• Tidak ada hasil yang ditemukan

(Studi Kasus pada pembelajaran Induksi Elektromagnetik pada Kelas XII IPA SMA Negeri 1 Sragen Tahun Pelajaran 2011/2012) TESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "(Studi Kasus pada pembelajaran Induksi Elektromagnetik pada Kelas XII IPA SMA Negeri 1 Sragen Tahun Pelajaran 2011/2012) TESIS"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

PENGGUNAAN PENDEKATAN KONSEPTUAL INTERAKTIF MELALUI MULTIMEDIA INTERAKTIF DAN MODUL

DITINJAU DARI KEMAMPUAN BERPIKIR ABSTRAK DAN KEMAMPUAN

AWAL SISWA

(Studi Kasus pada pembelajaran Induksi Elektromagnetik pada Kelas XII IPA SMA Negeri 1 Sragen Tahun Pelajaran 2011/2012)

TESIS

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Pendidikan Sains

Minat Utama : Fisika

Oleh :

AMBAR SULISTYANI

S831008005

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2012

(2)

commit to user

ii

(3)

commit to user

iii

(4)

commit to user

iv

PERNYATAAN

Yang bertandatangan di bawah ini, saya : Nama : Ambar Sulistyani

NIM : S831008005

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang berjudul

Penggunaan Pendekatan Konseptual Interaktif Melalui Multimedia Interaktif dan Media Modul Ditinjau Dari Kemampuan Berpikir Abstrak dan Kemampuan Awal siswa (Studi Kasus Pada Pembelajaran Induksi Elektromagnetik Pada Kelas XII IPA SMA Negeri 1 Sragen Tahun Pelajaran 2011/2012) adalah benar-benar karya saya sendiri. hal-hal yang bukan karya saya dalam tesis ini diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sangsi akademik berupa pencabutan tesis dan gelar yang saya peroleh tersebut.

Surakarta, Januari 2012 Yang membuat pernyataan

Ambar Sulistyani

(5)

commit to user

v MOTTO

Sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Bekerja yang terbaik, sisanya urusan Allah

Sepi ing pamrih rame ing gawe lan narimo ing pandum

(6)

commit to user

vi

PERSEMBAHAN

Tulisan ini kupersembahkan kepada:

Putriku: Angkin Pertiwi dan Wening Kalbu Suamiku yang setia mendampingi

Murid-muridku yang banyak membiri inspirasi dan motivasi

Rekan-rekan guru SMANSA Sragen

(7)

commit to user

vii

KATA PENGANTAR

alamiin penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan laporan penelitian Penggunaan Pendekatan Konseptual Interaktif Melalui Multimedia Interaktif dan Media Modul Ditinjau Dari Kemampuan Berpikir Abstrak dan Kemampuan Awal siswa (Studi Kasus Pada Pembelajaran Induksi Elektromagnetik Pada Kelas XII IPA SMA Negeri 1 Sragen Tahun Pelajaran 2011/2012 Penelitian ini disusun dalam rangka mendapatkan legalitas formal untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat magister pada Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana UNS

Surakarta. Penelitian ini disusun atas bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak yang berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung. untuk itu penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setingi-tinginya kepada:

1. Direktur Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan bantuan berupa sarana, fasilitas dan kelancaran dalam menempuh pendidikan Program Pascasarjana.

2. Prof. Dr. H. Widha Sunarno, M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, ide dan pemikiran yang berharga dalam penyusunan laporan penelitian ini.

3. Prof. Dr.Ashadi selaku pembimbig II yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, ide dan pemikiran yang berharga dalam penyusunan laporan penelitian ini.

(8)

commit to user

viii

4. Bapak/Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana UNS Surakarta yang telah memberikan sumbangan pendalaman dan wawasan keilmuan.

5. Teman-teman mahasiswa pendidikan sains program pascasarjana angkatan September 2010, yang telah memberikan motivasi dan masukan kepada penulis dalam menyusun laporan penelitian ini.

6. Kepala, rekan-rekan guru dan karyawan SMA Negeri 1 Sragen yang telah memberikan motivasi dan bantuan pelayanan kepada penulis utamanya pada saat pelaksanaan penelitian dan penyusunan laporan penelitian.

7. Suami yang selalu setia mendampingi dan kedua putriku yang telah merelakan hari-harinya tanpa pendampingan ibunya dan selalu memberi semangat dalam menyelesaikan laporan penelitian ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bila dalam penyusunan penelitian ini masih terdapat kekurangan. untuk itu kritikan, saran dan masukan dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan penelitian ini. semoga penelitian ini dapat memberikan kegunaan dan manfaat bagi penulis dan para pembaca.

Surakarta, Januari 2012

Penulis

(9)

commit to user

ix DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN iv MOTTO ... ... v

PRSEMABAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

ABSTRAK ... xvii

ABSTRACT... ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang 1

B. 7

C. 8

D. 9

E. 10

F. 10

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS ...12

A. 12 1. 12 a. Pengertian Belajar ... 12

b. Teori Belajar ... 12

2. 17

3. 20

4. 22

5. Kem 23

(10)

commit to user

x

6. 24

7. 25

a. Pengertian dan Tujuan Penilaian ... 25

b. Penilaian dan Hasil Belajar Fisika ... 26

c. Teknik Penilaian ... 27

d. Tes Kognitif ... 27

8. 28

a. Gaya Gerak Listrik Induksi Induksi ... 28

b. Induktansi Diri ... 34

c. Energi yang Tersimpan dalam Induktor ... 36

d. Penerapan GGL Induksi ... 36

B. 39 C. 41 D. 47 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 49

A. 49 B. Populasi, , dan Sampel ... 50

1. Populasi ... 50

2. Sampel ... 50

C. Metode Peneli 50 D. 51 1. Variabel Bebas ... 51

2. Variabel Terikat ... 52

3. Variabel Moderator ... 52

E. 52

F. Instrumen Peneliti 53

1. 53

2. 54

G. 55

1. 55

2. 57

3. 59

4. 61

H. 63

(11)

commit to user

xi

1. 63

a. Uji Normalitas ... 63 b. Uji Homogenitas ... 64

2. 64

a. Analisis of Variance (ANA 64

b. 64

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 66 A. Deskripsi Data ... 66 1. Diskripsi Data Kemampuan Berpikir Abstrak ... 66

2. 69

3. 71

B.

1. 74

2. Uji Homogenitas

C. 77

1. Analisis Variansi Tiga Jalan ... 77 2. Uji Lanjut ... 79

D. 82

1. 82

2. 85

3. Hipotesis Ketiga ... 87 4.

5. Hipotesis Kelima ... 92

6. 93

7. Hipotesis Ketujuh ... 94

E. 95

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ... 97

A. 97

B. 100

C.

Daftar Pustaka ... 103

Lampiran 106

(12)

commit to user

xii

DAFTAR TABEL

49 56 58

Tabel 3.4 Klasifikasi Taraf Kesukaran... 59

Tabel 3.5 Hasil Analisis Butir Soal :Indek Kesukaran ... 60

Tabel 3.6 Klasifikasi Daya Pembeda ... 62

Tabel 3.7 Hasil Analisis Butir Soal :Daya Pembeda Tabel 3.8 Desain Faktorial Penelitian ... 65

Tabel 4.9 Diskripsi Data Kemampuan Berpikir Abstrak 66

Tabel 4.10 Prosentase kemampuan Berpikir Abstrak Tinggi dan rendah 67 Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Kemampuan Berpikir Abstrak ... 67

Tabel 4.12 Distribusi Data Kemampuan awal Siswa ... 69

Tabel 4.13 Prosentase Kemampuan Awal Tinggi dan rendah ... 69

Tabel 4.14 Distribusi Frekuensi Data Kemampuan Awal ... 70

Tabel 4.15 Diskripsi Data Prestasi Belajar Siswa ... 72

Tabel 4.16 Distribusi Frekuensi Data Prestasi Belajar ... 72

Tabel 4.17 Hasil Uji Normalitas prestasi Belajar... 75

Tabel 4.18 Hasil Uji Homogenitas Data prestasi Belajar ... 76

Tabel 4.19 Hasil Uji Anava ... 77

Tabel 4.20 Rangkuman Hasil Uji Anava Tiap Sel ... 81

(13)

commit to user

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Skema Pembelajaran dengan ICI ... 20

