SPESIFIKASI TEKNIS
I.
RUANG LINGKUPPersyaratan Teknis Umum ini merupakan persyaratan dari segi teknis yang secara umum berlaku untuk seluruh bagian pekerjaan dimana persyaratan ini bisa diterapkan untuk “Optimaliasi SPAM Kota Sawahlunto”. Secara lengkap seluruh jenis pekerjaan tersebut dapat dilihat pada Bill Of Quantity (BQ) dan BQ bersifat tidak mengikat.
1. Lingkup pekerjaan termasuk tetapi tidak terbatas pada hal-hal sebagai berikut:
a. Penugasan tenaga pelaksana lapangan yang mampu mengelola dan mengkoordinasikan pelaksanaan pekerjaan di lapangan
b. Koordinasi dengan semua pihak yang berhubungan dengan pekerjaan yang ditugaskan
c. Pengadaan bahan/material yang sesuai dengan spesifikasi teknis
d. Pengadaan tenaga-tenaga kerja yang ahli/terlatih dan berpengalaman pada bidangnya dan dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik sesuai dengan ketentuan/petunjuk Direksi/Pengawas
e. Pembuatan shop drawing (gambar kerja) dan as built drawing (gambar terlaksana)
f. Pembuatan laporan administrasi pelaksanaan pekerjaan secara berkala
g. Penjagaan kebersihan, kerapian dan keamanan area kerja
2. Persyaratan Teknis Umum ini menjadi satu kesatuan dengan Persyaratan Teknis Khusus Pelaksanaan Pekerjaan dan secara bersama-sama merupakan persyaratan dari segi teknis bagi seluruh pekerjaan.
3. Dalam hal dimana ada bagian dari Persyaratan Teknis Umum ini, yang tidak dapat diterapkan pada bagian pekerjaan maka bagian dari Persyaratan Teknis Umum tersebut dengan sendirinya dianggap tidak berlaku.
II.
REFERENSI1. Seluruh pekerjaan harus dilaksanakan dengan mengikuti dan memenuhi persyaratan-persyaratan teknis yang tertera dalam persyaratan Normalisasi Indonesia (NI), Standar Industri Indonesia (SII), Peraturan-peraturan Nasional dan Peraturan-peraturan setempat lainnya yang berlaku atas jenis-jenis pekerjaan yang bersangkutan antara lain:
a. AV: Algemene Voorwarden voor de Uitvoering bij Aanneming Openbare Werken in Indonesia 28 Mei 1941.
b. NI • 2 (1971) Peraturan Beton Bertulang Indonesia
c. NI • 3 (1970) Peraturan Umum Untuk Bahan Bangunan di Indonesia
d. SII – 0193: Mutu dan Cara Uji Baja Strip (1978)
e. Mutu dan Cara Uji Sement Beton (SII 0052-80) f. Mutu dan Cara Uji Sement Portland (SII 0013-81)
g. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI- 1982)/NI-3
h. ACI-318 M-83 & ACI-350 R-83: Peraturan Beton Bertulang untuk USA 1983, yang berlaku secara Internasional
i. Peraturan perencanaan tahan gempa Indonesia untuk Gedung 1983
j. Pedoman perencanaan untuk struktur beton bertulang biasa dan struktur tembok bertulang untuk gedung 1983
k. Jaringan Kawat Baja Las untuk Tulangan Beton (SII 0784-83) l. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 307B/1983
m. Baja Tulangan Beton (SII 0136-84)
n. Peraturan Beton Bertulang untuk Indonesia 1989 (PBI 1989) o. SNI – 03 – 1972– 1990 Metoda Pengujian Slump Beton
p. Tata cara perhitungan Struktur Beton untuk bangunan gedung (SK SNI T- 15-1991-03)
q. SNI – 03 – 4810 – 1998 Metoda Pengujian Kuat Tekan Beton r. SNI - 03 – 6481 – 2000 Plumbing
s. SNI – 03 – 1968 – 2000 Analisis Saringan Agregat Halus dan Kasar
t. SNI 13 – 3472 – 2002 Pengelasan Saluran Pipa dan Faslitas Terkait
u. SNI – 03 – 2847 – 2002: Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung
v. NI • 5Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia w. SII – 0285: Mutu dan Cara Uji Beton Bertulang x. SII – 0289: Mutu dan Cara Uji Beton Pejal y. AVWI: Peraturan Pelaksanaan Bangunan Air z. NI • 8 Peraturan Semen Portland Indonesia aa. Peraturan Pelaksanaan Konstruksi Baja Indonesia
bb. ASTM C-33 Standard Specification for concrete Agregates cc. ASTM D/698 Standard Proctor Compaction Test
dd. Standar Industri Indonesia (SII)
ee. American Socicty for testing and Material setempat (ASTM) ff. Peraturan bangunan jalan dari Direktorat Jendral Bina Marga gg. Peraturan ketenaga-kerjaan di Indonesia
hh. Peraturan umum dari Dinas Keselamatan Kerja
ii. Peraturan Pembangunan Pemerintah Daerah setempat
Untuk pekerjaan-pekerjaan yang belum termasuk dalam standart- standart yang disebut diatas, maupun standart-standart Nasional lainnya, maka diberlakukan standart-standart Internasional yang berlaku atas pekerjaan- pekerjaan tersebut atau setidak-tidaknya berlaku standart-standart Persyaratan Teknis dari Negara-negara asal bahan/pekerjaan yang bersangkutan dan dari produk yang ditentukan pabrik pembuatnya.
2. Dalam hal dimana ada bagian pekerjaan yang persyaratan teknisnya tidak diatur dalam Persyaratan Teknis Umum dan Khusus maupun salah satu dari ketentuan yang disebutkan dalam ayat 1 diatas, maka atas bagian pekerjaan tersebut Penyedia Jasa harus mengajukan salah satu dari persyaratan-persyaratan berikut ini guna disepakati oleh Direksi/Pengawas untuk dipakai sebagai patokan persyaratan teknis:
a. Standart/norma/kode/pedoman yang bisa diterapkan pada bagian pekerjaan bersangkutan yang diterbitkan oleh Instansi/Institusi/Assosiasi, Profesi/Assosiasi, atau Produsen/Lembaga Pengujian atau Badan-badan lain yang berwenang/berkepentingan atau Badan-badan yang bersifat Internasional ataupun Nasional dari Negara lain, sejauh bahwa hal tersebut diperoleh persetujuan dari Direksi/Pengawas.
b. Brosur teknis dari produsen yang didukung dengan sertifikat dari Lembaga Pengujian yang diakui secara Nasional/Internasional.
III.
BAHAN1. Baru/Bekas.
Kecuali ditetapkan lain secara khusus, maka semua bahan yang dipergunakan dalam/untuk pekerjaan ini harus merupakan bahan yang baru, penggunaan bahan bekas dalam komponen kecil maupun besar sama sekali tidak diperbolehkan/dilarang digunakan.
2. Tanda Pengenal.
Dalam hal dimana pabrik/produsen bahan mengeluarkan tanda pengenal untuk produk bahan yang dihasilkannya, baik berupa cap/merk dagang pengenal pabrik/produsen ataupun sebagai pengenal kwalitas/kelas/kapasitas, maka semua bahan dari pabrik/produsen bersangkutan yang dipergunakan dalam pekerjaan ini harus mengandung tanda pengenal tersebut.
3. Merk Dagang dan Kesetarafan.
a. Penyebutan sesuatu merk dagang bagi suatu bahan/produk didalam Persyaratan Teknis harus diartikan sebagai persyaratan kesetarafan kwalitas penampilan (Performance) dari bahan/produk tersebut, yang mana dinyatakan dengan kata-kata "atau yang setaraf".
b. Penggunaan bahan/produk lain yang dapat dibuktikan mempunyai kwalitas penampilan yang setaraf dengan bahan/produk yang memakai merk dagang yang disebutkan, dapat diterima sejauh bahwa untuk itu sebelumnya telah diperoleh persetujuan tertulis dari Direksi/Pengawas atau kesetarafan tersebut.
c. Penggunaan bahan/produk yang disetujui sebagai "setaraf” tidak dianggap sebagai perubahan pekerjaan dan karenanya perbedaan harga dengan bahan produk yang disebutkan merk dagangnya akan diabaikan.
d. Sejauh bisa memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan, penggunaan produksi dalam Negeri lebih diutamakan.
4. Penggantian (Substitusi).
a. Penyedia Jasa bisa mengajukan usulan untuk menggantikan sesuatu bahan/produk dengan sesuatu bahan/produk lain dengan penampilan yang setaraf dengan yang dipersyaratkan.
b. Dalam persetujuan atas sesuatu penggantian (substitusi), perbedaan harga yang ada dengan bahan/produk yang dipersyaratkan akan diperhitungkan sebagai perubahan pekerjaan dengan ketentuan sebagai berikut:
a) Dalam hal dimana penggantian disebabkan karena kegagalan Penyedia Jasa untuk mendapatkan bahan/produk
seperti yang dipersyaratkan, maka perubahan pekerjaan yang bersifat biaya tambah dianggap tidak ada.
b) Dalam hal dimana penggantian dapat disepakati oleh Direksi/Pengawas dan PPK sebagai masukan (input) baru yang menyangkut nilai-nilai tambah, maka perubahan pekerjaan mengakibatkan biaya tambah dapat diperkenankan.
