Berdasarkan Undangundang No. 1 tahun 1957, bila Kepala Dae rah berhalangan dapat diwakili Wk. Ketua D.P.R.
Dalam rangka penetapan Presiden No. 6 tahun 1959, dengan ke luarnja Penetapan Presiden No. .2 tahun 1960, kepada Peme rintah Pusat telah diberikan kewenangan untuk mengangkat seo rang Wakil Kepala Daerah didaerahdaerah tingkat I tertentu. Ia tidak sadja mewakili Kepala Daerah djika Kepala Daerah berha langan, melainkan harus pula membantunja seharihari.
Dengan adanja wakil Kepala Daerah, tidak berarti bahwa pimpinanpemerintahan daerah lain ada dalam tangan dua pen djabat, karena jang mempunjai kewenangan dan tanggungdjawab tertinggi dalam soalsoal pemerintahan daerah adalah tetap, Ke pala Daerah. Sedangkan Wakil Kepala Daerah adalah sematamata pembantu dalam mendjalankan tugas kewadjibannja.
Wakil Kepala Daerah (bagi daerah tingkat.I) diangkat oleh Presiden, dengan mengingat Penetapan Presiden No. 6 tahun 1959, tapi dapat pula menjimpang dari sjaratsjarat itu. Ia diang kat untuk suatu masa djabatan jang sama dengan D.P.R.D. jang bersangkutan, berstatus sebagai pegawai negeri, tidak dapat di berhentikan oleh D.P.R.D. Tjatatan : Mengenai kepegawaian Daerah batja lampiran II. 11. Daerah Swapradja. (a) Sedjarahnja : — sebagai akibat politik Van Heutz di Indonesia dalam abad initerdapat 300 buah zelfberturende landschappen. — ketjuali dibeberapa daerah, swapradjaswapradja itu telah dihapuskan oleh revolusi. — jang tidak dihapuskan menjatakan setia kepada. R.I. (b) Jang mendjadi persoalan, apakah daerahdaerah swapradja itu dibiarkan hidup atau dihapuskan. Kaiau dihapuskan apa gantinja dan bagaimana kita bertindak adil.
(c) Keadaan sekarang. Swapradja diluar pulau Djawa tinggal: Tidore, Batjan dan Ternate.
(1) Jogjakarta : tidak dihilangkan tetapi dilegalisir oleh Undangundang dan oleh Pemerintah.
(2) Surakarta : statusnja sampai sekarang masih terka tungkatung tidak dihapuskan dan tidak dilan djutkan.
(3) Kalimantan : telah 'dihapuskan semua oleh undang undang Kedudukan bekas kepala swapradja di atur oleh undangundang. Djika umurnja lebih 55 tahun dipensiun dengan 55% sampai 75% daripada mats pentjahariannja. Jang belum ber umur 55 tahun, didjadikan pegawai daerah. (4) Sulawesi : kepala swapradja Luwu, Sopeng, Bone, dan
Goa diangkat mendjadi badan penasehat gu bernur.
(5) Nusa Tenggara : daerah swapradja di Bali dan Sum bawa didjadikan daerah tingkat II, status kepa lakepala swapradjanja diatur seperti di Kali mantan.
(6) Maluku/Irian Barat : swapradja Tidore menurut hu kum masih ada. Claim kita atas Irian Barat tidak boleh didasarkan atas claim hak feodal dari Tidore. Tidak dapat dibenarkan pemakai an uang alas.nama Irian Barat untuk pemba ngunan kota Suasiu.
§ 1154. Pemerintah Desa
a. Aparatur dan tugas Pemerintah Desa.
1. Dalam menindjau persoalan pemerintahan desa, ada baiknja kita hubungkan segala sesuatu dengan suasana pemerintahan dewasa ini. Manifesto Politik jang berdjiwa Usdek, ditentukan mendjadi haluan pemerintahan Negara kita, USDEK ialah singkatan dari : (a). Kembali ke U.U.D. 1945, (b). Sosialisme a la Indonesia, (c). Demokrasi terpimpin, (d). Ekonomi terpimpin dan (e). Kembali ke Kepribadian Indonesia.