Gambar 2.2 Garis Gaya Magnet Menembuas Suatu Bidang ... 29

Gambar 2.3 Menentukan Arah Arus Induksi Pada Kumparan Berdasar Hk Lenz.. 31

Gambar 2.4 Perubahan luas Bidang Karena Pergeseran Penghantar ... 32

Gambar 2.Arah Arus Induksi sesuai dengan Kaidah Tangan kanan ... 33

Gambar 2.6 Skema Transformator ... 36

Gambar 2.7 Generator ... . 38

Gambar 4.8 Histogram Kemampuan Berpikir Abstrak Kelas Multimedia ... 68

Gambar 4.9 Histogram Data Kemampuan Berpikir Abstrak Kelas Modul ... 68

Gambar 4.10 Histogram Data Kemampuan Awal Kelas Multimedia ... 70

Gambar 4.11 Histogra Data Kemampuan Awal Kelas Modul ... . 71

Gambar 4.12 Histogram Data Prestasi Belajar Kelas Multimedia ... 73

Gambar 4.13 Histogram Data Prestasi Belajar Kelas Modul ... 73

(14)

commit to user

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Silabus ... 106

Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Multimedia ... 108

Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran1 Modul ... 139

Lampiran 4 LKS Multimedia ... 170

Lampiran 5 LKS Modul ... 178

Lampiran 6 Modul... 186

Lampiran 7 Kisi-kisi Soal Tes Kemampuan Berpikir Abstrak ... 229

Lampiran 8 Soal Tes kemampuan Berpikir Abstrak ... 231

Lampiran 9 Kisi-kisi Soal Tes Kemampuan Awal ... 238

Lampiran 10 Soal Tes Kemampuan Awal ... 241

Lampiran 11 Kisi-kisi Soal Tes Prestasi Belajar... 246

Lampiran 12 Soal Tes Prestasi Belajar ... 248

Lampiran 13 Uji Validitas, Reabilitas, Daya Beda dan Tingkat kesukaran Soal Tes Kemampuan berpikir Abstrak ... 253

Lampiran 14 Uji Validitas, Reabilitas, Daya Beda dan Tingkat kesukaran Soal Tes Kemampuan Awal ... 254

Lampiran 15 Uji Validitas, Reabilitas, Daya Beda dan Tingkat kesukaran Soal Tes Prestasi Belajar ... 255

Lampiran 16 Nilai Kemampuan Berpikir Abstrak ... 261

Lampiran 17 Nilai Kemampuan Awal ... 262

Lampiran 18 Nilai Prestasi Belajar ... 263

Lampiran 19 Data Induk ... 264

Lampiran 20 Uji Prasyarat Normalitas ... 255

Lampiran 21 Uji Homogenita ... 267

(15)

commit to user

xv

Lampiran 22 Uji Anava ... 269 Lampiran 23 Uji Lanjut ... .... 270 Lampiran 24 Foto Kegiatan ... 272

(16)

commit to user

xvi ABSTRAK

Ambar Sulistyani. S831008005.

Interaktif Melalui Multimedia Interaktif dan Modul Ditinjau dari Kemampuan Berpikir Abstrak dan Kemampuan Awal Siswa (Sebuah Penelitian Eksperimen pada Kompetensi Dasar Induksi Elektromagnet Kelas XII IPA Semester Gasal Tesis. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. Pembimbing : 1) Prof. Dr. H. Widha Sunarno, M.Pd. 2) Prof.

Dr. H. Ashadi. Surakarta. 2012.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: perbedaan prestasi belajar fisika pada meteri Induksi Elektromagnet bagi siswa yang belajar dengan pendekatan Konseptual Interaktif (ICI) dengan multimedia interaktif dan media modul, perbedaan prestasi belajar fisika bagi siswa yang mempunyai kemampuan befikir abstrak tinggi dan rendah, perbedaan prestasi belajar fisika bagi siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi dan rendah, interaksi antara media pembelajaran dengan kemampuan berpikir abstrak siswa terhadap prestasi belajar fisika, interaksi antara media pembelajaran dengan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar fisika, interaksi antara kemampuan berfikir abstrak dengan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar fisika, interaksi antara media pembelajaran , kemampuan awal dan kemampuan berfikir abstrak siswa terhadap prestasi belajar.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain faktorial 2x2x2.

Populasinya adalah seluruh siswa kelas XII IPA SMA Negeri 1 Sragen. Sampel ditentukan dengan random cluster sumpling terdiri dari dua kelas yaitu kelas XII IPA1 dan XII IPA3.Pengumpulan data menggunakan tes prestasi belajar pada ranah kognitif, tes kemampuan berpikir abstrak dan tes kemampuan awal. Analisis data menggunakan Anava tiga jalan denga sel tidak sama dengan bantuan software SPSS 17.

Hasil dari penelitian ini adalah: (1) terdapat perbedaan prestasi belajar fisika antara siswa yang belajar dengan multimedia interktif dengan siswa yang menggunakan media modul; (2) terdapat perbedaan prestasi belajar fisika antara siswa yang mempunyai kemampuan berpikir abstrak tinggi rendah; (3) terdapat perbedaan prestasi belajar fisika antara siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi rendah, (4) terdapat interaksi antara variasi penggunaan media dengan kemampuan berpikir abstrak siswa; (5) tidak terdapat interaksi antara penggunaan variasi media pembelajaran dengan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar fisika; (6) tidak terdapat interaksi antara kemampuan berpikir abstarak dengan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar fisika; dan (7) tidak terdapat interksi antara media pembelajaran, kemampuan berpikir abstrak dan kemampuan awal terhadap prestasi belajar fiskia.

Kata Kunci: Pembelajaran Fisika, Pendekatan Konseptual Interaktif, Multimedia Interaktif, Modul,Kemampuan Berpikir Abstrak, Kemampuan Awal, Prestasi Belajar, Induksi Elektromagnetik

(17)

commit to user

1 ABSTRACT

Intruction (ICI) Through Interactive Multimedia and Module overviewed from The Abstract Thingking Ability and Prior Knowledge (A case Study on Electromagnet Induction For Student Grade XII IPA First Semester of SMA N 1 Sragen Academic Year 2011/2012). Thesis. Science Education Program, Post Graduate Program, Sebelas Maret University. Advisor: 1) Prof. Dr. H. Widha Sunarno, M.Pd. 2) Prof. Dr. H. Ashadi. Surakarta. 2012.

The purpose of the research is to know the defference of student achievement between student who learnt using ICI trough Interactive Multimedia and Module, between student who had high and low abstract tingking ability, between stu

interaction between learning media and abstract thinking ability, between learning media and prior knowladge, between abstract thinking ability and prior knowladge, between learning media, abstract thinking ability and prior knowladge.

The reseach used an experiment at methode with 2x2x2 factorial design.

The populaiton was all students of class XII IPA SMA N 1 Sragen and sample was taken using cluster rondom sampling, consisted of two classes XII IPA 1 and XII IPA3.The data was collected using test for cognitive achiesment, abstrac thinking ability, and prior knowledeg. The data was analyzed using ANAVA calculated using SPSS 17.

From the data analyzed can be concluded that: (1) there was difference on the student who learnt by interactive multimedia and module (2) there was difference achievement between student who had high and low abstract thingking ability, (3) there was difference knowledge, (4) ) there was difference acheevement between the used of media and the abstract thinking ability, (5) there was no inteaction between the use of variety (6) there w

achievment

Keyword: physics learning, interactive conceptual intruction, interactive multimedia, module, the abstrac tinking ability, the prior knowledge,

(18)

commit to user

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam pendidikan terjadi proses pendewasaan dan pemandirian siswa (AH Odja:2008- 193). Pendidikan Merupakan tanggung jawab Pemerintah seluruh masyarakat dan keluarga. Dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 pasal 3 ditegaskan bahwa:

"Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab".

Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional disebutkan

(2).Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. (3).Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan

Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah sekolah yang sifatnya umum yang menyiapkan siswa untuk melanjutkan ke jenjang di atasnya (Perguruan Tinggi) sehingga sekolah wajib memberikan materi-materi yang bersifat umum sebagai bekal masuk ke perguruan tinggi. Diantaranya adalah pelajaran Fisika yang wajib

(19)

commit to user

2

diajarkan sejak kelas X program umum sampai dengan kelas XI dan XII program IPA.

Mata pelajaran Fisika adalah mata pelajaran yang mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi bagi sebagian besar siswa dan cenderung dihindari karena kebanyakan siswa merasa ketakutan terhadap mata pelajaran Fisika, sehingga menyebabkan rendahnya prestasi siswa pada mata pelajaran Fisika.

