BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2. Hasil Analisis Data
5.2.1.2. Uji Reliabilitas
Pengujian Reliabilitas instrumen ditujukan untuk mengukur derajat konsistensi data yang bersangkutan. Realibilitas berkenaan dengan pertanyaan, apakah suatu data dapat dipercaya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Suatu data dapat dikatakan reliabel jika selalu memberikan hasil yang sama jika diujikan pada kelompok yang sama pada waktu atau kesempatan yang berbeda.
Secara tradisional, "Cronbach alpha" digunakan untuk mengukur reliabilitas konsistensi internal dalam penelitian ilmu sosial, akan tetapi pengukuran konservatif cenderung disediakan dalam SmartPLS. literatur sebelumnya telah menyarankan penggunaan "Composite Reliability" sebagai pengganti metode yang digunakan dalam pengujian reliabilitas, dimana Suatu pengukuran dikatakan reliebel apabila variabel yang akan dianalisis memiliki composite reliability nya lebih besar dari 0,6 semakin tinggi nilai composite reliability maka keandalan konsistensi internal telah dibuktikan antara ketiga variabel laten reflektif (Bagozzy & Yi, 1988).
Hasil pengujian Composite reliability akan menggambarkan kondisi reliabelnya alat ukur sehingga dapat dipercaya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Berikut ini hasil uji reliabilitias alat ukur dengan melihat output SmartPLS yang akan di tampilkan sebagai berikut :
Tabel 5.9 Composite Reliability
Composite Reliability
(X1) Tenur Audit 0,767*
(X2) Ukuran KAP 0,870*
(X3) Keahlian Auditor 0,894*
(X4) Jasa Non Audit 0,856*
(X5) Reputasi Auditor 0,894*
(Y) Kualitas Audit 0,873*
*Reliabel Sumber : Output SmartPLS
Berdasarkan tabel 5.9 terlihat bahwa semua konstruk memenuhi kriteria reliabel. Hal ini ditunjukkan dengan nilai composite reliability di atas 0,70 sebagaimana kriteria yang direkomendasikan dalam persyaratan suatu variabel yang dikatakan reliabel dimana composite reliability lebih besar dari 0,6 sementara dalam pengujian model yang terdapat pada penelitian ini semua berada diatas nilai ketentuan yang berarti alat ukur dalam penelitian ini reliabel.
5.2.2. Uji Asumsi Klasik 5.2.2.1. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan untuk memastikan bahwa adanya hubungan antara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dalam model regresi. Jika dalam model terdapat multikolinearitas maka model tersebut memiliki kesalahan standar yang besar sehingga koefisien tidak dapat ditaksir dengan ketepatan yang tinggi. Metode yang digunakan dalam pengujian Multikolineritas adalah dengan melihat output Collinearity Statistic dari SmartPLS berupa nilai Variance Inflation Factor (VIF). Jika nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan data bebas dari gejala multikolinieritas. Ghozali (2013).
Tabel 5.10
Collinearity Statistic (VIF)
(Y) Kualitas Audit
(X1) Tenur Audit 1,334
(X2) Ukuran KAP 1,016
(X3) Keahlian Auditor 1,453
(X4) Jasa Non Audit 1,158
(X5) Reputasi Auditor 1,784 (Y) Kualitas Audit
Sumber : Output SmartPLS
Berdasarkan tabel 5.10 collinearity statistic menunjukkan bahwa pada hasil uji tersebut menunjukkan masing-masing variabel independen memiliki nilai VIF tidak lebih dari 10 sehingga dapat dinyatakan pada model regresi linear berganda terbebas dari masalah multikolinearitas.
5.2.3. Uji Hipotesis
Setelah dilakukannya analisis-analisis yang mendukung untuk menguatkan hasil hipotesis maka selanjutnya mengkonfirmasi hipotesis yang dibangun dengan uji hipotesis yang bertujuan untuk pengambilan keputusan yang didasarkan dari analisa data, baik dari percobaan yang terkontrol, maupun dari observasi (tidak terkontrol). Dalam statistik sebuah hasil bisa dikatakan signifikan secara statistik jika kejadian tersebut hampir tidak mungkin disebabkan oleh factor yang kebetulan, sesuai dengan batas probabilitas yang sudah ditentukan sebelumnya.
