• Tidak ada hasil yang ditemukan

REPORTASE

dari asesmen yang telah dilakukan, dapat digunakan sebagai acuan bagi guru dalam menetapkan materi pembelajaran selanjutnya, berdasarkan kompetensi rata-rata kelas yang didapatkan dari hasil asesmen diagnosis.

Dr. Rahmawati menjelaskan ada lima prinsip asesmen yang harus dipenuhi oleh guru baik pada saat terjadi pandemi maupun n o r m a l k e m b a l i . D e n g a n b e r v a r i a s i n y a k o n d i s i p e m b e l a j a r a n y a n g s e d a n g dilakukan di masa pandemi ini, g u r u d i h a r a p k a n t e t a p memperhatikan lima prinsip asesmen yang perlu dicapai, yaitu:

Valid. Menilai sesuai tujuan serta menilai kompetensi yang akan dinilai. Misalnya, jika ingin mengukur kemampuan matematika maka soal yang digunakan adalah soal yang mengukur kemampuan matematika. Jika ingin mengukur kemampuan membaca, maka soal yang digunakan harus mengukur kemampuan membacanya, bukan soal yang lebih mengukur tentang wawasan umumnya.

R e l i a b l e a t a u k o n s i s t e n . Bagaimanakah agar asesmen itu reliable? Salah satu syaratnya

adalah kriteria penilaian serta hasil yang diharapkan dapat diberikan secara jelas dan dipahami oleh pihak yang akan dinilai. Apa yang diharapkan oleh guru, itu juga yang h a r u s t e r l i h a t k e t i k a g u r u m e m b e r i k a n a s e s m e n a t a u penugasan kepada siswa.

Misalnya guru mengharapkan siswa mengerjakan tugas secara mandiri saat belajar di rumah, n a m u n g u r u m e m b e r i k a n penugasan dalam bentuk google form. Guru tidak dapat mengawasi s e c a r a m a k s i m a l s a a t s i s w a mengerjakan tugas melalui google form, serta tidak dapat memastikan a p a k a h s i s w a m e n g e r j a k a n tugasnya secara sendiri atau dibantu oleh orang lain. Penugasan seperti ini terlihat tidak konsisten antara kriteria penilaian dengan hasil yang diharapkan. Contoh l a i n n y a a d a l a h s a a t g u r u menginginkan anak-anak bercerita mengenai kondisi emosinya saat i n i , n a m u n p e r t a n y a a n y a n g diberikan kepada siswa adalah:

“ c e r i t a k a n h a l y a n g m e n y e n a n g k a n ! ” P e r t a n y a a n seperti ini menyebabkan kriteria penilaian dan informasi yang guru harapkan dari siswa menjadi tidak s e s u a i , s e h i n g g a t i d a k a k a n menghasilkan prinsip reliabel.

Agar menjadi reliable, pertanyaan guru bisa diganti dengan “Apa yang kamu rasakan?”

Adil. Prinsip adil menjadi sangat utama ketika masa pandemi seperti ini. Adil berarti tidak merugikan siswa tertentu, bersifat terbuka, dan obyektif. Contohnya seperti kasus penugasan yang meminta siswa mengerjakan tugas melalui google form. Dalam hai ini, sebaiknya guru mempertimbangkan kemungkinan ada siswa yang kesulitan membeli kuota, karena orang tuanya terkena PHK, di rumahkan tanpa gaji, atau gajinya dipotong. Prinsip adil ini p e n t i n g a g a r a s e s m e n d a p a t dilakukan dan tetap mengakomodir semua siswa di masa pandemi ini.

Fleksibilitas. Mengakomodir pengelolaan yang adaptif terhadap perubahan situasi. Dalam hal ini g u r u h a r u s m e l i h a t k o n d i s i siswanya. Jika kondisi siswanya beragam maka asesmen yang dilakukan tidak mungkin hanya dengan menggunakan satu cara.

Asesmen harus bersifat adaftif dan mengakomodir berbagai macam kondisi siswa termasuk perubahan situasi yang terjadi.

