• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

1.6.2 Waktu Penelitian

Riset dijalankan bulan Maret 2021 hingga Februari 2022. Rincian waktu riset dapat ditinjau di tabel berikut:

Tabel 1.1

10 Sumber: Data Peneliti (2021)

3. Pendaftaran Desk Evaluation 4. Menyusun BAB

IV dan BAB V 5. Revisi BAB IV

dan BAB V 6. Pendaftaran dan

Sidang Skripsi

11

BAB II

STUDI KEPUSTAKAAN

2.1 Tinjauan Pustaka Penelitian

Untuk memahami secara mendalam tentang rencana penelitian tantangan implementasi program CSR, penulis berupaya untuk melakukan studi kasus. Terutama untuk riset sosial untuk menyelidiki, meneliti, dan memahami hasil penelitian yang telah dikerjakan kepada program CSR sebelumnya yang sudah dibuat oleh organisasi dan para akademisi Perguruan Tinggi.

2.1.1 Corporate Social Responsibility

a. Definisi Corporate Social Responsibility

Tanggung jawab sosial perusahaan secara konseptual merupakan salah satu strategi yang mana organisasi melakukan integrasi terhadap kepedulian sosial dalam menjalankan usahanya dan hubungan perusahaan dengan para stakeholder dengan mengikuti asas dari kemitraan dan kesukarelaan. Tetapi kemudian, CSR secara empiris telah diterapkan oleh organisasi dengan wujud aktivitas yang dirujukkan dengan sukarela (voluntary). CSR dilaksanakan dengan dorongan yang bermacam-macam, bergantung kepada perspektif dan seperti apa mengartikan CSR tersebut. Saat ini PT Vale Indonesia sedang dalam situasi yang sama, terutama selama pandemi Covid-19 tahun ini, di mana mereka telah menerima berbagai dukungan sosial dan ekonomi dari bisnis lain dan masyarakat sekitar.

Merurut para ahli beberapa pengertian CSR, perusahaan internasional, dan bermacam definisi yang diperoleh pada literatur tentang CSR ialah seperti dibawah ini:

1. European Union mengungkapkan tanggung jawab sosial sebagai konsepsi dengan nama perusahaan yang mengintegrasikan fokus kepada lingkungan dan sosial pada usahanya. Pada interaksi dengan pemegang saham berdasar atas asas sukarela.

2. Mallen Baker mendefinisikan CSR selaku seperti apa organisasi

12 mengelola perekonomiannya pada upaya untuk memberikan efek positif yang komperhensif kepada publik. (Matias Siagian, 2010: 65).

3. The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) yang merumuskan CSR selaku “dedikasi perusahaan yang tak tergoyahkan untuk menegakkan standar etika yang tinggi sementara juga mempromosikan pembangunan ekonomi, meningkatkan kualitas kehidupan tenaga kerja dan komunitas serta keluarganya dan publik untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.” (Busyra Azheri, 2010:21)

4. World Bank (Bank Dunia) berpendapat tentang definisi dari CSR sebagai salah satu persutujuan komitmen dari perusahaan upaya memberikan manfaat untuk perkembangan perekonomiann yang berkelanjutan, bekerja dengan wakil perusahaan, publik sekitar dan yang pada standar meluas dalam memberikan peningkatan mutu kehidupan. Sehingga, keberadaan perusahaan akan terlihat baik terhadap perusahaan maupun pembangunan. (Matias Siagian, 2010:66)

5. Michael Hopkins, membahas CSR sebagai kaitan antara perlakuan perusahaan kepada pemangku kepentingan yang ada pada internal ataupun eksternal perusahaan, diantaranya dengan lingkungan yang dengan memiliki tanggung jawab dalam memberikan perlakuan pemangku kepentingan dengan teknis yang dapat diterima. (Azheri, 2010:26).

b. Jenis-Jenis Program Corporate Social Responsibility

Kotler dan Lee dalam Solihin (2008) mengembangkan beberapa macam program yang dapat membantu menjelaskan beberapa tugas pokok CSR. Menurut mereka ada enam program alternatif dari CSR ini yang dapat dipilih perusahaan sebagai bahan pertimbangan tujuan perusahaan, keuntungan pontensial yang dapat diperoleh, tipe dari programnya, dan tahapan kegiatan perusahaan,

