• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas Orang Tua

Dalam dokumen publikasi e-binaanak (Halaman 184-187)

(bd. Mrk. 3:20-21). Bilamana murid-murid-Nya degil, sering kali Ia berterus-terang menegur mereka dengan keras (bd. Mrk 8:14-21). Bilamana murid-murid ingin membalas kejahatan dengan kejahatan, Dia menyatakan sikap mengasihi dan mengalihkan perhatian mereka kepada tugas lain (bd. Luk. 9:51-56). Yesus pun menyatakan agar murid-murid-Nya belajar hidup secara tertib dalam arti memelihara kesucian hidup agar senantiasa merasakan kehadiran Allah (bd.

Mat 5:8). Bagi Yesus, orang dewasa harus mendisiplin anggota tubuhnya -- tangan, kaki, mata -- agar tidak membawa keburukan bagi orang lain, apalagi "menyesatkan" anak-anak di bawah asuhan mereka (Mat 18:8-10). Sebab Dia sendiri melarang murid-murid mengabaikan atau meremehkan anak-anak kecil (Mat 19:13-15). Tidak jarang pula Yesus menyatakan bahwa Dia tetap mengasihi murid-murid-Nya sekalipun mereka kurang cepat menangkap ajaran Sang Guru (Yoh 13,15).

3. Alkitab mengajarkan bahwa Roh Kudus datang untuk menyatakan kebenaran Ilahi bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Dia hadir ke dunia untuk membuat orang insyaf akan dosa dan kejahatannya lalu berbalik kepada Sang Kebenaran yang memerdekakan, yaitu Yesus Kristus (Yoh 16:6-8, 11-13). Roh Kudus juga datang untuk membuat orang memiliki hikmat hidup dan kekuatan batiniah agar dapat hidup sesuai kehendak Allah. (Ef 1:16, 17; 3:16-18). Roh Kudus pun datang ke dalam hidup dan persekutuan orang-orang percaya guna memberikan kekuatan dalam mengatasi kelemahan (Rom 8:2-6) serta buah kehidupan (Gal 5:22-23).

Dalam Kisah Para Rasul tampak sekali bagaimana sikap dan tindakan Roh Kudus dalam menegakkan disiplin. Ingatlah kasus Ananias dan Safira karena ingin "mencari nama dan muka" lalu berdusta kepada rasul Petrus (Kis. 5). Ingat pula kasus Simon tukang sihir di Samaria yang ingin terkenal lalu hendak membeli kuasa Roh Kudus dengan uang (Kis. 8). Rupanya Roh Kudus tidak menginginkan sikap pura-pura terjadi terjadi dalam kehidupan anak-anak Tuhan.

Surat Paulus kepada jemaat di Korintus cukup banyak menyinggung masalah disiplin hidup agar mereka tertib dalam kehidupan bersama, kehidupan persekutuan, kehidupan memelihara tubuh, dan sejenisnya. Dia mengajak jemaat untuk terus sadar bahwa Roh Kudus mendiami mereka sehingga mereka menghindarkan diri dari segala godaan mencemarkan diri (3:16; 6:19-20). Mereka harus menertibkan cara berpikir mereka sendiri agar tetap memelihara suara hati yang jernih di dalam mengambil keputusan dalam hidup bersamaan dengan orang lain (8:1-3). Mereka harus mengendalikan diri dalam ibadah agar tidak menonjolkan diri, mencari kemuliaan diri sendiri sehingga firman Allah tidak diberitakan sebagaimana mestinya (12-14).

Tugas Orang Tua

Paul Meier (1982) menegaskan karena pentingnya disiplin bagi anak, kitab Amsal saja menuliskan beberapa nats mengenai tugas orang tua untuk mendisiplin anaknya

(13:24; 19:18; 22:6; 22:15; 23:13; 29:15, 17). Ditambahkan pula oleh Meier bahwa ayah harus mendapat tempat sebagai kepala rumah tangga; dan ibu sebagai pendampingnya

 

(bd. Kej. 2:18). Kalau ayah tidak berperan sebagai kepala dalam rumah tangga, maka anak tidak memiliki idola yang jelas, tidak memunyai konsep otoritas secara jelas dan benar pula. Akhirnya keadaan demikian dapat menimbulkan gangguan kepribadian pada anak, seperti timbulnya pemberontakan terhadap orang tua dan orang lain. Rasul Paulus juga menyatakan tekanan yang sama dalam surat kirimannya (Ef 6:4; Kol 3:21). Tugas orang tua ialah mendidik anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan sehingga anak terhindar dari "sakit hati" dan "tawar hati". Betapa kecewanya anak di kemudian hari karena orang tua tidak pernah menegakkan ketertiban; tidak membantu anak

mengerti mana yang baik dan mana yang buruk; dan tidak menolong mereka mengatasi tantangan dan kejahatan serta bagaimana melakukan kebaikan. Sikap otoriter justru menimbulkan rasa takut dan keinginan balas dendam pada diri anak. Sikap mengekang orang tua justru menimbulkan kepasifan dan tiadanya kreativitas dan inisiatif pada kehidupan anak di kemudian hari.