Umpan Balik. Pemberian umpan balik bertujuan untuk memberikan i n f o r m a s i m e n g e n a i t i n g k a t capaian kompetensi dan aspek k o m p e t e n s i y a n g d a p a t ditingkatkan. Asesmen diagnosis berkala di awal pembelajaran d i l a k u k a n k a r e n a i n g i n memberikan umpan balik terhadap pembelajaran itu sendiri. Asesmen tidak cukup hanya menghasilkan nilai, memberikan skor pada siswa, atau memberikan predikat A, B, C, dan setelah itu selesai. Tujuan penting dalam sebuah asesmen adalah mendapatkan informasi m e n g e n a i k e l e b i h a n d a n kekurangan siswa, mengenai bagaimana agar siswa bisa menjadi lebih baik, dan hal itulah yang kemudian direfleksikan pada

REPORTASE

pembelajaran selanjutnya.

Penjelasan selanjutnya dari materi ini yaitu paparan Dr.

R a h m a w a t i , M . E d y a n g m e n y a t a k a n b a h w a u n t u k memastikan semua prinsip asesmen t e r p e n u h i , g u r u d a p a t menggunakan tabel checklist untuk guru seperti pada Gambar 1.

Tabel yang berwarna hijau pada gambar 1 adalah checklist yang penting dilakukan oleh guru untuk mengakomodir prinsip asesmen, dimulai dari sasaran asesmennya s i a p a , t o p i k n y a a p a , w a k t u pelaksanaan asesmennya kapan, m a u d i m a n a m e l a k u k a n n y a ,

bagaimana caranya melakukannya dan lebih detail persiapannya seperti apa. Penjelasan dan paparan t e l a h d i l e n g k a p i d e n g a n memberikan contoh pengisian checklist untuk guru matematika kelas V SD.

S e l a n j u t n y a R a h m a w a t i memberikan penjelasan mengenai penyusunan instrumen asesmen dengan disertai paparan seperti pada gambar 2. Tabel berwarna hijau pada gambar 2 (checklist untuk guru) menjadi checklist p e n t i n g b a g i g u r u u n t u k menentukan kemampuan dan topik apa yang hendak diukur. Setelah itu

menentukan pengetahuan dan k e m a m p u a n a p a y a n g h a r u s d i k u a s a i o l e h s i s w a s e b a g a i prasyarat untuk dapat mengikuti pembelajaran di topik selanjutnya.

Contoh diberikan untuk mata pelajaran matematika kelas V SD.

Pada saat akan melakukan asesmen d i a w a l p e m b e l a j a r a n , g u r u menentukan topik dan KD untuk matematika kelas V SD, lalu menentukan pengetahuan dan kemampuan yang harus dikuasai t e r l e b i h d a h u l u s e b e l u m melanjutkan ke topik dan KD di kelas 5 tersebut. Hal ini dilakukan karena guru ingin mendiagnosis

Gambar 1. Ceklis untuk Guru

Gambar 2. Menyususun Instrumen Asesmen

REPORTASE

k e m a m p u a n s i s w a s e b e l u m memulai topik yang baru di kelas 5.

Tabel rencana penyusunan 10 soal yang akan digunakan untuk asesmen, dapat dilihat pada paparan materi di gambar 2 sebelah kanan.

Apakah harus 10 soal? Ini tidak wajib. Contoh yang diberikan pada gambar 2 bukan merupakan resep baku, hanya saja kadang-kadang perlu ada resep yang sifatnya detail, s t e p b y s t e p n y a a d a , d a n memberikan gambaran untuk tindak lanjut yang lebih jelas. Pada p r a k t i k n y a g u r u d a p a t memodifikasi dan menyesuaikan dengan tujuan melakukan asesmen dan kondisi kelasnya masing-m a s i n g , k a r e n a g u r u l e b i h mengetahui keunikan siswanya.

Jika guru merasa siswa di kelasnya sudah cukup dengan 7 soal, maka guru memiliki otoritas untuk tidak perlu membuat 10 soal. Untuk penyusunan instrumen asesmen, jumlah soal, komposisi, keluasan topik disesuaikan dengan tujuan g u r u m e l a k u k a n a s e s m e n . Pemilihan topik yang luas atau spesifik (misalnya guru ingin melakukan asesmen untuk topik bilangan dulu, lalu setelah itu topik geometri) itu menjadi keluwesan dari guru kelas masing-masing.

Disinilah letak prinsip fleksabilitas dan adil.

