BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
4.6. Metode Analisis Data
4.6.2. Teknik Analisis Data
4.6.2.3. Uji Hipotesis
Uji hipotesis diperlukan untuk menjustifikasi kebenaran jawaban dengan data-data pendukung yang telah diolah menggunakan alat bantu software. Ada dua macam hipotesis yang dibuat dalam suatu percobaan penelitian, yaitu hipotesis nol dan hipotesis alternatif. Hipotesis alternatif sering disebut juga hipotesis penelitian sementara itu hipotesis nol adalah hipotesis yang akan diterima kecuali bahwa data yang kita kumpulkan salah.
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan melalui dua analisis yang diantaranya adalah : Koefisien Determinasi (R2) dan Uji-T. Pengujian hipotesis dilakukan dengan regresi berganda.
1. Koefisien Determinasi (R2)
Untuk menentukan apakah model regresi yang cukup baik digunakan,maka ditetapkan melalui koefisien determinasi. Nilai adjusted R2 dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan ke dalam model regresi (Ghozali, 2013). Nilai adjusted R2 dipilih karena tidak seperti koefisien determinasi yang pasti meningkat setiap penambahan satu variabel independen.
2. Uji Statistik t
Uji t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh suatu variabel penjelas secara individual dalam menerangkan variasi - variabel terikat.
Adapun langkah-langkah dalam pengambilan keputusan untuk uji-t adalah dengan melihat nilai signifikan, variabel independen dikatakan berpengaruh berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen apabila nilai sig α ≤ 0,05 dalam arti kata lain hipotesis diterima. Begitu juga sebaliknya apabila nilai sig α > 0,05 maka dapat disimpulkan variabel independen secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen atau hipotesis ditolak (Ghozali, 2013:98).
Selain itu, uji statistik t juga dapat dilakukan dengan melihat perbandingan antara t tabel dengan t hitung dengan ketentuan :
a. Bila nilai t hitung>t tabel pada α = 0,05, maka H0 diterima.
b. Bila nilai t hitung≤ t tabel pada α = 0,05, maka H0 ditolak.
Dalam berbagai literatur penelitian seringkali, hipotesis nol dilambangkan dengan H0 dan hipotesis alternatif dengan H1. Apabila hipotesis nol dan hipotesis alternatif telah dirumuskan, maka kita akan berhadapan dengan dua keputusan yaitu :
a. Menolak H0 dan menyimpulkan bahwa H1 benar (didukung oleh data)
b. Menolak H0 dan menyimpulkan bahwa H1 salah (tidak didukung data)
Jika hipotesis nol ditolak, tidak berarti bahwa hipotesis alternatif benar.
Yang dapat dikatakan adalah bahwa hipotesis nol mempunyai peluang salah yang besar, sedangkan data/fakta yang terkumpul mendukung hipotesis alternatif.
5.1. Hasil Penelitian.
Hasil penelitian ini untuk menguji apakah variabel Tenur Audit, Ukuran KAP, Keahlian Auditor, Jasa Non Audit, Reputasi Auditor berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Dimana, dari kelima variabel yang akan diteliti akan menghasilkan kesimpulan atas variabel-variabel yang mempengaruhi kualitas audit. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah Kantor Akuntan Publik yang terdapat dikota medan dengan rujukan dari situs resmi IAPI www.iapi.or.id yang diakses pada bulan Agustus 2016 dengan jumlah total 21 Kantor Akuntan Publik.
5.1.1. Deskripsi Data
Sumber data pada penelitian ini menggunakan data primer atau yang populernya dengan menggunakan kuesioner dengan melampirkan beberapa pernyataan sikap yang dapat dinilai oleh responden yang bekerja di Kantor Akuntan Publik yang terdapat dikota Medan dengan kriteria seorang auditor yang telah bekerja minimal 1 tahun. Jumlah kuesioner yang disebar dalam penelitan ini sebanyak 120 kuesioner yang disebarkan secara langsung ke setiap Kantor Akuntan Publik. Waktu penyebaran dan pengumpulan kuesioner berlangsung selama 14 hari kerja dengan rincian apabila kuesioner yang disebar belum mendapatkan respon di minggu pertama maka penambahan waktu 1 minggu kembali dan apabila tidak mendapat respon dari responden maka dengan terpaksa kuesioner yang dibagikan tersebut tidak masuk dalam objek penelitian.