Untuk mengatasi hal ini guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam menyajikan materi-materi pembelajaran fisika sehingga akan menumbuhkan motivasi belajar fisika yang tinggi bagi siswa. Kreativitas dan inovasi guru baik itu dalam hal pemilihan media, metode atau model pembelajaran maupun pendekatan serta variasi mengajar yang sesuai dengan karateristik materi yang diajarkan akan menciptakan situasi belajar yang menyenangkan. Sehingga pandangan siswa bahwa fisika itu sulit dan menakutkan dapat dikurangi bahkan dihilangkan.

Rendahnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Fisika salah satu penyebabkan adalah kurangnya penanaman konsep fisika. Masih banyak guru yang mengajarkan fisika hanya sekedar memberikan rumus-rumus fisika kemudian memberikan contoh soal dan memberikan dril soal, hal ini akan berakibat bahwa siswa hanya sekedar hafal cara-cara mengerjakan soal saja, tanpa faham benar dengan konsepnya. Keadaan ini akan menjadi masalah jika siswa menemukan permasalahan yang memerlukan pemahaman konsep secara fisis yang lebih mendalam bukan sekedar kecakapan memngerjakan soal secara matematis. Walaupun tetap diakui bahwa kemampuan siswa menyelesaikan soal- soal fisika untuk menghadapi Ujian Nasional dan beberapa tes untuk masuk ke

(20)

commit to user

3

sekolah pada jenjang di atasnya dapat dilakukan dengan salah satu cara memberikan latihan-latihan secara intensif, tetapi penanaman konsep fisika sangatlah perlu di tekankan.

Salah satu meteri yang masih banyak kurang dipahami oleh siswa, terutama siswa SMA Negeri 1 Sragen adalah materi Induksi Elektromagnet hal ini terlihat dari hasil ujian nasional pada materi Induksi Elektromagnet siswa SMA Negeri 1 Sragen meraih nilai rata-rata yang masih rendah yaitu 52,3 (BSNP:

2010). Masih banyaknya guru yang kurang dalam penanaman konsep dan cenderung mengajar dengan cara konvensional (dengan ceramah) tanpa melihat karakteristik materi. Materi Induksi Elektromegnet adalah materi yang sangat abstrak maka perlu pendekatan kusus dalam pembelajaran materi ini dan pemilihan media pembelajaran yang tepat.

Pembelajaran konvensional yang menghasilkan penguasaan konsep dan sikap belajar rendah perlu diperbaiki dengan penerapan model, pendekatan dan strategi pembelajaran yang menggunakan bantuan media (A. Samsudin dkk:2008- 7) Sesuai dengan perkembangan tehnologi informasi dan komunikasi mestinya guru semakin banyak mempunyai kesempatan untuk memberikan pebelajaran yang interaktif yang lebih menyenangkan siswa, tetapi kenyataannya masih banyak guru yang belum memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikas. Karena pada dasarnya siswa sangat konsen terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Pemberian pembelajaran yang interaktif dengan media komputer yang menggunakan animasi-animasi tentu akan membuat siswa lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar Fisika. Pembelajaran dengan

(21)

commit to user

4

menggunakan media komputer dimana meteri pembelajaran dapat dikemas dalam bentuk modul pembelajaran yang interaktif yang disertai dengan animasi-animasi materi fisika dapat memvisualisasi konsep-konsep yang abstrak dan siswa dapat lebih leluasa belajar bersama kelompoknya di manapun.

Dalam memilih metode, model pembelajaran ataupun pendekatan guru haruslah mempertimbangkan bahwa variasi cara mengajar benar-benar merupakan proses pendewasaan dan melatih kemandirian siswa (AH Odja, 2008- 193). Kedewasaan dan kemandirian siswa akan diperoleh jika dalam proses pembelajaran berpusat pada siswa (student centered), bukan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered). Pembelajaran fisika yang berpusat pada guru cenderung membuat siswa merasa jenuh dan kurang termotivasi apalagi jika pembelajaran itu dilakukan secara konvensional, yang pada akhirnya akan mengakibatkan lemahnya penguasaan konsep-konsep fisika dan prestasi belajar siswa rendah.

Rendahnya motivasi belajar fisika dari siswa salah satu penyebabnya adalah gaya mengajar guru yang masih mengedepankan metode ceramah yang seolah-olah guru hanya bertugas mentransfer ilmu kepada siswanya, tanpa memperhatikan bagaiman cara mengeksplor kemampuan siswa dan interaksi siswa dengan siswa lainnya. Pembelajaran kelompok akan mengkondisikan siswa untuk bisa bersosialisasi dengan teman-temannya sehingga interaksi antar siswa dapat terbentuk. Kecenderungan siswa untuk melakukan suatu kegiatan bersama dengan teman-temannya dapat terpenuhi dengan adanya pembelajaran kelompok (cooperative learning), sehingga siswa semakin termotivasi dalam mengikuti

(22)

commit to user

5

pembelajarn. Tetapi pembelajaran ini sering kali kurang efektif dan memerlukan waktu yang cukup lama, sementara waktu yang tersedia untuk memenuhi target kurikulum sangatlah terbatas.

Supaya guru tidak harus mengambil alih sepenuhnya dalam proses pembelajaran demi mengejar target kurikulum maka pemilihan model dan media pembelajaran sangatlah menentukan hasil belajar. Model pembelajaran dengan pendekatan Konseptual Interaktif (Interaktive Conseptual Intruction /ICI) merupakan alternatif yang dapat diambil untuk memecahkan masalah tersebut.

Pembelajaran dengan ICI merupakan salah satu alternatif untuk menanamkan konsep-konsep fisika kepada siswa sebelum siswa dihadapkan dengan persamaan- persamaan matematis. Pendekatan konseptual interaktif sangat mendukung perkembangan keterampilan berpikir siswa dimulai dari tingkatan pemahaman konsep yang memerlukan suatu proses interaktif yang memberi peluang mengembangkan gagasan melalui proses dialog dan berpikir (Santyasa, 2004-11).

Disamping model pembelajaran media pembelajaran juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam memahami konsep-konsep fisika.

Banyak guru fisika yang masih menggandalkan media cetak saja dalam pembelajaran, hal ini akan berpengaruh pada penguasaan konsep untuk siswa yang mempunyai kemampuan berfikir abstrak rendah. Pemilihan media yang tepat akan dapat membantu siswa untuk dapat memahami konsep-konsep fisika dengan cepat dan utuh. Siswa yang mempunyai kemampuan berpikir abstrak rendah tentunya memerlukan waktu yang lama bahakan kesulitan untuk bisa memahami konsep-konsep fisika yang sifatnya abstrak. Untuk itu diperlukan kecerdasan guru

(23)

commit to user

6

dalam memilih media sesuai dengan karateristik materi pembelajaran. Bagi siswa yang mempunyai kemampuan berpikir abstrak tinggi tentunya tidak menjadi masalah jika pembelajaran yang dilakukan hanya mengandalkan bada buku dan ceramah saja, tetapi untuk siswa yang mempunyai kemampuan berpikir abstrak rendah sangatlah perlu bantuan media yang bisa memvisualisasikan hal-hal yang bersifat abstrak tersebut.

Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal disamping memperhatikan karakteristik materi pelajaran untuk menentukan metode maupun media yang akan digunakan maka guru harus memperhatikan kemampuan awal siswa sebelum mengikuti pembelajaran. Siswa yang sudah siap dengan pengetahuan prasyarat tentu akan lebih siap menerima materi baru, sedangkan siswa yang belum siap dengan materi prasyarat tentunya akan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran.

Maka tugas guru untuk selalu memperhatikan kemampuan awal yang dimiliki siswa sebelum pembelajaran dimulai, untuk maksud tersebut guru bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan kecil untk mengungkap kesiapan siswa mengikuti pembelajaran.

