga bukanlah rukun hidup antar pribadi dan keluarga tidak dapat hidup serta menjadi persekutuan pribadi-pribadi. Orang tua mencurahkan cinta kasihnya kepada anak-anak seperti cinta yang menghubungkan Kristus dengan Gereja. Cinta orang tua juga berciri tidak pernah putus, karena penuhnya cinta itu untuk kesejahteraan anak dan karena dikehendaki oleh Allah menjadi lambang cinta Allah bagi umatnya. Sejak di dalam rahim, anak harus dicintai martabatnya sebagai pribadi diakui dan diperhatikan pertumbuhan serta hak-hak yang ada dalam dirinya seperti dalam FC art 26 yang mengatakan bahwa:

Dalam keluarga, yakni persekutuan pribadi-pribadi, perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, dengan mengembangkan penghargaan yang mendalam terhadap martabat pribadi mereka, serta sikap sungguh menghormati dan memperhatikan sepenuhnya hak-hak mereka. Itu berlaku bagi setiap anak, tetapi menjadi semakin mendesak, semakin anak masih kecil dan semakin ia memerlukan segalanya bila ia sakit, menderita atau menyandang cacat.

Sudah sepantasnyalah, orang tua sebagai pendidik utama memperhatikan anak-anaknya dengan memupuk rasa percaya diantara anggota keluarga dan menjalin komunikasi yang baik antar anggotanya. Dengan memupuk rasa

kepedulian serta perhatian kepada anak-anaknya berarti Gereja telah melaksanakan perutusannya yang mendasar. Sebab Gereja dipanggil untuk memberikan teladan terhadap keluarga-keluarga seperti yang telah diperintahkan Kristus Tuhan. Demikianlah cinta yang luas antara orang tua dan anak-anak, kakak dan adik serta dengan anggota keluarga lainnya yang dapat membimbing keluarga kepada suatu persekutuan yang lebih mendalam. Hal ini menjadi dasar dan jiwa dari persekutuan keluarga. (Al Purwa Hardiwardoyo, 2013:95-96).

Sikap-sikap menerima, kasih, penghargaan dan kepedulian dibidang jasmani, emosional, pendidikan dan rohani kepada anak-anak yang telah dilahirkan harus memiliki ciri khusus dan hakiki terkhusus untuk keluarga Katolik. Dengan demikian anak-anak akan bertambah iman dan kedewasaannya, semakin dikasihi Allah dan manusia di sekelilingnya sehingga nantinya mereka dapat memberikan sumbangan yang berharga untuk lingkungannya maupun untuk orang tuanya (Widyamartaya, 1994:55).

Keluarga adalah komunitas pertama dan asal mula keberadaan seriap manusia dan merupakan persekutuan pribadi-pribadi (communio personarum)

yang kehidupannya berdasarkan cinta kasih. Kasih sejati yang ada dalam keluarga akan membuahkan kebaikan bagi semua anggota keluarga. Maka setiap pribadi dalam keluarga semestinya mewujudkan cinta kasih yang sejati melalui tindakan konkret untuk kebahagiaan dan kesejahteraan setiap anggota keluarganya. Persekutuan pribadi-pribadi itu terjadi atas dasar pilihan dan keputusan sadar dan bebas antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dan diungkapkan dalam sebuah sakramen perkawinan. Mereka bersedia meninggalkan segalanya termasuk

orang tuanya dan bersatu menjadi sepasang suami dan isteri, “sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej. 2:24; Mat 19:5-6a). Suami isteri dipanggil untuk menjadi persekutuan pribadi-pribadi dan melahirkan anak-anak yang akan memperluas persekutuan pribadi tersebut. Kehadiran anak-anak dalam keluarga merupakan anugerah nyata yang sangat berharga dan sekaligus memahkotai cinta kasih dalam perkawinan. Maka selayaknyalah anak-anak dicintai dihargai, diterima sepenuhnya dan dikembangkan sebaik mungkin oleh orang tuanya. Cinta kasih dalam keluarga merupakan kekuatan keluarga yang utama, karena tanpa cinta kasih keluarga tidak akan mengalami dan merasakan kerukunan dan kesejahteraan dalam keluarga serta tidak dapat menyempurnakan hidup sebagai persekutuan pribadi-pribadi (KWI, 2011:11-12).

b. Mengabdi Kehidupan

Cinta suami istri bersifat subur, baik dalam arti menurunkan anak, maupun dalam arti membuahkan kekayaan moral dan spiritual. Dengan menciptakan pria maupun wanita menurut gambar dan rupa-Nya. Allah menyempurnakan manusia dengan mengambil bagian istimewa dalam kasih dan kuasa-Nya sebagai pencipta dan Bapa, dengan bekerja sama secara bebas dan bertanggung jawab dalam meneruskan anugerah hidup manusiawi melalui sakramen perkawinan dan berkembang biak (Prokreasi). Maka tugas utama keluarga adalah melayani hidup, mewujudkan dalam sejarah berkat sejati Allah yakni meneruskan citra ilahi Allah ke orang-orang dengan menurunkan anak. (Widyamartaya, 1994:57)