Hipotesis harus selalu diterima kebenarannya, bila ditolak karena tidak sesuai dengan data tidak berarti peneliti adalah salah, terutama bila peneliti dapat menerangkan kenapa hipotesisnya tidak valid (Lubis, 2015). Pengujian hipotesis
secara simultan dengan menggunakan uji F dan pengujian hipotesis secara parsial dengan mengunakan uji t.
5.2.3.1. Uji t
Uji Statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh suatu faktor independen secara individual atau secara parsial dalam menerangkan variasi variabel dependen. Hasil uji t dapat dilihat akan dijabarkan dalam tabel berikut :
Tabel 5.11
Tabel uji hipotesis (Uji t)
Original (X1) Tenur Audit -> (Y) Kualitas Audit 0,423 0,432 0,071 5,959 0,000 (X2) Ukuran KAP -> (Y) Kualitas Audit -0,172 -0,169 0,110 1,567 0,120 (X3) Keahlian Auditor -> (Y) Kualitas Audit 0,130 0,107 0,087 1,485 0,141 (X4) Jasa Non Audit -> (Y) Kualitas Audit -0,021 -0,006 0,093 0,223 0,824 (X5) Reputasi Auditor -> (Y) Kualitas Audit 0,312 0,329 0,094 3,329 0,001
Sumber : Output SmartPLS
Berdasarkan output SmartPLS pengujian secara statistik setiap hubungan yang dihipotesiskan dilakukan dengan menggunakan simulasi. Dalam hal ini dilakukan metode bootstrap terhadap sampel. Pengujian dengan bootstrap juga dimaksudkan untuk meminimalkan masalah ketidaknormalan data penelitian.
Hasil pengujian dengan bootstrapping dari analisis PLS adalah sebagai berikut : a. Pengujian Hipotesis X1 (Tenur Audit berpengaruh terhadap Kualitas
Audit)
Hipotesis pertama menyatakan bahwa hubungan variabel Tenur Audit berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Berdasarkan tabel 5.11 menunjukkan nilai koefisien jalur sebesar 0,423 dengan nilai t hitung sebesar 5,959. Nilai tersebut menunjukkan bahwa lebih besar dari nilai t tabel sebesar 1,96. Maka berdasarkan
hasil pengujian tersebut menyimpulkan bahwa Tenur Audit berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Artinya Hipotesis 1 diterima.
b. Pengujian Hipotesis X2 (Ukuran KAP berpengaruh terhadap Kualitas Audit)
Hipotesis kedua menyatakan bahwa hubungan variabel Ukuran KAP berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Berdasarkan tabel 5.11 menunjukkan nilai koefisien jalur sebesar -0,172 dengan nilai t hitung sebesar 1,567. Nilai tersebut menunjukkan bahwa lebih kecil dari nilai t tabel sebesar 1,96. Maka berdasarkan hasil pengujian tersebut menyimpulkan bahwa Ukuran KAP tidak berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Artinya Hipotesis 2 ditolak.
c. Pengujian Hipotesis 3 (Keahlian Auditor berpengaruh terhadap Kualitas Audit)
Hipotesis ketiga menyatakan bahwa hubungan variabel Keahlian Auditor berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Berdasarkan tabel 5.11 menunjukkan nilai koefisien jalur sebesar 0,130 dengan nilai t hitung sebesar 1,485. Nilai tersebut menunjukkan bahwa lebih kecil dari nilai t tabel sebesar 1,96. Maka berdasarkan hasil pengujian tersebut menyimpulkan bahwa Keahlian Auditor tidak berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Artinya Hipotesis 3 ditolak.
d. Pengujian Hipotesis 4 (Jasa Non Audit berpengaruh terhadap Kualitas Audit)
Hipotesis keempat menyatakan bahwa hubungan variabel Jasa Non Audit berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Berdasarkan tabel 5.11 menunjukkan nilai koefisien jalur sebesar -0,021 dengan nilai t hitung sebesar 0,223. Nilai tersebut menunjukkan bahwa lebih kecil dari nilai t tabel sebesar 1,96. Maka berdasarkan
hasil pengujian tersebut menyimpulkan bahwa Jasa Non Audit tidak berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Artinya Hipotesis 4 ditolak.