5.1.1.1. Karakteristik Responden
Pada Penelitian ini terdapat berbagai strata responden yang ikut berpartisipasi meliputi : Junior auditor, Senior auditor, Supervisor, Manager, Partner dan lain-lain. Keseluruhan responden yang bekerja pada kantor akuntan publik yang menjadi objek penelitian dengan total keseluruhan sebanyak 120 responden. Adapun distribusi pengumpulan data sebagai berikut :
Tabel 5.1 Pengumpulan Data
Keterangan Jumlah Persentase
Kuesioner yang dibagikan 120 100%
Kuesioner yang kembali 109 91%
Kuesioner yang tidak kembali 8 7%
Kuesioner yang cacat/rusak 3 2%
Sumber : diolah oleh peneliti
Berdasarkan tabel 5.1 jumlah kuesioner yang dibagikan ke setiap kantor akuntan dikota Medan sebanyak 120 kuesioner, akan tetapi ada beberapa kuesioner yang tidak dikembalikan oleh responden sesuai dengan jangka waktu yang telah diberikan yaitu sebanyak 8 kuesioner. Keputusan untuk mengeluarkan sampel yang diteliti dikarenakan selama jangka waktu 14 hari kerja tidak direspon maka 8 kuesioner tersebut dinyatakan sebagai kuesioner yang tidak kembali.
Kemudian dari jumlah keseluruhan kuesioner yang dibagikan terdapat 3 kuesioner yang dinyatakan rusak hal ini dikarenakan halaman pada kuesioner tersebut tidak lengkap.
Kuesioner yang kembali kemudian akan dijabarkan sesuai dengan karakter – karakter yang responden dan indentitas – identitas lain yang akan dijabarkan sebagai berikut :
Tabel 5.2
Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja
Masa Kerja Jumlah Persentase
Masa Kerja 0 – 1 Tahun 10 9 %
Masa Kerja 1 – 3 Tahun 41 38 %
Masa Kerja 3 – 5 Tahun 38 35 %
Masa Kerja Diatas 5 Tahun 20 18 %
Sumber : diolah oleh peneliti
Berdasarkan tabel 5.2 masa kerja pada penelitian ini paling banyak terletak pada responden dengan masa kerja 1 – 3 tahun dengan total perolehan 41 orang responden. Kemudian pada responden dengan masa kerja 3 – 5 tahun sebanyak 38 responden. Responden dengan masa kerja diatas 5 tahun sebanyak 20 orang responden dan yang terakhir dengan jumlah paling kecil didapati responden dengan masa kerja 0 – 1 tahun dengan total perolehan 10 orang.
Berdasarkan deskripsi tabel 5.2 dengan kriteria responden berdasarkan pengalaman kerja diputuskan untuk mengeluarkan masa kerja 0 – 1 tahun dari objek penelitian hal ini dikarenakan pada rentang waktu masa kerja tersebut tidak cukup mempunyai pengalaman dalam melakukan audit. Sehingga apabila jumlah kuesioner yang terkumpul sejumlah 109 kuesioner dikurangi karakteristik responden dengan masa kerja 0 – 1 tahun sebanyak 10 responden Maka, objek penelitian dalam penelitian ini berjumlah 99 orang responden yang dianalisis ke tahap selanjutnya.
Dengan jumlah 99 orang responden tersebut kemudian diuraikan berdasarkan jenis kelamin untuk melihat gender yang paling banyak berpartisipasi dalam penelitian ini. Untuk lebih jelas deskripsi penguraian berdasarkan jenis kelamin akan dijabarkan pada tabel berikut ini :
Tabel 5.3
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Persentase
Pria 43 43 %
Wanita 56 57 %
Total 99 100 %
Sumber : diolah oleh peneliti
Berdasarkan Tabel 5.3 maka dapat diketahui bahwa jumlah responden auditor pada penelitian ini yang terbanyak adalah auditor wanita yaitu sebanyak 56 orang atau sebesar 57%, sedangkan auditor Pria sebanyak 43 orang atau sebesar 43%. Hal ini melunturkan stigma yang beredar saat ini bahwa auditor pada kantor akuntan publik identik dan didominasi oleh kaum pria.
