• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Virgin Coconut Oil (Vco) Dalam Menyembuhkan Lesi Oral Penderita Hiv/Aids.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Peranan Virgin Coconut Oil (Vco) Dalam Menyembuhkan Lesi Oral Penderita Hiv/Aids."

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DALAM

MENYEMBUHKAN LESI ORAL PENDERITA

HIV/AIDS

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi

syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh:

FARAH JULIA NASUTION 050600155

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Fakultas Kedokteran Gigi

Departemen Penyakit Mulut Tahun 2009

Farah Julia Nasution

PERANAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DALAM MENYEMBUHKAN LESI ORAL PENDERITA HIV/AIDS.

ix + 49 halaman.

Penderita HIV/AIDS di Indonesia semakin meningkat. Hal ini perlu diperhatikan oleh dokter gigi berkaitan dengan berbagai manifestasi oral yang

ditimbulkan oleh HIV/AIDS yang perlu dirawat. Sementara itu, terapi antiretroviral yang diberikan malah memberikan efek samping yang cukup berat kepada penderita.

VCO merupakan bahan alami yang dapat dijadikan alternatif pengobatan untuk mengobati manifestasi oral HIV/AIDS karena selain harganya murah dan mudah didapat, VCO juga cukup aman untuk dikonsumsi oleh penderita. Permasalahannya

ialah bagaimana peranan VCO dalam menyembuhkan lesi oral penderita HIV/AIDS. Tujuan penulisan adalah untuk memberikan penjelasan mengenai peranan dan

manfaat VCO dalam pengobatan lesi oral penderita HIV/AIDS.

VCO banyak mengandung asam lemak jenuh rantai sedang (MCFA) dengan asam laurat sebagai kandungan MCFA yang terbesar. Asam laurat berfungsi sebagai

antiviral, antibakterial dan antifungal. Bakteri dan virus yang dapat dihancurkannya adalah bakteri dan virus yang dilapisi oleh lipid. VCO membunuh virus dan bakteri

(3)

seluruh isinya keluar. Selain itu, VCO juga merangsang pembentukan CD4 sehingga

dapat meningkatkan sistem imun penderita HIV/AIDS. Dengan sifat inilah, VCO berperan dalam menyembuhkan manifestasi oral penderita HIV/AIDS selain berperan

terhadap AIDS itu sendiri.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa peranan VCO dalam penyembuhan lesi oral penderita HIV/AIDS adalah dengan menurunkan viral

load, membunuh mikroorganisme yang berkaitan dengan lesi oral dan meningkatkan

sistem imun penderita. Ketiga-tiganya dilakukan secara langsung oleh VCO tanpa

menimbulkan efek samping kepada penderita sehingga aman untuk dikonsumsi.

(4)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi

Medan, 23 Juli 2009

Pembimbing

(5)

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji pada tanggal 23 Juli 2009

TIM PENGUJI

KETUA : Syuaibah Lubis, drg

(6)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

Shalawat dan salam penulis ucapkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai

nabi akhir zaman yang telah membawa ummatnya dari zaman kebodohan ke zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini.

Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih sepenuhnya kepada kedua orang

tua, Abdul Aziz Nasution (ayah) dan Jamilah (ibu) yang telah memberikan kasih sayangnya selama ini kepada penulis dan seluruh saudara, Mutia Widuri Nasution

(kakak), Mulkan Nasution (abang), dan Dien Sarrah Nasution (kakak) yang juga ikut memberikan dukungan penuh kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis juga banyak mendapatkan bimbingan

dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis juga ingin mengucapkan terima kasih terutama kepada:

1. Syuaibah Lubis, drg selaku pembimbing skripsi yang telah banyak

meluangkan waktu dan pikirannya serta dengan sabar memberikan bimbingan, pengarahan dan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 2. Wilda Hafni Lubis, drg selaku Ketua Departemen Penyakit Mulut Fakultas

(7)

3. Prof. Ismet Danial Nasution, drg., PhD., Sp. Pros (K) selaku dekan Fakultas

Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

4. Irma Ervina, drg., Sp. Perio selaku pembimbing akademis yang telah

memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis selama belajar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

5. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas

Sumatera Utara terutama staf pengajar dan pegawai di Departemen Penyakit Mulut yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat kepada penulis.