Pasal 18 U.U.D. 1945, dalam pendjelasannja mentjantumkan. Dalam territoire Negara Indonesia terdapat ± 250 Zelfbesturende landschappen dan Volksgemeenschappen seperti desa di Djawa dan Bali, negeri di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang dan se bagainja.
Daerahdaerah itu mempunjai susunan aseli dan oleh karena itu dapat dianggap sebagai daerah jang bersifat istimewa.
Negara Republik Indonesia menghormati kedudukan daerahdae rah istimewa tersebut. Segala peraturan negara jang mengenai daerah. itu akan mengingatkan hakhak asal usul daerah tersebut. Hak asal usul desa jang sedjak tahun 1854 ditjantumkan dalam Regeringsreglement pasal 71 adalah : (1). Hak untuk memilih Kepala dan Anggota pemerintahan lainnja, (2). Hak mengatur dan mengurus rumah tangganja,
Kedua hak asal usul ini, hingga dewasa ini masih pula dihor mati oleh Pemerintah Nasional kita.
Kehidupan didesa aselinja berdasarkan Ketuhanan dan perike manusiaan, tjintamentjintai antara manusia satu dengan lainnja.
Sila kesosialan dari Pantjasila sedari dulu telah pula dipraktekkan dalam pergaulan masjarakat desa.
Mengenai demokrasi terpimpin, ekonomi terpimpin dan kembali ke Kepribadian Indonesia, disitir satu kalimat dari Manifesto Politik „Undangundang Dasar 1945 adalah asli tjerminan kepribadian (in dentity) bangsa Indonesia, jang sedjak zaman purbakala mula men dasarkan sistim pemerintahannja kepada musjawarah dan mufakat dengan pimpinan satu kekuasaansentral ditangan seorang „sesepuh", seorang „tetua", jang tidak mendiktatori, tetapi „memimpin, meng ajomi”.
Djika kita menindjau pemerintahan desa dan dihubungkan de ngan maksud kalimat diatas, maka nampak dengan njata persesuaian nja.
Didalam bentuk miniatur kekuasaan ada ditangan sendiri, ialah ditangan Kepala desa. Segala soal jang penting dimusjawarahkan da lam rapat desa, dimana duduk para panitia desa dan para tjendekia wan. Ditempattempat dimana desa telah mempunjai Dewan perwakilan Desa, maka Kepala desa djadi pula Ketua Dewan Perwakilannja. Ang gota Pamong desa lainnja, merupakan pembantu Kepala Desa, mirip dengan susunan Pamong Pemerintah Pusat menurut Undangundang Dasar 1945, dimana para Menteri adalah pembantu dari Kepala Ne gara. Djika kita memperhatikan bahwa desadesa telah ada sedjak za man purbakala dan sekarang sekitar 90% dari Penduduk tanah air adalah warga masjarakat desa, maka tidak pintjanglah kiranja djika masjarakat desa dipandang sebagai gedjala (verschijningsvorm) dari pnda Kepribadian Indonesia.
Uraian diatas ini merupakan gambaran bahwa sistim pemerin tahan desa pada garis besarnja sesuai dengan djiwa Manifesto Po litik. Sistim ini dapat terus dipelihara sebagai dasar untuk membawa masjarakat desa pada taraf hidup jang lebih madju menurut kehendak zaman jang menghendaki perhatian jang lebih besar dalam segi ke bendaan dart perikehidupan penduduk desa.
Pemerintah dalam pelaksanaan programnja mengharapkan ikut sertanja desa masuk anggota pemerintahannja. Dalam bidang san dangpangan Kepala Desa adalah Komandan dari Gerakan Operasi Makmur. Dalam hubungan P.P. 10/59 Kepala Desa adalah Panitia jang menampung tugas Pedagang etjeran ketjil bangsa Asing di pedalaman, sebelmn Koperasikoperasi dapat terbentuk. Dalam bidang keamanan antara lain kita ingat kepada organisasi O.K.D. Dalam bidang admi nistrasi Negara, kita ingat. ikut sertanja Pamong Desa dalam tugas dari Djawatandjawatan. Hampir semua djawatan mengharapkan ban tuan Pamong Desa.
