• Tidak ada hasil yang ditemukan

SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN KONTRUKSI

N/A
N/A
Prasasti Asasi

Academic year: 2024

Membagikan "SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN KONTRUKSI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

SPESIFIKASI TEKNIS

PEKERJAAN KONTRUKSI

DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG KABUPATEN SERUYAN

SATKER/ SKPD

PA KPA

PROGRAM KEGIATAN

SUB KEGIATAN PEKERJAAN

:

: : : :

: :

DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG KABUPATEN SERUYAN

BUDI RAHMAN, S. IP., M.AP

IWAN ZULIANTO, ST., M.Si

PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM IRIGASI PRIMER DAN SEKUNDER PADA DAERAH IRIGASI YANG LUASNYA DIBAWAH 1000 HA DALAM 1 (SATU) DAERAH KABUPATEN/KOTA

PENINGKATAN JARINGAN IRIGASI RAWA

LANJUTAN PENINGKATAN JALAN INSPEKSI BERIUT DIR. PEMATANG LIMAU (TAHAP II)

KABUPATEN SERUYAN

TAHUN 2023

(2)

SPESIFIKASI TEKNIS

A. UMUM:

1. NAMA ORGANISASI : PENGADAAN BARANG/ JASA

● Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kab. Seruyan

● KPA: IWAN ZULIANTO, ST., M.Si 2. SUMBERDANA DAN BIAYA :

PERKIRAAN

● APBD

Pagu Rp.150.430.000,-(Seratus Lima Puluh Juta Empat Ratus Tiga Puluh Ribu Rupiah)

● Kode Rekening: 1.03.02.2.02.10.5.2.04.01.01.009 3. JANGKA WAKTU : 90 (Sembilan Puluh) hari kalender.

PELAKSANAAN PEKERJAAN

4. JANGKA WAKTU : 180 (Seratus Delapan Puluh) hari kalender PEMELIHARAAN PEKERJAAN

5. KELUARAN/PRODUKYANG : - Semennisasi Jalan Sepanjang 84 Meter DIHASILKAN

6. LAPORAN,BACKUPDATA, : DOKUMENTASI DAN ASBUILT DRAWING

- Penyedia jasa wajib membuat laporan pekerjaan, backup data (volume),dokumentasi pekerjaan dan asbuilt drawing (apabila ada) sesuai dengan SSKK terkait pembayaran termyn maupun serah terima pekerjaan100%

(PHO) A. KHUSUS :

1. SPESIFIKASI BAHAN

: Bahan yang digunakan adalah :

1. Bahan tersebut masuk dalam komponen barang/jasa;

2. Sesuai spesifikasi yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk bahan-bahan bangunan;

3. Menggunakan bahan-bahan produksi Dalam Negeri dengan kualitas spesifikasi;

2. SPESIFIKASI PERALATAN

1. Daftar peralatan utama minimal yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan :

NO NAMA ALAT KAPASITAS PERSYARATAN JUMLAH

1. Concrete Mixer (Molen) 0,8 M3 Kondisi layak operasional 1 Unit PERALATAN PENDUKUNG

1. Peralatan Tukang Batu - Kondisi layak operasional 1 Set

2. Gerobak Dorong - Kondisi layak operasional 4 Unit

2. Sesuai daftar peralatan tersebut diatas, maka kepada penyedia untuk : 1. Menyampaikan Surat Dukungan Alat yang bukan milik sendiri.

2. Alat yang digunakan sesuai daftar peralatan utama baik jenis, kapasitas, persyaratan dan jumlah.

(3)

3. SPESIFIKASI PROSES/KEGIATAN : a. Manajemen resiko keselamatan konstruksi :

No UraianPekerjaan IdentifikasiBahaya Tingkat Resiko

1. Pekerjaan Pendahuluan

Pembuatan Papan nama Kegiatan Salah cetak Kecil

Pengukuran & Pasang patok Tenggelam/Tersengat/dipatuk/

digigit binatang Kecil Mobilisasi Alat dan Bahan Material Tertimpa/tabrakan dijalan Sedang

SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan

dan Kesehatan Kerja) Gagal operasional Kecil

2. Pekerjaan pelaksanaan

Pembersihan dan Perataan Jalam

1. Terkena material tajam sampah disekitar lokasi kegiatan.

2. Terluka akibat alat benda tajam seperti parang dan cangkul.

Kecil

Pekerjaan Bekisting

1. Terluka akibat palu, paku, dan gergaji.

2. Terkena sisi tajam potongan kayu.

Kecil

Pekerjaan Pembesian Wiremesh

1. Tertimpa material besi.

2. Tergores sisi tajam material.

3. Terkena catut dan pemotong besi wiremesh.

Kecil

Pekerjaan Pengecoran

1. Terkena mixer beton (molen).

2. Terpercik semen cor.

3. Terpelosok dalam rakitan besi.

4. Tergores sisi tajam cangkul/sekop

Kecil

Mengaspal Permukaan dengan Aspal Panas 1. Terkena aspal panas.

2. Terpercik aspal panas. Kecil

Kesimpulan : Bahwa Tingkat Resiko : -. Keparahan :1 ; -. Kekerapan : 2 b. Rencana Keselamatan Konstruksi :

Untuk Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) terhadap penyedia diwajibkan dibuat untuk dapat mempresentasikan saat Pre Construction Meeting (PCM).

c. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Kepada penyedia untuk pekerjaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), diminta untuk dibuat Rincian/Rekapitulasi item apa saja yang diadakan/dibeli sesuai nilai yang terdapat dalam rincian penawaran, seperti berikut :

(4)

No. Uraian Volume Satuan Harga

satuan Jumlah

I. Alat Pelindung Diri (APD) …….. ……..

1. Helm pelindung (Safety Helmet); 5 Bh …….. ……..

2. Pelindung Pernapasan (Masker); 5 Bh …….. ……..

3. Sarung tangan (Safety Gloves) 5 Psg …….. ……..

4. Sepatu keselamatan (Safety Shoes) 5 Psg …….. ……..

5. Rompi keselamatan (Safety Vest) 5 Bh …….. ……..

II. Fasilitas alat kesehatan …….. ……..

1. Peralatan P3K (Kotak P3K, tandu,

obatluka, perban, dan lain-lain 1 Set …….. ……..

III. Rambu-Rambu …….. ……..

1. Rambu informasi 2 Bh …….. ……..

JUMLAH TOTAL

Terbilang : // ………..//

4. SPESIFIKASI METODE PELAKSANAAN : Metode pelaksanaan pekerjaan sebagai berikut : PEKERJAAN PENDAHULUAN

a. Pengukuran

1. Titik Tetap guna pengukuran ditetapkan oleh Direksi. Dari titik ini Direksi akan menentukan beberapa titik penting dan menetapkan As dari bangunan-bangunan yang direncanakan.

2. Dari titik tersebut pemborong harus mengukur titik lain serta peil seluruh bangunan-bangunan yang direncanakan. Untuk Pemasangan profil dipakai bambu atau kayu.

3. Kontraktor / Rekanan tidak diperkenankan untuk menghapus. Atau mengubah titik tetap tanpa persetujuan Direksi.

b. Pembersihan.

Pembersihan lapangan termasuk diantaranya : - Penebangan Pohon- pohon kecil.

- Pembersihan rumput dan semak-semak.

Pembersihan jalur saluran, harus dilaksanakan secara baik dan sesuai dengan rencana, agar tidak menimbulkan resiko / Kerugian bagi pekerjaan yang lain. Bila mana terjadi ganti rugi tanam tumbuh penduduk yang terkena pekerjaan ini maka biaya dikeluarkan / dibebankan kepada kontraktor.

PASAL 1 SITUASI

1. Pembangunan fisik seperti pada Pasal 1 berlokasi di Kabupaten Seruyan dengan peruntukan untuk pejalan, kendaraan roda dua dan tiga.

(5)

PASAL 2

PENYIMPANAN BARANG –BARANG DAN MATERIAL

1. Pemborong diwajibkan untuk menempatkan barang–barang dan material – material kebutuhan pelaksanaan baik diluar (terbuka) ataupun didalam gudang sesuai dengan sifat barang dan material tersebut,sehingga akan menjamin:

a. Kenyamannya.

b. Terhindarnya kerusakan – kerusakan yang diakibatkan oleh cara penyimpanan yang salah.