e. Pengujian Hipotesis 5 (Reputasi Auditor berpengaruh terhadap Kualitas Audit)
Hipotesis kelima menyatakan bahwa hubungan variabel Reputasi Auditor berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Berdasarkan tabel 5.11 menunjukkan nilai koefisien jalur sebesar -0,312 dengan nilai t hitung sebesar 3,329. Nilai tersebut menunjukkan bahwa lebih besar dari nilai t tabel sebesar 1,96. Maka berdasarkan hasil pengujian tersebut menyimpulkan bahwa Reputasi Auditor berpengaruh terhadap Kualitas Audit. Artinya Hipotesis 5 diterima.
5.2.3.2. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R²) digunakan untuk melihat kemampuan model dalam menjelaskan variabel independen terhadap variabel dependen dari model yang dibangun. Nilai R Square adalah nol sampai dengan satu, maka variabel-variabel independen memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi dependen. Sebaliknya, semakin kecil nilai R Square maka kemampuan variabel-variabel independen untuk menjelaskan variasi variabel dependen semakin terbatas. Hasil uji koefisien determinasi (R2) akan dijabarkan sebagai berikut :
Tabel 5.12
Tabel uji Koefisien Determinasi (R2)
R Square R Square Adjusted (Y) Kualitas Audit 0,498 0,471
Sumber : Output SmartPLS
Dari hasil pengujian diatas dapat dilihat nilai adjusted R Square atau koefisien determinasi adalah sebesar 0,471 atau 47,1 % Hal ini berarti variabel independen mampu menjelaskan variasi variabel dependen hanya sebesar 47,1%, sisanya sebesar 52,9% diterangkan oleh variabel lain di luar model.
5.3. Pembahasan Hasil Penelitian
5.3.1. Pengaruh Tenur Audit Terhadap Kualitas Audit
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada penelitian ini menunjukkan bahwa Tenur Audit berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Permana, 2012), (Hosseinniakani, Inácio, & Mota, 2014), (Giri, 2010) dan (Hamid, 2013).
Dalam karyanya, (Permana, 2012) menyatakan Hubungan auditor dengan klien seharusnya mampu mengakomodasi kualitas audit yang optimal. Lama masa perikatan audit memiliki pro dan kontra terhadap kualitas audit. Setelah beberapa penelitian, diketahui bahwa jika terlalu pendek waktunya, pengetahuan spesifik tentang klien masih sedikit. Sementara itu (Giri, 2010) dalam penelitiannya mengemukakan Tenur audit lama akan mendorong terciptanya pengetahuan bisnis bagi seorang auditor. Pengetahuan ini dapat digunakan untuk merancang program audit yang efektif dan menciptakan laporan keuangan yang berkualitas tinggi. Jika dilihat dari hasil penelitian dan alasan logis yang disampaikan terkait dengan hubungan tenur dan kualitas audit, maka dapat dimunculkan satu proposisi bahwa kualitas audit akan semakin tinggi ketika tenur auditor semakin lama namun harus dibarengi dengan sikap objektivitas dan independen dihadapan klien baik itu penugasan dalam jangka pendek dan jangka panjang sehingga hal - hal yang
bersifat kepentingan manajemen dapat diminimalisir Studi ini berasumsi bahwa masa perikatan audit akan berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
5.3.2. Pengaruh Ukuran KAP terhadap Kualitas Audit
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada penelitian ini menunjukkan bahwa Ukuran KAP tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Nindita & Siregar, 2012), (Permana, 2012) dan (Febriyanti & Mertha, 2014).
Dalam karya ilmiahnya (Nindita & Siregar, 2012) menyatakan bahwa ukuran KAP tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit yang diukur dengan nilai akrual dan ukuran KAP juga tidak memiliki pengaruh terhadap probabilita penerbitan laporan audit going concern. Ini berarti bahwa tidak terdapat perbedaan kualitas akrual bagi perusahaan yang diaudit oleh KAP yang besar, baik itu KAP yang berafiliasi internasional maupun KAP Non Afiliasi internasional. Pengujian sensitifitas atas pengukuran ukuran KAP juga belum memberikan bukti bahwa KAP yang berafiliasi internasional akan menghasilkan kualitas audit yang lebih baik. Hal ini kemungkinan besar terjadi karena terdapat faktor-faktor yang lebih mempengaruhi kualitas audit selain faktor ukuran KAP.