5. Persetujuan Bahan.
a. Untuk menghindarkan penolakan bahan di lapangan, dianjurkan dengan sangat agar sebelum sesuatu bahan/produk akan dibeli/dipesan/diproduksi, terlebih dahulu dimintakan persetujuan dari Direksi/Pengawas atau kesesuaian dari bahan/produk tersebut pada Persyaratan Teknis, yang mana akan diberikan dalam bentuk tertulis yang dilampirkan pada contoh/brosur dari bahan/produk yang bersangkutan untuk diserahkan kepada Direksi/Pengawas Lapangan.
b. Penolakan bahan dilapangan karena diabaikannya prosedur diatas sepenuhnya merupakan tanggung jawab Penyedia Jasa, dan tidak dapat diberikan pertimbangan keringanan apapun.
c. Adanya persetujuan tertulis dengan disertai contoh/brosur seperti tersebut diatas tidak merupakan jaminan akan diterima/disetujuinya seluruh bahan/produk tersebut dilapangan jika dapat dibuktikan bahwa bahan/produk tersebut palsu, cacat, tidak berfungsi normal, dan atau merupakan barang bekas.
6. Contoh.
Pada waktu memintakan persetujuan atas bahan/produk kepada Direksi/ Pengawas harus disertakan contoh dari bahan/produk tersebut dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Jumlah Contoh.
a) Untuk bahan/produk bila tidak dapat
diberikan sesuatu sertifikat pengujian yang dapat disetujui/diterima oleh Direksi/Pengawas sehingga oleh karenanya perlu diadakan pengujian, kepada Direksi/Pengawas harus diserahkan sejumlah bahan produk sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam standart prosedur pengujian, untuk dijadikan benda uji guna diserahkan pada Badan/Lembaga Penguji yang ditunjuk oleh Direksi/Pengawas.
b) Untuk bahan/produk yang dapat ditunjukkan sertifikat pengujian yang dapat disetujui/diterima oleh Direksi/Pengawas, kepada Direksi/Pengawas harus diserahkan contoh yang disertai dengan salinan sertifikat pegujian yang bersangkutan.
b. Contoh yang Disetujui.
a) Dari contoh yang diserahkan kepada
Direksi/Pengawas atau contoh yang telah memperoleh persetujuan dari Direksi/Pengawas harus dibuat suatu keterangan tertulis mengenai persetujuannya dan disamping itu oleh Direksi/Pengawas harus dipasangkan tanda pengenal persetujuannya pada contoh yang akan dipegang oleh Direksi/Pengawas. Bila dikehendaki, Penyedia Jasa dapat meminta sejumlah set tambahan dari contoh berikut tanda pengenal persetujuan dan surat keterangan persetujuan untuk
kepentingan dokumentasi sendiri. Dalam hal demikian jumlah contoh yang harus diserahkan kepada Direksi/Pengawas harus ditambah seperlunya sesuai dengan kebutuhan tambahan tersebut.
b) Pada waktu Direksi/Pengawas sudah tidak lagi membutuhkan contoh yang disetujui tersebut untuk pemeriksaan bahan produk bagi pekerjaan, Penyedia Jasa berhak meminta kembali contoh tersebut untuk dipasangkan pada pekerjaan.
c. Waktu Persetujuan Contoh
a) Adalah tanggung jawab dari Penyedia Jasa untuk mengajukan contoh pada waktunya, sedemikian sehingga pemberian persetujuan atau contoh tersebut tidak akan menyebabkan keterlambatan pada jadwal pengadaan bahan.
b) Untuk bahan/produk yang persyaratannya tidak dikaitkan dengan kesetarafan pada suatu merk dagang tertentu, keputusan atau contoh akan diberikan oleh Direksi/Pengawas dalam waktu tidak lebih dari 10 (sepuluh) hari kerja. Dalam hal dimana persetujuan tersebut akan melibatkan keputusan tambahan diluar Persyaratan Teknis (seperti penentuan model, warna, dll.), maka keseluruhan keputusan akan diberikan dalam waktu tidak lebih dari 21 (dua puluh satu) hari kerja.
c) Untuk bahan produk yang masih harus
dibuktikan kesetarafannya dengan sesuatu merk dagang yang disebutkan, keputusan atau contoh akan diberikan oleh Direksi/Pengawas dalam waktu 21 (dua puluh satu) hari kerja sejak dilengkapinya pembuktian kesetarafan.
d) Untuk bahan/produk yang bersifat pengganti (substitusi), keputusan persetujuan akan diberikan oleh Direksi/Pengawas dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya bahan/produk pengganti lengkap dengan seluruh bahan-bahan pertimbangannya.
e) Untuk bahan/produk yang bersifat
peralatan/perlengkapan ataupun produk lain yang karena sifat/jumlah/harga pengadaannya tidak memungkinkan untuk diberikan contoh dalam bentuk bahan/produk jadi, permintaan persetujuan bisa diajukan berdasarkan brosur dari produk tersebut, yang mana harus dilengkapi dengan:
Spesifikasi teknis lengkap yang dikeluarkan oleh pabrik/produsen
Surat-surat seperlunya dari agen/importir, sesuai keagenan, surat jaminan suku cadang dan jasa purna penjualan (after sales service) dan lain-lain.
Katalog untuk warna, pekerjaan penyelesaian (finishing) dan lain-lain.
Sertifikat pengujian, penetapan kelas dan dokumen-dokumen lain sesuai petunjuk Direksi/Pengawas f) Apabila setelah melewati waktu yang ditetapkan diatas,
keputusan atas contoh dari bahan/produk yang diajukan belum diperoleh tanpa pemberitahuan tertulis apapun dari Direksi/Pengawas, maka dengan sendirinya dianggap bahwa contoh yang diajukan telah disetujui oleh Direksi/Pengawas.
7. Penyimpanan Bahan.
a. Persetujuan atas sesuatu bahan/produk harus diartikan sebagai perijinan untuk memasukkan bahan/produk tersebut dengan tetap berada dalam kondisi layak untuk dipakai.
Apabila selama waktu penyimpanan ternyata ditemukan bahwa bahan/produk tersebut menjadi tidak lagi layak untuk dipakai dalam pekerjaan, Direksi/Pengawas berhak untuk memerintahkan agar:
a) Bahan/Produk tersebut segera diperbaiki sehingga kembali menjadi layak untuk dipakai.
b) Dalam hal dimana perbaikan tidak lagi mungkin dilaksanakan, maka bahan/produk tersebut harus segera dikeluarkan dari lokasi pekerjaan dalam jangka waktu 2 x 24 jam untuk diganti dengan yang memenuhi persyaratan.
b. Untuk bahan/produk yang mempunyai umur pemakaian tertentu penyimpanannya harus dikelompokkan menurut umur pemakaian yang mana harus dinyatakan dengan tanda pengenal dengan ketentuan sebagai berikut:
a) Terbuat dari kaleng atau kertas karton yang tidak akan rusak selama proses penyimpanan
b) Berukuran minimal 40 x 60 cm
c) Huruf berukuran minimum 10 cm dengan warna merah
d) Diletakkan ditempat yang mudah terlihat
c. Penyusunan bahan sejenis selama penyimpanan harus diatur sedemikian rupa, sehingga bahan yang terlebih dulu masuk akan pula terlebih dulu dikeluarkan untuk dipakai dalam pekerjaan.
IV.
PELAKSANAAN 1. Rencana Pelaksanaana. Dalam waktu 7 (tujuh) hari sejak ditanda-tanganinya Surat Perintah Kerja (SPK) oleh kedua belah pihak, Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada Direksi/Pengawas sebuah Network Planning mengenai seluruh kegiatan yang akan dilakukan untuk melaksanakan pekerjaan dalam bentuk diagram urutan kegiatan yang logis serta menunjukkan kaitan/hubungan antara seluruh kegiatan-kegiatan tersebut.
b. Meliputi kegiatan-kegiatan Penyedia Jasa untuk/selama masa pengadaan/pembelian serta waktu pengiriman/pengangkutan dari:
a) Bahan, elemen, komponen dari pekerjaan maupun pekerjaan persiapan/pembantu.
b) Peralatan dan perlengkapan untuk pekerjaan
c. Kegiatan-kegiatan Penyedia Jasa untuk/selama waktu fabrikasi, pemasangan dan pembangunan.
d. Pembuatan gambar-gambar kerja.
e. Permintaan persetujuan atas bahan, gambar kerja, dan rencana kerja.
f. Jadwal untuk seluruh kegiatan tersebut.
g. Direksi/Pengawas akan memeriksa rencana kerja Penyedia Jasa dan memberikan tanggapan dalam waktu 2 (dua) minggu.
h. Penyedia Jasa harus memasukkan kembali perbaika atas rencana kerja jika Direksi/Pengawas meminta diadakannya perbaikan/penyempurnaan atas rencana kerja tadi paling lambat 4 (empat) hari sebelum dimulainya waktu pelaksanaan.
i. Penyedia Jasa tidak dibenarkan memulai sesuatu pelaksanaan atas pekerjaan sebelum adanya persetujuan dari Direksi/Pengawas atas rencana kerja ini.
j. Kecuali dapat dibuktikan bahwa Direksi/Pengawas telah melalaikan kewajibannya untuk memeriksa rencana kerja Penyedia Jasa pada waktunya, maka kegagalan Penyedia Jasa untuk memulai pekerjaan sehubungan dengan belum adanya rencana kerja yang disetujui Direksi, sepenuhnya merupakan tanggung jawab dari Penyedia Jasa bersangkutan.