13 diantaranya:

1. Penyebab Promosi

2. Penyebab Pemasaran Terkait 3. Pemasaran Sosial Perusahaan 4. Filantropi Perusahaan

5. Sukarelawan Komunitas

6. Praktik Bisnis yang Bertanggung Jawab atas Sosial.

1. Cause Promotions (Penyebab Promosi)

Jenis program CSR Cause Promotions yang digunakan suatu perusahaan dalam menyelenggarakan sejumlah anggaran selaku wujud kontribusi CSR atau sumber daya lain dalam memberikan peningkatan pada kesadaran publik (awareness) kepada sebuah permasalahan sosial atau dalam menunjang penghimpunan dana, ikut serta dari masyarakat, atau pada upaya merekrut relawan (volunteer) pada penunjangan permasalahan sosial tersebut.

CSR Cause Promotions dipakai selaku perhatian pada pembentukan sasaran komunikasi organisasi seperti dibawah ini:

a. Building awareness and concern, organisasi berupaya membentuk kepedulian dan kesadaran publik dengan menyajikan fakta dan data statistik. Sebagai contoh PT Vale Indonesia dan pemerintah daerah Luwu Timur bekerja sama dalam menerbitkan dan memperbarui informasi tentang seberapa banyak kasus Covid-19 yang terjadi pada daerah Luwu Timur.

b. Persuading people to find out more, organisasi berupaya meraih minat publik dalam mengenal permasalahan sosial yang ada lebih detail melalui website, tool kit atau brosur lainnya. Seperti PT Vale yang telah mempunyai majalah Halo Vale, website, dan media sosial yang dapat dijangkau oleh banyak orang.

Peluang keuntungan yang didapat perusahaan dalam

14 menjalankan aktivitas cause promotion ialah untuk menguatkan brand positioning perusahaan dan peluang kepada tenaga kerja perusahaan, membentuk relasi diantara organisasi dengan pihak ketiga serta memberikan peningkatan terhadap citra perusahaan atau corporate image.

Proses aktivitas Cause Promotions ialah seperti dibawah ini:

a. Memilih aktivitas yang berkenaan dengan tujuan dan misi organisasi.

b. Memilih isu permasalahan sosial yang berkenaan dengan produk dan industri yang diproduksi oleh organisasi.

c. Memberikan kepastian adanya pemegang saham pada sosialisasi permasalahan sosial yang diangkat oleh organisasi.

d. Memberikan pengembangan sosialisasi dengan sifat berkelanjutan atau jangka panjang.

2. Cause Related Marketing (Penyebab Pemasaran Terkait) Orgniasasi yang menerapkan CSR dengan Tipe program Cause Related Marketing (CRM), mempunyai komitmen berkontribusi dalam penghasilannya dengan bentuk persentase pada sebuah aktivitas sosial menurut jumlah penjualan produk.

Misalnya, perusahaan PTVI melakukan kegiatan gathering bersama dengan pemangku kepentingan dengan bertujuan mempererat silaturahmi dan kerjasama antara perusahaan atau dengan melakukan kerjasama berupa pembelian produk berupa bahan baku nikel yang tersedia dan dapat berkelanjutan.

Proses pada penerapan program CRM seperti yang dikemukakan Kotler (2005:111-112), dimulai dengan menilai situasi, menetapkan tujuan, memilih audiens target, menentukan rencana pemasaran dan mengembangkan rencana anggaran, penerapan, dan evaluasi.

Program CSR CRM memiliki potensi untuk meningkatkan penjualan produk dan menciptakan citra merek yang positif di

15 benak konsumen dengan menerapkan CRM, menjangkau pelanggan baru, dan menargetkan ceruk pasar tertentu.

