• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tumor Otak

Dalam dokumen CATATAN BEDAH (Halaman 101-105)

Gejala non spesifik:

a. Nyeri kepala yang kronik dan progresif b. Muntah2 proyektil akibat peningkatan TIK c. Edema papil

d. Epilepsi/kejang e. Gangguan endokrin Simptom fokal:

a. Simptom fokal dari tumor di lobus frontalis

o Gangguan mental berupa perubahan tingkah laku, euforia o Afasia motorik bila mengenai area Broca

o Grasp refleks

o Pada stadium lanjut bisa terjadi anosmia, gangguan visual, gangguan keseimbangan, gangguan gerakan bola mata, dan edema papil.

b. Simptom fokal dari tumor di daerah presentralis o Kejang fokal pada sisi kontralateral

o Kelumpuhan motorik bila terjadi destruksi atau penekanan oleh tumor terhadap jalur kortikospinal

c. Simptom fokal dari tumor di lobus temporalis

o Halusinasi pembauan dan pengecapan disertai gerakan bibir dan lidah bila berada di daerah unkus

o Gangguan kesadaran sesaat, gangguan emosi berupa rasa takut/panik bila mengenai lobus temporalis bagian medial

o Berkurangnya pendengaran bila mengenai korteks bagian belakang o Afasia sensorik bila mengenai area Wernicke

o Keadaan lanjut terjadi kelumpuhan anggota badan sisi kontralateral

o Dilatasi pupil sesisi yang menetap atau menghilangnya refleks kornea bila telah terjadi herniasi dan penekanan batang otak

d. Simptom fokal dari tumor di lobus parietalis o Berbagai bentuk gangguan sensorik

o Lesi iritatif menimbulkan gajala parestesi (rasa tebal, kesemutan) o Lesi destruksi menyebabkan hilangnya berbagai bentuk sensasi o Astereognosis dan gangguan diskriminasi terhadap rangsang taktil o Hiperestesi bila tumornya tumbuh ke arah lebih dalam

o Gangguan penglihatan sebagian

e. Simptom fokal dari tumor di lobus oksipitalis o Gejala awal terutama nyeri kepala

o Lesi di hemisfer dominan terjadi visual objek agnosia, kadang-kadang tidak mengenal warna dan prosopagnosia

f. Simptom fokal dari tumor di daerah pons dan medula oblongata o Gejala fokal permulaan berupa paresis nervus VI unilateral o Nyeri kepala dan vertigo

o Hemiparesis alternans

g. Simptom fokal dari tumor di serebelum

o Biasanya pada anak-anak sehingga gejala awal yang menonjol adalah hidrosefalus, gangguan keseimbangan, nistagmus ke arah lesi, dan ataksia anggota badan sebelah sisi lesi

Klasifikasi tumor berdasarkan sumber:

a. Tumor primer: bisa berasal dari jaringan otak, meningen, hipofisis, selaput myelin.

1. Tumor ganas: Glioma (astrositoma, oligodendriglioma), germ cell tumor 2. Tumor jinak: meningioma, neurinoma (schwannoma), adenoma

pituitary

b. Tumor sekunder (metastase): laki2 paling sering dari paru-paru dan perempuan dari payudara.

Klasifikasi tumor berdasarkan lokasi: a. Tumor supra tentorial

1. Hemisfer otak: Glioma (Glioblastoma multiforme,Astrositoma, Oligodenroglioma), Meningioma,Tumor metastase

2. Tumor struktur median : Adenoma hipofisis , Tumor glandula pinealis, Kraniofaringioma

b. Tumor Infratentoral: Schwannoma akustikus, Tumor metastasis, Menigioma, Hemangioblastomas

c. Tumor medula spinalis 1. Ekstradural : Metastasis

2. Intradural Ekstramedular : - meningioma, neurofibroma 3. Intradural Intramedular : - ependimoma, astrosito PEMERIKSAAN PENUNJANG:

a. RO Toraks ( metastase )

b. Skull (Kalsifikasi, Lesi Osteolitik, Erosi Klinoideus Posterior, Tanda TIK ↑ à Bayi ( Diastasis ))

c. CT Scan

Sensitivitas CT untuk mendeteksi dini massa intrakranial khususnya neoplasma cukup tinggi (80-98%). CT lebih sensitif dalam mendeteksi kalsifikasi, merupakan pemeriksaan invasif dan dapat mendeteksi kelainan sebesar 4 mm.

d. MRI

Terutama untuk tumor-tumor di daerah fossa posterior, karena CT Scan sukar mendiagnosis tumor otak akibat banyaknya artefak, sekalipun dengan kontras. Dengan MRI, suatu tumor dapat dengan jelas

tervisualisasi melalui potongan 3 dimensi, sehingga memudahkan untuk dapat menentukan teknik operasi atau menentukan tumor tersebut tidak dapat dioperasi mengingat resiko/komplikasi yang akan timbul. Dengan melihat gambar T1 maupun T2 dapat ditentukan karakteristik suatu tumor apakah tumor tersebut padat, kistik, ada perdarahan, kalsifikasi, nekrosis, maupun lemak dan lain-lain.