Sampai mana bantuan timbal balik dari Pemerintah dan Djawat andjawatan kepada desadesa, masih pula memerlukan perhatian. 2. Perlu pula diketengahkan mengenai perumahtanggaan desa.
Sebagai kita ketahui desadesa bertindak dalam dua lapangan Dalam bidang Hukum Umum (Publiek Recht) dan dalam bidang Hu kum Privat (Vermogensrecht). Dalam pelaksanaannja antara kedua bidang itu tak ada Batas jang djelas.
Semua persoalan jang penting termasuk salah satu dari kedua bidang itu dimusjawarahkan. Dan setelah diambil ketentuan, maka pembiajaan dibebankan kepada kas desa atau/dan potensi tenaga ber sama.
Mengenai perumahtanggaan desa, dibawah ini dimadjukan be berapa soal jang perlu mendapat perhatian :
b. Tentang Pamong Desa.
1. Untuk desadesa di Djawa/Madura berlaku Ordonansi pemilihan Kepala Desa (Stbl. 1907 No. 2.12) dengan perobahanperobahannja ter achir dengan Undangundang Rd. (No. 14 tahun 1946) jang memper luas matapilth untuk Kepala Desa.
„Semua Warga Negara penduduk Desa lakiIaki maupun perempu an jang berumur 18 tahun atau sudah 'kawin didjadikan mata pilih”.
Untuk luar Djawa/Madura berlaku peraturanperaturan pemilihan Kepala Negeri dan sebagainja jang dikeluarkan oleh para Gubernur jang bersangkutan dan jang isinja mirip dengan Undangundang ter sebut diatas.
Perluasan mata pilih (Actiefkiesrecht) ini berarti suatu tindakan jang lebih madju dalam proms pendemokrasian Pemerintah Desa.
Perlu ditjatat disini bahwa untuk kebanjakan desadesa di Djawa/ Madura perluasan mata pilih jang aktif itu menimbulkan kesulitan untuk mengumpulkan sedjumlah besar pemilih pada suatu saat dan suatu tempat. Selain dari pada itn perlu ditambahkan bahwa dalam prakteknja pengluasan mata pilih itu belum menimbulkan rasa per tanggungan djawab jang meluas, jang seharusnja mendjadi akibat jang logis dari pada perluasan itu : tegasnja sampai sekarang jang menang gung beban desa itu adalah keluarga sadja, sedangkan anggota kelu arga lainnja jang mempunjai hak memilih Kepala Desa belum turut serta memikul bebanbeban rumahtangga desa. 2. Pemilihan dan pengangkatan anggauta Pamong Desa selain Ke pala Desa menurut perundangundangan jang berlaka diserahkan kepada D.P.R.D. tingkat II masingmasing atau pendjabat Pemerintah Pusat, untuk diatur lebih landjut.
Dalam waktu jang achirachir ini setelah pembentukan Daerah Swatantra tingkat II menurut Undangundang No. 1/1957 sudah dike luarkan peraturan tersebut oleh Daerah.
Perlu ditjatat bahwa penelitian daripada peraturanperaturan ter sebut menundjukkan adanja tendensi tjampurtangan jang mendalam dari Daerahdaerah Swatantra dalam hakhak desa, sehingga.tidak keli hatan bahwa desadesa jang bersangkutan mempergunakan haknja sen diri dalam hal itu. 3. Mengenai hak untuk dipilih mendjadi Kepala Desa (passiefkiesrecht) dikemukakan bahwa Ordonansi pemilihan Kepala Desa mentjantumkan sjaratsjarat negatif. Praktek pemerintahan menghendaki bahwa selain kaum prija di inginkan adanja kemungkinan bahwa wanita mendjadi Kepala Desa. Pula mutu dari Kepala Desa berhubungan dengan kemadjun da lam lapang pengertian mengenai kehidupan moderen perlu mendapat perhatian jang tjukup.
Berhubung dengan ini baik kiranja djika sjarat untuk passief kierecht ini ditjantumkan setjara positif dengan maksud mentjari te naga jang sebaikbaiknja.
Keterangan :
Keterangan lebih landjut mengenai Aparatur Pemerintah Desa lihat lampiran I.
c. Tentang Korum Musjawarah Desa.