Pada materi ini Rahmawati memberikan pula beberapa poin p e n t i n g d a l a m p e n y u s u n a n i n s t r u m e n t a s e s m e n , y a i t u : Pertama, bahwa skenario apapun yang dilakukan oleh guru, jangan

lupa untuk memastikan checklist guru (tabel sebelah kiri berwarna hijau) telah diisi dan dilakukan dengan baik. Menentukan topik dan prasyarat kemampuannyanya seperti apa, menentukan cara paling aman yang dapat mengakomodir semua ragam siswa, tetap menjadi prinsip utama yang harus dipenuhi dalam melaksanakan asesmen.

Kedua, ketika guru mengkurasi atau menyusun sendiri soal-soal, baik yang ada di buku teks, LKS, website atau di link manapun.

Pastikan bahwa setiap soal yang dipilih akan memberikan informasi t i n g k a t p e m a h a m a n s i s w a . P e n j e l a s a n p o i n k e d u a i n i dilengkapi dengan contoh soal seperti pada gambar 3a dan 3b.

Contoh soal pada gambar 3a berisi pertanyaan: Persegi panjang manakah yang 1/3 bagiannya di arsir? Jawaban benar untuk soal ini adalah opsi jawaban B. Saat menyusun soal, opsi jawaban C b u k a n h a n y a j a w a b a n y a n g disimpan begitu saja sebagai jawaban salah, karena sebenarnya ada skenario di balik penentuan opsi jawaban itu. Jika siswa memilih jawaban C artinya siswa hanya tahu bahwa 1/3 itu adalah 1 bagian diarsir dari 3 bagian yang ada, dengan demikian sebenarnya siswa tidak faham bahwa 3 bagian itu harus sama besarnya. Jadi, saat siswa menjawab C, ada kesalahan konsep dalam memahami materi.

Jika siswa memilih jawaban D, maka siswa mengatakan bahwa 1/3 itu adalah 1 bagian yang di arsir dan

3 bagian yang tidak di arsir. Soal-soal seperti inilah yang akan memberikan informasi yang tajam kepada guru untuk tindak lanjutnya.

Jika guru membuat opsi jawaban tanpa skenario, maka ketika guru i n g i n m e n i n d a k l a n j u t i h a s i l asesmen tersebut akan mengalami kesulitan.

Gambar 3b juga merupakan contoh soal yang baik untuk mendeskripsikan adanya skenario di balik setiap penyusunan opsi jawaban. Pada contoh soal 3b, jawaban benarnya adalah C yang merupakan hasil perhitungan dari 30 dibagi 5. Saat menyusun opsi jawaban, dibuat skenario ada kemungkinan siswa tidak paham sehingga memilih opsi jawaban A (30 ditambah 5), opsi jawaban B (30 dikurangi 5), atau opsi jawaban D jika ada siswa yang salah k o m p u t a s i s a a t m e l a k u k a n perhitungan (30 dibagi 5 adalah 5).

Setiap jawaban salah yang dipilih oleh siswa akan memberikan diagnosis yang berbeda, dan akan berimbas pada rencana tindak lanjut yang berbeda pula.

Dr. Rahmawati menambahkan bahwa untuk memahami soal-soal seperti ini memang memerlukan pengamatan yang jeli dari guru, o l e h k a r e n a i t u P u s m e n j a r berkolaborasi dengan tim Prof.

Dinn Wahyudin dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung menyusun 8 modul yang berisi

menyediakan tindak lanjutnya.

M o d u l i n d i h a r a p k a n d a p a t m e n g i n s p i r a s i p e n y u s u n a n instrument asesmen mata pelajaran lainnya. Dalam modul diberikan penjelasan dari beberapa soal dan o p s i j a w a b a n y a n g d i p i l i h . Misalnya untuk soal pada gambar 3b, dijelaskan artinya jika siswa memilih opsi jawaban A, dimana letak kesalahan pemahaman siswa, dan bagaimana tindak lanjut yang dapat dilakukan oleh guru untuk menguatkan konsep materi agar siswa memahami materi secara utuh.