Faktor kunci tersebut adalah kompetensi dan independensi. Apabila ukuran KAP yang besar tidak dibarengi dengan kompetensi yang tinggi dari auditornya, kemampuan mendeteksi manajemen laba serta kelangsungan usaha pun akan rendah.
5.3.3. Pengaruh Keahlian Auditor terhadap Kualitas Audit
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada penelitian ini menunjukkan bahwa Keahlian Auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Haryani, 2011), (Hosseinniakani, Inácio, & Mota, 2014) yang menyatakan bahwa keahlian auditor dapat mempengaruhi kualitas audit.
Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh responden yang berasal dari KAP di Medan. Dimana, spesialisasi audit belum berjalan dengan baik dikota Medan. Perbedaan hasil mungkin akan terjadi apabila riset penelitian diselenggarakan di Jakarta dimana KAP yang beroperasi di kota Jakarta sudah melakukan spesialisasi bidang baik itu bidang akuntansi, manajemen, perpajakan dan lain sebagainya.
5.3.4. Pengaruh Jasa Non Audit terhadap Kualitas Audit
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada penelitian ini menunjukkan bahwa Jasa Non Audit tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Tjun, Marpaung, & Setiawan, 2012) akan tetapi bertentangan dengan hasil penelitian yang diungkapkan oleh (Hosseinniakani, Inácio, & Mota, 2014).
Adanya pengaruh negatif variabel jasa non audit berarti pemberian jasa selain jasa audit tidak mempengaruhi independensi akuntan publik sehingga kualitas audit dapat terjaga. Hal ini dimungkinkan auditor yang terdapat dikota Medan berpegang teguh pada kode etik yang telah ditetapkan IAPI dan juga sikap mental auditor yang selalu dijaga dalam menghadapi klien.
5.3.5. Pengaruh Reputasi Auditor terhadap Kualitas Audit
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada penelitian ini menunjukkan bahwa Reputasi Auditor berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Choi & Jeter, 1992) (Hartadi, 2009) dan (Mayhew, 2001).
Jadi, reputasi auditor prestasi dan kepercayaan publik yang disandang auditor atas nama besar yang dimiliki auditor tersebut. Reputasi auditor secara langsung dirasakan berhubungan dengan tingkat aktual dari laporan auditor serta dimana tempat auditor tersebut bekerja apakah pada KAP Berafiliasi internasional atau KAP non Afiliasi internasional sementara itu pendidikan auditor juga mempengaruhi reputasi auditor tersebut dan juga yang tidak kalah penting adalah pengalaman seorang auditor dalam membangun reputasinya dimana semakin banyak pengalaman yang telah dijalani dalam memeriksa berbagai kondisi bisnis klien maka auditor tersebut akan semakin tinggi reputasinya baik itu pada klien dan juga kepada rekan sejawat sesama auditor.
6.1. Kesimpulan.
Berdasarkan bukti-bukti dari hasil pengujian data yang sudah dijalankan.
Maka, penelitian ini perlu menyimpulkan hasil yang akan dijabarkan sebagai berikut :
1. Tenur Audit berpengaruh terhadap kualitas audit. Untuk mencapai kualitas audit yang optimal baik itu penugasan dalam jangka pendek dan jangka panjang harus dibarengi dengan sikap objektivitas dan independen sehingga hal - hal yang bersifat kepentingan manajemen dapat diminimalisir Studi ini berasumsi bahwa masa perikatan audit akan berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
2. Ukuran KAP tidak berpengaruh terhadap kualitas audit Ini berarti bahwa tidak terdapat perbedaan kualitas akrual bagi perusahaan yang diaudit oleh KAP yang besar, baik itu KAP yang berafiliasi internasional maupun KAP Non Afiliasi internasional.
3. Keahlian Auditor tidak berpengaruh terhadap kualitas audit. Hal ini dimungkinkan seorang auditor tidak diwajibkan memiliki keahlian khusus selain audit akan tetapi dapat menggunakan tenaga ahli, konsultan yang independen dan sesuai dengan keahlian dari seorang tenaga ahli yang independen.