Untuk penjabaran karkteristik responden berdasarkan usia akan dijabarkan pada tabel berikut ini :
Tabel 5.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Usia Responden Jumlah Persentase
21 – 25 41 41 %
26 – 30 43 43 %
31 – 35 7 7 %
> 35 8 8 %
Total 99 100 %
Sumber : diolah oleh peneliti
Berdasarkan Tabel 5.4 menunjukkan bahwa jumlah auditor yang terbesar adalah dengan umur 26 – 30 tahun yaitu sebanyak 43 orang dan jumlah auditor terkecil dengan umur 31 – 35 tahun sebanyak 7 orang. Hal ini menunjukkan bahwa profesi ini masih didominasi oleh mahasiswa (fresh graduate) yang melanjutkan karier di KAP setelah lulus dari universitas serta profesional muda yang berusia kisaran 21 – 30 tahun.
Kemudian setelah mengetahui umur para responden yang terlibat dalam penelitian ini akan lebih lengkap jika tingkat pendidikan responden juga dijabarkan. Berikut ini akan ditampilkan karakterisitik responden berdasarkan tingkat pendidikan yang akan ditampilkan pada tabel dibawah ini :
Tabel 5.5
Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase
D3 11 11 %
S1 79 80 %
S2 9 9 %
S3 0 0 %
Total 99 100 %
Sumber : diolah oleh peneliti
Berdasarkan tabel 5.5 karakteristik tingkat pendidikan responden yang berpartisipasi pada penelitian ini yang terbanyak dari Strata 1 (S1) dengan jumlah 79 orang auditor. Sementara itu auditor tingkat pendidikan paling sedikit adalah auditor dengan tingkat pendidikan Pascasarjana (S2) sebanyak 9 orang auditor dan auditor dengan tingkat pendidikan D3 sebanyak 11 orang. Hal ini menunjukkan bahwa lulusan strata 1 banyak diminiati oleh kantor akuntan publik yang ada dikota medan, walaupun syarat minimum untuk menjadi seorang auditor berdasarkan peraturan mentri keuangan No. 423/KMK.06/2002 menerangkan bahwa seorang auditor yang menjadi staff kantor akuntan publik minimal lulusan D3.
Kemudian yang terakhir dan penutup dalam penjelasan karakteristik responden dijalaskan pemisahan karakteristik responden berdasarkan jabatan sehingga dapat diketahui strata yang ikut berpartisipasi dalam penelitian ini.
Untuk lebih lengkapnya akan dijabarkan sebagai berikut :
Tabel 5.6
Karakteristik Responden Berdasarkan Jabatan Jabatan Responden Jumlah Persentase
Junior Auditor 44 44 %
Manager 2 2 %
Senior Auditor 37 37 %
Supervisor 3 3 %
Partner 1 1 %
Lain-lain 12 12 %
Total 99 100 %
Sumber : diolah oleh peneliti
Berdasarkan tabel 5.6 dengan karakteristik responden berdasarkan jabatan, junior auditor merupakan jabatan yang terbanyak berpartisipasi dalam penelitian ini dengan jumlah 44 orang auditor, di posisi kedua senior auditor dengan jumlah responden sebanyak 37 orang ditempati posisi ketiga oleh jabatan lain-lain dengan jumlah responden sebanyak 12 orang kemudian untuk posisi keempat ditempati oleh supervisor dimana pada posisi ini terdapat 3 orang responden yang ikut berpartisipasi selanjutnya diposisi ke lima ditempati oleh manager audit dengan jumlah responden sebanyak 2 orang auditor dan yang terakhir dengan jumlah 1 orang responden pada jabatan partner kantor akuntan publik.
