HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Data
4.2.1 Wujud Pragmatik Imperatif Tuturan Para Guru kepada Siswa Kelas VIII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta
4.2.1.7 Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Ajakan
Ajakan memiliki arti sebagai suatu permintaan atau anjuran supaya seseorang berbuat sesuatu. Ajakan juga mengandung arti sebagai undangan kepada mitra tutur agar turut ikut atau terlibat dalam suatu tindakan. Berdasarkan paparan tersebut, dapat dikatakan bahwa tuturan imperatif yang mengandung makna ajakan merupakan tuturan seseorang untuk meminta atau mengajak mitra tutur untuk turut ikut melakukan sesuatu bersama penutur.
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan 19 tuturan yang mengandung makna pragmatik ajakan. Peneliti memasukkan 5 data untuk dianalisis. Ajakan merupakan permintaan untuk melakukan sesuatu. Imperatif dengan makna ajakan biasanya ditandai dengan pemakaian penanda kesantunan mari atau ayo. Berikut beberapa tuturan yang mengandung makna pragmatik ajakan yang ditemukan dalam penelitian ini.
(23) “Mari kita amati materi”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPA yang diampu oleh Pak Aris pada Rabu, 13 Februari 2019 pukul 07.15-08.35 WIB. Guru menuturkan tuturan kepada siswa kelas VIII B. Tuturan terjadi saat guru masuk ke dalam kelas. Guru mempersiapkan laptop dan disambungkan ke LCD. Guru memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam dan mengajak siswa berdoa. Setelah itu guru mulai menjelaskan materi mengenai salah satu organ tubuh pada manusia yaitu ginjal. Guru menayangkan PPT yang berisi gambar organ ginjal dan penjelasan mengenai bagian-bagian pada ginjal.
Tuturan (23) dituturkan pada Rabu, 13 Februari 2019 saat jam pelajaran 1-2 yakni pukul 07.15-08.35 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPA. Mata pelajaran IPA diampu oleh seorang guru bernama Pak Aris. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran IPA di kelas VIII B. Pada tuturan “Mari kita amati materi”, Pak Aris selaku guru mata pelajaran IPA mengajak siswa mengamati materi mengenai salah satu organ tubuh pada manusia yaitu ginjal.
Berdasarkan data tuturan (23) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat pembelajaran sedang berlangsung. Tuturan terjadi saat guru masuk ke dalam kelas. Guru mempersiapkan laptop dan disambungkan ke LCD. Guru memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam
dan mengajak siswa berdoa. Setelah itu guru mulai menjelaskan materi mengenai salah satu organ tubuh pada manusia yaitu ginjal. Tuturan “Mari kita amati materi”, dituturkan guru karena guru menayangkan PPT yang berisi gambar organ ginjal dan penjelasan mengenai bagian-bagian pada ginjal. Tuturan (23) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif ajakan karena guru mengajak siswa mengamati materi tentang ginjal yang ditayangkan pada PPT. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya ajakan “Mari kita amati materi”. Tuturan tersebut dikatakan bermakna imperatif ajakan karena terdapat penggunaan penanda kesantunan mari. Hal itu sejalan dengan teori Rahardi (2005:106) yang menyatakan bahwa imperatif ajakan lazimnya digunakan dengan penanda kesantunan mari atau ayo. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah ajakan kepada siswa untuk mengamati materi mengenai salah satu organ tubuh pada manusia yaitu ginjal. Setelah guru menuturkan tuturan tersebut, para siswa segera memperhatikan tayangan PPT.
(24) “Hus, ayo biasakan anda menjadi pendengar yang baik.”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPS yang diampu oleh Pak Wahyu pada Sabtu, 16 Februari 2019 pukul 09.30-10.50 WIB. Guru menuturkan tuturan di kelas VIII B. Saat itu guru membentuk kelompok untuk berdiskusi. Setelah itu guru memberikan tugas kepada siswa untuk nantinya dipresentasikan. Ketika siswa telah selesai mengerjakan tugas kelompok. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok yang ingin maju presentasi. Lalu ada satu kelompok yang maju untuk presentasi. Ketika salah satu kelompok akan mulai mempresentasikan tugasnya, guru melihat dan mendengar siswa lain yang ribut sehingga situasi kelas tidak kondusif.