3. Corporate Social Marketing

Perusahaan pada program Corporate Social Marketing, melaksanakan dan melakukan pengembangan sosialisasi dalam mentransformasi tingkah laku publik dengan sasaran memberikan peningkatan kepada keselamatan dan kesehatan publik, memeliharan pelestarian lingkungan hidup, serta memberikan peningkatan kemakmuran publik. Sosialisasi CSM menekankan kepada upaya dalam meningkatkan transformasi tingkah laku yang berkenaan sebagian masalah yaitu masalah perlindungan kepada kerugian atau kecelakaan, kesehatan, keterlibatan masyarakat dan lingkungan (Kotler dalam Solihin:

2009).

Dari program CSR perusahaan dapat memiliki keuntungan, yaitu memberikan peningkatan kepada penguatan merek atau brand positioning di mata pelanggan dan menunjang terhadap peningkatan penjualan, menunjang antusiasme relasi perusahaan dalam menyokong program, serta berdampak kepada transformasi sosial. Dalam hal ini, PT Vale Indonesia Tbk telah melakukan vaksinasi dosis pertama dan kedua untuk masyarakat terkhusus karyawan perusahaannya.

4. Corporate Philanthropy

Dengan program corporate philanthropy perusahaan berkontribusi dengan cuma-cuma atau Charity berbentuk sumbangan hibah tunai atau lainnya seperti yang dijelaskan oleh Kotler (2005: 144), Corporate Philanthropy ialah suatu sikap organisasi dalam memberi kembali pada publik beberapa dari hartanya sebagai rasa terima kasih terhadap kontribusi publik tersebut. Dalam contohnya, PTVI membantu korban bencana alam, menawarkan beasiswa kepada anak-anak karyawan, dan

16 memproduksi vaksin dalam jumlah besar untuk kepentingan masyarakat.

Pada umumnya Corporate Philanthropy berkenaan dengan permasalahan sosial yang menjadi fokus utama organisasi, antara lain berbentuk seperti dibawah ini:

a) Menawarkan hibah, dalam bentuk bantuan hibah.

b) Memberikan sumbangan uang tunai, memberikan sumbangan berupa donasi uang tunai.

c) Donasi produk, pemberian donasi produk dari hasil produksi perusahaan.

d) Pemberian beasiswa, perusahaan memberikan bantuan beasiswa.

e) Menyediakan keahlian teknis dan menawarkan penggunaan peralatan, penggunaan teknisi ahli dan peralatan secara berlebihan oleh suatu organisasi.

f) Jasa donasi, pelayanan oleh organisasi misalnya pelayanan kesehatan.

5. Community Volunteering

Perusahaan dengan program Community Volunteering mendorong dan mendukung franchisee atau pemegang rekor agen ritel untuk merelakan waktunya untuk membantu organisasi di komunitas atau komunitas sekitar yang menjadi tujuan program.

Benefit yang didapatkan dengan aktivitas community volunteering oleh perusahaan ialah terbentuknya hubungan yang tulus di antara komunitas dengan perusahaan dan berkontribusi kepada sasaran perusahaan juga meningkatkan motivasi dan kepuasan tenaga kerja.

Dalam hal ini, CSR PTVI seringkali terjun ke lapangan untuk langsung berinteraksi dengan berdiskusi bersama masyarakat sekitar pemberdayaan untuk mengetahui persoalan apa saja yang telah dialami dan bantuan seperti apa yang

17 memungkinkan untuk membantu masalah tersebut.

6. Socially Responsible Business Practice (Community Development)

Perusahaan melakukan penanaman modal yang membantu penyelesaian suatu problematika sosial guna meningkatkan kesejahteraan komunitas serta melindungi lingkungan sekitarnya itu adalah Socially Responsible Business Practice (SRBP), berdasarkan Kotler (2005:208).

Socially Responsible Business Practice, ialah seperti:

a. Mendesain fasilitas, menciptakan fasilitas dengan standar keamanan yang telah diusulkan.

b. Mengembangkan perbaikan proses, mengembangkan aktivitas pengurangan sampah serta mengolahnya kembali.

c. Menghentikan penawaran produk, penghentian penawaran produk yang akan memberikan dampak negatif pada kesehatan manusia.

d. Bahan pembuatan dan pengemasan yang ramah lingkungan harus digunakan bila memungkinkan.

e. Program penghargaan kerja harus dikembangkan dan ditingkatkan.

