HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Data
4.2.1 Wujud Pragmatik Imperatif Tuturan Para Guru kepada Siswa Kelas VIII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta
4.2.1.5 Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Imbauan
Imbauan memiliki arti seruan, panggilan, permintaan, ajakan agar seseorang melakukan sesuatu. Kalimat imbauan merupakan kalimat yang digunakan untuk mengajak seseorang untuk bertindak atau jangan bertindak sesuai isi imbauan. Berdasarkan paparan tersebut, dapat dikatakan bahwa tuturan imperatif yang mengandung makna imbauan merupakan tuturan seseorang untuk mengajak atau melarang mitra tutur untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan 6 tuturan yang mengandung makna pragmatik imbauan. Peneliti memasukkan 4 data untuk dianalisis. Imbauan merupakan suatu permintaan atau ajakan. Imperatif yang mengandung makna imbauan lazimnya digunakan bersama partikel -lah dan dengan ungkapan penanda kesantunan harap dan mohon. Berikut beberapa tuturan yang mengandung makna pragmatik imbauan yang ditemukan dalam penelitian ini.
(14) “Banyak hal yang kita tidak tahu karena kita jarang baca, kita jarang sharing, maka membacalah”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPA yang diampu oleh Pak Aris pada Rabu, 13 Februari 2019 pukul 07.15-08.35 WIB. Guru menuturkan tuturan kepada siswa kelas VIII B. Tuturan terjadi saat pembelajaran berlangsung. Guru menjelaskan materi mengenai pernapasan manusia. Kemudian di tengah pembelajaran, guru bertanya mengenai maksud pernapasan diafragma. Guru beberapa kali memberikan pertanyaan tersebut kepada beberapa siswa, tetapi tidak ada siswa yang bisa menjawab.
Tuturan (14) dituturkan pada Rabu, 13 Februari 2019 saat jam pelajaran 1-2 yakni pukul 07.15-08.35 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPA. Mata pelajaran IPA diampu oleh seorang guru bernama Pak Aris. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran IPA di kelas VIII B. Pada tuturan “Banyak hal yang kita tidak tahu karena kita jarang baca, kita jarang sharing, maka membacalah”, Pak Aris selaku guru mata pelajaran IPA mengimbau siswa untuk banyak membaca sehingga dapat menambah pengetahuan.
Berdasarkan data tuturan (14) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat pembelajaran berlangsung. Guru menjelaskan materi mengenai pernapasan manusia. Kemudian di tengah pembelajaran, guru bertanya mengenai maksud pernapasan diafragma. Tuturan “Banyak hal yang kita tidak tahu karena kita jarang baca, kita jarang sharing, maka membacalah” dituturkan karena guru sudah beberapa kali memberikan pertanyaan tersebut kepada beberapa siswa, tetapi tidak ada siswa yang bisa menjawab. Tuturan (14) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif imbauan karena guru mengimbau agar siswa banyak membaca. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya imbauan “maka membacalah” Tuturan tersebut dikatakan bermakna imperatif imbauan karena terdapat penggunaan partikel -lah pada membacalah. Hal itu sejalan dengan pernyataan bahwa imperatif yang mengandung makna imbauan, lazimnya digunakan bersama partikel -lah. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut
sebagai sebuah imbauan agar siswa banyak membaca sehingga dapat menambah pengetahuan. Setelah guru menuturkan tuturan tersebut, ada beberapa siswa yang segera membuka buku dan berusaha mencari jawaban dari pertanyaan guru.
(15) “Jagalah hati dan jagalah kebersihan agar kalian selalu sehat”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPA yang diampu oleh Pak Aris pada Rabu, 13 Februari 2019 pukul 07.15-08.35 WIB. Guru menuturkan tuturan kepada siswa kelas VIII B. Tuturan terjadi saat guru menjelaskan materi mengenai pernapasan manusia. Kemudian di tengah pembelajaran, guru menceritakan beberapa cerita mengenai orang-orang yang ia kenal dan menderita penyakit pernapasan. Guru menceritakan kepada siswa mengenai penyakit paru-paru yang diderita oleh orang-orang yang ia kenal. Para siswa sangat serius mendengarkan cerita guru karena sangatlah mengundang perhatian dan berkaitan dengan kesehatan paru-paru. Guru menjelaskan pentingnya menjaga kesehatan hati dan kebersihan diri dan lingkungan agar tidak menderita penyakit yang berkaitan dengan pernapasan.