Tuturan (24) dituturkan pada Sabtu, 16 Februari 2019 saat jam pelajaran 4-5 yakni pukul 09.30-10.50 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPS. Mata pelajaran IPS diampu oleh seorang guru bernama Pak Wahyu. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran IPS di kelas VIII B. Pada tuturan “Hus, ayo biasakan anda menjadi pendengar yang baik.”, Pak Wahyu selaku guru mata pelajaran IPS mengajak siswa membiasakan diri menjadi pendengar yang baik dengan menghargai orang lain yang berbicara saat presentasi.
Berdasarkan data tuturan (24) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat pembelajaran sedang berlangsung. Saat itu guru membentuk kelompok untuk berdiskusi. Setelah itu guru memberikan tugas kepada siswa untuk nantinya dipresentasikan. Ketika siswa telah selesai mengerjakan tugas kelompok. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok yang ingin maju presentasi. Lalu ada satu kelompok yang maju untuk presentasi. Tuturan “Hus, ayo biasakan anda menjadi pendengar yang baik.” dituturkan guru karena ketika salah satu kelompok akan mulai mempresentasikan tugasnya, guru melihat dan mendengar siswa lain yang ribut sehingga situasi kelas tidak kondusif. Tuturan (24) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif ajakan karena guru mengajak membiasakan diri menjadi pendengar yang baik dengan menghargai orang lain yang berbicara saat presentasi. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya ajakan “ayo biasakan anda menjadi pendengar yang baik”. Tuturan tersebut dikatakan bermakna imperatif ajakan karena terdapat penggunaan
penanda kesantunan ayo. Hal itu sejalan dengan teori Rahardi (2005:106) yang menyatakan bahwa imperatif ajakan lazimnya digunakan dengan penanda kesantunan mari atau ayo. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah ajakan kepada siswa untuk membiasakan diri menjadi pendengar yang baik dengan menghargai orang lain yang berbicara saat presentasi. Setelah guru menuturkan tuturan tersebut, para siswa segera tenang dan mulai mendengarkan kelompok yang melakukan presentasi.
(25) “Ayo kita beri tepuk tangan kelompok ini”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPS yang diampu oleh Pak Wahyu pada Rabu, 20 Februari 2019 pukul 11.45-13.05 WIB. Guru menuturkan tuturan di kelas VIII B. Tuturan terjadi ketika pembelajaran berlangsung. Saat itu guru membentuk kelompok untuk berdiskusi. Setelah itu guru memberikan tugas kepada siswa untuk nantinya dipresentasikan. Ketika siswa telah selesai mengerjakan tugas kelompok. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok yang ingin maju presentasi. Lalu ada satu kelompok yang maju untuk presentasi. Setelah kelompok tersebut selesai presentasi, guru mengomentari presentasi kelompok dan memberikan saran kepada kelompok. Setelah itu, guru mengajak seluruh siswa untuk memberikan tepuk tangan kepada kelompok tersebut karena telah selesai mempresentasikan tugasnya. Tuturan (25) dituturkan pada Rabu, 20 Februari 2019 saat jam pelajaran 7-8 yakni pukul 11.45-13.05 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPS. Mata pelajaran IPS diampu oleh seorang guru bernama Pak Wahyu. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran IPS di kelas VIII B. Pada tuturan “Ayo kita beri tepuk tangan kelompok ini”, Pak Wahyu selaku guru mata pelajaran IPS mengajak siswa memberikan tepuk tangan kepada kelompok presentasi yang telah menyelesaikan presentasi di depan kelas.
