• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIT PENGOLAH LUMPUR

Dalam dokumen SPESIFIKASI TEKNIS II. REFERENSI (Halaman 55-59)

BAB X.3 SPESIFIKASI TEKNIS KHUSUS

A.11. UNIT PENGOLAH LUMPUR

- Saling mencuci (inter filter backwash). Pada sistem ini harus disiapkan bak penampung air bersih yang menampung air keluaran (efluen) dari saringan pasir (filter) yang akan digunakan sebagai air pencuci media filter.

o Volume bak penampung air bersih harus dihitung agar cukup untuk mencuci sekurang-kurangnya 2 (dua) bak filter.

o Harus tersedia beda tinggi (driving head) yang cukup antara muka air pada bak penampung air dengan ketinggian gutter agar dapat memenuhi kebutuhan kehilangan tekanan (headloss) untuk pencucian media filter.

- Menggunakan menara pencuci.

o Volume bak penampung menara pencuci harus dihitung agar cukup untuk mencuci sekurang-kurangnya 2 (dua) bak filter.

o Harus tersedia beda tinggi (driving head) yang cukup antara muka air pada bak penampung menara pencuci dengan ketinggian gutter agar dapat memenuhi kebutuhan kehilangan tekanan (headloss) untuk pencucian media filter.

(9) Kriteria Disain pencucian filter :

 Pencucian media filter harus dilakukan dengan menggunakan nilai ekspansi antara 20% - 40%

 Lama pencucian:

- Pencucian menggunakan air berkisar antara 15 – 20 menit

- Apabila pencucian media filter menggunakan bantuan hembusan udara, maka dapat dilakukan pada saat awal selama 5 menit.

A.11. UNIT PENGOLAH LUMPUR

1. Fungsi

Untuk mengurangi kadar air pada lumpur hasil sedimentasi dan pencucian unit

filtrasi.

2. Tipe

Unit pengolah lumpur yang digunakan pada IPA adalah bak pengering lumpur (sludge dying bed):

3. Ukuran

a. Ukuran panjang, lebar dan jumlah bak harus sesuai dengan perhitungan berdasarkan kriteria disain.

b. Ukuran dan ketebalan media sesuai dengan kriteria disain.

c. Ukuran lubang saluran (underdrain) harus sesuai dengan kriteria disain.

4. Kinerja

a. Proses pengeringan lumpur sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca.

b. Pengeringan lumpur dicapai melalui pengeringan air dengan pengaliran dan massa lumpur melewati lapisan pasir penyangga ke pipa drainase, dan melalui penguapan.

c. Seiring dengan mengeringnya lumpur, retakan akan timbul pada permukaan yang memungkinkan penguapan untuk terjadi dari lapisan bawah yang akan mempercepat proses pengeringan.

d. Lumpur kering dapat dipindahkan dengan menggunakan sekop atau garpu pada kandungan air sebesar 60%, tapi jika dibiarkan mengering sampai kandungan air mencapai 40% akan berkurang beratnya sebesar setengahnya dan tetap mudah untuk ditangani.

e. Lumpur yang terlalu kering (kandungan air 10% sampai 20%) akan berdebu dan susah untuk dipindahkan karena akan hancur.

f. Air keluaran (efluen) dari bak pengering lumpur ini sekurang-kurangnya harus memenuhi kualitas baku mutu air Kelas II sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

5. Bentuk

Unit sludge drying bed umumnya berbentuk persegi panjang, dsb.

6. Perlengkapan

a. Media penyaring yang digunakan berupa pasir kasar dengan kualitas:

- Bentuk mendekati bulat

- Dinilai dengan baik untuk tingkat permukaan

- Diameter efektif dan tingkat keseragaman dihasilkan dari hasil analisa ayakan(sieve analysis)

b. Media penyangga

 Media penyangga yang digunakan adalah kerikil dengan ukuran diameter 30 - 60 mm dan ketebalan 30 cm.

 Kerikil yang digunakan : - Bentuk mendekati bulat

- Keras

c. Saluran/perpipaan untuk mengalirkan air efluen untuk dibuang ke badan air.

