• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Menegaskan Klaim dan Hubungan atas Tanah

Dalam dokumen KISAH KONFLIK ATAS RUANG DI TINGKAT LOKAL (Halaman 61-69)

Penguasaan tanah dengan reklaiming bukanlah akhir dari tujuan land reform, tetapi lebih jauh masuk kedalam membangun hubungan antara petani

dengan tanah sebagai aktifitas sosialnya lewat penatagunaan lahan disisi lain

ketimpangan penguasaan lahan juga diakibatkan oleh kapasitas setiap aktor

termasuk yang berkonflik, seperti di Uraso penguasaan tanah warga yang telah dikelola secara turun temurun dan tidak adanya ganti rugi lahan oleh PTPN XIV

karena masih minimnya pengetahuan dan informasi yang masuk. Penguatan

masyarakat dalam memahami konflik menjadi bagian utama yang dibutuhkan

dalam menopang berjalannya penguasaan tanah warga. Pada tahun 2010 dilakukan pendidikan hukum kritis, Tujuan dari pelaksanaan Pendidikan Hukum Kritis dan Analisa Kebijakan ini adalah Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang hukum Memberikan bekal dan membangun sikap kritis masyarakat terhadap hukum/kebijakan yang tidak berpihak17, pada tahun yang sama diadakan pelatihan pusat informasi kampung dan sms gateway di kampung liku dengen selain itu juga dilakukan pelatihan politik Agraria. Selain itu untuk memperkuat klaim dan hubungan atas tanah dilakukanlah pemetaan partisipatif

Tahun 2010 warga Desa Uraso bersama perkumpulan Wallacea melakukan pemetaan partisipatif sebagai bagian dari Strategi Land Reform Komunitas

Masyarakat Tabang Desa Uraso. Pemetaan partisipatif didefinisakan sebagai

62

Politik Ruang dan Perlawanan:

Kisah K

onflik atas Ruang di T

ingkat L

okal

gerakan sosial yang yang menggunakan strategi pemetaan ( ilmiah ) untuk

mengembalikan masyarakat pada peta geografis dalam menyatakan klaim teritorial yang permanen dan spesifik atas sumber daya alam (Menuju

demokratisasi pemetaan). Pemetaan wilayah desa Uraso menjadi bagian penting dalam membangkitkan kepekaan komunitas terhadap permasalahan wilayah pengelolaan sumber daya alam, sebagai alat untuk perencanaan tata ruang dan pengelolaan sumberdaya alam serta menambah kapasitas Masyakat untuk berkomunikasi dengan pihak luar untuk memperoleh pengakuan hak atas wilayah dan Pengelolaan Sumber Daya alamnya baik secara Hukum maupun Politik ( Dokumen Pemetaan Partisipatif).

Dalam teorinya pemetaan partisipatif digunakan untuk mengembalikan

masyarakat pada peta geografis dalam menyatakan klaim teritorial yang permanen dan spesifik atas sumber daya alam. Pemetaan partisipatif Desa

Uraso membuat masyarakat mendalami wilayah mereka sampai menentukan batas batas wilayah, terintegrasinya kontrak sosial antara masyarakat selain itu pemetaan partisipatif mempermudah mendokumentasikan dan menjaga sumber

63

Dinamika Per

ebutan T

anah Rakyat

daya alam yang ada, Peta tersebut menjadi dasar rencana terintegrasinya perencanaan tata ruang dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Berdasarkan Hasil Pemetaan Partisipatif, Luas keseluruhan Wilayah Uraso 3.141,59 Ha dengan

rincian dalam tabel berikut :

Tabel Pola penataan Ruang desa Uraso Luas (Ha)

