• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODE PENELITIAN

3.3. Jenis dan Sumber Data

3.5.2. Uji Reliabilitas Alat Ukur

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana alat pengukuran dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Singarimbun dan Effendi, 1989). Suatu alat pengukuran dikatakan reliabel, jika alat tersebut memiliki hasil pengukuran yang konsisten dari dua kali pengukuran pada gejala yang sama. Jika kuesioner telah terbukti valid, maka keabsahan kuesioner tersebut diuji reliabilitasnya. Teknik yang digunakan untuk mengukur reliabilitas instrumen adalah Teknik Alfa Cronbach (Sugiyono, 2003) dengan rumus berikut:

( )

⎪⎭ ⎪ ⎬ ⎫ ⎪⎩ ⎪ ⎨ ⎧ ∑ − = 2 t S 2 i S 1 1 - k k i r ………...….(3)

Dimana :

ri = Keandalan instrumen.

k = Mean kuadrat antara subyek.

∑Si2 = Mean kuadrat kesalahan.

St2 = Varians total.

Untuk menghitung varians total dan varians item digunakan rumus sebagai berikut :

( )

2 n 2 t X n 2 t X St2 = ∑ − ∑ ……….. (4) 2 n s JK n i JK S2 i = − ………...… (5) Dimana :

Jki = Jumlah kuadrat seluruh skor item.

Jks = Jumlah kuadrat subyek.

Tingkat reliabilitas dengan metode Cronbach’c Alpha diukur berdasarkan skala alpha 0 sampai 1, yang dapat diinterpretasikan menurut George dan Mallery (2003) adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Klasifikasi Nilai Alpha

Klasifikasi Nilai Alpha Kesimpulan

α > 0.9 Sempurna (Excellent)

α > 0.8 Baik (Good)

α > 0.7 Dapat diterima (Acceptable)

α > 0.6 Diragukan (Questionable)

α > 0.5 Lemah (Poor)

α < 0.5 Tidak dapat diterima (Inacceptable)

Sumber : George dan Mallery (2003)

3.5.3. Korelasi Rank Spearman

Korelasi Rank Spearman digunakan untuk mencari hubungan atau menguji signifikansi hipotesis asosiatif bila masing- masing atribut yang dihubungkan berbentuk ordinal, dan sumber data antar atribut tidak harus sama atau dengan kata lain mengukur

tingkat keeratan hubungan antara atribut satu dengan atribut yang lain, khususnya untuk data ordinat.

Menurut Sulaiman (2002), dasar dari penggunaan korelasi ini adalah ranking (Peringkat). Rumus yang digunakan adalah :

1- 6

D2 n (n2 – 1)

Dimana : ρ = Koefisien korelasi Spearman D = Perbedaan skor antar 2 atribut n = Jumlah kelompok

Tahapan kerja pengolahan data kuisioner untuk menganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan adalah sebagai berikut:

1. Memberi skor pada masing-masing jawaban responden berdasarkan bobot tertentu pada setiap jawaban dengan skala Likert. Skala Likert berhubungan tentang sikap seseorang terhadap sesuatu, yaitu:

a. Sangat tidak setuju = 1 b. Tidak setuju = 2 c. Cukup setuju = 3 d. Setuju = 4 e. Sangat Setuju = 5

Setiap jawaban responden dari pertanyaan dalam kuisioner diberikan bobot (skor rataan). Cara menghitung skor rataan menurut Istijanto (2006) adalah sebagai berikut:

...(7)

Dimana: X = rata-rata berbobot fi = frekuensi wi = bobot

∑ fi . wi

∑ fi

X = ρ = ...(6)

Langkah selanjutnya adalah menggunakan rentang skala penilaian untuk menentukan posegi tanggapan responden dengan menggunakan nilai skor. Setiap bobot alternatif jawaban yang terbentuk dari teknik skala peringkatan terdiri dari kisaran antara 1 hingga 5 yang menggambarkan posisi yang sangat negatif ke posegi yang sangat positif, kemudian dihitung rentang skala dengan rumus sebagai berikut:

...(8)

Dimana:

R (bobot) = bobot terbesar – bobot terkecil M = banyaknya kategori bobot

Kemudian menentukan nilai X untuk masing-masing dimensi dengan menggunakan rumus:

X =

∑ (bxj)

...(9)

Dimana: b = bobot

j = jumlah responden yang memilih kategori tersebut

2. Memindahkan jawaban dari lembar kuisioner ke lembar tabulasi dan menghitung nilai total masing-masing atribut dengan program Microsoft Excel.