Bentuk Forum Musjawarah Masjarakat Desa, menurut perundang undangan jang berlaku dapat berupa ,,Dewan Desa atau Daerah jang
sederadjat" maupun suatu rapat Desa dimana penduduk berkumpul untuk langsung membtjarakan persoalanpersoalan jang panting di bawah pimpinan Kepala Desa.
Dengan perluasan matapilih untuk Kepala Desa (U.U. No. 14/ 1946) jang djuga memperluas korum rapat Desa, maka rapat Desa sukar mentjapai korum jang sah jang berakibat bahwa segala sesuatu merupakan penghambatan dalam pengambilan keputusan oleh Desa dan tidak sesuai dengan kehendak zaman jang ingin bertindak setjara tjepat. Untuk mengatasi kesulitankesulitan ini baiklah dalam perumahan jang akan datang didapat pola jang lebih sederhana dan tidak berten tangan dengan adat asli desadesa. d. Tentang Kekajaan Desa. 1. Sebagai akibat daripada pengakuan hak mengurus dan men djalankan perumahatanggaan Desa maka daerahdaerah ini diakui dju ga memiliki kekajaan jang sudah ada padanja. Pada umumnja keka jaan ini berupa tanah atau hak menguasai atas tanah desa, sungai sungai dan sumber kekajaan lain jang berhubungandengan tanah ter sebut.
Lain daripada itu desamemiliki bangunanbangunan misalnja balai desa, pasar desa, pemand;ianpemandian, djembatan, djalandjalan, pengairandesa dan lainlain jang pembiajaannja diperoleh dari basil kekajaan desa, sebagaimana halnja dengan pemberian djaminan buat Pamong Desa.
2. Berhubung dengan bertambahnja tugas Pamong Pusat, chu susnja Kepala Desa, jang berasal dari Pemerintah Pusat; dibidang ke amanan, pelaksanaan Program Sandangpangan, Kooperasi Desa dan lainlainnja, maka dirasakan perlunja memberikan bantuan oleh Pe merintah kepada desa dalam bentuk tundjangan uang dan materiel lain setjara tertentu maupun insidentil.
e. Hak.Desa untuk menarik iuran, karya padjak dan lain sebagainja.
1. Sebagai sumber penghasilan selain jang berasal dari hak desa atas tanah maka Desa berwenang untuk niengadakan peraturan ten tang penarikan iuran tertentu ataupun sewaktuwaktu.
Selain dari pada itu dapat djuga diatur kewadjiban masjarakat Desa dalam hal mengeluarkan tenaganja (karya) untuk berbagai ke perluan buat kepentingan desanja sendiri (wadjib kerdja desa).
Menurut pasal 128 IS. desadesa mempunjai hak untuk menarik padjakpadjak. Hal ini untuk daerahdaerah diluar Djawa/Madura di atur lebih landjut didalam I.G.O.B. pasal 4, adapun untuk desadesa di Djawa/Madura kewenangan ini sesungguhnja diatur lebih landjut dalam Ordonansi tahun 1941 No. 356 jang hingga kini tidak didjalan kan.
2. Disamping bebanbeban jang tsb. diatas didalam melaksana kan perumahtanggaan Desa didapatkan gotongrojong untuk keper luan Desa jang tidak bersifat sesuatu kewadjiban, namun didjalan kan dengan tjara jang tidak statis seperti kekeluargaan, tetapi gotong rojong jang dinamis setjara sukarela sebagai gedjala daripada sifat kepribadian bangsa Indonesia. Dengan tjara demikian dalam prak teknja sudah, sedang dan akan torus dilaksanakan berbagai karya desa untuk kepentingan sendiri.
f. Tentang kepolisian dan pengadilan desa.
Sumber peraturan mengeral hal ini jang djuga masuk perumah tanggaan Desa, ialah pertamatama H.I.R. (R.I.B.).
Dalam titel I bagian 2 terdapat berbagai kewadjiban dan wewe nang Kepala Desa dalam kepolisian dan pengadilan.
Selain dart itu didalam suasana Undangundang keadaan bahaja, perumahtanggaan Desa mengambil peranan pula pertahanan dan ke amanan Daerah (dalam rangka difensiftotaal).
g. Anggaran belandja dan pendapatan desa.