2. Barang – barang dan material yang tidak akan digunakan untuk kebutuhan langsung pada pekerjaan yang bersangkutan,tidak diperkenankan untuk disimpan didalam site.

PASAL 3

FASILITAS–FASILITAS LAPANGAN 1. Pemborong diwajibkan menyediakan sendiri:

a. Air minum dan Air bersih yang dapat dipakai untuk kebutuhan pelaksanaan pekerjaan, b. Alat–alat pemadam kebakaran,

c. Alat–alat P3K,

d. Kamar mandi dan WC untuk para pekerja lapangan Pasal 4 PEKERJAAN SIPIL

1. Untuk pelaksanaan Pekerjaan Sipil umumnya dipakai peraturan umum yang lazim disebut A.V. /SU. 41 (syarat-syarat umum untuk pelaksanaan bangunan umum yang dilelangkan).

2. Peraturan bangunan yang dipakai adalah peraturan dinyatakan berlaku dan mengikat kecuali dinyatakan lain dalam rencana kerja dan syarat-syaratini, peraturan tersebut adalah :

a. PBI 1971/NI-2 (Peraturan Beton Bertulang Indonesia) b. PUBI 1982 (Peraturan Umum untuk Bangunan di Indonesia)

c. PMI 1970/NI-5 (Peraturan Perancangan Konstruksi Baja di Indonesia) d. PUBI 1970/NI-3 (Peraturan Perancangan Konstruksi Baja di Indonesia) e. Peraturan Bangunan Tahan Gempa 1984

f. Persyaratan Dewan Teknik Pembangunan Indonesia 1970 g. Peraturan Cat Indonesia (NI-4 atau PTI 1961)

h. Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1980

3. Peraturan-peraturan lain yang dipenuhi adalah peraturan-peraturan setempat.

Pasal 5

PELAKSANAAN DAN GAMBAR PELAKSANAAN

1. emborong diwajibkan meneliti semua gambar peraturan-peraturan dan syarat-syarat sebelum pekerjaan dilaksanakan, baik pekerjaan sipil maupun pekerjaan listrik.

2. Apabila ada persyaratan yang tidak lazim dilaksanakan atau bila dilaksanakan akan menimbulkan bahaya, maka pemborong diwajibkan untuk mengadakan perubahan seperlunya dengan terlebih dahulu memberitahukan secara tertulis kepada Direksi Pekerjaan / Pengawas Pekerjaan.

3. Apabila ada pekerjaan pada gambar atau ukuran antara gambar ukuran kecil dan gambar detail atau ada perbedaan bestek (RKS) dengan gambar, maka yang berlaku adalah menurut aturan-aturan yang lebih menentukan seperti dibawah ini :

a. Bestek (RKS)

b. Gambar dengan skala yang lebih besar

c. Berita Acara Aanwyzing dan lampiran-lampiran

4. Pelaksanaan pembangunan, program dilaksanakan secara lengkap termasuk mendatangkan, mengangkut dan mengerjakan semua bahan-bahan yang diperlukan, menyediakan tenag akerja berikut pengawasan dan hal-hal yang dianggap perlu lainnya.

5. Pemborong diwajibkan menangani semua keperluan yang dibutuhkan untuk menuju penyelesaian pelaksanaan secara lengkap, baik dan lengkap.

6. Di dalam pelaksanaan pekerjaan, misalnya pekerjaan beton bertulang, konstruks ibaja, konstruksi kayu dan pekerjaan struktur lainnya disamping pekerjaan pengolahan tanah, baik menurut

(6)

perhitungan dan gambar-gambar konstruksi yang disediakan oleh Direksi Pekerjaan / Pemberi Tugas sebelum pekerjaan dilaksanakan.

7. Pihak Pemborong dianggap telah mempertimbangkan semua resiko yang mungkin akibat letak daerah proyek dan memperhitungkan didalam harga yang termuat pada Surat Penawaran, termasuk kehilangan dan kerusakan bahan dan alat.

8. Tanah dan halaman untuk pembangunan ini diserahkan kepada Pemborong dalam keadaan pada saat seperti penjelasan / peninjauan di lapangan

9. Pekerjaan harus diserahkan dengan lengkap (As-Built Drawing) sesuai dengan sempurna pada Pemberi Tugas / Direksi Pekerjaan termasuk perbaikan-perbaikan yang timbul akibat pelaksanaan pada lingkungan pembangunan termasuk pembersihan.