3. Memindahkan data ke lembar kerja untuk diolah dan dianalisis menggunakan program komputer SPSS 15,00 menggunakan model uji korelasi Rank Spearman.

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

Ho: Program pensiun dini APS tidak berhubungan dengan atribut kepuasan kerja karyawan

Hi: Program pensiun dini APS berhubungan dengan atribut kepuasan kerja karyawan

Besarnya nilai terletak antara –1 < rs< 1, artinya:

Rs = R (bobot) M

rs = 1, hubungan X dan Y sempurna positif. Mendekati 1 hubungan

sangat kuat dan positif.

rs = -1, hubungan X dan Y sempurna negatif

rs = 0, hubungan X dan Y lemah sekali dan tidak ada hubungannya

Batasan yang digunakan untuk mengkategorikan nilai rs

yaitu sebagai berikut:

1. 0.00 sampai 0.25 atau 0.00 sampai –0.25 disebut no association, yaitu kondisi yang menunjukkan tidak adanya hubungan antara atribut X dan atribut Y.

2. 0.26 sampai 0.50 atau –0.26 sampai –0.50 disebut moderately low association, yaitu kondisi yang menunjukkan hubungan yang lemah antara atribut X dan atribut Y.

3. 0.51 sampai 0.75 atau –0.51 sampai –0.75 disebut moderately high association, yaitu kondisi yang menunjukkan adanya hubungan yang agak kuat antara atribut X dan atribut Y.

4. 0.76 sampai 1.00 atau –0.76 sampai –1.00 disebut high association, yaitu kondisi yang menunjukkan hubungan yang kuat antara atribut X dan atribut Y.

Tingkat signifikansi yang dipilih adalah 0,05 (5%). Angka ini dipilih karena dinilai cukup ketat dalam mewakili hubungan antara dua atribut dan cukup banyak digunakan dalam penelitian bidang ilmu-ilmu sosial. Hasil perbandingan nilai r hitung tersebut dibandingkan dengan tabel r yang digunakan dalam memutuskan apakah pendapat diterima atau ditolak. Kriteria pengujian hubungan observasi (Ho) adalah sebagai berikut:

Tolak Ho : Jika r hitung > r tabel Tolak H1 : Jika r hitung < r tabel

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Perusahaan

PT Pertamina Perkapalan merupakan bagian dari PT Pertamina (Persero) yang dibentuk sebagai shipping division pada tahun 1959, memulai operasinya dengan dua tanker minyak shallow draft yang dibeli dengan system bare boat hire purchase (pembelian dengan cara sewa beli) dari PT. Caltex masing-masing berbobot 3220 DWT. Berdasarkan Keppres No.44 tahun 1975, tanggal 6 Desember 1975 mengatur adanya Direktorat Perkapalan dan Telekomunikasi (Dit P&T). Kemudian seiring dengan penambahan tugas yang diberikan, diganti dengan Keputusan Presiden RI nomor 11 tanggal 15 Maret 1990 berubah namanya menjadi Direktorat Perkapalan, Kebandaran dan Komunikasi (Dit.PKK). Dalam rangka menghadapi persaingan yang semakin ketat dan tuntutan dari zaman bahwa perusahaan harus semakin lincah, maka berdasarkan Keputusan Presiden RI nomor 169 tanggal 7 Desember 2000 Direktorat tersebut berubah namanya menjadi Pertamina Bidang Perkapalan dan bersambung dengan Keputusan Presiden RI nomor 57 tanggal 12 Agustus 2002 tentang perubahan atas Keputusan Presiden nomor 169 tahun 2000 tentang Pokok-pokok Organisasi Pertamina yang nantinya diharapkan mampu menjadi Strategic Business Unit (SBU) berorientasi kepada bisnis perkapalan murni. Peraturan Pemerintah nomor 31 tanggal 18 Juni 2003, menetapkan pengalihan bentuk Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina) menjadi Perusahaan Perseroan (Persero).