Ketiga, menyusun pertanyaan membentuk lintasan kemampuan yang kontinyu. Pada saat menyusun instrumen untuk sebuah asesmen, skenario tidak hanya dibuat untuk setiap soalnya. Setiap soal yang akan digunakan dalam asesmen tersebut disusun dengan skenario tertentu dan dirangkai menjadi satu tes yang utuh. Dr. Rahmawati menjelaskan poin ini melalui 3 contoh soal pada gambar 4. Saat guru menemukan ada siswa yang menjawab salah untuk contoh soal 4c (tentang kereta api), guru perlu mencari tahu apakah kesalahan disebabkan literasi membaca siswa y a n g r e n d a h a t a u k a r e n a kemampuan matematikanya yang masih bermasalah. Sehingga saat siswa tidak memahami kalimat-kalimat atau kata-kata dalam soal tersebut mewakili tanda tambah atau tanda kurang, maka perlu ada s k e n a r i o m u n d u r. J i k a g u r u menginginkan siswanya dapat

menjawab soal 4c namun ternyata siswanya tidak dapat menjawab d e n g a n b e n a r, k e m u n g k i n a n s i s w a n y a t i d a k b i s a m e m f o r m u l a s i k a n k a l i m a t k e s e h a r i a n m e n j a d i k a l i m a t matematika. Maka munculah soal 4b dimana siswa diminta memilih formula matematika yang tepat untuk merepresentasikan suatu masalah yang berbentuk narasi.

Seandainya siswa masih belum

dapat menjawab dengan benar soal 4b, maka ada soal yang benar-benar mengukur kemampuan siswa d a l a m p e n j u m l a h a n d a n pengurangan, yaitu soal 4a yang tidak ada campuran pengetahuan literasi membaca atau kemampuan membaca di dalam soal tersebut. Ini menjadi poin penting pada saat guru ingin menyusun sendiri soal-soal asesmen sederhana yang akan guru sajikan di awal pembelajaran.

G a m b a r 5 m e n u n j u k k a n paparan Dr. Rahmawati yang menjelaskan mengenai poin yang terakhir dalam prinsip asesmen, yaitu mengenai umpan balik dan t i n d a k l a n j u t . Ti n d a k l a n j u t disesuaikan dengan aspek yang dinilai pada saat asesmen. Tindak lanjut pembelajaran mencerminkan tindakan yang relevan dengan kondisi setiap siswa, akomodatif dan fleksibel. Jika asesmen telah

dilakukan dan hasilnya telah diketahui, maka umpan balik dan bagaimana tindak lanjutnya harus segera ditentukan. Pada gambar 5 diilustrasikan bahwa dari nilai rata-rata kelas, guru dapat mengambil kesimpulan. Nama siswa pada tabel adalah siswa yang sudah naik ke kelas 5, namun apabila rata-rata kelasnya berada pada kemampuan kelas 4, maka sebelum melanjutkan ke materi kelas 5, pembelajaran dilakukan menggunakan materi kelas 4 terlebih dahulu. Jika ada

4a 4b 4c

Gambar 5. Rencana tindak lanjut

Gambar 4. Contoh Soal

REPORTASE

s i s w a y a n g h a s i l n y a s a n g a t tertinggal jauh, maka siswa tersebut dapat mengikuti remedial terlebih dahulu untuk materi yang tertinggal (atau bisa dengan dititipkan ke guru di kelas bawahnya), sedangkan siswa yang hasilnya tertinggal sedikit dapat dilakukan kelas tambahan yang dilakukan bersama dengan guru kelasnya. Selain itu sangat memungkinkan bagi guru untuk melakukan elaborasi dengan pihak-pihak lain yang relevan untuk melakukan remedial yang intensif khususnya pada anak-anak yang mendapatkan hasil sangat tertinggal jauh.

Asesmen diagnosis di awal pembelajaran ini merupakan suatu siklus yang dilakukan secara berkala seperti yang ditunjukkan pada paparan materi di gambar 6.

Jika hanya dilakukan sesekali maka tidak akan pernah memadai. Siklus d i m u l a i d e n g a n ( 1 ) G u r u melakukan asesmen diagnosis pada awal pembelajaran topik yang baru;

(2) Guru mendiagnosa hasilnya lalu ( 3 ) G u r u m e n y e s u a i k a n pembelajaran dengan kemampuan dan peningkatan rata-rata siswa di kelas, begitu seterusnya sampai semua siswa berada pada level yang kita harapkan. Prinsip asesmen ini

s e b e n a r n y a p r i n s i p umum yang tidak hanya dimanfaatkan pada saat pandemi tapi juga di m a s a y a n g s u d a h normal. Tindak lanjut a s e s m e n a k a n kembali terhadap hasil pembelajaran tersebut.

