HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Data
4.2.1 Wujud Pragmatik Imperatif Tuturan Para Guru kepada Siswa Kelas VIII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta
4.2.1.6 Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Persilaan
Persilaan memiliki arti meminta secara lebih hormat kepada seseorang untuk melakukan sesuatu. Persilaan juga dapat diartikan sebagai kata perintah yang halus atau sopan. Berdasarkan paparan tersebut, dapat dikatakan bahwa tuturan imperatif yang mengandung makna persilaan merupakan tuturan seseorang untuk meminta atau mempersilakan mitra tutur untuk melakukan sesuatu dengan perintah yang halus dan sopan.
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan 12 tuturan yang mengandung makna pragmatik persilaan. Peneliti memasukkan 5 data untuk dianalisis. Persilaan merupakan kata perintah yang halus. Imperatif persilaan lazimnya digunakan dengan penanda kesantunan silakan. Berikut beberapa tuturan yang mengandung makna pragmatik persilaan yang ditemukan dalam penelitian ini.
(18) “Oke,silakan kembali ke tempat duduk masing-masing”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPS yang diampu oleh Pak Wahyu pada Selasa, 11 Februari 2019 pukul 11.45-13.05 WIB. Guru menuturkan tuturan kepada siswa kelas VIII A. Tuturan terjadi saat pembelajaran. Guru membentuk siswa dalam sebuah kelompok. Kemudian guru memberikan tugas kepada siswa. Selama pembelajaran, siswa mengerjakan tugas bersama kelompok. Saat seluruh kelompok telah menyelesaikan tugasnya, guru melihat waktu pelajaran segera usai.Guru mempersilakan siswa untuk bubar dari kelompok dan kembali ke tempat duduk masing-masing.
Tuturan (18) dituturkan pada Selasa, 11 Februari 2019 saat jam pelajaran 7-8 yakni pukul 11.45-13.05 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPS. Mata pelajaran IPS diampu oleh seorang guru bernama Pak Wahyu. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas
VIII A. Pada tuturan “Oke,silakan kembali ke tempat duduk masing-masing”, Pak Wahyu selaku guru mata pelajaran IPS mempersilakan siswa untuk bubar dari kelompok dan segera kembali ke tempat duduk masing-masing.
Berdasarkan data tuturan (18) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat pembelajaran sedang berlangsung. Saat itu guru membentuk siswa dalam sebuah kelompok. Kemudian guru memberikan tugas kepada siswa. Selama pembelajaran, siswa mengerjakan tugas bersama kelompok. Tuturan “Oke, silakan kembali ke tempat duduk masing-masing” dituturkan guru karena saat seluruh kelompok telah menyelesaikan tugasnya, guru melihat waktu pelajaran segera usai. Tuturan (18) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif persilaan karena guru mempersilakan siswa untuk bubar dari kelompok dan segera kembali ke tempat duduk masing-masing. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya persilaan “Silakan kembali ke tempat duduk masing-masing”. Tuturan tersebut dikatakan bermakna imperatif persilaan karena terdapat penggunaan penanda kesantunan silakan. Hal itu sejalan dengan teori Rahardi (2005:104) yang menyatakan bahwa imperatif persilaan lazimnya digunakan dengan penanda kesantunan silakan. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah persilaan kepada siswa untuk segera kembali ke tempat duduk masing-masing. Setelah guru menuturkan tuturan itu, seluruh siswa segera kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
(19) “Kalau kamu bisa buat PPT pakai Hp, silakan buat!”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPS yang diampu oleh Pak Wahyu pada Rabu, 13 Februari 2019 pukul 11.45-13.05 WIB. Guru menuturkan tuturan kepada siswa kelas VIII B. Tuturan terjadi saat pembelajaran sedang berlangsung. Guru membentuk siswa dalam kelompok. Kemudian guru memberikan tugas untuk mencari informasi dan membuat PPT mengenai masa penjajahan bangsa Barat di Indonesia. Setelah guru memberikan tugas, guru mempersilakan siswa untuk menggunakan laptop dan Hp selama mengerjakan tugas. Saat siswa mengerjakan tugas, guru berkeliling membimbing siswa. Lalu guru melihat ada beberapa siswa yang membuat PPT pada Hp karena ada beberapa kelompok yang tidak membawa laptop. Sedangkan beberapa kelompok lain ada yang membawa laptop.
