BAB I PENDAHULUAN
D. Kerangka Pemikiran
Penelitian ini bertolak dari dua pokok pemikiran. Pertama, pemikiran Satjipto Rahardjo (1930-2010) tentang ilmu hukum dan, kedua, pemikiran Martin Heidegger (1889-1976) tentang teknologi. Penelitian ini berupaya menyintesiskan pemikiran kedua tokoh dengan disiplin keilmuan dan zaman yang berbeda tersebut.
Satjipto Rahardjo, lahir di Banyumas pada tanggal 15 Februari 1930 dan wafat pada tanggal 8 Januari 2010, adalah mahaguru sosiologi hukum di Universitas Diponegoro, Indonesia. Ia dikenal sebagai pencetus teori hukum progresif yang masyhur dengan adagium “hukum itu untuk manusia dan bukan sebaliknya”. Ajaran tersebut didasarkan atas refleksi yang panjang dalam perjalanan karir Satjipto Rahardjo sebagai seorang intelektual-akademisi.15
Hukum, menurut Satjipto Rahardjo, selalu berjalin kelindan dengan kehidupan masyarakat. Hukum bekerja dan tertanam dalam sebuah matriks sosio-kultural. Hegemoni hukum (negara) tidak pernah sepenuhnya berhasil memastikan apa yang mesti berlaku dalam masyarakat. Masyarakat sendirilah yang pada akhirnya akan menentukan seberapa jauh dan bagaimana hukum akan secara nyata berjalan. Mengatur masyarakat tidak berarti harus dengan melakukan intervensi dan penetrasi penuh ke dalam kehidupan masyarakat. Hukum semestinya “mengatur tanpa mengganggu kehidupan yang sudah berjalan”.16
Berkenaan dengan tema penelitian ini, adalah menarik jika menelusuri pertautan antara hukum dan teknologi. Sebagaimana disinggung di muka, internet adalah sebuah produk teknologi. Sehingga apabila mau dilakukan penelitian tentang hukum internet, persoalan-persoalan,
15
Awaludin Marwan, “Satjipto Rahardjo” disampaikan dalam Jagongan Rutin Kaum Tjipian, April 2013, di Kafe Kopi Jempol, Semarang (makalah tidak terbit).
pemikiran, dan konsepsi-konsepsi dalam dan mengenai teknologi mesti turut pula disinggung.
Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa ilmu hukum adalah suatu teknologi, sekalipun merupakan teknologi sosial. Sebagai teknologi sosial, hukum mengupayakan agar setiap orang tunduk kepadanya dan berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki olehnya.17 Dalam identitasnya sebagai teknologi, ilmu hukum menjelaskan bagaimana hukum digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.18
Dalam teks yang lain, Kemanusiaan, Hukum, dan Teknokrasi, Satjipto Rahardjo menegaskan bahwa hukum modern sejatinya memang produk baru teknologi yang lahir dari rahim institusi teknologi.19 Institusi teknologi yang berbasis pada sains klasik ala zaman Pencerahan (Aufklarung, enlightenment) dengan Rene Descartes (1596-1650) dan Isaac Newton (1642-1727) sebagai motornya telah meminggirkan hukum pramodern yang berciri sosial dan otentik. Hegemoni hukum tipe baru, yaitu hukum berbasis negara, telah mengesampingkan keberadaan tipe hukum lain yang sebenarnya sangat plural.
17
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, op. cit., h. 329.
18
Satjipto Rahardjo, Hukum dan Masyarakat (Bandung: Angkasa, 1981), h. 28.
