• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLIKASI NAMA MEREK, PROMOSI PENJUALAN, PERSEPSI KUALITAS, PERSEPSI NILAI DAN CITRA PERUSAHAAN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN ONLINE (Studi pada mahasiswa yang menggunakan Pomade Murray’s di Universitas Lampung)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "IMPLIKASI NAMA MEREK, PROMOSI PENJUALAN, PERSEPSI KUALITAS, PERSEPSI NILAI DAN CITRA PERUSAHAAN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN ONLINE (Studi pada mahasiswa yang menggunakan Pomade Murray’s di Universitas Lampung)"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRACT

The implications of the Brand Name, Sales Promotion, Percieved Quality, Percieved Value and Image of the Company on Online Purchasing Decision

(studies on students who use Pomade Murray’s in University of Lampung)

By

DIMAS ELDI ROSI

The aim of this study was to determine the effect of Brand Name, Sales Promotion, Perceived Quality, Perceived Value and Corporate Image on Online Purchasing Decision. Inferential statistical analysis of this study using multiple linear regression. The result of this study are partially contained significant influence between Brand Name and Sales Promotion toward Online Purchasing Decisions while Perceived Quality, Perceived Value and Corporate Image partially no significant effect toward Online Purchasing Decision on students who use Pomade

Murray's in the University of Lampung. Simultaneous hypothesis testing results show that there was significant influence between Implications of Brand Name, Sales Promotion, Perceived Quality, Perceived Value and Corporate Image toward Online purchasing Decision. The company must better understand consumer behavior in order to further improve the quality, and corporate image to purchase online.

(2)

ABSTRAK

IMPLIKASI NAMA MEREK, PROMOSI PENJUALAN, PERSEPSI KUALITAS, PERSEPSI NILAI DAN CITRA PERUSAHAAN TERHADAP

KEPUTUSAN PEMBELIAN ONLINE

(Studi pada mahasiswa yang menggunakan Pomade Murray’s di Universitas Lampung)

Oleh

DIMAS ELDI ROSI

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pegaruh Nama Merek, Promosi Penjualan, Persepsi Kualitas, Persepsi Nilai dan Citra Perusahaan terhadap Keputusan Pembelian Online. Analisis statistik inferensial penelitian ini menggunakan uji regresi linier berganda. Hasil dari penelitian ini adalah secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara Nama Merek dan Promosi Penjualan terhadap Keputusan Pembelian Online, sedangkan Persepsi Kualitas, Persepsi Nilai dan Citra Perusahaan secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian Online pada mahasiswa pengguna Pomade Murray’s di Universitas Lampung. Hasil pengujian hipotesis secarasimultan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara Implikasi Nama Merek, Promosi Penjualan, Persepsi Kualitas, Persepsi Nilai dan Citra Perusahaan terhadap Keputusan Pembelian Online. Pihak perusahaan harus lebih memahami prilaku konsumen agar lebih meningkatkan kualitas, niat dan citra perusahaan untuk pembelian online.

(3)

Implikasi Nama Merek, Promosi Penjualan, Persepsi Kualitas, Persepsi Nilai dan Citra Perusahaan Terhadap Keputusan Pembelian Online

(Studi pada mahasiswa yang menggunakan Pomade Murray’s di Universitas Lampung)

Oleh:

DIMAS ELDI ROSI

(SKRIPSI)

Sebagai Salah Satu untuk Mencapai Gelar SARJANA ADMINISTRASI BISNIS

Pada

Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)

Implikasi Nama Merek, Promosi Penjualan, Persepsi Kualitas, Persepsi Nilai dan Citra Perusahaan Terhadap Keputusan Pembelian Online (Studi pada mahasiswa yang menggunakan Pomade Murray’s di Universitas

Lampung)

(SKRIPSI)

Oleh

DIMAS ELDI ROSI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, sebuah kota di

wilayah Provinsi Lampung, tercatat pada tanggal 23

Desember 1993 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara.

Hadir kedunia melalui rahim wanita yang istimewa dan

luar biasa yang hingga saat ini selalu mendampingi

penulis, Mama-ku Tantri, Beliaulah membuat penulis

menemukan arti penting bahwa kegagalan dan kesulitan merupakan ujian yang

harus dilewati agar selalu bersyukur akan nikmat yang diberikan-Nya dan

senantiasa ingat kepada sang Pencipta. Juga kepada Papa-ku Rosidi yang telah

banyak memberikan pelajaran hidup bahwa hidup harus membantu sesama

sehingga menjadi salah satu bekal untuk menjadi lebih baik.

Terlahir di Kota Bandar Lampung menjadi kebanggaan bagi penulis tidak

merasakan kesulitan seperti orang lain yang terlahir di wilayah terpencil.

Menamatkan Taman Kanak-Kanak di TK Taruna Jaya tahun 2001 dan

melanjutkan ke Sekolah Dasar (SD) di Al-Kautsar Bandar Lampung selama enam

tahun yang diselesaikan penulis dengan tepat waktu pada tahun 2006, Kemudian

penulis melanjutkan pendidikan kejenjang Sekolah Menengah Pertama di SMP

Al-Azhar 3 Bandar Lampung selama tiga tahun yang diselesaikan di tahun 2009,

(9)

Atas di SMA YP Unila Bandar Lampung selama tiga tahun dan penulis lulus pada

tahun 2012.

Tahun 2012 penulis mendaftar memasuki Perguruan Tinggi Negeri dan pada

akhirnya penulis terdaftar sebagai Mahasiswa pada Jurusan Ilmu Administrasi

Bisnis Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Lampung. Pengabdian

penulis sebagai Mahasiswa pada Almamater Universitas Lampung, penulis

menyelami organisasi internal Jurusan yaitu HMJ Administrasi Bisnis sebagai

Kepala Bidang Kreativitas dan Teknis di periode kepengurusan 2014-2015.

Pada Tahun 2014, penulis melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sri

Bawono, Kecamatan Way Seputih, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi

Lampung selama 40 hari. Dalam kesempatan KKN tersebut penulis aktif

diberbagai kegiatan kampung dalam mengamalkan ilmu yang telah didapatkan di

bangku perkuliahan selama penulis berproses di Universitas Lampung. Semoga

penulis senantisa menjadi pribadi yang selalu menuju kearah yang lebih baik,

memberi hal-hal positif bagi banyak orang, dan bermanfaat untuk agama, nusa

(10)

Syukur alhamdulillah saya ucapkan kepada ALLAH SWT

atas berkat dan nikmat-Nya lah saya dapat menyelesaikan

Skripsi ini untuk mendapatkan gelar Sarjana Administrasi

Bisnis.

Tulisan ini kupersembahkan untuk kedua orang tuaku

yang telah melahirkan, membesarkan, mendidik selama 21

tahun tidak terasa sudah banyak hal yang ku lakukan yang

terbaik untuk kedua orang tuaku dan saat ini hanya

lembaran ini aku persembahkan karya terbaikku berbentuk

“SKRIPSI”

yang tidak akan dapat membalas segala hal

yang mama

Tantri

dan papa

Rosidi

berikan kepadaku.

Dan tetap lah menjadi orang tua yang selalu menjadi

panutan dan kebanggaan aku, kakak dan adikku. Terima

kasih atas do

a dan motivasi yang diberikan kepadaku dan

semoga aku dapat menjadi anak yang dapat berguna dan

membanggakan keluarga.

For You, My Beloved Parents.

Terima kasih kepada kakak dan adikku, Fanny Septiandi

Putra A.Md.K.G dan Siti Deajeng Rosita atas dukungan

dan do

’a nya sehingga karya terbaikku

ini dapat ku

selesaikan.