Tuturan (19) dituturkan pada Rabu, 13 Februari 2019 saat jam pelajaran 7-8 yakni pukul 11.45-13.05 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPS. Mata pelajaran IPS diampu oleh seorang guru bernama Pak Wahyu. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VIII B. Pada tuturan “Kalau kamu bisa buat PPT pakai Hp, silakan buat!”, Pak Wahyu selaku guru mata pelajaran IPS mempersilakan siswa yang tidak membawa laptop untuk membuat PPT menggunakan Hp mereka.
Berdasarkan data tuturan (19) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat pembelajaran sedang berlangsung. Saat itu guru membentuk siswa dalam kelompok. Kemudian guru memberikan tugas untuk mencari informasi dan membuat PPT mengenai masa penjajahan bangsa Barat di Indonesia. Setelah guru memberikan tugas, guru mempersilakan siswa untuk menggunakan laptop dan Hp selama mengerjakan tugas. Saat siswa mengerjakan tugas, guru berkeliling membimbing siswa. Tuturan “Kalau kamu bisa buat PPT pakai Hp, silakan buat!” dituturkan guru karena guru melihat ada beberapa siswa yang membuat PPT pada Hp sebab ada beberapa kelompok yang
tidak membawa laptop. Sedangkan beberapa kelompok lain ada yang membawa laptop. Tuturan (19) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif persilaan karena guru mempersilakan siswa yang tidak membawa laptop untuk membuat PPT menggunakan Hp mereka. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya persilaan “Silakan buat!”. Tuturan tersebut dikatakan bermakna imperatif persilaan karena terdapat penggunaan penanda kesantunan silakan. Hal itu sejalan dengan teori Rahardi (2005:104) yang menyatakan bahwa imperatif persilaan lazimnya digunakan dengan penanda kesantunan silakan. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah persilaan kepada siswa yang tidak membawa laptop untuk membuat PPT menggunakan Hp mereka. Setelah guru menuturkan tuturan itu, beberapa siswa mulai menggunakan gadget mereka untuk membuat PPT.
(20) “Silakan yang sudah siap, anda bisa maju”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPS yang diampu oleh Pak Wahyu pada Sabtu, 16 Februari 2019 pukul 09.30-10.50 WIB. Guru menuturkan tuturan di kelas VIII B. Tuturan terjadi saat guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan dalam kelompok. Tugas tersebut adalah mencari informasi dan membuat PPT mengenai masa penjajahan bangsa Barat di Indonesia. Setelah guru melihat ada siswa yag telah menyelesaikan tugasnya, guru menawarkan siswa yang kelompoknya siap untuk segera maju presentasi.
Tuturan (20) dituturkan pada Sabtu, 16 Februari 2019 saat jam pelajaran 4-5 yakni pukul 09.30-10.50 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPS. Mata pelajaran IPS diampu oleh seorang guru bernama Pak Wahyu. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VIII B. Pada tuturan “Silakan yang sudah siap, anda bisa maju”, Pak Wahyu
selaku guru mata pelajaran IPS mempersilakan siswa yang kelompoknya sudah selesai mengerjakan PPT dan telah siap agar segera maju untuk presentasi.