Bekas persawahan 3,55 Benteng / bekas pertahanan Rakyat 4,41

HGU inti Perkebunan sawit 1.342,8

HGU inti yang ditanami coklat 212,48

Hutan 403,37

Kebun coklat masyarakat 433,37 Kebun masyarakat 393,4 Kebun sawit (Plasma) 172,04 Kebun sawit mandiri 22,74 Lapangan bola 1,61 Umbong/kolam ikan 22,41 Pemukiman 42,1 Persawahan 45,34 Sagu 8,27 Total 3.141,59

Sementara itu sumber penghasilan utama masyarakat dari hasil kebun coklat

dan buah – buahan berupa : Durian, Rambutan, Lansat, sagu serta sumber daya lain berupa Rotan, Madu, Kayu ± 90 – 95 % berada diwilayah HGU PTPN XIV dan

Kawasan Hutan Lindung. Sementara itu potensi lain berupa Kayu Langi (sejenis tanaman langkah yg bisa dijadikan shampoo), Air terjun, sungai, dan lain lain.

Produk hukum Negara yang membentuk Politik Ruang yang tidak kondusif telah menciptakan berbagai bentuk “konflik” penataan ruang dan “ketidakpastian”

Tata Kuasa dan Tata Pengelolaan lahan, Sebagaimana diamanatkan dalam UU

Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang khususnya Pasal 60, 61, 65 dan 67 yang menyangkut : Hak, Kewajiban dan Peran serta Masyarakat dimana

masyarakat diharapkan untuk ikut berpartisipasi secara aktif dalam Penyusunan, Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang. Olehnya itu peran aktif masyarakat dalam merencanakan Pemanfaatan ruang wilayahnya menjadi hal

64

Politik Ruang dan Perlawanan:

Kisah K

onflik atas Ruang di T

ingkat L

okal

yang sangat strategis disamping karena menyangkut wilayah hidup mereka pun karena merekalah yang paling tahu dan memahami wilayahnya. Upaya ini juga dimaksudkan untuk memberikan landasan normatif bagi Pemerintah, dan masyarakat dalam penataan ruang. Hal ini tidak sekedar menyangkut hal teknis zonasi ruang akan tetapi juga sebagai sebuah langkah politik ruang yang membebaskan, yakni melenyapkan monopoli kelas kapitalis atas ruang dan alat produksi, dengan rencana keruangan dari skala paling konkrit produksi ruang yang lebih riil dan dikuasai serta dimanfaatkan secara langsung bagi masyarakat

Perencanaan tata ruang di desa Uraso meliputi tiga kampung yang masuk dalam

kawasan hutan dan areal HGU PTPN XIV menjadi bagian dari strategi land Reform selanjutnya setelah pemetaan partisipatif, warga Desa Uraso bersama LSM pendamping melakukan loka karya perencanaan kampung pada bulan maret 2010, Land reform bukan hanya pendistribusian lahan tetapi masuk dalam upaya upaya lebih lanjut membangun integrasi masyarakat dengan lahan yang dikuasainya. Perencanaan kampung merupakan upaya meletakkan mimpi besar visi ‘Kebersamaan dalam Memanfaatkan Sumber Daya Alam Secara Swakelola/

Mandiri Untuk Mencapai Kesejahteraan Masyarakat’18

Penataan ruang di Desa Uraso difokuskan pada Kampung Likudengen, Kampung Katimbangan dan Kampung Tuwu. Penataan wilayah ini secara garis besar dibagi

dalam; 1. Wilayah Budidaya; 2. Wilayah Perlindungan, dan 3. Wilayah Pusat Aktivitas. Selain ketimpangan Penguasaan tanah PTPN XIV terhadap wilayah

kelola masyarakat dan menghilangkan kesempatan masyarakat untuk sejahtera, juga mengakibatkan hilangnya situs-situs sejarah, hancur dan Punahnya

tanaman Lokal seperti sagu dan kayu langkah seperti; kayu langi serta dengen

bahkan budaya kebersamaan masyarakat / gotong royong semakin berkurang.