4. Jasa Non Audit tidak berpengaruh terhadap kualitas audit hal ini dikarenakan pemberian jasa selain jasa audit dapat mempengaruhi terganggunya independensi akuntan publik sehingga berpengaruh terhadap kualitas audit.
5. Reputasi Auditor berpengaruh terhadap kualitas audit Jadi, reputasi auditor berpengaruh terhadap kualitas audit sehingga auditor yang bekerja di kantor akuntan publik internasional memiliki reputasi yang lebih baik ketimbang auditor yang hanya bekerja di KAP lokal nasional, memiliki pendidikan yang baik serta memiliki pengalaman dalam menangani berbagai macam kondisi bisnis klien.
6. Bahwa hasil pengujian koefisien determinasi menunjukkan 47,1% variabel-variabel yang diteliti (Tenur Audit, Ukuran KAP, Keahlian Auditor, Jasa Non-Audit dan Reputasi Auditor) mempengaruhi kualitas audit pada kantor akuntan publik di kota Medan.
6.2. Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini telah diupayakan sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian ilmiah, akan tetapi masih tardapat beberapa keterbatasan. Keterbatasan penelitian ini diantaranya adalah :
1. Pada penelitian ini proses pengumpulan data menggunakan metode kuesioner.
Jadi, jawaban setiap responden berdasarkan asumsi dan cara pandang masing-masing auditor dalam melihat suatu fenomena masalah sehingga dimungkinkan menggunakan unsur subjektifitas.
2. Hasil penelitian ini menggunakan populasi Kantor Akuntan Publik di Medan dan menggeneralisir kondisi pada saat dan waktu terjadinya penelitian
tersebut. hasil penelitian pada peneliti selanjutnya mungkin akan terdapat perbedaan hasil apabila penelitian dilakukan pada obyek penelitian di tempat dan diwaktu yang berbeda.
6.3. Saran.
Saran terhadap penelitian selanjutnya tentang audit, khususnya yang berhubungan dengan kualitas audit adalah sebagai berikut :
1. Pada penelitan selanjutnya diharapkan dapat menambah jumlah responden serta memperluas lokasi penelitian sehingga keakuratan dalam menggeneralisir sebuah hasil penelitian mempunyai tingkat keakuratan yang tinggi.
2. Untuk penelitian selanjutnya yang berkenaan dengan kualitas audit perlunya menambah variabel independen diluar dari variabel yang telah diteliti seperti yang berhubungan dengan Fee Audit, Pengendalian dari dalam dan luar KAP, Akuntabilitas dan Etika Auditor serta variabel lainya.
3. Yang terakhir yaitu memperbaiki, mengubah, memodifikasi indikator pengukuran dan pertanyaan pada instrumen yang digunakan sesuai dengan perkembangan pada dunia akuntansi yang dinamis.
DAFTAR PUSTAKA
Achyarsyah, P., & Molina. (2015). Audit Firm Tenure, Audit Firm Size and Audit Quality. Global Journal of Business and Social Science Review Vol 3.
Agusti, R., & Pertiwi, N. P. (2013). Pengaruh Kompetensi, Independensi dan Professionalisme Terhadap Kualitas Audit (Studi Empiris Pada Kantor Akuntan Publik Se-Sumatera). Jurnal Ekonomi Volume 21.
Al-Khaddash, H., Nawas, R. A., & Ramadan, A. (2013). Factors Affecting The Quality of Auditing : The Case of Jordanian Commercial Banks.
International Journal of Business and Social Science Vol. 4, 206-222.
Arens, A. A., Elder, R. J., & Beasley, M. S. (2014). Auditing and Assurance Services - An Integrated Approach Fifteen Edition. New Jersey: Pearson.
Arruñada, B. (2000). Audit Quality: Attributes, Private Safeguards and The Role of Regulation. The European Accounting Review Vol. 9, 205-224.
Bagozzy, R. P., & Yi, Y. (1988). On The Evaluation Of Structural Equation Models. Journal of the Academy of Marketing Science, 74 – 94.
