HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Data
4.2.1 Wujud Pragmatik Imperatif Tuturan Para Guru kepada Siswa Kelas VIII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta
4.2.1.1 Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Perintah
Kalimat perintah merupakan kalimat yang mengandung makna memerintah seseorang untuk melakukan sesuatu. Arti kalimat perintah adalah kalimat yang isinya menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki. Berdasarkan paparan tersebut, dapat dikatakan bahwa tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif merupakan tuturan yang memiliki maksud memerintah seseorang untuk melakukan sesuatu.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah ditriangulasi, peneliti menemukan 87 tuturan yang mengandung makna pragmatik perintah. Peneliti memasukkan 5 data untuk dianalisis. Tuturan perintah merupakan perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu. Makna tuturan dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya. Berikut beberapa
tuturan yang mengandung makna pragmatik perintah yang ditemukan dalam penelitian ini.
(1) “Sekarang anda berdiskusi untuk membuat pertanyaan tentang gambar itu! Pertanyaan minimal dua maksimal empat, buatlah satu kelompok empat anggota!”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPS yang diampu oleh Pak Wahyu pada Selasa, 11 Februari 2019 pukul 11.45-13.05 WIB. Guru menuturkan tuturan kepada siswa kelas VIII A. Tuturan terjadi saat guru menjelaskan materi mengenai masa penjajahan di Indonesia. Setelah guru menjelaskan materi, guru menayangkan gambar pada layar LCD. Guru menayangkan gambar Gubernur VOC, lalu guru meminta siswa untuk memperhatikan gambar tersebut. Sesudah seluruh siswa selesai memperhatikan gambar tersebut, guru memberikan tugas kepada siswa. Tugas yang diberikan guru yaitu berdiskusi untuk membuat pertanyaan tentang gambar yang ditayangkan. Pertanyaan yang harus dibuat siswa minimal dua dan maksimal empat nomor. Guru juga memerintah siswa untuk membentuk kelompok dengan anggota berjumlah empat orang. Tuturan (1) dituturkan pada Selasa, 11 Februari 2019 saat jam pelajaran 7-8 yakni pukul 11.45-13.05 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPS. Mata pelajaran IPS diampu oleh seorang guru bernama Pak Wahyu. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran IPS di kelas VIII A. Pada tuturan “Sekarang anda berdiskusi untuk membuat pertanyaan tentang gambar itu! Pertanyaan minimal dua maksimal empat, buatlah satu kelompok empat anggota!”, Pak wahyu selaku guru mata pelajaran IPS memberikan tugas kepada siswa dan memerintahkan siswa untuk membentuk kelompok.
Berdasarkan data tuturan (1) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Saat itu guru sedang menjelaskan materi mengenai masa penjajahan di Indonesia. Setelah guru menjelaskan materi, guru menayangkan gambar pada layar LCD. Guru menayangkan gambar Gubernur VOC, lalu guru memeberitahu siswa untuk memperhatikan gambar tersebut. Tuturan “Sekarang
anda berdiskusi untuk membuat pertanyaan tentang gambar itu! Pertanyaan minimal dua maksimal empat, buatlah satu kelompok empat anggota!”, dituturkan guru karena sesudah seluruh siswa selesai memperhatikan gambar tersebut, guru memberikan tugas kepada siswa. Tuturan (1) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif perintah karena guru memerintahkan siswa untuk melakukan sesuatu. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya perintah “Sekarang, anda berdiskusi untuk membuat pertanyaan tentang gambar itu! dan “buatlah satu kelompok empat anggota!”. Dalam bahasa Indonesia, tuturan imperatif biasanya memiliki ciri-ciri yang salah satunya adalah berpartikel -lah. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah perintah kepada siswa agar berdiskusi dan membuat pertanyaan dengan syarat minimal dua dan maksimal empat pertanyaan. Selain itu guru juga memerintah siswa untuk mengerjakan tugas tersebut dalam bentuk kelompok dengan anggota berjumlah empat orang. Setelah guru menuturkan tuturan tersebut, para siswa segera membentuk kelompok dan mulai mengerjakan tugas.
