• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Peran Kelompok Tani

5.2.3 Unit Produksi

wahana kerjasama Desa Awolagading menurut anggota kelompok tani telah tergolong tinggi karena sebagian besar anggota kelompok tani telah menciptakan suasana saling kenal dan slaing percaya, mengatur dan melaksanakan pembagian tugas, mengembangkan kedisiplinan dan tanggung jawab, merencanakan dan melaksanakan musyawarah, melaksanakan kerjasama dengan penyedia sarana dan jasa pertanian, serta mentaati dan melaksanakan kesepeakatan yang dihasilkan.

Secara umum dari hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa pengurus kelompok tani Desa Awolagading telah menjalankan tugasnya sesuai dengan perannya dalam kelas wahana kerjasama karena adanya kesamaan persepsi antara pengurus kelompok tani dan anggota kelompok tani.

Tabel 24. Persepsi Pengurus Kelompok Tani Terhadap Peran Kelompok Tani Sebagai Unit Produksi di Desa Awolagading, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, 2017.

No Unit Produksi Kategori Indetitas

Responden Tinggi Rendah

1

Mengambil keputusan dalam menentukan pengembangan produksi yang

menguntungkan

18 - 18

2 Menyusun rencana dan melaksanakan

kegiatan bersama 13 5 18

3 Memfasilitasi penerapan teknologi 12 6 18

4 Menjalin kerjasama dengan kemitraan

usahatani 18 - 18

5 Mengevaluasi kegiatan bersama dan

rencana kebutuhan kelompok 13 5 18

6

Meningkatkan kesinambungan

produktifitas dan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan

18 - 18

7 Mengelola administrasi secara baik 12 6 18

Tabel 24, menunjukkan bahwa semua pengurus kelompok tani memilih kategori tinggi untuk indikator mengambil keputusan dalam menentukan pengembangan produksi yang menguntungkan. Semua petani tetntunya menginginkan hasil yang menguntungkan.

Menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan bersama. 13 orang memilih kategori tinggi dan 5 orang memilih kategori rendah. Ada yang tidak dapat melaksanakan kegiatan bersama karena tuntutan pekerjaan ditempat lain.

”Saya tidak dapat terus menerus ikut serta dalam merumuskan kesepakatan, saya juga memiliki lahan pertanian di daerah lain sehingga saya tidak dapat menghadiri pertemuan apabila penentuan waktu pertemuan bertepatan dengan kepergian saya yang harus menetap dalam kurung waktu berbulan-bulan, dan hingga saat ini juga belum ada yang bersedia untuk menggantikan tanggung jawab saya. (Cillang, wawancara, Agustus 2017).

Memfasilitasi penerapan teknologi. 12 orang memilih kategori tinggi dan 6 orang memilih kategori rendah. Hanya satu kelompok yang memiliki teknologi mesin yaitu traktor, untuk kelompok yang lainnya hanya mendapatkan bibit dan pupuk.

Menjalin kerjasama dengan kemitraan usahatani. Semua pengurus kelompok tani memilh kategori tinggi. Semua kelompok telah menjalin kerjasama terkait pelaksanaan usahatani dengan penyuluh, lembaga pertanian, dan pengecer pupuk.

Mengevaluasi kegiatan bersama dan rencana kebutuhan kelompok.

13 orang memilih kategori tinggi dan 5 orang memilih kategori rendah.

Karena adanya pengurus yang tidak menetap di Desa Awolagading, jadi terkadang mereka tidak dapat ikut serta dalam mengevaluasi kegiatan.

Meningkatkan kesinambungan produktifitas dan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan. Semua pengurus kelompok tani memilih kategori tinggi. Semua petani tetntunya menginginkan produktivitas yang terus meningkat.

Mengelola administrasi secara baik. 12 orang memilih kategori tinggi, 6 orang memilih kategori rendah. Beberapa kelompok yang tidak memiliki bendahara merasa belum bisa mengelola administrasi dengan baik.

“saya merasa sangat kewelahan dalam mengelolah administrasi”.

(Darwis, Wawancara, Agustus 2017).

Secara umum persepsi pengurus kelompok tani terhadap peran kelompok tani sebagai unit produksi dapat dikatakan tinggi, karena semua indikator dominan memiliki kategori tinggi yaitu mengambil keputusan dalam menentukan pengembangan produksi yang menguntungkan, menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan bersama, memfasilitasu penerapan teknologi, menjalin kerjasama dengan kemitraan usahatani, mengevaluasi kegiatan bersma dan rencana kebutuhan kelompok, meningkatkan kesinambungan produktivitas dan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan, dan mengelola administrasi secara baik. Tingkat peran kelompok tani dalam unit produksi untuk pengurus kelompok tani di Desa Awolagading dapat dilihat pada Tabel 25.