Dalam dokumen tata ruang perencanaan tiga kampung tersebut wilayah atau kawasan budidaya menjadi prioritas utama dalam desain. Penataan wilayah budidaya dan Produksi serta pemanfaatan hasil hutan baik yang sedang sedang digarap, wilayah produksi kayu, rotan, lebah, madu, bambu, aren, sagu, infrastruktur (sarana dan prasarana), 3. kelembagaan ekonomi, sumber daya manusia, sementara mengenai masalah ketimpangan penguasaan tanah oleh

PTPN XIV ( dokumen perencanaan Uraso ), Dokumen ini menunjukkan bahwa dalam setiap konflik agraria masalah ekonomi menjadi motif pemicu perlawanan

sekaligus sebagai hal yang dinginkan untuk diwujudkan segera dalam proses

65

Dinamika Per

ebutan T

anah Rakyat

perlawanan Dekatnya hubungan masyarakat dengan tanah akan menguatkan masyarakat dalam mempertahankan lahan yang dikuasainya hal ini menjadi bagian dari terintegrasinya masyarakat dengan tanah merupakan bagian utama dalam strategi land reform.

Penataan produksi telah berjalan di warga Kampung Tua Liku dengen, potensi ekonomi wilayah berupa kakao, durian, rambutan, langsat, sagu serta sumber daya lain berupa rotan, madu, dan kayu dengen juga mengembangkan usaha produktif lainnya. Saat ini masyarakat di kampung Tua liku dengen, katimbangan, dan kampung tuwu membentuk lembaga ekonomi untuk budidaya lebah hutan jenis trigona telah terbentuk dua kelompok kelompok Mitra Baru dengan mekar, Pengoptimalan lahan pekarangan jadi strategi penataan produksi untuk mendukung ekonomi keluarganya dengan menanami tanaman bernilai ekonomis, sayur sayuran dan buah-buahan dan dilakukan penanaman 1.500 bibit lada. Saat ini 5 (lima) KK yang menjadi pionir dalam memanfaatkan lahan, Meskipun hanya beberapa orang yang membudidayakan merica, namun upaya upaya tersebut dilakukan sebagai upaya membuktikan kepada masyarakat yang lain akan potensi wilayah yang bisa dimanfaatkan19.

Strategi land reform yang tidak terlalu frontal yang dilakukan warga desa Uraso bersama LSM pendamping memberikan kekuatan bagi warga kampung tua liku dengen, Dinas perkebunan dan dan kehutanan memberikan bantuan budidaya lebah madu Trigona, pengkrikilan jalan masuk kampung tua liku dengen. Upaya mengintegrasikan diri dengan wilayah yang dikuasai serta dikelola oleh masyarakat di Desa Uraso Khususnya kampung liku dengen terus berlangsung sampai saat ini

Kesimpulan

Konflik perebutan tanah antara masyarakat uraso dengan Koorporasi perkebunan PTPN XIV adalah hasil dari ketimpangan penguasaan tanah selalu

dijembatani dengan kebijakan pemerintah yang abai dengan kenyataan yang hidup di tengah tengah masyarakat lewat pencaplokan lahan warga dengan menggunakan kebijakan hukum formal yang biasanya dimanipulasi pada tingkat pelaksanaanya. Disatu sisi masyarakat yang kurang memahami aturan dijadikan kekuatan oleh koorporasi perkebunan untuk meneguhkan penguasaan tanah yang menyerobot hak-hak masyarakat. Kebijakan pemerintah yang dipaksakan

66

Politik Ruang dan Perlawanan:

Kisah K

onflik atas Ruang di T

ingkat L

okal

tersebut jika dicerna lebih mendalam menunjukan bahwa pemerintah hanya

memahami bahwa ruang adalah sesuatu yang bebas dari aktifitas sosial,

ekonomi dan budaya padahal pada kenyataannya ruang yang dirampas tersebut

adalah ruang dimana masyarakat tidak terpisah dari proses aktifitas sosial,

eknomi dan budaya mereka. Reklaiming bukanlah titik terakhir dalam menguasai lahan tetapi lebih jauh masuk membangun integrasi masyarakat dengan lahan yang dikuasainya.

