4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Keadaan Perikanan Tangkap
4.2.1 Alat penangkapan ikan
4.2.1.2 Unit penangkapan ikan di Muara Cilincing
Unit penangkapan ikan yang beroperasi di sekitar Muara Cilincing antara lain alat tangkap payang, dogol dan pancing rawai. Uraian ketiga jenis alat penangkapan ikan tersebut sebagai berikut.
Payang
Konstruksi alat tangkap payang terdiri atas bagian sayap, badan jaring dan kantong. Bagian sayap, badan jaring dan kantong yang dioperasikan di Muara Cilincing terbuat dari bahan PA multifilament dengan ukuran mata jaring (mesh) yang berbeda-beda di tiap bagian. Payang memiliki pelampung yang dipasang
37 dengan jarak 7 meter tiap pelampung dan pemberat dipasang dengan jarak 15 meter tiap pemberat. Secara lebih jelas konstruksi alat tangkap payang dapat dilihat pada Gambar 14.
Unit penangkapan payang di Muara Cilincing beroperasi menggunakan perahu motor dengan dimensi L x B x D yaitu 12 m x 3,5 m x 1,5 m. Perahu motor yang digunakan memiliki daya sebesar 23 PK dioperasikan oleh sekitar 20 orang nelayan.
Sumber : Wawancara nelayan (2011)
Gambar 14 Konstruksi payang di Teluk Jakarta
Pengoperasian alat payang dilakukan melalui proses persiapan, perjalanan menuju daerah penangkapan ikan, setting, soaking, hauling, dan perjalanan kembali ke tempat pendaratan ikan. Persiapan yang dilakukan nelayan adalah perbekalan, yaitu bahan makanan, es, dan bahan bakar berupa solar sebanyak 50 - 80 liter. Nelayan berangkat menuju daerah penangkapan ikan pada pukul 17.00 dan sampai di wilayah daerah penangkapan ikan dalam waktu 1,5-2 jam.
Pengoperasian alat tangkap payang dimulai dari fishing master mencari gerombolan (schools) ikan yang terdapat di wilayah tersebut. Pencarian ikan
38 dengan cara memperhatikan ciri-ciri pergerakan gerombalan ikan seperti adanya burung-burung pemburu ikan yang terbang menukik ke perairan, buih-buih air di permukaan laut dan perubahan warna permukaan laut akibat adanya pergerakan gerombolan ikan di bawahnya.
Proses pemasangan (setting) payang dilakukan saat gerombolan ikan yang menjadi sasaran tangkap mulai terlihat, lalu dilakukan pengejaran terhadap ikan, setelah diperkirakan bahwa ikan dapat tertangkap maka jaring langsung diturunkan ke dalam air mengelilingi gerombolan ikan dengan arah berlawanan arah jarum jam. Penurunan jaring dilakukan mulai dari pelampung tanda, lalu tali selambar hingga badan jaring setelah itu dilakukan penarikan (hauling) jaring. Lama waktu pemasangan jaring biasanya berkisar antara 30-35 menit sehingga bisa dilakukan 6-15 kali pemasangan (setting) di dalam satu trip penangkapan ikan. Kegiatan operasional payang berakhir pada pukul 04.00 dan nelayan langsung kembali ke tempat pendaratan ikan pada pukul 05.00.
Dogol
Konstruksi alat tangkap dogol terdiri atas bagian sayap, badan jaring dan kantong. Bagian sayap, badan jaring dan kantong terbuat dari bahan PA Multifilament dengan ukuran mata jaring (mesh) yang berbeda-beda di tiap bagian. Dogol memiliki pelampung yang dipasang sebanyak 3 buah dan pemberat dipasang dengan jarak 3 meter tiap pemberat. Secara lebih jelas konstruksi alat tangkap dogol dapat dilihat pada Gambar 15.
Unit penangkapan dogol di Muara Cilincing beroperasi menggunakan perahu motor dengan dimensi L x B x D yaitu 12 m x 3,5 m x 1,7 m. Perahu motor yang digunakan memiliki daya sebesar 21 PK dengan jumlah nelayan sekitar 5-8 orang yang mengoperasikannya.
Pengoperasian alat dogol dilakukan melalui proses persiapan, perjalanan menuju daerah penangkapan ikan, setting, soaking, hauling, dan perjalanan kembali ke tempat pendaratan ikan. Persiapan yang dilakukan nelayan adalah persiapan perbekalan, yaitu bahan makanan, es, dan bahan bakar berupa solar sebanyak 50 - 60 liter. Nelayan berangkat menuju daerah penangkapan ikan pada pukul 04.00 dan sampai di wilayah daerah penangkapan ikan dalam waktu 1,5-3
39 jam. Pengoperasian alat tangkap dogol dimulai dari fishing master mencari gerombolan ikan yang terdapat di wilayah tersebut. Proses pemasangan (setting) dogol dilakukan saat gerombolan ikan yang menjadi sasaran tangkap mulai terlihat, lalu dilakukan pengejaran terhadap ikan, setelah diperkirakan bahwa ikan dapat tertangkap maka jaring langsung diturunkan kedalam air mengelilingi gerombolan (schools) ikan.
Sumber : Wawancara nelayan (2011)
Gambar 15 Konstruksi dogol di Teluk Jakarta
Penurunan jaring dilakukan mulai dari pelampung tanda, lalu tali selambar hingga badan jaring terendam setelah itu dilakukan penarikan (hauling) jaring. Lama waktu pemasangan jaring biasanya berkisar antara 15-20 menit sehingga bisa dilakukan 12 kali pemasangan (setting) di dalam satu trip penangkapan ikan. Kegiatan operasional dogol berakhir pada pukul 15.00 dan nelayan langsung kembali ke tempat pendaratan ikan pada pukul 16.00.
