• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waktu dalam Jam Jumlah siswa Persentase (%)

--- 120 1 1,0 192 41 42,6 200 4 4,1 208 2 2,1 216 1 1,0 224 1 1,0 232 2 2,1 240 11 11,3 256 4 4,1 288 13 13,4 296 2 2,0 304 6 6,3 312 3 3,1 320 1 1,0 352 1 1,0 368 2 2,1 392 1 1,0 480 1 1,0 --- Total 97 100,0 ______________________________________________________________________________

Sebagian besar siswa yang mengikuti kegiatan selama siswa SMA, 192 jam sebanyak 42,6 %, 288 jam sebanyak 13,4 %, 240 jam sebanyak 11,3 %, 304 jam sebanyak 6,3 %, 200 dan 256 jam masing-masing sebanyak 4,1 %, 312 jam sebanyak 3,1 %, 208, 232, 296, 368 jam masing-masing sebanyak 2,1 % dan 120, 216, 224, 320, 352,392, dan 480 jam masing-masing sebanyak 1,0 %.

Peran Siswa SMA Depok Dalam Organisasi

Mengenai peran atau kedudukan siswa dalam organisasi dapat sebagai anggota, pengurus dan anggota merangkap pengurus. Kedudukan tersebut akan memberikan kontribusi pada peran atau tugas dan fungsi masing-masing dalam organisasi yang diikuti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa SMA Depok mempunyai peran sebagai anggota dan pengurus pada masing-masing organisasi yang diikuti ditampilkan pada Tabel 11.

Tabel 11. Siswa SMA Depok berdasarkan kedudukan dalam organisasi

________________________________________________________________

Jenis Kegiatan Anggota Pengurus

--- Jumlah Siswa Persentase Jumlah Siswa Persentase --- Olahraga Basket 28 28,86

Olahraga Bulutangkis 4 4,12 Olahraga Tennis Meja 8 8,24

Olahraga Bola Kaki 38 39,17 1 1,03 Olahraga Bela Diri 45 46,39 1 1,03 Pramuka 4 4,12 Paskibra 16 16,49 Kegiatan seni 61 62,88 Kegiatan Kerohanian 67 69,07 Kel.Bimbingan Belajar 46 47,42 ________________________________________________________________

Keterangan: siswa dapat mengikuti > 1 organisasi, n = 97

Kedudukan siswa dalam masing-masing kelompok pada umumnya sebagai anggota atau peserta dan kelompok yang paling banyak diikuti adalah kegiatan kerohanian, yaitu 67 siswa atau 69,07 %. Peringkat kedua sebagai anggota adalah kegiatan seni, peringkat ketiga sebagai anggota kelompok bimbingan belajar. Kedudukan siswa sebagai pengurus hanya sebagian kecil yaitu kelompok olahraga bola kaki dan olahraga bela diri, masing-masing satu orang atau 1,03 %, dan kedudukan sebagai anggota merangkap pengurus tidak ada.

Kedudukan siswa dalam masing-masing organisasi yang diikuti baik sebagai anggota maupun sebagai pengurus bisa lebih dari satu organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti organisasi 97 orang atau 71,9 % dengan jumlah organisasi antara dua sampai empat buah. Untuk itu data mengenai kedudukan sebagai anggota maupun sebagai pengurus dianalisa lebih jauh dengan menjumlahkan bobot masing-masing kedudukan. Kedudukan sebagai anggota diberikan bobot satu, kedudukan sebagai pengurus diberi bobot dua, dan kedudukan sebagai pengurus sekaligus anggota diberi bobot tiga.

Jumlah semua bobot kedudukan masing-masing siswa dalam organisasi yang mereka ikuti baik yang diselenggarakan di sekolah maupun di luar sekolah diklasifikasikan menjadi sangat tidak berperan, tidak berperan, cukup berperan, berperan, dan sangat berperan. Hasil penelitian mengenai peran 97 siswa yang mengikuti organisasi disajikan pada Tabel 12.