Tabel 25. Tingkat Peran Kelompok Tani dalam Unit Produksi Menurut Persepsi Pengurus Kelompok Tani di Desa Awolagading, Kecamatan awangpone, Kabupaten Bone, 2017.

No. Skor Interval Jumlah Responden

(orang) Persentase (%)

1. Rendah (7-10) 0 0

3. Tinggi (11-14) 18 100

Jumlah 18 100

Tabel 25 menunjukkan bahwa tidak ada pengurus kelompok tani yang menyatakan peran kelompok tani dalam unit produksi tergolong rendah dan yang menyatakan bahwa peran kelompok tani dalam unit produksi tergolong tinggi sebanyak 17 orang (100%). Dapat dikatakan bahwa persepsi tentang tingkat unit produksi pengurus kelompok tani Desa Awolagading sudah tergolong tinggi karena menurut pengurus, para anggota dapat mengambil keputusan dalam menentukan pengembangan produksi yang menguntungkan, telah mengikut sertakan anggota dalam

menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan bersama, telah menjalin kerjasama dan kemitraan terkait pelaksanaan usahatani, mengevaluasi kegiatan bersama dan rencana kebutuhan kelompok, meningkatkan kesinambungan produktivitas, mengelola administrasi dengan baik dan benar.

Persepsi Anggota Kelompok Tani dalam Unit Produksi

Untuk mengetahui peran kelompok tani dalam unit produksi khususunya anggota kelompok, terdapat 7 indikator yang perlu dicapai.

Untuk mengetahui tercapainya indikator tersebut, peneliti mengembangkan 7 indikator tersebut dalam bentuk pertanyaan dan melakukan proses wawancara pada 42 orang responden. Hasil wawancara yang diperoleh memiliki skor, kemudian dikategorikan.

Adapun indikator dan jawaban anggota kelompok tani dapat dilihat pada table berikut :

Tabel 26. Persepsi Anggota Kelompok Tani Terhadap Peran Kelompok Tani Sebagai Unit Produksi di Desa Awolagading, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, 2017.

No Unit Produksi Kategori Indetitas

Responden Tinggi Rendah

1

Mengambil keputusan dalam menentukan pengembangan produksi yang

menguntungkan

42 - 42

2 Menyusun rencana dan melaksanakan

kegiatan bersama 25 17 42

3 Memfasilitasi penerapan teknologi 19 23 42

4 Menjalin kerjasama dengan kemitraan

usahatani 25 17 42

5 Mengevaluasi kegiatan bersama dan

rencana kebutuhan kelompok 12 30 42

6

Meningkatkan kesinambungan

produktifitas dan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan

42 - 42

7 Mengelola administrasi secara baik 12 30 42

Tabel 26 menunjukkan bahwa semua anggota kelompok tani memilih kategori tinggi untuk indikator mengambil keputusan dalam menentukan pengembangan produksi yang menguntungkan. Semua petani tetntunya menginginkan hasil yang menguntungkan.

Menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan bersama. 25 orang memilih kategori tinggi dan 17 orang memilih kategori rendah. Yang memilih kategori rendah adalah anggota yang tidak mengetahui tentang status mereka yang bergabung kedalam kelompok tani.

Memfasilitasi penerapan teknologi. 19 orang memilih kategori tinggi dan 23 orang memilih kategori rendah. Untuk alat mesin pertanian kelompok tidak menyediakan fasilitas tersebut, karena sebagian besar anggota telah memiliki alsintan, namun untuk bahan pertanian seperti pupuk, petani dapat membelinya pada kelompok tani dengan harga yang murah.

Menjalin kerjasama dengan kemitraan usahatani. 25 orang memilih kategori tinggi dan 17 orang memilih kategori rendah. Yang memilih kategori rendah adalah anggota yang tidak mengetahui tentang status mereka yang bergabung kedalam kelompok tani.

Mengevaluasi kegiatan bersama dan rencana kebutuhan kelompok. 12 orang memilih kategori tinggi dan 30 orang memilih kategori rendah. Banyak petani yang mengatakan tidak dilibatkannya mereka

dalam evaluasi, hal ini karena ketidak tahuan mereka tentang kelompok tani dan ketidak hadiran mereka dalam pertemuan – pertemuan, serta kurangnya komunikasi antara pengurus dan anggota.

Meningkatkan kesinambungan produktifitas dan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan. Semua anggota memilih kategori tinggi. Semua pengurus kelompok tani memilih kategori tinggi. Semua petani tetntunya menginginkan produktivitas yang terus meningkat.

Mengelola administrasi secara baik. 12 orang memilih kategori tinggi dan 30 orang memilih kategori rendah. Banyak anggota kelompok yang memilih rendah karena ketidak tahuan mereka dengan statusnya yang bergabung dalam kelembagaan kelompok tani dan kurangnya motivasi dalam diri sendiri untuk ikut aktif.