Untuk mendjalankan perumahtanggaannja Desadesa diluar Djawa/Madura diwadjibkan memperhitungkan A.B. dan pendapatan tiaptiap tahun.
Didalam praktek beberapa desa di Djawa/Madura telah meng adakan anggaran tahunan, jang hanja mentjantumkan pembiajaan usaha dan pemasukan dalam bentuk uang dan benda, sedangkan jang berwudjud lainnja tidak dimasukkan, misalnja : wadjibkerdja, pan tjen dsb.
Betapa pentingnja pembuatan Anggaran Belandja dapatlah di mengerti djika dihubungkan dengan kemadjuan tjara bekerdja desa, karena usaha desa sebaiknja djanganlah tetap sebagai pekerdjaan jang bersifat insidentil dan tidak berentjana.
h. Pengawasan atas keputusan desa, termasuk A.B. dan pembatal annja.
Menurut perundanganundangannja berlaku, keputusan rapat Desa di Djawa/Madura diexaminasi oleh D.P.D. II, sedangkan untuk luar Djawa/Madura hak ini diberikan kepada Gubernur jang bersang kutan.
Dalam hubungan ini I.G.O. dalam pasal 11 menjatakan bahwa Desa diharuskan menunggu surat kuasa lebih dulu dart Daerah Tingkat II sebelum dapat melaksanakan kehendaknja. Persoalan ini mengenai utangpiutang, perdjandjianperdjandjian. jang menjangkut tanah desa, dan dalam prosudere pengusutan perkaraperkara dimuka Hakim.
Dalam hal ini dibeberapa daerah ternjata bahwa djika keputusan Desa menunggu dulu pengesjahan dari Swatantra II seringsering merupakan penghambat didalam pelaksanaan usaha Desa.
Hal ini mungkin terdjadi karena kurang tegasnja ketentuanke tentuan didalam I.G.O.
i. Rukun kampung — Rukun tetangga :
1. Dazardasar adanja Organisasi Rukun Tetangga/Rukun Kampung (R.T./R.K.).
Pada tahun 1947 oleh Pemerintah Republik Indonesia dikeluar kan sebuah pedoman jang disertai dengan:
(a) Pengantar kata dari Kementerian Penerangan tertanggal Jogjakarta 17 Djuli 1947
(b) Instruksi dari Menteri Dalam Negeri tertanggal Purwokerto 25 Djuni 1947
(c) Instruksi dari Kementerian Penerangan tertanggal Jogjakarta 25 Djuni 1947
Pedomannja disusun oleh Panitia Pusat Rukun Tetangga dan Rukun Kampung ditandatangani oleh Mr. Moh. Rum sebagai Menteri Dalam Negeri, Mr. Maria Ulfah Santoso sebagai Menteri Sosial dan Moh. Natsir sebagai Menteri Penerangan.
2. Perkembangan Organisasi R.T./R.K. sedjak keluarnja Pedoman dan Instruksiinstruksi.
(a) Dengan timbulnja Clash I. MadiunAffair dan Clash II maka pembentukan R.T./R.K. di Desadesa/Kotakota terhambat.
(b) Begitu djuga dizaman R.I.S. masalah ini kurang mendapat per hatian, berhubung dengan perdjoangan untuk menudju ke Negara Kesatuan.
(Djumlah R.T. ada 73.086 achir tahun 1951, hanja di Djawa). ,, R.K. ada 9.275.
(c) Setelah berdiri Negara Kesatuan, maka pembentukan R.T./R.K. dipergiat lagi. Melihat djumlahnja, boleh dikatakan memuaskan. Timbulnja R.T./R.K. sebagai tjendawan disajangkan hanja ter utama dikotakota sadja, karena organisasi masjarakat ini, disalah gunakan, dipakai sebagai alat kampanje pemilihan umum.
Perkembangan pada umumnja mengalami pasang surut. Kita masih ingat penjimpangan Pedoman Umum dengan adanja Konsepsi Barone pada tahun 1950 dan peristiwa Rukun Kampung Kota Sura baja (R.K.K.S.) dalam tahun 1955.