Pasal 6 RENCANA KERJA

1. Sebelum memulai melaksanakan pekerjaan Pemborong harus menyusun rencana terperinci termasuk Jadwal pelaksanaan (Time Schedule) dan diajukan kepada Pemberi Tugas / Direksi Pekerjaan selambat – lambatnya selama 1 (satu) minggu setelah menunjuk Pemenang untuk disetujui.

2. Setelah disetujui, maka harus dicetak dan hasilnya diserahkan kepada Pemberi Tugas / Direksi Pekerjaan sebanyak 3 (tiga) lembar. Sedangkan cetakan lainnya harus tertampang ditempat pekerjaan dengan dilampirkan dokumen kontrak.

3. Pemborong harus melaksanakan pekerjaan, mendatangkan alat - alat Bantu dan material sesuai dengan rencana kerja, kecuali jika terpaksa menyimpang karena sesuatu hal, yang harus dipertimbangkan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

4. Rencana kerja tersebut akan dipakai Pemberi Tugas / Direksi Pekerjaan sebagai dasar untuk menentukan segala sesuatu yang berhubungan dengan kemajuan, kelambatan dan penyimpangan pekerjaan yang dilaksanakan oleh Pemborong.

Pasal 7

KETENTUAN LAIN-LAIN

Selain Dokumen Pengadaan Jasa dan Barang ini, ketentuan-ketentuan lain yang mengikat di dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah sebagai berikut :

1. Gambar

b. Gambar-gambar yang dilampirkan pada rencana kerja dan syarat-syarat pekerjaan ini.

c. Gambar detail yang diserahkan oleh Direksi Pekerjaan.

2. Petunjuk

a. Petunjuk atau keterangan yang diberikan dalam rapat penjelasan (aanwyzing) yang tercantum dalam Berita Acara Rapat Penjelasan.

b. Petunjuk syarat-syarat yang diberikan dalam masa pelaksanaan oleh Pemberi Tugas / Direksi Pekerjaan.

3. Peraturan

a. Semua Undang - Undang dan peraturan pemerintah yang berlaku untuk semua pelaksanaan pemborongan.

b. Syarat – syarat untuk pelaksanaan pemborongan dari Pekerjaan Umum di Indonesia yang disyahkan dengan SK Pemerintah tanggal 28 Mei 1941 (AV) kecuali dinyatakan lain dalam Dokumen Pengadaan Jasa dan Barang.

Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan :

1. Mendatangkan bahan-bahan yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut diatas dengan Spesifikasi Teknis yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk bahan-bahan bangunan.

2. Menggunakan bahan-bahan produksi dalam Negeri dengan kualitas dan spesifikasi yang disyaratkan.

3. Menyediakan alat-alat pembantu dan pekerja-pekerja / tenaga yang diperlukan.

4. Pemborong / Rekanan diwajibkan menyediakan alat kerja untuk pelaksanaan/ pemeriksaan pekerjaan termasuk alat ukur (Minimal Pita Ukur dan Waterpass optis maupun Theodolite). Alat-alat tersebut harus selalu dalam keadaan baik dan siap pakai.

(7)

PASAL 8

GAMBAR–GAMBAR “ASBUILD DRAWING”

1 Pemborong diwajibkan untuk membuat gambar – gambar “AsBuilt Drawing” sesuai dengan pekerjaan yang telah dilakukan dilapangan sesuai kenyataan,untuk kebutuhan pemeriksa dan maintenance dikemudian hari. Gambar – gambar tersebut diserahkan pada masa pemeliharaan kepada petugas,setelah disetujui oleh Direksi (dibuat sebanyak1 Asli+ 5Copy).

Pasal 9

PENGUKURAN / PASANG PATOK

Sebagai titik nol (± 0,00) untuk Pembuatan Box Culvert terhitung dari permukaan as badan jalan.

Patok-patok tetap dan sumber bangunan akan ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan bersama-sama Kontraktor. Patok-patok tersebut harus dijaga dan dipelihara Kontraktor selama pekerjaan berlangsung. Bahan-bahan dan alat-alat berikut tenaga pembantu ukur seluruhnya disediakan oleh Kontraktor. Pengukuran bangunan selanjutnya harus dikerjakan oleh Kontraktor atas dasar patok- patok yang telah ditentukan.