Berdasarkan data tuturan (25) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat pembelajaran sedang berlangsung. Saat itu guru membentuk kelompok untuk berdiskusi. Setelah itu guru memberikan tugas kepada siswa untuk nantinya dipresentasikan. Ketika siswa telah selesai mengerjakan tugas kelompok. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok yang ingin maju presentasi. Lalu ada satu kelompok yang maju untuk presentasi. Tuturan “Ayo kita beri tepuk tangan kelompok ini” dituturkan guru karena setelah kelompok tersebut selesai presentasi, guru mengomentari presentasi kelompok dan memberikan saran kepada kelompok. Setelah itu, guru mengajak seluruh siswa untuk memberikan tepuk tangan kepada kelompok tersebut karena telah selesai mempresentasikan tugasnya. Tuturan (25) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif ajakan karena guru mengajak siswa memberikan tepuk tangan kepada kelompok presentasi yang telah menyelesaikan presentasi di depan kelas. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya ajakan “Ayo kita beri tepuk tangan kelompok ini”. Tuturan tersebut dikatakan bermakna imperatif ajakan karena terdapat penggunaan penanda kesantunan ayo. Hal itu sejalan dengan teori Rahardi (2005:106) yang menyatakan bahwa imperatif ajakan lazimnya digunakan dengan penanda kesantunan mari atau ayo. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah ajakan kepada siswa agar memberikan tepuk tangan kepada kelompok presentasi yang telah menyelesaikan presentasi di depan
kelas. Setelah guru menuturkan tuturan tersebut, para siswa segera memberikan tepuk tangan kepada kelompok presentasi.
(26) “Ayo, kita doa dulu!”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diampu oleh Pak Liliek pada Senin, 25 Februari 2019 pukul 11.45-13.05 WIB. Guru menuturkan tuturan di kelas VIII C. Tuturan terjadi saat guru masuk ke kelas. Lalu guru mempersiapkan laptop dan buku di atas meja. Guru menyapa siswa dengan memberi salam. Guru juga mengecek persiapan siswa mulai dari alat tulis dan buku hingga seragam sekolah. Saat guru itu guru juga memberikan motivasi kepada siswa agar tidak ngantuk karena pembelajaran berlangsung pada jam pelajaran siang. Ketika guru memberi motivasi kepada siswa, tiba-tiba terdengar bunyi bel pukul 12.00 WIB yang bertanda waktunya doa malaikat Tuhan.
Tuturan (26) dituturkan pada Senin, 25 Februari 2019 saat jam pelajaran 7-8 yakni pukul 11.45-13.05 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran Bahasa Indonesia. Mata pelajaran Bahasa Indonesia diampu oleh seorang guru bernama Pak Liliek. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VIII C. Pada tuturan “Ayo, kita doa dulu!”, Pak Liliek selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia mengajak siswa untuk bersiap-siap menjalankan doa Malaikat Tuhan.
Berdasarkan data tuturan (26) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat pembelajaran sedang berlangsung. Tuturan terjadi saat guru masuk ke kelas, lalu guru mempersiapkan laptop dan buku di atas meja. Guru menyapa siswa dengan memberi salam. Guru juga mengecek persiapan siswa mulai dari alat tulis dan buku hingga seragam sekolah. Saat guru itu guru juga memberikan motivasi kepada siswa agar tidak ngantuk karena pembelajaran berlangsung pada jam pelajaran siang. Tuturan “Ayo, kita doa dulu!” dituturkan guru ketika guru memberi motivasi kepada siswa, tiba-tiba
terdengar bunyi bel pukul 12.00 WIB yang bertanda waktunya doa malaikat Tuhan. Tuturan (26) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif ajakan karena guru mengajak siswa untuk bersiap-siap menjalankan doa Malaikat Tuhan. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya ajakan “Ayo kita doa dulu!”. Tuturan tersebut dikatakan bermakna imperatif ajakan karena terdapat penggunaan penanda kesantunan ayo. Hal itu sejalan dengan teori Rahardi (2005:106) yang menyatakan bahwa imperatif ajakan lazimnya digunakan dengan penanda kesantunan mari atau ayo. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah ajakan kepada siswa untuk bersiap-siap menjalankan doa Malaikat Tuhan. Setelah guru menuturkan tuturan tersebut, para siswa menciptakan suasana hening dan mempersiapkan diri untuk berdoa.
