• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

B. Kompetensi Pedagogi Guru

Guru adalah figur inspirator dan motivator murid dalam mengukir masa depannya (Asmani, 2009:17). Pengertian Guru sebagaimana yang tercantum dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah orang yang pekerjaan, mata pencaharian atau profesinya mengajar (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1976:288).

Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, guru adalah seserang yang mempunyai gagasan yang harus diwujudkan untuk kepentingan anak didik, sehingga menunjang hubungan sebaik-baiknya dengan anak didik, sehingga menjunjung tiggi, mengembangkan dan menerapkan keutamaan yang menyangkut agama, kebudayaan, keilmuan.

Berikut ini pengertian guru dijelaskan dalam kesimpulan yang dikemukakan beberapa pendapat para ahli yaitu: Guru dapat diartikan sebagai orang yang tugas atau profesinya mengajar, mendidik, membimbing, dengan upaya mencerdaskan kehiduan bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fisikal, maupun aspek lainnya Suparlan, (2005:12); Mujtahid, (2009:33); dan Fakhruddin (2009:73).

2. Tugas Guru

Dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bab 1 pasal 1, dijelaskan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini

jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Kementerian Pendidikan Nasional, 2005:3).

Tugas guru dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. Guru Sebagai Pendidik

Tugas guru menurut Asmani (2009:39). Sebagai pendidik tugas pertama guru adalah mendidik murid-murid sesuai dengan materi pelajaran yang diberikan kepadanya. Sebagai seorang Guru, ilmu adalah syarat utama. Membaca, menulis, berdiskusi, mengikuti informasi, dan responsif, terhadap masalah kekinian sangat menunjang peningkatan kualitas ilmu guru.

Undang-undang RI No. 20 tahun 2003, tentang Pendidikan dan Tenaga Kependidikan bab 11 pasal 39 ayat 2, dijelaskan bahwa Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyaraka (UU RI tentang Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, 2007:31).

Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus harus memiliki standar kualitas peribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin (Mulyasa, 2011:37).

Guru sebagai pemimpin menurut Asmani (2009:39). Guru juga seorang pemimpin kelas. Karena itu, ia harus bisa menguasai, mengendalikan, dan mengarahkan, kelas menuju tercapainya tujuan pembelajaran yang berkualitas. Sebagai seorang pemimpin guru juga harus pandai membaca potensi anak didiknya yang beragam, dan mampu menggunakan multi pendekatan dalam menyesuaikan potensi dan spesifikasi yang beragam dari murid-muridnya. Harus memberikan sanksi kepada anak didiknya yang melanggar aturan dengan tegas, adil, dan bijaksana.

c. Guru Sebagai Fasilitator

Guru sebagai fasilitator menurut Mulyasa (2008:53). Tugas guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi harus menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning) kepada seluruh peserta didik, agar mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira, penuh semangat, tidak cemas, dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka merupakan modal dasar bagi peserta didik untuk tumbuh dan berkembang untuk menjadi manusia yang siap beradaptasi, menghadapi berbagai kemungkinan, dan memasuki era globalisasi yang penuh berbagai tantangan.

Sebagai fasilitator, guru bertugas memfasilitasi murid untuk menemukan dan mengembangkan bakatnya secara pesat. Anak harus di biarkan mengeksplorasi potensinya dan memilih potensi terbaik

yang dimiliki sebagai jalur hidupnya dimasa depan. Guru sebagai fasilitator sedikitnya harus memiliki tujuh sikap seperti diidentifikasi Rogers (dalam knowles,1984), sebagai berikut:

1) Tidak berlebihan mempertahankan pendapat dan keyakinan atau kurang terbuka.

2) Dapat lebih mendengarkan peserta didik, terutama tentang aspirasi dan perasaannya.

3) Mau dan mampu menerima ide peserta didik yang inofatif, dan kreatif, bahkan yang sulit sekalipun.

4) Lebih meningkatkan perhatiannya terhadap hubungan dengan peserta didik seperti halnya terhadap bahan pembelajaran. 5) Dapat menerima komentar balik (feedback), baik yang bersifat

positif maupun negatif, dan menerimanya sebagai pandangan yang konstruktif terhadap diri dan perilakunya.

6) Toleran terhadap kesalahan yang diperbuat peserta didik selama proses pembelajaran.

7) Menghargai prestasi peserta didik, meskipun biasanya mereka sudah tau prestasi yang sudah dicapainya.

d. Guru Sebagai Motivator

Guru proses pembelajaran menurut Mujtahid (2009:119). Motivasi merupakan penentu keberhasilan. Seorang guru seyogyanya memerankan diri sebagai motivator murid-muridnya, teman sejawadnya, serta lingkungannya. Motivasi berasal dari kata

motif, yang artinya daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan.

Sebagai seoarang motivator, guru adalah psikolog yang diharapkan mampu menyelami psikologi anak didiknya, sehingga mengetahui kondisi lahir batinnya. Dari pengetahuan ini, seorang guru akan mencari motivasi model apa yang cocok bagi anak didiknya. Motivasi yang diberikan seorang guru, apalagi karena sang guru telah berhasil memerankan diri sebagai orang tua kedua bagi anak didik, akan sangat berkesan. Dengan motivasi tersebut, anak didik akan memiliki semangat baru dalam menyiapkan semua hal yang bergelayut dalam kehidupan ini, tentunya terutama yang diajarkan disekolah (Fakhruddin, 2010:85). Sebagai motivator, guru harus mampu mengembangkan motivasi belajar, dengan meperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut (Mulyasa, 2008:59). 1) Peserta didik akan bekerja keras apabila memiliki minat

terhadap pekerjaannya.

2) Memberikan tugas yang jelas dan dapat dimengerti

3) Memberikan penghargaan terhadap peserta didik atas hasil kerja kerasnya.

4) Menggunakan hadiah, dan hukuman secara efektif dan tepat. 5) Memberikan penilaian dengan adil dan transparan.

Sebagai seorang guru, tugas administrasi sudah melekat dalam dirinya, dari muali melamar menjadi guru, kemudian diterima dengan bukti surat keputusan yayasan, sutrat instruksi kepala sekolah, dan lain-lain.

f. Guru sebagai Pemacu (Mulyasa, 2008:63).

Guru sebagai pemacu menurut Mulyasa (2008:63). Guru harus berpacu dalam pembelajaran, dengan memberikan kemudahan belajar bagi peserta didik agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Dalam hal ini, guru harus kreatif, profesional, dan menyenangkan, dengan memposisikan diri sebagai berikut:

1) Orang tua yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya. 2) Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi para

peserta didik.

3) Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan, dan bakatnya.

Sebagai pemberi inspirasi belajar, guru harus mampu memerankan diri dan memberikan inspirasi bagi peserta didik, sehingga kegiatan belajar dan pembelajran dapat membangkitkan berbagi pemikiran, gagasan, dan ide-ide baru. Belajar yang kondusif harus ditunjang oleh berbagai fasilitas belajar yang menyenangakan: seperti sarana, laboratorium, pengaturan lingkungan, penampilan dan sikap guru, hubungan yang harmonis antara peserta didik dengan guru dan diantara para peserta didik itu sendiri, serta penataan

organisasi dan bahan pembelajaran secara tepat, sesuai dengan kemampuan dan perkembangan peserta didik. Belajar yang menyenangkan akan membangkitkan semangat dan menumbuhkan aktifitas serta kreatifitas peserta didik

Dokumen terkait