Sehingga asesmen perlu d i l a k u k a n s e c a r a berkelanjutan, berkala, dan konsisten sampai m e m a s t i k a n s e m u a siswa tidak ada lagi yang tertinggal.

Pada seminar virtual ini, selain memperkenalkan hal-hal bersifat i n s p i r a s i s e p e r t i y a n g t e l a h d i s a m p a i k a n p a d a m a t e r i paparannya, Dr. Rahmawati juga memperkenalkan beberapa produk lainnya yang telah dikembangkan oleh Pusmenjar. Produk-produk yang telah dikembangkan dapat langsung digunakan oleh guru, diantaranya adalah:

A K S I s e k o l a h l i t e r a s i d a n numerasi jenjang SD, untuk melatih literasi dan numerasi siswa jenjang SD/MI yang dapat diakses melalui laman . Guru hanya perlu online ketika mengunduh, setelah itu aplikasi dapat digunakan d i g u n a k a n s e c a r a o ffl i n e k e sebanyak mungkin siswa. Di dalam aplikasi ini, disediakan tes yang b e r s i f a t a d a f t i f y a n g d a p a t digunakan untuk mendeteksi level siswa. Setelah guru mengetahui posisi level siswa dikelasnya dan ingin melakukan tindak lanjut pembelajaran, disediakan pula soal-soal yang bersifat formatif yang dapat digunakan disesuaikan dengan materi pembelajarannya.

J i k a g u r u m e r a s a s o a l y a n g disediakan di dalam aplikasi belum atau tidak sesuai dengan kebutuhan maka guru dapat membuat atau menyusun sendiri soal-soalnya sendiri secara manual (bukan pada aplikasi) dengan prinsip-prinsip yang sudah ditayangkan di video, buku saku atau infografis.

AKSI membaca digital untuk j e n j a n g S D , S M P , d a n SMA/SMK yang dapat diakses Gambar 6. Asesmen dilakukan secara berkala

REPORTASE

melalui secara online ataupun offline (diunduh terlebih dahulu, kemudian diakses secara offline) m e l a l u i l a m a n h p://aksi.puspendik.kemdikbu d . g o . i d / m e m b a c a d i g i t a l /. Aplikasi ini berisi bacaan-bacaan baik berupa teks informasi maupun teks sastra untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Pada AKSI membaca digital ini terdapat wacana dan pertanyaan-pertanyaan pemantik.

Aplikasi ini dapat digunakan untuk self diagnosis dimana siswa dapat mengukur sendiri kemampuannya karena di bagian akhir setelah siswa selesai mengerjakan soal, siswa akan melihat hasil pekerjaannya d i s a n d i n g k a n d e n g a n k u n c i jawabannya.

Game matematika untuk jenjang SD, untuk menarik agar siswa senang dengan matematika dengan cara permainan. (Trailer dapat d i l i h a t p a d a l a m a n : https://s.id/DesatikaTrailer).

A p l i k a s i g a m e D e s a t i k a

“ m e m b a n g u n d e s a d e n g a n matematika” disajikan seperti permainan lainnya. Pemain ingin memiliki desa yang memiliki sarana dan prasarana lengkap seperti sekolah, jembatan, gedung-gedung, rumah yang bagus, atau sarana lainnya, tetapi semua itu hanya bisa dibangun menggunakan koin dan diamond yang dapat d i p e r o l e h d e n g a n c a r a m e n y e l e s a i k a n s o a l - s o a l matematika. Aplikasi dapat di u n d u h m e l a l u i l a m a n https://s.id/Desatika.

Pusmenjar melengkapi dengan produk lainnya berupa buku saku, video dan infografis mengenai m a t e r i m e n g e n a i a s e s m e n diagnosis berkala. Buku saku dapat d i a k s e s m e l a l u i l a m a n https://bersamahadapikorona.kemd ikbud.go.id/buku-saku-asesmen-k o g n i t i f - b e r ikbud.go.id/buku-saku-asesmen-k a l a / , d a n j u g a i n f o g r a fi s p a d a l a m a n https://bersamahadapikorona.kemd ikbud.go.id/panduan-asesmen-di-awal-pembelajaran/.