6. Sahabat-sahabat tercinta: Mala, Aniq, Nia, Elza, Adi Praja, Agung, Ayu,

Dian, Dira, Ridha, Chitra, Rini yang telah banyak memberikan dukungan dan teman-teman lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

7. Keluarga besar HMI Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara

terutama seluruh kakanda dan adinda yang telah banyak memberikan

pengalaman berharga dan ikut memberikan dukungan kepada penulis.

Demikian yang dapat disampaikan oleh penulis. Semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan pemikiran dan pengembangan ilmu yang bermanfaat bagi

fakultas dan masyarakat.

Medan, 23 Juli 2009 Penulis

(8)

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN...

HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI...

KATA PENGANTAR...iv

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan...4

(9)

BAB 4 MEKANISME KERJA VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DALAM MENYEMBUHKAN LESI ORAL PADA

PENDERITA HIV/AIDS...43

BAB 5 KESIMPULAN...49

DAFTAR PUSTAKA

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Stadium klinis HIV/AIDS...14

2. Komposisi asam lemak minyak kelapa murni...37

3. Komposisi kandungan kimia VCO dari berbagai sumber...38

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Struktur virus HIV...10

2. Siklus replikasi HIV...11

3. Kerusakan gigi kurang dari 1 tahun dengan “meth mouth”...20

4. Angular cheilitis...21

5. Kandidiasis eritematous...21

6. Kandidiasis pseudomembranosus...21

7. Oral hairy leukoplakia...22

8. Eritema gingiva linear...22

9. Periodontitis ulseratif nekrotik...23

10. Sarkoma kaposi...24

11. Oral warts...24

12. Herpes simpleks virus-1...25

13. Ulser aftosa rekuren...26

14. Ulserasi neutropeni...27

(12)

Fakultas Kedokteran Gigi

Departemen Penyakit Mulut Tahun 2009

Farah Julia Nasution

PERANAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DALAM MENYEMBUHKAN LESI ORAL PENDERITA HIV/AIDS.

ix + 49 halaman.

Penderita HIV/AIDS di Indonesia semakin meningkat. Hal ini perlu diperhatikan oleh dokter gigi berkaitan dengan berbagai manifestasi oral yang

ditimbulkan oleh HIV/AIDS yang perlu dirawat. Sementara itu, terapi antiretroviral yang diberikan malah memberikan efek samping yang cukup berat kepada penderita.

VCO merupakan bahan alami yang dapat dijadikan alternatif pengobatan untuk mengobati manifestasi oral HIV/AIDS karena selain harganya murah dan mudah didapat, VCO juga cukup aman untuk dikonsumsi oleh penderita. Permasalahannya

ialah bagaimana peranan VCO dalam menyembuhkan lesi oral penderita HIV/AIDS. Tujuan penulisan adalah untuk memberikan penjelasan mengenai peranan dan

manfaat VCO dalam pengobatan lesi oral penderita HIV/AIDS.

VCO banyak mengandung asam lemak jenuh rantai sedang (MCFA) dengan asam laurat sebagai kandungan MCFA yang terbesar. Asam laurat berfungsi sebagai

antiviral, antibakterial dan antifungal. Bakteri dan virus yang dapat dihancurkannya adalah bakteri dan virus yang dilapisi oleh lipid. VCO membunuh virus dan bakteri

(13)

seluruh isinya keluar. Selain itu, VCO juga merangsang pembentukan CD4 sehingga

dapat meningkatkan sistem imun penderita HIV/AIDS. Dengan sifat inilah, VCO berperan dalam menyembuhkan manifestasi oral penderita HIV/AIDS selain berperan

terhadap AIDS itu sendiri.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa peranan VCO dalam penyembuhan lesi oral penderita HIV/AIDS adalah dengan menurunkan viral

load, membunuh mikroorganisme yang berkaitan dengan lesi oral dan meningkatkan

sistem imun penderita. Ketiga-tiganya dilakukan secara langsung oleh VCO tanpa

menimbulkan efek samping kepada penderita sehingga aman untuk dikonsumsi.

(14)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

AIDS dapat terjadi pada hampir semua penduduk di seluruh dunia, termasuk

penduduk Indonesia. AIDS merupakan sindrom (kumpulan gejala) yang terjadi akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh. AIDS yang merupakan singkatan dari Acquired

Immunodeficiency Syndrome disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency

Virus) yang berarti virus penurun kekebalan manusia.

Sampai kini, mendengar kata HIV/AIDS seperti momok yang mengerikan.

