Risiko-risiko utama yang timbul dari instrumen keuangan yang dimiliki Perusahaan dan anak perusahaan adalah risiko suku bunga, risiko nilai tukar, risiko kredit dan risiko likuiditas. Kegiatan operasional Perusahaan dan anak perusahaan dijalankan secara berhati-hati dengan mengelola risiko-risiko tersebut agar tidak menimbulkan potensi kerugian bagi Perusahaan dan anak perusahaan.
Risiko Suku Bunga
Risiko suku bunga adalah risiko dimana nilai wajar atau arus kas kontraktual masa datang dari suatu instrumen keuangan akan terpengaruh akibat perubahan suku bunga pasar. Eksposur Perusahaan dan anak perusahaan yang terpengaruh risiko suku bunga terutama terkait dengan hutang bank, kewajiban sewa pembiayaan dan hutang obligasi.
Untuk meminimalkan risiko suku bunga, Perusahaan dan anak perusahaan mengelola beban bunga melalui kombinasi hutang dengan suku bunga tetap dan suku bunga variabel, dengan mengevaluasi kecenderungan suku bunga pasar. Manajemen juga melakukan penelaahan berbagai suku bunga yang ditawarkan oleh kreditur untuk mendapatkan suku bunga yang menguntungkan sebelum mengambil keputusan untuk melakukan perikatan hutang.
Tabel berikut adalah nilai tercatat, berdasarkan jatuh temponya, atas aset dan kewajiban keuangan konsolidasi Perusahaan dan anak perusahaan yang terkait risiko suku bunga:
Rata-rata Jatuh Tempo Jatuh Tempo Jatuh Tempo Jatuh Tempo Jatuh Tempo Suku Bunga Efektif dalam Satu Tahun Pada tahun ke-2 Pada tahun ke-3 Pada tahun ke-4 Pada tahun ke-5 Jumlah
% Rp 000.000 Rp 000.000 Rp 000.000 Rp 000.000 Rp 000.000 Rp 000.000
Aset Bunga Tetap
Kas dan setara kas 0,1% - 10,25% 506.671 - - - - 506.671
Investasi jangka pendek - deposito berjangka 6% - 6,25% 4.183 - - - - 4.183
Kewajiban Bunga Tetap
Hutang pembelian aset tetap 7,34% 1.295 1.461 - - - 2.756
Hutang sewa pembiayaan 4,15%- 15,56% 176 80 71 42 369
Hutang obligasi 12,75% - 497.002 - - - 497.002
Bunga Mengambang
Hutang bank jangka pendek 7%-13,5% 981.187 - - - - 981.187
Pinjaman bank jangka panjang 11%-14% 25.506 61.238 45.570 6.682 2.288 141.284
Risiko nilai tukar adalah risiko dimana nilai wajar atau arus kas kontraktual masa datang dari suatu instrumen keuangan akan terpengaruh akibat perubahan nilai tukar. Eksposur Perusahaan dan anak perusahaan yang terpengaruh risiko suku bunga terutama terkait dengan hutang bank jangka panjang.
Selain hutang bank jangka pendek dan panjang serta hutang yang direstrukturisasi, Perusahaan dan anak perusahaan memiliki eksposur dalam mata uang asing yang timbul dari transaksi operasionalnya. Eksposur tersebut timbul karena transaksi yang bersangkutan dilakukan dalam mata uang selain mata uang fungsional unit operasional atau pihak lawan.
Berikut adalah posisi aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing konsolidasi Perusahaan dan anak perusahaan kecuali JCIP, JCIL dan JCH dan anak perusahaan, yang pembukuannya dalam mata uang asing, pada tanggal 30 Juni 2010 dan 2009:
2010 2009
Mata Uang Ekuivalen Mata Uang Ekuivalen
Asing Rp '000.000 Asing Rp '000.000
Aset
Kas dan setara kas USD 6.957.142,17 63.192 4.730.768,25 48.372
SGD 519.036,81 3.364 24.161,04 170
AUD 154.891,63 1.197 63.747,89 529
EURO 14.078,72 156 -
-Piutang usaha USD 69.757,94 634 382.614,82 3.912
Rekening bank yang dibatasi
penggunaannya USD 758.375,00 6.888 1.067.633,42 10.917
Jumlah aset 75.431 63.900
Kewajiban
Hutang bank jangka pendek USD 108.024.515,65 981.187 4.682.876,44 47.882
Hutang usaha USD 6.736.471,50 61.187 5.395.396,70 55.168 UERO 10.990,93 122 1.510,04 11 SGD 7,34 - 150.098,53 2.166 Hutang yang direstrukturisasi USD 109.585.437,67 995.365 124.835.437,67 1.276.442
Jumlah kewajiban 2.037.861 1.381.669
Jumlah Kewajiban - Bersih (1.962.430) (1.317.769)
Pada tanggal 30 Juni 2010 dan 2009 kurs konversi yang digunakan Perusahaan dan anak perusahaan diungkapkan pada Catatan 2d mengenai kebijakan akuntansi.