e. Angiografi

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat struktur pembuluh darah. Adanya tumor dapat diketahui dari :

o Terjadinya displacement pembuluh darah karena pendesakan oleh tumor o Adanya neovaskularisasi serta pelebaran pembuluh darah pada tumor

o Densitas jaringan yang meninggi oleh banyaknya kontras yang masuk pada tumor dibanding daerah otak normal atau yang disebut tumor staining

Angiografi saat ini hanya dilakukan untuk membedakan antara tumor dan kelainan vaskuler, bila CT Scan meragukan, atau untuk pemeriksaan tambahan untuk melihat hubungan tumor dengan pembuluh darah sekitarnya. Bila perlu untuk tumor otak yang sangat vaskuler dapat

dilakukan embolisasi prabedah sehingga operasi pengangkatan tumornya menjadi lebih mudah.

PENATALAKSANAAN

Di negara maju penderita tumor otak umumnya sudah terdeteksi lebih dini, tumor relatif masih kecil dan datang dalam keadaan sadar baik. Sebaliknya di negara berkembang tidak jarang penderita datang dalam keadaan tidak sadar, sudah terjadi “impending herniation” atau bahkan herniasi sudah terjadi. Pada kasus seperti ini tindakan pertama yang dilakukan adalah melakukan dekompresi interna (terapi hiperosmolar, diuretik, dan kortikosteroid) sebelum melakukan tindakan definitf (pembedahan).

Pada dasarnya terapi tumor otak adalah : 1. Operasi

2. Terapi radiasi 3. Kemoterapi OPERASI

Ada 4 indikasi utama dari pembedahan tumor otak yaitu :

1. Diagnosis, 2. Dekompresi, 3. Sitoreduksi, dan 4. Kalau mungkin

menyembuhkan Diagnosis bisa dilakukan dengan biopsi terbuka atau biopsi sterotaktik. Hasil biopsi jaringan untuk menentukan jenis tumor, gradasinya, dan menentukan adanya tanda keganasan.

Dekompresi tumor dilakukan apabila edema dan hidrosefalus yang terjadi mengakibatkan defisit neurologis. Edema yang luas di sekitar tumor kadang-kadang sulit dikontrol dengan steroid saja. Tujuan dari “surgical decompression” adalah untuk menurunkan tekanan intrakranial, simptomatis, dan mencegah memberatnya defisit neurologis. Meskipun dekompresi ini tidak merubah hasil akhir tetapi “Life Saving Decompression” juga dikerjakan sebagai tindakan emergensi terutama pada tumor yang terletak di temporal dan fossa posterior oleh karena kecenderungan terjadinya herniasi uncus dan tonsila cerebeli. Tindakan ini bisa memperpanjang hidup beberapa bulan.

Sitoreduksi masih konteroversi belum ada penelitian yang jelas mengenai ekstensifitas reseksi tumor dengan lamanya hidup penderita. Beberapa peneliti berpendapat bahwa ada hubungan antara sitoreduksi dengan meningkatnya efektifitas terapi adjuvan oleh karena dengan sitoreduksi berarti berkurangnya jumlah sel tumor yang diterapi, meningkatnya kinetik sel, mengangkat sel hipoksik yang radio resisten dan mengangkat sel tumor yang sulit dicapai dengan kemoterapi.

Penyembuhan atau masa bebas tumor yang lama bisa dilakukan pada reseksi total dari hemangioblastoma, neurinoma akustik, juvenile astrocitic astrocytoma, adenoma hipofise, dan meningioma.

Keputusan untuk melakukan pembedahan dan reseksi tumor otak berbeda pada setiap penderita dan pada setiap tumor. Harus dipertimbangkan sebaik-baiknya keuntungan yang akan didapat oleh penderita dari operasi tersebut dengan kemungkinan defisit neurologis yang akan terjadi opersai tersebut. Faktor yang perlu diperhatikan dalam menganalisa untung ruginya tindakan pembedahan yang dilakukan adalah :