2. Tempat Kerja
a. Bilamana diperlukan tempat kerja dan tempat kerja tersebut di luar daerah pengawasan proyek, dimana harus membayar sewa/dikeluarkan biaya ganti rugi, maka Penyedia Jasa harus menyelesaikannya tanpa membebani PPK dengan pembiayaan tambahan.
b. Penyedia Jasa dilarang menimbun atau menempatkan bahan- bahan bangunan di tepi jalan umum kecuali ada pertimbangan khusus dan persetujuan dari Direksi/Pengawas
c. Apabila tidak terdapat tempat kosong yang sesuai untuk menimbun atau menyimpan bahan-bahan bangunan di sekitar lokasi proyek, maka bahan bangunan harus didatangkan Penyedia Jasa setiap hari dengan jumlah yang cukup untuk pekerjaan satu hari.
d. Di dalam pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa harus berkoordinasi dengan instansi yang terkait sehubungan dengan jaringan utilitas yang ada.
3. Pemeriksaan Desain
a. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa wajib memeriksa kekuatan kontruksi yang akan dilaksanakan dan harus mengkonsultasikan dengan Konsultan Perencana dan Direksi/Pengawas. Segala sesuatu kerusakan yang timbul akibat kelalaian Penyedia Jasa tidak melaksanakan pemeriksaan kekuatan menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa. Pada Keadaan apapun, dimana pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan telah mendapat persetujuan Direksi/Pengawas tidak berarti membebaskan Penyedia Jasa atas tanggung jawab pada pekerjaan sesuai dengan isi kontrak.
b. Untuk kondisi-kondisi khusus yang ditemukan di lapangan di mana pada daerah-daerah tertentu diperlukan desain tambahan, Penyedia Jasa harus membuat desain tambahan tersebut dan mendapat persetujuan dari Direksi/Pengawas.
c. Desain tambahan harus berdasar pada keterangan umum yang terdapat pada gambar perencanaan dan spesifikasi teknis.
d. Timbulnya penambahan ataupun pengurangan volume pekerjaan akibat desain tambahan akan di akomodasi dalam addendum perubahan volume pekerjaan.
e. Direksi/Pengawas harus memeriksa dan memutuskan untuk menerima atau tidak desain tambahan tersebut dalam waktu maksimal 2 (Dua) minggu setelah diterimanya gambar desain tambahan. Jika dalam waktu maksimal 2 (Dua) minggu Direksi Teknis/Supervisi Lapangan tidak memberikan keputusan maka dianggap menerima desain tambahan tersebut.
4. Gambar Kerja (Shop Drawings).
a. Untuk bagian-bagian pekerjaan di mana gambar rencana (Construction Drawings) belum cukup memberikan petunjuk mengenai cara untuk mencapai keadaan terlaksana, Penyedia Jasa wajib untuk mempersiapkan gambar kerja yang secara terperinci akan memperlihatkan cara pelaksanaan tersebut.
b. Format dari gambar kerja harus sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Direksi/Pengawas.
c. Gambar kerja harus diajukan kepada
Direksi/Pengawas untuk mendapatkan persetujuan, gambar-gambar tersebut harus diserahkan dalam rangkap 3 (tiga).
d. Pengajuan gambar kerja tersebut paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum pemesanan bahan atau pelaksanaan pekerjaan dimulai.
5. Ijin Pelaksanaan.
a. Penyedia Jasa harus mengajukan ijin pelaksanaan secara tertulis dengan dilampiri gambar kerja yang sudah disetujui kepada Direksi/Pengawas paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum pelaksanaan bagian pekerjaan dimulai. Ijin pelaksanaan yang disetujui adalah sebagai pegangan Penyedia Jasa untuk melaksanakan bagian dari suatu pekerjaan. Suatu konsekuensi yang akan ditentukan lebih lanjut akan diberikan, jika Penyedia Jasa melaksanakan pekerjaan tanpa ijin tertulis yang disetujui oleh Direksi/Pengawas.
b. Direksi/Pengawas harus memberikan tanggapan atas pengajuan ijin pelaksanaan tersebut dan jika dalam waktu paling lambat 5 (lima) hari sebelum pelaksanaan tidak memberikan tanggapan dianggap telah menyetujui ijin pelaksanaan tersebut.
6. Rencana Mingguan dan Bulanan.
a. Selambat-lambatnya pada setiap hari Sabtu dalam masa dimana pelaksanaan pekerjaan berlangsung, Penyedia Jasa wajib untuk menyerahkan kepada Direksi/Pengawas suatu rencana mingguan yang berisi rencana pelaksanaan dari berbagai bagian pekerjaan yang akan dilaksanakan dalam minggu berikutnya.
b. Selambat-lambatnya pada minggu terakhir dari setiap bulan, Penyedia Jasa wajib menyerahkan kepada Direksi/Pengawas rencana bulanan yang menggambarkan secara garis besar berbagai rencana pelaksanaan dari berbagai bagian pekerjaan yang direncanakan untuk dilaksanakan dalam bulan berikutnya.
c. Kelalaian Penyedia Jasa untuk menyusun dan menyerahkan rencana mingguan maupun bulanan dinilai sama dengan kelalaian dalam melaksanakan perintah Direksi/Pengawas dalam pelaksanaan pekerjaan. suatu konsekuensi yang akan ditentukan lebih lanjut akan diberikan atas kelalaian tersebut.
7. Kwalitas Pekerjaan.
Pekerjaan harus dikerjakan dengan kwalitas pengerjaan yang terbaik untuk jenis pekerjaan bersangkutan.
8. Pengujian Hasil Pekerjaan.
a. Kecuali dipersyaratkan lain secara khusus, maka semua pekerjaan akan diuji dengan cara dan tolok ukur pengujian yang dipersyaratkan dalam referensi yang ditetapkan dalam Pasal II dari Persyaratan Teknis Umum ini.
b. Kecuali dipersyaratkan lain secara khusus, maka Badan/Lembaga yang akan melakukan pengajuan dipilih atas persetujuan Direksi/Pengawas dari Lembaga/Badan Penguji milik Pemerintah atau yang diakui Pemerintah atau Badan lain yang oleh Direksi/Pengawas dianggap memiliki obyektivitas dan integritas yang menyakinkan. Atas hal yang terakhir ini Penyedia Jasa tidak berhak mengajukan sanggahan.
c. Semua biaya pengujian dalam jumlah seperti yang dipersyaratkan menjadi beban Penyedia Jasa.
d. Dalam hal dimana Penyedia Jasa tidak dapat menyetujui hasil pengujian dari Badan Penguji yang ditunjuk oleh Direksi/Pengawas, Penyedia Jasa berhak mengadakan pengujian tambahan pada Lembaga/Badan lain yang memenuhi persyaratan sebagai Badan Penguji seperti tersebut diatas dan seluruh pembiayaannya ditanggung sendiri oleh Penyedia Jasa.
e. Apabila ternyata bahwa kedua hasil pengujian dari kedua Badan tersebut memberikan kesimpulan yang berbeda, maka dapat dipilih untuk:
a) Memilih Badan/Lembaga Penguji ketiga atas kesepakatan bersama.
b) Melakukan pengujian ulang pada Badan/Lembaga Penguji pertama atau kedua dengan ketentuan tambahan sebagai berikut:
Pelaksanaan pengujian ulang harus disaksikan oleh Direksi/Pengawas dan Penyedia Jasa maupun wakil-wakilnya.
Pada pengujian ulang harus dikonfirmasikan penerapan dari alat- alat penguji.
c) Hasil dari pengujian ulang harus dianggap final.
d) Semua akibat langsung maupun tidak langsung dari adanya semua pengulangan pengujian menjadi tanggungan Penyedia Jasa.
e) Apabila hasil pengujian ulang menunjukkan ketidak tepatan kesimpulan dari hasil pengujian yang pertama dan membenarkan kesimpulan dari hasil pengujian yang kedua, maka:
2 (dua) dari 3 (tiga) penguji yang bersangkutan, atas pilihan Penyedia Jasa akan diperlakukan sebagai pekerjaan tambah.
Atas segala penundaan pekerjaan akibat adanya penambahan/pengulangan pengujian akan diberikan tambahan waktu pelaksanaan pada bagian pekerjaan bersangkutan dan bagian- bagian lain yang terkena akibatnya, selama waktu penundaan yang terjadi.
