METODOLOGI PENELITIAN
G. Uji Coba Instrumen
Dalam penelitian diperlukan instrumen yang memenuhi persyaratan tertentu, diantaranya adalah validitas dan reliabilitas. Sebelum penelitian dilakukan dilakukan uji coba instrumen yang bertujuan untuk mengetahui tingkat validitas, reabilitas dari instrumen tersebut, sebab validitas dan reabilitas instrumen sangat berpengaruh dari hasil penelitian. Adapun instrumen yang akan diujicobakan kepada siswa meliputi soal tes kemampuan awal, soal tes kemampuan berpikir abstrak dan soal tes prestasi belajar untuk materi pembelajaran induksi elektromagnetik.
1. Validitas
Valid yang artinya sahih atau tepat, maka pengujian validitas suatu instrumen bertujuan untuk mengetahui ketepatan atau kemampuan instrumen tersebut mengukur sesuai dengan tujuan pengukuran. Adapun validitas mempunyai karateristik antara lain: validitas sebenarnya menunjuk pada hasil dari pengukuran instrumen yang tepat mengukur instrumen yang diukur; validitas menunjukan tingkat ketepatan pengukurannya, tinggi ,sedang , rendah, bukan valid atau tidak valid; validitas instrumen memiliki spesivikasi tersendiri, tidak berlaku umum (Widha Sunarno: bahan Kuliah). Maka supaya hasil pengukuran menunjukkan keadaan sebenarnya obyek yang diukur alat ukur harus benar-benar valid.
commit to user
56
Rumus yang dipakai untuk mengetahui tingkat validitas butir soal dalam penelitian ini adalah rumus korelasi Product- Moment , rumusnya adalah :
2 2
Persamaan 3.1 dapat dijelaskanr rxy adalah koefisien korelasi product moment, X adalah skor butir soal dan y adalah skor total. Sedangkan keputusan uji diambil
dengan dasar membandingkan harga koefisien korelasi product moment (rxy) dengan rtabel. Jika rxy lebih besar dari rtabel maka soal termasuk katagori valid sedangkan untuk rxy lebih kecil atau sama dengan rtabel maka soal termasuk katagori tidak valid. Pada uji instrumen melibatkan 32 responden maka nilai rtabel adalah 0,349.
Untuk uji coba instrumen (baik tes prestasi belajar, tes kemampuan awal dan tes kemampuan berpikir abstrak) dilaksanakan di SMA Negeri 2 dengan jumlah siswa 32. Hasil validitas untuk soal kemampuan awal, kemampuan berpikir abstrak dan prestasi belajar Fisika adalah sebagai berikut:
Tabel: 3-2: Hasil uji validitas
Tes Valid Tidak Valid Jumlah
Kemampuan Awal 26 4
(no: 9.10, 24, 27) 30
Kemampuan Berpikir Abstrak 21 4
(no: 13,21,22, 25) 25
Prestasi Belajar Fisika 23 7
(no: 9, 10,19, 20, 24, 26, 28) 30
commit to user
57
Butir soal yang valid digunakan untuk mengukur kemampuan awal sebanyak 25 soal diambil dari seluruh soal yang valid, satu soal valid dibuang yaitu soal no 30 setelah dilihat pada kisi-kisi soal indikator sudah terwakili, kemampuan berpikir abstrak sebanyak 20 soal yang digunakan diambil dari 22 soal yang valid dengan membuang 2 soal yang valid dan 3 soal yang tidak valid setelah dipastikan indikator pada kisis-kisi soal sudah terpenuhi, dan prestasi belajar fisika diambil 25 soal. Dari hasil analisis butir soal yang tergolong valid hanya 23 soal maka diambil soal nomor 19 dan 28 dan diperbaiki.
2. Reabilitas
Reabilitas adalah tingkat keajegan atau ketetapan dari suatu butir soal.
Suatu soal dikatakan reabel jika soal tersebut digunakan dari waktu kewaktu dan ditempat yang berbeda akan menghasilkan nilai yang sama bagi seorang individu.