(11)

MOTO

MERENDAH UNTUK KEMENANGAN

(Dimas Eldi Rosi)

MUNGKIN DI DUNIA INI TIDAK ADA

YANG TERJADI SECARA KEBETULAN,

SEBAB SEMUANYA TERJADI KARNA

SATU ALASAN

(Rayleigh

One Piece)

KOMITMEN ADALAH NAMA LAIN DARI

KESUKSESAN

(Anonymous)

SETIAP WAKTU DALAM KEHIDUPAN

ANDA DAPAT MENJADI PERMULAAN

DARI SEBUAH PERKARA BESAR

(12)

SANWACANA

Assalamuala’ikum Wr. Wb

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat,

segala limpahan karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

penulisan dan penyusunan Skripsi dengan judul “Implikasi Nama Merek, Promosi Penjualan, Persepsi Kualitas, Persepsi Nilai dan Citra Perusahaan terhadap Keputusan Pembelian Online (studi mahasiswa yang menggunakan Pomade Murray’s di Universitas Lampung”. Penyusunan Skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Administrasi Bisnis di

Universitas Lampung. Penulis menyadari bahwa proses penulisan dan penyusunan

skripsi ini dapat diselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak, khususnya yang

berada pada Jurusan Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Lampung. Untuk itu, sebagai wujud rasa hormat penulis mengucapkan

terima kasih kepada pihak-pihak berikut ini:

1. ALLAH SWT

2. Muhammad SAW

3. Kedua Orang Tua tercinta yang telah menjadi semangat terbesar penulis, untuk

Tantri (Mama) dan Rosidi (Papa) yang selalu ada, selalu mendukung dan selalu

(13)

sebesar-besarnya untuk cinta dan kasih sayang sepanjang masa yang senantiasa telah

memberikan semangat dan kepercayaan serta do’a selama ini yang telah

mengiringi kesuksesan sehingga mampu menyelesaikan Skripsi ini.

4. Kakak dan Adikku tersayang, Fanny Septiandi Putra A.Md.K.G. dan Siti

Deajeng Rosita. Terima kasih telah memberikan motivasi dan dukungan serta do’a dalam proses menyelesaikan Skripsi ini. Semoga kakak dan adikku menjadi

orang yang sukses, baik di dunia maupun di akhirat dan selalu berguna bagi

sesama.

5. Bapak Drs. Hi. Agus Hadiawan, M.Si., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Universitas Lampung.

6. Bapak Drs. A. Effendi, M.M., selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Universitas Lampung.

7. Bapak Prof. Dr. Yulianto, M.S., selaku Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Universitas Lampung.

8. Bapak Drs. Pairulsyah, M.H, selaku Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Universitas Lampung.

9. Bapak Ahmad Rifai, S.Sos., M.Si., selaku Ketua Jurusan Ilmu Administrasi

Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas.

10.Bapak Suprihatin Ali., S.Sos., M.Sc selaku Sekertaris Jurusan Ilmu Administrasi

Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.

11.Bapak Dr. Baroroh Lestari., S.Sos., M.A.B. selaku Pembimbing Utama yang

(14)

kepada penulis dalam proses penyusunan Skripsi ini melainkan nasihat untuk

menghadapi dan menjalani hidup agar lebih baik dan lebih bermanfaat.

12.Bapak Dr. Suripto, S.sos., M.AB. selaku Dosen penguji yang telah banyak

memberikan arahan, saran, dan motivasi sehingga penulis dapat mengerjakan

Skripsi ini dengan baik sampai selesai.

13.Bapak Ahmad Rifai, S.Sos., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang

telah memberikan arahan dan bantuannya dalam masa perkuliahan sehingga

penulis dapat menyelesaikan perkuliahan dengan baik.

14.Ibu Mertayana selaku staf Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis Universitas

Lampung yang telah banyak membantu penulis.

15.Seluruh Dosen dan staf Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis Universitas Lampung,

terima kasih atas pengajaran dan ilmu yang telah diberikan selama ini kepada

penulis.

16.Terima kasih kepada keluarga besar Mama dan Papa serta saudara-saudaraku

yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang turut mendukung dan mendoakan

untuk kelancaran dalam pengerjaan skripsi ini hingga dapat selesai dengan baik.

17.Sahabat-sahabatku para snakes kid, Aldiyan S. A.Md, Bowo, Jojo, Kiki, Satria,

Gilang, Farrel, Redi, Yutis, Calvin, Ucang, Pompong, Alex, Fernando F.M.

A.Md yang selalu menghibur dengan kegilaan dikala senang maupun susah,

dikala galau maupun bahagia. Terima kasih atas waktu yang diberikan untuk selalu ada dan memberikan semangat maupun do’a dalam pengerjaan skripsi ini,

(15)

18.Anak Alam sahabat petualang di bangku kuliah, terima kasih atas waktu yang

telah diberikan untuk petualangan-petualangan dan kejahatan yang tidak akan

saya lupa. Bakso, Widi, Guswindi, Afiks, Fidel, Sentong, Ardi, Eri, Agung,

Risyah dan Kak May. Semoga kita dapat menggapai kesuksesan kita

masing-masing.

19.Rekan-rekanku, Bona, Zulian, Josua, Destian, Septian, Bagus, Nick, Lily, Tika,

Sayu, Nijun, Dita, Putri, Arisa, Nia, May, Citra, Riska, Fidya, Fitria, Muti terima

kasih kalian telah memberikan warna lain didalam kehidupanku. Terima kasih

untuk Motivasi dan saran yang selalu diberikan, semoga Saya mampu menjadi

pribadi yang lebih baik dan terimakasih untuk pengalaman selama di bangku

kuliah ini. Semoga dikemudian hari kita bertemu dengan kesuksesan kita

masing-masing.

20.Rekan-rekanita seperjuangan seluruh Administrasi Bisnis 2012, seluruh

teman-teman Administrasi Bisnis 2012 yang saya banggakan. Terima kasih atas

pengalaman dan kisah yang telah Kalian berikan dan semoga kita dapat bertemu

lagi di kemudian hari dengan membawa kesuksesan kita untuk membanggakan

orang-orang di sekitar kita.

21.Teman-teman Administrasi Bisnis 2011,2013, 2014, serta 2015 yang senantiasa

membantu saya dan memberikan kritik dan saran untuk kemajuan saya

kedepannya. Untuk adik tingkatku semangat terus kuliahnya.

22.Untuk seluruh pengurus HMJ periode 2015-2016 semangat kedepannya bangun

lah HMJ kita, sayangi HMJ kita dan kenal kan kepada Indonesia bahwa UNILA

(16)

23.Rekan-rekanitaku di IPS 4. Terimakasih telah menjadi teman dibangku SMA

hingga saat ini. Semoga dikemudian hari kita dapat mencapai kesuksesan kita

masing-masing.

24.Rekan-rekanitaku di 9A. Aras, Sulis, Adit, Terimakasih telah menjadi teman

dibangku SMP hingga saat ini. Semoga dikemudiaan hari kita dapat bertemu

dengan kesuksesan kita masing-masing.

25.Terima kasih kepada rekan-rekan KKN Desa Sri Bawono, Kecamatan Way

Seputih, Kabupaten Lampung Tengah. Untuk Bang Lian, Dian, Erin, Syafri,

Tiya, Citra, Mba Linda. Terima kasih atas kerjasamanya selama 40 hari kita

menjalani KKN semoga kita dapat selalu bermaanfaat bagi orang lain.

Bandar Lampung, Desember 2015

Penulis,

(17)

i

G. Proses Pembentukan Persepsi ... 23

1. Persepsi Kualitas ... 24

2. Persepsi Nilai ... 26

H. Citra Perusahaan ... 27

I. Keputusan Pembelian ... 32

1. Pentingnya Memahami Model Keputusan Pembelian Konsumen ... 34

2. Tipe-Tipe Keputusan Konsumen ... 36

3. Model Pengambilan Keputusan ... 36

J. Keputusan Pembelian Online ... 37

K. Penelitian Terdahulu ... 38

L. Kerangka Penelitian... 39

M. Hipotesis ... 41

BAB III METODE PENELITIAN ... 43

A. Jenis Penelitian... 43

(18)

C. Definisi Operasional ... 45

D. Populasi, Sampel Penelitian dan Teknik Pengambilan Sampel ... 46

H. Pengujian Instrumen Penelitian ... 49

1. Uji Validitas ... 49

1. Analisis Statistik Deskriptif ... 53

2. Analisis Statistik Inferensial ... 54

a. Uji Regresi Linier Berganda ... 54

b. Uji Hipotesis ... 54

1.Uji Koefisien Determinasi ... 54

2.Uji Parsial ... 55

3.Uji Simultan ... 56

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 58

A. Gambaran Umum Penelitian ... 58

B. Karakteristik Responden ... 59

C. Uji Asumsi Klasik ... 60

1. Uji Normalitas ... 60

2. Uji Multikolinearitas ... 61

3. Uji Heteroskedastisitas ... 62

D. Analisis Data Deskriptif ... 63

1. Deskripsi Frekuensi Jawaban Responden terhadap Variabel Nama Merek ... 63

2. Deskripsi Frekuensi Jawaban Responden terhadap Variabel Promosi Penjualan ... 64

3. Deskripsi Frekuensi Jawaban Responden terhadap Variabel Presepsi Kualitas ... 66

4. Deskripsi Frekuensi Jawaban Responden terhadap Variabel Presepsi Nilai ... 67

5. Deskripsi Frekuensi Jawaban Responden terhadap Variabel Citra Perusahaan ... 68

(19)

iii

c. Uji Simultan (uji ) ... 76

F. Pembahasan ... 77

1. Nama Merek terhadap Keputusan Pembelian Online .... 77

2. Promosi Penjualan terhadap Keputusan Pembelian Online ... 79

3. Presepsi Kulaitas terhadap Keputusan Pembelian Online ... 80

4. Presepsi Nilai terhadap Keputusan Pembelian Online ... 81

5. Citra Perusahaan terhadap Keputusan Pembelian Online ... 82

6. Nama merek, Promosi Penjualan, Presepsi Kualitas, Presepsi Nilai, Citra Perusahaan terhadap Keputusan Pembelian Online ... 83

