• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV . HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Uji Daya Analgesik

Setelah dilakukan orientasi dan diperoleh data-data yang diperlukan untuk pengujian, maka dilakukan pengujian daya analgesik yang menggunakan senyawa uji yaitu sari buah belimbing. Dari hasil orientasi diperoleh bahwa zat penginduksi nyeri yang dipakai adalah asam asetat 1% dengan dosis 100 mg/kgBB, kontrol positif yang digunakan adalah parasetamol dosis 91 mg/kgBB dengan selang waktu pemberian 15 menit sebelum injeksi asam asetat dan kontrol negatif yang digunakan adalah aquades. Setelah dilakukan pengujian mengunakan sari buah belimbing dengan tiga peringkat dosis berikut dengan pengujian kontrol positif dan negatif, maka didapat data-data jumlah kumulatif geliat.

Hasilnya disajikan pada tabel dan gambar berikut :

Tabel XVII. Rata-rata jumlah geliat pada kelompok kontrol dan perlakuan sari buah belimbing

Kelompok uji Jumlah subjek uji Rata-rata jumlah geliat (X ± SE) Aquades 0,5 ml/20 gBB 5 28,20 ± 1,07 Parasetamol 91 mg/kgBB 5 9,60 ± 0,68 SBB dosis 8,33 ml/kgBB 5 21,80 ± 1,77 SBB dosis 16,67 ml/kgBB 5 13,80 ± 0,86 SBB dosis 33,33 ml/kgBB 5 11,80 ± 0,86 Keterangan :

SBB = Sari buah belimbing X =Mean(Rata-rata) SE =Standard Error(SD/n)

Gambar 16. Diagram batang rata-rata kumulatif jumlah geliat kelompok kontrol dan perlakuan sari buah belimbing

Keterangan :

SBB = Sari buah belimbing

Dari data jumlah kumulatif geliat kelompok perlakuan yang telah diperoleh kemudian diolah secara statistik, dan didapatkan persen proteksi terhadap nyeri yang dibandingkan dengan kontrol negatif, dan perubahan persen daya terhadap kontrol positif. Hasilnya dapat dilihat pada tabel XVIII.

Tabel XVIII.Persen penghambatan nyeri pada kelompok kontrol dan perlakuan sari buah belimbing

Kelompok Uji Jumlah subjek uji

Rata-rata persen penghambatan nyeri (X ± SE) Aquades 0,5 ml/20 gBB 5 0,00 ± 3,79 Parasetamol 91 mg/kgBB 5 65,96 ± 2,40 SBB dosis 8,33 ml/kgBB 5 22,69 ± 6,28 SBB dosis 16,67 ml/kgBB 5 51,06 ± 3,05 SBB dosis 33,33 ml/kgBB 5 57,56 ± 3,14 Keterangan :

SBB = Sari buah belimbing X = Mean(Rata-rata) SE = Standard Error(SD/n)

Gambar 17.Diagram batang persen penghambatan nyeri kelompok kontrol dan perlakuan sari buah belimbing

Keterangan :

Persen penghambatan pada masing-masing kelompok uji kemudian dianalisis menggunakan analisis variansi satu arah dengan taraf kepercayaan 95% untuk melihat apakah diantara kelompok perlakuan mempunyai perbedaan atau tidak.

Dari hasil analisis variansi satu arah diketahui nilai probabilitasnya 0,000, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna (p ≤ 0,05) pada tiap kelompok perlakuan. Kemudian dilakukan uji Scheffe untuk mengetahui perbedaan antar kelompok bermakna atau tidak bermakna. Hasil uji Scheffe dapat dilihat di tabel XIX.