SRBP yang telah diterpakan CSR PTVI adalah dengan menciptakan galeri UKM untuk menunjang UMKM masyarakat yang ada di area pemberdayaan dalam meningkatkan aktivitas dan kreativitas masyarakat setempat sekaligus memberikan kesempatan untuk masyarakat dapat mengembangkan potensi bisnis kreatifnya terlebih pada masa pandemi Covid-19 peminat UMKM makin banyak karena kebijakan #dirumahaja.

c. ISO 26000 Standar Global Pelaksanaan CSR

Sebuah setter standar internasional seperti ISO (International Organization for Standardization) melangkah pada bulan September

18 2004 untuk membentuk ISO ISO 26000: Guidance Standard on Social Responsibility., mengundang semua pihak yang berkepentingan untuk bergabung dengan tim mereka (working group). Pemberian aturan aktivitas ISO ada pada pandangan umum bahwa SR ialah suatu hal yang krusial untuk keberlangsungan suatu perusahaan. Pemahaman ini tergambar pada dua sidang yakni

“World Summit on Sustainable Development (WSSD) dan Rio Earth Summit on the Environment tahun 1992” tahun 2002 yang berlangsung di Afrika Selatan.

Dalam konteks ini, berbagai hal mulai dari Corporate Social Responsibility atau CSR hingga Social Responsibility atau SR semakin berkembang. Menurut komite bayangan dari Indonesia perubahan ini diakibatkan acuan ISO 26000 tidak hanya untuk perusahaan saja akan tetapi untuk seluruh wujud perusahaan baik publik ataupun swasta. ISO 26000 adalah standar sukarela referensi tentang tanggung jawab sosial institusional, yang mencakup semua sektor lembaga swasta dan publik di negara maju dan berkembang.

Apabila merujuk pada pandangan yang dipakai oleh para pakar yang menyusun ISO 26000 yang dengan konsisten melakukan pengembangan tanggung jawab sosial sehingga permasalahan sosial responsibility akan melingkupi tujuh masalah pokok yakni :

1. Konsumen Pengembangan Masyarakat

2. Organisasi Pemerintahan (Organizational Governance) 3. Lingkungan

4. Praktik Kegiatan Institusi yang Sehat 5. Hak asasi manusia

6. Ketenagakerjaan

Sesuai dengan ISO 26000, CSR didefinisikan sebagai tanggung jawab perusahaan atas dampak lingkungan dan sosial dari tindakannya secara etis dan terbuka, di mana:

1. Memperhatikan kepentingan dari para stakeholder.

19 2. Konsisten dengan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan

berkelanjutan;

3. Termasuk dalam setiap aspek operasi perusahaan, baik itu kegiatan, layanan, atau produk;

4. Mematuhi hukum yang berlaku dan norma-norma internasional.

Asas-asas jasa menjadi landasan untuk penerapan yang menjadi informasi dan menjiwai dalam perencanaan keputusan dan aktivitas CSR berdasarkan ISO 26000 melingkupi:

1. Menghormati instrumen/badan-badan internasional 2. Kepatuhan kepada hukum

3. Akuntabilitas 4. Transparansi

5. Menghormati stakeholders dan kepentingannya 6. Melakukan tindakan pencegahan

7. Menghormati dasar-dasar hak asasi manusia 8. Perilaku yang beretika

d. Faktor-Faktor Pelaksanaan Corporate Social Responsibility Ada beberapa aspek umum yang mendukung perusahaan pertambangan PT Vale Indonesia Tbk dalam menjalankan program CSRnya, terbagi menjadi faktor internal dan eksternal:

1. Faktor internal misalnya top manajemen pada suatu organisasi melihat sebagai peluang sumber memperoleh kompetitif unggul atau responsibility is opportunity.

Beberapa pengamat yang memiliki pendapat bahwa faktor internal selaku penunjang CSR akan banyak memiliki peran di masa yang akan datang.

2. Faktor eksternal, terutama organisasi masyarakat sipil, mengkritik kinerja sosial dan lingkungan perusahaan Seseorang dapat belajar banyak tentang hubungan publik-swasta dengan melihat masa lalu.