Secara umum persepsi anggota kelompok tani terhadap peran kelompok tani sebagai unit produksi dapat dikatakan tinggi, karena dala tujuh indikator hanya tiga indikator yang dominan memiliki kategori rendah yaitu memfasilitasi penerapan teknologi, mengevaluasi kegiatan bersma dan rencana kebutuhan kelompok, dan mengelola administrasi secara baik. Empat indikator dominan memiliki kategori tinggi yaitu mengambil keputusan dalam menentukan pengembangan produksi yang menguntungkan, menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan bersama, menjalin kerjasama dengan kemitraan usahatani, dan

meningkatkan kesinambungan produktifitas dan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan. Adapun tingkat unit produksi anggota kelompok tani di Desa Awolagading dapat dilihat pada Tabel 27.

Tabel 27. Tingkat Peran Kelompok Tani dalam Unit Produksi Menurut Persepsi Anggota Kelompok Tani di Desa Awolagading, Kecamatan awangpone, Kabupaten Bone, 2017.

No. Skor Interval Jumlah Responden

(orang) Persentase (%)

1. Rendah (7-10) 17 41

3. Tinggi (11-17) 25 59

Jumlah 42 100

Tabel 27 menunjukkan bahwa 17 orang (41%) anggota kelompok tani yang menyatakan peran kelompok tani dalam unit produksi tergolong rendah dan anggota kelompok tani yang menyatakan bahwa peran kelompok tani dalam unit produksi tinggi sebanyak 25 orang (59%). Dapat dikatakan bahwa persepsi tentang tingkat unit produksi Desa Awolagading menurut anggota kelompok tani sudah tergolong tinggi karena anggota kelompok tani dapat mengambil keputusan dalam menentukan pengembangan produksi yang menguntungkan, sebagian besar anggota telah ikut menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan bersama, sebagian besar telah mendapatkan fasilitas penerapan teknologi, telah menjalin kerjasama dan kemitraan terkait dalam pelaksanaan usahatani, dan ikut meningkatkan kesinambungan produktivitas usahatani.

Secara umum dari hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa pengurus kelompok tani Desa Awolagading telah menjalankan tugasnya sesuai dengan perannya dalam unit produksi karena adanya persamaan beberapa persepsi antara pengurus dan anggota kelompok tani.

Jumlah Keseluruhan Skor Peran Kelompok Tani Menurut Persepsi Pengurus Kelompok Tani

Adapun jumlah skor keseluruhan pengurus kelompok tani di Desa Awolagading dapat dilihat pada Tabel 28.

Tabel 28. Jumlah Skor Peran Kelompok Tani Menurut Persepsi Pengurus Kelompok Tani di Desa Awolagading, Kecamatan awangpone, Kabupaten Bone, 2017.

No. Skor Interval Jumlah Responden

(orang) Persentase (%)

1 Rendah (27-40) 0 0

2 Tinggi (41-54) 18 100

Jumlah 18 100

Tabel 22 menunjukkan bahwa semua pengurus kelompok tani menyatakan peran kelompok tani tergolong tinggi sebanyak 18 orang (100%). Dapat dikatakan bahwa persepsi tentang peran kelompok tani di Desa Awolagading menurut pengurus kelompok tani sudah tergolong tinggi.

Jumalah Keseluruhan Skor Peran Kelompok Tani Menurut Persepsi Anggota Kelompok Tani

Adapun jumlah skor keseluruhan anggota kelompok tani di Desa Awolagading dapat dilihat pada Tabel 29.

Tabel 29. Jumlah skor Peran Kelompok Tani Menurut Persepsi Anggota Kelompok Tani di Desa Awolagading, Kecamatan awangpone, Kabupaten Bone, 2017.

No. Skor Interval Jumlah Responden

(orang) Persentase (%)

1 Rendah (27-40) 17 41

2 Tinggi (41-54) 25 59

Jumlah 42 100

Tabel 29 menunjukkan bahwa 17 orang (41%) anggota kelompok tani yang menyatakan peran kelompok tani tergolong rendah dan anggota kelompok tani yang menyatakan bahwa peran kelompok tani tergolong tinggi sebanyak 25 orang (59%). Secara umum dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi tentang peran kelompok tani di Desa Awolagading menurut anggota kelompok tani sudah tergolong tinggi dengan jumlah petani 25 orang (59%) dari jumlah sampel peneliti.

Berdasarkan penelitian dilapangan peran kelompok tani yang ditinjau tiga aspek tolak ukur yaitu kelas belajar, wahana kerjasama, dan unit produksi, setiap aspek mempunyai daftar pertanyaan dan skor pada setiap pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Berdasarkan hasil skoring persepsi pengurus dan anggota kelompok tani sama. Walaupun ada 17 orang yang tidak aktif dalam kelompok tani.