Risiko Kredit
Risiko kredit adalah risiko bahwa Perusahaan dan anak perusahaan akan mengalami kerugian yang timbul dari pelanggan atau pihak lawan akibat gagal memenuhi kewajiban kontraktualnya. Manajemen berpendapat bahwa tidak terdapat risiko kredit yang terkonsentrasi secara signifikan. Perusahaan dan anak perusahaan mengendalikan risiko kredit dengan cara melakukan hubungan usaha dengan pihak lain yang memiliki kredibilitas, menetapkan kebijakan verifikasi dan otorisasi kredit, serta memantau kolektibilitas piutang secara berkala untuk mengurangi jumlah piutang tak tertagih.
Berikut adalah eksposur neraca konsolidasi yang terkait risiko kredit pada tanggal 30 Juni 2010:
Jumlah Bruto Jumlah Neto Rp '000 Rp '000
Kelompok diperdagangkan
Investasi jangka pendek - saham 21.347 21.347
Pinjaman yang diberikan dan piutang
Kas dan setara kas 506.671 506.671
Investasi jangka pendek - deposito berjangka 4.183 4.183
Piutang usaha 769.253 760.491
Piutang lain-lain 45.992 45.992
Jumlah 1.347.446 1.338.684
Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas adalah risiko kerugian yang timbul karena Perusahaan tidak memiliki arus kas yang cukup untuk memenuhi kewajibannya.
Dalam pengelolaan risiko likuiditas, manajemen memantau dan menjaga jumlah kas dan setara kas yang dianggap memadai untuk membiayai operasional Perusahaan dan anak perusahaan dan untuk mengatasi dampak fluktuasi arus kas. Manajemen juga melakukan evaluasi berkala atas proyeksi arus kas dan arus kas aktual, termasuk jadwal jatuh tempo hutang, dan terus-menerus melakukan penelaahan pasar keuangan untuk mendapatkan sumber pendanaan yang optimal.
Berikut adalah jadwal jatuh tempo aset dan kewajiban keuangan konsolidasi berdasarkan pembayaran kontraktual yang tidak didiskontokan pada tanggal 30 Juni 2010:
<= 1 tahun 1-2 tahun 3-5 tahun > 5 tahun Jumlah Biaya transaksi Nilai Tercatat Rp '000 Rp '000 Rp '000 Rp '000 Rp '000 Rp '000 Rp '000
Aset
Kas dan setara kas 506.671 - - - 506.671 - 506.671
Investasi jangka pendek 25.530 - - - 25.530 - 25.530
Piutang usaha 760.491 - - - 760.491 - 760.491
Piutang lain-lain 45.992 - - - 45.992 - 45.992
Jumlah 1.338.684 - - - 1.338.684 - 1.338.684
Kewajiban
Hutang bank jangka pendek 981.187 - - - 981.187 - 981.187
Hutang usaha kepada pihak ketiga 657.341 - - - 657.341 - 657.341 Hutang lain-lain kepada pihak ketiga 42.045 - - - 42.045 - 42.045
Biaya masih harus dibayar 222.712 - - - 222.712 - 222.712
Pinjaman jangka panjang 25.506 61.238 54.540 - 141.284 - 141.284
Hutang pembelian aset tetap 1.295 1.461 - - 2.756 - 2.756
Hutang sewa pembiayaan jangka panjang 176 81 112 - 369 - 369 Hutang yang direstrukturisasi 152.140 843.225 - - 995.365 - 995.365
Hutang obligasi - 497.002 - - 497.002 - 497.002
Jumlah 2.082.402 1.403.007 54.652 - 3.540.061 - 3.540.061
a. Pada tanggal 24 Juli 2007, Perusahaan menandatangani transaksi cross currency swap dengan PT ANZ Panin Bank (“ANZ”) yang jatuh tempo pada bulan Desember 2011. Sebagai jaminan atas kewajiban Perusahaan atas fasilitas cross currency swap, Perusahaan diwajibkan menjaminkan saldo kas sebesar 1% dari jumlah fasilitas tersebut.