Tabel XIX.Hasil Uji Scheffe persen penghambatan rangsang nyeri pada kelompok kontrol dan perlakuan sari buah belimbing

Kelompok Aquades Parasetamol SBB 8,33 SBB 16,67 SBB 33,33 Aquades - b b b b Parasetamol b - b tb tb SBB 8,33 b b - b b SBB 16,67 b tb b - tb SBB 33,33 b tb b tb -Keterangan : b = Berbeda bermakna (p≤0,05) tb = Berbeda tidak bermakna (p > 0,05) SBB = Sari buah belimbing (ml/kgBB)

Dari tabel XIX dapat diketahui bahwa kontrol negatif mempunyai perbedaan yang bermakna terhadap kelompok kontrol positif dan kelompok senyawa uji yaitu sari buah belimbing dalam tiga peringkat dosis. Hal ini menunjukkan bahwa aquades tidak memiliki daya analgesik sebagai penghambat rasa nyeri. Hal ini juga dibuktikan dengan kumulatif jumlah geliat yang paling besar dibandingkan dengan kelompok lainnya. Pada kelompok kontrol positif dan kelompok perlakuan sari buah belimbing

menunjukkan pengurangan jumlah geliat mencit yang berarti kelompok-kelompok tersebut memiliki nilai persen penghambatan nyeri yang besar. Parasetamol secara teoritis memang mempunyai efek analgesik dengan mekanisme merintangi penyaluran rangsang nyeri ke saraf-saraf sensori. Parasetamol merupakan inhibitor enzim COX yang lemah di jaringan perifer namun efektif menghambat sintesis prostaglandin di sistem saraf pusat (hipotalamus). Prostaglandin yang bertanggung jawab atas rasa nyeri adalah PGI2dan PGE2(Rang dkk, 2003). Dengan kata lain, saat parasetamol menghambat sintesis prostaglandin, timbulnya rasa nyeri juga dihambat.

Dari grafik dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan persen penghambatan rangsang nyeri dari kelompok dosis 16,67 dan 33,33 ml/kgBB pada puncaknya. Pada kelompok sari buah belimbing dosis 16,67 ml/kgBB, nilai persen penghambatan nyeri sebesar 51,06 ± 3,05%. Dan pada kelompok sari buah belimbing dosis 33,33 ml/kgBB diperoleh nilai penghambatan nyeri yaitu sebesar 57,56 ± 3,14%. Dari tabel dapat juga diketahui bahwa kelompok dosis 16,67 ml/kgBB dan 33,33 ml/kgBB memiliki nilai persen penghambatan nyeri yang tidak bermakna dibandingkan dengan kontrol positif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kelompok sari buah belimbing dosis 33,33 ml/kgBB memiliki nilai persen penghambatan nyeri yang paling mendekati nilai persen penghambatan nyeri pada kelompok kontrol positif parasetamol dosis 91 mg/kgBB yaitu sebesar 65,96 ± 2,40%. Dengan kata lain kelompok sari buah belimbing dosis 33,33 ml/kgBB mempunyai kemampuan menghambat nyeri yang hampir sama dengan parasetamol. Sedangkan pada kelompok sari buah belimbing dosis 8,33 ml/kgBB memiliki nilai persen

penghambatan nyeri berbeda bermakna dengan kontrol positif parasetamol namun berbeda bermakna dengan kontrol negatif sehingga dapat disimpulkan sari buah belimbing pada dosis 8,33 ml/kgBB memiliki efek analgesik tetapi daya analgesiknya jauh lebih rendah dibandingkan dengan kontrol positif parasetamol.

Menurut Anonim (1991), jika suatu senyawa mampu menghambat terjadinya geliat lebih besar dari 50%, maka senyawa tersebut dapat dikategorikan sebagai analgesik. Dengan demikian kelompok sari buah belimbing dosis 16,67 ml/kgBB dan 33,33 ml/kgBB dikatakan memiliki daya analgesik karena mampu menghambat jumlah geliat sebesar 51,06% dan 57,56%. Sedangkan pada dosis 8,33 ml/kgBB tidak bisa dikategorikan sebagai analgesik karena hanya mampu menghambat geliat sebesar 22,69% saja. Namun pada dosis 33,33 ml/kgBB memiliki daya analgesik yang lebih besar daripada dosis 16,67 ml/kgBB, sehingga dapat disimpulkan sari buah belimbing dosis 33,33 ml/kgBB merupakan dosis optimal untuk mengurangi nyeri.

