• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Keadaan Perikanan Tangkap

4.2.1 Alat penangkapan ikan

4.2.1.1 Unit penangkapan ikan di Muara Kamal

Unit penangkapan ikan di Muara Kamal terdiri dari empat alat tangkap, yaitu bagan tancap, bagan kapal, sero dan jaring insang. Secara lengkap tentang keempat unit penangkapan ikan tersebut diuraikan lebih lanjut.

Bagan Tancap

Konstruksi alat tangkap bagan tancap yang dioperasikan di Teluk Jakarta terdiri atas badan jaring dan kerangka bagan. Badan jaring pada bagan tancap yang dioperasikan di Muara Kamal terbuat dari bahan polypropilen dengan ukuran mata jaring 2 mm dan dimensi badan jaring 13,5m x 13,5m x 4m. Selain itu bagan tancap yang dioperasikan di Muara Kamal memiliki tali ris, tali pemberat dan pemberat batu dengan berat 0,5 kg. Secara lebih jelas konstruksi alat tangkap bagan tancap dapat dilihat pada Gambar 10.

Unit penangkapan bagan tancap di Muara Kamal beroperasi menggunakan perahu motor dengan dimensi L x B x D yaitu 5 m x 1,5 m x 0,5 m. Perahu motor yang digunakan memiliki daya sebesar 18 PK dengan jumlah nelayan sekitar 1-2

31 orang yang mengoperasikan bagan tancap. Perahu pada unit penangkapan bagan tancap hanya berfungsi sebagai alat transportasi nelayan untuk membawa hasil tangkapan dari bagan menuju tempat pendaratan ikan.

Sumber : Modifikasi dari Subani dan Barus (1989) berdasarkan hasil wawancara Gambar 10 Konstruksi bagan tancap di Teluk Jakarta

Pengoperasian alat tangkap bagan tancap dilakukan melalui proses persiapan, perjalanan menuju daerah penangkapan ikan, setting, soaking, hauling, dan perjalanan kembali ke tempat pendaratan ikan. Persiapan yang dilakukan nelayan adalah persiapan perbekalan, yaitu lampu petromaks, bahan makanan, bahan bakar berupa solar sebanyak 5 - 10 liter dan minyak tanah sebanyak 5 liter. Nelayan berangkat menuju daerah penangkapan ikan pada pukul 17.30 dan sampai di daerah penangkapan ikan dalam waktu 15-30 menit. Di awal pengoperasian alat tangkap bagan tancap dilakukan proses pemasangan (setting) waring yang diturunkan menggunakan roller yang digerakkan secara manual menggunakan tangan. Setelah waring sepenuhnya terendam, maka lampu petromaks segera diturunkan menggunakan pengait mendekati permukaan air tetapi tidak menyentuh permukaan air.

32 Penggunaan cahaya lampu bertujuan sebagai attractor ikan di waktu malam karena ikan sasaran tangkap seperti teri dan tembang akan cenderung berkumpul di wilayah yang terkena cahaya lampu yang berada tepat di bawah bagan tancap. Lama waktu perendaman (soaking) jaring biasanya berkisar antara 2-3 jam sehingga bisa dilakukan 3-4 kali pemasangan (setting) di dalam satu trip penangkapan ikan.

Setelah diperkirakan ikan tertangkap maka dilakukan proses hauling menggunakan roller, lalu ikan yang berada di waring dipindahkan ke dalam keranjang menggunakan serok. Kegiatan operasional bagan tancap berakhir pada pukul 05.00 dan nelayan langsung kembali ke tempat pendaratan ikan pada pukul 05.30.

Bagan Kapal

Konstruksi alat tangkap bagan kapal yang dioperasikan di Teluk Jakarta terdiri atas bagian badan jaring dan kerangka bagan. Jaring bagan kapal yang dioperasikan di Muara Kamal terbuat dari bahan polypropilen dengan ukuran mata jaring 2 mm dan dimensi jaring 20,5m x 20,5m x 8m.