BNJ. (2010, May 18). Akuntan Publik Diduga Terlibat. Dipetik November 16,
2016, dari Situs Berita Kompas.com:
http://regional.kompas.com/read/2010/05/18/21371744/Akuntan.Publik.Did uga.Terlibat
Choi, S. K., & Jeter, D. C. (1992). The effects of qualified audit opinions on earnings response coefficients. Journal of Accounting and Economics Vol.
15, 229-247.
DeAngelo, L. E. (1981). Auditor independence, low balling, and disclosure regulation. Journal of Accounting and Economics Vol. 3, 113-127.
Dreyfus, H. L., & Dreyfus, S. E. (1986). Mind Over Machine: The Power of Human Intuition and Expertise in the Era of the Computer. New York: Free Press.
Febriyanti, N. M., & Mertha, I. M. (2014). Pengaruh Masa Perikatan Audit, Rotasi KAP, Ukuran Perusahaan Klien, dan Ukuran KAP pada Kualitas Audit. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 7.2, 503 - 518.
Firth, M., & Liau-Tan, C. K. (1998). Auditor Quality, Signalling, and the Valuation of Initial Public Offerings. Journal of Business Finance and Accounting Vol. 25, 145-165.
Francis, J. R. (2004). What do we know about audit quality? The British Accounting Review Vol. 36, 345-368.
Ghozali, I. (2013). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 21 Edisi Ketujuh. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Giri, E. F. (2010). Pengaruh Tenur Kantor Akuntan Publik (KAP) dan Reputasi KAP terhadap Kualitas Audit : Kasus Rotasi Wajib Auditor di Indonesia.
Simposium Nasional Akuntansi XIII.
Hai, P. T. (2016). The Research of Factors Affecting the Quality of Audit Activities : Empirical Evidence in Vietnam. International Journal of Business and Management Vol. 11, 83-94.
Hamid, A. (2013). Pengaruh Tenur KAP dan Ukuran KAP terhadap Kualitas Audit (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI.
Jurnal Universitas Negeri Padang.
Hartadi, B. (2009). Pengaruh Fee Audit, Rotasi KAP Dan Reputasi Auditor Terhadap Kualitas Audit Di Bursa Efek Indonesia. Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan, 84 - 103.
Haryani, A. M. (2011). Pengaruh Independensi Auditor, Keahlian Profesional Auditor dan Tenure Kantor Akuntan Publik (KAP) terhadap Kualitas Audit : Pergantian KAP Kasus Kewajiban Rotasi Audit. Skripsi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang.
Hogan, C. E. (1997). Costs and Benefits of Audit Quality in the IPO Market: A Self-Selection Analysis. The Accounting Review Vol. 72, 67-86.
Hosseinniakani, S. M., Inácio, H., & Mota, R. (2014). A Review on Audit Quality Factors. International Journal of Academic Research in Accounting, Finance and Management Sciences Vol. 4, 243-254.
Jensen, M. C., & Meckling, W. H. (1976). Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Costs and Ownership Structure. Journal of Financial Economics (JFE) Vol. 3, 305-360.
Jeong, S. W., Jung, K., & Lee, S.-J. (2005). The effect of Mandatory Auditor Assignment and Non-Audit Service on Audit Fees: Evidence from Korea.
The International Journal of Accounting Vol. 40, 233-248.
Kovinna, F., & Betri. (2014). Pengaruh Independensi, Pengalaman Kerja, Kompetensi, dan Etika Auditor Terhadap Kualitas Audit. Jurnal STIE MDP.
Lastanti, H. S. (2005). Tinjauan Terhadap Kompetensi dan Independensi Akuntan Publik : Refleksi atas Skandal Keuangan. Media Riset Akuntansi, Auditing dan Informasi Vol. 5, 85-97.
Lubis, A. F. (2015). Metode Penelitian Akuntansi dan Format Penulisan Tesis.
Medan: USU Press.
Ludigdo, U. (2006). Strukturasi Praktik Etika di Kantor Akuntan Publik : Sebuah Studi Interpretif. Simposium Nasional Akuntansi IX.
Lydiawati, M. (2013). Pengaruh Pengalaman Kerja, Kompetensi dan Independensi auditor terhadap Kualitas Audit. Tesis Widya Mandala Catholic University.