(2) “Yang piket hari Selasa, berdiri!”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPA yang diampu oleh Pak Aris pada Rabu, 13 Februari 2019 pukul 07.15-08.35 WIB. Guru menuturkan tuturan kepada siswa kelas VIII B. Tuturan terjadi saat guru masuk ke dalam kelas. Sebelum memulai pembelajaran, guru berkeliling untuk melihat situasi kelas dan persiapan siswa. Ketika guru sedang berkeliling melihat situasi kelas, guru kaget dan cukup marah ketika melihat kondisi kelas yang kotor karena terdapat sampah-sampah yang berserakan di bawah kursi siswa. Guru menyampaikan tuturan kepada siswa dengan wajah yang cukup serius karena tidak ada satu pun siswa yang berinisiatif memungut sampah itu dan peduli terhadap kebersihan kelas. Setelah itu guru memerintahkan siswa yang bertugas
piket hari Selasa untuk berdiri karena mereka memiliki tanggungjawab membersihkan kelas.
Tuturan (2) dituturkan pada Rabu, 13 Februari 2019 saat jam pelajaran 1-2 yakni pukul 07.15-08.35 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPA. Mata pelajaran IPA diampu oleh seorang guru bernama Pak Aris. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran IPA di kelas VIII B. Pada tuturan “Yang piket hari Selasa, berdiri!”, Pak Aris selaku guru mata pelajaran IPA memerintahkan siswa yang bertugas piket untuk segera berdiri.
Berdasarkan data tuturan (2) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Saat itu guru masuk ke dalam kelas. Sebelum memulai pembelajaran, guru berkeliling untuk melihat situasi kelas dan persiapan siswa. Tuturan “Yang piket hari Selasa, berdiri!”, dituturkan guru karena ketika guru sedang berkeliling melihat situasi kelas, guru kaget dan cukup marah ketika melihat kondisi kelas yang kotor karena terdapat sampah-sampah yang berserakan di bawah kursi siswa. Guru menyampaikan tuturan kepada siswa dengan wajah yang cukup serius karena tidak ada satu pun siswa yang berinisiatif memungut sampah itu dan peduli terhadap kebersihan kelas. Setelah itu guru memerintahkan siswa yang bertugas piket hari Selasa untuk berdiri karena mereka memiliki tanggungjawab membersihkan kelas. Guru dan seluruh siswa sudah mengetahui bahwa setiap siswa di SMP Pangudi Luhur memiliki jadwal piket yang sudah ditentukan. Tuturan (2) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif perintah karena guru memerintahkan siswa untuk melakukan sesuatu. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya perintah “berdiri!”. Tuturan guru mengandung tindak tutur
ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah perintah kepada siswa yang bertugas piket hari Selasa untuk berdiri. Setelah guru menuturkan tuturan tersebut, empat siswa yang bertugas piket hari Selasa segera berdiri.
(3) “Untuk yang sudah selesai, pelajarilah halaman 133!”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diampu oleh Bu Rini pada Selasa, 19 Februari 2019 pukul 07.15-08.35 WIB. Guru menuturkan tuturan di kelas VIII G. Tuturan terjadi saat guru bersama-sama dengan siswa membahas materi mengenai teks persuasif yang terdapat pada buku. Setelah berdiskusi bersama dengan siswa, guru memberikan soal latihan kepada siswa. Guru memberikan batas waktu 10 menit kepada siswa untuk mengerjakan soal pilihan ganda nomor 21 sampai 25. Ketika siswa sedang mengerjakan soal, guru melihat ada siswa yang sudah selesai dan sebagian lagi masih mengerjakan soal. Guru menuturkan tuturan tersebut kepada siswa yang sudah selesai mengerjakan soal sehingga bisa segera memanfaatkan waktu luangnya untuk mempelajari materi berikutnya pada halaman 133. Guru memberikan tugas mempelajari materi tersebut sembari menunggu siswa lain selesai mengerjakan soal.