G. Keterbatasan Penelitian ... 84

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 86

A. Kesimpulan ... 86

B. Saran ... 88

DAFTAR PUSTAKA ... 89

(20)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Penelitian Terdahulu ... 38

3.1 Operasional Variabel ... 45

3.2 Pemberian Bobot Nilai untuk Variabel Penelitian ... 49

3.3 Pedoman interprestasi koefisien reliabilitas ... 51

4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Fakultas ... 59

4.2 Uji Multikolinearitas ... 61

4.3 Penilaian Responden Terhadap Variabel Nama Merek ... 63

4.4 Penilaian Responden Terhadap Variabel Promosi Penjualan ... 64

4.5 Penilaian Responden Terhadap Variabel Presepsi Kualitas ... 66

4.6 Penilaian Responden Terhadap Variabel Presepsi Nilai ... 67

4.7 Penilaian Responden Terhadap Variabel Citra Perusahaan ... 68

4.8 Penilaian Responden Terhadap Variabel Keputusan Pembelian Online ... 70

(21)

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

(22)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Proses Terbentuknya Citra Perusahaan ... 30 2.2 Model Perilaku Konsumen dalam Pengambilan Keputusan ... 33 2.3 Langkah dalam Proses Pengambilan Keputusan Konsumen ... 37 2.4 Kerangka Pemikiran ... 41 4.1 Gambar Grafik Normal Plot ... 60 4.2 Gambar Grafik Scatterplot ... 62

(23)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Peningkatan teknologi di era globalisasi saat ini mengalami peningkatan yang

cukup signifikan dilihat dari minat masyarakat yang lebih memutuskan melakukan

pembelian secara online shop. Dengan alat manajemen dan teknologi untuk

memanfaatkan muncul peluang sukses. Internet, sebagai salah satu alat ini, telah

menjadi saluran lebar untuk transaksi komersial dan media yang kuat untuk upaya

pemasaran organisasi. Meskipun Internet telah menjadi saluran lebar untuk

transaksi komersial, dan juga teknologi informasi semakin lama semakin modern,

tapi gaya vintage untuk urusan fashion masih tetap berkibar, termasuk hadirnya

pomade, atau minyak rambut ala 1950-an. Akhir-akhir ini, permintaan terhadap

pomade dinilai terus meningkat, dengan banyaknya orang yang menggunakan

gaya rambut zaman dulu dimana membutuhkan perawatan rambut yang maksimal

untuk menyempurnakan penampilan tersebut.

Gaya rambut merupakan bagian dalam gaya hidup. Gaya rambut juga merupakan

bagian dalam fashion. Gaya pada rambut mempengaruhi kepribadian seseorang.

Tentu pemilihan gaya rambut yang tepat merupakan hal terpenting bagi seorang

sosialita. Gaya rambut sebenarnya punya istilah tersendiri, yaitu gaya rambut

(24)

2

rockabilly di tahun 1950-an. Hingga di tahun '80-an, budaya rockabilly

sedikit-sedikit diadaptasi oleh para punk rocker. Hasilnya, para punk rock juga bergaya

rambut mohawk atau spike, tetapi juga klimis macho. Banyaknya gaya rambut

pompadour sekarang ini dipicu oleh banyak munculnya barber shop yang

membawa budaya rockabilly, budaya campuran dan punkrock. Dari California,

akhirnya fenomena barber shop tersebut menyebar ke Eropa, Jepang dan terakhir

Asia.

Sebagai upaya menyempurnakan menampilan gaya rambut diatas, maka banyak

masyarakat menggunakan minyak rambu jenis Pomade. Pomade adalah sejenis

minyak rambut yang dibuat dari zat berminyak atau sejenis bahan dari wax (lilin)

yang digunakan untuk penataan gaya rambut. Penggunaan pomade itu sendiri

adalah digunakan untuk membuat rambut agar terlihat lebih licin, mengkilap, dan

tidak kering. Asal mula nama pomade ini berasal dari kata bahasa Inggris “pomade” berasal dari bahasa Perancis yang berarti pomade “salep”, itu sendiri

berasal dari bahasa Latin pomum (buah, apel) melalui Pomata Italia atau pomo

(yang berarti “apel” sebagai resep salep asli terkandung tumbuk apel). Pomade

modern mungkin mengandung wewangian, akan tetapi mereka biasanya tidak

beraroma buah-buahan. Pada abad ke-19, Lemak beruang biasanya menjadi bahan

pomade utama. Pada abad ke-20 awal pomade termasuk Merek “Murray’s”

menjadi unggulan saat itu. Pomade Murray’s adalah salah satu produk penata

rambut lebih cenderung kepada pria yang paling dikenali, karena produk penata

rambut ini sudah dikenali dari jaman dahulu seperti tahun 1900-an. Hair styling

Pomade Murray’s berbahan dasar minyak kelapa, lanolin, wax dan parfum atau

(25)

3

lebat, dan tampak basah alami, produk ini khas digunakan pria sejak jaman dahulu

hingga sekarang, pomade khas untuk gaya rambut yang rapih dan tersisir. Seiring

berjalannya waktu peningkatan penjualan Pomade di Indonesia sangat besar

terlihat pertumbuhannya. Hal ini terjadi ketika banyak munculnya produk dalam

negri, bersaing dengan produk luar negri. Semakin menjamurnya produk-produk

baru Pomade menjadikan ancaman persaingan nama merek dan promosi yang

berimbas pada penjualan.

Teori SOR (Stimulus, Organism, Respons) dan menyatakan bahwa media secara

langsung dan cepat memiliki efek yang kuat terhadap komunikan. Media

diibaratkan sebagai jarum suntik besar yang memiliki kapasitas sebargai

perangsang komunikan dan menghasilkan tanggapan komunikan yang kuat pula.

Berdasarkan teori diatas, maka dapat diindikasikan Nama Merek, Promosi

Penjualan, Presepsi Kualitas, Presepsi Nilai dan Citra Perusahaan dapat

mempengaruhi peningkatan dan penurunan keputusan pembelian online.

Merek (brand) merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan pemasaran,

karena kegiatan memperkenalkan dan menawarkan produk barang dan atau jasa

tidak terlepas dari merek yang dapat diandalkan. Merek juga merupakan

pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan oleh konsumen sebelum mengambil

keputusan untuk membeli. Merek merupakan startegi jangka panjang yang

memiliki nilai ekonomis bagi konsumen maupun bagi si pemilik merek (Kotler

dalam Kismono, 2001).

Merek merupakan suatu tanda pembeda atas barang atau jasa dari suatu

(26)

4

dalam satu klasifikasi barang atau jasa, tidak boleh memiliki persamaan antara

satu dengan yang lainnya. Merek atas barang lazim disebut sebagai merek dagang

yaitu merek yang digunakan/ditempelkan pada barang yang diperdagangkan oleh

seseorang atau beberapa orang, atau badan hukum (Kotler dalam Kismono, 2001).

Menurut Keller dalam Tjiptono (2005), Merek adalah produk yang mampu

memberikan dimensi tambahan yang secara unik membedakannya dan

produk-produk lain yang dirancang untuk memuasakan kebutuhan serupa. Perbedaan

tersebut bisa bersifat rasional dan tangible (terkait dengan kinerja produk dan

merek bersangkutan) maupun simbotik, emosional dan intangible (berkenan

dengan representasi merek). Sedangkan nama merek yaitu bagian dari merek yang

dapat disebutkan, diucapkan termasuk huruf-huruf, kata-kata, dan angka-angka.

Merek merupakan janji penjual untuk secara konsisten memberikan keistimewaan,

manfaat, dan jasa tertentu pada pembeli. Merek-merek terbaik memberikan

jaminan mutu.