Pekerjaan persiapan sebelum memulai membangunan adalah pembuatan bedeng dan pembuatan bouwplank. Bouwplank adalah alat bantu tukang untuk membuat siku bangunan (90O) dan elevasi lantai. Bouwplank biasanya dibuat dari papan atau balok kaso 5/7 yang dipasang 1 m diluar daerah denah yang akan dibuat agar tidak rusak atau terbongkar pada saat penggalian pondasi. Biasanya bouwplank akan dibongkar setelah pekerjaan pengecoran beton sloof dilaksanakan.

Hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :

1. Titik tetap pada pekerjaan ini akan ditentukan/ ditetapkan oleh Direksi/ Pengawas Lapangan dan seterusnya dari titik tersebut, Kontraktor dapat mengukur titik lainnya dan menetapkan ketinggiannya dari seluruh pekerjaan yang akan dilaksanakan.

2. Seluruh pekerjaan pengukuran/ pemasangan patok dilaksanakan oleh Kontraktor. Dan untuk titik tetap harus diketahui dan disetujui oleh Direksi Teknik/ Pengawas Lapangan.

3. Kontraktor dilarang untuk memindahkan, merubah atau menghapus titik tetap tersebut tanpa mendapat persetujuan dari Direksi Tenik/ Pengawas Lapangan.

4. Tanda-tanda tersebut harus dijaga dan dipelihara selama pekerjaan berlangsung.

5. Untuk memperoleh ketepatan as bangunan induk dengan bangunan tambahan diwajibkan kepada Pihak Kontraktor untuk melakukan pengukuran dengan menggunakan tenaga ahli pengukuran yang berpengalaman dan dilengkapi dengan alat Theodolith.

Pasal 10

PEKERJAAN BEKISTING

Setelah proses pekerjaan persiapan selesai, berikutnya melangkah pada pekerjaan berikutnya yaitu pekerjaan pemasangan bekisting

➢ Menggunakan bahan papan kayu kelas 3 atau kelas setara

➢ Pemasangan dengan tegak/tidak miring dengan ukuran ketinggian tidak kurang dari 15 cm

➢ Dipasang di kedua sisi, kanan dan kiri, dengan ukuran sesuai yang tercantum dalam gambar kerja Pasal 11

PEKERJAAN BESI WIREMESH 1. Semua besi beton yang digunakan harus m em enuhi syarat – syarat :

a. Peraturan Beton Indonesia (NI. 2/1971).

b. Bebas dari kotoran – kotoran, lapisan m inyak, karat dan tidak cacat.

c. Mem punyai penam pang yang sam a rata.

d. Ukuran disesuaikan dengan gam bar – gam bar.

(8)

2. Pemasangan besi beton dilakukan sesuai dengan gambar – gambar.Untuk hal itu sebelum nya pemborong harus membuat gambar pembengkokan baja tulangan (bending schedule), diajukan kepada Pengawas untuk mendapat persetujuannya.

3. Penggunaan besi beton yang tidak memenuhi syarat - syarat karena kualitasnya tidak sesuai dengan spesifikasi (RKS) harus segera dikeluarkan dari site dalam waktu 2 x 24 jam.

4. Untuk Besi/Baja Tulangan disesuaikan dengan gambar bestek dalam hal dimensi dan ukurannya.

5. Untuk Wiremesh digunakan Wiremesh M-5 sesuai petunjuk spesifikasi yang telah ditentukan dalam bestek dan m endapat persetujuan Direksi.

Pasal 12

PEKERJAAN PASANG PLASTIK BETON

Pada pekerjaan pemasangan plastik alas beton ini menggunakan bahan produk lokal yang mudah ditemukan, dengan cara sebagai berikut :

• Plastik beton dihampar dibadan jalan yang sudah dibersihkan dan diratakan,

• Dengan ukuran sesuai yang tercantum dalam gambar kerja

• Pemasangan harus menutupi semua area yang akan dicor atau dihampar/pasang besi wermesh

Pasal 13

PEKERJAAN PEMBETONAN

Pada pekerjaan beton bertulang, mutu beton dan besi beton harus diperhatikan dengan baik karena akan mempengaruhi kekuatan konstruksi bangunan. Oleh karena itu, pengetahuan praktis untuk menguji mutu beton berikut ini penting untuk diketahui :

1. Semua agregat halus (pasir), agragat kasar (kerikil), semen, air harus ditakar dengan seksama volumenya atau beratnya sebelum dilakukan pengadukan , dan pengadukan harus menggunakan mollen (Mixer concret).