Sains klasik memiliki karakteristik berburu keumuman atau generalisasi.20 Subyeknya dikotak-kotakkan, dipilah-pilah, dan digolong-golongkan untuk kemudian dibanding-bandingkan dan dicari ciri-ciri yang umum. Sains bekerja dengan mereduksi obyeknya dan terjadilah fragmentasi. Model metodologi ilmu alam yang menghasilkan banyak penemuan berharga bagi manusia tersebut lalu diikuti oleh disiplin ilmu lain, termasuk sosiologi, ekonomi, dan hukum.21
Namun tak dapat dimungkiri, penemuan-penemuan di bidang teknologi jugalah yang membuat abad kesembilan belas kaya akan pelbagai pemikiran yang menjungkirbalikkan pandangan-pandangan— termasuk hukum—yang sudah mapan. Satjipto Rahardjo menulis:
[R]eaksi-reaksi dan ‘pemberontakan-pemberontakan’ [di bidang hukum—pen.] tidak dapat dilepaskan dari suburnya pemikiran yang timbul pada abad kesembilanbelas. Abad tersebut merupakan masa yang kaya dengan ide dan gerakan hukum baru. [...] Ilmu yang diusahakan oleh manusia telah mencapai suatu momentum yang memungkinkan dibukanya cakrawala baru, seperti kemungkinan-kemungkinan yang dibawakan oleh penemuan-penemuan di bidang teknologi, yang seolah-olah menjungkirbalikkan pandangan-pandangan, konsep-konsep, serta irama kehidupan-kehidupan yang lampau.22
Di antara para pemikir yang secara khusus menelaah teknologi dari perspektif filsafat, Martin Heidegger (lahir di Messkirch pada tanggal 26
20
Satjipto Rahardjo, “Ilmu Hukum di Indonesia dalam Lintasan Perkembangan Sains” dalam Esmi Warassih, dkk (ed.), Refleksi dan Rekonstruksi Ilmu Hukum Indonesia
(Semarang: Thafa Media, Asosiasi Sosiologi Hukum Indonesia, dan Bagian Hukum dan Masyarakat Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, 2012), h. 614.
21
Ibid.
22
Satjipto Rahardjo, Membangun dan Merombak Hukum Indonesia: Suatu Pendekatan Lintas Disiplin (Yogyakarta: Genta Publishing, 2009), h. 56.
September 1889 dan wafat pada tanggal 26 Mei 1976) dapat disebut sebagai perintis pemikiran filosofis tentang teknologi. Tokoh yang hidup sezaman dengan pemimpin Nazi, Adolf Hitler, itu adalah filsuf terbesar Jerman. Namanya kerap disejajarkan dengan filsuf-filsuf besar dunia, baik dari Jerman maupun luar Jerman, seperti Plato (428-347 SM), G.W.F. Hegel (1770-1831), dan Friedrich Nietzsche (1844-1900). Pemikiran Martin Heidegger juga memengaruhi pemikiran filsuf-filsuf setelahnya, semisal Hannah Arendt (1906-1975) dan Jacques Derrida (1930-2004). Sein und Zeit (Ada dan Waktu), buku masterpiece Heidegger, merupakan buku kunci filsafat setelah Politeia (Negara) Plato dan Phaenomenologie des Geistes (Fenomenologi Roh) Hegel.23
Heidegger mengurai esensi teknologi dengan bertolak dari dua konsepsi umum mengenai teknologi. Pertama, konsepsi instrumentalis yang menganggap teknologi adalah sarana (instrumentum) bagi pencapaian tujuan tertentu. Kedua, konsepsi antropologis yang melihat teknologi tak lain dari aktivitas manusia.24
Heidegger menolak kedua pandangan tersebut. Bagi Heidegger, apa yang penting dari teknologi bukanlah teknologi atau bentuk-bentuk teknologi, melainkan orientasi manusia terhadap teknologi.25 Teknologi
23
F. Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2005), h. 4.
24 Martin Heidegger, op. cit., h. 4.
25
Francis Lim, Filsafat Teknologi: Don Ihde tentang Dunia, Manusia, dan Alat
sebagai sarana pencapaian tujuan merupakan penafsiran yang instrumental, sementara teknologi sebagai aktivitas manusia merupakan penafsiran yang antropologis. Kedua bentuk penafsiran itu sesungguhnya masih dangkal dan memosisikan teknologi sebagai alat belaka dari sains. Padahal teknologi, secara historis,26 mendahului sains. Bahkan, teknologi membentuk arah gerak sains.