Tabel 12. Peran siswa yang mengikuti organisasi.

________________________________________________________________ Peran Jumlah Siswa Persentase (%)

--- Tidak berperan 1 1.0 Cukup berperan 65 67,0 Berperan 28 28,9 Sangat berperan 3 3,1 --- Total 97 100,0 ________________________________________________________________

. Sebagian besar siswa cukup berperan dalam organisasi, yaitu 65 siswa atau 67 %, berperan 28 siswa atau 28,9 %, sangat berperan tiga siswa atau 3,1 %, dan tidak berperan satu orang siswa atau 1,0 %. Banyaknya siswa cukup berperan walaupun siswa cenderung sebagai peserta dalam organisasi tetapi sebagian besar (48,9 %) mengikuti organisasi tiga buah. Dengan demikian peran siswa berbeda dengan yang tidak mengikuti atau hanya satu mengikuti organisasi. Artinya dengan mengikuti tiga organisasi menunjukkan siswa cukup berperan. Secara keseluruhan peran siswa dalam organisasi sebagian besar cukup berperan 67,0 %, berperan 28,9 %, sangat berperan 3,1 %, dan tidak berperan 1,0 %.

Sebagai peserta tentu lebih banyak melakukan tindakan pasif atau menerima informasi atau instruksi yang sifatnya mengikuti apa yang di perintahkan instruktur. Walaupun demikian tentu informasi tersebut dapat menambah pengetahuan dan pengalaman yang berarti bagi pengembangan kemampuan berorganisasi.

Dalam organisasi sedikit banyaknya akan memberikan kontribusi yang positif apalagi kalau kegiatan tersebut dibina oleh orang-orang yang benar-benar berpikiran positif untuk membangun fisik maupun mental siswa dalam menghadapi dan menjalani kehidupan dalam masyarakat yang sangat kompleks dan heterogen. Kegiatan kerohanian yang menjadi pilihan siswa yang terbanyak menunjukkan hal yang positf. Kegiatan kerohanian banyak mengajarkan nilai- nilai dan etika bagaimana sikap dan tingkah laku yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak ada ajaran agama yang tidak baik.

Ketersediaan Media Massa Di Tempat Tinggal Siswa SMA Depok

Media massa yang tersedia di tempat tinggal siswa terdiri dari media massa televisi, radio, suratkabar, majalah, dan jaringan internet. Masing-masing

jenis dapat tersedia lebih dari satu buah. Mengenai jumlah media massa yang tersedia di tempat tinggal siswa di tampilkan dalam Tabel 13.

Tabel 13. Siswa SMA Depok berdasarkan jumlah media massa yang tersedia. ________________________________________________________________ Jlh Media Massa Jumlah Siswa Persentase (%)

--- 2 1 0,7 3 3 2,2 5 11 8,1 6 2 1.5 9 75 55,6 10 6 4,4 11 5 3,7 12 7 5,2 13 18 13.3 14 6 4,4 19 1 0,7 --- Total 135 100,0 __________________________________________________________________

Jumlah minimum media massa yang tersedia di tempat tinggal siswa dua buah dan maksimum 19 buah dari lima jenis media massa, yaitu suratkabar, televisi, radio, jaringan internet, majalah, Dalam setiap jenis media massa dapat tersedia lebih dari satu buah. Misalnya televisi, bisa saja siswa memiliki > 1. Sebagian besar jumlah media massa tersedia di tempat tinggal siswa sebanyak sembilan buah atau 55,6 %. Sembilan buah tersebut dapat dari berbagai jenis media massa maupun jumlah masing-masing jenis media massa.

Ketersediaan media massa tersebut tidak ditelusuri lebih jauh bagaimana media massa tersedia di tempat tinggal siswa. Ada beberapa kemungkinan media massa tersebut tersedia di tempat tinggal siswa, antara lain berlangganan, membeli di agen secara periodik maupun non periodik, menggunakan sarana dan fasilitas kantor, dan lain sebagainya.