9. Penutupan Hasil Pelaksanaan Pekerjaan.
a. Sebelum menutup suatu bagian pekerjaan dengan bagian pekerjaan yang lain yang mana akan secara visual menghalangi Direksi/Pengawas untuk memeriksa bagian pekerjaan yang terdahulu, Penyedia Jasa wajib melaporkan secara tertulis kepada Direksi/Pengawas mengenai rencananya untuk melaksanakan bagian pekerjaan yang akan menutupi bagian pekerjaan tersebut, sedemikian rupa sehingga Direksi/Pengawas berkesempatan secara wajar melakukan pemeriksaan pada bagian yang bersangkutan untuk dapat disetujui kelanjutan pengerjaannya.
b. Kelalaian Penyedia Jasa untuk menyampaikan laporan diatas, memberikan hak kepada Direksi/Pengawas untuk dibelakang hari
menuntut pembongkaran kembali bagian pekerjaan yang menutupi tersebut, guna memeriksa hasil pekerjaan yang terdahulu yang mana akibatnya sepenuhnya akan ditanggung oleh Penyedia Jasa.
c. Dalam hal dimana laporan telah disampaikan dan Direksi tidak mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan pemeriksaan yang dimaksudkan, maka setelah lewat dari 2 (dua) hari kerja sejak laporan disampaikan, Penyedia Jasa berhak melanjutkan pelaksanaan pekerjaan dan menganggap bahwa Direksi telah menyetujui bagian pekerjaan yang ditutup tersebut.
d. Pemeriksaan dan persetujuan oleh Direksi/Pengawas atas suatu pekerjaan tidak melepaskan Penyedia Jasa dari kewajibannya untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan Surat Perjanjian Kerja (SPK).
e. Walapun telah diperiksa dan disetujui kepada Penyedia Jasa masih dapat diperintahkan untuk membongkar bagian pekerjaan yang menutupi bagian pekerjaan lain guna pemeriksaan bagian pekerjaan yang tertutupi.
10. Perlindungan Terhadap Bangunan/Sarana Yang Ada
a. Segala kerusakan yang timbul pada bangunan/konstruksi dan peralatan sekitar lokasi pekerjaan menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa untuk memperbaikinya, bila kerusakan tersebut jelas akibat pelaksanaan pekerjaan.
b. Penyedia Jasa diwajibkan mengidentifikasikan keadaan bangunan ataupun prasarana lain di sekitar lokasi sebelum memulai pekerjaan.
11. Kebersihan Lokasi Pekerjaan
a. Penyedia Jasa bertanggung jawab untuk menjaga agar area kerja senantiasa berada dalam keadaan rapih dan bersih.
b. Penyedia Jasa harus berusaha menanggulangi kotoran-kotoran debu yang ditimbulkan akibat pelaksanaan pekerjaan.
c. Setelah pekerjaan selesai dilaksanakan, sisa bahan yang tidak digunakan, bahan-bahan bekas bongkaran dan kotoran-kotoran lain harus dibersihkan dan dikeluarkan dari lokasi tersebut selambat- Iambatnya 7x24 jam. Konsekuensi atas tidak dilaksanakannya ketentuan ini akan ditentukan lebih lanjut.
V.
PENYELESAIAN DAN PENYERAHAN 1. Dokumen Terlaksana (As Built Documents).a. Pada penyelesaian dari setiap pekerjaan Penyedia Jasa wajib menyusun Dokumen Terlaksana yang terdiri dari:
a) Gambar-gambar terlaksana ( as built drawing)
b) Persyaratan teknis terlaksana dari pekerjaan, sebagaimana yang telah dilaksanakan
b. Dikecualikan dari kewajiban diatas adalah untuk pekerjaan:
a) Pekerjaan Persiapan
b) Supply bahan, perlengkapan/peralatan kerja c. Dokumen terlaksana bisa disusun dari:
a) Dokumen pelaksanaan b) Gambar-gambar perubahan c) Perubahan persyaratan teknis
d) Brosur teknis yang diberi tanda pengenal khusus berupa cap sesuai petunjuk Direksi/Pengawas
d. Dokumen terlaksana ini harus diperiksa dan disetujui oleh Direksi/Pengawas.
e. Kecuali dengan ijin khusus dari Direksi/Pengawas dan PPK, Penyedia Jasa harus membuat dokumen terlaksana hanya untuk diserahkan kepada PPK. Kontraktor tidak dibenarkan membuat/menyimpan salinan ataupun copy dari dokumen terlaksana tanpa ijin khusus tersebut.
2. Penyerahan.
Pada waktu penyerahan pekerjaan, Penyedia Jasa wajib menyerahkan kepada PPK:
a. 2 (dua) set dokumen terlaksana.
b. Dokumen-dokumen resmi (seperti surat ijin, tanda pembayaran cukai, surat fiskal pajak, dan lain-lain).
3. Masa Pemeliharaan
Pada masa pemeliharaan, Penyedia Jasa harus membuat laporan secara periodik setiap bulan tentang kondisi hasil pekerjaan selama masa pemeliharaan dan diketahui oleh Direksi/Pengawas. Segala kerusakan yang terjadi selama masa pemeliharaan menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa untuk memperbaikinya hingga masa pemeliharaan berakhir dan pekerjaan diserahkan kepada PPK dalam kondisi dan berfungsi baik.
VI.
PELAPORAN PELAKSANAAN PEKERJA 1. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan.Dalam waktu 7 (tujuh) hari sejak ditanda-tanganinya Surat Perintah Kerja (SPK) oleh kedua belah pihak, Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada Direksi/Pengawas Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan sesuai dengan waktu yang disepakati dalam kontrak untuk dievaluasi dan disetujui. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan harus disusun secara logis dan realistis yang akan memberikan jaminan bahwa pelaksanaan pekerjaan akan selesai tepat waktu.
Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan harus dilengkapi dengan bobot pekerjaan yang nantinya dijadikan dasar untuk mengevaluasi kemajuan pelaksanaan pekerjaan.
2. Buku Harian Lapangan
Penyedia Jasa harus menyediakan buku harian di lapangan selama waktu pelaksanaan pekerjaan. Buku harian lapangan digunakan untuk mencatat berbagai informasi dan instruksi baik dari Direksi/Pengawas, Penyedia Jasa, dan pihak-pihak lain yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan mengenai berbagai peristiwa yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Buku harian lapangan harus diserahkan kepada Pemberi Tugas setelah berakhinya pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
3. Buku Tamu.
Penyedia Jasa harus menyediakan buku tamu di lapangan untuk mencatat setiap orang yang berkunjung ke lokasi pekerjaan meliputi waktu kedatangan dan pergi serta keperluan dating ke lokasi pekerjaan.
Buku tamu harus diserahkan kepada Pemberi Tugas setelah berakhinya pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
4. Laporan Harian
Untuk kepentingan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa harus mencatat seluruh aktivitas kegiatan pekerjaan di lokasi pekerjaan di dalam laporan harian pekerjaan yang berisi rencana dan realisasi pekerjaan harian. Laporan harian berisi:
a. Waktu mulai dan selesainya pekerjaan
b. Jenis dan kuantitas bahan yang berada di lokasi pekerjaan;
c. Penempatan tenaga kerja untuk tiap macam tugasnya;
d. Jenis, jumlah dan kondisi peralatan;
e. Jenis dan kuantitas pekerjaan yang dilaksanakan;
f. Keadaan cuaca termasuk hujan, banjir dan peristiwa alam lainnya yang berpengaruh terhadap kelancaran pekerjaan; dan
g. Catatan-catatan lain yang berkenaan dengan pelaksanaan.
Laporan harian harus diserahkan kepada Direksi/Pengawas setiap hari untuk diperiksa dan disetujui. Laporan harian diserahkan secara berkala satu minggu sekali kepada Pemberi Tugas sebagai laporan pelaksanaan pekerjaan.
5. Laporan Mingguan.
Penyedia Jasa harus membuat laporan mingguan yang berisi rangkuman laporan harian, berisi hasil kemajuan fisik pekerjaan dalam periode satu minggu, masalah-masalah yang timbul dilapangan serta pemecahannya, hal-hal penting yang perlu ditonjolkan dan rencana kerja minggu berikutnya. Laporan mingguan minggu lalu harus diserahkan kepada Direksi/Pengawas pada hari pertama minggu ini untuk dievaluasi dan disetujui. Laporan mingguan diserahkan secara berkala satu minggu sekali kepada Pemberi Tugas sebagai laporan pelaksanaan pekerjaan.
6. Laporan Bulanan
Penyedia Jasa harus membuat laporan bulanan yang merupakan rangkuman laporan mingguan dan berisi hasil kemajuan fisik pekerjaan dalam periode satu bulan, serta berbagai Kendala dan permasalahan yang terjadi berikut penyelesaiannya. Laporan bulanan bulan lalu harus diserahkan kepada Direksi/Pengawas pada hari pertama bulan ini untuk dievaluasi dan disetujui. Laporan bulanan diserahkan secara berkala satu bulan sekali kepada Pemberi Tugas sebagai laporan pelaksanaan pekerjaan.
7. Dokumentasi
Sejak akan mulai melaksanakan pekerjaan, selama masa pelaksanaan pekerjaan dan pada akibat pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa diwajibkan membuat dokumentasi kegiatan pelaksanaan pekerjaan yang diwujudkan dalam bentuk Foto dokumentasi. Foto dokumentasi kegiatan pelaksanaan pekerjaan tersebut, harus bisa memberikan gambaran secara lengkap dan menyeluruh mengenai kegiatan pelaksanaan pekerjaan sejak dari awal sampai akhir pelaksanaan pekerjaan, sehingga secara kronologi bisa merupakan satu gambaran tujuan yang akan dicapai oleh kegiatan tersebut.
Foto dokumentasi dilaksanakan pengambilannya dari tiga titik tetap yang berbeda atau sesuai dengan pengarahaan Direksi/Pengawas, dan sudah harus bisa memberikan gambaran secara garis besar kegiatan pelaksanaan seluruh pekerjaan.