5.2. Hasil Analisis Data
Setelah proses pengumpulan data rampung dimulailah menganalisis data mentah tersebut sehingga dapat dianalisis apakah hasil penelitian ini telah sejalan dengan hipotesis yang telah dibangun atau malah bertentangan dengan hipotesis yang telah dibangun. Berikut ini akan ditampilkan secara ringkas hasil pengolahan data output SmartPLS dengan sumber data hasil pengumpulan selama masa penelitian sehingga dapat dilihat sebagai berikut :
Gambar 5.1
Kerangka Konsep Penelitian
Sumber : Output SmartPLS
Pada tampilan gambar diatas digambarkan digambarkan kerangka konsep yang telah ditransformasikan kedalam angka – angka statistik sehingga penjelasan pada gambar akan dijabarkan sebagai berikut :
5.2.1. Uji Kualitas Data
Uji kualitas data dilakukan untuk mengukur variabel dengan menggunakan instrumen kuesioner harus dilakukan pengujian kualitas terhadap data yang diperoleh. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah instrumen yang digunakan valid dan reliabel sebab kebenaran data yang diolah sangat menentukan kualitas hasil penelitian. Dalam hal ini kuesioner telah diujikan
99 orang responden. Alat bantu analisis dalam penelitian ini menggunakan program Smart PLS. Uji kualitas data terbagi atas uji validitas dan uji reliabilitas.
Dalam uji yang uji tersebut akan dijabarkan sebagai berikut :
5.2.1.1. Uji Validitas
Pengujian validitas instrumen bertujuan untuk melihat apakah dalam penelitian tersebut ketepatan instrumen (alat ukur) telah betul-betul tepat untuk mengukur apa yang akan diukur serta untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya yaitu agar data yang diperoleh bisa relevan/sesuai dengan tujuan diadakannya pengukuran tersebut. Metode yang digunakan dalam pengujian validitas adalah analisis faktor dengan output dari SmartPLS berupa nilai AVE (Average Variance Extracted) atau Rata-rata Varians. Suatu instrumen dinyatakan valid apabila
memiliki nilai AVE diatas batas minimal yaitu 0,5.
Hasil pengujian nilai AVE (Average Variance Extracted) atau Rata-rata Varians yang akan ditunjukkan pada tabel berikut :
Tabel 5.7
Avarage Variance Extracted (AVE)
Average Variance Extracted (AVE)
(X1) Tenur Audit 0,525*
(X2) Ukuran KAP 0,693*
(X3) Keahlian Auditor 0,738*
(X4) Jasa Non Audit 0,673*
(X5) Reputasi Auditor 0,738*
(Y) Kualitas Audit 0,502*
*Valid
Sumber : Output SmartPLS
Berdasarkan tabel 5.7 hasil uji dengan nilai AVE menunjukkan bahwa seluruh konstruk mempunyai validitas yang potensial untuk diuji lebih lanjut. Hal
ini dikarenakan nilai AVE pada seluruh konstruk telah lebih besar dari 0,50 sehingga instrumen dinyatakan valid untuk dijadikan sebagai alat ukur dalam penelitian.
5.2.1.2. Uji Reliabilitas
Pengujian Reliabilitas instrumen ditujukan untuk mengukur derajat konsistensi data yang bersangkutan. Realibilitas berkenaan dengan pertanyaan, apakah suatu data dapat dipercaya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Suatu data dapat dikatakan reliabel jika selalu memberikan hasil yang sama jika diujikan pada kelompok yang sama pada waktu atau kesempatan yang berbeda.
Secara tradisional, "Cronbach alpha" digunakan untuk mengukur reliabilitas konsistensi internal dalam penelitian ilmu sosial, akan tetapi pengukuran konservatif cenderung disediakan dalam SmartPLS. literatur sebelumnya telah menyarankan penggunaan "Composite Reliability" sebagai pengganti metode yang digunakan dalam pengujian reliabilitas, dimana Suatu pengukuran dikatakan reliebel apabila variabel yang akan dianalisis memiliki composite reliability nya lebih besar dari 0,6 semakin tinggi nilai composite reliability maka keandalan konsistensi internal telah dibuktikan antara ketiga variabel laten reflektif (Bagozzy & Yi, 1988).