2. Semua pekerjaan pemasangan tulangan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan - ketentuan / ukuran-ukuran pada gambar detail / kontruksi.

a. Pengecoran Beton

• Pengecoran beton dapat dilaksanakan setelah kontraktor mendapat ijin tertulis dari Direksi Pekerjaan

• Permohonan ijin rencana pengecoran harus diserahkan minimal 2 (dua) hari sebelum dilaksanakan pekerjaan pengecoran

• Sebelum pengecoran dimulai, Kontraktor harus sudah menyiapkan seluruh stek-stek maupun angkur-angkur dan sparing-sparing yang diperlukan pada kolom-kolom, balok-balok beton untuk bagian yang berhubungan dengan dinding bata maupun pekerjaan instalasi, kecuali dinyatakan lain pada gambar rencana.

• Adukan beton tidak boleh dituang bila waktu sejak dicampurnya air pada semen dan agregat atau semen pada agregat telah melampaui 1 (satu) jam dan waktu ini dapat berkurang lagi jika Direksi menganggap perlu didasarkan pada kondisi tertentu.

• Beton harus dicor sedemikian rupa sehingga menghindari terjadinya pemisahan material (segregation) dan perubahan letak tulangan.

• Cara penuangan dengan alat-alat pembantu seperti talang, pipa, chute dan sebagainya harus mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

• Adukan beton tidak boleh dijatuhkan secara bebas dari ketinggian lebih dari 2 (dua) meter.

Selama dapat dilaksanakan dianjurkan menggunakan pipa yang terisi penuh adukan dengan pangkalnya terbenam dalam adukan yang baru dituang.

• Penggetaran tidak boleh dilakukan pada beton yang telah mengalami initialset atau yang telah mengeras dalam batas yang akan terjadi plastis karena getaran.

• Semua pengecoran bagian dasar konstruksi beton yang menyentuh tanah harus diberi lantai dasar minimal setebal 7 cm agar menjamin dudukannya tulangan dengan baik dan penyerapan air semen dengan tanah.

(9)

• Bila pengecoran harus berhenti sementara sedangkan beton sudah menjadi keras dan tidak berubah bentuk, harus dibersihkan dari lapisan air semen (laitances) dan partikrl-partikel yang terlepas sampai suatu kedalaman yang cukup sampai tercapai beton yang padat. Segera setelah pemberhentian pengecoran ini maka adukan yang lekat pada tulangan dan cetakan harus dibersihkan.

b. Pekerjaan Cor Beton mutu f’c = 9,8 Mpa

Semua beton yang berhubungan dengan tanah sebagai dasarnya harus diurug serta dipadatkan setebal 15 cm sesuai dengan tercantum dalam gambar rencana sebelumnya dipasang / dihampar besi wermesh dia – 6 mm kemudian di cor beton dengan mutu fc = 9,8 mpa settebal 15 cm dengan adukan 1 PC : 3 Ps : 6 Kr dibawah konstruksi beton tersebut.

c. Kekentalan Beton (Slump)

Kekentalan beton untuk jenis konstruksi berdasarkan pengujian dengan PBI-1971 adalah sebagai berikut :

JenisKonstruksi

Slump / Maks (mm)

Slump / Min (mm)

• Kaki dan dinding pondasi

• Plat, Balok dan Dinding

• Kolom

• Plat diatas Tanah

200 200 200 125

50 75 75 50 d. Penyambungan Beton dan Water Stop

• Setiap penyambungan beton, permukaan harus dibersihkan / dikasarkan dan diberibahan Bonding Agent seperti EMAGG ataus ejenis yang dapat menjamin kontinuitas adukan beton lama dengan yang baru

• Tempat – tempat penyambungan pengecoran yang terletak dibawah permukaan tanah atau tempat - tempat yang berhubungan dengan genangan air hujan/air kotor harus diberi PVC Water Stop LWG (9”) dan dipasang sesuai dengan petunjuk Pengawas/Produsen.