Mengenai jumlah masing-masing jenis media massa yang tersedia di tempat tinggal siswa antara nol sampai dengan tujuh buah dengan persentase yang beragam. Hasil penelitiannya diuraikan pada Tabel 14.

Tabel 14 Jenis media massa dan jumlah media massa yang tersedia.

Jenis Me dia Mas

sa

Jumlah Media yang Tersedia di Tempat Tinggal Siswa

0 1 2 3 4 5 6 7 f % f % f % f % f % f % f % f % Surat Kabar 47 34,8 24 17,8 27 20,0 28 20,7 4 3,0 4 3,0 1 0,7 - - Majalah 36 26,7 16 11,9 30 22,2 30 22,2 12 8,9 10 7,4 - - 1 0,7 Radio 6 4,4 17 12,6 24 17,8 47 34,8 22 16,3 15 11,1 3 2,2 1 0,7 TV 2 1,5 30 22,2 48 35,6 35 25,9 17 12,6 2 1,5 1 0,7 - - Inter net 79 57,8 38 28,1 14 10,4 5 3,7 - - - - - Keterangan: di tempat siswa dapat tersedia > 1 jenis dan jumlah media massa. n = 135.

Siswa yang tidak memiliki media massa suratkabar sebesar 47 orang atau 34,8 % dan yang memiliki 88 siswa atau 65,2 %. Jumlah suratkabar yang dimilki minimum nol suratkabar dan maksimum enam suratkabar. Siswa yang tidak memiliki majalah 36 orang atau 26,7 % dan yang memilki majalah 99 orang atau 73,3 % dengan jumlah majalah minimum nol dan maksimum tujuh majalah. Siswa yang tidak memiliki radio enam orang atau 4,4 % dan yang memiliki 129 orang atau 95,6 % dengan jumlah minimum nol dan maksimum tujuh radio. Siswa yang tidak memiliki TV dua orang atau 1,5 % dan yang memiliki 133 orang atau 98,5 %, dengan jumlah minimum nol dan maksimum tujuh pesawat TV. Siswa yang tidak memiliki jaringan internet 79 orang 57,8 % dan yang memiliki sebesar 56 orang atau 42,2 %, dengan jumlah minimum nol dan maksimum tiga buah. Dari seluruh responden pada umumnya memiliki televisi, yaitu sebesar 98,5 %.

Jumlah Uang Saku

Uang saku siswa SMA Depok terdiri dari uang transport dan uang jajan yang diberikan orangtua atau wali siswa baik yag bersifat harian, mingguan, maupun bulanan. Jika siswa menerima uang saku dalam mingguan dan bulanan maka dihitung kembali dengan membagi jumlah uang saku tersebut dalam hari. Artinya data uang saku yang ditampilkan sudah diolah dengan perhitungan perhari. Sebagian besar siswa SMA Depok menerima uang saku dari orangtua atau wali setiap hari. Hasil penelitian mengenai jumlah uang saku setiap hari dipaparkan pada Tabel 15.

Tabel 15. Siswa SMA Depok berdasarkan jumlah uang saku

________________________________________________________________ Perolehan Uang Saku Jumlah Siswa Persentase (%)

--- Uang Jajan 130 96,3

Uang Transport 89 65,9 Uang jajan + uang Transport 84 62,2

_________________________________________________________________

Siswa yang memperoleh uang jajan 130 orang atau 96,3 % dan yang tidak memperoleh uang jajan lima orang atau 3,7 %. Rata-rata siswa memperoleh uang jajan setiap hari sebesar Rp 12.327,91 dengan jumlah minimum Rp. 2000 dan maximum Rp. 100.000. Jumlah maksimum ini dijumpai pada siswa SMA Lazuardi.