20 e. Implementasi Corporate Social Responsibility

1. Pola Implementasi Corporate Social Responsibility

Pada usaha untuk meraih efektivitas penerapan CSR pada perusahaan terdapat setidaknya ada 4 pola atau model yang umumnya di jalankan di Indonesia yakni (Abidin, 2004:64-65) : a) Dengan organisasi sosial atau Yayasan perusahaan. Perusahaan

membentuk sebuah yayasan yang dinaungi oleh grupnya atau perusahaannya. Model ini merupakan adaptasi dari model yang biasa diterapkan pada organisasi di negara maju.

b) Keterlibatan. Perusahaan secara langsung menjalankan program CSR dengan menyelenggarakan aktivitas sosialnya dan menyerahkan donasi kepada masyarakat tanpa adanya perantara.

c) Bergabung dan mendukung pada suatu konsorsium.

Perusahaan ikut serta menjadi anggota mendirikan dan mendukung sebuah organisasi sosial yang dibentuk dengan sasaran sosial tertentu. Penerapan CSR ini mempunyai aktivitas yang besar yang dapat diraih apabila perusahaan tidak lagi memiliki peran sebagai dermawan. Tindakan ini memiliki dampak negatif yakni terpeliharanya ketergantungan pada uang kontribusi. Pelaksana CSR perusahaan pada konteks ini seharusnya dapat membangun suatu kerjasama dalam bentuk relasi kerja di antara masyarakat dengan perusahaan supaya dapat meraih sasaran bersama.

d) Bekerjasama dengan pihak lain. Perusahaan melakukan kegiatan kemitraan dengan organisasi non pemerintahan atau organisasi sosial lembaga pemerintahan dan media massa atau universitas baik dalam pengolahan anggaran ataupun dalam penerapannya.

Dibawah ini tersaji tabel yang mendeskripsikan manfaat terlibatnya masyarakat di sekitar oleh perusahaan dalam penerapan program CSR (Matias Siagian, 2010:78-79).

21 Tabel 2.1

Manfaat Penerapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Masyarakat setempat pada perusahaan Perusahaan pada masyarakat setempat 1. Reputasi yang lebih baik

2. Izin untuk beroperasi secara sosial

3. Mampu menggunakan pengetahuan dan tenaga kerja lokal

4. Keamanan yang lebih terjamin 5. Infrastruktur dan lingkungan

sosial ekonomi yang lebih baik 6. Menjaga pribadi yang efisien dan memiliki komitmen yang tinggi

7. Menarik pekerja, pemasok, pemberi pelayanan dan konsumen setempat yang berkualitas

1. Peluang penciptaan kesempatan kerja, pengalaman kerja, dan program latihan 2. Pembagian penanaman modal

bagi masyarakat,

pengembangan rangka asas 3. Keterampilan perdagangan 4. Efisiensi teknik dan pribadi

pekerja yang terlibat

5. Keterwakilan ekonomi sebagai strategi promosi bagi prakarsa masyarakat setempat.

Sumber: Matias Siagman (2010:78-79)

Pada penerapan kegiatan CSR tidak terdapat praktek tertentu atau standar yang di duga paling baik pada tiap organisasi yang mempunyai situasi dan karakteristik unik yang berpengaruh kepada seperti apa mereka melihat CSR tersebut. Setiap perusahaan berada di tempat yang berbeda ketika menyadari masalah CSR dan berapa banyak pekerjaan yang telah dilakukan untuk menerapkan pendekatan CSR.

2. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Implementasi CSR

Dalam kata Dwi (2009: 54-55) Untuk melaksanakan CSR, ada

22 delapan indikator yang dapat digunakan, seperti:

a) Kepemimpinan (Leadership)

Inisiatif CSR perusahaan dianggap sukses jika mendapat dukungan dari tim eksekutif perusahaan dan kepemimpinan menunjukkan kesediaan untuk memberikan kembali kepada masyarakat.

b) Proporsi bantuan

Agar program CSR menjadi tingkat penyerapan maksimum yang wajar dalam skala besar, anggaran juga harus ditingkatkan. Maka tidak menjadi suatu tolak ukur apabila dana yang tinggi akan menghasilkan program yang baik.

c) Akuntabilitas dan Transparansi

- Memiliki mekanisme audit finansial dan sosial yang mana unit sosial berkenaan dengan uji coba sejauh mana program tersebut di rujukan untuk masyarakat secara benar perusahaan mendapatkan feedback dari masyarakat dengan melakukan wawancara dengan para penerima CSR tersebut.