Promosi penjualan adalah suatu kegiatan perusahaan untuk menjajakan produk

yang dipasarkan sedemikian rupa sehingga konsumen akan mudah untuk

melihatnya dan bahkan dengan cara penempatan dan pengaturan (Lubis, 2004).

Menurut Hanafie (2010) promosi penjualan merupakan program dan penawaran

khusus dalam jangka pendek yang dirancang untuk memikat para konsumen

(kebanyakan langsung kepada konsumen akhir) yang terkait agar mengambil

keputusan pembelian yang positif. Promosi ini seringkali menghabiskan banyak

biaya, tetapi banyak yang menganggap bahwa pengaruhnya sangat besar terhadap

(27)

5

rumit lagi dalam usaha penjualan kepada konsumen perantara atau penyalur.

Persaingan penjualan dengan insentif berupa perjalanan liburan sudah sedemikian

membudaya.

Menurut Kotler et al (2008) bahwa tujuan promosi penjualan sangat beragam.

Penjual bisa menggunakan promosi pelanggan untuk mendorong pembelian

pelanggan jangka pendek atau meningkatkan hubungan pelanggan jangka

panjang. Promosi penjualan biasanya digunakan bersama iklan, penjualan

personal, atau sarana bauran promosi lainnya. Promosi konsumen biasanya harus

diiklankan dan dapat menambah gairah serta memberikan kekuatan tarikan pada

iklan. Secara umum, dari pada hanya menciptakan penjualan jangka pendek atau

penukaran merek sementara, promosi penjualan harus memperkuat posisi produk

atau jasa dan membangun hubungan pelanggan jangka panjang. Jika dirancang

dengan benar, semua sarana promosi penjualan mempunyai potensi untuk

membangun gairah jangka pendek maupun hubungan konsumen jangka panjang.

Menurut Durianto, et al. (2004) pembahasan perceived quality pelanggan terhadap

produk dan atau atribut yang dimiliki produk (kepentingan tiap pelanggan

berbeda).

Untuk kelas produk tertentu, dimensi penting dapat dilihat langsung oleh

pelanggan melalui penilaian kualitas secara keseluruhan misalnya banyaknya busa

yang dihasilkan sabun mandi menandakan kemampuan membersihkan anggota

badan yang efektif. Disamping itu juga persepsi kualitas mempunyai atribut

(28)

6

Nilai menurut Engel (2001) merupakan terminal dan instrument atau tujuan

kemana perilaku diarahkan, dan sasaran pencapaian tujuan itu. Psikologi sosial

membedakan nilai-nilai dengan nilai, dimana nilai-nilai adalah manifestasi

kognitif atas tuntutan universal manusiawi, seperti kebutuhan biologis, tuntutan

interaksi sosial dan tuntutan pranata sosial terhadap individu.

Sutisna (2001) menyatakan bahwa citra adalah total persepsi terhadap suatu obyek

yang dibentuk dengan memproses informasi dari berbagai sumber setiap waktu.

Alma (2002) menyatakan bahwa citra didefinisikan sebagai kesan yang diperoleh

sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman seseorang tentang sesuatu.

Keputusan pembelian menurut Nugroho (2003) adalah proses pengintegrasian

yang mengkombinasi sikap pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih

perilaku alternatif, dan memilih salah satu diantaranya. Kehidupan masyarakat

modern saat ini turut mempengaruhi pola perilaku masyarakat dalam keputusan

pembelian. Merek yang telah mapan biasanya dijadikan simbol sebagai suatu

produk yang sukses, sehingga ekuitas merek turut berpengaruh terhadap kondisi

emosional konsumen. Meskipun di pasar banyak beredar produk-produk yang

sejenis terutama produk pesaing, semuanya itu akan tergantung dari ekuitas

konsumen terhadap merek. Artinya jika konsumen telah memahami benar tentang

merek yang diyakininya, maka kepribadian merek dibenak konsumen akan

semakin kuat. Ekuitas merek merupakan persepsi total konsumen terhadap merek

yang dapat dibentuk melalui informasi baik dari pendapat teman atau pengalaman

sendiri. Jika konsumen memiliki persepsi yang baik terhadap merek akan

(29)

7

membentuk sikap positif yang pada gilirannya akan mempengaruhi keputusan

pembelian.

Menurut Kotler (2002), keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen

untuk mau membeli atau tidak terhadap produk. Dari berbagai faktor yang

mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk atau jasa,

biasanya konsumen selalu mempertimbangkan kualitas, harga dan produk yang

sudah dikenal oleh masyarakat.

Berkaitan dengan fenomena diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul “Implikasi Nama Merek, Promosi Penjualan, Persepsi Kualitas, Persepsi Nilai dan Citra Perusahaan Terhadap Keputusan Pembelian Online (Studi pada mahasiswa yang menggunakan Pomade Murray’s di

Universitas Lampung)”.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah diurai, dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana implikasi Nama Merek secara parsial terhadap keputusan

pembelian online pada pengguna Pomade Murray’s di Universitas

Lampung?

2. Bagaimana implikasi Promosi Penjualan secara parsial terhadap keputusan

pembelian online pada pengguna Pomade Murray’s di Universitas

(30)

8

3. Bagaimana implikasi Persepsi Kualitas secara parsial terhadap keputusan

pembelian online pada pengguna Pomade Murray’s di Universitas

Lampung?

4. Bagaimana implikasi Persepsi Nilai secara parsial terhadap keputusan

pembelian online pada pengguna Pomade Murray’s di Universitas

Lampung?

5. Bagaimana implikasi Citra Perusahaan secara parsial terhadap keputusan

pembelian online pada pengguna Pomade Murray’s di Universitas

Lampung?

6. Bagaimana implikasi Nama Merek, Promosi Penjualan, Persepsi Kualitas,

Persepsi Nilai dan Citra Perusahaan secara simultan terhadap keputusan

pembelian online pada pengguna Pomade Murray’s di Universitas

Lampung?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui dan menganalisis implikasi Nama Merek secara parsial

terhadap keputusan pembelian online pada pengguna PomadeMurray’s di

Universitas Lampung.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis implikasi Promosi Penjualan secara

parsial terhadap keputusan pembelian online pada pengguna Pomade

Murray’s di Universitas Lampung.

3. Untuk mengetahui dan menganalisis implikasi Persepsi Kualitas secara

parsial terhadap keputusan pembelian online pada pengguna Pomade

(31)

9

4. Untuk mengetahui dan menganalisis implikasi Persepsi Nilai secara parsial

terhadap keputusan pembelian online pada pengguna PomadeMurray’s di

Universitas Lampung.

5. Untuk mengetahui dan menganalisis implikasi Citra Perusahaan secara

parsial terhadap keputusan pembelian online pada pengguna Pomade

Murray’s di Universitas Lampung.

6. Untuk mengetahui dan menganalisis implikasi Nama Merek, Promosi

Penjualan, Persepsi Kualitas, Persepsi Nilai dan Citra Perusahaan secara

simultan terhadap keputusan pembelian online pada pengguna Pomade

Murray’s di Universitas Lampung.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian yang dilakukan diharapkan akan bermanfaat dalam memberikan

informasi bagi konsumen untuk mempertimbangkan keputusan pembelian

online khususnya pada produk PomadeMurray’s.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan dan dapat

menambah wawasan mengenai pemasaran serta mengenai implikasi nama

merek dan promosi penjualan terhadap keputusan pembelian online pada

(32)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pemasaran

Menurut Kotler (2000) pemasaran pada umumnya di pandang sebagai tugas untuk

menciptakan, memperkenalkan, dan menyerahkan barang dan jasa, pengayaan

pengalaman, peristiwa, orang, tempat, kepemilikan, organisasi, informasi dan

gagasan. Sedangkan menurut Stanton (1991), pemasaran adalah suatu sistem total

dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga,

promosi dan mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan

dan mencapai pasar sasaran sertatujuan perusahaan.

B. Bauran Pemasaran

Unsur pokok dalam strategi pemasaran adalah marketing mix, yang menurut

Santon didefinisikan sebagai kombinasi dari empat variabel atau kegiatan inti dari

system pemasaran perusahaan, yaitu produk, harga, kegiatan promosi dan sistem

distribusi (Basu dan Handoko, 1987).