Siswa yang memperoleh uang transport sebesar 89 orang atau 65,9 %, sedangkan 46 orang atau 34, 8 % tidak memperoleh uang transport karena mereka berangkat sekolah jalan kaki. Hal ini dapat dilakukan siswa karena tempat tinggal mereka dekat dengan sekolah atau mereka tinggal di asrama sekolah yang disediakan, seperti SMA Lazuardi.. Uang transport siswa rata-rata sebesar Rp 6630,34 dengan jumlah minimum Rp.1000 dan maksimum Rp. 50.000. Jumlah transport siswa yang paling banyak muncul sebesar Rp. 2000. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tempat tinggal siswa tidak jauh dari tempat tinggal mereka atau menggunakan angkutan umum satu kali.

Sedangkan siswa yang menggunakan uang jajan dan uang transport 84 siswa atau 62,2 %. Artinya sebagian besar siswa SMA Depok memperoleh uang jajan dan uang transport setiap hari. Lima orang tidak memperoleh uang jajan dan 46 orang tidak memperoleh uang transport.

SMA lazuardi merupakan SMA yang bernilai akreditasi A dan dari segi uang pangkal dan uang sekolah juga paling tinggi jika dibandingkan dengan sekolah yang berakreditasi B,C,dan D. Jumlah uang jajan otomatis juga menunjukkan status sosial siswa dilihat dari faktor ekonomi.

Terpaan Media Massa

Terpaan media massa dalam penelitian ini di bagi dua, yaitu frekuensi menggunakan media massa dan perilaku menonton sinetron di televisi. Hasil penelitian masing-masing peubah dipaparkan sebagai berikut:

Frekuensi Menggunakan Media Massa

Frekuensi menggunakan media massa dihitung berdasarkan waktu yang digunakan siswa setiap hari dalam menit. Gambaran persentase frekuensi penggunaan media massa berdasarkan jenis media massa yang digunakan siswa, serta waktu minimum maupun waktu maksimum menggunakan media massa dalam satu hari, dipaparkan pada Tabel 16.

Tabel 16. Siswa SMA Depok berdasarkan penggunaan media massa dan waktu minimum dan maksimum.

________________________________________________________________

Menggunakan Tidak Menggunakan Jenis --- Waktu Min Waktu Maksimum Media f % f % Massa --- --- Suratkabar 91 67,4 44 32,6 5 185 Radio 117 86,7 18 13,3 10 600 Televisi 134 99,3 1 0,7 30 600 Internet 70 51,9 65 48,1 5 360 Tabloid 44 32,6 91 67,4 1 240 Majalah 67 49,6 68 50,4 3 300 ______________________________________________________________________

Media massa suratkabar digunakan 91 siswa atau 67,4 % dengan waktu penggunaan antara lima sampai 185 menit setiap hari. Media massa radio 117 siswa atau 86,7 % dengan waktu penggunaan antara 10 sampai 600 menit. Televisi 134 siswa atau 99,3 % dengan waktu penggunaan antara 30 sampai 600 menit setiap hari. Internet 70 siswa atau 51,9 % dengan waktu penggunaan antara lima sampai 360 menit perhari. Tabloid 44 siswa atau 32,6 dengan waktu penggunaan antara satu sampai 240 menit setiap terbit dan majalah digunakan 67 siswa atau 49,6 % dengan waktu tiga sampai 300 menit setiap kali terbit.

Artinya, siswa SMA Depok pada umumnya sudah menggunakan semua media massa. Tingkat penggunaan bervarisi mulai dari teringgi, yaitu televisi 99,3 % dengan jumlah maksimum waktu menonton 600 menit setiap hari. dan terendah adalah media massa Tabloid 32,6 %.setiap kali terbit.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa media televisi merupakan media yang paling banyak digunakan siswa dan juga media yang paling banyak yang tersedia di tempat tinggal siswa dimana mereka tinggal. Tempat tinggal dalam penelitian ini dapat di rumah orangtua siswa sendiri maupun di rumah tinggal siswa selama mereka sekolah di SMA.