- Terdapat laporan tahunan (seperti, Annual Report PT Vale dan Sustainability Report PT Vale)

d) Cakupan Area (coverage area)

Adanya identifikasi dari penerima donasi dengan rasional dan tertib menurut skala prioritas yang telah ditetapkan.

e) Mekanisme Monitoring dan evaluasi dan Perencanaan

Dalam rencana, harus dipastikan bahwa banyak pemangku kepentingan terlibat dalam setiap siklus pelaksanaan proyek.

- Adanya kesadaran guna memfokuskan pada faktor lokal ketika merencanakan adanya pemahaman kontribusi dan penerimaan terhadap kultur sekitar.

- Adanya blue print policy yang jadi asas penerapan

23 program.

f) Pelibatan Pemegang saham (stakeholder engagement)

Mekanisme koordinasi antara pemegang saham dan petani sangat penting, khususnya ada publik dan ada mekanisme memberikan jaminan ikut sertanya masyarakat dalam beberapa proyek.

g) Keberlanjutan (sustainability)

- Meningkatkan rasa keterlibatan masyarakat mereka untuk berkontribusi lebih baik pada pemeliharaan dan pemeliharaan program.

- Pilihan untuk memiliki hubungan program menjamin bahwa dengan tidak mengikuti program, program akan berjalan sampai menyelesaikan hubungan.

- Peran berpindah dari perusahaan ke masyarakat.

h) Hasil yang nyata (outcome)

- Bukti fisik, seperti dokumen yang menunjukkan penurunan penyakit dan kematian atau penurunan buta huruf, peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang pendidikan, dan tolok ukur lainnya di area CSR perusahaan.

- Mengubah cara orang berpikir.

- Meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat yang terbuka atau aktif.

3. Teori Stakeholder

Menurut teori pemangku kepentingan, perusahaan tidak bisa hanya ada untuk kepentingannya sendiri; Ia juga harus menguntungkan para pemegang sahamnya. Pengertian stakeholder yang dikemukakan (Rhenald Kasali dalam Purnasiswi, 2011), ialah setiap golongan orang yang ada pada dalam maupun luar perusahaan memiliki peranan dalam menetapkan suatu keberhasilan perusahaan. Kehadiran pemangku kepentingan di perusahaan memiliki dampak signifikan pada kemampuan perekam untuk mendukung perusahaan (Fatoni dkk, 2016).

24 Tanggung jawab perusahaan pada dasarnya tidak hanya terbatas pada memaksimalkan profit untuk kepentingan stakeholder akan tetapi secara luas yaitu, untuk membentuk kesejahteraan stakeholder tersebut yakni seluruh pihak terkait dengan perusahaan. Manfaat tersebut dapat diperoleh dengan teknis mengimplementasikan CSR yang diharapkan dapat memberikan peningkatan bagi kesejahteraan tenaga kerja masyarakat lokal maupun pelanggan. Dengan demikian akan terjalin hubungan yang baik diantara lingkungan sekitar dengan perusahaan yang berjalan.

2.2 Penelitian Terdahulu

Pada proses riset ini, peneliti memakai berbagai referensi dari sebagai riset sebelumnya. Dibawah ini beberapa riset terdahulu tersebut:

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu

Jurnal Nasional 1

Nama Peneliti Hasnati, Sandra Dewi, dan Andrew Shandy Utama Lokasi

Pemberdayaan ekonomi masyarakat saat pandemi Covid-19

PT Asia Forestama Raya diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pandemi Covid-19 ini.

Situasi keuangan PT Asia Forestama Raya yang genting menjadi salah satu hambatan pelaksanaan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Desa Limbungan. Jika PT Asia Forestama Raya gagal untuk menempatkan rencana CSR ke dalam tindakan, warga Kelurahan Limbungan dapat

25 membawa keluhan mereka ke Komite IV DPRD Kota Pekanbaru.