Heidegger menulis:
Chronologically speaking, modern physical science begins in the seventeenth century. In contrast, machine-power technology develops only in the second half of the eighteenth century. But modern technology, which for chronological reckoning is the later, is, from the point of view of the essence holding sway within it, the historically earlier.27
Pemahaman akan teknologi, menurut Heidegger, mesti dibebaskan dari penafsiran yang subyektivistik yang memandang teknologi hanya secara instrumental dan antropologis.28 Hal itu dimaksudkan supaya manusia bisa menjalin hubungan yang bebas dengan teknologi sehingga manusia dapat mengalami, bukan memanfaatkan ataupun mengeksploitasi, teknologi dalam batas-batasnya sendiri dan sebisa mungkin melampaui batas-batas itu.
26
Pengertian “historis” menurut Heidegger berbeda dari pengertian “historiologi” ataupun “kronologi”. Lih. Francis Lim, op. cit., catatan kaki nomor 60.
27
Martin Heidegger, op. cit., h. 22.
Bagi Heidegger, teknologi tak ubahnya seni, yaitu seni pikiran (the arts of the mind) dan seni halus (the fine arts). Teknologi bukan hanya persoalan teknik atau keahlian pertukangan, melainkan perkara penyingkapan Ada (Sein, Being).29 Teknologi sejatinya adalah poiēsis, mengemukakan-ke-hadapan (Her-vor-bringen, bringingforth), yaitu perbuatan yang dilakukan demi hasil yang nilainya melampaui perbuatan itu sendiri, misalnya membuat puisi.30
Namun, sebagaimana diakui Heidegger sendiri, teknologi dalam pengertian semacam itu hanya dapat dijumpai dalam teknologi kuno. Model penyingkapan teknologi modern bukanlah dalam bentuk mengemukakan-ke-hadapan, tetapi cenderung menantang (Herausfordern, challengingforth). Penyingkapan model teknologi modern menjadikan alam sebagai bahan persediaan (Bestand, standing reserve) yang dapat diambil, disimpan, dan digunakan manusia.
Heidegger mengilustrasikan perbedaan antara teknologi kuno dan teknologi modern tersebut dengan analogi kincir angin dan pertambangan. Kincir angin adalah manifestasi dari teknologi kuno. Sebab, kincir angin tidak menantang angin dan tidak membuka energi dari embusan angin. Kincir angin hanya berputar tatkala angin berembus dan putarannya
29 Ada ialah realitas sebagai suatu keseluruhan dalam filsafat. F. Budi Hardiman, op. cit., h. 4. Bandingkan dengan pengertian Ada menurut Martin Suryajaya: segala yang hadir, baik terhitung maupun tak terhitung, dalam situasi. Martin Suryajaya, Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme (Yogyakarta: Resist Book, 2011), h. xi.
sangat bergantung pada kencang-lemahnya embusan angin. Ini berbeda dengan teknologi modern yang direpresentasikan dalam pertambangan. Pertambangan menantang alam demi mendulang bijih logam. Alam disingkap dan dieksploitasi untuk kepentingan manusia belaka.31
Sikap manusia (modern) yang memperlakukan teknologi sebagai persediaan itulah yang pada akhirnya membuat esensi teknologi melenceng dari fitrahnya. Sejak sains mencoba menata alam dalam hitungan yang pasti dengan tujuan untuk menggarapnya semaksimal mungkin, arah teknologi pun berubah menjadi laksana hukum alam yang bisa diprediksi, dikalkulasi, dan dimanfaatkan. Manusia kemudian menganggap dirinya sebagai tuan atas segala-galanya.32