Adapun tujuan siswa menggunakan media massa antara satu dengan yang lain ada perbedaan dan persamaan. Tujuan siswa menggunakan media suratkabar sebagian besar mencari informasi aktual, yaitu 50 siswa atau 37,0 %, tujuan menggunakan radio, televisi, dan internet untuk mencari hiburan, yaitu masing-masing 58 orang atau 43,00 %, 76 siswa atau 56,3%, dan 20 siswa atau 14,8 %. Sedangkan tujuan menggunakan tabloid dan majalah bagian terbesar mengatakan untuk mengisi waku luang, masing-masing 19 siswa atau 14,1 % dan 21 siswa atau 15,6 %

Berkaitan dengan banyaknya waktu siswa menggunakan televisi dengan tujuan mencari hiburan maka perlu juga diketahui bagaimana aktivitas mereka menonton salah satu acara hiburan yang banyak ditayangkan televisi, yaitu sinetron. Tayangan sinetron tersebut dispesifikkan pada sinetron yang ditayangkan oleh Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) dan Surya Citra Televisi (SCTV) pada jam 18.00 – 21.30 Wib.

Perilaku Menonton Sinetron

Mengenai aktivitas siswa menonton sinetron cenderung rendah dimana persentasi yang terbesar pada masing-masing sinetron ada pada aktivitas menonton sekilas atau tidak menonton. Siswa yang menonton sinetron mulai dari 15 menit dari awal, 30 menit dari awal, 45 menit dari awal dan yang sampai selesai. Adapun persentasi yang menonton sinetron dipaparkan dalam Tabel 17.

Tabel 17. Siswa SMA Depok berdasarkan aktivitas menonton sinetron

__________________________________________________________________

Aktivitas Namaku Cahaya Kasih Cinta Azizah Cinta Menonton Mentari Bunga Indah --- Sekilas/ Tdk Menonton 93 (68,9) 89 (65,9) 113 (83,7) 103 (76,3) 94 (69,6) 114 (84,4) 15 menit 22 (16,3) 21 (15,6) 9 ( 8,1) 11 (8,1) 17 (12,6) 7 (5,2) 30 menit 10 ( 7,4) 13 (9,6) 3 (2,2) 7 (5,2) 11 (8,1) 2 (1,5) 45 menit 1 ( 0,7) 3 (2,2) 4 (1,5) 2 (1,5) 6 (4,4) 2 (1,5) Selesai 9 ( 6,7) 9 (6,7) 6 (4,4) 12 (8,9) 7 (5,2) 10 (7,4) --- Total 135 ( 100) 135 (100) 135 (100) 135 (100) 135 (100) 135 (100) ________________________________________________________________________

Siswa SMA Depok yang menonton sinetron sebagian besar menonton 15 menit dari awal penayangan. Artinya siswa tidak menonton sinetron dari awal sampai akhir penayangan. Kondisi ini dapat diterangkan bahwa tayangan sinetron 15 menit diawal biasanya menceritakan kesinambungan cerita hari sebelumnya dan sudah dapat menangkap makna dan arah cerita yang ditayangkan walaupun belum selesai.

Sinetron yang paling banyak ditonton siswa adalah sinetron Cahaya, yaitu 46 siswa atau 34,8 % dan yang tidak menonton atau menonton sekilas 89 siswa atau 65,9 %. Peringkat kedua sinetron Namaku Mentari, yaitu 42 siswa atau 31,1 % dan yang tidak menonton atau menonton sekilas 93 siswa atau 68,9 %. Peringkat ketiga sinetron Azizah, yaitu 41 siswa atau 30,4 % dan yang tidak menonton atau menonton sekilas 94 siswa atau 69,6 %. Peringkat keempat sinetron Cinta Bunga, yaitu 32 siswa 23,7 % dan yang tidak menonton atau menonton sekilas 103 siswa atau 76,3 %. Peringkat kelima sinetron Kasih, yaitu 22 siswa atau 16,3 % dan yang tidak menonton atau menonton sekilas 113 siswa atau 83,7 %. Peringkat keenam sinetron Cinta Indah, yaitu 21 siswa atau 15,6 % dan yang tidak menonton atau menonton sekilas 114 siswa atau 84,4 %.

