• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN 4.1 Data Penelitian

4.3 Uji Hipotesis

Pada pengujian hipotesis akan dilakukan pengujian analisis koefisien

korelasi dan determinasi, pengujian koefisien regresi parsial secara

menyeluruh/bersama-sama atau simultan (uji F) dan uji signifikansi koefisien

a. Hasil Uji Koefisien Korelasi dan Determinasi Tabel 4.10

Koefisien Korelasi dan Determinasi

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .990a .981 .979 .00915

a. Predictors: (Constant), DBH, PAD, DAK, DAU Sumber : Diolah dari SPSS, 2016.

Nilai koefisien korelasi (R) menunjukkan seberapa besar korelasi atau

hubungan antara variabel-variabel independen dengan variabel dependen.

Koefisien korelasi dikatakan kuat apabila nilai R lebih besar dari 0,5 atau

mendekati 1. Koefisien determinasi merupakan suatu nilai (proporsi) yang

mengukur seberapa besar kemampuan variabel-variabel independen (bebas) yang

digunakan dalam regresi dalam hal menerangkan variabel dependen (terikat).

Nilai koefisien determinasi berkisar antara 0 sampai 1. Nilai koefisien determinasi

yang kecil (mendekati nol) menunjukkan kemampuan variabel-variabel bebas

amat terbatas dalam hal menerangkan atau menjelaskan variabel terikat,

sedangkan nilai koefisien determinasi yang mendekati satu menunjukkan bahwa

variabel-variabel bebas memiliki semua informasi yang dibutuhkan untuk

menjelaskan variabel terikat.

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa nilai koefisien korelasi sebesar

R= 0,990, ini berarti bahwa korelasi atau hubungan antara Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah (Y) dengan Pendapatan Asli Daerah (X1), Dana Alokasi Umum

(X2), Dana Alokasi Khusus (X3) dan Dana Bagi Hasil (X4) cukup kuat yaitu

melebihi atau lebih besar dari 0,5 atau 50 %. Untuk nilai koefisien determinasinya

adalah sebesar R2 = 0,981. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa PAD, DAU,

DAK dan DBH sebagai variabel bebas mampu menjelaskan ataupun

mempengaruhi Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah secara simultan atau

bersama-sama sebesar 98,1 % dan sisanya 1,8 % dijelaskan oleh faktor-faktor

lain.

b. Hasil Uji Signifikansi Simultan (uji-F)

Uji signifikansi simultan F (uji-F) bertujuan untuk mengetahui apakah

variabel-variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel

dependen secara signifikan. Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara

membandingkan antara nilai signifikan F dengan nilai signifikansi yaitu 0,05.

Hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut :

H1 : b0 = b1 = b2 ≠ 0 : semua variabel independen (bebas) berpengaruh secara bersama-sama.

Kriteria yang digunakan dalam menerima atau menolak hipotesis adalah :

1) H1 diterima apabila pada α = 5% dan nilai probabilitas < level of significant sebesar 0,05; dan

2) H1 ditolak apabila pada α = 5% dan nilai probabilitas > level of significant sebesar 0,05.

Untuk pengambilan keputusan terhadap hipotesis, dapat dilakukan dengan

membandingkan nilai Fhitung terhadap nilai kritis berdasarkan tabel distribusi F.

Sebelum menghitung nilai kritis F terlebih dahulu menghitung derajat bebas

Derajat bebas pembilang = k-1 Derajat bebas penyebut = n-k

Dalam hal ini, n menyatakan jumlah elemen dalam sampel dan k

menyatakan jumlah variabel. Derajat bebas pembilang dalam penelitian ini adalah

k-1 = 6-1 = 5 dan derajat bebas penyebut adalah n-k = 45-6 = 39. Maka nilai kritis F dengan derajat bebas pembilang sama dengan 5 (lima) dan derajat bebas

penyebut sama dengan 39 dengan nilai tingkat signifikansi 5% adalah 2,46.

Berikut aturan pengambilan keputusan hipotesis berdasarkan uji F :

• Jika nilai dari uji F ≤ nilai kritis F, maka H0 diterima dan H1 ditolak; dan • Jika nilai dari uji F ≥ nilai kritis F, maka H0 ditolak dan H1 diterima.