Selain itu bagan kapal yang dioperasikan di Muara Kamal memiliki tali ris, tali pemberat dan pemberat batu. Secara lebih jelas konstruksi alat tangkap bagan kapal dapat dilihat pada Gambar 11.

Unit penangkapan bagan kapal di Muara Kamal beroperasi menggunakan kapal motor dengan dimensi L x B x D yaitu 17 m x 3,3 m x 1,7 m. Kapal motor yang digunakan memiliki daya sebesar 100 PK dengan jumlah nelayan sekitar 6 hingga 7 orang yang mengoperasikan bagan kapal.

Pengoperasian alat tangkap bagan kapal dilakukan melalui proses persiapan, perjalanan menuju daerah penangkapan ikan, setting, soaking, hauling, dan perjalanan kembali ke tempat pendaratan ikan. Persiapan yang dilakukan nelayan adalah persiapan perbekalan, yaitu lampu petromaks, bahan makanan, bahan bakar berupa solar sebanyak 20 - 30 liter dan minyak tanah sebanyak 5-10 liter. Nelayan berangkat menuju daerah penangkapan ikan pada pukul 17.30 dan sampai di wilayah daerah penangkapan ikan dalam waktu 20 menit hingga 2 jam.

33 Sumber : Modifikasi dari Subani dan Barus (1989) berdasarkan hasil wawancara

Gambar 11 Konstruksi bagan kapal di Teluk Jakarta

Di awal pengoperasian alat tangkap bagan kapal dilakukan proses pemasangan (setting) waring yang diturunkan menggunakan roller. Setelah waring sepenuhnya terendam maka lampu petromaks yang telah disiapkan sebelumnya segera diturunkan menggunakan pengait hingga mendekati permukaan air tetapi tidak sampai menyentuh permukaan air.

Penggunaan cahaya lampu bertujuan sebagai attractor ikan di waktu malam karena ikan sasaran tangkap seperti ikan teri, kembung dan tembang akan cenderung berkumpul di wilayah yang terkena cahaya lampu yang berada tepat di bawah bagan kapal. Lama waktu perendaman (soaking) jaring biasanya berkisar antara 2-3 jam sehingga bisa dilakukan 3-4 kali pemasangan (setting) di dalam satu trip penangkapan ikan.

Setelah diperkirakan ikan tertangkap maka dilakukan proses hauling menggunakan net roller (pengangkat jaring), lalu ikan yang berada di waring dipindahkan ke dalam keranjang menggunakan serok. Berbeda dengan pengoperasian bagan tancap. Pengoperasian bagan kapal dapat dilakukan berpindah-pindah sehingga memungkinkan nelayan untuk mencari daerah penangkapan ikan lain apabila di daerah penangkapan ikan pertama tidak terdapat

34 Kantorng 6mx6m 1m 7,5m 30m 4,5m 135m 1m N

ikan sasaran tangkap. Kegiatan operasional bagan kapal berakhir pada pukul 04.30 dan nelayan langsung kembali ke tempat pendaratan ikan pada pukul 05.00. Sero

Konstruksi alat tangkap sero yang dioperasikan di wilayah Muara Kamal terdiri atas bagian penaju, serambi, penabah, kantong dengan kerangka sero yang terbuat dari bambu. Bagian jaring dari sero yang dioperasikan di Muara Kamal terbuat dari bahan polypropilen dengan ukuran mata jaring 5 mm. Secara lebih jelas konstruksi alat tangkap sero dapat dilihat pada Gambar 12.

Unit penangkapan sero di Muara Kamal beroperasi menggunakan perahu motor tempel dengan dimensi L x B x D yaitu 5 m x 1,5 m x 0,5 m. Perahu motor tempel yang digunakan memiliki daya sebesar 5 PK dengan jumlah nelayan sekitar 2 hingga 3 orang yang mengoperasikannya. Perahu pada unit penangkapan sero hanya berfungsi sebagai alat transportasi hasil tangkapan dari bagan menuju fishing base.