Tugas untuk memberikan pendidikan yang berakar dari panggilan utama orang-orang yang menikah untuk mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah. Prokreasi juga meliputi pendidikan anak-anak. tugas dan kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anak mereka merupakan hak yang esensial, orisinal dan primer dalam Familiaris Consortio art 36 menguraikan bahwa:

Hak maupun kewajiban orang tua untuk mendidik bersifat hakiki, karena berkaitan dengan penyaluran hidup manusiawi. Selain itu bersifat asali dan utama terhadap peran serta orang-orang lain dalam pendidikan, karena keistimewaan hubungan cintakasih antara orang tua dan anak-anak. lagi pula tidak tergantikan dan tidak dapat diambil alih, dan karena itu dapat diserahkan sepenuhnya kepada orang-orang lain atau direbut oleh mereka. Anak-anak perlu dididik dalam nilai-nilai dasar, yakni dalam hal iman. Pendidikan iman ini jangan dilupakan karena iman adalah unsur yang paling mendasar. Begitu mendasar sehingga merupakan ciri khas peranan orang tua selaku pendidik yang utama. Dengan cinta kasih mereka sebagai orang tua yang mewujudkan sepenuhnya dalam tugas mendidik. Karena tugas itulah yang menyempurnakan dan melengkapi pengabdian kehidupan dalam keluarga. Cinta kasih orang tua merupakan prinsip yang menjiwai dan karena itu norma yang mengilhami serta mengarahkan segala kegiatan pendidikan dalam keluarga. Karena sakramentalitas perkawinan mereka, suami isteri merupakan guru dan ibu dalam bidang iman, merupakan pelayan gereja dalam bidang iman. Orang tua merupakan pewarta Injil bagi anak-anaknya yang membantu mereka sampai kepada Kristus dengan bantuan Roh Kudus. Namun keluarga bukanlah pendidik satu-satunya. Keluarga harus terbuka untuk bekerja sama dengan Gereja dan Negara, yang membantu keluarga itu. Orang tua juga perlu bekerja sama dengan

para guru dan pengelola sekolah-sekolah (Dr. Al Purwa Hardiwardoyo, MSF 2013:97).

c. Ikut serta dalam Pembangunan Masyarakat

Keluarga merupakan sel masyarakat yang pertama, yang menjadi dasar dan faktor penumbuh masyarakat terutama melalui pelayanan yang berdasarkan cinta kehidupan. Pengalaman hidup bersatu dan berbagi yang semestinya mencirikan hidup keluarga sehari-hari merupakan sumbangan keluarga yang pertama dan mendasar bagi masyarakat. Keluarga mempunyai peran yang penting dalam masyarakat karena keluarga merupakan landasan masyarakat dan selalu menghidupi masyarakat melalui peranannya sebagai pelayan kehidupan (A. Widyamartaya, 1994:82).

Keluarga menjadi dasar dari pembangunan masyarakat karena ikut ambil bagian dalam mengembangkan peranan pengabdian kepada kehidupan. Konsili Vatikan II dalam Dekrit Apostolicum Actuositatem tentang Kerasulan Awam art

11 menyatakan bahwa:

Karena pencipta alam semesta telah menetapkan persekutuan suami isteri menjadi asal mula dan dasar masyarakat manusia, maka keluarga merupakan sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat.

Dalam rangka pembangunan hidup bermasyarakat keluarga katolik hendaknya mempunyai keterbukaan, toleran, dan menghargai pluralitas yang ada. Pluralitas ini tidak hanya terjadi pada masyarakat luas, namun juga dialami dalam keluarga. Selain itu juga perlu dikembangkan prinsip solidaritas yang dapat terwujud dalam semangat gotong-royong. Dalam semangat gotong royong itulah

keluarga secara konkret menyumbangkan keutamaan hidup dan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur (KWI, 2011:18-19).