Penjimpanganpenjimpangan ini sudah dapat dikembalikan pada djalan jang benar mengikuti Pedoman tahun 1947.
Untuk mendapat gambaran, bagaimana meningkatnja djumlah R.T./R.K., berikut ini disadjikan angkaangkanja:
Djumlah R.T.: 79.090. Hanja di Djawa pada achir tahun 1953. ,, R.K.: 13.449.
,, R.T. : 106.785. Di Djawa Kalimantan pada achir tahun 1954. ,, R.K.: 14.920. ,, R.T.: 350.525. Di Djawa Kalimantan dan Sumatera Utara pada achir tahun 1955. „ ,, R.K.: 96.016. 2518
Adapun angkaangka dalam tahuntahun berikutnja boleh dika takan tetap. Djika ada perobahan mengenai banjaknja R.T. hal ini disebabkan karena adanja penggabungan beberapa R.T. mendjadi satu.
Perlu dikemukakan, bahwa di Djawa — apabila dilainlain daerah tidak semua desa telah membentuk R.T./R.K. Dan ini tidak berarti, bahwa penduduk desa jang bersangkutan tidak suka akan gotongro jong atau usaha bersama. Djustru karena adat dalam rangka pedu kuhan asli sangat tebal idan semangat kekeluargaan masih tinggi, mereka merasa belum memerlukan organisasi R.T./R.K. dalam meng atasi segala kesulitan jang mendjadi kepentingan bersama.
Di Sumatra Utara dan Selatan pembentukan R.T./R.K. (belum ada R.K.) adalah akibat dari penjelesaian kesulitan mengenaipendja gaan keamanan dikampungkampung.
Maka didaerahdaerah itu R.T. menjelenggarakan perondaan. 3. R.T./R.K. berhubung dengan U.S.D.E.K.
Didalam alam Demokrasi terpimpin disemua bidang, maka ha bungan antara Pemerintahan Desa dan R.T./R.K. sebagai organisasi masjarakat hendaknja bertambah erat. Sekalipun bukan instansi Pe merintah, hendaknja lebih banjak ikut serta dengan Pemerintah dalam usahausaha pelaksanaan Programnja al.: (a). melantjarkan distribusi ; (b).keamanan : ronda, tamu ; (c). lahir, mati ; (d).pentjatatan penduduk, kartu penduduk ; (e). operasi makmur : penghidjauan kebun dan halaman ; (f). surat keterangan ; (g). kebersihan ; d.s.t. j. Kesimpulan :
1. Berhubung dengan uraianuraian tsb. diatas dirasakan sangat perlu diadakan satu perundangundangan kedesaan jang barn dan ber laku untuk seluruh Indonesia jang memuat azasazas dan ketentuan jang lebih sesuai dengan isi djiwa dari ManifestoPolitik.
2. Pada umumnja Pedoman jang dikeluarkan dalam tahun 1947 dapat dilangsungkan. Hanja beberapa pasal didalamnja memerlukan penin djauan kembali berhubung dengan perkembangan keadaan. Halhal jang dimaksud a.l. : (a). Pasal 7 ajat 2 jang menjatakan, bahwa bangsa asing dapat diteri ma sebagai anggauta luar biasa. Pasal 5 jang menjatakan, bahwa sifat kekeluargaan didalam R.T./ R.K. didjadikan dasar untuk memelihara dan memnpuk semangat kebangsaan dan persatuan dikalangan rakjat umum, supaja me rupakan masjarakat jang mendasarkan kekuatan hidupnja atas 2519
kesadaran kebangsaan sambil memelihara persaudaraan dengan penduduk golongan lain. Sebaiknja pasal 7 ajat 2 dihapuskan. (b). Organisasi R.T./R.K. sebaiknja diberi bantuan jang lebih besar dari Pemerintah, terutama bantuan keuangan. Jang njata sekali pada umumnja organisasi ini tidak mempunjal alat tulismenulis. (c). (1) Konkordan dengan jang tertjantum pada pasal 9 ajat 2, 3 dan 4 dari Pedoman Umum 1947 untuk tempattempat jang tldak mengenal susunan Pemerintahan Desa mengadakan ketentuan ketentuan jang lebih konkrit.