5.3 Hubungan antara Peran Kelompok Tani Terhadap Produktivitas

Peranan kelompok tani sangat mempengaruhi produktivitas usahatani padi karena dengan dilaksanakannnya peran sesuai dengan fungsinya maka produktivitas bisa meningkat, selain itu dapat juga mempengaruhi pendapatan usahatani. Adapun hasil produktivitas tanaman padi di desa Awolagading dapat dilihat pada table 30 :

Tabel 30. Produktivitas Tanaman Padi di Desa Awolagading, Kecamatan awangpone, Kabupaten Bone, 2017.

No.

Tingkat Produktivitas

Petani (Kg)

Jumlah Persentase (%)

1 Rendah (40-55) 34 57

3 Tinggi (56-70) 26 43

Jumlah 60 100

Tabel 30 menunjukkan bahwa kelompok tani di Desa Awolagading berada pada kriteria rendah yaitu dengan skor interval 40 - 55 dengan jumlah 34 orang atau sebesar 57%. Sementara yang tinggi dengan skor 56 - 70 dengan jumlah 26 orang dengan sebesar 43%. Secara umum dari hasil penelitian ini dapat di simpulkan bahwa tingkat produktivitas petani di kelompok tani di Desa Awangpone tergolong rendah dengan jumlah persentase sebanyak 57% responden dari jumlah sampel penelitian.

Hal ini dikarenakan masih kurangnya antusias mereka terhadap inovasi dan motivasi dunia pertanian. Petani yang memiliki motivasi keberhasilan kuat akan selalu menerima kritik dan saran dari luar, serta telah mempersiapkan diri secara matang tentang hal-hal yang akan terjadi di lapangan. Semakin kuat motivasi keberhasilan petani, maka semakin tinggi produktivitas petani menggarap lahan pertanian. Dalam hal ini tingkat pendidikan juga berpengaruh, rata-rata pendidikan petani yang tergabung dalam kelompok tani di Desa Awolagading memiliki pendidikan yang masih rendah yaitu hanya sampai pada tingkat sekolah dasar (SD) bahkan ada yang tidak mengenyam pendidikan sama sekali.. Selain itu hal yang menyebabkan produktivitas petani masih tergolong rendah disebabkan oleh kelompok tani itu sendiri, menurut responden pengurus

inti kelompok tani tidak membagikan bantuan yang diperoleh secara merata pada anggota kelompok tani. Jenis tanah juga sangat mempengaruhi produktivitas usahatani di Desa awolagading, kondisi tanah di daerah tersebut juga sangat berbeda-beda.

Dalam penelitian ini hubungan antara peran kelompok tani dalam produktivitas petani responden kelompok tani di Desa Awolagading secara umum dibagi menjadi tiga kategori yaitu kategori rendah, sedang, dan tinggi. Peranan kelompok tani di Desa Tosora dapat dilihat pada Tabel 31.

Tabel 31. Hubungan Peran Kelompok Tani terhadap Produktivitas Tanaman Padi Petani di Desa Awolagading, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone 2017.

Produktivitas Tanaman Padi Total

Rendah Tinggi

Pengurus Kelompok

Tani

Rendah 13 5 18

22% 8% 30 %

Tinggi 15 27 42

25% 45% 70 %

Total 28 32 60

47% 53% 100%

Berdasarkan hasil analisis uji Chi-Square dengan bantuan aplikasi Spss IBM 24 diperoleh nilai Pearson Chi-Square X2 hitung sebesar 8,466.

Dengan taraf kepercayaan α: 10%. Yang berarti nilai X2 hitung lebih besar dari pada X2 tabel (8,466 < 7,779). Dengan demikian maka Ho diterima dan Ha ditolak. Dari analisis data di lapangan bahwa ada hubungan yang signifikan antara peran kelompok tani dengan produktivitas tanaman padi di Desa Awolagading, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone.

Peran kelompok tani dan produktivitas tanaman padi sangat berhubungan. Petani yang ikut bergabung kedalam kelompok tani dapat memperoleh sarana produksi dengan mudah, seperti bibit, pupuk, dan bantuan insentif.

“Kami sering mendapatkan bantuan bibit padi empari yang menghasilkan produktivitas yang tinggi, selain itu kami juga mendapatkan bantuan berupa uang untuk membeli pupuk”.

(Basriadi, wawancara, Agustus, 2017).

“Jika menggunakan bibit empari biasanya menghasilkan produksi sebesar tujuh ton/hektar. Jika menggunakan bibit ciliwung hanya menghasilkan produksi sebesar empat ton/hektar” (Darisa, Wawancara, Agustus, 2017).

Dokumen terkait