Hasil pengujian Composite reliability akan menggambarkan kondisi reliabelnya alat ukur sehingga dapat dipercaya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Berikut ini hasil uji reliabilitias alat ukur dengan melihat output SmartPLS yang akan di tampilkan sebagai berikut :
Tabel 5.9 Composite Reliability
Composite Reliability
(X1) Tenur Audit 0,767*
(X2) Ukuran KAP 0,870*
(X3) Keahlian Auditor 0,894*
(X4) Jasa Non Audit 0,856*
(X5) Reputasi Auditor 0,894*
(Y) Kualitas Audit 0,873*
*Reliabel Sumber : Output SmartPLS
Berdasarkan tabel 5.9 terlihat bahwa semua konstruk memenuhi kriteria reliabel. Hal ini ditunjukkan dengan nilai composite reliability di atas 0,70 sebagaimana kriteria yang direkomendasikan dalam persyaratan suatu variabel yang dikatakan reliabel dimana composite reliability lebih besar dari 0,6 sementara dalam pengujian model yang terdapat pada penelitian ini semua berada diatas nilai ketentuan yang berarti alat ukur dalam penelitian ini reliabel.
5.2.2. Uji Asumsi Klasik 5.2.2.1. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan untuk memastikan bahwa adanya hubungan antara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dalam model regresi. Jika dalam model terdapat multikolinearitas maka model tersebut memiliki kesalahan standar yang besar sehingga koefisien tidak dapat ditaksir dengan ketepatan yang tinggi. Metode yang digunakan dalam pengujian Multikolineritas adalah dengan melihat output Collinearity Statistic dari SmartPLS berupa nilai Variance Inflation Factor (VIF). Jika nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan data bebas dari gejala multikolinieritas. Ghozali (2013).
Tabel 5.10
Collinearity Statistic (VIF)
(Y) Kualitas Audit
(X1) Tenur Audit 1,334
(X2) Ukuran KAP 1,016
(X3) Keahlian Auditor 1,453
(X4) Jasa Non Audit 1,158
(X5) Reputasi Auditor 1,784 (Y) Kualitas Audit
Sumber : Output SmartPLS
Berdasarkan tabel 5.10 collinearity statistic menunjukkan bahwa pada hasil uji tersebut menunjukkan masing-masing variabel independen memiliki nilai VIF tidak lebih dari 10 sehingga dapat dinyatakan pada model regresi linear berganda terbebas dari masalah multikolinearitas.
5.2.3. Uji Hipotesis
Setelah dilakukannya analisis-analisis yang mendukung untuk menguatkan hasil hipotesis maka selanjutnya mengkonfirmasi hipotesis yang dibangun dengan uji hipotesis yang bertujuan untuk pengambilan keputusan yang didasarkan dari analisa data, baik dari percobaan yang terkontrol, maupun dari observasi (tidak terkontrol). Dalam statistik sebuah hasil bisa dikatakan signifikan secara statistik jika kejadian tersebut hampir tidak mungkin disebabkan oleh factor yang kebetulan, sesuai dengan batas probabilitas yang sudah ditentukan sebelumnya.
Hipotesis harus selalu diterima kebenarannya, bila ditolak karena tidak sesuai dengan data tidak berarti peneliti adalah salah, terutama bila peneliti dapat menerangkan kenapa hipotesisnya tidak valid (Lubis, 2015). Pengujian hipotesis
secara simultan dengan menggunakan uji F dan pengujian hipotesis secara parsial dengan mengunakan uji t.
5.2.3.1. Uji t
Uji Statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh suatu faktor independen secara individual atau secara parsial dalam menerangkan variasi variabel dependen. Hasil uji t dapat dilihat akan dijabarkan dalam tabel berikut :
Tabel 5.11
Tabel uji hipotesis (Uji t)
Original (X1) Tenur Audit -> (Y) Kualitas Audit 0,423 0,432 0,071 5,959 0,000 (X2) Ukuran KAP -> (Y) Kualitas Audit -0,172 -0,169 0,110 1,567 0,120 (X3) Keahlian Auditor -> (Y) Kualitas Audit 0,130 0,107 0,087 1,485 0,141 (X4) Jasa Non Audit -> (Y) Kualitas Audit -0,021 -0,006 0,093 0,223 0,824 (X5) Reputasi Auditor -> (Y) Kualitas Audit 0,312 0,329 0,094 3,329 0,001
Sumber : Output SmartPLS
Berdasarkan output SmartPLS pengujian secara statistik setiap hubungan yang dihipotesiskan dilakukan dengan menggunakan simulasi. Dalam hal ini dilakukan metode bootstrap terhadap sampel. Pengujian dengan bootstrap juga dimaksudkan untuk meminimalkan masalah ketidaknormalan data penelitian.