Jadi suatu butir soal dikatakan mempunyai tingkat reabilitas tinggi jika jika mampu mengukur dengan hasil yang sama ketika digunakan untuk beberapa kali mengukur.
Taraf reabilitas dinyatakan dalam suatu angka yang disebut koefisien reabilitas (R) yang mempunyai nilai antara 1,00 sampai dengan 1,00. Untuk menghitung koefisien reabilitas digunakan rumus Kuder-Richardson (K-R)
2
commit to user
58
Persamaan 3.2 dapat dijelaskan bahwa R adalah koefisien reabilitas, n adalah banyaknya soal yang diuji coba, p menunjukkan indek kesuaran, nilai q adalah 1-p dan Sd adalah standar deviasi. Standar yang digunakan dalam menentukan reabel tidaknya suatu instrumen pada umumnya adalah perbandingan antara R hitung dangan R tabel dengan taraf signifikan 5% . Jika R hitung > R tabel, maka instrumen tersebut dikatakan reabel. Menurut Masidjo (19950 dalam Muslikah (2010:75) dapat dilihat pada tabel 3-3 berikut:
Tabel 3 -3: Interpretasi Reabililas Soal
Koefisien R Interpretasi 0,91 1,00 Sangat tinggi
0,71 0,90 Tinggi
0,41 0,70 Cukup
0,21 0,40 Rendah
Negatif 0,21 Sangat Rendah
Dari hasil analisis butir soal kemampuan awal diperoleh hasil koefisien reabilitas (R hitung) sebesar 0,875 berarti soal tersebut mempunyai reabilitas yang tinggi. Sedangkan untuk soal kemampuan berpikir abstrak diperoleh harga R sebesar 0,886 jadi soal tes kemampuan berpikir abstrak juga mempunyai rebilitas yang tinggi. Untuk soal tes prestasi belajar mempunyai reabilitas 0,825 juga tergolong soal yang mempunyai reabilitas tinggi. Berdasarkan hasil pengujian reabilitas soal, ketiga jenis soal yaitu soal tes kemampuan berpikir abstrak, soal tes kemampuan awal dan soal tes prestasi belajar semua soal mempunyai reabilitas yang tinggi sehingga dapat digunakan untuk sebagai instrumen pengambilan data pada penilitian ini.
commit to user
59 3. Tingkat Kesukaran
Salah satu indikasi suatu soal baik adalah soal tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah untuk kelompok tertentu yang akan di tes. Tingkat kesukaran butir soal ditandai oleh prosentase siswa yang menjawab benar. Tingkat kesukaran item soal dinyatakan dengan suatu bilangan yang disebut dengan indeks kesukaran (IK) yaitu bilangan yang merupakan perbandingan jumlah jawaban benar yang diperoleh dengan julmah skor maksimum. Maka makin tinggi prosentase siswa menjawab benar soal dikatakan semakin mudah, demikian pula sebaliknya.
Sedangkan rumus yang digunakan untuk menghitung indek kesukaran adalah :
N IK B
...(3.3) Persamaan 3.3 dapat dijelaskan IK adalah indek kesukaran yang merupakan perbadingan B dan N, B merupakan jumlah siswa yang menjawab benar dan N adalah jumlah peserta tes.
Klasifikasi tingkat kesukaran soal dapat dilihat pada tabel 3.4 berikut:
Tabel 3- 4: Klasifikasi Taraf Kesukaran
IK Katagori
0,00 0,3 Sukar
0,31 0,70 Sedang
0,71 1,00 Mudah
Sumber : Widha Sunarno ( bahan kuliah)
Dari hasil analisis butir soal kemampuan awal, soal kemampuan berpikir abstarak dan soal tes prestasi belajar ternyata ketiga jenis soal tersebut
mempunyai tingkat kesulitan sukar, sedang dan mudah .Hasil analisis disajikan pada tabel 3-5.