Berdasarkan uraian di atas maka sangat menarik untuk dilakukan penelitian tentang pembelajaran dengan pendekatan Konseptual Interaktif dengan menggunakan media pembelajaran Multimedia Interaktif dan pendekatan Konseptual interaktif dengan media Modul terhadap prestasi belajar fisika ditinjau dari kemampuan berpikir abstrak dan kemampuan awal siswa pada meteri Induksi Elektromagnet. Karena berdasarkan fakta hasil belajar siswa pada materi pokok Induksi Elektromegnet masih belum maksimal, karena pada meteri

(24)

commit to user

7

ini siswa banyak menemukan kesulitan dalam perhitungan maupun konsep dasarnya. Pentingnya penanaman konsep pada materi Induksi Elektromegnet kerena materi ini banyak sekali penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan tekhnologi. Dengan pendekatan konseptual interaktif diharapkan siswa mampu menguasai konsep induksi elektromagnet secara mendalam. Pada penelitian ini akan dilakukan pembelajaran dengan pendekatan konseptual interaktif yang mengedepaknan penguasaan konsep dan kolaborasi antar siswa serta mengamati proses-proses fisika melalui kegiatan demonstrasi dan diskusi kelompok, yang kemudian dilanjutkan dengan tutorial untuk berlatih memecahkan permasalah atau soal-soal untuk dapat memberikan kecakapan pada siswa dalam menyelesaikan soal-soal fisika.

B. Identifikasi Masalah

Dengan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pemilihan endekatan pembelajaran dan media pembelajaran dalam penelitian ini dapat dikemukankan identifikasi masalah sebagai berikut :

1. Masih rendahnya penguasaan konsep-konsep fisika oleh siswa terbukti dengan nilai fisika belum maksimal

2. Guru masih kurang tepat memilih pendekatan pembelajaran padahal banyak pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi fisika misalnya ICI, PBL, CTL tetapi guru cenderung hanya mengajar dengan metode ceramah dan dril

(25)

commit to user

8

3. Guru belum secara maksimal memanfaatkan media komputer, internet, animasi dan power point dalam pembelajaran.

4. Guru belum memperhatikan kemampuan berfikir abstrak siswa dalam menghadapi pelajaran, padahal kemampuan berpikir abstrak sangat menentukan prestasi belajar siswa untuk materimateri yang sangat abstrak seperti halnya materi medan mangnet, induksi elektromagnet.

5. Guru belum memperhatikan kemampuan awal yang dimiliki siswa sebelum memulai pembelajaran.

6. Masih rendahnya prestasi belajar siswa pada materi pembelajaran Induksi Elektromagnet

C. Pembatasan Masalah

Dengan banyaknya masalah yang timbul dalam proses pembelajaran di Sekolah Menengah Atas (SMA), maka dalam penelitian ini perlu diadakan pembatasan masalah sebagai berikut :

1. Pendekatan yang digunakan adalah Pendekatan Konseptual Interaktif (Interactive ConceptualI Intruction, ICI)

2. Media pembelajaran yang digunakan dalam preoses pembelajaran adalah Multimedia Interaktif dan Modul

3. Kamampuan berpikir abstrak siswa dibatasi atas dua kelompok yaitu kemampuan berpikir abstrak tinggi dan rendah, dengan melakukan tes kemampuan berpikir abstrak siswa

(26)

commit to user

9

4. Kemampuan awal dibatasi pada kemampuan prasyarat yaitu kemampuan siswa pada materi sebelumnya yang menunjang materi induksi elektromagnet meliputi konsep vektor, gaya, arus listrik dan medan magnet

5. Aspek yang diteliti adalah prestasi belajar siswa ranah kognitif dibatasi pada materi induksi elektromagnet

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang, masalah, Identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Adakah perbedaan prestasi belajar fisika bagi siswa yang di beri pembelajaran dengan media Multimedia Interaktif dan media Modul.

2. Adakah perbedaan prestasi belajar fisika bagi siswa yang mempunyai kemapuan berfikir abstak tinggi dan rendah ?

3. Adakah perbedaan prestasi belajar fisika bagi siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi dan rendah ?

4. Adakah interaksi antara media pembelajaran dengan kemampuan berpikir abstrak siswa terhadap prestasi belajar fisika?

5. Adakah interaksi antara media pembelajaran dengan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar fisika?

6. Adakah interaksi antara kemampuan berfikir abstrak dengan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar fisika?

7. Adakah interaksi antara media pembelajaran dengan kemampuan berfikir abstrak dan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar fisika?

(27)

commit to user

10

E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1. Adanya perbedaan prestasi belajar fisika bagi siswa yang di beri pembelajaran dengan pendekatan Konseptual Interaktif dengan media Multimedia Interaktif dan media Modul .

2. Adanya perbedaan prestasi belajar fisika bagi siswa yang mempunyai kemampuan befikir abstrak tinggi dan rendah

3. Adanya perbedaan prestasi belajar fisika bagi siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi dan rendah

4. Adanya interaksi antara media pembelajaran dengan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar fisika

5. Adanya interaksi antara media pembelajaran dengan kemampuan berfikir abstrak siswa terhadap prestasi belajar fisika

6. Adanya interaksi antara kemampuan berfikir abstrak dengan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar fisika

7. Adanya interaksi antara media pembelajaran dengan kemampuan awal dan kemampuan berfikir abstrak siswa terhadap prestasi belajar fisika.

F. Manfaat Penelitian

Setelah penelitian ini dilaksanakan, diharapkan hasil penelitian ini bermanfaat baik secara praktis maupun teoritis. Adapau manfaat yang diharapkan dari penelitian ini baik manfaat praktis maupun manfaat teoritis tersebut tidak

(28)

commit to user

11

hanya bagi guru tetapi juga bagi siswa maupun sekolah, manfaat tersebut diantaranya adalah:

1. Manfaat Praktis :

a. Bagi guru untuk lebih mengoptimalkan pemilihan model dan media pembelajaran untuk meningktksn prestasi belajar siswa.

b. Bagi siswa , untuk meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar supaya dapat lulus pada Ujian Nasional dan tes masuk perguruan tinggi

c. Bagi Sekolah, untuk dapat digunakan sebagai referensi pengambillan kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

2. Manfaat Teoritis

a. Pengujian pengaruh media dan model pembelajaran terhadap motivasi dan prestasi hasil belajar

b. Untuk mengembangkan wawasan dan menambah pengetahuan terhadap masalah yang diteliti

c. Sebagai referensi untuk mengadakan penelitian yang lebih lanjut.

(29)

commit to user

12

BAB II

KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori

a. Tinjauan Tentang Belajar a) Pengertian Belajar

Belajar mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Dengan belajar orang akan mendapatkan suatu perubahan yang dapat memberikan manfaat ketika ia harus mengatasi segala permasalahan dalam hidupnya.. Menurut Gagne (1984) dalam Ratna Wilis (1989-

adalah suatu proses diamana organisme berubah perilakunya sebagai akibat suatu roses belajar mengajar yang terpenting adalah memberikan pengalaman pada peserta didik yang dapat memberikan perubahan tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. Bentuk pengalaman yang diperoleh siswa adalah stimulus yang diberikan guru kepada siswa sedangkan respon yang ditunjukkan siswa (output) merupakan bentuk tingkah laku hasil belajar. Dari difinisi tentang belajar tersebut di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa belajar akan menghasilkan suatu perubahan dalam diri seseorang. Baik perubahan tingkah laku, perubahan cara berfikir maupun perubahan emosional.

b) Teori Belajar

Pada prinsipnya teori belajar merupakan penjelasan mengenai bagaimana terjadinya informasi yang diterima seseorang diproses dalam pikirannya.

Berdasarkan suatu teori belajar diharapkan suatu pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar .

(30)

commit to user

13 1) Teori Belajar Kontruktivistik

Ide-ide Piaget, Bruner, Vygotsky membentuk suatu teori pembelajaran yang dikenal dengan teori konstruktivis. Ide utama teori ini adalah: (a)siswa secara aktif membangun pengetahuannya sendiri; (b)agar benar-benar dapat memahami dan dapat menerapkan pengetahuan siswa harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri; (c)belajar adalah proses membangun pengetahuan bukan penyerapan atau absorbsi; dan (d)belajar adalah proses membangun pengetahuan yang selalu diubah secara berkelanjutan melalui asimilasi dan akomodasi informasi baru.

Menurut filsafat kontruktivisme pengetahuan itu adalah bentukan (kontruksi) siswa sendiri yang sedang menekuninya (Von Glosersfeld) dalam Paul Suparno (2007-8). Guru berperanan memberi dukungan, tantangan berpikir, melayani sebagai pelatih namun siswa tetap kunci pembelajaran. Implikasi teori konstruktivis dalam proses pembelajaran adalah: memusatkan perhatian kepada berpikir atau proses mental anak tidak sekedar hasilnya saja; mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran;

menekankan pembelajaran top-down mulai dari yang komplek ke sederhana dari pada bottom-up dari yang sederhana bertahap berkembang ke komplek;

menerapkan pembelajaran koperatif.

