HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Data
4.2.1 Wujud Pragmatik Imperatif Tuturan Para Guru kepada Siswa Kelas VIII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta
4.2.1.11 Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Umpatan
Umpat memiliki arti sebagai perkataan yang keji, kotor dan sebagainya yang diucapkan karena seseorang dalam kondisi marah, jengkel dan kecewa. Umpat juga diartikan sebagai kutukan, menyumpahi, cercaan, makian dan sesalan. Umpatan merupakan hasil dari mengumpat/makian dalam bentuk mengeluarkan kata-kata keji seperti memburuk-burukkan orang. Umpatan juga dapat disebut sebagai hinaan atau perkataan kasar seseorang ketika kesal terhadap orang lain. Berdasarkan paparan tersebut, dapat dikatakan bahwa tuturan imperatif yang mengandung makna umpatan merupakan tuturan berupa kata-kata yang dilontarkan seseorang ketika merasa kesal dengan sesuatu/seseorang.
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan 2 tuturan yang mengandung makna pragmatik umpatan. Umpatan merupakan perkataan yang mengeluarkan kata-kata keji atau kotor karena marah atau kecewa. Berikut tuturan yang mengandung makna pragmatik umpatan yang ditemukan dalam penelitian ini.
(34) “Kalau anda buka media sosial, saya banting Hp mu nanti”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPS yang diampu oleh Pak Wahyu pada Rabu, 13 Februari 2019 pukul 11.45-13.05 WIB. Guru menuturkan tuturan kepada siswa kelas VIII B. Guru masuk ke dalam kelas dan mengucapkan salam kepada siswa. Kemudian guru memberitahukan bahwa kegiatan hari itu adalah diskusi dalam kelompok. Guru membentuk siswa dalam beberapa kelompok, lalu memberikan tugas kepada siswa. Guru memberi tugas kepada siswa untuk mencari informasi pada internet mengenai gubernur VOC. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menggunakan HP. Siswa mulai mengerjakan tugas secara berkelompok dan menggunakan gadget untuk mencari informasi. Tuturan terjadi saat guru berkeliling mengawasi siswa, lalu guru melihat ada siswa yang bermain media sosial dan tidak mengerjakan tugas.
Tuturan (34) dituturkan pada Rabu, 13 Februari 2019 saat jam pelajaran 7-8 yakni pukul 11.45-13.05 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPS. Mata pelajaran IPS diampu oleh seorang guru bernama Pak Wahyu. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran IPS di kelas VIII B. Pada tuturan “Kalau anda buka media sosial, saya banting Hp mu nanti”, Pak Wahyu selaku guru mata pelajaran IPS mengumpat siswa yang bermain media sosial dan menyalahgunakan kesempatan yang guru untuk memanfaatkan Hp.
Berdasarkan data tuturan (34) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat pembelajaran sedang berlangsung. Guru masuk ke dalam kelas dan mengucapkan salam kepada siswa. Kemudian guru memberitahukan bahwa kegiatan hari itu adalah diskusi dalam kelompok. Guru membentuk siswa dalam beberapa kelompok, lalu memberikan tugas kepada siswa. Guru memberi tugas kepada siswa untuk mencari informasi pada internet mengenai gubernur VOC. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menggunakan HP. Siswa mulai mengerjakan tugas secara berkelompok dan menggunakan gadget untuk mencari informasi. Tuturan “Kalau anda buka
media sosial, saya banting Hp mu nanti” dituturkan guru karena saat guru berkeliling mengawasi siswa, guru melihat ada siswa yang bermain media sosial dan tidak mengerjakan tugas. Tuturan (34) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif umpatan karena guru mengumpat siswa yang bermain media sosial dan menyalahgunakan kesempatan yang guru untuk memanfaatkan Hp. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya umpatan “Saya banting Hp mu nanti”. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah tuturan umpatan kepada siswa yang bermain media sosial karena telah menyalahgunakan kesempatan yang guru untuk memanfaatkan Hp. Setelah guru menuturkan tuturan itu, para siswa saling mengingatkan temannya untuk tidak membuka media sosial dan fokus mencari informasi di internet.
(35) “Makanya kalau kamu gak bawa ya perhatikan. Mau maju tapi gak ada yang mau dimajukan!”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPS yang diampu oleh Pak Wahyu pada Sabtu, 16 Februari 2019 pukul 09.30-10.50 WIB. Guru menuturkan tuturan di kelas VIII B. Guru masuk ke dalam kelas dan mengucapkan salam kepada siswa. Kemudian guru memulai pembelajaran dengan menyuruh siswa mempresentasikan tugas yang telah diberikan sebelumnya. Guru menunjuk salah satu siswa untuk maju presentasi, namun siswa tersebut tidak maju. Tuturan terjadi saat guru menegur siswa yang tidak mau maju presentasi padahal sudah ditunjuk. Alasan siswa itu tidak maju karena ia tidak membawa file. Guru berbicara dengan intonasi yang sedikit keras hingga membuat siswa lain diam.
Tuturan (35) dituturkan pada Sabtu, 16 Februari 2019 saat jam pelajaran 4-5 yakni pukul 09.30-10.50 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPS. Mata pelajaran IPS diampu oleh seorang guru bernama Pak Wahyu. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran IPS di kelas VIII B. Pada
tuturan “Makanya kalau kamu gak bawa ya perhatikan. Mau maju tapi gak ada yang mau dimajukan!”, Pak Wahyu selaku guru mata pelajaran IPS mengumpat siswa yang tidak maju presentasi karena tidak membawa file.
Berdasarkan data tuturan (35) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat pembelajaran sedang berlangsung. Guru masuk ke dalam kelas dan mengucapkan salam kepada siswa. Kemudian guru memulai pembelajaran dengan menyuruh siswa mempresentasikan tugas yang telah diberikan sebelumnya. Tuturan “Makanya kalau kamu gak bawa ya perhatikan. Mau maju tapi gak ada yang mau dimajukan!” dituturkan guru karena saat guru menunjuk salah satu siswa untuk maju presentasi, siswa tersebut tidak maju. Tuturan terjadi saat guru menegur siswa yang tidak mau maju presentasi padahal sudah ditunjuk. Alasan siswa itu tidak maju karena ia tidak membawa file. Guru berbicara dengan intonasi yang sedikit keras hingga membuat siswa lain diam. Tuturan (35) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif umpatan karena guru mengumpat siswa yang tidak maju presentasi karena tidak membawa file. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya umpatan “Mau maju tapi gak ada yang mau dimajukan!” yang seakan-akan tidak ada hal yang bisa dikembangkan dari siswa tersebut karena hal kecil saja tidak dipedulikannya. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah tuturan umpatan kepada siswa yang tidak maju presentasi karena tidak membawa file.
Berdasarkan beberapa tuturan yang telah dideskripsikan di atas, tuturan-tuturan tersebut merupakan tuturan-tuturan yang mengandung makna pragmatik umpatan. Tuturan (34), dan (35) hanya diketahui makna pragmatiknya melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya pada saat guru menyampaikan tuturan dalam pembelajaran di kelas. Tuturan-tuturan umpatan tersebut diwujudkan dengan penggunaan kata-kata yang keji karena diucapkan guru saat sedang marah dan kecewa. Hal itu sejalan dengan pernyataan bahwa imperatif yang mengandung makna umpatan memiliki arti sebagai perkataan yang keji, kotor dan sebagainya yang diucapkan karena seseorang dalam kondisi marah, jengkel dan kecewa.