Permasalahan HIV/AIDS telah sejak lama menjadi isu bersama yang terus menjadi perhatian berbagai kalangan, terutama sektor kesehatan. Kondisi akhir pada seseorang

yang terinfeksi virus ini membuatnya rentan terhadap berbagai macam infeksi.

1

HIV/AIDS merupakan masalah yang mengancam di berbagai negara di dunia termasuk Indonesia. Setiap tahunnya jumlah penderita HIV/AIDS semakin

meningkat. Menurut data yang didapat, sampai 30 September 2007 sudah terdapat 5904 kasus HIV positif dan 10.384 kasus AIDS di Indonesia.

1

HIV/AIDS dapat menunjukkan berbagai manifestasi baik secara klinis maupun oral. Namun, di kalangan dokter gigi penting untuk mengetahui manifestasi oral yang terjadi sehubungan dengan penderita HIV/AIDS. Pada umumnya, penderita

HIV/AIDS menunjukkan suatu kondisi rongga mulut seperti kandidiasis, xerostomia, hairy leukoplakia, penyakit-penyakit periodontal, sarkoma kaposi, penyakit yang

(15)

berhubungan dengan virus papiloma manusia, penyakit-penyakit ulseratif seperti lesi

virus herpes simpleks, recurrent apthous ulcers, dan neutropenic ulcers.3

Sampai saat ini HIV/AIDS belum dapat disembuhkan secara total. Terapi

yang selama ini diberikan pada penderita HIV/AIDS adalah pemberian obat-obatan berupa antiretroviral yang lebih dikenal dengan HAART (Highly Active

Antiretroviral Therapy). Obat-obatan ini ditujukan terhadap tahap-tahap infeksi dan

replikasi virus, sehingga harus mempunyai kemampuan seperti menghambat reseptor CD4, menghambat antigen envelope HIV, mengubah fluiditas membran plasma sel,

menghambat enzim reverse transcriptase, merusak proses transkripsi pasca transkripsi dan translasi virus dan merusak tahap akhir pembentukan dan pelepasan virus baru.

4

Data selama delapan tahun terakhir menunjukkan bahwa penggunaan

kombinasi beberapa obat antiretroviral dapat bermanfaat menurunkan morbiditas dan mortalitas. Namun, obat-obatan antiretroviral (ARV) ini belum semua tersedia di

Indonesia karena harganya mahal sehingga hanya penderita yang mempunyai tingkat ekonomi tinggi saja yang bisa mengkonsumsi terus obat ini.2 Bagi penderita dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah mungkin hanya bisa menggunakan obat ini

untuk beberapa saat dan kemudian dapat terhenti/terputus bahkan juga dapat tidak menggunakan obat ini sama sekali. Ketidakteraturan dalam mengkonsumsi ARV

dapat menimbulkan efek samping kepada penderita berupa resistensi virus terhadap obat yang diberikan sehingga penggunaan kembali obat ARV dapat menjadi tidak bermanfaat. Selain resistensi, obat-obatan ARV juga mempunyai efek samping

(16)

HIV tingkat lanjut. Penggunaan ARV secara terus-menerus juga dapat

mengakibatkan miopati simtomatik serupa dengan yang dihasilkan oleh HIV.5 Oleh karena itu, sampai saat ini belum ditemukan obat antivirus yang aman dan efektif

bagi penderita.

Indonesia merupakan negara yang mempunyai beraneka ragam kekayaan sumberdaya hayati, salah satunya adalah Indonesia kaya akan berbagai tanaman. Bila

kita dapat memanfaatkan kekayaan tersebut dengan menggunakan tanaman yang tersedia sebagai alternatif pengobatan maka kita akan mendapatkan suatu pengobatan

yang jauh lebih ekonomis dibandingkan dengan obat-obatan sintetis. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan HIV/AIDS adalah kelapa.

4

Kelapa yang telah diolah akan menghasilkan suatu ekstrak berupa minyak. Minyak inilah yang biasa disebut dengan minyak dara, minyak murni atau minyak

perawan yang kini dikenal dengan nama Virgin Coconut Oil (VCO).6 Jadi, VCO adalah minyak yang dihasilkan dari kelapa segar pilihan tanpa proses pemanasan, peragian atau fermentasi dan pemakaian zat-zat tambahan atau aditif lainnya, 6,7 serta tidak melalui tahap pemurnian, pemucatan dan penghilang aroma. 7

Telah dilakukan sejumlah penelitian mengenai potensi VCO dalam mengatasi

HIV/AIDS. Beberapa dari penelitian tersebut adalah penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit San Lazaro, Filipina, sekitar 2002-2003. Penelitian dilakukan terhadap 15 pasien yang telah terinfeksi virus dan penelitian ini berlangsung selama enam

bulan. Dari penelitian tersebut, 9 dari 15 pasien mengalami penurunan jumlah virus dalam darah.