Dalam hal apa sajakah orang tua membantu anak hidup tertib, teratur, dan memiliki rasa tanggung jawab? Jawabnya, dalam segala aspek kehidupan, antara lain:

1. pola dan waktu minum dan makan serta istirahat, 2. buang air (toilet tranning) dan buang sampah,

3. kehidupan iman, rohani, ibadah, doa pribadi dan bersama,

4. mengurus diri sendiri -- mandi, berpakaian, memelihara "mainan", atau barang pribadi lainnya,

5. belajar -- mengerjakan PR, persiapan ujian, dll.,

6. membantu pengurusan kebersihan rumah serta lingkungan.

7. dalam hal berelasi serta berkomunikasi secara sopan, memberitahukan kepada orang tua rencana-rencana kerja, atau kegiatan di sekolah dan di luarnya. 8. menepati janji atau ucapan, termasuk mengembalikan barang pinjaman dari

teman.

Disiplin dengan Tegas dan Kasih Sayang

James Dobson merupakan tokoh pendidikan anak yang terkenal dalam mengemukakan berbagai prinsip efektif bagi orang tua di dalam mendisiplinkan anak. Buku-bukunya yang mengemukakan gagasan disiplin ini ialah "Dare to Discipline" (1970) dan "Discipline With Love" (1983). Menurut Dobson, tujuan disiplin bagi anak ialah agar mereka dapat belajar bagaimana cara hidup bertanggung jawab. Prinsip Dobson yang dituangkan dalam karyanya "The New Dare to Disciplin" (1992) adalah sebagai berikut.

1. Orang tua harus mengembangkan rasa hormat dalam diri anak terhadap orang tuanya sendiri. Rasa hormat itu harus ditumbuhkan melalui komunikasi yang akrab, lalu dikembangkan dan dipelihara dengan penyediaan waktu dalam menjawab pertanyaan anak. Dengan begitu anak belajar mengenai otoritas secara benar dan tepat.

2. Orang tua harus menghukum anak atas tingkah lakunya yang jelas memberontak atau menentang orang tua; melawan terhadap aturan yang sudah diterangkan

 

dan ditetapkan atau disetujui sebelumnya. Hukuman fisik harus dikenakan bagi anak, pada bagian "pantat" (spanking). Orang tua harus memberitahukan mengapa ia melakukannya; dan jangan dilakukan hukuman jauh setelah anak melupakan pelanggaran yang dibuatnya.

Menurut Dobson, kalau anak sudah berusia sembilan tahun, tidak tepat lagi memukulnya di bagian pantat, atau mengenakan hukuman fisik pada bagian tubuh lainnya, tetapi paling-paling menekan bagian tertentu dari bahunya untuk menyadarkan dirinya bahwa ia bersalah.

3. Orang tua harus mengendalikan diri agar tidak menyimpan amarah

berkepanjangan. Jangan pula ia menyimpan emosi benci terhadap anak ketika menghukumnya secara fisik. Sebelum melakukan hukuman fisik, orang tua harus menghitung dalam hatinya angka satu hingga sepuluh guna meredakan

emosinya.

4. Orang tua tidak memberikan sogokan kepada anak berupa benda, agar ia berlaku tertib. Hal ini dapat menumbuhkan akar materialisme.

Sekalipun demikian, Dobson juga mengemukakan bahwa untuk mendisiplin anak, kita dapat memperkuat sikap dan perilaku positif dengan jalan menghargainya. Kalau ada hal positif, patut dipuji yang diperbuat anak, ia patut mendapat sanjungan orang tua. Prinsip ini disebut "reinforcement". Hal ini dilakukan dengan memberikan hadiah karena ia berbuat baik. Prinsipnya antara lain adalah sebagai berikut:

1. hadiah harus sesegera mungkin,

2. hadiah tidak selalu berupa benda, bisa juga pujian, kata yang membangun (Ef 4:29), dan

3. kalau tingkah laku yang diharapkan terbentuk, maka perbuatan memberi hadiah dihentikan saja.

Perkara lain yang harus diperhatikan dalam membangun sikap disiplin pada diri anak ialah prinsip kerja sama. Untuk menimbulkan rasa tanggung jawab dalam diri anak, orang tua perlu menyatakan keinginannya kepada anak. Bahwa orang tua meminta pendapat atau meminta tolong kepada anak tidak salah, justru dapat membuat anak merasa berharga. Apalagi kalau anak itu sudah berusia di atas lima tahun (TK atau SD). Kemudian orang tua dapat mengajak anaknya melakukan apa yang direncanakan

bersama-sama. Dengan begitu, orang tua memberikan contoh di hadapan anaknya. Selanjutnya, orang tua perlu memberikan tugas bagi anak agar ia mengerjakannya. Jika ada kesalahan, orang tua memberikan koreksi dan kesempatan kedua. Jika anak

berhasil, maka anak layak mendapat pujian dan penghargaan. Bisa melalui hadiah material dan bisa pula dengan pujian bahwa anak itu hebat, pintar, dan sejenisnya. Hal ini dapat diterapkan dalam kegiatan belajar, kegiatan ibadah dan doa, kegiatan

membersihkan rumah, mencuci piring, pakaian, dll. (Parents & Children, ed. Jay Kesler, 1986; The Enycyclopedia of Parenting, 1982).

 

Dalam dokumen publikasi e-binaanak (Halaman 184-187)