Mengenai pengklasifikasian durasi menonton, masing-masing sinetron mempunyai waktu tayang yang tidak sama. Ada yang 30 menit, 45 menit dan satu jam. Untuk mengantisipasi kebingungan siswa, peneliti memberi pengarahan pada saat pengisian daftar pertanyaan. Durasi sinetron yang 30 menit diarahkan supaya mengisi poin yang terakhir, yaitu menonton sampai selesai bukan menonton 30 menit.

Mediasi Orangtua

Mediasi orangtua merupakan aktivitas orangtua membicarakan tayangan televisi dalam hal ini sinetron dengan anak mereka baik yang bersifat positif maupun negatif. Mediasi orangtua terbagi tiga tipe, yaitu aktif, restriktif, dan coviewing. Masing-masing dipaparkan sebagai berikut:

Mediasi Aktif

Walaupun aktivitas siswa SMA menonton televisi cenderung pada menonton sekilas tetapi frekuensi orangtua membicarakan tayangan televisi khususnya sinetron dengan anak mereka cenderung pernah dilakukan baik satu kali, dua sampai tiga kali, empat sampai lima kali maupun lebih dari lima kali

selama siswa sekolah di SMA. Aktivitas membicarakan dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Siswa SMA Depok berdasarkan frekuensi membicarakan tayangan televisi dengan orangtua

________________________________________________________________ Frekuensi Membicarakan Jumlah Siswa Persentase (%) --- Tidak Pernah 1 0,7 1 kali 63 46,7 2-3 kali 46 34,1 4-5 kali 8 5,9 > 5 kali 17 12,6 --- Total 135 100,0 ________________________________________________________________

Bagian terbesar ada dalam level pernah membicarakan satu kali, yaitu sebanyak 63 orang atau 46,7 %. Tidak pernah membicarakan tayangan televisi sebanyak satu orang atau 0,7 %. Hal ini dapat dikaitkan dengan keberadaan siswa SMA yang secara fisik dapat dikategorikan dewasa, yaitu dari umur mereka yang rata-rata sudah di atas 15 tahun.

Orangtua sudah lebih memberikan tanggungjawab kepada siswa dalam menilai baik dan buruknya tayangan televisi bagi siswa dan lingkungannya. Dari hasil penelitian tersebut dapat diartikan bahwa orangtua masih memperhatikan bagaimana anak mereka berinteraksi dengan tayangan televisi walaupun frekuensi membicarakannya sudah semakin berkurang melihat peningkatan kedewasaan siswa SMA.

Frekuensi orangtua membicarakan tayangan televisi dengan siswa sebagian besar hanya satu kali. Isi pembicaraan mengenai tayangan televisi kadang-kadang bersifat negatif dan kadang-kadang bersifat positif.

Dari 134 siswa atau 99,3 % yang pernah membicarakan tayangan televisi dengan orangtua mereka, ternyata aktivitas membicarakan televisi ada yang jarang dengan skor 13-24, kadang-kadang dengan skor 25-36, dan sering dengan skor 37-48. Data mengenai aktivitas siswa membicarakan tayangan televisi khususnya sinetron dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19. Siswa SMA Depok berdasarkan aktivitas yang terjadi antara orangtua dengan siswa mengenai tayangan televisi.