commit to user
60
Tabel 3-5: Hasil analisis butir soal : Indek kesukaran soal
Tes Sukar Sedang Mudah
Dari hasil analisis untuk soal kemampuan awal soal katagori mudah yang tidak valid 1yaitu soal nomor 24, sedangkan soal yang berkatagori sulit tidak ada yang terbuang, maka untuk memenuhi syarat menseimbangkan antara jumlah soal yang sulit dan mudah perlu perbaikan 4 butir soal mudah untuk diubah menjadi memenuhi syarat menseimbangkan antara jumlah soal yang sulit dan mudah perlu perbaikan 2 butir soal mudah untuk diubah menjadi katagori soal tingkat kesulitan sedang. Untuk soal prestasi belajar yang tergolong soal katagori mudah yang tidak valid 5, sedangkan soal yang berkatagori sulit tidak ada yang terbuang, dan 2 soal lainnya berkatagori sedang tidak valid, untuk memenuhi syarat menseimbangkan antara jumlah soal yang sulit dan mudah perlu perbaikan 3 butir
commit to user
61
soal mudah untuk diubah menjadi katagori soal tingkat kesulitan sedang yaitu pada soal nomor 22 dan 29.
4. Daya Pembeda
Soal yang baik adalah soal yang mampu membedakan siswa yang pandai dan kurang pandai dalam kaitannya dengan butir-butir soal lainnya yang terdapat dalam soal tersebut. Peserta tes dikelompokkan atas dua kelompok yaitu kelompok atas adalah siswa-siswa yang lebih banyak menjawab benar dan kelompok bawah adalah kelompok yang kurang pandai sehingga menjawab benar sedikit. Daya pembeda dihitung dengan persamaan 3.4
B B A A
N B N DP B
...(3.4)
Persamaa 3.4 dapat dijelaskan DP adalah daya pembeda, BA adalah jumlah betul kelompok atas dan BB adalah jumlah betul kelompok bawah sedangkan NA
dan NB masing-masing adalah jumlah siswa pada kelompok atas dan bawah. Pada pengujian ini jumlah siswa pada kelompok atas dan bawah sama yaitu masing-masing sebanyak 16 siswa.
Semakin besar indek daya pembeda suatu butir soal maka butir soal tersebut semakin baik, pada penelitian ini soal yang digunakan dibatasi sampai katagori soal cukuk membedakan sampai dengan sangat membedakan. Sedangkan klasifikasi daya pembeda dapat dilihat dalam tabel 3-6.
commit to user
62
Tabel 3- 6: Klasifikasi Daya Pembeda
DP Kualifikasi
Neg 0,19 Sangat kurang membedakan 0,20 -0,39 Kurang membedakan 0,40 0,59 Cukup membedakan 0,60 0,79 Lebih membedakan 0,80 1,00 Sangat membedakan Sumber : Masidjo (1995 : 198 203)
Dari hasil analisis butir soal kemampuan awal, kemampuan berpikir abstarak dan tes prestasi belajar diperoleh hasil seperti tabel berikut :
Tabel 3-7: Hasil analisis butir soal :Daya Beda
Tes Kurang
Prestasi Belajar Fisika 4 (10,19,26,28) 18 10
Untuk soal kemampuan awal 4 butir soal tergolong soal yang kurang dapat membedakan , 3 soal diantaranya termasuk soal yang tidak valid yaitu soal nomor 9,24,27 dan dibuang sedang satu soal yaitu soal no 3 diperbaiki dan dipakai kembali.Untuk soal kemampuan berpikir abstrak ada 2 soal yang kurang dapat membedakan yaitu soal nomor 22 dan 25, dan kedua soal tersebut tergolong soal yang tidak valid dan dibuang. Sedangkan untuk soal tes prestasi belajar ada 4 soal yang kurang membedakan yaitu soal nomor 10, 19, 26, 28 dan soal tersebut
commit to user
63
tergolong soal yang tidak valid dan terbuang setelah dilihat bahwa indikator dari soal tersebut sudah terwakili oleh soal yang lain.