(2) Dalam pasal 9 dari Pedoman Umum 1947 katakata Badan Eksekutip Desa hendaknja dirobah dengan katakata Kepala Desa.
§ 1155. Pembangunan Masjarakat Desa a. Dasar dan Tudjuannja:
Tudjuan dari pada Rentjana Pembangunan Masjarakat Desa ialah meninggikan taraf penghidupan dan kehidupan masjarakat desa de ngan djalan melaksanakan pembangunan jang integral dari pada ma sjarakat desa, berdasarkan :
azas kekuatan sendiri daripada masjarakat desa,
azas permufakatan bersama antara anggotaanggota masjarakat desa dengan bimbingan serta bantuan alatalat pemerintah jang bertindak sebagai suatu keseluruhan (kebulatan) dalam rangka kebidjaksanaan umum jang sama.
b. Pokok rentjana.
1. mengingat akan kurangnja sumber keuangan dan tenaga jang terlatih, maka untuk sementara waktu pelaksanaan rentjana P.M.D. agak dibatasi. Suatu usaha besarbesaran jang meliputi seluruh negara sekaligus, dichawatirkan akan memenuhi kega galan sadja. Karena itu taraf pertama rentjana ini hanja dilaksa nakan dalam daerahdaerah tertentu jang tersebar diseluruh In donesia dalam djumlah jang sesuai dengan sumbersumber jang tersedia.
Kesatuankesatuan daerah tempat pelaksanaan usahausaha P.M.D. itu disebut daerah kerdja. Untuk mentjapai efisiensi dalam tjara bekerdja dan mengingat luasnja daerah dan djumlah penduduk, maka dasarnja kerdja meliputi satu kewedanaan. Mengingat banjaknja djawatandjawatan pemerintah maka tingkat kewedanaan dianggap lebih lengkap daripada tingkat ketjamatan, 2. Didalam daerahdaerah kerdja ini diusahakan pelaksanaannja
P.M.D. sesuai dengan azasazas jang tertera diatas dan meliputi segala lapangan penghidupan didesa antara lain: — pertanian, kehewanan, pengairan, pendidikan, kesehatan, koperasi, perhu bungan dan sebagainja. Segala usaha pembangunan jang integral ini berdasarkan azas gotongrojong.
Alatalat pemerintah mempergiat usahausaha gotongrojong ini dan memberi bimbingan serta bantuan setjukupnja. Dorongan dorongan ini dapat berbentuk penjuluhan, penjelenggaraan latih anlatihan, kursuskursus dan sebagainja. Untuk usahausaha ini diadakan kordinasi jang sebaikbaiknja diantara alatalat peme rintah, agar tertjapai suatu kebulatan didalam bantuan dan bim binganbimbingan itu.
Bantuan pemerintah hanja merupakan sebagian sadja dari ban tuan jang .diperlukan. 3. Ada dua matjam daerah kerdja : (a)daerah kerdja pokok. (b) daerah kerdja lengkap Perbedaan antara kedua matjam daerah kerdja ini terletak dalam intensiteit usahausaha organisasi P.M.D. Dalam daerah kerdjalengkap, usahausaha jang didjalankan bar djumlah lebih banjak, tenagatenaga tehnis dan djumlah bantuan pemerintah jang tersedia lebih besar. Pada tingkat permulaan diselenggarakan daerahdaerah kerdja pokok dan bila usahausa hanja untuk pembangunan berlangsung dengan subur serta ke giatan penduduknja telah mentjapai tingkat tertentu maka daerah kerdja pokok dinaikkan mendjadi. daerah kerdja lengkap;.. Ini berarti bahwa biaja dari pemerintah lebih besar dan usahausaha jang diselenggarakan lebih banjak.
4. Dalam tahun pertama dari Rentjana tudjuh Tahun dibentuk 16 Daerah Kerdja Pokok.
Dalam tahun kedua 16 Daerah Kerdja Pokok lagi. Dari 16 jang terdahulu, 10 dinaikkan mendjadi Daerah Kerdja lengkap. 'Dengan demikian dalam tahun kedua ada 22 daerah Kerdja Pokok dan 10 Daerah Kerdja lengkap.