PT Pertamina (Persero) dalam menjalankan kegiatannya mengimplementasikan sistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Sebagai perusahaan yang berorientasi laba, Pertamina harus mengadopsi paradigma baru yang fokus pada penciptaan nilai tambah. PT Pertamina berada dibawah koordinasi kementrian BUMN berkomitmen untuk menghasilkan produk dan pelayanan berkualitas tinggi kepada seluruh stakeholders serta meningkatkan kontribusinya bagi kesejahteraan bangsa dan negara. Pertamina memiliki 15 anak perusahaan antara lain PT Pertamina EP, Pertamina Energy Trading Limited (PETRAL), di bidang

perdagangan migas, PT Elnusa Harapan di bidang pemasaran dan perdagangan, PT Pelita Air Service di bidang pelayanan penerbangan, PT Perta Medika di bidang rumah sakit dan sebagainya.

Pertamina memiliki dua lingkup kegiatan usaha yaitu di bidang hulu dan hilir. Kegiatan hulu meliputi eksplorasi dan produksi minyak, gas dan panas bumi. Sasaran dari kegiatan eksplorasi adalah untuk menemukan cadangan baru dalam rangka menjamin produksi yang berkelangsungan. Kegiatan hilir meliputi proses pengolahan minyak dan gas bumi, serta distribusi dan pemasaran dari produk-produknya. Tujuan utama kegiatan tersebut adalah untuk memenuhi kebutuhan produk BBM dalam negeri, serta produk non-BBM dan petrokimia untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor. Secara garis besar, produk kegiatan hilir Pertamina meliputi bahan bakar minyak, petrokimia, gas, pelumas dan produk hasil olahan lainnya. Pertamina memiliki tujuh unit pengolahan BBM dengan kapasitas total 1.051,7 MBSD, kilang petrokimia dengan kapasitas total sebesar 1.507.950 ton per tahun dan kilang LPG dengan kapasitas total 102,3 juta ton per tahun.

Bidang perkapalan mendukung usaha Pertamina Hilir melalui penyelenggaraan pengangkutan di laut dan di sungai untuk minyak, gas bumi, bahan bakar minyak dan produk petrokimia serta hasil olahan lainnya dengan menggunakan kapal milik dan kapal charter. Disamping itu, Perkapalan melakukan usaha jasa maritim. Pola distribusi BBM ke seluruh Indonesia yang berbentuk kepulauan membutuhkan sarana angkutan laut dan sungai serta pelabuhan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pemasaran di dalam negeri dibagi dalam delapan wilayah kerja meliputi Unit Pemasaran I (Upms I) dengan kantor pusat di Medan, Upms II di Palembang, Upms III di Jakarta, Upms IV di Semarang, Upms V di Surabaya, Upms VI di Balikpapan, Upms VII di Makassar, Upms VIII di Jayapura dan beberapa kantor cabang di Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, Kupang, Pontianak, Banjarmasin, Manado dan Ambon. Distribusi BBM, Bahan Bakar Khusus (BBK) dan

Non-BBM dilakukan melalui Terminal Transit, instalasi, depot dan Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) dengan menggunakan jalur laut, udara dan darat.

PT Pertamina (Persero) Perkapalan berlokasi di jalan Yos Sudarso 32- 34 Jakarta Utara yang merupakan pengelola dari produk usaha hilir. Sejumlah standar manajemen mutu seperti MBNQA, TQM dan six sigma untuk mengukur kinerjanya. Dewan Direksi berkomitmen untuk mengimplementasikan K3LL (Kesehatan, Keselamatan, Lindungan dan Lingkungan) yang bertaraf internasional pada segenap kegiatan perusahaan. Pertamina juga menerapkan sistem ukuran kinerja terpilih dan indeks prestasi untuk mendorong terciptanya perbaikan yang berkesinambungan. Salah satu upaya perusahaan dalam menempatkan posisinya sebagai perusahaan migas kelas dunia adalah dengan mengimplementasikan sistem informasi yang terintegrasi, ERP (Enterprise Resource Planning) dengan menggunakan SAP R/3. Hal ini terbukti dengan prestasi yang diraih Pertamina :

1. IMAC (Indonesian Most Admired Company)

2. ICSA (Indonesian Customer Satisfaction Award) 2003 dianugerahkan kepada pelumas Pertamina.

3. IBBA (Indonesian Best Brand Award) 2003 dianugerahkan kepada pelumas Pertamina.

4. Commemorative Plaque, dianugerahkan kepada RCC (Residual Catalytic Cracker) Pertamina.

5. ISO 14001, dianugerahkan kepada sejumlah unit operasi Pertamina.

6. ISO 9000 : 2000, dianugerahkan kepada sejumlah unit operasi Pertamina.

7. ISO/IEC 17025 : 2000, dianugerahkan kepada laboratorium Pertamina di Jakarta dan Surabaya.

Dokumen terkait