Berdasarkan data tuturan (20) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat pembelajaran sedang berlangsung. Tuturan terjadi saat guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan dalam kelompok. Tugas tersebut adalah mencari informasi dan membuat PPT mengenai masa penjajahan bangsa Barat di Indonesia. Tuturan “Silakan yang sudah siap, anda bisa maju” dituturkan guru karena guru melihat ada siswa yag telah menyelesaikan tugasnya, guru menawarkan siswa yang kelompoknya siap untuk segera maju presentasi. Tuturan (20) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif persilaan karena guru mempersilakan siswa yang kelompoknya siap untuk segera maju presentasi. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya persilaan “Silakan yang sudah siap, anda bisa maju”. Tuturan tersebut dikatakan bermakna imperatif persilaan karena terdapat penggunaan penanda kesantunan silakan. Hal itu sejalan dengan teori Rahardi (2005:104) yang menyatakan bahwa imperatif persilaan lazimnya digunakan dengan penanda kesantunan silakan. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah persilaan kepada siswa yang kelompoknya sudah selesai mengerjakan PPT dan telah siap agar segera maju untuk presentasi. Setelah guru menuturkan tuturan itu, ada satu kelompok yang maju dan melakukan presentasi.
(21) “Oke yang lain kelompoknya silakan, kelompok Tiara nanti dulu” Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPS yang diampu oleh Pak Wahyu pada Sabtu, 16 Februari 2019 pukul 09.30-10.50 WIB. Guru menuturkan tuturan di kelas VIII B. Tuturan terjadi saat pembelajaran
berlangsung. Guru memberi tugas kepada siswa untuk mempresentasikan hasil PPT yang telah dibuat dalam kelompok. Kemudian guru mempersilakan kelompok yang ingin maju presentasi. Ada satu kelompok yang pertama maju presentasi yaitu kelompok Tiara. Ketika kelompok Tiara sedang mempersiapkan laptop dan LCD, kelompok Tiara terlihat panik saat mencari file presentasi pada laptop. Lalu, salah satu anggota kelompok Tiara memberitahu bahwa file materi yang mereka buat tidak ditemukan pada flashdisk yang dimasukkan ke laptop. Saat mendengar hal itu, guru segera mempersilakan kelompok lain untuk maju presentasi sembari menunggu file kelompok Tiara bisa ditemukan. Tuturan (21) dituturkan pada Sabtu, 16 Februari 2019 saat jam pelajaran 4-5 yakni pukul 09.30-10.50 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPS. Mata pelajaran IPS diampu oleh seorang guru bernama Pak Wahyu. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VIII B. Pada tuturan“Oke yang lain kelompoknya silakan, kelompok Tiara nanti dulu”, Pak Wahyu selaku guru mata pelajaran IPS mempersilakan kelompok lain untuk maju presentasi sembari menunggu file materi kelompok Tiara bisa ditemukan sehingga waktu pembelajaran tidak terbuang sia-sia.
Berdasarkan data tuturan (21) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat pembelajaran sedang berlangsung. Guru memberi tugas kepada siswa untuk mempresentasikan hasil PPT yang telah dibuat dalam kelompok. Kemudian guru mempersilakan kelompok yang ingin maju presentasi. Ada satu kelompok yang pertama maju presentasi yaitu kelompok Tiara. Ketika kelompok Tiara sedang mempersiapkan laptop dan LCD, kelompok Tiara terlihat panik saat mencari file presentasi pada laptop. Tuturan“Oke yang lain kelompoknya silakan, kelompok Tiara nanti dulu”, dituturkan guru karena salah satu anggota kelompok Tiara memberitahu bahwa file materi yang mereka buat tidak ditemukan pada flashdisk yang dimasukkan ke
laptop. Saat mendengar hal itu, guru segera mempersilakan kelompok lain untuk maju presentasi sembari menunggu file kelompok Tiara bisa ditemukan. Tuturan (21) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif persilaan karena guru mempersilakan kelompok lain untuk maju presentasi sembari menunggu file materi kelompok Tiara bisa ditemukan sehingga waktu pembelajaran tidak terbuang sia-sia. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya persilaan “Oke yang lain kelompoknya silakan” Tuturan tersebut dikatakan bermakna imperatif persilaan karena terdapat penggunaan penanda kesantunan silakan. Hal itu sejalan dengan teori Rahardi (2005:104) yang menyatakan bahwa imperatif persilaan lazimnya digunakan dengan penanda kesantunan silakan. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah persilaan kepada kelompok lain untuk maju presentasi sembari menunggu file materi kelompok Tiara bisa ditemukan sehingga waktu pembelajaran tidak terbuang sia-sia. Setelah guru menuturkan tuturan itu, kelompok Tiara segera kembali ke tempat duduk dan digantikan kelompok lain yang maju presentasi.