2) Teori Belajar Piaget

Jean Piaget merupakan salah seorang tokoh sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu pemikirannya yang banyak digunakan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan

(31)

commit to user

14

perkembangan individu. Menurut Piaget dalam Ratna Wilis (1989:152) bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1)Tahap sensori motor yaitu tingkat perkembangan manusia pada 2 tahun pertama. (2)Tahap pra- operasional yaitu tingkat perkembangan pada usia 2 sampai 7 tahun. (3) Tahap operasional konkrit yaitu periode umur 7 tahun hingga 11 tahun, (4) operational formal terjadi pada kira-kira umur 11 tahun.

Menurut Piaget dalam Ratna Wilis Dahar (1989: 157) ada lima faktor yang memiliki kaitan dengan perkembangan intelek, yaitu: 1)Kedewasaan (maturation), 2)Pengalaman fisik (physical experience), 3)Pengalaman Logiko- matematik (logiko-mathematic experience) 4)Transmisi sosial (social transmission), dan 5)Proses keseimbangan (equilibration) atau proses pengaturan

diri. Kelima faktor ini merupakan persyaratan yang diperlukan bagi perkembangan kognitif siswa.

Belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. pembelajaran dengan pendekatan ICI yang tahapan-tahapnya mampu memberikan pengalaman fisik dan inteaksi sosial akan memberikan hasil yang positif. Untuk siswa kelas XII yang rata-rata telah berusia 17 tahun berarti,sudah memasuki tahapan operasional formal sehingga untuk materi induksi

(32)

commit to user

15

elektromagnet yang bersifat abstrak tentunya siswa kelas XII sudah bisa untuk memahami.

3) Teori Belajar Gagne

Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu.

Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Menurut Gagne dalam Ratna Wilis (1089:141) tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, motivasi; pengenalan; perolehan;

retensi (penyimpanan); pemanggilan (ingatan kembali); generalisasi; penampilan dan umpan balik. Jadi guru dalam memulai proses pembelajaran haruslah mampu memulai dengan fase yang paling awal yaitu menumbuhkan motivasi siswa untuk belajar tentang suatu obyek. Jika motivasi siswa telah ada maka proses pembelajaran akan lebih mudah untuk menghasilkan perolehan sesuai yang diharapkan. Ketika informasi-informasi telah diterima oleh siswa dan disimpan maka tugas guru berikutnya adalah selalu berusaha untuk kembali membangkitkan ingatan tentang informasi yang telah diperoleh siswa untuk dapat

(33)

commit to user

16

mengeneralisasikan dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pemberian pembelajaran yang membentuk pola pikir seperti pembelajaran dengan pendekatan konseptual akan berpengaruh positif pada siswa karena siswa tidak sekedar menerima informasi tetapi lebih banyak mencari informasi.

4) Teori Belajar Ausubel

Inti dari teori belajar Ausubel adalah belajar bermakna yang merupakan suatu proses mengaitkan infirmasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat pada struktus kongnisi seseorang Ratna Wilis (1989:112). Kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang dihadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan bertambah. Jadi secara umum kecerdasan (intelegensi) dapat dirumuskan sebagai berikut: (1)kemampuan untuk berpikir abstrak, (2)untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar, (3)kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru. Perumusan pertama melihat inteligensi sebagai kemampuan berpikir, perumusan kedua sebagai kemampuan untuk belajar dan perumusan ketiga sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri.

Ketiga-tiganaya menunjukkan aspek yang berbeda dari intelegensi, namun ketiga aspek tersebut saling berkhaitan. Keberhasilan dalam menyesuaikan diri seseorang tergantung dari kemampuannya untuk berpikir dan belajar.

Kebermaknaan belajar diperoleh dengan ditandai kemampuan siswa mengkaitkan konsep-konsep yang telah dimiliki atau disebut sebagai kemampuan awal dengan informasi yang baru diperoleh sehingga terbentuk konsep baru dan

(34)

commit to user

17

mampu menerapkan konsep-konsep tersebut dalam kehidupan. Pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif yang didalamnya terdapat animasi- animasi, gambar maupun vidio kejadia-kejadian alam yang berkaitan dengan materi pembelajaran akan memberikan kesan yang lebih kuat dalam diri siswa, dan akan tersimpan lebih lama bukan sekedar hafalan.

b. Pembelajaran Koseptual Interaktif

Menurut Savinaeni dan Scott dalam A.Suhandi dkk (2008:2) Pembelajaran Konseptual Interaktif ( Interactive ConceptualI Intruction, ICI) adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang didesain dengan fokus pada pemahaman konsep.

Pembelajaran konseptual interaktif (ICI) merupakan landasan pembelajaran ketrampilan berpikir. Ciri dari pendekatan konseptual adalah: (1) berfokus pada segi konseptual (Conceptual Focus), (2)mengutamakan interaksi kelas (Classroom Interaction), (3)Menggunakan bahan ajar berbasis penelitian (Reaserch-based materials) dan (4)menggunakan teks (use of texts).

Berfokus pada segi konseptual yaitu pengembangan ide-ide baru yang berfokus pada pemahaman konseptual dengan sedikit atau bahkan tanpa formulasi matematika. Pada tahapan ini pembelajaran dimulai dengan mendemonstrasikan atau melakukan percobaan fenomena-fenomena yang berkaitan dengan materi yang akan dipahami. Tahap yang kedua: interaksi kelas merupakan tahapan ICI yang melibatkan interaksi-interaksi kelas. Siswa dibentuk menjadi kelompok- kelompok kecil yang heterogen. Pada tahapan ini didasari premis pembuatan makna merupakan dialog antar siswa dalam kelas untuk membangun gagasan melalui proses berpikir. Dalam interaksi kelas ini terjadi pembelajaran yang

(35)

commit to user

18

melibatkan teman sebaya (tutor teman sebaya ,peer tutorial). Diskusi pada kelompok kecil yang kemudian ditingkatkan pada diskusi kelas akan memberi ketrampilan siswa untuk mengkomunikasikan ide dan gagasan.

Menggunakan bahan ajar berbasis penelitian. Pertanyan dan jawaban pada tahap pertama (conceptual focus) digunakan dalam pembuatan penemuan konsep.

Pertanyaan berbasis penelitian berfungsi mengembangkan pemahaman siswa dan juga merupakan alat penilaian yang dapat untuk mengukur pemahaman siswa.

Tahapan ke tiga ini dapat merupakan acuan dalam pembelajaran lebih lanjut.

Tahapan yang keempat adalah penggunaan buku teks ( use of texts) untuk meningkatkan pemahaman siswa supaya lebih mendalam. Belajar dengan menggunakan buku teks dapat melibatkan siswa dalam metakognisi, proses- proses berpikir, ketrampilan berpikir kritis dan kreatif, ketrampilan berpikir untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dari berdiskusi dan pengetahuan yang diperoleh dari membaca buku teks. Menurut Bruner, Godnow dan Austin,

mencari dan mendaftar sifat-sifat yang dapat digunakan untuk mendaftar contoh- contoh yang tepat dan contoh-

Sehingga saat memulai pembelajaran guru harus banyak memberikan contoh- contoh yang telah terstruktur yang merupakan data bagi siswa untuk menemukan suatu konsep yang akan dicapai. Data tersebut bisa berupa gambar, peristiwa cerita ataupun benda.

Selama proses pembelajaran guru harus pandai bertanya kepada siswa untuk dapat memancing siswa tersebut merumuskan suatu hipotesis, dimana

(36)

commit to user

19

hipotesis yang telah dibuat oleh siswa akan menjadi bahan dialog atau diskusi dengan siswa yang lain. Dalam pembelajaran penemuan konsep ini bukan berarti siswa menemukan konsep-konsep baru tetapi mencapai konsep yang telah disediakan oleh guru sebagai tutjuan yang harus dicapai dalam proses pembelajaran.

Pada pembelajaran fisika di SMA pemahaman konsep-konsep fisika sangatlah penting sebagai dasar menganalisa dan memecahan masalah-masalah fisika yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari maupun pemecahan soal-soal fisika secara teoritis. Belajar konsep merupakan hasil utama pendidikan, konsep- konsep tidak dapat diamati tetapi konsep harus disimpulkan dari perilaku ( Ratna Wilis 1989: 78) maka pembelajaran dengan pendekatan konseptual yang dikombinasikan dengan tutorial pemecahan soal-soal fisika adalah salah satu alternatif untuk menanamkan kosnsep-konsep fisika dengan baik dan memenuhi kebutuhan siswa berlatih memecahkan soal-soal fisika agar cakap mengerjakan soal fisika.

Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa metode dril soal selama ini telah teruji keberhasilannya untuk mempersiapkan siswa menghadapi ujian nasional maupun tes seleksi masuk ke sekolah pada jenjang di atasnya, tetapi kalau guru hanya mengandalkan metode dril saja maka pola pikir siswa tidak pernah terbentuk, mereka sukses mengerjakan soal-soal tes hanya berdasar hafalan dan keterbiasaan saja.

Gambar 2.1 adalah skema pembelajaran dengan pendekatan konseptual interkatif yang dipadukan dengan pemberian tutorial pemecahan soal-soal fisika.

(37)

commit to user

20

Gambar 2.1 Skema Pembelajaran dengan pendekatan Konseptual Interaktif.

c. Multimedia Interaktif

Multimedia Interaktif merupakan sarana pembelajaran yang berisi materi, metode dan batasan- batasan dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi/ subkompetensi mata pelajaran yang sesuai dengan tingkap kompleksitasnya (Rusdi-Cepi:207-124).

Multimedia interaktif sebagai bahan ajar bertujuan : (1) memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalitas; (2)mengatasi

Tingkat pemahaman tinggi Konsep matematika dilibatkan

Tingkat pemahaman rendah

Diskusi/tanya jawab antar siswa dan guru dengan media Modul /Multimedia Interaktif

Diskusi/tanya jawab antar siswa dan guru SESI DEMONSTRASI

Sesi kegiatan kolaborasi dengan kelompok kecil untuk menyelesaikan permasalahan /pertanyaan konsep

Tes kecil untuk memantau pemahaman konsep

Cakap mengerjakan soal-soal fisika Sesi Tutorial (untuk pemantapan skill

problem solving dengan menggunakan media interktif)

Menuju ke konsep berikutnya

(38)

commit to user

21

keterbatasan waktu, ruang dan daya indera siswa; (3) dapat digunakan secara tepat dan bervariasi misalnya meningkatkan motivasi siswa.

Multimedia interaktif dapat mengembangkan kemampuan siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya terutama bahan ajar yang berbasis ICT dan memungkinkan siswa belajar secara mandiri dan mengevaluasi sendir hasil belajarnya. Pembelajaran berbantuan komputer mempunyai karakteristik sebagai berikut : (1)Self Intructional , melalui modul multimedia interaktif seorang siswa mampu membelajarkan dirinya sendiri, tidak tergantung pada pihak lain. (2)Self Contained, yaitu seluruh materi pembelajaran dari satu kompetensi atau sub kompetensi yang dipelajari terdapat dalam satu modul secara utuh. (3)stand Alone (berdiri sendir), Modul yang dikembangkantidak bergantung pada bahan ajar yang lain. (4)Adaptif, Modul hendaknya memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (5)User Friendly, bersahabat akrab dengan pemakainya artinya setiap instruktur dan paparan informasi yang ditampilkan dapat membantu sehingga pemakai dapat mkemudahan dalam merespon isi informasi.

Keunggulan dari Multimedia Interaktif adalah : (1)daya coba tinggi; (2) menumbuhkan kreatifitas siswa; (3) memvisualisasikan informasi yang bersifat abstrak; (4) mengatasi keterbatasan ruang dan waktu; (5) ada stimulus dan respon;

(6) meningkatkan motivasi belajar siswa; Adapun yang menjadi kelemahan dari Multimedia interaktif adalah harus memakai alat bantu komputer, sehingga ketergantungan terhadap mesin komputer dan daya listrik menjadi mutlak.

(39)

commit to user

22 d. Modul

Media cetak meliputi bahan bahan yang disiapkan di atas kertas untuk pembelajaran dan informasi, diantaranya adalah modul . Modul adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencakup isi materi, metode dan evaluasi yang digunakan secara mandiri sesuai dengan kecepatan belajar individu secara efektif dan efisien. Dalam penyusunan modul bahasa dibuat sederhana, lugas dan komunikatif sesuai dengan tingkat berfikir siswa SMA.

Modul harus tampil bersahabat dengan pemakai sehingga pemakai akan mudah menangkap isi dan memberikan respon yang positif.

Modul memiliki karakteristik stand alone , yaitu modul dikembang supaya pemakai tidak harus bergantung pada media lain. Sedangkan karakteristik modul yang lain adalah : (1) tujuan antara dan tujuan akhir harus dirumuskan secara jelas dan terstruktur, (2) materi dikemas dalam unit-unit kecil tuntas dan disertai contoh-contoh, ilustrasi yang jelas, (3)tersedia soal-soal latihan dan tugas, (4) materinya up to date dan kontektual (5) terdapat rangkuman materi pembelajaran , (6) terdapat instrumen penilaian yang memungkinkan siswa dapat melakukan penilaian diri (self asseement), Terdapat informasi tentang ukuran penguasaan materi, umpan balik dan pengayaan serta rujukan / referensi yang mendukung materi pembelajaran.

Kelebihan media belajar Modul cetak adalah : (1) murah, (2) mudah dibuat, (3) mudah dibawa kemana-mana ( fleksibel), (4) dapat digunakan untuk menyampaikan seluruh materi pelajaran, (5) memotivasi siswa untuk belajar mandiri dan lebih kreatif. Sedangkan kelemahan dari media pembelajaran Modul

(40)

commit to user

23

adalah : (1) membutuhkan kebiasaan membaca, (2) membutuhkan pengetahuan awal (prior knowledge), (3) kurang bisa membantu daya ingat dan membosankan jika penyajiannya kurang menarik, (4) tidak efetif jika bahasanya tidak sederhana serta tidak kontekstual.

e. Kemampuan Berpikir Abstrak

Anak pada tahap operasi konkrit telah mampu berpikir logis, mampu mengklasifikasikan sesuatu, mampu memecahkan masalah konkrit secara logis, dan anak mulai banyak berkata-kata sebagai visualisasi dari hasil berpikirnya.

Ciri-ciri berpikir operasi formal adalah bahwa anak telah mampu berpikir abstrak dengan menggunakan simbul-simbul tertentu, mampu memecahkan masalah, baik secara kualitatif maupun kuntitatif, memiliki kemampuan menyamakan, mampu membedakan, dan mampu menghubungkan dengan saling berkaitan dengan baik (Sutherland, 1992:18-19 dalam Widyo Nugroho: 6). Untuk siswa SMA kelas XII tentunya sudah memasuki pada perkembangan berpikir operasioanal formal yang telah matang, untuk berpikir materi pembelajaran yang abstrak sudah mampu menjakau walaupun tidak seluruhnya mampu dengan baik.

Ciri-ciri anak yang mempunyai kemampuan berpikir abstrak tinggi antara lain adalah anak dapat berpikir logis dengan obyek abstrak, mampu memecahkan permasalahan-permasalahan yang bersifat hipotesis, siswa mampu menggunakan rasionya untuk memecahkan suatu permasalahan dan juga sudah mampu membuat prakiraan. Dengan kemampuan berpikir abstrak yang telah dimiliki oleh siswa kelas XII maka untuk belajar fisika pada materi induksi elektromagnet tentunya siswa tidak mengalami kesulitan walaupun tidak seluruh siswa mempunyai

(41)

commit to user

24

kemampuan berpikir abstrak yang baik. Untuk membantu siswa yang mempunyai kemampuan berpikir abstrak kurang baik maka pemilihan media pembelajaran yang dapat memvisualkan materi yang dipelajari merupakan suatu hal yang sangat penting. Penggunaan media animasi tentunya dapat disarankan sebagai salah satu alternatif pemilihan media pembelajaran.

f. Kemampuan Awal

Kemampuan awal adalah kemampuan yang harus dimiliki siswa sehubungan dengan materi pembelajaran yang akan dipelajari oleh siswa. Dengan demikinan kemampuan awal tentunya menjadi prasyarat untuk depat memperoleh kemampuan baru yang lebih tinggi. Jadi kemampuan awal mempunyai tingkatan lebih rendah dari kemampuan yang akan diperoleh setelah proses pembelajaran.

Menurut Piaget tentang perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi yaitu organisasi dan adaptasi . Adaptasi dilakukan melaluia proses asimilasi dan akomodasi.Dalam proses asimilasi seseorang menggunakan struktur yang sudah ada dalam mengadakan respon terhadap tantanganlingkungan (Ratna Wilis 1989:166). Jadi asimilasi adalah peristiwa mencocokkan informasi yang baru dengan informasi yang lama yang sudah dimiliki oleh seseorang. Sedangkan akomodasi terjadi apabila informasi baru dan lama yang semula tidak cocok kemudian dibandingkan dan disesuaikan dengan informasi lama.