Referensi

https://bersamahadapikorona.kemd i k b u d . g o . i d / a s e s m e n -diagnosis-berkala/

https://bersamahadapikorona.kemd i k b u d . g o . i d / a s e s m e n -diagnosis-berkala/

https://www.youtube.com/watch?v

=rXeZkiocZP0&t=7855s http://pusmenjar.kemdikbud.go.id http://litbang.kemdikbud.go.id/aca

ra-detail/34

https://bersamahadapikorona.kemd ikbud.go.id

REPORTASE

T

ahun ajaran baru 2020/2021 telah dimulai sejak tanggal 13 Juli 2020. Meskipun demikian, kegiatan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan masih belum dilakukan khususnya di jenjang pendidikan SD sederajat untuk wilayah kota Bandung Jawa Barat.

H a l i n i t e r k a i t p e n c e g a h a n penyebaran dan penularan Covid-1 9 d i l i n g k u n g a n s a t u a n pendidikan. Kota Bandung sampai saat ini masih dalam keadaan zona merah, maka dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan p e n d i d i k a n . P e m b e l a j a r a n dilakukan secara jarak jauh, atau yang kita kenal dengan istilah pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini d i d e fi n i s i k a n s e b a g a i p r o s e s pembelajaran yang tidak terbatas pada ruang dan waktu pembelajaran s e r t a b e r s i f a t m a n d i r i u n t u k mengembangkan kemampuan siswa dengan metode dan teknik maupun media dalam kegiatan pembelajaran.

Dalam rangka mendukung pelaksanaan PJJ, maka Pusat A s e s m e n d a n P e m b e l a j a r a n ( P u s m e n j a r ) m e l a k u k a n pengembangan aplikasi asesmen awal untuk jenjang SD sederajat berbasis android dengan bekerja sama dengan tim programmer dari PT. Media Kotak Pintar (MKP).

Aplikasi ini berisi konten literasi dan numerasi baik dikemas dalam

bentuk tes adaptif maupun tes formatif. Dengan hadirnya aplikasi ini, harapannya dapat memberikan a l t e r n a t i f b a g i g u r u d a l a m mengevaluasi pembelajaran atau melakukan asesmen awal kepada s i s w a d e n g a n p e m a n f a a t a n teknologi (gawai berbasis android).

Pemanfaatan teknologi dalam asesmen sangatlah dibutuhkan di dalam pelaksanaan PJJ karena memberikan kemudahan dalam penggunaannya, lebih efisien dan efektif, serta lebih menarik jika dibandingkan asesmen berbasis dokumen elektonik. Aplikasi asesmen yang diujicobakan dapat d i u n d u h m e l a l u i l a m a n https://s.id/aksisekolahsd.

Pada tanggal 28-30 Juli 2020, Pusmenjar telah melaksanakan uji coba aplikasi asesmen berbasis android ini di 4 Kota/Kabupaten di Jawa Barat, yakni Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Bandung.

Sebanyak 6 siswa di setiap satuan pendidikan yang menjadi sampel dalam uji coba ini, dimana setiap kelas diwakili oleh 1 siswa. Jumlah satuan pendidikan yang menjadi sampel uji coba ini sebanyak 24 s a t u a n p e n d i d i k a n j e n j a n g pendidikan SD. Pada saat uji coba, penulis bertugas melaksanakan ujicoba aplikasi asesmen berbasis android di Kota Bandung.

Pelaksanaan uji coba (28 Juli 2020) di awali dengan rapat koordinasi dinas pendidikan kota Bandung, kepala sekolah dan guru dari satuan pendidikan sasaran uji coba aplikasi asesmen. Satuan pendidikan yang menjadi sasaran uji coba di kota Bandung adalah SD Negeri 053 Cisitu, SD Negeri 095 Babakanjati, SD Negeri 118 Tanjung, SD Negeri 124 Hanura, SD Negeri 145 Binong Jati, dan SD

APLIKASI ASESMEN BERBASIS ANDROID

Dokumen terkait