C. Produk

Produk adalah segala sesuatu yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan

manusia ataupun organisasi. Produk dapat ditawarkan produsen untuk

diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan atau dikonsumsi pasar sebagai

(33)

11

segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk memenuhi keinginan

atau kebutuhan (Kotler, 1992). Dalam merencanakan penawaran atau produk,

pemasar perlu memahami lima tingkatan produk, (Tjiptono, 1997) yaitu:

a. Produk utama/inti (core benefit)

Yaitu manfaat yang sebenarnya dibutuhkan dan akan dikonsumsi oleh

pelanggan dari setiap produk.

b. Produk generik

Yaitu produk dasar yang mampu memenuhi fungsi pokok yang paling

dasar (rancangan minimal agar dapat berfungsi).

c. Produk harapan (expected product)

Yaitu produk formal yang ditawarkan dengan berbagai atribut dan

kondisinya secara formal (layak) diharapkan dan disepakati.

d. Produk pelengkap (argumented product)

Yaitu berbagai atribut produk yang dilengkapi atau ditambahi berbagai

manfaat dan layanan, sehingga dapat memberikan tambahan kepuasan dan

bisa dibedakan dengan produk bersaing.

e. Produk potensial

Yaitu segala macam tambahan dan perubahanyang mungkin

dikembangkan untuk suatu produk dimasa mendatang.

D. Merek

Menurut Keller dalam Tjiptono (2005), “Merek adalah produk yang mampu

memberikan dimensi tambahan yang secara unik membedakannya dari produk-produk lain yang dirancang untuk memuaskan kebutuhan serupa”. Perbedaan

(34)

merek bersangkutan) maupun simbolik, emosional dan intangible (berkenaan

dengan representasi merek).

Sedangkan nama merek yaitu bagian dari merek yang dapat disebutkan, diucapkan

termasuk huruf-huruf, kata-kata, dan angka-angka. Brand merupakan janji penjual

untuk secara konsisten memberikan keistimewaan, manfaat, dan jasa tertentu pada

pembeli. Merek-merek terbaik memberikan jaminan mutu.

Dari pengertian-pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa brand adalah

suatu nama, istilah, simbol, tanda, desain, atau kombinasi dari semuanya yang

digunakan untuk mengidentifikasikan produk dan membedakan produk

perusahaan dengan produk pesaing.

Menurut Keller dalam Tjiptono (2005), Merek bermanfaat bagi produsen, sebagai:

1. Sarana identifikasi untuk memudahkan proses penanganan atau pelacakan

produk bagi perusahaan, terutama dalam pengorganisasian sediaan dan

pencatatan akuntansi.

2. Bentuk proteksi terhadap fitur atau aspek produk yang unik.

3. Signal tingkat kualitas bagi para pelanggan yang puas, sehingga mereka

bisa dengan mudah memilih dan membelinya lagi di lain waktu.

4. Sarana menciptakan asosiasi dan makna unik yang membedakan produk

dari para pesaing.

5. Sumber keunggulan kompetitif, terutama melalui perlindungan hukum,

loyalitas pelanggan, dan citra unik yang terbentuk dalam benak

konsumen.

(35)

13

1. Pengertian Merek

Menurut Kotler dalam Kismono (2001), merek dapat dibedakan menjadi tiga

pengertian, yaitu:

1. Brand name adalah bagian dari merek yang bisa dilafalkan.

2. Brand mark adalah suatu simbol atau desain yang digunakan untuk

memberikan identitas pada produk atau untuk membedakannnya dengan

produk lain.

3. Trade character adalah brand mark yang mengambil bentuk fisik atau

sifat manusia.

Merek (brand) merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan pemasaran,

karena kegiatan memperkenalkan dan menawarkan produk barang dan atau jasa

tidak terlepas dari merek yang dapat diandalkan. Merek juga merupakan

pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan oleh konsumen sebelum mengambil

keputusan untuk membeli. Merek merupakan strategi jangka panjang yang

memiliki nilai ekonomis bagi konsumen maupun bagi si pemilik merek. Merek

merupakan suatu tanda pembeda atas barang atau jasa dari suatu perusahaan

dengan perusahaan lainnya. Sebagai tanda pembeda maka merek dalam satu

klasifikasi barang atau jasa, tidak boleh memiliki persamaan antara satu dengan

yang lainnya. Merek atas barang lazim disebut sebagai merek dagang yaitu merek

yang digunakan/ditempelkan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang

atau beberapa orang, atau badan hukum.

Menurut Shimp (2003), nama yang dipilih untuk suatu merek harus memenuhi

(36)

1. Mempengaruhi kecepatan konsumen dalam menyadari suatu merek.

2. Mempengaruhi citra merek.

3. Memainkan peran penting dalam pembentukan ekuitas merek.

Apabila suatu perusahaan memperlakukan merek hanya sekedar nama, maka

perusahaan tersebut tidak melihat tujuan merek yang sebenarnya. Tantangan

dalam pemberian merek adalah mengembangkan satu set makna yang mendalam

untuk merek tersebut. Dengan empat pengertian merek di atas, perusahaan harus

dapat menentukan pada tingkat mana perusahaan akan menanamkan identitas

merek.

Dalam kegiatan mempromosikan suatu merek, atribut merek saja tidak cukup.

Pertama karena konsumen tidak akan tertarik pada atribut merek bila

dibandingkan dengan manfaat merek, kedua pesaing dapat dengan mudah meniru

atribut tersebut, dan yang ketiga atribut yang sekarang mungkin nanti di kemudian

hari akan kurang bernilai, sehingga merugikan merek yang terlalu terikat pada

atribut tersebut.

Menurut Rangkuti (2002), merek bila dilihat dari sudut pandang konsumen, akan

mempermudah pembelian. Merek membantu meyakinkan konsumen bahwa

mereka akan mendapatkan kualitas yang konsisten ketika mereka membeli produk

tersebut. Dari sisi produsen, merek dapat dipromosikan, karena merek dapat

dengan mudah diketahui ketika diperlihatkan atau ditempatkan pada suatu display.

Merek juga dipakai untuk mengurangi perbandingan harga, karena merek adalah

salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam membandingkan dengan

(37)

15

2. Kesadaran Merek (Brand Awareness)

Kesadaran merek (brand awareness) adalah kesanggupan seseorang pembeli

untuk mengenali, mengingat kembali suatu merek sebagai bagian dari suatu

kategori produk tertentu (Durianto, 2001). Peran kesadaran merek (brand

awareness) dalam ekuitas merek tergantung pada tingkatan akan pencapaian

kesadaran di benak konsumen. Tingkatan brand awareness yang paling rendah

adalah tidak menyadari merek (anware of brand), tingkatan kedua adalah

pengenalan merek (brand recognition) atau disebut sebagai tingkatan pengingatan

kembali dangan bantuan (aided recall). Tingkatan berikutnya adalah tingkatan

pengingatan kembali merek (brand recall) atau tingkatan pengingatan kembali

merek tanpa bantuan (unaided recall). Tingkatan terakhir adalah merek yang

disebut pertama kali pada saat pengingatan merek tanpa bantuan yaitu kesadaran

puncak pikiran (top of mind). Top of mind adalah kesadaran merek tertinggi yang

merupakan pimpinan dari berbagai merek yang ada dalam pikiran konsumen

(Durianto, 2001).

Peran kesadaran merek dapat dipahami dengan mengkaji bagaimana kesadaran

merek menciptakan suatu nilai. Nilai-nilai yang diciptakan oleh kesadaran

(Durianto, 2004) adalah (1) Jangkar bagi asosiasi lain, (2) Familier atau rasa suka,

(3) Substansi atau komitmen, (4) Mempertimbangkan merek.

3. Loyalitas Merek (Brand Loyalty)

Loyalitas merek (brand loyalty) merupakan suatu ukuran keterkaitan pelanggan

kepada sebuah merek. Ukuran ini mampu memberikan gambaran mungkin

(38)

merek tersebut didapati adanya perubahan, baik menyangkut harga atribut lain.

Seorang pelanggan yang sangat loyal kepada suatu merek tidak akan dengan

mudah memindahkan pembelianya ke merek lain, apapun yang terjadi dengan

merek tersebut. Bila loyalitas pelanggan terhadap suatu merek meningkat,

kerentanan kelompok pelanggan tersebut dari ancaman dan serangan merek

produk pesaing dapat dikurangi.

Terdapat beberapa tingkatan loyalitas (Aaker, 1997 dalam Muafi, 2001).

Berturut-turut dimulai dari tingkatan yang paling rendah. (1) berpindah-pindah (switches),

(2) pembeli yang bersifat kebiasaan (habitual buyer), (3) pembeli yang puas

dengan biaya peralihan (satisfied buyer), (4) menyukai merek (likes the brand),

(5) pembeli yang komit (commited buyer).