Foto dokumentasi tersebut, pelaksanaan pengambilannya dilakukan pada kondisi tahap kegiatan pelaksanaan pekerjaan:
a. Saat awal sebelum mulai kegiatan pelaksanaan pekerjaan 0 % b. Saat kegiatan pelaksanaan pekerjaan mencapai prestasi 25 % c. Saat kegiatan pelaksanaan pekerjaan mencapai prestasi 50 % d. Saat kegiatan pelaksanaan pekerjaan mencapai prestasi 75 % e. Saat selesai pelaksanaan pekerjaan atau prestasi 100 %
Di samping dokumentasi utama tersebut, atas permintaan Direksi/Pengawas, Penyedia Jasa bisa melaksanakan pengambilan Foto dokumentasi kegiatan pelaksanaan pekerjaan lainnya yang dianggap berguna dan cukup mempunyai nilai penting untuk didokumentasikan. Pada saat penyerahan Foto dokumentasi, Penyedia Jasa juga harus menyerahkan negatif film/soft copy Semua biaya yang timbul akibat pembuatan Foto dokumentasi tersebut sepenuhnya menjadi beban dan tanggung jawab Penyedia Jasa, serta sudah harus diperhitungkan termasuk “Overhead” pada analisa harga satuan pekerjaan.
VII.
KEAMANAN / PENJAGAAN1. Penyedia Jasa bertanggung jawab atas keamanan, bukan saja terhadap pekerjaannya, tetapi juga atas bangunan-bangunan, jalan-jalan, pagar, pohon-pohon dan taman-taman yang telah ada.
2. Jika diperlukan Penyedia Jasa diwajibkan menyediakan tenaga, peralatan atau tanda-tanda khusus untuk menjaga keamanan tersebut.
3. Penyedia Jasa berkewajiban menyelamatkan bangunan yang telah ada, apabila bangunan yang telah ada terjadi kerusakan akibat pekerjaan ini, maka Penyedia Jasa berkewajiban untuk memperbaiki/membetulkan sebagaimana mestinya.
4. Penyedia Jasa harus menyediakan penerangan yang cukup di lapangan pada waktu lembur.
5. Segala operasi yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan ketentuan kontrak harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap ketentraman penduduk atau jalan-jalan yang harus digunakan untuk jalan perorangan atau umum. Penyedia Jasa harus membebaskan PPK dari segala tuntutan ganti rugi sehubungan dengan hal tersebut diatas.
VIII.
KESELAMATAN KERJA1. Penyedia Jasa harus mematuhi syarat-syarat dan undang-undang yang berlaku di dalam negara Republik Indonesia selama masa berlakunya kontrak, yang menyangkut syarat-syarat keselamatan kerja, kesehatan dan kesejahteraan dari karyawan Penyedia Jasa dan Direksi/Pengawas.
2. Penyedia jasa wajib menyediakan peralatan K3 standar untuk personil pelaksanaan pekerjaan berupa sepatu boot, helm kerja dan kacamata.
Penyedia jasa juga berkewajiban menyediakan peralatan K3 tersebut untuk tamu pada waktu peninjauan lapangan.
3. Penyedia Jasa harus memastikan bahawa semua orang yang melaksanakan, mengunjungi atau memeriksa sesuatu bagian dari pekerjaan memakai peralatan K3 yang diperlukan sesuai dengan syarat- syarat keselamatan kerja .
4. Penyedia Jasa harus mematuhi semua petunjuk-petunjuk dan rekomendasi-rekomendasi pabrik untuk penggunaan, aplikasi atau pemanfaatan dari sesuatu material atau bagian dari peralatan atau mesin-mesin.
5. Penyedia Jasa harus menyediakan, melengkapi, dan menjaga suatu Pusat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (First Aid Treatment Centre) di lokasi pekerjaan, dan menyediakan seorang ahli pertolongan pertama yang siap sedia setiap saat selama pekerjaan berlangsung.
Tenaga ahli pertolongan pertama ini harus telah mengikuti pelatihan formal pertolongan pertama. Layanan Medis ini harus tersedia bagi semua orang yang terkait dengan pekerjaan.
IX.
GANGGUAN KONSTRUKSI1. Istilah "Gangguan Konstruksi" (Construction Interference) hendaknya diartikan sebagai gangguan terhadap:
a. segala utilitas atau bangunan yang berada dalam batas-batas galian maupun penggalian yang berlebihan dari yang diperlukan untuk pekerjaan dalam kontrak sebagaimana yang ditunjukkan atau diperintahkan oleh Direksi/Pengawas.
b. bangunan atau utilitas yang berlokasi pada tempat yang diperlukan untuk pelaksanaan semua pekerjaan dalam kontrak.
2. Dalam hal utilitas atau bangunan tersebut harus dibongkar atau dipindahkan untuk pelaksanaan pekerjaan, maka pembongkaran atau pemindahan itu harus dilakukan dengan izin dari Direksi/Pengawas dan selanjutnya diberitahukan kepada pemilik bahwa utilitas atau bangunan yang dimiliki akan dibongkar.
3. Pekerjaan penggalian harus dilakukan secara cermat dan hati-hati agar bangunan/struktur yang ada di permukaan dan/atau di dalam tanah tidak rusak, terutama terhadap bangunan/struktur yang ada di dalam tanah (yang harus diselamatkan) yang tidak diketahui lokasi dan posisinya dengan tepat. Penyedia Jasa harus bertanggung jawab untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi akibat kelalaiannya atas beban biaya sendiri.
4. Utilitas atau bangunan eksisting yang dibongkar dan akan ditempatkan/dibangun kembali, hasil pembongkarannya harus disimpan dan dijaga agar kondisinya tetap baik.
5. Semua bangunan dan utilitas tersebut di atas harus diperbaiki (dibangun kembali) secepat mungkin seperti keadaan semula setelah pekerjaan selesai dilaksanakan atau dipindahkan ke lokasi lain dalam keadaan yang sekurang- kurangnya sama dengan keadaan semula, untuk bangunan atau utilitas yang berada di dalam tanah penimbunan baru boleh dilaksanakan setelah pemilik memeriksa dan memastikan bahwa kondisi bangunan atau utilitas tersebut telah sesuai dengan kondisi semula.
6. Bila sebuah bangunan didirikan secara tidak sah/resmi, dan hal ini dinyatakan oleh pihak pejabat yang terkait, maka kemungkinan rekonstruksi tidak perlu dilaksanakan setelah mendapat izin Direksi/Pengawas.
7. Selama pelaksanaan pekerjaan dalam kontrak ini, pemilik bangunan yang
terpengaruh oleh pelaksanaan pekerjaan ini memiliki hak untuk masuk ke lapangan pekerjaan demi kepentingan pemilik untuk melaksanakan perubahan atau perbaikan terhadap utilitas atau bangunan tersebut.
Pejabat Pembuat Komitmen Satker ………
...
NIP…...
BAB X.1 PERSYARATAN UMUM
A. KUALITAS MATERIAL
1. P
enyedia Jasa menjamin bahwa semua material yang diserahkan oleh Penyedia Jasa berdasarkan Kontrak, harus bai k dan baru serta memenuhi spesifikasi teknis, kecuali bila disyaratkan lain atau ditentukan lain oleh Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas. Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas dapat meminta pada Penyedia Jasa agar menyerahkan sertifikat pabrik mengenai material tersebut.
2. Selanjutnya Penyedia Jasa menjamin bahwa material yang diserahkan berdasarkan Kontrak tidak mengandung cacat yang timbul karena bahan dan pengerjaan (kecuali jika disain dan bahannya diharuskan sesuai dengan yang ditetapkan oleh Direksi / Pengguna Jasa dalam Spesifikasi Teknis) atau oleh karena kelalaian Penyedia Jasa.
3. D
ireksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas akan memberitahukan secara tertulis kepada Penyedia Jasa apabila ada tuntutan yang timbul berdasarkan jaminan material ini, segera setelah menerima pemberitahuan tersebut, Penyedia Jasa harus memperbaiki atau mengganti material atau bagian material yang cacat dengan biaya yang sepenuhnya ditanggung Penyedia Jasa.
4. Jika setelah menerima pemberitahuan tersebut diatas, Penyedia Jasa lalai memperbaiki atau mengganti material atau bagian material yang cacat dalam waktu yang wajar, maka Direksi / Pengguna Jasa dapat mengambil tindakan perbaikan yang perlu, dengan biaya yang sepenuhnya ditanggung Penyedia Jasa tanpa mengurangi hak-hak Direksi / Pengguna Jasa terhadap Penyedia Jasa berdasarkan kontrak.
B. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN
1. D
ireksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas berwenang untuk meminta keterangan mengenai asal barang/material yang bersangkutan.
2. S
ebelum barang / material / pipa dikirim ke lapangan terlebih dahulu diadakan pemeriksaan pabrik oleh Direksi / Pengguna jasa, untuk memeriksa barang di pabrik dan mengadakan test kualitas pipa di pabrik. Hasil test di pabrik dituangkan dalam Berita Acara Test di Pabrik dan diberikan Sertifikat Test Pabrik. Jika pipa memenuhi spek teknik yang telah ditetapkan maka pipa bisa dikirim ke lapangan.
3. D
ireksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas berhak dan mempunyai keleluasaan memasuki seluruh tempat pekerjaan, termasuk bengkel yang membuat perakitan material. Penyedia Jasa bawahan dan Penyedia Jasa harus menyediakan bahan, informasi dan bantuan yang diperlukan dalam pemeriksaan dan pengujian, sehingga Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas dapat melakukan pemeriksaan terinci dan lengkap dengan semestinya.