Manry, D. L., Mock, T. J., & Turner, J. L. (2008). Does Increased Audit Partner Tenure Reduce Audit Quality? Journal of Accounting, Auditing and Finance Vol. 23, 553-572.
Mayhew, B. W. (2001). Auditor Reputation Building. Journal of Accounting Research Vol. 39, 599-617.
Mulyadi. (2002). Auditing. Jakarta: Salemba Empat.
Nindita, C., & Siregar, S. V. (2012). Analisis Pengaruh Ukuran Kantor Akuntan Publik Terhadap Kualitas Audit di Indonesia. JURNAL AKUNTANSI DAN KEUANGAN, VOL. 14, NO. 2, 91 - 104.
Paramastri, I. D., & Suputra, I. D. (2016). Pengaruh Audit Fee, Jasa Non-Audit, Ukuran KAP, dan Lama Hubungan Audit terhadap Independensi Penampilan. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana Vol. 14, 118-143.
Parinduri, M. H. (2016). Pengaruh Peer Review, Audit Tenure, Ukuran KAP dan Kompetensi Auditor terhadap Kualitas Audit pada Kantor Akuntan Publik (KAP) di Medan. Skripsi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Parsaoran, D. (2009, November 4). Skandal Manipulasi Laporan Keuangan PT.
Kimia Farma Tbk. Dipetik September 2, 2016, dari Davidparsaoran's Blog:
Pratiwi, K. A. (2013). Pengaruh Audit Tenure, Reputasi KAP, Disclosure, Ukuran Perusahaan Klien dan Opini Audit Sebelumnya Terhadap Opini Audit Going Concern (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di BEI tahun 2007 - 2011). Skripsi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah.
Putri, B. W. (2012). Penentuan Kualitas Audit Berdasarkan Ukuran Kantor Akuntan Publik dan Biaya Audit. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi UNIKA Widya Mandala Surabaya.
Rochaety, E., Tresnati, R., & Latief, H. A. (2007). Metodologi Penelitian Bisnis dengan Aplikasi SPSS. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Rosnidah, I., Rawi, & Kamarudin. (2011). Analisis Dampak Motivasi dan Profesionalisme terhadap Kualitas Audit Aparat Inspektorat dalam Pengawasan Keuangan Daerah (Studi Empiris Pada Pemerintah Kabupaten Cirebon). Pekbis Jurnal Vol.3, 456-466.
Singarimbun, A. (2013). Pengaruh Audit Fee, Non-Audit Service, Profil KAP dan Hubungan Audit yang Lama antara KAP dan Klien terhadap Independensi Auditor dalam Kantor Akuntan Publik di Medan. Skripsi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sematera Utara.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Suryani, E., & Helvinda, V. A. (2014). Pengaruh Pengalaman, Risiko Audit dan Keahlian Audit terhadap Pendeteksian Kecurangan (Fraud) Oleh Auditor (Survey Pada KAP di Bandung). Seminar Nasional Ekonomi & Bisnis (SNEB).
Tambunan, T. S. (2010). Pengaruh Keahlian Audit dan Independensi Pemeriksa Terhadap Kualitas Hasil Pemeriksaan di Inspektorat Kabupaten Tapanuli Utara. Tesis Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Tjun, L. T., Marpaung, E. I., & Setiawan, S. (2012). Pengaruh Kompetensi dan Independensi Auditor Terhadap Kualitas Audit. Jurnal Akuntansi Vol.4 , 33-56.
Wardhani, F. N. (2014). Pengaruh Komponen Keahlian Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan (Studi Empiris pada Eksternal Auditor di Semarang). Skripsi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro.
Yenny. (2012). Pengaruh Pengalaman Kerja, Independensi, Objektivitas, Integritas dan Kompetensi Auditor terhadap Kualitas Audit yang Dihasilkan Auditor Kantor Akuntan Publik (KAP) "The Big Four". Skripsi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Nusantara.
Yenny. (2012). Pengaruh Pengalaman Kerja, Independensi, Objektivitas, Integritas dan Kompetensi Auditor terhadap Kualitas Audit yang Dihasilkan Auditor Kantor Akuntan Publik (KAP) "The Big Four". Skripsi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Nusantara.