H. DHAWABITH (BATASAN) DALAM MENGANALISA KASUS DALAM FIQH
I. URGENSI IJTIHAD SECARA BERJAMAAH DALAM MENYELESAIKAN BERAGAM KASUS
FIQH KONTEMPORER
Ijtihad Jama’i, atau Ijtihad yang dilaksanakan secara berjamaah merupakan salah satu sarana yang sangat dibutuhkan di tengah – tengah umat Islam di masa kini, bahkan ianya telah tersebar dan berkembang secara meluas (Syamsul Bahri Andi Galigo, 2002: 171).
Urgensi Ijtihad Jama’i dalam penyelesaian kasus Fiqh Kontemporer dapat dilihat pada poin – poin berikut:
a. Ijtihad Jama’i berperan besar dalam memelihara kesatuan umat dan terintegrasinya ummat keseluruhan, baik dalam bidang pemikiran, politik, maupun sosial kemasyarakatan.
Imam ad-Darimi dalam musnadnya meriwayatkan dari al-Musayyib ibn Rafi’, ia berkata:
اْوُ ناَك م لسو هيلع الله ى لص ِالله ِلْوُسَر ُةَباَحَص ِنِعي –
– اذإ
مَّلَسو هيلع الله ى لَص الله ِلْوُسَر ْنِم اَهْ يِف َسْيَل ٌةَّيِضَق مبِ تلزن اْوَأَر اَمْيِف ُّقَلحاَف اْوُعَْجَأَو اََلْ اْوُعَمَتْجا ٌرمأ
“Para sahabat Rasulullah apabila terjadi suatu peristiwa di tengah – tengah mereka, dan Rasulullah tidak memberikan instruksi apapun terkaitnya, mereka berkumpul dan bersepakat.
Maka kebenaran sejalan dengan apa yang mereka pandang.” (ad-Darimi, al-Musnad,
Kitab Muqaddimah, bab at-Tawarru’ ‘an al-Jawab fiima laysa…, Hadits no: 114)
b. Ijtihad Jama’i berperan besar dalam memberikan perhatian terhadap perubahan zaman, dan luasnya komunikasi dan interaksi antar manusia.
Di era satelit dan internet dewasa ini, banyak sekali pihak yang tidak memiliki pondasi yang kuat terkait ilmu – ilmu kesilaman justru masuk dan mendudukkan dirinya laksana ulama besar, padahal bekal keilmuwan mereka sangat sedikit. Untuk itu, era yang seperti ini membutuhkan penanggulangan secara bersama – sama di antara para ulama.
Jika di masa lalu, generasi para sahabat, umat ini disegani, itu semua tidak lepas dari diterapkannya manhaj jama’ah, dalam menjaga hak umat, melindunginya dari ketergelinciran dan kesalahan fatal, serta menghadang terjadinya perpecahan umat.
Melalui ijtihad jama’i, para ulama yang yang memiliki spesialisasi ilmu yang beragam duduk bersama, sehingga putusan fatwa yang dihasilkan juga memiliki kewibawaan dan dihormati di hadapan umat.
Lahirnya banyak majma’ - majma’ fiqhi yang tersebar di dunia Islam merupakan suatu langkah yang baik. Lebih utama lagi jika majma’ fiqhi itu memiliki cakupan dan menghimpun ulama dari beragam negri Islam yang berbeda. Selain itu, perlu diperhatikan dengan baik seleksi terhadap keanggotaan majma’ fiqhi tersebut, sehingga tidak terkesan
ada yang menjadi anggota yang tidak sesuai dengan kompetensi standar.
c. Ijtihad Jama’i mampu merespon lahirnya banyak kasus yang menyertai pertumbuhan dan berkembanganya kehidupan.
Sebagai contoh, bagaimana berinteraksi dengan lembaga perbankan dan kredit untuk tujuan bisnis, pertanian, properti dan beragam permasalahan terkait asuransi, perusahaan perseroan tertutup. Begitu pula dengan beragam aqad - aqad ekonomi, masalah transplantasi, dan lain sebagainya.
Masalah seperti ini tidak mampu hanya diputuskan oleh satu orang saja tanpa bermusyawarah dan bertukar pendapat dengan para mujtahid lainnya. (Sya’ban Muhammad Ismail, 1998: 119-120)
d. Ijtihad Jama’i berperan mendorong lahirnya spesialisasi keilmuwan di tingkat individu ulama.