4. D ireksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas berhak memeriksa dan atau
menguji barang/meterial yang akan diserahkan, apakah sesuai dengan ketentuan dalam kontrak.
5. S
ebelum melakukan pemeriksaan material, Penyedia Jasa harus memberitahukannya kepada Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas, agar Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas dapat menyaksikan pemeriksaan atau pengujian barang/ material.
6. M
etoda pemasangan perpipaan sesuai SOP (Standart Operasional Pemasangan).
7. P
engajuan spesifikasi material dan alat harus sesuai dengan pengajuan penawaran kontraktor (Sesuai spek yang di ajukan).
8. P
emeriksaan dan pengujian dapat dilakukan di tempat Penyedia Jasa/sesuai kebutuhan, di tempat penyerahan/lapangan atau di tempat tujuan akhir barang/material. Penyedia Jasa harus menyiapkan segala fasilitas untuk pemeriksaan tersebut di atas, dan segala biaya yang berkaitan dengan pemeriksaan barang/material ditanggung sepenuhnya oleh Penyedia Jasa.
9. S
etelah barang / material / pipa sampai di lapangan, diambil sampling pipa secara acak untuk dilakukan test kualitas pipa pada laboratorium independent yang telah mempunyai sertifikasi untuk melakukan test kualitas pipa. Hasil test kualitas pipa dituangkan dalam sertifikat kualitas pipa.
10. A
pabila hasil pemeriksaan barang/material tidak sesuai dengan Spesifikasi Teknis yang ditetapkan, Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas dapat menolak barang/material tesebut dan Penyedia Jasa harus mengganti barang.material yang tidak sesuai tersebut, atau mengadakan perbaikan yang diperlukan agar memenuhi persyaratan Spesifikasi Teknis, dengan biaya sepenuhnya ditanggung Penyedia Jasa. Apabila ada barang/material yang ditolak oleh Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas, Penyedia Jasa diwajibkan segera memindahkan barang/material itu keluar tempat pekerjaan atas perintah pertama Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas.
11. A
pabila terdapat perselisihan paham mengenai hasil pemeriksaan barang/material, atau Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas meragukan kualitasnya, maka Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas berhak mengirimkan contoh barang/material tersebut kepada Laboratorium Penelitian Bahan yang dibenarkan. Biaya pemeriksaan ini sepenuhnya menjadi tanggungan Penyedia Jasa.
12. P
erubahan dari spesifikasi harus ada justifikasi dan keterangan penguat untuk perubahan dari spesifikasi teknis material yang diajukan, dan mendapat persetujaan dari supervisi dan Tenaga Ahli.
C. PENGEPAKAN DAN PEMBUNGKUSAN PIPA, POMPA DAN ASESORISNYA
1. P
enyedia Jasa harus mengepak atau membungkus material untuk mencegah
kerusakan sewaktu pengangkutan sampai tempat tujuan akhir sesuai dengan standar pabrik dan/atau petunjuk Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas.
2. B
ila tidak disebutkan lain, seluruh material harus diberi lapisan pelindung yang standard dengan pabrik. Permukaan yang membutuhkan pengecatan atau pelapisan untuk mencegah korosi harus halus dan bebas dari kotoran.
3. G
aransi Pompa yang diajukan harus mempunya keterangan garansi pabrikan Pompa.
4. M
etoda pemasangan pompa sesuai SOP (Standart Oprasional Pemasangan Pompa)
D. PENGANGKUTAN, PEMBONGKARAN DAN PENIMBUNAN
1. S
ikap hati-hati harus diberikan selama pemuatan, transportasi dan pembongkaran. Setiap kerusakan lapisan pipa harus diperbaiki sesuai dengan perintah Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas.
Penanganan material harus mengikuti instruksi yang diberikan oleh pabrik.
2. M
aterial harus dikirim, dibongkar dan ditimbun oleh Penyedia Jasa di lokasi gudang yang ditunjuk oleh Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas.
Material ditempatkan pada penyangga yang cukup untuk memungkinkan isolasi dari tanah. Selain itu penimbunan material harus dapat mencegah kerusakan selama penyimpanan yang lama pada kondisi tropis.
3. S
egala hal terkait dengan pengangkutan, pembongkaran, dan penimbunan material harus memperhatikan keamanannya dan menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa.
4. H
al-hal tersebut diatas harus mendapat perijinan terlebih dahulu dari Direks/Konsultan Pengawas
5. P
engangkutan, pembongkaran dan penimbunan pipa HDPE.
Instruksi umum penyimpanan:
- Jangan dilempar atau dibanting dari ketinggian.
- Jangan diseret.
- Lokasi penyimpanan juga harus bebas atau berada jauh dari sumber panas serta hindari kontak dengan lem, oli dan sebagainya.
- Penyimpanan pipa Batangan.
Pipa harus disangga per 1 meter dengan landasan kayu, pipa disusun dalam tumpukan berbentuk piramid sampai ketinggian 1 meter serta penyangga samping pipa tidak boleh sampai tergelincir jatuh. Pipa harus disimpan dan disusun pada level kerataan tanah yang bagus serta tutup bagian ujung pipa untuk menghindari kotoran dan benda tajam masuk dan merusak permukaan dalam pipa.
- P
enyimpanan pipa gulungan
Pipa dengan diameter kecil harus di-pallet-kan di atas tanah dengan level kerataan yang bagus. Pipa dengan diameter kecil dapat ditumpuk dengan ketinggian maksimum 2.5 meter dan diberikan pembatas kayu pada tiap
gulungan untuk mempermudah forklift dalam melakukan penanganan. Pipa dengan diameter gulungan besar (> 180 mm) sangat rawan terjadi kecelakaan maka dari itu prosedur penyimpanan dan penanganan harus dilakukan dengan benar.
Piipa HDPE
6. P
engangkutan, pembongkaran dan penimbunan pipa Galvanis.
Instruksi umum penyimpanan:
- Jaga tempat penyimpanan agar pipa terhindar dari karat dan kerusakan lainnya yang membuat pipa menjadi tidak tahan lama.
- Selalu jaga pipa dari air yang dapat membuat karat jika dibiarkan terus menerus.
- Pipa dan aksesoris yang sudah dikirim ke lapangan disimpan dulu di gudang sebelum dipasang, untuk menjaga keamanan.
- Pipa dikirim ke lapangan untuk dipasang sesuai dengan kebutuhan.
- Pencatatan pipa dan accessories yang masuk dan keluar harus diadministrasikan dengan baik, sehingga pada akhir pekerjaan bisa diketahui dengan pasti pipa yang sudah dipasang dan belum dipasang.
Foto Pipa Galvanis
E. MATERIAL YANG RUSAK/CACAT
1. B
arang/material yang rusak/cacat sebagai akibat apapun harus segera diganti atau diperbaiki, sehingga dapat disetujui oleh Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas.
2. B
ila Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas belum mengesahkan bahwa barang/material sudah diganti atau diperbaiki oleh Penyedia Jasa,
pembayaran tidak akan dilakukan oleh Direksi / Pengguna Jasa, dan bila dalam jangka waktu tertentu, perbaikan/penggantian barang/material yang rusak belum dilakukan, Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas berhak memerintahkan Pihak Ketiga untuk memperbaiki atau mengganti barang/material yang cacat/rusak atas biaya Penyedia Jasa.
3. A
danya pemeriksaan oleh Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas terhadap barang/material dan perlengkapan yang disediakan oleh Penyedia Jasa di lapangan tidak akan melepaskan tanggung jawab Penyedia Jasa.
Walaupun semua barang/material yang diperlukan seperti tercantum dalam Surat Perjanjian Kontrak sudah diperiksa, diterima dan dinilai untuk dibayar, Penyedia Jasa harus mengganti atau memperbaiki barang/material yang ternyata rusak atau tidak memenuhi persyaratan sampai pada saat penyerahan kedua.
4. S
emua penggantian dan perbaikan tersebut diatas harus mendapat persetujuan Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas dan biayanya ditanggung oleh Penyedia Jasa.
F. RESIKO DAN KEAMANAN BARANG DAN PEKERJAAN
1. S
egala resiko kebakaran, kerusakan dan pencurian di lapangan atas segala material, alat, perlengkapan dan benda-benda lain menjadi tanggungan Penyedia Jasa sepenuhnya. Penyedia Jasa harus mempertanggungkan dalam bentuk asuransi atas segala resiko ini.
2. Y
ang dimaksud dengan pasal ini adalah pipa, perlengkapannya, dan pekerjaannya yang belum diserahkan kepada Direksi / Pengguna Jasa dengan Berita Acara. Asuransi disini tidak hanya asuransi untuk kerusakan saja, tetapi termasuk asuransi untuk resiko lainnya, seperti asuransi kehilangan, asuransi terhadap pekerjaan yang dilaksanakan termasuk segala resiko yang terjadi di dalamnya, dan lain sebagainya.
3. P
enyedia Jasa harus menempatkan penjaga keamanan (Satpam) di lapangan, selama pekerjaan berlangsung.
4. P
enyedia Jasa harus melindungi semua material terhadap kehilangan dan kerusakan yang disebabkan oleh kejahatan orang yang tak bertanggung jawab, sampai pada saat penyerahan pekerjaan. Hal tersebut di atas menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa sepenuhnya.