Tuturan (3) dituturkan pada Selasa, 19 Februari 2019 saat jam pelajaran 1-2 yakni pukul 07.15-08.35 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran Bahasa Indonesia. Mata pelajaran Bahasa Indonesia diampu oleh seorang guru bernama Bu Rini. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VIII G. Pada tuturan “Untuk yang sudah selesai, pelajarilah halaman 133!”, Bu Rini selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia memerintahkan siswa yang sudah selesai mengerjakan tugas untuk segera mempelajari materi halaman 133.
Berdasarkan data tuturan (3) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Saat itu guru bersama-sama dengan siswa membahas materi mengenai teks persuasif yang terdapat pada buku. Setelah berdiskusi
bersama dengan siswa, guru memberikan soal latihan kepada siswa. Guru memberikan batas waktu 10 menit kepada siswa untuk mengerjakan soal pilihan ganda nomor 21 sampai 25. Tuturan “Untuk yang sudah selesai, pelajarilah halaman 133!” dituturkan guru karena ketika siswa sedang mengerjakan soal, guru melihat ada siswa yang sudah selesai dan sebagian lagi masih mengerjakan soal. Guru menuturkan tuturan tersebut kepada siswa yang sudah selesai mengerjakan soal sehingga bisa segera memanfaatkan waktu luangnya untuk mempelajari materi berikutnya pada halaman 133. Guru memberikan tugas mempelajari materi tersebut sembari menunggu siswa lain selesai mengerjakan soal. Tuturan (3) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif perintah karena guru memerintahkan siswa untuk melakukan sesuatu. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya perintah “pelajarilah halaman 133!”. Dalam bahasa Indonesia, tuturan imperatif biasanya memiliki ciri-ciri yang salah satunya adalah berpartikel -lah. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah perintah kepada siswa yang sudah selesai mengerjakan soal sehingga bisa segera memanfaatkan waktu luangnya untuk mempelajari materi berikutnya pada halaman 133. Setelah guru menuturkan tuturan tersebut, beberapa siswa yang sudah selesai mengerjakan soal segera membuka halaman 133 dan mempelajari materi pada halaman tersebut.
(4) “Tugasnya dikumpulkan!”
Konteks:Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPA yang diampu oleh Pak Aris pada Rabu, 20 Februari 2019 pukul 07.15-08.35 WIB. Guru menuturkan tuturan di kelas VIII B. Tuturan terjadi sebelum guru memulai pembelajaran. Guru melihat ada siswa yang sibuk mengerjakan tugas yang diberikan pada hari sebelumnya. Melihat hal itu, guru
memberitahu siswa untuk segera mengumpulkan tugas. Lalu, perwakilan masing-masing kelompok segera berdiri dan mengumpulkan tugas dari satu kelompok ke kelompok lain dan membawanya ke meja guru.
Tuturan (4) dituturkan pada Rabu, 20 Februari 2019 saat jam pelajaran 1-2 yakni pukul 07.15-08.35 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPA. Mata pelajaran IPA diampu oleh seorang guru bernama Pak Aris. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran IPA di kelas VIII B. Pada tuturan “Tugasnya dikumpulkan!”, Pak Aris selaku guru mata pelajaran IPA memerintahkan siswa untuk segera mengumpulkan tugas yang diberikan pada pertemuan sebelumnya.