Jika dalam proses pembelajaran syarat kemampuan awal tidak terpenuhi maka hasil belajarpun tentunya tidak akan maksimal. Siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi tentu mempunyai peluang untuk memdapatkan prestasi belajar yang lebih baik dari siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah.

(42)

commit to user

25 g. Prestasi Belajar

Prestasi belajar merupakan penguasaan pengetahuan atau ketrampilan dari suatu mata pelajaran, yang biasanya dinyatakan dengan angka-angka dari nilai tes yang diberikan oleh guru. Sedangkan belajar akan menghasilkan perubahan tingkah laku pada diri seseorang, baik pada aspek pengetahuan (kognitif) aspek ketrampilan (psikomotor) dan aspek sikap (afektif). Perubahan yang diperoleh seorang siswa yang telah mempelajari fisika adalah pengetahuan, pemahaman, ketrampilan maupun sikap yang berhubungan dengan pelajaran fisika. Dalam penelitian ini penilaian prestasi belajar dibatasi pada penguasaan pengetahuan (hanya ditinjau aspek kognitif saja) yaitu kemampuan mengerjakan soal-soal tes pada materi pokok Induksi Magnetik.

a. Pengertian dan Tujuan Penilaian Menurut Sarwiji Suwandi (2010

mengetahui apakah proses dan hasil dari suatu program kegiatan telah sesuai

menentukan kedudukan dan status siswa terkait dengan variabel pendidikan yang

pengukuran pencapaian hasil belajar. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam rangka pencapaian atau penguasaan suatu kompetensi.

Hasil penilain dapat digunakan oleh guru untuk menentukan langkah berikutnya dalam proses pembelajaran. Jika hasil penilaian sudah sesua yang diharapkan maka pembelajaran bisa berlanjut pada penguasaan kompetensi

(43)

commit to user

26

berikutnya, tetapi jika hasil penilaian masih belum mencerminkan prestasi yang diharapkan maka hasil tersebut sebagai dasar untuk memperbaiki proses pembelajaran.Seorang siswa dikatakan sudah berhasil dalam mencapai kompetensi suatu materi poko tertentu jika siswa tersebut sudah mempunyai nilai sesuai kriteria ketuntasan minimal (KKM) atau lebih.

Hasil penilaian dapat dibagikan kepada siswa sehingga siswa tahu benar sejauh mana mereka menguasai materi yang telah dipelajari. Bagi sekolah hasil penilaian sangat penting karena merupakan dasar penyusunan program sekolah untuk meningkatkan prestasi sekolah.

b. Penilaian dan Hasil Belajar Fisika

Penilaian prestasi belajar siswa dapat dinyatakan dalam bentuk angka (kuantitaif) maupun huruf (kualitatif). Pada pembelajaran fisika penilaiannya meliputi tiga aspek yaitu kognitif, psikomotor dan afektif. Aspek kognitif dan psikomotorik hasil penilaiannya dinyatakan dalah bentuk angka (kuantitatif) sedangkan aspek afektif dinyatakan dalam huruf ( kualitatif). Ada beberepa alasan guru melakukan penilaian terhadap siswa diantaranya adalah : 1) untuk mengetahui kemampuan kognitif siswa, 2) untuk memonitor kemajuan siswa, 3) untuk mengetahui efektifitas proses pembelajaran yang telah berlangsung, 4) untuk menentukan langkah-langkah berikutnya demi memperbaiki prestasi sisa, 5) untuk memberikan nilai sebagai hasil belajar baik pada aspek kognitif, afektifmaupun psikomotor.

Proses pembelajaran Fisika di SMA merupakan satu kesatuan yang melibatkan tiga unsur yaitu: 1) tujuan yang akan dicapai tiap standar kompetensi,

(44)

commit to user

27

2)pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa ketika mengikuti proses pembelajaran dan 3)prestasi belajar yang telah ditetapkan sebagai kriteria ketuntasan minimum. Dengan membandingkan nilai atau orestasi yang telah dicapai siswa dengan nilai KKM yang telah ditetapkan sebelumnya guru dapat mengetahui sejauh mana proses pembelajran memberikan hasil dalam pencapaian kompetensi. Prestasi belajar yang telah diukur juga dapat digunakan oleh guru untuk mengevaluai apakah metode pembelajaran dan media pembelajaran sudah tepat atau sesuai dengan meteri yang diajarkan.

c. Teknik Penilaian

Teknik penilaian akan sangat berpengaruh pada hasil penilaian, jadi seorang guru harus pandai-pandai dalam menentukan teknik penilaian, yaitu jenis tagihan dan bentuk instrumen penilaian yang digunakan. Jenis tagihan ini merupakan teknik penilaian diantaranya berupa kuis, pertanyaan lisan, ulangan harian, penugasan baik kelompok maupun individau , ulangan tengah semester maupun ulangan akhir semester juga termasuk laporan praktikum.

d. Tes kognitif

Tes kognitif diberikan kepada siswa berfungsi untuk mengukur pengetahuan, pemahaman dan daya penalaran siswa. Pada tes kognitif ini diklasifikasikan menjadi enam aspek sesuai dengan taksonomi Bloom yaitu : 1) pengetahuan atau ingatan (C1) dengan tipe hasil belajar meliputi pengetahuan atau hafalan tentangdifinisi, istilah, nama-nama tokoh; 2) pemahaman (C2) dengan tipe hasil belajar meliputi pemahaman terjemahan dalam arti sebenarnya, pemahaman penaksiran dan pemahaman ekplorasi; 3) aplikasi (C3) dengan tipe

(45)

commit to user

28

hasil belajar dapat menggunakan abtraksi pada situasi konkrit; 4) analisis (C4) berusaha memilih suatu integrasi menjadi bagian sehingga jelas susunannya; 5) evaluasi (C5 ) dengan tipe hasil belajar dapat memberikan keputusan tentang nilai sesuatu yang memungkinkan dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan atau metode; dan 6) create dengan tipe hasil belajar adalah sustu hasil karya cipta.

Pada penelitian ini untuk mengetahui hasil belajar siswa dengan cara mengukur tes kognitif saja dengan menggunakan instrumen berupa soal pilihan ganda.

h. Bahan Ajar

a. Gaya Gerak Listrik (GGL) Induksi 1) Fuks Magnetik ( )

Konsep fluks magnetik disampaikan pertama kali oleh Michel Faraday untuk menyatakan medan maganet. Medan magnet digambarka sebagai garis- garis gaya atau garis medan. Garis-garis gaya ini semakin rapat menunjukan kuat medannya semakin besar. Induksi Magnetik (B) adalah uluran kerapatan garis medan, sedangkan fluks magnetik ( ) adalah banyaknya garis gaya magnet yang menembus secara tegak lurus suatu luasan bidang (A). Fluks magnetik merupakan hasil kali secara skalar (dot product) antara luasan (A) dan medan magnet (B).

Dalam sistem internasional luasan bidang yang ditembus garis gaya magnet dinyatakan dalam satuan meter persegi dan induksi magnetik atau kuat medan magnet dinyatakan dengan satuan weber per meter persegi (wb.m-2) maka fluks magnet dapat dinyatakan dengan satuan weber .