4. Label Produk

Menurut Kotler dan Armstrong (2008), label berkisar dari penanda sederhana

yang ditempelkan pada produk sampai rangkaian huruf rumit yang menjadi bagian

kemasan. Label juga bisa menggambarkan beberapa hal tentang produk: siapa

yang membuatnya, dimana produk itu dibuat, kapan produk itu dibuat,

kandungannya, cara pemakaiannya, dan bagaimana menggunakan produk itu

dengan aman. Secara garis besar terdapat 3 macam label. Menurut Stanton, et. al

(1994) dalam Fandy (1997) sebagai berikut:

a) Brand Label, yaitu nama merek yang diberikan pada produk atau

dicantumkan pada kemasan.

b) Descriptive Label, yaitu label yang memberikan informasi objektif

(39)

17

kinerja produk, serta karakteristik-karakteristik lainnya yang berhubungan

dengan produk.

c) Grade Label, yaitu label yang mengidentifikasi penilaian kualitas produk

dengan suatu huruf, angka, atau kata.

5. Kemasan Produk

Menurut Tjiptono (2008), kemasan produk adalah proses yang berkaitan dengan

perancangan dan pembuatan wadah (container) atau pembungkus (wrapper)

untuk suatu produk. Tujuan penggunaan kemasan antara lain meliputi (Tjiptono,

2008):

1. Sebagai pelindung isi, misalnya dari kerusakan, kehilangan, berkurangnya

kadar/isi, dan sebagainya.

2. Untuk memberikan kemudahan dalam penggunaan (operating), misalnya

supaya tidak tumpah, sebagai alat pemegang, mudah menyemprotkannya

(seperti nyamuk, parfum), dan lain-lain.

3. Bermanfaat dalam pemakaian ulang, misalnya untuk diisi kembali atau

untuk wadah lain.

4. Memberikan daya tarik, yaitu aspek artistik, warna, bentuk, maupun

desainnya.

5. Sebagai identitas produk, misalnya berkesan kokoh/awet, lembut, atau

mewah.

6. Distribusi, misalnya mudah disusun, dihitung, dan ditangani.

(40)

8. Sebagai cermin inovasi produk, berkaitan dengan kemajuan teknologi dan

daur ulang.

E. Perilaku Konsumen

Menurut American Marketing Association atau disingkat AMA mendefinisikan

bahwa prilaku konsumen (consumer behavior) sebagai interaksi dinamis anatara

pengaruh dan kognisi, perilaku, dan kejadian disekitar kita di mana manusia

melakukan aspek dalam hidup mereka. Paling tidak ada tiga ide penting dalam

definisi diatas, yaitu: perilaku konsumen adalah dinamis, perilaku konsumen

melibatkan interaksi antara pengaruh dankognisi, perilaku, dan kejadian di sekitar,

dan hal tersebut melibatkan pertukaran (Peter & Olson, 2000).

Perencanaan, pembelian dan mengonsumsi produk-produk merupakan suatu

proses yang terjadi dengan berlangsungnya waktu. Membeli merupakan kegiatan

tertentu dari proses tersebut, dan bahkan ia seringkali bukanlah bagian terpenting.

Guna menerangkan pembelian tertentu, perlu kita memahami latar belakang

pembeli yang bersangkutan, dan kita harus mengetahui atau pengalaman orang itu

sehubungan dengan produk atau merek yang bersangkuitan (Winardi, 1991).

F. Promosi

Menurut Stanton (1991), promosi adalah unsur dalam bauran pemasaran

perusahaan yang didayagunakan untuk memberitahukan, membujuk, dan

mengingatkan tentang produk perusahaan. Bauran promosi adalah kombinasi dari

penjualan tatap muka, periklanan, promosi penjualan, publisitas, dan hubungan

masyarakat yang membantu pencapaian tujuan perusahaan. Jenis – jenis promosi

(41)

19

1. Penjualan Tatap Muka (personal selling)

Penjualan pribadi adalah suatu penyajian (presentasi) suatu produk kepada

konsumen akhir yang dilakukan oleh tenaga penjual perusahaan yang

representative (personal selling is the presentation of a product to

prospective customer by a representative of the selling organization).

Personal selling melibatkan interaksi personal langsung antara seorang

pembeli potensial dengan seorang salesman. Penjualan personal dapat

menjadi metode promosi yang hebat untuk paling tidak untuk dua alasan,

yaitu: 1) komunikasi personal dengan salesman dapat meningkatkan

keterlibatan konsumen dengan produk dan atau proses pengambilan

keputusan. Oleh karena itu konsumen dapat lebih termotivasi untuk masuk

dan memahami informasi yang disajikan salesman tentang suatu produk,

2) situasi komunikasi saling sialng/interaktif memungkinkan salesman

mengadaptasi apa yang disajikannya agar sesuai dengan kebutuhan

informasi setiap pembeli potensial. Beberapa produk konsumsi tertentu

biasanya dipromosikan melalui penjualan personal seperti asuransi jiwa,

mobil dan perumahan.

2. Periklanan (advertising)

Periklanan adalah suatu bentuk penyajian yang bukan dengan orang

pribadi, dengan pembayaran oleh sponsor tertentu (Advertising is a paid

for type of impersonal mass communication in which the sponsor is clearly

indentified). Iklan ditujukan untuk mempengaruhi afeksi dan kognisi

konsumen (evaluasi, perasaan, pengetahuan, makna, kepercayaan, sikap

(42)

iklan telah dianggap sebagai manajemen citra, menciptakan dan

memelihara citra, dan makna dalam benak konsumen. Walaupun

pertama-tama iklan akan memengaruhi adeksi kognisi, tujuannya yang paling akhir

adalah bagaimana mempengaruhi perilaku konsumen. Iklan disajikan

melalui berbagai macam media seperti televisi, media massa, media cetak,

radio, papan iklan dan sebagainya. Walaupun konsumen pada umumnya

diekspor pada ratusan iklan setiap hari sebagian besar dari pesan yang

disampaikan hanya menerima perhatian dan pemahaman dari konsumen

dalam jumlah yang sangat sedikit. Oleh karena itu, adalah suatu tantangan

yang besar bagi pemasar untuk mengembangkan pesan dalam iklan dan

memilih media yang dapat mengekspos konsumen, menangkap perhatian

mereka dan menciptakan pemahaman yang tepat.

3. Promosi Penjualan (sales promotion)

Promosi penjualan adalah suatu perencanaan untuk membantu atau

melengkapi koordinasi periklanan dan penjulan pribadi (Sales promotion

is the designed to supplement advertising and coordinate personal

selling). Banyaknya jenis promosi penjualan, termasuk di dalamnya

penurunan harga temporer melalui kupon, rabat, penjualan multi kardus,

kontes dan undian, perangko dagang, pameran dagang, tayangan titik jual,

contoh gratis, hadiah, membuat promosi penualan sulit didefinisikan.

Aspek kunci promosi penjualan adalah untuk menggerakkan produk hari

itu juga, bukan esok hari. Suatu promosi penjualan mendorong seseorang

untuk mengambil produk di toko eceran dan mencobanya dengan

(43)

21

Singkatnya sebagian besar promosi penjulan diorientasikan pada

pengubahan perilaku pembelian konsumen yang segera.

4. Publisitas (publicity)

Publisitas adalah semacam periklanan yang dilakukan dengan sejumlah

komunikasi untuk merangsang permintaan (Publicity is similar to

advertising in that it is a mass communication type demand stimulation).

Publisitas tidak dibayar oleh sponsor. Publisitas dapat berdampak positif

maupun negatif. Disamping itu seringkali publisitas dapat lebih efektif dari

iklan karena konsumen dapat dikatakan telah siap untuk menerima pesan

yang disampaikan. Komunikasi publisitas dapat dianggap lebih berwibawa

karena tidak disajikan oleh organisasi pemasaran, tetapi publisitas sulit

sekali dikelola.