Berdasarkan data tuturan (4) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi sebelum guru memulai pembelajaran. Tuturan “Tugasnya dikumpulkan!”, dituturkan guru karena ketika guru melihat ada siswa yang sibuk mengerjakan tugas yang diberikan pada hari sebelumnya. Melihat hal itu, guru memberitahu siswa untuk segera mengumpulkan tugas. Lalu, perwakilan masing-masing kelompok segera berdiri dan mengumpulkan tugas dari satu kelompok ke kelompok lain dan membawanya ke meja guru. Tuturan (4) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif perintah karena guru memerintahkan siswa untuk melakukan sesuatu. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya perintah “Tugasnya dikumpulkan!”. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah perintah kepada siswa agar segera mengumpulkan tugas yang diberikan sebelum pembelajaran dimulai. Setelah guru menuturkan tuturan tersebut,
perwakilan masing-masing kelompok segera berdiri dan mengumpulkan tugas dari satu kelompok ke kelompok lain dan membawanya ke meja guru.
(5) “Sekarang, ngomongnya dikurangi, bentuk kelompok dulu!”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPA yang diampu oleh Pak Aris pada Rabu, 20 Februari 2019 pukul 07.15-08.35 WIB. Guru menuturkan tuturan di kelas VIII B. Tuturan terjadi setelah guru dan siswa selesai berdiskusi mengenai sistem pernapasan pada manusia. Kemudian, guru memerintah siswa untuk mengerjakan tugas dalam kelompok. Namun, ada siswa yang belum membentuk kelompok. Ada pula sebagian siswa yang cukup gaduh dalam membentuk dan menentukan anggota kelompok. Guru menuturkan tuturan tersebut karena kegaduhan yang dilakukan siswa dalam membentuk kelompok dan bahkan ada siswa yang belum membentuk kelompok sama sekali. Tuturan (5) dituturkan pada Rabu, 20 Februari 2019 saat jam pelajaran 1-2 yakni pukul 07.15-08.35 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPA. Mata pelajaran IPA diampu oleh seorang guru bernama Pak Aris. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran IPA di kelas VIII B. Pada tuturan “Sekarang, ngomongnya dikurangi, bentuk kelompok dulu!”, Pak Aris selaku guru mata pelajaran IPA memerintahkan siswa untuk mengurangi obrolan dengan teman agar bisa segera membentuk kelompok.
Berdasarkan data tuturan (5) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi setelah guru dan siswa selesai berdiskusi mengenai sistem pernapasan pada manusia. Kemudian, guru memerintah siswa untuk mengerjakan tugas dalam kelompok. Tuturan “Sekarang, ngomongnya dikurangi, bentuk kelompok dulu!”, dituturkan guru karena ada siswa yang belum membentuk kelompok. Ada pula sebagian siswa yang cukup gaduh dalam membentuk dan menentukan anggota kelompok. Guru menuturkan tuturan tersebut karena kegaduhan yang dilakukan siswa dalam membentuk kelompok
dan bahkan ada siswa yang belum membentuk kelompok sama sekali. Tuturan (5) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif perintah karena guru memerintahkan siswa untuk melakukan sesuatu. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya perintah “bentuk kelompok dulu!”. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah perintah kepada siswa agar tidak mengobrol dan membuat kegaduhan serta agar siswa segera membentuk kelompok. Setelah guru menuturkan tuturan tersebut, para siswa bergegas membentuk kelompok mereka dengan tertib.
Berdasarkan beberapa tuturan yang telah dideskripsikan di atas, tuturan-tuturan tersebut merupakan tuturan-tuturan yang mengandung makna pragmatik perintah. Tuturan-tuturan itu sesuai dengan pengertian wujud makna pragmatik perintah menurut teori Rahardi (2005:93) bahwa dalam pemakaian bahasa Indonesia, makna pragmatik imperatif perintah hanya diketahui makna pragmatiknya melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya. Sejalan dengan hal tersebut, data tuturan (1), (2), (3), (4), dan (5) memiliki wujud tuturan imperatif dengan makna pragmatiknya masing-masing yang dapat diketahui berdasarkan konteks yang terjadi saat guru menyampaikan tuturan dalam pembelajaran di kelas.