PASAL 14

PERAWATAN DAN PERLINDUNGAN BETON

1. Beton harus dilindungi selama berlangsungnya proses pengerasan terhadap matahari, pengeringan oleh angin,hujan atau aliran air dan pengerasan mekanis atau pengeringan sebelum waktunya.

2. Semua permukaan beton yang terbuka dijaga tetap basah selama 14 hari dengan menyemprotkan air atau mengenai dengan air pada permukaan beton tersebut.

PASAL 15

PEMASANGAN ALAT–ALAT DI DALAM BETON

1. Pemborong tidak dibenarkan untuk membobok, membuat lubang atau memotong konstruksi beton yang sudah jadi tanpa sepengetahuan dan seijin pengawas.

2. Ukuran dan pembuatan lubang, pemasangan alat – alat didalam beton, pemasangan sparing dan sebagainya harus menurut petunjuk – petunjuk pengawas.

(10)

5. SPESIFIKASI JABATAN KERJA KONSTRUKSI : 1. Daftar Personil yang diperlukan sebagai berikut :

Jabatan / Posisi Pendidikan

Pengalaman Minimal

(tahun)

Jumlah Minimal

(orang)

Sertifikat Keahlian (Minimal)

Ahli K3/

Petugas K3 S1 Teknik Sipil 0-2 1

SKT Ahli K3 Konstruksi Muda

(603) Pelaksana

Lapangan

SLTA Seerajat

S1 Teknik Sipil 0-2 1

SKT Pelaksana Pekerjaan Jalan

(TS 028) Direktur/

Adminitrasi SLTA/Sederajat 0-2 1 Ijazah

B. PENUTUP :

Demikian Spesifikasi Teknis ini dibuat untuk menjadi syarat wajib pada saat proses pengadaan dan saat berkontrak yang harus terpenuhi. Hal lain yang belum tercakup dalam Spesifikasi Teknis ini, akan dilaksanakan melalui kelaziman, normalisasi dan ketentuan-ketentuan / peraturan-peraturan yang berlaku dan akan diatur dalam suatu amandemen atau diatur dalam berita acara penjelasan atau Surat Perjanjian/Kontrak yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dokumen kontrak nantinya..

Kuala Pembuang, 20 Juli 2023 Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR

Kabupaten Seruyan

IWAN ZULIANTO, ST., M.Si NIP. 19790702 200604 1 007

Referensi

Dokumen terkait

C1 : Digunakan untuk beton lantai kerja, beton rabat dan untuk pekerjaan lainnya sesuai gambar kerja atau sesuai dengan petunjuk Direksi.. C3 : Beton pondasi, sloof,

Konsultan Pengawas berhak menyuruh ganti bagian-bagian konstruksi atau profil alumunium yang menurut pendapatnya telah menjadi rusak karena terkena plesteran, adukan beton dan

a) Penyedia harus membongkar struktur lama yang akan diganti dengan beton yang baru atau yang harus dibongkar untuk dapat memungkinkan pelaksanaan pekerjaan beton yang

a) Penyedia harus membongkar struktur lama yang akan diganti dengan beton yang baru atau yang harus dibongkar untuk dapat memungkinkan pelaksanaan pekerjaan beton yang

3 SNI 03-4808-1998 Metode Pengujian Kadar Air dalam Beton Segar Dengan Cara Volumetri SNI 03-4809-1998 Metode Pengujian untuk membandingkan berbagai Beton Berdasarkan Kuat Lekat Yang

Dokumen ini berisi spesifikasi teknis untuk pekerjaan belanja modal saluran pembuang pasang surut (saluran tersier) di Kelurahan

Spesifikasi teknis pekerjaan arsitektur yang meliputi pengadaan bahan, peralatan, pengetesan, tenaga kerja, dan lain sebagainya untuk finishing pekerjaan

Pasal 18 PEKERJAAN PLESTERAN DINDING Pekerjaan Plesteran Lingkup Pekerjaan Meliputi pekerjaan permukaan dinding pada semua tembok yang dikerjakan dengan pasangan bata, yang tidak