Hasil pengujian dengan bootstrapping dari analisis PLS adalah sebagai berikut : a. Pengujian Hipotesis X1 (Tenur Audit berpengaruh terhadap Kualitas
Audit)
Hipotesis pertama menyatakan bahwa hubungan variabel Tenur Audit berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Berdasarkan tabel 5.11 menunjukkan nilai koefisien jalur sebesar 0,423 dengan nilai t hitung sebesar 5,959. Nilai tersebut menunjukkan bahwa lebih besar dari nilai t tabel sebesar 1,96. Maka berdasarkan
hasil pengujian tersebut menyimpulkan bahwa Tenur Audit berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Artinya Hipotesis 1 diterima.
b. Pengujian Hipotesis X2 (Ukuran KAP berpengaruh terhadap Kualitas Audit)
Hipotesis kedua menyatakan bahwa hubungan variabel Ukuran KAP berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Berdasarkan tabel 5.11 menunjukkan nilai koefisien jalur sebesar -0,172 dengan nilai t hitung sebesar 1,567. Nilai tersebut menunjukkan bahwa lebih kecil dari nilai t tabel sebesar 1,96. Maka berdasarkan hasil pengujian tersebut menyimpulkan bahwa Ukuran KAP tidak berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Artinya Hipotesis 2 ditolak.
c. Pengujian Hipotesis 3 (Keahlian Auditor berpengaruh terhadap Kualitas Audit)
Hipotesis ketiga menyatakan bahwa hubungan variabel Keahlian Auditor berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Berdasarkan tabel 5.11 menunjukkan nilai koefisien jalur sebesar 0,130 dengan nilai t hitung sebesar 1,485. Nilai tersebut menunjukkan bahwa lebih kecil dari nilai t tabel sebesar 1,96. Maka berdasarkan hasil pengujian tersebut menyimpulkan bahwa Keahlian Auditor tidak berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Artinya Hipotesis 3 ditolak.
d. Pengujian Hipotesis 4 (Jasa Non Audit berpengaruh terhadap Kualitas Audit)
Hipotesis keempat menyatakan bahwa hubungan variabel Jasa Non Audit berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Berdasarkan tabel 5.11 menunjukkan nilai koefisien jalur sebesar -0,021 dengan nilai t hitung sebesar 0,223. Nilai tersebut menunjukkan bahwa lebih kecil dari nilai t tabel sebesar 1,96. Maka berdasarkan
hasil pengujian tersebut menyimpulkan bahwa Jasa Non Audit tidak berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Artinya Hipotesis 4 ditolak.
e. Pengujian Hipotesis 5 (Reputasi Auditor berpengaruh terhadap Kualitas Audit)
Hipotesis kelima menyatakan bahwa hubungan variabel Reputasi Auditor berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Berdasarkan tabel 5.11 menunjukkan nilai koefisien jalur sebesar -0,312 dengan nilai t hitung sebesar 3,329. Nilai tersebut menunjukkan bahwa lebih besar dari nilai t tabel sebesar 1,96. Maka berdasarkan hasil pengujian tersebut menyimpulkan bahwa Reputasi Auditor berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Artinya Hipotesis 5 diterima.
5.2.3.2. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R²) digunakan untuk melihat kemampuan model dalam menjelaskan variabel independen terhadap variabel dependen dari model yang dibangun. Nilai R Square adalah nol sampai dengan satu, maka variabel-variabel independen memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi dependen. Sebaliknya, semakin kecil nilai R Square maka kemampuan variabel-variabel independen untuk menjelaskan variasi variabel dependen semakin terbatas. Hasil uji koefisien determinasi (R2) akan dijabarkan sebagai berikut :
Tabel 5.12
Tabel uji Koefisien Determinasi (R2)
R Square R Square Adjusted (Y) Kualitas Audit 0,498 0,471
Sumber : Output SmartPLS
Dari hasil pengujian diatas dapat dilihat nilai adjusted R Square atau koefisien determinasi adalah sebesar 0,471 atau 47,1 % Hal ini berarti variabel independen mampu menjelaskan variasi variabel dependen hanya sebesar 47,1%, sisanya sebesar 52,9% diterangkan oleh variabel lain di luar model.