1. Kriteria Disain

Kriteria perencanaan untuk Unit sludge drying bed dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel Kritenia Perencanaan Unit Sludge Drying Bed

Kriteria Nilai

Bed

Jumlah bed minimum 2

Ukuran sel (bed) Lebar = 6 m

Panjang = 6 – 30 m

Ketebalan lapisan lumpur 20 – 30 cm

Kecepatan alir lumpur dalam pipa > 0.75 m/s Jenis pipa pengalir lumpur Pipa besi/plastik Peletakan pipa pengalir Min. 17” di atas permukaan

Jarak unit dari pemukiman > 100 m

Perlengkapan tambahan

Bak pembagi aliran

Splash plates (untuk meratakan lumpur)

Kerikil

Kedalaman total 12”

Pemasangan 6” di atas pipa underdrain paling atas

Peletakkan 2 atau lebih lapisan

Ukuran Top 3” dari partikel kerikil 1/8” – ¼”.

Kualitas Dinilai dengan baik untuk tingkat

permukaan Pasir

Tebal lapisan pasir 23 – 30 cm

Ukuran partikel 0.8-1.5 mm

UC pasir < 4,0

ES pasir 0,3 – 0,75 mm

Jenis Pasir kasar yang bersih dan sudah dicuci

Kualitas Dinilai dengan baik untuk tingkat

permukaan Underdrain

Kemiringan pipa perforasi 1 %

Jarak antara pipa perforasi 2,5 – 6 m

Pemasangan Dengan sambungan terbuka

Bahan

Bahan dengan kekuatan yang cukup

Bahan tahan karat

Kekuatan Dapat menahan lapisan kerikil Dinding

Jenis Tahan Air

Pemasangan

- Mencapai 18” di atas lapisan bed - Mencapai minimum 6” di bawah

lapisan bed

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah kondisi dan kandungan air dari lumpur, ketersediaan lapisan pasir.

Lumpur baru tidak dapat diletakkan di atas lumpur yang sudah kering A.12. BAHAN DAN PERALATAN

- Bahan Utama

Bahan utama yang digunakan untuk instalasi pengolahan air (IPA) adalah Beton K-300.

- Beton K - 300 harus memenuhi ketentuan berikut : Kekuatan Tekan : 300 kg/cm2 pada umur 28 hari

Slump : 10 ± 2 cm W/C ratio : ± 0,5

Semen : Portland Cement Agregat halus : Pasir silika

Agregat kasar : screening 5 – 10 mm Density : 2,350 kg/m3

Berat Kemasan : 50 kg/zak

Kebutuhan air per zak : ± 5 liter untuk 1 zak (1 zak @ 50 kg) Kebutuhan per m3 beton : 43 zak @ 50 kg

Consumption Rate per zak : 0,024 m3

- Pelat Pengendap

Pelat pengendap dari bahan fiber glass, PVC dan stainless steel dengan lendutan (defleksi) tidak melebihi 5 % pada beban 1285 N/m2 .

- Tangki Pembubuh dan Pengaduk

Tangki pembubuh dan pengaduk dari fiberglass atau sejenisnya yang tahan terhadap larutan kimia. Dimensi, kapasitas dan bentuk sesuai dengan SNI 19-6774-2008, tata cara perencanaan paket unit IPA

- Pekerjaan Mekanikal

Pekerjaan pemasangan pipa-pipa harus terbuat dari pipa baja yang sudah di las dari pabrik sehingga dijamin tidak bocor. Untuk diameter > 40 mm, peralatan pipa harus tahan terhadap tekanan kerja maksimal 12 bar.

a. Perpipaan dan Saluran yang digunakan :

 Pipa PVC, harus sesuai SNI 06-0084-2002 tentang Pipa PVC untuk saluran air minum, SNI 06-0162-1987 tentang Pipa PVC untuk saluran air buangan di daiam dan diluar bangunan;

 Pipa baja saluran air, harus sesuai SNl 07-2225-1991 dan harus di finished print

b. Perlengkap Pipa yang digunakan : Katup terdiri dari :

 Butterfly Valve

- Butterfly valve harus digunakan untuk mengatur debit.

- Untuk ukuran butterfly valve > Ф 100 mm, harus menggunakan 2 piringan (flens).

 Gate valve

- Gate valve sebagai isolating valve, harus memenuhi ketentuan : - Dilengkapi cincin penutup (seal) anti bocor.

 Check valve

Dalam dokumen SPESIFIKASI TEKNIS II. REFERENSI (Halaman 55-59)