(17)

Ada juga penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti lainnya mengenai

VCO dan manfaatnya. Dari penelitian yang mereka lakukan, dilaporkan bahwa VCO dengan kandungan yang dimilikinya mempunyai khasiat dalam menggempur virus

HIV/AIDS. Selain bermanfaat untuk membunuh virus AIDS, VCO juga dapat menyembuhkan manifestasi oral penderita AIDS dengan sifat antiviral, antibakterial dan antifungal yang dimilikinya. 9

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan yang telah dikemukakan di atas, maka timbul permasalahan : “Bagaimana peranan VCO dalam menyembuhkan lesi oral pada penderita

HIV/AIDS.”

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan

Tujuan penulis dalam penulisan skripsi ini adalah untuk memberikan

informasi dan gambaran mengenai peranan dan manfaat VCO dalam pengobatan lesi oal penderita HIV/AIDS.

Manfaat dari penulisan skripsi ini adalah:

a. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya gigi dan mulut pada

masyarakat dengan menggunakan bahan alami yang murah dan mudah didapat.

b. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan bahan alami

dan tumbuhan tradisional sebagai alternatif pengobatan selain mengkonsumsi obat-obatan kimia.

(18)

1.4 Ruang Lingkup

Skripsi ini menjelaskan tentang peranan VCO dalam menyembuhkan lesi oral penderita HIV/AIDS mencakup definisi, epidemiologi, etiologi, patogenesis,

(19)

BAB 2 AIDS

Sebenarnya HIV dan AIDS mempunyai makna yang berbeda meskipun sering kali terdapat tulisan HIV/AIDS dan bahkan menjadi suatu istilah. Untuk lebih

memahami perbedaannya, pada bab ini akan dibahas lebih lanjut mengenai HIV dan AIDS.

2.1 Definisi

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang berarti virus penurun kekebalan manusia. Orang yang telah terinfeksi HIV akan disebut sebagai

HIV positif, yang berarti virus HIV telah ada di dalam aliran darahnya. Bila penderita HIV positif tidak mendapatkan perawatan, infeksi tersebut akan berkembang dengan cepat menuju AIDS.

AIDS yang merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan berbagai macam penyakit yang terjadi karena tubuh tidak dapat

lagi melawan penyakit akibat rusaknya sistem kekebalan tubuh oleh infeksi virus HIV. 10, 11 Seseorang yang menderita HIV positif tidak dapat dikatakan menderita AIDS. Banyak kasus dimana penderita HIV positif masih kelihatan sehat dan tidak

menjadi sakit dalam jangka waktu yang sangat lama. Walaupun begitu, virus HIV yang ada dalam tubuh seseorang akan terus merusak dan menghancurkan sistem

(20)

yang biasanya pada orang normal tidak berbahaya namun akan menjadi berbahaya

pada orang dengan kerusakan sistem imun. Seseorang baru dapat dikatakan AIDS bila seorang HIV positif sudah terdiagnosa dengan berbagai macam penyakit. 10

2.2 Epidemiologi

AIDS pertama kali diidentifikasi sebagai suatu penyakit pada tahun 1981 yang dilaporkan oleh Gottlieb di Amerika Serikat. Sedangkan etiologinya, HIV (Human

Immunodeficiency Virus), ditemukan pada tahun 1983. 12, 13 Namun, sebenarnya secara retrospektif kasus AIDS secara terbatas telah terjadi selama tahun 1970-an di AS dan di beberapa bagian di dunia seperti Haiti, Afrika dan Eropa.

AIDS merupakan epidemi di seluruh dunia. Jumlah negara yang melaporkan kasus-kasus AIDS sejak pertama kali kasus tersebut dilaporkan meningkat drastis

yaitu 8 negara pada tahun 1981, 153 negara pada tahun 1990 dan 210 negara pada bulan November 1996. Begitu juga dengan kasus yang terjadi meningkat dari 185 kasus pada tahun 1981 menjadi 237.100 kasus pada tahun 1990 hingga November

1996 sudah terjadi 1.544.067 kasus.