Tuturan (15) dituturkan pada Rabu, 13 Februari 2019 saat jam pelajaran 1-2 yakni pukul 07.15-08.35 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPA. Mata pelajaran IPA diampu oleh seorang guru bernama Pak Aris. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran IPA di kelas VIII B. Pada tuturan “Jagalah hati dan jagalah kebersihan agar kalian selalu sehat”, Pak Aris selaku guru mata pelajaran IPA mengimbau siswa untuk menjaga kesehatan hati dan menjaga kebersihan diri dan lingkungan agar tetap sehat.
Berdasarkan data tuturan (15) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat guru menjelaskan materi mengenai pernapasan manusia. Kemudian di tengah pembelajaran, guru menceritakan beberapa cerita mengenai orang-orang yang ia kenal dan menderita penyakit pernapasan. Guru menceritakan kepada siswa mengenai penyakit paru-paru yang diderita oleh orang-orang yang ia kenal. Tuturan “Jagalah hati dan jagalah
kebersihan agar kalian selalu sehat” dituturkan karena guru melihat para siswa sangat serius mendengarkan cerita guru karena sangatlah mengundang perhatian dan berkaitan dengan kesehatan paru-paru. Guru menjelaskan pentingnya menjaga kesehatan hati dan kebersihan diri dan lingkungan agar tidak menderita penyakit yang berkaitan dengan pernapasan. Tuturan (15) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif imbauan karena guru mengimbau agar siswa menjaga hati dan kebersihan. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya imbauan “Jagalah hati dan jagalah kebersihan”. Tuturan tersebut dikatakan bermakna imperatif imbauan karena terdapat penggunaan partikel -lah pada jagalah. Hal itu sejalan dengan pernyataan bahwa imperatif yang mengandung makna imbauan, lazimnya digunakan bersama partikel -lah. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah imbauan agar siswa menjaga kesehatan hati dan menjaga kebersihan diri dan lingkungan agar tetap sehat. Setelah guru menuturkan tuturan tersebut, beberapa siswa memberi respon dengan menganggukkan kepala bertanda mereka memahami maksud guru.
(16) “Wes, ra usah mengeluh, kerjakanlah tugas tanpa keluhan!” (Sudah, tidak perlu mengeluh, kerjakanlah tugas tanpa keluhan)
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPA yang diampu oleh Pak Aris pada Jumat, 15 Februari 2019 pukul 09.30-10.50 WIB. Guru menuturkan tuturan di kelas VIII D. Tuturan terjadi saat guru menjelaskan materi mengenai pernapasan manusia. Setelah guru selesai menjelaskan materi pernapasan, guru memberikan tugas kepada siswa. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membuat 20 pertanyaan mengenai materi pernapasan. Kemudian ada siswa yang mengeluh karena tugas yang diberikan terlalu berat.