Perubahan persen proteksi geliat kelompok perlakuan terhadap kontrol positif dapat dilihat pada tabel XX.

Tabel XX.Perubahan persen proteksi geliat kelompok perlakuan terhadap kontrol positif

Kelompok Uji Rata-rata jumlah kumulatif geliat (X ± SE) Perubahan % penghambatan nyeri (X ± SE) Aquades 0,5 ml/20 gBB 28,20 ± 1,07 -100,00 ± 5,74 Parasetamol 91 mg/kgBB 9,60 ± 0,68 0,00 ± 3,65 SBB dosis 8,33 ml/kgBB 21,80 ± 1,77 -65,59 ± 9,53 SBB dosis 16,67 ml/kgBB 13,80 ± 0,86 -22,58 ± 4,62 SBB dosis 33,33 ml/kgBB 11,80 ± 0,86 -11,03 ± 4,87 Keterangan : X = Mean(Rata-rata) SE = Standard Error(SD/n) SBB = Sari buah belimbing

Gambar 18.Diagram batang perubahan persen penghambatan rangsang nyeri kelompok perlakuan

Dari tabel XX, dapat dilihat bahwa semakin banyak rata-rata jumlah kumulatif geliat yang dihasilkan maka persen penghambatan dibandingkan dengan kontrol positif semakin menurun dalam arti semakin tidak mendekati dengan persen penghambatan yang dihasilkan oleh kontrol positif. Sebaliknya apabila rata-rata jumlah kumulatif geliat yang dihasilkan semakin sedikit, maka persen penghambatannya semakin mendekati nilai persen penghambatan yang dihasilkan oleh kontrol positif sebesar 0,00%. Pada tabel XX terlihat bahwa nilai persen perubahan penghambatan nyeri kontrol negatif sebesar -100,00 berbeda jauh dengan nilai persen perubahan penghambatan nyeri kontrol negatif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada kontrol negatif tidak mempunyai daya penghambatan nyeri.

Perubahan persen penghambatan nyeri sari buah belimbing terhadap kontrol positif pada ketiga peringkat dosis berturut-turut adalah -65,59; -22,58; dan -11,03. Dosis yang paling mendekati nilai nilai persen penghambatan yang dihasilkan oleh kontrol positif adalah dosis 33,33 ml/kgBB, artinya dosis ini memiliki kemampuan penghambatan nyeri yang hampir sama dengan kontrol positif. Sedangkan pada dosis 16,67 ml/kgBB memiliki kemampuan penghambatan nyeri namun lebih lemah daripada dosis 33,33 ml/kgBB.

Daya analgesik sari buah belimbing mungkin berkaitan dengan adanya senyawa-senyawa antioksidan yang terkandung di dalam buah belimbing. Seperti telah diungkapkan sebelumnya, diketahui bahwa belimbing memiliki senyawa antioksidan flavonoid katekin. Antioksidan ini berfungsi sebagai penangkap radikal bebas.

Radikal bebas yang berlebih dalam tubuh dan tidak dapat dinetralkan oleh antioksidan alamiah tubuh yang jumlahnya terbatas (glutathione-peroxydase, superoxide-dismutase, katalase). Radikal bebas ini dapat menyebabkan rusaknya jaringan yang nantinya akan menimbulkan rasa nyeri. Saat asam asetat diinjeksikan pada tubuh mencit secara intaperitonial, asam asetat ini akan memicu pelepasan mediator-mediator nyeri. Mediator-mediator nyeri ini terbentuk dari endoperoksida yang berasal dari asam arakhidonat dengan bantuan enzimCOX. Radikal bebas akan terbentuk ketika asam arakhidonat diubah menjadi peroksida dengan bantuan enzim COX (Tjay dan Rahardja, 2002). Oleh karena itu dibutuhkan asupan antioksidan dari luar untuk mengatasi radikal bebas yang terbentuk akibat injeksi asam asetat karena dengan keberadaan radikal bebas ini memacu terbentuknya prostaglandin yang dapat meningkatkan sensitivitas nosiseptor.

Dokumen terkait