__________________________________________________________________ Aktivitas Membicarakan Jumlah siswa Persentase (%)

Tayangan TV --- Jarang 10 7,5 Kadang-kadang 88 65,7 Sering 36 26,8 --- Total 134 100,0 __________________________________________________________________ Hasil penelitian menunjukkan bahwa mediasi aktif orangtua dan siswa masuk pada tingkat kadang-kadang dilakukan, yaitu 88 siswa atau 65,7 %. Sebagian besar orangtua kadang-kadang melakukan pembicaraan dengan anak mereka baik mengenai sisi negatif maupun positif. Orangtua kadang-kadang memberikan kesempatan pada siswa berpendapat mengenai tayangan sinetron di televisi dan memberi informasi tambahan baik negatif maupun positif, serta orangtua kadang-kadang memberi pengarahan pada siswa mengenai tayangan sinetron di televisi.

Artinya tayangan sinetron yang mengandung hal-hal tidak baik maupun yang baik kadang-kadang dibicarakan dengan anak mereka. Hal ini akan memberikan pengetahuan dalam menyikapi bagaimana realitas sosial yang ada dan bagaimana pula tingkah laku siswa yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Tayangan yang cenderung bertentangan dengan nilai-nilai atau norma-norma dalam masyarakat pada umumnya lebih intens dibicarakan. Hal ini sesuai dengan sifat manusia yang cenderung melihat kesalahan orang lain dari pada kesalahan sendiri. Membicarakan yang bersifat negatif juga dapat mengantisipasi agar tidak terjadi pada diri anak mereka. Orangtua mempunyai semangat membicarakan tayangan sinetron di televisi.

Mediasi Restriktif

Mediasi restriktif berkaitan dengan aturan yang dibuat orangtua dan pelaksanaan aturan tersebut dalam menonton tayangan televisi dalam hal ini sinetron. Mengenai aturan menonton televisi juga merupakan salah satu tipe mediasi yang dilakukan orangtua bagi sanak-anak mereka. Peraturan menonton televisi ada yang membuat secara ketat dan ada juga yang tidak membuat aturan sama sekali. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20 Kekuatan aturan menonton tayangan televisi

__________________________________________________________________ Kekuatan Aturan jumlah Siswa Persentase (%) --- Tidak membuat aturan 28 20,7

Aturan tidak terlalu ketat 87 64,4 Aturan secara ketat 18 13,3 Sangat ketat 2 1,5

--- Total 135 100,0

__________________________________________________________________

Hasil penelitian menunjukkan bahwa orangtua siswa sebagian besar membuat aturan tidak terlalu ketat yaitu 87 atau 64,4 %. Pada umumnya sebagian besar orangtua membuat aturan baik tidak terlalu ketat sampai ketat sekali, yaitu 107 atau 79,3 % dan tidak membuat aturan sama sekali hanya 28 orangtua siswa atau 20,7 %.

Mengenai pelaksanaan aturan yang dibuat orangtua ada yang lebih sering tidak menjalankan dengan skor 9-16, ada yang kadan-kadang menjalankan dengan skor 17-24, dan ada juga yang lebih sering menjalankan dengan skor 25- 32. Dari 107 orangtua siswa atau 72,3 % yang membuat aturan ternyata pelaksanaan aturan tersebut bervariasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 21.

Tabel 21. Pelaksanaan aturan menonton tayangan televisi

__________________________________________________________________ Pelaksanaan aturan Jumlah Siswa Persentase (%) --- Lebih sering tidak menjalankan 7 6,5

Kadang-kadang 71 66,4

Lebih sering menjalankan 29 27,1

---

Total 107 100,0

__________________________________________________________________

Pelaksanaan aturan yang dibuat orangtua bagian terbesar kadang- kadang dijalankan dan kadang-kadang tidak dijalankan oleh siswa, yaitu 71 orang atau 66,4 %. Aturan menonton televisi tersebut tidak terlalu ketat dikontrol oleh orangtua karena siswa SMA pada dasarnya telah dewasa dan mampu mengatur waktu kapan harus menonton TV atau kapan harus belajar. Pengaturan waktu tersebut sangat tergantung pada individu masing-masing.