Tuturan (16) dituturkan pada Jumat, 15 Februari 2019 saat jam pelajaran 4-5 yakni pukul 09.30-10.50 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPA. Mata pelajaran IPA diampu oleh seorang guru bernama Pak Aris. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran IPA di kelas VIII D. Pada tuturan “Wes, ra usah mengeluh, kerjakanlah tugas tanpa keluhan!” (Sudah, tidak perlu mengeluh, kerjakanlah tugas tanpa keluhan), Pak Aris selaku guru mata pelajaran IPA mengimbau siswa agar tidak mengeluh saat diberikan tugas. Berdasarkan data tuturan (16) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat guru menjelaskan materi mengenai pernapasan manusia. Setelah guru selesai menjelaskan materi pernapasan, guru memberikan tugas kepada siswa. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membuat 20 pertanyaan mengenai materi pernapasan. Tuturan “Wes, ra usah mengeluh, kerjakanlah tugas tanpa keluhan!” dituturkan guru karena ada siswa yang mengeluh karena merasa tugas yang diberikan terlalu berat. Tuturan (16) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif imbauan karena guru mengimbau siswa agar tidak mengeluh saat diberikan tugas. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya imbauan “Kerjakanlah tugas tanpa keluhan”. Tuturan tersebut dikatakan bermakna imperatif imbauan karena terdapat penggunaan partikel -lah pada kerjakanlah. Hal itu sejalan dengan pernyataan bahwa imperatif yang mengandung makna imbauan, lazimnya digunakan bersama partikel -lah. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah imbauan kepada siswa agar tidak mengeluh saat
diberikan tugas. Setelah guru menuturkan tuturan itu, siswa tidak mengeluh lagi dan mulai mengerjakan tugas.
(17) “Kalian sebagai remaja haruslah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dalam menggunakan internet.”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diampu oleh Pak Liliek pada Selasa, 19 Februari 2019 pukul 11.45-13.05 WIB. Guru menuturkan tuturan di kelas VIII D. Tuturan terjadi saat pembelajaran sedang berlangsung. Guru menjelaskan materi mengenai teks persuasif. Kemudian, guru menyuruh siswa untuk membaca contoh bacaan persuasif yang ada pada buku mengenai peggunaan internet. Setelah guru dan siswa selesai membaca, guru mengajak siswa menarik kesimpulan dari bacaan tersebut.
Tuturan (17) dituturkan pada Selasa, 19 Februari 2019 saat jam pelajaran 7-8 yakni pukul 11.45-13.05 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran Bahasa Indonesia. Mata pelajaran Bahasa Indonesia diampu oleh seorang guru bernama Pak Liliek. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VIII D. Pada tuturan “Kalian sebagai remaja haruslah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dalam menggunakan internet.”, Pak Liliek selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia mengimbau siswa agar bijak menggunakan internet sehingga siswa dapat membedakan hal yang baik dan buruk.
Berdasarkan data tuturan (17) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat pembelajaran sedang berlangsung. Guru menjelaskan materi mengenai teks persuasif. Kemudian, guru menyuruh siswa untuk membaca contoh bacaan persuasif yang ada pada buku mengenai peggunaan internet. Tuturan “Kalian sebagai remaja haruslah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dalam menggunakan internet.” dituturkan guru setelah guru dan siswa selesai membaca, lalu guru mengajak siswa menarik
kesimpulan dari bacaan tersebut. Tuturan (17) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif imbauan karena guru mengimbau siswa agar bijak menggunakan internet sehingga siswa dapat membedakan hal yang baik dan buruk. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya imbauan “Kalian sebagai remaja haruslah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk”. Tuturan tersebut dikatakan bermakna imperatif imbauan karena terdapat penggunaan partikel -lah pada haruslah. Hal itu sejalan dengan pernyataan bahwa imperatif yang mengandung makna imbauan, lazimnya digunakan bersama partikel -lah. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah imbauan kepada siswa agar bijak menggunakan internet sehingga siswa dapat membedakan hal yang baik dan buruk. Setelah guru menuturkan tuturan itu, siswa memberi respon dengan menganggukkan kepala.
Berdasarkan beberapa tuturan yang telah dideskripsikan di atas, tuturan-tuturan tersebut merupakan tuturan-tuturan yang mengandung makna pragmatik imbauan. Tuturan (14), (15), (16), dan (17) hanya diketahui makna pragmatiknya melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya pada saat guru menyampaikan tuturan dalam pembelajaran di kelas. Tuturan-tuturan imbauan tersebut juga diwujudkan dengan penggunaan partikel -lah. Hal itu sejalan dengan pernyataan bahwa imperatif yang mengandung makna imbauan, lazimnya digunakan bersama partikel -lah.