Pada tanggal 17 Januari 2007, Perusahaan menandatangani transaksi pertukaran mata uang Dolar Amerika Serikat dengan ANZ sebesar US$ 22,6 juta dengan batas maksimal sebesar US$ 160 juta. Sebagai jaminan atas kewajiban Perusahaan atas fasilitas ini, Perusahaan menjaminkan kas yang setara (100%) dengan risiko dari semua transaksi dalam mata uang asing dalam fasilitas ini.
Pada tanggal 5 Maret 2008, Perusahaan, PT Multiphala Agrinusa (MAG), PT Suri Tani Pemuka (STP), PT Ciomas Adisatwa (CA), PT Indojaya Agrinusa (IAG), PT Japfa Santori Indonesia (JSI), anak perusahaan, memperoleh fasilitas letter of credit dari PT ANZ Panin Bank, Jakarta, dengan jumlah maksimum sebesar US$ 20.000.000. Sebagai jaminan atas kewajiban Perusahaan atas fasilitas letter of credit ini, Perusahaan diwajibkan menjaminkan saldo kas sebesar 20% dari saldo fasilitas tersebut. Berdasarkan Amendment to Loan
Agreement No. 098988/AMN-1/V/08 tanggal 6 Mei 2008, fasilitas ini dirubah menjadi fasilitas Trust Receipt dengan jumlah maksimum sama dengan fasilitas sebelumnya.
b. Pada bulan November 2006, Perusahaan memperoleh fasilitas sight dan/atau usance letter of credit dari PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Jakarta, dengan jumlah maksimum sebesar US$ 3.000.000. Fasilitas ini digunakan untuk kegiatan impor. Pada tahun 2010 dan 2009, Perusahaan tidak menggunakan fasilitas ini.
c. Pada bulan Oktober 2006, Perusahaan memperoleh fasilitas letter of credit dari PT Bank NISP Tbk, Jakarta, dengan jumlah maksimum sebesar US$ 3.000.000. Fasilitas ini dipergunakan untuk kegiatan impor. Pada tahun 2010 dan 2009, Perusahaan tidak menggunakan fasilitas ini.
Perjanjian Kerjasama
a. Pada tanggal 29 Pebruari 2000, MBAI, anak perusahaan, menandatangani perjanjian dengan Lohmann Tierzucht GmbH mengenai pembelian ayam induk petelur (layer grand parent) untuk pembibitan anak ayam, yang berlaku sampai dengan tahun 2010.
b. Pada tanggal 16 Mei 2002, MBAI menandatangani perjanjian dengan Aviagen Limited mengenai pembelian ayam induk pedaging (broiler grand parent) untuk pembibitan anak ayam. Perpanjangan perjanjian dilakukan setiap satu tahun sekali.
c. Pada tanggal 7 Januari 2008, PT So Good Food (d/h PT Supra Sumber Cipta) (SGF), anak perusahaan, menandatangani perjanjian kerjasama bagi hasil dengan PT Greenfields Indonesia (GI), pihak ketiga, dimana SSC bersedia menyediakan jasa pengiriman produk GI dan memperoleh penghasilan dengan tarif tetap tertentu dari setiap liter produk-produk yang dikirim. Perjanjian ini berlaku selama satu tahun dan diperpanjang sampai dengan 31 Desember 2010.
Pada bulan Agustus 2008, PT Suri Tani Pemuka (STP), anak perusahaan, menandatangani perjanjian kerjasama pengelolaan dan sewa menyewa tambak udang dan pabrik coldstorage dengan pihak-pihak ketiga yang berlokasi di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan seluas 1.225 Ha dengan jangka waktu sewa dari bulan Agustus 2008 sampai dengan bulan Desember 2013 dan Juli 2020. Nilai sewa adalah sebesar US$ 270.000 selama 5 tahun untuk pabrik cold
storage dan Rp 50.000.000 per tahun untuk tambak.