Perbedaan Perusahaan yang diteliti berbeda

Jurnal Nasional 2 Nama Peneliti Jamaluddin dan Suhardi M. Anwar Lokasi

Dependen dan Independen bersifat statistik

Teknik Indonesia Tbk berdampak signifikan terhadap tingkat pendidikan dan pendapatan kelompok tani di Kecamatan Nuha, namun tidak berdampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Model 1 memiliki tingkat kontribusi 71,6% untuk sektor pendidikan, sedangkan model 3 memiliki tingkat kontribusi 93,7% untuk dana tanggung jawab sosial Nuha Road. Model 3 menunjukkan, di sisi lain, bahwa tanggung jawab sosial perusahaan, yang diukur dengan kesehatan, tidak memiliki dampak signifikan pada kesejahteraan individu.

Perbedaan Penelitian tidak pada saat pandemi covid-19

Jurnal Nasional 3

Nama Peneliti Umar Rizqon Akbar dan Sahadi Humaedi Lokasi

Penelitian

Bandung, Jawa Barat

Variabel dan Program CSR mengatasi pandemi Covid-19

26

Banyak pihak mengambil tindakan untuk memerangi pandemi virus Covid-19 dalam situasi seperti ini. Untuk membantu mereka yang terkena dampak pandemi virus Covid-19 dan mencegahnya, banyak perusahaan Indonesia dengan CSR mengubah strategi CSR mereka. Bisnis harus dapat memenuhi tanggung jawab sosial yang direncanakan dalam situasi yang tidak terkendali selama masa pandemi Covid-19, karena penerima manfaat tanggung jawab sosial menjadi lebih umum selama masa pandemi ini.

Perbedaan Perusahaan yang diteliti berbeda

Jurnal Nasional 4 Nama Peneliti Dewi Retno Budiastuti Lokasi

Program CSR disaat pandemi Covid-19

Teknik Analisis Data

Studi literatur

Hasil Penelitian

Negara-negara di seluruh dunia telah memberlakukan dan menerapkan beberapa peraturan untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Lockdown, jam malam, dan pembatasan sosial berskala besar telah diberlakukan di sejumlah negara. Beberapa kabupaten di Indonesia sudah mulai menggunakan penegakan sosial dalam skala besar.

Mengatur sesuatu di Indonesia sulit diterima oleh sebagian orang karena budaya dan ekonomi negara yang unik. Bagi

27 mereka yang terdampak Covid-19, corporate social responsibility (CSR) adalah angin segar.

Perbedaan Perusahaan yang diteliti berbeda

Jurnal Internasional 1

Nama Peneliti Dr Debjani Palai dan Prof. Rabinarayan Subudhi Lokasi

Program CSR saat pandemi Covid-19

Teknik Analisis Data

Analytical

Hasil Penelitian

Pandemi telah memberikan pelajaran bagaimana mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan yang berkelanjutan baik oleh organisasi maupun masyarakat dengan melakukan upaya terbaik mereka selama masa kesusahan. Dengan mempertimbangkan CSR sebagai senjata strategis perusahaan dapat mencapai pertumbuhan jangka panjang yang pada akhirnya mengarah pada kemakmuran masyarakat secara keseluruhan.

Perbedaan Perusahaan yang diteliti berbeda

Jurnal Internasional 2

Nama Peneliti Luiz Henrique Vieira da Silva, Cibele Roberta Sugahara, dan Denise Helena Lombardo Ferreira

Lokasi

Program CSR dalam mengatasi pandemi Covid-19

28

Kekhawatiran yang diungkapkan oleh perusahaan-perusahaan ini telah memfasilitasi pemerintah dalam mengatasi pandemi COVID-19, karena negara harus mengambil tindakan drastis dalam menegakkan MCO untuk mengekang penyebaran penyakit secara bertahap.

Kekhawatiran yang diungkapkan oleh perusahaan-perusahaan ini telah memfasilitasi pemerintah dalam mengatasi pandemi COVID-19, karena negara harus mengambil tindakan drastis dalam menegakkan MCO untuk mengekang penyebaran penyakit secara bertahap.