Tabel 4.12

Uji Signifikansi Simultan (uji-F)

ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression .170 4 .043 508.628 .000a

Residual .003 40 .000

Total .174 44

a. Predictors: (Constant), DBH, PAD, DAK, DAU b. Dependent Variable: TKKD

Sumber : Diolah dari SPSS, 2016.

Dari tabel 4.12 di atas diketahui bahwa nilai dari uji F 508,628 > nilai

kritis F 2,46 dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Dalam ha ini H0 ditolak dan H1

diterima, ini artinya Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana

Alokasi Khusus dan Dana Bagi Hasil secara simultan berpengaruh terhadap

c. Hasil Uji Signifikansi Parsial (uji t)

Uji parsial (t-test) bertujuan untuk mengetahui apakah masing-masing

variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara signifikan. Untuk

pengujian secara parsial ini digunakan uji t. hipotesis statistik yang diajukan

adalah :

H1 : bi ≠ 0 : ada pengaruh

Kriteria yang digunakan dalam menerima atau menolak hipotesis adalah :

1) H1 diterima apabila nilai probabilitas < level of significant sebesar 0,05 ;

2) H1 ditolak apabila nilai probabilitas > level of significant sebesar 0,05.

Dalam pengambilan keputusan hipotesis dapat dilakukan dengan

membandingkan nilai dari uji t terhadap nilai kritis berdasarkan tabel distribusi t.

Sebelum menghitung nilai kritis t, terlebih dahulu menghitung derajat bebas

pembilang dan penyebut dengan rumus sebagai berikut :

Derajat bebas pembilang = k-1 Derajat bebas penyebut = n-k

Dalam hal ini n menyatakan jumlah elemen dalam sampel dan k

menyatakan jumlah variabel. Derajat bebas pembilang adalah k-1 = 6-1 = 5 dan

derajat bebas penyebut adalah n-k = 45-6 = 39. Maka nilai kritis t dengan derajat

bebas pembilang sama dengan 5 (lima) dan derajat bebas penyebut sama dengan

Tabel 4.13

Uji Signfikansi Parsial (uji-t)

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) .005 .026 .185 .854 PAD 1.296 .052 .983 24.906 .000 DAU -.011 .032 -.017 -.350 .729 DAK -.034 .090 -.011 -.377 .708 DBH -.042 .033 -.048 -1.248 .219 a. Dependent Variable: TKKD

Sumber : Diolah dari SPSS, 2016.

Berdasarkan hasil output SPSS dari tabel 4.13 di atas, dapat disusun

persamaan regresi berganda sebagai berikut :

TKKD_Y = 0,005 + 1,296X1 – 0,11X2 – 0,34X3 – 0,42X4

Model persamaan regresi berganda di atas bermakna :

1. Nilai konstanta sebesar 0,005 berarti apabila nilai variabel PAD, DAU, DAK

dan DBH bernilai nol, maka Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah tetap sebesar

0,005.

2. Pendapatan Asli Daerah menunjukkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 dan nilai

dari uji t = 24,906 > nilai t kritis 2,023. Dengan demikian, H0 ditolak H1 diterima.

Ini artinya, secara parsial, Pendapatan Asli Daerah berpengaruh terhadap Tingkat

Kemandirian Keuangan Daerah pada kota di Pulau Sumatera.

3. Dana Alokasi Umum menunjukkan nilai signifikansi 0,729 > 0,05 dan nilai dari

artinya, secara parsial, Dana Alokasi Umum tidak berpengaruh terhadap Tingkat

Kemandirian Keuangan Daerah pada kota di Pulau Sumatera.

4. Dana Alokasi Khusus menunjukkan nilai signifikansi 0,708 > 0,05 dan nilai

dari uji t = -377 < nilai t kritis 2,023. Dengan demikian, H0 diterima H1 ditolak.

Ini artinya, secara parsial, Dana Alokasi Khusus tidak berpengaruh terhadap

Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah pada kota di Pulau Sumatera.

5. Dana Bagi Hasil menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,219 > 0,05 dan nilai

uji t = -1,248 < nilai t kritis 2,023. Dengan demikian, H0 diterima H1 ditolak. Ini

artinya, secara parsial, Dana Bagi Hasil tidak berpengaruh terhadap Tingkat

Kemandirian Keuangan Daerah pada kota di Pulau Sumatera.

Dokumen terkait