(46)

commit to user

29

Gambar 2.2 Garis gaya magnet menembus sutu bidang

Dari gambar 2.2 dapat dijelaskan bahwa garis gaya magnet B yang menebus suatu luasan bidang dengan arah membetuk sudut

normal bidang N maka besar fluks magnetik yang menembus bidang tersebut dapat dinyatakan dengan persamaan 2.1 .

cos

AB

... (2.1)

2) Hukum Faraday

-ujung suatu loop penghantar

berbanding lurus dengan laju perubahan fluks megnetik (

t ) yang dilingkupi oleh loop penghantar tersebut dan jumlah lilitannya (N) sehingga dapat dituliskan dalam persamaan 2.2

N t

... (2.2)

Jika perubahan fluks magnetik maka GGL induksinya adalah :

dt Nd N t

lim

t

0 ... (2.3)

B N

(47)

commit to user

30

Tanda negatif pada persamaan (2.2) dan (2.3) oleh Lenz untuk menyatakan arah induksi magnetik berlawanan denga arah perubahan medan magnetnya yang akan dibahas pada bagian selanjutnya. Jika garis gaya magnet menembus bidang secara tegak lurus maka nilai pada persamaan 2.1 adalah nol maka persamaan 2.1 menjadi:

AB

...(2.4)

= ( ) ...(2.5)

Sedangakan faktor-faktor yang dapat menyebabkan perubahan fluks

magnet adalah : (1) , (2)perubahan besar

dan (3)perubahan sudut antara arah medan magnet dengan arah garis normal bidang. Untuk perubahan fluks magnet yang disebabkan perubahan lusa bidang yang ditembus garis gaya magnet dengan nilai B konstan maka diperoleh

t

B A

t

...(2.6) Sehingga GGL induksiyang terjadi karena perubahan luas bidang dapat dituliskan dalam bentu persamaan :

t NB A

...(2.7) Sedangkan untuk perubahan fluks magnetik yang menembus bidang disebabkan oleh perubahan nilai induksi magnetik ( B) dengan luas bidang yang dilingkupi konstan maka GGL Induksi yang terjadi dapat dinyatakan dengan persamaan

(48)

commit to user

31 t A

N B

... (2.8) 3) Hukum Lentz

yang dihasilkan sedemikian rupa sehingga menimbulkan medan magnet induksi yang menentang perubahan medan magnet (arus induksi berusaha mempertahankan fluks magnetic totalnya konsta

Untuk memahami hukum Lenz yang menjelaskan tentang arah induksi magnetik yang arahnya selalu melawan perubahan medan magnet yang melingkupi kumparan tersebut dapat dilihat pada gambar 2.3 yang menggambarkan sebuah magnet yang digerakkan keluar masuk kumpa aran sehingga pada kumparan terjadi perubahan fluks magnet.

Gambar 2.3 Menentukan arah arus induksi pada kumparan berdasr hokum Lenz Magnet diam

Magnet bergerak mendekat magnet menjauh

Loop loop

a b c

I induksi

induksi induksi

I induksi

utama utama

(49)

commit to user

32

Gambar 2.3 dapat dijelaskan perubahan fluks magnet yang terjadi pada loop kawat menyebabkan arus induksi yang arahnya menyebabkan timbulnya induksi magnetik yang berlawanan dengan arah medan magnet yang disebabkan magnet batang sehingga medan magnet yang dilinggkupi oleh kumparan tersebut nilainya konstan, gambar 2.3a magnet dalam kedaan diam di dekat suatu loop kawat, pada kawat tidak tejadi arus induksi. Gambar 2.3b magnet digerakkan mendekati kawat dan pada kawat terjadi arus induksi (iinduksi) yang arahnya menyebabkan fluks magnetik indusi ( induksi) yang arahnya berlawanan dangan arah fluks utama ( utama) dan gambar 2.3c magnet bergerak menjauhi loop kawat sehingga fluks magnet yag dlingkupi loop kawat berubah yang mengakibatkan arus induksi pada kawat yang arahnya berlawanan dengan arus induksi yang terjadi saat magnet bergerak mendekati loop.

4) GGL Induksi pada Penghantar yang Bergerak dalam Madan Magnet

Pada gambar 2.4 sepot kaong kawat AB panjangnya l dapat bergerak secara bebas pada kawat lengkung dengan nilai hambatan R yang berada di dalam medan magnet homogen B yang arahnya tegak lurus masuk ke idang gambar sehingga luas bidang yang dilingkupi medan magnet B adalah ABCD.

Gambar 2.4 perubahan luas bidang yang dilingkupi medan magnet karena kergeseran kawat penghantar

(50)

commit to user

33

Saat kawat AB digerakkan ke kanan dengan kecepatan v sejauh S berarti telah mengubah luas bidang ( A) (( A = Sl ) yang melingkupi medan magnet B, perubahan luas bidang yang dilingkupi medan magnet B dapat dinyatakan:

A = Sl ...(2.9) Dengan mensubtitusikan persamaan 2.7 dan 2.9 maka diperoleh:

= = =

Kerena loop hanya terdiri dari satu kawat penghantar maka nilai N = 1 sehingga besarnya GGl induksi dapat dinyatakan dengan persamaan 2.10

Blv

... (2.10) Untuk menentukan arah arus induksi pada kawat AB digunakan kaidah tangan kanan sepert pada gambar 2.5

Gb. 2.5 Arah arus induksi sesuai dengan kaidah tangan kanan

Gambar 2.5 dapat dijelaskan bila tangan kanan pada posisi seperti gambar 2.5 maka: ibu jari menunjukkan arah gerak kawat penghantar (v), jari telunjuk menunjukkan arah medan magnet (B), dan jari tengah menunjukkan arah arus induksi (i) pada kawat penghantar.

(51)

commit to user

34 5) Gaya Gerak Listrik (GGL) Induksi Diri

Bila dalam suatu rangkaian listrik dialiri listrik yang berubah ubah sebagai fungsi waktu, maka akan menimbulkan fluks magnet induksi yang berubah sebagai fungsi waktu pula. Perubahan fluks magnet induksi ini akan mengakibatkan timbulnya GGL induksi pada rangkaian tersebut. GGL induksi yang terjadi pada suatu rangkaian listrik akibat perubahan fluks magnet induksi dari rangkaian itu sendiri disebut GGL induksi diri

Jika pada suatu kumparan dengan jumlah lilitan N panjang l dan luas penampangnya A dengan nilai induktansi diri L dengan arus listrik yang berubah sebesar i dalam selang waktu t maka besar GGL induksi diri yang terjadi adalah

t

L i

... (2.11) Jika selang waktunya kecil sekali ( ) maka persamaan 2.11 menjadi :

dt Ldi

...(2.12) b. Induktansi Diri

Jika pada suatu kumparan dengan jumlah lilitan N dialiri arus listrik i sehingga menimbulkan fluks magnet yang melingkupinya adalah maka nilai dari iduktansi diri kumparan tersebut dapat dihitung mensubtitusika persamaan 2.3 dengan persamaan 2.12

=

=

(52)

commit to user

35 0 = 0

=

N i L

...(2.13) Berdasrkan hukum Ampere besarnya induksi magnetik pada pusat sumbu kumparan dengan jumlah lilitan N yang panjangnya l karena arus listrik i dapat dinyatakan dengan persamaan 2.14

= ...(2.14) Dengan mensubtitusikan persamaan 2.4, 2.13 dan 2.14 maka diperoleh persamaan 2.15

= = =

l A L o N

2

...(2.15)

Persamaan 2,15 dapat dijelaskan bahwa nilai induktasi diri dari suatu kumparan baik solenoida maupun toroida tergantung pada keadaan fisik kumparan tesebut yaitu jumlah lilitan, panjang kumparan luas penampang dan permiabilitas bahan yang mengisi kumparan tersebut. Jika solenoid atau toroid di isi dengan bahan tertentu dengan permiabilitas relatif r maka permiabilitasnya menjadi

o

r ...(2.16) Dari persamaan 2.15 dan 2.16 maka nilai induktansi diri dari kumparan dinyatakan dengan persamaan 2.17

l L A

Lb N r

2

...(2.17)

Referensi

Dokumen terkait

PHP adalah bahasa scripting yang menyatu dengan HTML dan dijalankan pada server side. Artinya semua sintak yang kita berikan akan sepenuhnya dijalankan pada server

Sedangkan untuk pengolahan databasenya menggunakan MySQL.Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perancangan sistem yang digunakan adalah perancangan sistem

Pada hari ini, seramai 407 Person Under Surveillance (PUS) telah mendaftar masuk di hotel untuk menjalani kuarantin, menjadikan jumlah keseluruhan PUS di 31 buah hotel

 Hubungan Sistem Konfigurasi Elektron dengan Letak Unsur dalam Tabel Periodik Unsur  Sifat-Sifat Unsur dan Massa Atom Relatif (Ar)  Sifat Keperiodikan Unsur. 

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sikap terhadap budaya organisasi P.T Garudafood pada karyawan bagian Corporate Human Capital.. Aspek budaya organisasi pada penelitian

Perairan Karst Ciseeng memiliki nilai kekeruhan, suhu, DHL, salinitas, TSS, alkalinitas, kesadahan, ortofosfat dan fosfat total yang lebih besar dibandingkan

[r]

Pada hari ini Selasa tanggal Dua Puluh Lima bulan September Tahun Dua Ribu Dua Belas, kami yang bertanda tangan dibawah ini Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Dinas Bina Marga