Hilangnya tanah sebagai ruang hidup komunitas Adat Tabang desa Uraso telah melanggar hak dan menghilangkan sumber ekonmi mereka menjadi alasan kuat untuk melakukan reklaiming, mengambil kembali hak-hak mereka yang dirampas koorporasi perkebunan negara. Untuk meneguhkan posisinya dan mengintegrasikan hubungan mereka dengan tanah, Komunitas adat Tabang

memperkuat pemahaman mereka mengenai pemahaman konflik Agraria termasuk memahami konfilk yang mereka alami lewat pendidikan informal

selain itu perencanaan tata Ruang kampung dilakukan, mengelola lahan mereka menjadi agenda besar warga Liku Dengen meskipun sampai saat ini belum dikelola seoptimal mungkin. Hal itu dilakukan untuk mengintegrasikan diri masyarakat dengan tanah yang mereka miliki.

Untuk menegaskan klaim atas tanah miliknya maka komunitas masyarakat adat Tabang harus mengoptimalkan pemanfaatan dan pengelolaan tanah di kampung tua Liku dengen Desa Uraso yang telah di reklaiming agar semakin menguatkan hubungan dengan tanah yang mereka miliki. Komunitas masyarakat Tabang desa Uraso harus jeli dalam melakukan negosiasi dengan pemerintah baik dalam upaya pengakuan atas lahan dan mendorong pemerintah dalam memberikan bantuan terhadap kebutuhan masyarakat di Liku Dengen Uraso.

67

Dinamika Per

ebutan T

anah Rakyat

Daftar Pustaka

Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Luwu No : 129/II/kdl/1982 Tentang Penunjukan

Areal Tanah/Lahan Perkebunan Inti dan Plasma atau Perkebunan Inti Rakyat Untuk

Kelapa Sawit PN. Perkebunan XXVIII dalam wilayah Kabupaten Luwu

PP Nomor 19 Tahun 1996 Tentang Peleburan Perusahaan Perseroan (PERSERO) PT Perkebunan XXVIII, Perusahaan Perseroan (PERSERO) PT Perkebunan XXXII dan

Perusahaan Perseroan (PERSERO) PT Bina Mulya Ternak Menjadi Perusahaan

Perseroan (PERSERO) PT Perkebunan Nusantara XIV Presiden Republik Indonesia Surat Keputusan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Tanggal 01

Nopember 1995 Nomor 67 / HGU / BPN / 95. UU Pokok Agraria No 5 tahun 1960

Norman Jiwan dan kawan-kawan. 2009. Pembangunan Kebun Kelapa Sawit Berbasis Gas Rumah Kaca: Tinjauan kritis.

Sujiwo, TA. 2012. Perubahan Penguasaan Tanah di atas Lahan Pendudukan Pasca

Reformasi dalam Dari Lokal ke Nasional Kembali Ke Lokal. ARC Books.

Suryana, Erwin. 2012. Struktur Agraria dan Dinamika Gerakan Sosial Pedesaan Di Karawang dalam Dari Lokal ke Nasional Kembali Ke Lokal. ARC Books.

Tauhid, M. 2009. Masalah Agraria: Sebagai Masalah Penghidupan dan Kemakmuran Rakyat Indonesia. STPN Press.

Widyanto, Potret konflik Agraria di Indonesia, Bhumi Jurnal Pertanahan Ilmiah Ppm - Sptn Wiradi, Gunawan. 2009. Seluk Beluk Masalah Agraria, Reforma Agraria dan Penelitian

69

Inkonsistensi Keruangan Dalam Perspektif Kebencanaan

Inkonsistensi Keruangan Dalam Perspektif

Dalam dokumen KISAH KONFLIK ATAS RUANG DI TINGKAT LOKAL (Halaman 61-69)