(27) “Ayo teruskan diskusinya”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPS yang diampu oleh Pak Wahyu pada Selasa, 11 Februari 2019 pukul 11.45-13.05 WIB. Guru menuturkan tuturan kepada siswa kelas VIII A. Tuturan terjadi saat guru membentuk siswa dalam sebuah kelompok. Lalu guru memberi tugas kepada siswa dan dikerjakan dalam kelompok. Guru berkeliling mengawasi dan membimbing siswa saat siswa sedang berdiskusi dalam kelompok. Kemudian, guru menghampiri salah satu kelompok yaitu kelompok Ailen. Guru menghampiri kelompok Ailen karena guru melihat kelompok mereka tidak berdiskusi tetapi asyik mengobrol dan bercanda dengan temannya.
Tuturan (27) dituturkan pada Selasa, 11 Februari 2019 saat jam pelajaran 7-8 yakni pukul 11.45-13.05 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPS. Mata pelajaran IPS diampu oleh seorang guru bernama Pak Wahyu. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran IPS di kelas VIII A. Pada
tuturan “Ayo teruskan diskusinya”, Pak Wahyu selaku guru mata pelajaran IPS mengajak kelompok Ailen agar berhenti mengobrol dan segera melanjutkan diskusi kelompok.
Berdasarkan data tuturan (27) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat pembelajaran sedang berlangsung. Tuturan terjadi saat guru membentuk siswa dalam sebuah kelompok. Lalu guru memberi tugas kepada siswa dan dikerjakan dalam kelompok. Guru berkeliling mengawasi dan membimbing siswa saat siswa sedang berdiskusi dalam kelompok. Kemudian, guru menghampiri salah satu kelompok yaitu kelompok Ailen. Tuturan “Ayo teruskan diskusinya” dituturkan guru ketika guru menghampiri kelompok Ailen karena guru melihat kelompok Ailen tidak berdiskusi tetapi asyik mengobrol dan bercanda dengan temannya. Tuturan (27) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif ajakan karena guru mengajak kelompok Ailen agar berhenti mengobrol dan segera melanjutkan diskusi kelompok. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya ajakan “Ayo teruskan diskusinya”. Tuturan tersebut dikatakan bermakna imperatif ajakan karena terdapat penggunaan penanda kesantunan ayo. Hal itu sejalan dengan teori Rahardi (2005:106) yang menyatakan bahwa imperatif ajakan lazimnya digunakan dengan penanda kesantunan mari atau ayo. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah ajakan kepada kelompok Ailen agar berhenti mengobrol dan segera melanjutkan diskusi
kelompok. Setelah guru menuturkan tuturan tersebut, kelompok Ailen segera berhenti mengobrol dan melanjutkan diskusi dengan teman kelompoknya.
Berdasarkan beberapa tuturan yang telah dideskripsikan di atas, tuturan-tuturan tersebut merupakan tuturan-tuturan yang mengandung makna pragmatik ajakan. Tuturan (23), (24), (25), (26), dan (27) hanya diketahui makna pragmatiknya melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya pada saat guru menyampaikan tuturan dalam pembelajaran di kelas. Tuturan-tuturan ajakan tersebut juga diwujudkan dengan penggunaan penanda kesantunan ayo atau mari. Hal itu sejalan dengan teori Rahardi (2005:106) yang menyatakan bahwa imperatif ajakan lazimnya digunakan dengan penanda kesantunan mari atau ayo.
4.2.1.8 Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Permintaan Izin