G. PENGALIHAN.
1. P
enyedia Jasa dilarang dan tidak dibenarkan untuk memindahtangankan atau menyerahkan kepada Pihak Ketiga sebagian atau seluruh kepentingan, hak dan kewajibannya dalam Kontrak tanpa izin tertulis dari Direksi / Pengguna Jasa.
2. B
ila Penyedia Jasa malanggar pasal 7 butir 1. tersebut di atas, Direksi / Pengguna Jasa berhak memutuskan Kontrak, sesuai peraturan yang berlaku
dan segala akibat pemutusan Kontrak menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa.
H. PENYEDIA JASA BAWAHAN/SUB KONTRAK.
1. B
erkenaan dengan sebagian atau seluruh pekerjaan yang tercantum dalam Kontrak, Penyedia Jasa dilarang mengadakan sub kontrak dengan pihak lain, tanpa terlebih dahulu mendapat persetujuan tertulis dari Direksi / Pengguna Jasa.
2. P
enyedia Jasa tetap bertanggung jawab sepenuhnya atas hasil pekerjaan Penyedia Jasa Bawahan/Sub Penyedia jasa (apabila ada).
3. A
turan sub kontrak mengikuti aturan yang berlaku.
I. PENUNDAAN PEKERJAAN.
Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas dapat memberitahukan secara tertulis kepada Penyedia Jasa mengenai penundaan sebagian atau seluruh pekerjaan yang dianggapnya perlu kerena keadaan yang tidak menguntungkan Direksi / Pengguna Jasa, atau kerena Penyedia Jasa tidak dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Kontrak.
Penundaan pekerjaan harus dilakukan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari setelah Penyedia Jasa menerima pemberitahuan Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas. Penyedia Jasa tidak dibenarkan mengajukan ganti rugi karena penundaan pekerjaan tersebut diatas.
J. KETERLAMBATAN PELAKSANAAN OLEH PENYEDIA JASA.
1. P
enyerahan material dan pelaksanaan jasa harus diselesaikan oleh Penyedia Jasa dalam jangka waktu yang telah ditetapkan dalam Kontrak.
2. A
pabila Penyedia Jasa terlambat dalam melaksanakan kewajiban penyerahan pekerjaan melebihi jangka waktu kontrak yang sudah ditetapkan, maka Penyedia Jasa dapat dikenakan salah satu dan/atau semua sanksi berikut:
dibebani denda sebagai ganti rugi, penyitaan jaminan pelaksanaan dan atau pemutusan kontrak karena kelalaian. Hal-hal yang terkait dengan keterlambatan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan kontrak.
3. A
pabila dalam jangka waktu pelaksanaan kontrak, Penyedia Jasa atau subpenyedia jasanya mengalami gangguan dalam menepati waktu penyerahan material dan pelaksanaan jasanya, Penyedia Jasa harus segera memberitahukan secara tertulis kepada Direksi / Pengguna Jasa tentang adanya kelambatan, penyebab dan lamanya keterlambatan.
K. PERUBAHAN PEKERJAAN/KONTRAK.
1. B
ila dipandang perlu, Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas dapat mengadakan perubahan, pekerjaan tambah atau kurang tanpa membatalkan
kontrak. Perintah perubahan tersebut diatas, akan disampaikan kepada Penyedia Jasa secara tertulis dengan uraian tentang perubahan pekerjaan tersebut, sekaligus dengan penyesuaian harga dan waktu penyelesaiannya.
Setiap pekerjaan yang dilaksanakan sesuai dengan perintah perubahan harus mengikuti semua ketentuan yang tertera dalam kontrak, Jaminan pelaksanaan Penyedia Jasa tetap mengikat dengan nilai seperti yang tercantum dalam kontrak dan perubahannya.
2. S
etiap perubahan harga harus didasarkan pada aturan yang berlaku pada kontrak
L. KERJA LEMBUR.
1. P
enyedia Jasa tidak akan menerima tambahan biaya untuk kerja lembur dan tambahan jumlah tenaga kerja, walaupun hal tersebut mungkin diperlukan dalam keadaan darurat sebagaimana diperintahkan dengan surat oleh Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas, kecuali bila ditentukan lain dalam Kontak.
2. B
iaya-biaya yang terjadi akibat adanya kerja lembur dan penambahan jumlah tenaga kerja menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa, seperti misalnya biaya pengawasan kerja lembur yang disebabkan oleh kerja lembur.
3. T
erkait dengan penyelesaian pekerjaan, Penyedia Jasa wajib melakukan kerja lembur dan menambah jumlah tenaga kerja.
M. KEADAAN KAHAR
1. K
eadaan kahar adalah keadaan sesuai dengan yang tercantum dalam kontrak.
2. A
pabila terjadi keadaan kahar, Penyedia Jasa harus segera memberitahukan secara tertulis kepada Direksi / Pengguna Jasa tentang keadaan tersebut paling lambat 14 (empat belas) hari kalender dan dilengkapi dengan bukti keadaan kahar sesuai yang berlaku dalam kontrak.
3. S
egala hal mengenai keadaan kahar telah diatur dalam kontrak.
N. ALAMAT RESMI PENYEDIA JASA DAN PEMBERITAHUAN
1. A
lamat resmi Penyedia Jasa adalah alamat yang dicantumkannya pada Dokumen Penawaran. Segala petunjuk, surat dan komunikasi lainnya untuk Penyedia Jasa akan ditujukan kepada alamat tesebut diatas dengan surat tercatat. Perubahan alamat Penyedia Jasa harus segera diberitahukan secara tertulis kepada Direksi / Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas.
2. P emberitahuan yang disampaikan oleh salah satu pihak kepada pihak lainnya
sehubungan dengan kontrak ini harus disampaikan secara tertulis atau dengan pengiriman faximile, telegram atau telex dan ditegaskan secara tertulis ke alamat yang ditetapkan untuk keperluan itu.
Pejabat Pembuat Komitmen Satker ………
...
NIP…...
BAB X.2 SPESIFIKASI TEKNIS UMUM
A. PENDAHULUAN
Spesifikasi teknis ini merupakan ketentuan yang harus dibaca bersama dengan gambar-gambar yang keduanya menguraikan pekerjaan yang harus dilaksanakan. Istilah pekerjaan mencakup suplai dan instalasi seluruh peralatan dan material yang harus dipadukan dalam pelaksanaan konstruksi serta semua tenaga kerja yang dibutuhkan untuk memasang dan menjalankan peralatan dan material tersebut. Spesifikasi pelaksanaan dan material yang disepakati harus diterapkan.
B. LOKASI PEKERJAAN
Lokasi pekerjaan sebagaimana ditunjukkan oleh Direksi Teknis/ Lapangan dan dapat dilihat pada gambar-gambar rencana terlampir.
C. MANAJEMEN LALU LINTAS
1. Umum
Kontraktor harus menjaga seluruh panjang dari lokasi kegiatan dalam kondisi sedemikian hingga lalu lintas dapat ditampung dengan aman dan karyawan Kontraktor, Direksi Pekerjaan, dan pengguna jalan dapat dilindungi
Sebelum memulai pekerjaan apapun, Kontraktor harus menyiapkan dan mengajukan kepada Direksi Pekerjaan, Rencana Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas (RMKL) untuk pengoperasiannya selama periode pelaksanaan. RMKL harus berdasarkan analisa aliran lalu lintas tingkat makro dan juga mikro dan tidak hanya terfokus di daerah konstruksi.
RMKL harus dimutakhirkan secara regular berdasarkan pengalaman dan kondisi tempat pekerjaan. RMKL harus memperhitungkan Prosedur Keselamatan. RMKL harus memperhitungkan dan menyediakan fasilitas khusus untuk pejalan kaki dan kendaraan tidak bermotor jika berada di sekitar daerah kerja.
Ruang lingkup dari manajemen lalu lintas mencakup aktivitas berikut namun tidak terbatas pada:
a) K
ontraktor harus menyediakan perlengkapan dan pelayanan lalu lintas untuk mengendalikan dan melindungi karyawan Kontraktor, Direksi Pekerjaan, dan pengguna jalan yang melalui daerah konstruksi, termasuk lokasi sumber bahan dan rute pengangkutan, sesuai dengan seksi ini dan memenuhi detil dan lokasi yang ditunjukkan dalam denah atau yang diterbitkan oleh Direksi Pekerjaan.
b) K
ontraktor harus menyediakan, memasang rambu lalu lintas yang diperlukan, barikade, rel pengaman lentur atau kaku, lampu, sinyal, marka jalan, road barrier beton atau dari plastic yang diisi air dan perlengkapan lalu lintas lainnya dan harus menyediakan bendera dan petunjuk lalu lintas dengan cara lain sepanjang ZONA kerja pada setiap saat selama Periode Pelaksanaan. Manajemen lalu lintas harus dilakukan sesuai dengan perundangan dan peraturan yang berlaku.
c) S emua pengaturan lalu lintas yang disediakan dan dipasang oleh Kontraktor
harus dikaji oleh Direksi Pekerjaan agar sesuai dengan ukuran, lokasi, reflektifitas (daya pantul), visibilitas (daya penglihatan), kecocokan, dan penggunaan yang sebagaimana mestinya sesuai dengan kondisi kerja yang khusus.
d) P
ada lokasi dimana secara umum kondisi jalan padat sepanjang hari, kontraktor hanya akan diijinkan untuk menggali parit dan memasang pipa selama malam hari dari jam 20:00 PM sampai 04:00 PM pada hari berikutnya. Operasi atau kegiatan komersial normal pada area tersebut tidak terganggu.
2. Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan
a) P
enutupan Jalan yang Diperbolehkan.
Daerah konstruksi dibagi dalam daerah kerja dimana daerah kerja ini dibagi lagi dalam zona kerja. Pekerjaan diperbolehkan dilaksanakan secara simultan dengan daerah kerja dan zona kerja dalam jumlah tertentu.
b) I
mplementasi Pekerjaan Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas.
Jika pada setiap saat, Direksi Pekerjaan menetapkan bahwa ketentuan yang sebagaimana mestinya untuk pengendalian lalu lintas yang aman tidak disediakan, tidak dipelihara atau tidak dilaksanakan sesuai lingkup dari RMKL, Direksi Pekerjaan dapat membatasi operasi Kontraktor yang mempengaruhi situasi semacam ini sampai penyesuaian yang diperlukan telah dilaksanakan. Direksi Pekerjaan dapat juga menangguhkan seluruh pekerjaan sampai penyesuaian tersebut dicapai.
Bilamana keselamatan umum atau karyawan Kontraktor diabaikan secara serius dan dengan sengaja oleh Kontraktor, Direksi Pekerjaan dapat melakukan tindakan perbaikan yang sepadan dan memotong biaya dari hak Kontraktor sebagai kompensasi kerugian dari jumlah yang dibayarkan kepada Kontraktor.
Semua personil paling sedikit berusia 18 tahun, dan Personil harus mengenakan baju yang reflektif, sepatu safety boot dan helm kerja pada setiap saat selama jam kerja di dalam daerah kerja. Dalam pelaksanaan pekerjaan harus berkoordinasi dengan pihak kepolisian.
Operasi pada malam hari harus diterangi dengan lampu dan atau sistem reflektif yang disetujui Direksi Pekerjaan. Sistem penerangan harus ditempatkan dan dioperasikan sedemikian agar dapat menghindarkan sorot cahaya terhadap pengguna jalan yang mendekati lokasi tersebut. Lampu pijar tidak diperkenankan.
Kontraktor harus menyediakan personil untuk melakukan pengawasan berkesinambungan terhadap operasi pengendalian lalu lintasnya. Personil tersebut harus tersedia baik siang maupun malam untuk menanggapi panggilanjika ada kerusakan antara lain terhadap barikade, lampu, rambu- rambu,baik karena vandalisme atau kecelakaan lalu lintas. Kontraktor harus memberitahu identitas personil tersebut kepada Direksi Pekerjaanmaupun pejabat lalu lintas setempat (termasuk polisi) di tempat kerja.
c) B
ahan dan Peralatan
Semua bahan dan peralatan yang disediakan untuk implementasi kegiatan- kegiatan manajemen dan keselamatan lalu lintas harus disediakan oleh Kontraktor dan tetap menjadi miliknya pada akhir periode kontrak.
Pengaturan lalu lintas harus dibuat sedemikian hingga perlengkapan tersebut tidak boleh merusak atau melukai kendaraan atau pengguna jalan jika tertabrak atau terjungkal dan harus tetap stabil dan berdiri di tempat ketika diterpa angin.
d) K
oordinator Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas (KMKL)
Kontraktor harus menyediakan tenaga Koordinator Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas (KMKL) yang memenuhi syarat dan memadai, dengan pengalaman yangsesuai minimum 3 tahun dalam tugas-tugas semacam ini dan staf yang diperlukan (jumlah minimum 2 orang) yang dibawahinya untuk seluruh pengendalian dari manajemen dan keselamatan lalu lintas, termasuk koordinasi dengan pejabat lalu lintas setempat yang bertanggung jawab sesuai yuridiksi Daerah Kerja, sedemikian hingga dapat memperkecil halangan, resiko keselamatan dan memperlancar aliran lalu lintas yang melalui daerah konstruksi dan melalui jalan-jalan pengalihan yang sesuai dan disetujui. Pemilihan KMKL harus disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
KMKL harus secara aktif berpartisipasi dalam semua rapat reguler maupun khusus dengan Direksi Pekerjaan. KMKL harus siap sedia pada setiap saat (24 jam per hari,7 hari per minggu) melalui komunikasi bergerak untuk kesulitan-kesulitan, keadaan darurat, dan hal-hal lain dari lalu lintas dan manajemen keselamatan dalam seluruh waktu dari pekerjaan.
KMKL adalah individu yang akan ditujuk oleh Direksi Pekerjaan atas semua permintaan yang berhubungan dengan hal-hal manajemen dan keselamatan lalu lintas. KMKL mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan dan berkoordinasi dengan personil Kontraktor untuk hal-hal manajemen dan keselamatan lalu lintas.
Tugas-tugas KMKL harus mencakup berikut ini:
1) Memahami persyaratan kontraktual, termasuk denah, spesifikasi, dan lingkungan di mana pekerjaan sipil akan dilaksanakan;
2) Menginspeksi rutin terhadap kondisi dan keefektifan dari pengaturan lalu lintas yang digunakan dalam kegiatan dan memastikan bahwa perlengkapan tersebut berfungsi sebagaimana mestinya, bersih, dapat dilihat dan memenuhi spesifikasi, denah, serta peraturan-peraturan setempat;
3) Meninjau dan mengantisipasi kebutuhan atas pengaturan lalu lintas yang sesuai, memberi pendapat kepada Direksi Pekerjaan tentang hal-hal terkait, dan memastikan bahwa RMKL telah diimplementasikan untuk pergerakan lalu lintas yang aman dan efisien;
4) Mengkoordinasikan pemeliharaan dari pengoperasian lalu lintas dengan Direksi Pekerjaan;
5) Melakukan rapat keselamatan lalu lintas dengan kepolisian setempat sebelum pelaksanaan pekerjaan dan rapat berkala yang dianggap perlu atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Direksi Pekerjaan harus diberitahu sebelumnya untuk menghadiri rapat-rapat ini.
6) Penutupan Jalan yang Tidak Sah
Semua penutupan dini atas jalan atau lajur di luar waktu yang ditetapkan dapat dikategorikan sebagai penutupan jalan yang tidak sah.
Semua penutupan total jalan tanpa suatu jalan pengalihan yang pantas harus dipandang sebagai penutupan jalan yang tidak sah dan Kontraktor
harus menanggung segala tuntutan yang timbul dari pihak ketiga.
7) Akses Menuju Daerah Kerja
Kontraktor harus menggunakan sebuah Kendaraan Penghantar ketika memasuki atau meninggalkan daerah kerja sampai jalan tersebut dibuka untuk lalu lintas. Kontraktor harus menyediakan fasilitas yang sama untuk Personil Direksi Pekerjaan dan Pemilik Proyek.
Manuver ini (memasuki dan meninggalkan daerah kerja) harus dilaksanakan dengan aman sehingga memperkecil resiko terhadap para pekerja dan pengguna jalan.
8) Kejadian Khusus dan Hari Libur
Direksi Pekerjaan mencadangkan haknya untuk tidak mengijinkan penutupan jalan. Kontraktor harus mempertimbangkan kejadian semacam ini dalam rencana kerjanya.
Bilamana terjadi Kejadian Kahar, Direksi Pekerjaan dapat juga membatalkan penutupan jalan.
9) Penutupan Lajur/Jalan dengan Menggunakan Tanda Visual
Penutupan lajur dengan menggunakan tanda visual harus dilakukan sesuai dengan detil-detil dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
10) Penutupan Jalan Keluar/Masuk pada Jalan Raya
Penutupan jalan keluar/masuk pada jalan raya harus dilakukan sesuai dengan detil- detil dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
11) Penutupan Jalan Keluar/Masuk pada Jalan dalam Kota
Penutupan jalan keluar/masuk pada jalan dalam kota harus dilakukan sesuai dengan detil-detil dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
12) Rambu-rambu untuk Pekerjaan Jalan
Kontraktor harus menyediakan rambu jalan atau perlengkapan penanganan lalu lintas. Penyediaan dan penempatan rambu ini sekurang- kurangnya harus sesuai dengan pedoman Perambuan Sementara untuk Pekerjaan Jalan No. Pd-T-12-2003. Kontraktor harus menyediakan peralatan tersebut dalam waktu 48 jam dan memasang serta memelihara peralatan tersebut selama Periode Pelaksanaan.
3. Pekerjaan Jalan Atau Jembatan
Sementara a) Umum.
Kontraktor harus menyediakan memelihara, dan membongkar semua jalan, jembatan, jalan masuk dan sejenisnya yang diperlukan oleh Kontraktor untuk menghubungkan Kontraktor dengan jalan umum pada saat Penyelesaian Pekerjaan.
Jalan sementara ini harus dibangun sampai diterima Direksi Pekerjaan, meskipun demikian Kontraktor tetap harus bertanggung jawab terhadap setiap kerusakan yang terjadi atau disebabkan oleh jalan sementara ini.
b) Lahan yang Diperlukan
Sebelum membuat jalan atau jembatan sementara, Kontraktor harus melakukan semua pengaturan yang diperlukan, bila diperlukan termasuk pembayaran kepada pemilik tanah yang bersangkutan atas pemakaian tanah itu dan harus memperoleh persetujuan dari pejabat yang berwenang dan Direksi Pekerjaan. Setelah pekerjaan selesai, Kontraktor harus membersihkan dan mengembalikan kondisi tanah itu ke kondisi semula sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan dan pemilik tanah yang bersangkutan.