40 Pancing rawai
Konstruksi alat tangkap pancing rawai yang dioperasikan di Muara Cilincing terdiri atas bagian main line, branch line, pemberat dan mata pancing. Secara lebih jelas konstruksi alat tangkap pancing rawai dapat dilihat pada Gambar 16.
Unit penangkapan pancing rawai di Muara Cilincing beroperasi menggunakan perahu motor tempel dengan dimensi L x B x D yaitu 5 m x 1,2 m x 0,5 m. Perahu motor yang digunakan memiliki daya sebesar 5 PK dengan jumlah nelayan sekitar 1-2 orang yang mengoperasikannya.
Sumber : Wawancara nelayan (2011)
Gambar 16 Konstruksi pancing rawai di Teluk Jakarta
Pengoperasian alat pancing rawai dilakukan melalui proses persiapan, perjalanan menuju daerah penangkapan ikan, setting, soaking, hauling, dan perjalanan kembali ke tempat pendaratan ikan. Persiapan yang dilakukan nelayan adalah perbekalan, yaitu bahan makanan dan bahan bakar berupa solar sebanyak 20 - 30 liter. Nelayan berangkat menuju daerah penangkapan ikan pada pukul
41 16.00 dan sampai di wilayah daerah penangkapan ikan dalam waktu 0,5-1 jam. Proses pemasangan (setting) pancing rawai dilakukan mulai dari menurunkan pelampung tanda, lalu main line baru kemudian branch line dan mata pancing, setelah setting biasanya nelayan kembali ke tempat pendaratan ikan dan membiarkan mata pancing terendam (soaked) selama beberapa jam baru kemudian dilakukan penarikan (hauling) mata pancing. Kegiatan operasional pancing rawai berakhir pada pukul 04.00 dan nelayan langsung kembali ke tempat pendaratan ikan pada pukul 05.00.
4.2.2 Nelayan
Nelayan merupakan salah satu bagian dari unit penangkapan ikan yang memegang peranan penting dalam keberhasilan operasi penangkapan. Peranan tersebut didasarkan pada kemampuannya dalam mengoperasikan alat tangkap. Nelayan di Teluk Jakarta merupakan penduduk asli daerah tersebut, selain itu terdapat pula nelayan pendatang yang berasal dari Indramayu, Makassar, Klaten, dan Palabuhanratu.
Jumlah nelayan di DKI Jakarta hingga tahun 2009 mencapai 18.947 orang yang terdiri dari 2.366 nelayan pemilik dan 16.581 nelayan pekerja. Dari total 18.947 orang nelayan, terdapat 10.268 nelayan lokal dan 8.678 nelayan pendatang. Jumlah nelayan di DKI Jakarta dari tahun 2005 ke tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Jumlah nelayan yang ada di DKI Jakarta selama tahun 2005-2009
Tahun Nelayan Lokal Nelayan pendatang Total
Pemilik Pekerja Total Pemilik Pekerja Total Pemilik Pekerja Total 2005 3.140 11.877 15.017 1.028 6.875 8.903 5.168 18.752 23.820 2006 2.826 10.690 13.516 1.827 6.191 8.018 4.653 16.881 21.534 2007 2.441 9.586 12.027 1.662 5.545 7.207 4.103 15.131 19.234 2008 1.060 9.358 10.418 1.708 8.089 9.797 2.768 17.447 20.215 2009 1.123 9.145 10.268 1.243 7.436 8.679 2.366 16.581 18.947
42 4.2.3 Kapal penangkapan ikan
Kapal penangkap ikan di Teluk Jakarta terbagi atas beberapa kategori antara lain perahu, perahu motor tempel dan kapal motor. Perkembangan jumlah armada penangkapan ikan di Teluk Jakarta dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Jenis armada yang ada di DKI Jakarta selama tahun 2005-2009 Jenis Armada Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 0-5 GT 451 406 430 460 435 5-10 GT 1.343 1.209 1.276 1.858 1.427 10-20 GT 615 554 659 430 210 20-30 GT 421 379 354 596 485 30-50 GT 45 39 34 51 108 >50 GT 726 653 760 564 450 Total 5.028 4.523 4.609 4.855 3.115
Sumber : Suku Dinas Peternakan Perikanan Kelautan DKI Jakarta (2009) 4.2.4 Musim penangkapan ikan
Menurut Badan Pusat Statistik Administratif Kepulauan Seribu (2007), musim penangkapan sangat dipengaruhi oleh angin muson. Di Teluk Jakarta terjadi tiga musim penangkapan setiap tahunnya, yaitu musim barat, musim peralihan dan musim timur.
Angin Musim Barat terjadi pada Bulan Desember sampai dengan Bulan Maret, pada musim barat intensitas curah hujan tinggi disertai dengan keadaan angin kencang dan ombak besar serta arus kuat. Hal tersebut menyebabkan pada Musim Barat sebagian besar nelayan memilih untuk tidak melaut terkait dengan faktor keamanan di laut sehingga produksi ikan mengalami penurunan, sehingga Musim Barat sering pula disebut musim paceklik.
Musim peralihan terjadi dari Bulan April sampai dengan Bulan Mei. Kondisi perairan sangat tenang dengan kecepatan angin bervariasi, sehingga semua alat penangkapan ikan dapat dioperasikan dengan hasil yang cukup baik. Musim Timur berlangsung dari Bulan Juni sampai dengan Bulan September. Pada musim timur keadaan ombak relatif tenang serta angin tidak kencang sehingga