5.3. Pembahasan Hasil Penelitian
5.3.1. Pengaruh Tenur Audit Terhadap Kualitas Audit
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada penelitian ini menunjukkan bahwa Tenur Audit berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Permana, 2012), (Hosseinniakani, Inácio, & Mota, 2014), (Giri, 2010) dan (Hamid, 2013).
Dalam karyanya, (Permana, 2012) menyatakan Hubungan auditor dengan klien seharusnya mampu mengakomodasi kualitas audit yang optimal. Lama masa perikatan audit memiliki pro dan kontra terhadap kualitas audit. Setelah beberapa penelitian, diketahui bahwa jika terlalu pendek waktunya, pengetahuan spesifik tentang klien masih sedikit. Sementara itu (Giri, 2010) dalam penelitiannya mengemukakan Tenur audit lama akan mendorong terciptanya pengetahuan bisnis bagi seorang auditor. Pengetahuan ini dapat digunakan untuk merancang program audit yang efektif dan menciptakan laporan keuangan yang berkualitas tinggi. Jika dilihat dari hasil penelitian dan alasan logis yang disampaikan terkait dengan hubungan tenur dan kualitas audit, maka dapat dimunculkan satu proposisi bahwa kualitas audit akan semakin tinggi ketika tenur auditor semakin lama namun harus dibarengi dengan sikap objektivitas dan independen dihadapan klien baik itu penugasan dalam jangka pendek dan jangka panjang sehingga hal - hal yang
bersifat kepentingan manajemen dapat diminimalisir Studi ini berasumsi bahwa masa perikatan audit akan berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
5.3.2. Pengaruh Ukuran KAP terhadap Kualitas Audit
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada penelitian ini menunjukkan bahwa Ukuran KAP tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Nindita & Siregar, 2012), (Permana, 2012) dan (Febriyanti & Mertha, 2014).
Dalam karya ilmiahnya (Nindita & Siregar, 2012) menyatakan bahwa ukuran KAP tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit yang diukur dengan nilai akrual dan ukuran KAP juga tidak memiliki pengaruh terhadap probabilita penerbitan laporan audit going concern. Ini berarti bahwa tidak terdapat perbedaan kualitas akrual bagi perusahaan yang diaudit oleh KAP yang besar, baik itu KAP yang berafiliasi internasional maupun KAP Non Afiliasi internasional. Pengujian sensitifitas atas pengukuran ukuran KAP juga belum memberikan bukti bahwa KAP yang berafiliasi internasional akan menghasilkan kualitas audit yang lebih baik. Hal ini kemungkinan besar terjadi karena terdapat faktor-faktor yang lebih mempengaruhi kualitas audit selain faktor ukuran KAP.
Faktor kunci tersebut adalah kompetensi dan independensi. Apabila ukuran KAP yang besar tidak dibarengi dengan kompetensi yang tinggi dari auditornya, kemampuan mendeteksi manajemen laba serta kelangsungan usaha pun akan rendah.
5.3.3. Pengaruh Keahlian Auditor terhadap Kualitas Audit
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada penelitian ini menunjukkan bahwa Keahlian Auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Haryani, 2011), (Hosseinniakani, Inácio, & Mota, 2014) yang menyatakan bahwa keahlian auditor dapat mempengaruhi kualitas audit.
Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh responden yang berasal dari KAP di Medan. Dimana, spesialisasi audit belum berjalan dengan baik dikota Medan. Perbedaan hasil mungkin akan terjadi apabila riset penelitian diselenggarakan di Jakarta dimana KAP yang beroperasi di kota Jakarta sudah melakukan spesialisasi bidang baik itu bidang akuntansi, manajemen, perpajakan dan lain sebagainya.
Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh responden yang berasal dari KAP di Medan. Dimana, spesialisasi audit belum berjalan dengan baik dikota Medan. Perbedaan hasil mungkin akan terjadi apabila riset penelitian diselenggarakan di Jakarta dimana KAP yang beroperasi di kota Jakarta sudah melakukan spesialisasi bidang baik itu bidang akuntansi, manajemen, perpajakan dan lain sebagainya.