Lokasi tumor adalah faktor utama, misalnya tumor yang letaknya pada kortek dominan, hipotalamus, batang otak, sinus karvenosus dan tumor otak intrinsik dari chiasma optikum tidak perlu dilakukan reseksi total. Tumor ganas

mempunyai batas yang tidak jelas dan lebih luas dari pada apa yang terlihat dengan mata biasa. Bila reseksi total tidak dapat dilaksanakan, maka biasanya dilakukan pembuangan inkomplit untuk dekompresi. Tindakan ini seringkali dilaksanakan dengan cara “Suction” (penyedotan). Untuk tumor di fossa

posterior, dilakukan “splitting” (pemisahan) korteks serebelum, biasanya vermis dan dilaksanakan suction untuk membersihkan tumor. Pembedahan pada

meningoma biasanya sulit dilakukan karena sering terjadi perdarahan dan menyebabkan edema serebral. Pembedahan yang ideal pada tumor hipofisis dilakukan pengangkatan tumor beserta kapsulnya, namun pada kenyataannya kapsula tumor dibuka dan tumor dikuret atau disedot. Pembersihan atau pembuangan tumor ini sering inkomplit, tapi dekompresi chiasma dan nervus optikus dapat tercapai. Bila tumor menyebabkan hidrosefalus akibat obstruksi ventrikel III atau akuaduktus maka biasnya dilakukan ventrikulosisternotomy dengan cara memasang tube dari ventrikel lateral ke sisterna magna.

Ukuran tumor dan jumlah tumor, analisis yang terliti dari pemeriksaan radiologi bisa memberikan gambaran apakah tumornya infiltratif atau berdiferensiasi baik sehingga sangat resektabilitas tumor.

Status neurologis preoperatif penderita merupakan faktor yang sangat penting pada penderita dengan defisit neurologis yang berat oleh karena tumor yang besar perlu tindakan dekompresi segera. Defisit neurologis oleh karena pertumbuhan infiltratif dari tumor biasanya permanen dan tidak reversibel setelah operasi, kecuali kalau kejadiannya baru. Reseksi yang agresif kadang-kadang menyebabkan defisit neurologis justru bertambah setelah penderita dioperasi.

Kalau tumor multipel maka perlu pemeriksaan neurologis klinis yang seksama untuk menentukan tumor yamg memberikan gejala yang lebih dominan untuk diangkat terlebih dahulu kalau tidak mungkin mengangkat tumor sekaligus. Kondisi umum dan umur penderita juga sangat menentukan strategi penanganan penderita.

 Komplikasi yang dapat terjadi pada tindakan bedah antara lain edema otak, perdarahan, hidrosefalus postoperatif, dan infeksi postoperatif.

TERAPI RADIASI

Pada kasus-kasus yang tidak lagi resektabel atau tidak layak operasi atau pun menolak operasi maka radioterapi harus berperan sebagai modalitas tunggal. Kasus ini terjadi pada tumor yang letaknya sentral, pada batang otak, ventrikel III, dan pada tumor metastatik.

dilakukan setelah pembedahan, yakni bertujuan untuk mengeradikasi sisa-sisa sel tumor yang masih tertinggal baik secara mikroskopik dan bila mungkin juga untuk tumor yang masih tampak Tindakan adjuvan dilakukan pada astrositoma multiforme, ependimoma, oligodendroglioma, dan kraniofariongioma.

Radioterapi mulai diberikan 2 minggu postoperasi. Area yang diradiasi dan arah sinarnya tergantung dari lokasi tumornya. Untuk tumor yang luas dan besar, dosis radiasi mula-mula diberikan 100 rad 2-3 kali, kemudian disusul 150 rad 2-3 kali, seterusnya dosis harian bisa 200 rad 1 minggu 5 kali atau 300 rad 1 minggu 3 kali. Pemberian radiasi ini dibarengi dengan pemberian kortikosteroid dosis tinggi yang secara bertahap diturunkan. Hal ini untuk mengurangi edema otak. Dosis total antara 4000-6300 rad tergantung dari jenis histopatologis sel maupun luas tumor.

Komplikasi radiasi pada SSP terdiri dari :

o Akut (komplikasi radiasi akut) terjadi pada saat pemberian radiasi. Biasanya berupa udem dari otak.

o Awal post radiasi (early post irradiation syndrome) terjadi beberapa minggu sampai 3-4 bulan setelah selesai radiasi. Biasanya berupa demyelinisasi yang bersifat temporer.

o Late reaction (reaksi lanjut) terjadi 4 bulan setelah selesai radiasi sampai 5 tahun setelah radiasi. Biasanya berupa nekrosis jaringan otak atau infark karena penutupan pembuluh darah.

KEMOTERAPI

Pada umumnya kemoterapi diberikan pada pasien tumor otak yang inoperabel dan biasanya dikombinasikan dengan radioterapi. Sitostatika yang mempunyai respons baik dan memberikan hasil yang baik bila dikombinasikan dengan radioterapi adalah dari golongan nitrosurea yaitu BCNU dan CCNU yang

merupakan alkylating agents yang berfungsi meningkatkan perbaikan DNA dan menurunkan transpor ke dalam DNA. Selain obat golongan alkylating agents, dapat juga digunakan sitostatika lain yang juga dilaporkan cukup bermanfaat dalam pengobatan tumor otak, seperti : Vincristin, Cyclophosphamid, dan Methotrexate. Dapat juga dilakukan kombinasi sitostatika untuk mencegah resistensi.

Dalam dokumen CATATAN BEDAH (Halaman 101-105)