Sumber : Wawancara nelayan (2011)

Gambar 12 sero (tampak atas) di Teluk Jakarta

Pengoperasian alat tangkap sero dilakukan melalui proses persiapan, perjalanan menuju daerah penangkapan ikan, setting, soaking, hauling, dan perjalanan kembali ke tempat pendaratan ikan. Persiapan yang dilakukan nelayan adalah persiapan perbekalan, yaitu bahan bakar berupa solar sebanyak 5 liter. Nelayan berangkat menuju daerah penangkapan ikan pada pukul 04.00 dan sampai di wilayah daerah penangkapan ikan dalam waktu 15-30 menit.

Alat tangkap sero merupakan alat tangkap yang bersifat pasif dan tidak dapat berpindah dan ikan tertangkap dengan sendirinya melalui arus pasang surut yang melewati sero, sehingga nelayan sero hanya melakukan hauling di tiap trip

35 penangkapan dan pembersihan jaring sero pada siang harinya. Proses hauling diawali dari, jaring yang ada pada bagian kantong (borong) diikat ke pinggir atas dan diikat pada sela-sela bambu sehingga memudahkan nelayan dalam memindahkan ikan ke keranjang. Ikan di kantong dipindahkan ke keranjang menggunakan serok. Biasanya nelayan sero di Muara Kamal hanya memasukkan ikan ekonomis penting kedalam keranjang sedangkan ikan yang tidak menguntungkan akan dikembalikan ke perairan atau dimasukkan ke kantong plastik untuk dikonsumsi sendiri. Kegiatan operasional sero berakhir pada pukul 05.15 dan nelayan langsung kembali ke tempat pendaratan ikan pada pukul 05.30. Jaring insang

Konstruksi alat tangkap jaring insang yang dioperasikan di Muara Kamal terdiri atas bagian badan jaring, tali ris atas, tali ris bawah, pelampung, pemberat. Badan jaring gillnet yang dioperasikan di Muara Kamal terbuat dari bahan Polyamide monofilament. Secara lebih jelas konstruksi alat tangkap gillnet dapat dilihat pada Gambar 13.

Unit penangkapan jaring insang di Muara Kamal beroperasi menggunakan kapal motor bertonase 6 GT dengan dimensi L x B x D yaitu 13 m x 1,8 m x 1,5 m. Kapal motor yang digunakan memiliki daya sebesar 18 PK dengan jumlah nelayan sekitar 3 hingga 4 orang yang mengoperasikannya. Pengoperasian alat jaring insang dilakukan melalui proses persiapan, perjalanan menuju daerah penangkapan ikan, setting, soaking, hauling, dan perjalanan kembali ke tempat pendaratan ikan. Persiapan yang dilakukan nelayan adalah persiapan perbekalan, yaitu bahan makanan, bahan bakar berupa solar sebanyak 20 - 30 liter. Nelayan berangkat menuju daerah penangkapan ikan pada pukul 17.30 dan sampai di wilayah daerah penangkapan ikan dalam waktu 30 menit hingga 2 jam. Di awal pengoperasian alat tangkap jaring insang dilakukan proses pemasangan yang dimulai dari menurunkan pelampung tanda ke air lalu diikuti secara berurutan mulai dari tali selambar, jaring secara perlahan agar jaring dapat terbentang tidak tergulung dan terakhir pelampung tanda yang kedua.

36 Sumber : Wawancara nelayan (2011)

Gambar 13 Konstruksi jaring insang di Teluk Jakarta

Kemudian jaring dibiarkan terendam (soaking) hingga 3 jam, lalu dilakukan proses penarikan dengan menaikkan tali selambar, pemberat, sampai dengan jaring. Ikan yang tertangkap lalu dipilih dan dimasukkan ke dalam wadah-wadah berisi es. Kegiatan operasional jaring insang berakhir pada pukul 04.00 dan nelayan langsung kembali ke tempat pendaratan ikan pada pukul 04.30.

Dokumen terkait