Mediasi Coviewing

Mediasi coviewing merupakan aktivitas orangtua menonton televisi bersama dengan anak mereka. Mengenai frekuensi menonton TV bersama-sama juga bevariasi. Ada yang tidak pernah menonton bersama sama, ada juga yang lebih dari 15 kali selama siswa sekolah di SMA. Untuk lebih jelasnya ditampilkan pada Tabel 22.

Tabel 22. Frekuensi menonton televisi bersama orangtua

__________________________________________________________________ Frekuensi menonton TV Bersama Jumlah Siswa Persentase (%)

--- Pernah 1-5 kali 54 40,0 Pernah 6-10 kali 16 11,9 Pernah 11-15 kali 8 5,9 Pernah > 15 kali 57 42,2 --- Total 135 100,0 __________________________________________________________________

Semua responden pernah menonton TV bersama dengan orangtua dan sebagian besar 57 siswa atau 42,2 % pernah menonton bersama lebih dari 15 kali selama sekolah di SMA. Menonton televisi bersama tidak mesti dilakukan di rumah sendiri tapi bisa juga ditempat lain, misalnya di rumah saudara.

Mengenai aktivitas komunikasi saat siswa menonton bersama orangtua, kemungkinan terjadi pembicaraan dan kemungkinan tidak terjadi. Isi pembicaraan berkaitan dengan tayangan yang ditonton dapat berupa tanggapan, pengarahan, nasihat, dan tambahan informasi mengenai tayangan yang ditonton. Sedangkan yang tidak terjadi pembicaraan, sama-sama menonton tetapi tidak terjadi komunikasi yang bersifat verbal mengenai tayangan yang sedang ditonton. Aktivitas komunikasi antara orangtua dan anak pada saat menonton bersama baik berupa tanggapan, pengarahan, nasihat dan pemberian tambahan informasi dapat bersifat jarang dilakukan dengan skor 9-16, kadang-kadang dijalankan dengan skor 17-24, dan sering dijalankan dengan skor 25-32. Hasil penelitian mengenai aktivitas tersebut dipaparkan pada Tabel 23.

Tabel 23. Aktivitas komunikasi pada saat menonton bersama

__________________________________________________________________ Aktivitas Komunikasi Saat menonton TV Bersama Jumlah Siswa Persentase (%) --- Jarang 16 11,9 Kadang-kadang 91 67,4 Sering 28 20,7 --- Total 135 100,0 __________________________________________________________________

Pada saat menonton bersama sebagian besar kadang-kadang terjadi aktivitas komunikasi antara orangtua dan anak, yaitu 91 orang atau 67,4 %. Dalam aktivitas tersebut terjadi pengarahan, pembahasan, mengomentari, memberi perbandingan, memberi nasihat, dan kesepakatan mengenai isi tayangan televisi.

Setelah dipaparkan ketiga tipe mediasi tersebut dapat dibandingkan dengan nilai rata-rata masing-masing tipe dan hasilnya dapat dilihat pada Tabel 24.

Tabel 24. Rata-rata, nilai minimum dan maksimum mediasi orangtua,

__________________________________________________________________ Bentuk Mediasi Nilai rata-rata Nilai Minimum Nilai Maksimum ---

Aktif 30,24 12 47

Restriktif 19,21 8 32

Coviewing 20,77 11 31

________________________________________________________________

Rata-rata tipe mediasi aktif merupakan nilai tertinggi dari tipe restriktif dan coviewing. Hal ini menunjukkan sebagian besar siswa dan orangtua aktif membicarakan tayangan televisi khususnya sinetron dibandingkan dengan tipe mediasi coviewing dan restriktif.

.

Tingkat Pengetahuan Media Massa

Pengetahuan siswa mengenai media massa televisi dapat dibagi tiga bagian, yaitu pengetahuan mengenai isi, industri, dan efek tayangan televisi. Hasil penelitian masing-masing pengetahuan tersebut dipaparkan sebagai berikut:

Pengetahuan Siswa SMA Depok Mengenai Isi Media Televisi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai isi media

Dokumen terkait