5. Hubungan Masyarakat (public relation)

Hubungan masyarakat adalah merupakan usaha terencana oleh suatu

organisasiuntuk memengaruhi sikap atau golongan (Public relation is

more targeted than publicity. It is planning effort by an organization to

influence the attitude and opinions of specific group). Menurut (Sutisna,

2002) mengatakan bahwa setiap organisasi mempunyai hubungan

masyarakat yang diinginkanatau tidak diinginkan. Hubungan masyarakat

mempengaruhi hampir setiap orang yang berhubungan dengan yang

lainnya. Setiap dari kita dengan menggunakan cara tertentu atau cara

(44)

Sedangkan menurut Rambat dan Hamdani (2006), yaitu :

a) Periklanan (advertising)

Pengertian periklanan merupakan salah satu bentuk darikomunikasi

impersonal yang digunakan oleh perusahaan barang atau jasa. Adapun

tujuan diantaranya: 1) Iklan yang bersifat memberikan informasi, 2) Iklan

membujuk, 3) iklan pengingat, 4) Iklan pemantapan.

b) Penjualan Perseorangan (personal selling)

Sifat penjualan perseorangan dapat dikatakan lebih fleksibel karena tenaga

penjualan dapat secara langsung menyesuaikan penawaran penjualan

dengan kebutuhan dan perilaku masing-masing calon pembeli. Penjualan

perseorangan mempunyai peranan yang penting dalam pemasaran produk,

karena interaksi secara personal antara penyedia produk dan konsumen

sangat penting, produk tersebut disediakan oleh orang bukan oleh mesin,

dan orang merupakan bagian dari produk.

c) Promosi Penjualan (sales promotion)

Pengertian promosi penjualan adalah semua kegiatan yang dimaksudkan

untuk meningkatkan produk dari produsen sampai pada penjualan

akhirnya, misalnya dengan spanduk, brosur. Promosi penjualan dapat

diberikan kepada konsumen, perantara, maupun tenaga penjualan.

d) Hubungan Masyarakat (public relation)

Pengertian hubungan masyarakat adalah merupakan kiat pemasaran

penting lainnya dimana perusahaan tidak hanya harus berhubungan dengan

pelanggan, pemasok dan penyalur, tetapi juga harus berhubungan dengan

(45)

23

masyarakat antara lain publikasi, acara-acara penting, hubungan dengan

investor, pameran dan mensponsori beberapa acara.

e) Informasi Dari Mulut ke Mulut (word of mouth)

Pelanggan akan berbicara kepada pelanggan lain atau masyarakat lainnya

tentang pengalamannya menggunakan produk yang dibelinya. Jadi iklan

ini bersifat referensi dari orang lain, dan referensi ini dilakukan dari mulut

ke mulut. Jika dilihat secara fisik kegiatan iklan ini sangat sederhana,

namun merupakan jurus jitu untuk menjual produk.

f) Pemasaran Langsung (direct marketing)

Pengertian pemasaran langsung adalah merupakan unsur terakhir dalam

bauran komunikasi dan promosi. Pemasaran langsung ada enam macam,

yaitu direct mail, mail order, direct response, direct selling, telemarketing,

dan digital marketing.

G. Proses Pembentukan Persepsi

Proses pembentukan persepsi diawali dari penerimaan sensation, absolute

threshold, dan differential threshold. Sensation merupakan rangsangan langsung

dari organ-organ yang mempunyai sensor untuk menaggapi rangsangan sederhana

tersebut. Absolute threshold adalah tingkatan yang paling rendah dimana

seseorang dapat mengalami sensasi tersebut. Differential threshold merupakan

perbedaan kecil yang dapat dideteksi oleh dua rangsangan yang sangat mirip

(46)

1. Persepsi Kualitas

Disamping motivasi mendasari seseorang untuk melakukan keputusan pembelian

akan dipengaruhi juga oleh persepsinya terhadap apa yang diinginkan. Persepsi

terhadap kualitas dapat didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap

keseluruhan kualitas atau keunggulan dari suatu produk atau jasa layanan yang

berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan (Zeithaml dalam Muafi dan

Effendi, 2001). Sedangkan menurut Durianto, et al. (2004) pembahasan perceived

quality pelanggan terhadap produk dan atau atribut yang dimiliki produk

(kepentingan tiap pelanggan berbeda).

Untuk kelas produk tertentu, dimensi penting dapat dilihat langsung oleh

pelanggan melalui penilaian kualitas secara keseluruhan misalnya banyaknya busa

yang dihasilkan sabun mandi menandakan kemampuan membersihkan anggota

badan yang efektif. Disamping itu juga persepsi kualitas mempunyai atribut

penting yang dapat diaplikasikan dalam berbagai hal (Durianto, et al., 2004),

seperti:

1. Kualitas aktual atau objektif

Perluasan ke suatu bagian dari produk atau jasa yang memberikan

pelayanan yang lebih baik.

2. Kualitas isi produk

Karakteristik dan kuantitas unsur, bagian atau pelayanan yang disertakan.

3. Kualitas proses manufaktur

Kesesuaian dengan spesifikasi, hasil akhir yang tanpa cacat. Sedemikian

pentingnya peran persepsi terhadap kualitas bagi suatu merek sehingga

(47)

25

perhatian serius agar perusahaan dapat merebut dan menaklukkan pasar di

setiap kategori. Membangun persepsi terhadap kualitas harus diikuti

dengan peningkatan kualitas yang nyata dari produknya karena akan

sia-sia meyakinkan pelanggan bahwa kualitas merek produknya adalah tinggi

bilamana kenyataan menunjukkan kebalikannya.

Berikut ini adalah berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam membangun

persepsi terhadap kualitas (Aaker dalam Durianto, et al., 2004):

1. Komitmen terhadap kualitas

2. Budaya kualitas

3. Informasi masukan dari pelanggan

4. Sasaran/standar yang jelas

5. Kembangkan karyawan yang berinisiatif

Menurut Buzzel dan Gale dalam Muafi dan Effendi (2001) menyebutkan dalam

jangka panjang faktor tunggal yang paling penting dalam mempengaruhi kinerja

suatu bisnis adalah persepsi terhadap kualitas dari produk atau jasa relatif terhadap

kinerja para pesaing. Dipertegas oleh Jacobson dan Aaker dalam Muafi dan

Effendi (2001) bahwa persepsi terhadap kualitas dapat menciptakan profitabilitas,

mempengaruhi pangsa pasar, mempengaruhi harga, mempunyai dampak langsung

terhadap profitabilitas sebagai kelanjutan dan dampaknya terhadap pangsa pasar

dan harga, serta tidak mempengaruhi biaya. Lebih lanjut lagi menurut Aaker

dalam Muafi dan Effendi (2001) menyebutkan secara umum persepsi kualitas

(48)

1. Alasan untuk membeli

2. Differensiasi atau posisi

3. Harga premium

4. Penyaluran minat pelanggan

5. Perluasan merek

Konsumen akan menampakkan perilakunya setelah melakukan persepsi terhadap

keputusan apa yang akan diambil dalam membeli suatu produk.

Assael dalam Sutisna (2003) menyebutkan bahwa, persepsi terhadap suatu produk

melalui proses itu sendiri terkait dengan komponennya (kemasan, bagian produk,

dan bentuk) serta komunikasi yang ditunjukkan untuk mempengaruhi perilaku

konsumen yang mencerminkan produk melalui latar kata-kata, gambar, dan

simbolisasi atau melalui stimuli lain yang diasosiasikan dengan produk (harga,

tempat, dan penjualan).

2. Persepsi Nilai

Nilai menurut Engel (2001) merupakan terminal dan instrument atau tujuan

kemana perilaku diarahkan, dan sasaran pencapaian tujuan itu. Psikologi sosial

membedakan nilai-nilai dengan nilai, dimana nilai-nilai adalah manifestasi

kognitif atas tuntutan universal manusiawi, seperti kebutuhan biologis, tuntutan

interaksi sosial dan tuntutan pranata sosial terhadap individu.

Morris Holbrook dalam James G Barnes (2001) mengungkapkan bahwa nilai

adalah preferensi yang bersifat relatif (komparatif, personal dan situasional) yang

memberi ciri pada pengalaman seseorang dalam berinteraksi dengan beberapa

(49)

27

berkaitan dengan pengalaman dan menyangkut bukan hanya pembelian suatu

objek, tetapi juga konsumsi dan penggunaan suatu jasa.

H. Citra Perusahaan

Keinginan sebuah organisasi untuk mempunyai citra yang baik pada publik

sasaran berawal dari pengertian yang tepat mengenai citra stimulus adanya

pengelolaan upaya yang perlu dilaksanakan. Ketepatan pengertian citra agar

organisasi dapat menetapkan upaya dalam mewujudkannya pada objek dan

mendorong prioritas pelaksanaan. Dengan adanya citra yang baik dari perusahaan,

maka perusahaan akan mampu mempengaruhi persepsi konsumen maupun calon

konsumen untuk memilih barang atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan.

Menurut Gary Hamel dan CK Prahalad alih bahasa oleh Hermawan Kartajaya,

(2000) citra diungkapkan oleh konsumen dalam bentuk:

1. Reputasi (reputation) yaitu seberapa besar kuat brand perusahaan dan

persepsi konsumen.