Keluarga begitu penting dalam kehidupan dan kesejahteraan masyarakat, maka masyarakatpun berkewajiban untuk membantu dan menguatkan keluarga-keluarga lain. Keluarga dan masyarakat mempunyai fungsi yang saling melengkapi dalam membela dan mengembangkan kebaikan setiap dan semua orang. Hal ini ditegaskan dalam FC 48 bahwa:

Persekutuan rohani antara keluarga-keluarga kristen yang berakar dalam iman serta harapan bersama dan dijiwai oleh cinta kasih, merupakan daya kekuatan batin yang menimbulkan, menyebarkan dan mengembangkan keadilan, rekonsiliasi, persaudaraan serta damai antar manusia. Selaku Gereja mini, keluarga kristen diharapkan seperti Gereja semesta menjadi lambang kesatuan bagi dunia dan dengan demikian menunaikan peranan kenabiannya dengan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah serta damai Kristus, tujuan peziarahan seluruh dunia.

d. Turut serta dalam Hidup dan Perutusan Gereja

Keluarga Kristen wajib ikut membangun Gereja dengan membentuk dirinya menjadi “Gereja kecil”. Keluarga dibantu gereja lewat pewartaan Injil dan peneguhan iman. Keluarga dipanggil untuk pengabdian demi kemajuan Kerajaan Allah dengan ikut menghayati visi dan misi Gereja dengan mewartakan Injil lebih lanjut. Gereja mendengar dan menerima sabda Tuhan serta mewartakannya kepada orang lain. Sebagai persekutuan yang penuh dengan cinta dan kasih sejati, orang tua secara khusus menerima kabar baik bahwa kehidupaan keluarga dan perkawinan diberkati oleh Kristus sendiri. Hanya didalam iman, keluarga menyadari bahwa keluarga adalah perjanjian cinta antara Tuhan dengan umat manusia dan antara Yesus Kristus dengan Gereja sekaligus tempat untuk

memperbaharui iman dan sakramen-sakramen. Maka, keluarga Kristiani hendaklah bersama-sama dengan Kristus menghayati pengabdian kepada masyarakat, Gereja dan dunia. Dengan diberkati oleh Roh Kudus dan semangat cinta kasih dalam iman keluarga mengabdikan diri untuk merasul dan menjalankan kegiatan-kegiatan pengabdian dalam Gereja maupun dalam masyarakat. Dalam FC 50 ditegaskan bahwa:

Selain itu keluarga Kristen membangun Kerajaan Allah dalam sejarah melalui kenyataan sehari-hari, yang berkaitan dengan status hidupnya serta termasuk kekhasannya. Dengan kata lain, dalam cintakasih antara suami isteri, serta para anggota keluargalah, cinta kasih yang dihayati beserta seluruh kekayaan yang luar biasa berupa nilai-nilai dan tuntutan-tuntutannya: sifatnya sebagai keseluruhan, kesatuan, kesetiaan serta kesuburannya, disitulah diungkapkan dan diwujudkan partisipasi keluarga Kristen dalam misi kenabian, keimanan dan rajawi Yesus Kristus beserta Gereja-Nya. Oleh karena itu cintakasih dan kehidupan merupakan intipati perutusan penyelamatan keluarga Kristen dalam Gereja dan bagi Gereja. Orang tua sebagai pendidik dalam keluarga tidak hanya sekedar mengkomunikasikan iman kepada anak-anak. keluarga turut ambil bagian dalam menghayati tugas kenabian dengan menyambut dan mewartakan sabda, terutama untuk anak-anak mereka dengan pengahayatan mereka yang mendalam. Begitulah tanggapan keluarga dalam menanggapi panggilan hidup berkeluarga dengan menjalankan tugas kenabiannya setulus hati dan keluarga akan semakin berkembang dan bertumbuh sebagai persekutuan yang beriman dan mewartakan Injil di tengah masyarakat (FC 51).

Pewartaan Injil dari orang tua kepada anaknya, tidak hanya berlangsung saat anak-anak masih kecil tetapi tetap mewartakan Injil kepada anak-anak pada usia remaja dan usia muda mereka sekalipun anak-anak menolak iman Kristiani yang diterimanya. Seperti Gereja mewartakan Injil ke seluruh dunia, tidak selalu

berjalan dengan mulus. Tetapi menemukan banyak luka dan derita, banyak penolakan-penolakan dan protes keras. Keluarga juga mengalami hal yang sama dalam mewartakan Injil kepada anak-anaknya dan keluarga dituntut untuk berani menghadapi dengan keheningan hati yang penuh dengan kesukaran-kesukaran yang ada dalam diri anak-anak mereka sendiri dalam pelayanan mewartakan Injil. (FC 54).

Melihat kesukaran-kesukaran pewartaan iman dalam keluarga, orang tua haruslah bijaksana dalam menyikapi segala tantangan dengan membantu anak-anak dalam memilih panggilan hidup. Keluarga-keluarga Kristiani mempersembahkan sumbangan istimewanya untuk kepentingan misioner Gereja dengan memupuk panggilan-panggilan misioner diantara anak-anak mereka dengan mewartakan Injil dan memberikan pelayanan kepada sesama dengan kasih Yesus Kristus (Widyamartaya, 1994:100).