Para ulama di masa kini mendalami spesialisasi ilmu tertentu dari cabang – cabang ilmu keIslaman, seperti spesialisasi dalam bidang bahasa Arab, atau Tafsir, atau Fiqh, atau Ushul Fiqh, dan cabang pengetahuan lainnya. Para ulama di masa kini hampir tidak ada yang mampu menguasai perbagai bidang dengan mendalam, sebagaimana era ulama ensklopedi di masa lalu. Banyak sedikit sekali ahli fiqh yang terhimpun di dalam dirinya semua persyaratan untuk berijtihad. Untuk itu, harus dilakukan ijtihad jama’i agar
pengetahuan yang mendalam yang tersebar dikalangan para ulama ini dapat saling menyempurnakan satu dengan lainnya.
e. Ijtihad Jama’i berperan besar dalam mengurangii dan meminimalisir lahirnya perbedaan fatwa antara ulama yang berpandangan berbeda satu dengan lainnya.
Lahirnya perbedaan pandangan di kalangan ulama dalam fatwa – fatwa individual seringkali menjadikan umat masuk dalam beragam bentuk perselisihan, apalagi jika perbedaan pendapat itu disikapi dengan fanatisme buta. Contoh kecil dari apa yang disebutkan ini adalah mengenai beragam bentuk investasi masa kini, mulai dari obligasi hingga reksadana, dimana para ulama berbeda pendapat terkait masalah ini, bahkan sebahagian berselisih hingga saling menghujat kelompok yang berbeda darinya. Fenomena yang demikian jelas akan menimbulkan dampak negatif di tengah umat Islam.
Sekiranya masalah yang demikian sebelum dikeluarkan fatwa individu lebih dahulu dikaji dalam suatu majma’ fiqhi, maka pasti yang demikian itu dapat dihindarkan. Pandangan jama’ah jelas lebih mendekati kebenaran daripada pandangan individu. Inilah yang disebut oleh syeikh Abdul Wahhab Khallaf dengan istilah kesemrawutan ijtihad (fawdha ijtihad). (Sya’ban Muhammad Ismail, 1988:
120-121)
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam sejarah peradaban Islam Ijtihad individu memainkan
peran besar dalam mengukuhkan hukum Islam. Bahkan dapat dikatakan tanpa ijtihad individu tidak akan pernah lahir ijtihad jama’i.
Namun di masa kini, urgensi terhadap ijtihad jama’i jelas lebih besar memperhatikan kondisi yang saat ini terjadi.
Agar ijtihad jama’i mampu memberikan pengaruh baik dalam konteks produktivitas dan kapabilitas, maka perlu diperhatikan hal berikut:
Pertama: Harus ada koordinasi yang baik antara institusi keilmuwan syar’i dengan beragam pusat kajian lainnya, seperti di bidang kedokteran, bidang ekonomi, bidang politik, bidang sosial kemasyarakatan, demi terwujudnya dua tujuan:
(a) Komunikasi antar lembaga syar’i dengan realita dan pemasalahan baru yang dihadapi manusia, sehingga hasil ijtihad di bangun atas dasar tashawwur (pandangan) yang benar.
(b) Pengetahuan terhadap segala yang baru pada waktunya, dan penjelasan terhadap hukumnya menurut syara’.
Kedua: Koordinasi antar lembaga fatwa dan majma’ fiqhi dari satu sisi dengan pusat – pusat pengkajian dan penelitian di universitas – universitas, agar objek kajian itu benar – benar masalah yang dibutukan umat, bukan masalah – masalah yang tidak ada realitanya dan kurang bermanfaat.
Ketiga: Evaluasi terhadap metode pengajaran mata kuliah Fiqh, khususnya di tingkat pasca
sarjana kosentrasi ilmu – ilmu syari’ah. Hal ini dilakukan dengan cara:
(a) Gaya penelitian dan penulisan karya ilmiah dan pengajarannya harus sejalan dengan kaedah fiqh, kaedah ushul, dan teori – teori fiqh.
Hal ini tidaklah mengherankan mengingat ulama – ulama terdahulu, seperti Imam as-Syatibi, sebagai contoh, dalam kitab “al-Muwafaqaat” selalu menekankan pentingnya evaluasi terhadap tata cara penulisan dalam kajian ushul fiqh, sehingga beliau menempatkan kajian maqashid syari’ah sebagai ruh –nya ushul fiqh. Begitu pula dengan imam ibn Rajab al-hanbali yang banyak menyeru pembaharuan kajian fiqh dalam kitabnya “al-Qawa’id al-Fiqhiyyah.”
(b) Perhatian besar terhadap masalah – masalah kontemporer. Jika diperhatikan karya tulis tiap ulama, khususnya tentang bab zakat, akan ditemukan bahwa tiap era membahas permasalahan baru yang muncul dalam era masing – masing ulama. Hal ini karena permasalahan sosial, ekonomi, dan politik selalu berubah dan bergeser, sehingga tiap zaman harus disesuaikan dengan kondisi yang ada.
BAB II
KASUS-KASUS FIQH KONTEMPORER