2. Pengakuan (recognition) yaitu tingginya nilai perusahaan dan persepsi

konsumen.

3. Hubungan emosional (affinity) yaitu hubungan yang terjadi antara brand

perusahaan dengan konsumen.

4. Loyalitas merek (brand loyalty) yaitu seberapa besar kesetiaan pelanggan

menggunakan produk atau jasa perusahaan.

Sutisna (2001) menyatakan bahwa citra adalah total persepsi terhadap suatu obyek

yang dibentuk dengan memproses informasi dari berbagai sumber setiap waktu.

(50)

sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman seseorang tentang sesuatu. Alma

(2002) menegaskan bahwa, “Citra dibentuk berdasarkan impresi, berdasar

pengalaman yang dialami seseorang terhadap sesuatu sebagai pertimbangan untuk

mengambil keputusan”.

Menurut Davies dalam Atmaja (2011) dikatakan bahwa citra diartikan sebagai

pandangan mengenai perusahaan oleh para pemegang saham eksternal, khususnya

oleh para pelanggan. Definisi citra menurut Renald Kasali dalam Iman (2010)

yaitu kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan. Menurut

Gronroos dalam Nurmiyati (2009) citra perusahaan dibangun oleh kualitas

teknikal yaitu apa yang pelanggan terima dari pengalaman sebelumnya dan

kualitas fungsional yaitu cara bagaimana servis diberikan kepada pelanggan.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut citra menunjukan kesan suatu objek

terhadap objek lain yang terbentuk dengan memproses informasi setiap waktu dari

berbagai sumber terpercaya. Secara tidak langsung citra membentuk persepsi

pelanggan dan calon pelanggan terhadap perusahaan.

Citra perusahaan dapat menjadi informasi ekstrinsik petunjuk bagi pembeli baik

yang ada dan potensi dan mungkin atau tidak dapat mempengaruhi loyalitas

pelanggan (misalnya kesediaan untuk memberikan kata positif dari mulut ke

mulut). Citra Perusahaan diasumsikan berdampak akibat pada pilihan pelanggan

perusahaan ketika atribut pelayanan sulit untuk dievaluasi, maka citra perusahaan

didirikan dan dikembangkan dibenak konsumen melalui komunikasi dan

pengalaman. Citra perusahaan yang diyakini untuk menciptakan efek halo pada

(51)

29

Menurut Iman (2010) terdapat tiga hal penting dalam citra, yaitu kesan objek,

proses terbentuknya citra, dan sumber terpercaya. Objek meliputi individu

maupun perusahaan yang terdiri atas sekelompok orang di dalamnya. Citra dapat

terbentuk dalam memproses informasi yang tidak menutup kemungkinan

terjadinya citra pada objek dari adanya penerimaan informasi setiap waktu.

Pentingnya citra perusahaan dikemukakan Sutisna (2001) sebagai berikut:

1. Menceritakan harapan bersama kampanye pemasaran eksternal. Citra

positif memberikan kemudahan perusahaan untuk berkomunikasi dan

mecapai tujuan secara efektif sedangkan citra negatif sebaliknya.

2. Sebagai penyaring yang mempengaruhi persepsi pada kegiatan

perusahaan. Citra positif menjadi pelindung terhadap kesalahan kecil.

Kualitas teknis atau fungsional sedangkan citra negatif dapat memperbesar

kesalahan tersebut.

3. Sebagai fungsi dari pengalaman dan harapan konsumen atas kualitas

pelayanan perusahaan.

4. Mempunyai pengaruh penting terhadap manajemen atau dampak internal.

Citra perusahaan yang kurang jelas dan nyata mempengaruhi sikap karyawan

terhadap perusahaan. Sutisna (2001) mengatakan satu hal yang dianalisis mengapa

terlihat ada masalah citra perusahaan adalah organisasi dikenal atau tidak dikenal.

Dapat dipahami bahwa kurangnya eksistensi perusahaan menunjukan citra

perusahaan yang bermasalah. Masalah citra perusahaan tersebut, dalam

(52)

Berdasarkan pendapat tersebut, keberadaannya citra perusahaan bersumber dari

pengalaman dan atau upaya komunikasi sehingga penilaian maupun

pengembangannya terjadi pada salah satu atau kedua hal tersebut. Citra

perusahaan yang bersumber dari pengalaman memberikan gambaran telah terjadi

keterlibatan antara konsumen dengan perusahaan. Proses terbentuknya citra

perusahaan menurut Hawkins et al dalam Iman (2010) diperlihatkan gambar

sebagai berikut:

Gambar 2.1 Proses Terbentuknya Citra Perusahaan Sumber : Hawkins et al. dalam Iman (2010)

Berdasarkan Gambar 2.1 tersebut proses terbentuknya citra perusahaan

berlangsung dalam beberapa tahapan. Pertama, objek mengetahui (melihat atau

mendengar) upaya yang dilakukan perusahaan dalam membentuk citra

perusahaan. Kedua, memperhatikan upaya perusahaan tersebut. Ketiga, setelah

adanya perhatian objek mencoba memahami semua yang ada pada upaya

perusahaan. Keempat, terbentuknya citra pada objek yang kemudian tahap kelima

citra perusahaan yang terbentuk akan menentukan perilaku objek sasaran dalam

hubungannya dengan perusahaan.

Upaya perusahaan sebagai sumber informasi terbentuknya citra perusahaan

memerlukan keberadaan secara lengkap. Informasi yang lengkap dimaksudkan

(53)

31

Renald Kasali dalam Iman (2010) mengemukakan pemahaman yang berasal dari

suatu informasi yang tidak lengkap menghasilkan citra yang tidak sempurna.

Harrison dalam Iman (2010) informasi yang lengkap mengenai citra perusahaan

meliputi empat elemen sebagai berikut:

1. Kepribadian (personality), keseluruhan karakteristik perusahaan yang

dipahami publik sasaran seperti perusahaan yang dapat dipercaya,

perusahaan yang mempunyai tanggung jawab sosial.

2. Reputasi (reputation), hal yang telah dilakukan perusahaan dan diyakini

publik sasaran berdasarkan pengalaman sendiri maupun pihak lain seperti

kinerja keamanan transaksi sebuah bank.

3. Nilai (value), Nilai-nilai yang dimiliki suatu perusahaan dengan kata lain

budaya perusahaan seperti sikap manajemen yang peduli terhadap

pelanggan, karyawan yang cepat tanggap terhadap permintaan maupun

keluhan pelanggan.

4. Identitas Perusahaan (corporate identity), komponen-komponen yang

mempermudah pengenalan publik sasaran terhadap perusahaan seperti

logo, warna dan slogan. Pengalaman yang baik dari konsumen atas

penggunaan produk yang dihasilkan perusahaan akan menghasilkan

persepsi yang baik terhadap citra perusahaan tersebut, dan pada saat itulah

Gambar

Gambar 2.1 Proses Terbentuknya Citra Perusahaan
Gambar 2.2 Model Perilaku Konsumen dalam Pengambilan Keputusan
Gambar 2.3. Langkah dalam Proses Pengambilan Keputusan Konsumen Sumber: Winardi, 1991 dalam Sunyoto (2013)
Tabel 2.1 Penelitian terdahulu
+5

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan citra merek produk, harga dan promosi dapat menjelaskan pengaruhnya terhadap keputusan pembelian pada Teeqha Online Shop sebesar 78,4%,

Syariah IAIN Ponorogo. H 0 : Tidak ada pengaruh yang signifikan secara parsial antara gaya hidup atau promosi penjualan terhadap pembelian impulsif hijab online shop

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh secara bersama-sama ekuitas merek, kualitas produk, dan promosi online pada keputusan pembelian, 2) pengaruh secara parsial

Sedangkan pengaruh promosi penjualan terhadap proses keputusan pembelian secara parsial dapat diliat sampel produk (X1) terhadap proses keputusan pembelian (Y)

Selanjutnya hasil pengujian hipotesis kedua menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara terpaan promosi penjualan KFC dengan keputusan

variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga, kualitas produk, dan keputusan pembelian Citra merek, iklan, promosi penjualan dan penjualan secara langsung

Nilai koefisien tersebut juga mengindikasikan bahwa nama merek memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pembelian, artinya jika nama merek semakin meningkat maka keputusan pembelian

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa persepsi kemudahan, persepsi kegunaan dan promosi penjualan berpengaruh positif signifikan secara parsial dan simultan terhadap pembelian