(22) “Silakan mas Karlin!”
Konteks: Data tuturan diambil saat mata pelajaran IPS yang diampu oleh Pak Wahyu pada Rabu, 20 Februari 2019 pukul 11.45-13.05 WIB. Guru menuturkan tuturan di kelas VIII B. Tuturan terjadi saat guru memberikan tugas kepada siswa untuk melakukan presentasi mengenai masa penjajahan bangsa Barat di Indonesia. Kemudian, ada salah satu kelompok yang telah selesai dan ingin maju presentasi. Setelah kelompok tersebut selesai presentasi, guru memberikan kesempatan kepada siswa lain jika ada yang ingin ditanyakan kepada kelompok yang telah presentasi. Lalu guru melihat ada salah satu siswa yang mengangkat tangan untuk bertanya. Siswa tersebut bernama Karlin. Guru
mempersilakan Karlin untuk mengajukan pertanyaan kepada kelompok presentasi.
Tuturan (22) dituturkan pada Rabu, 20 Februari 2019 saat jam pelajaran 7-8 yakni pukul 11.45-13.05 WIB. Tuturan tersebut terjadi pada saat pembelajaran IPS. Mata pelajaran IPS diampu oleh seorang guru bernama Pak Wahyu. Guru menuturkan tuturan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VIII B. Pada tuturan “Silakan mas Karlin!”, Pak Wahyu selaku guru mata pelajaran IPS mempersilakan salah satu siswa bernama Karlin untuk mengajukan pertanyaan kepada kelompok presentasi.
Berdasarkan data tuturan (22) di atas, tuturan dituturkan guru saat pembelajaran di kelas. Tuturan terjadi saat pembelajaran sedang berlangsung. Tuturan terjadi saat guru memberikan tugas kepada siswa untuk melakukan presentasi mengenai masa penjajahan bangsa Barat di Indonesia. Kemudian, ada salah satu kelompok yang telah selesai dan ingin maju presentasi. Setelah kelompok tersebut selesai presentasi, guru memberikan kesempatan kepada siswa lain jika ada yang ingin ditanyakan kepada kelompok yang telah presentasi. Tuturan “Silakan mas Karlin!” dituturkan guru karena guru melihat ada salah satu siswa yang mengangkat tangan untuk bertanya. Siswa tersebut bernama Karlin. Tuturan (22) merupakan tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif persilaan karena guru mempersilakan salah satu siswa bernama Karlin untuk mengajukan pertanyaan kepada kelompok presentasi. Tuturan tersebut dinyatakan dalam konstruksi imperatif dengan adanya persilaan “Silakan mas Karlin!”. Tuturan tersebut dikatakan bermakna imperatif persilaan karena terdapat penggunaan penanda kesantunan silakan. Hal itu sejalan dengan teori
Rahardi (2005:104) yang menyatakan bahwa imperatif persilaan lazimnya digunakan dengan penanda kesantunan silakan. Tuturan guru mengandung tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Guru menuturkan tuturan tersebut sebagai sebuah persilaan kepada salah satu siswa bernama Karlin untuk mengajukan pertanyaan kepada kelompok presentasi. Setelah guru menuturkan tuturan tersebut, Karlin segera mengajukan pertanyaan.
Berdasarkan beberapa tuturan yang telah dideskripsikan di atas, tuturan-tuturan tersebut merupakan tuturan-tuturan yang mengandung makna pragmatik persilaan. Tuturan (18), (19), (20), (21), dan (22) hanya diketahui makna pragmatiknya melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadahinya pada saat guru menyampaikan tuturan dalam pembelajaran di kelas. Tuturan-tuturan persilaan tersebut juga diwujudkan dengan penggunaan penanda kesantunan silakan. Hal itu sejalan dengan teori Rahardi (2005:104) yang menyatakan bahwa imperatif persilaan lazimnya digunakan dengan penanda kesantunan silakan.