14

15

Menurut estimasi WHO pada tahun 2000, sekitar 30-40 juta orang terinfeksi virus HIV, 12-18 juta orang akan menunjukkan

gejala-gejala AIDS dan 1,8 juta orang/tahun akan meninggal karena AIDS. 12 Hingga tahun 2004, tercatat kasus AIDS yang terbesar di dunia terdapat di negara Amerika Serikat yaitu sebanyak 565.097 kasus. Di benua Afrika jumlah kasus terbanyak

terdapat di negara Tanzania yaitu 82.174 kasus. Di benua Eropa jumlah terbanyak terdapat di Perancis yaitu 43.451 kasus. Sedangkan di benua Asia jumlah terbanyak

(21)

Distribusi umur penderita AIDS di Eropa, AS dan Afrika tidak berbeda jauh.

Kelompok terbesar berada pada umur 30-39 tahun kemudian menurun pada kelompok umur lebih besar dan lebih kecil. Ini menunjukkan bahwa transmisi seksual

baik homoseksual maupun heteroseksual merupakan pola transmisi utama.

Kasus HIV/AIDS di Indonesia semakin meningkat. Berdasarkan data yang tercatat pada tahun 1998, infeksi HIV/AIDS telah menyebar di 22 propinsi yaitu DI

Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan

Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Bali, NTB, NTT, Maluku, Irian Jaya dan Timor Timur dengan jumlah terbanyak terdapat di DKI Jakarta yaitu sebanyak 181 penderita dan diikuti Irian Jaya sebanyak

137 penderita.

16

16

Pada tahun 1999, telah terjadi peningkatan penderita AIDS pada populasi tertentu di beberapa propinsi dengan prevalensi HIV/AIDS yang cukup

tinggi. Peningkatan terjadi pada kelompok pekerja seks komersil dan pengguna narkoba suntikan di 6 propinsi yaitu DKI Jakarta, Papua, Riau, Bali, Jawa Barat dan Jawa Timur.

Berdasarkan data kasus kumulatif tahun 1987-2007, kasus HIV dan AIDS sebanyak 16.288 orang dan yang meninggal berjumlah 2287 orang. Sedangkan

berdasarkan data kasus 2007, HIV dan AIDS sebanyak 2864 orang (47% dari komunitas narkoba suntik).

17

18

(22)

2.3 Etiologi

Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa etiologi dari AIDS adalah virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang ditemukan pada tahun 1983. Ada dua

tipe HIV yang telah diidentifikasi yaitu HIV-1 dan HIV-2. Analisis genetik menunjukkan bahwa HIV-1 dan HIV-2 berhubungan erat dengan grup lentivirus dari golongan retrovirus. 19 HIV-1 sumber dari mayoritas infeksi HIV di dunia. Sedangkan HIV-2 kebanyakan berada di Afrika Barat.

HIV adalah virus RNA dimana material genetiknya dibungkus oleh suatu

matriks yang sebagian besar tersusun dari protein inti 24.000 D yang disebut p24. Inti dikelilingi oleh beberapa lapis pembungkus luar yang terdiri dari selapis protein dalam 17.000 D yang disebut p17. Protein ini berbatasan dengan selapis lemak yang

mengandung glycosylate protein 41.000 D (gp41). Berlekatan terhadap gp41 adalah glycosylate protein yang lebih besar yaitu 120.000 D, gp120. Protein gp120

mengandung serangkaian asam amino yang mengenali dan berlekatan dengan permukaan CD4, salah satu jenis sel manusia yang paling banyak terdapat pada limfosit T helper. Selain itu, virus HIV juga memiliki tiga enzim yang berkaitan

dengan RNA antara lain: reverse transcriptase, integrase, dan protease.

20

(23)

Gambar 1. Struktur Virus HIV

2.4 Patogenesis

Virus HIV mempunyai cara tersendiri dalam menghindari mekanisme

pertahanan tubuh. Virus HIV memasuki tubuh seseorang dalam keadaan bebas atau berada di dalam sel limfosit. Benda asing ini segera dikenali oleh sel T helper (T4). 23 Begitu sel T helper menempel pada benda asing tersebut, reseptor sel T helper menjadi tidak berdaya sehingga virus segera berfusi (menyatu) dan memasuki sel tersebut. 17, 23 Mediator proses fusi ini adalah gp41 membran HIV. 17 Jadi, sel T

helper telah dilumpuhkan terlebih dahulu sebelum sel tersebut dapat mengenal virus

(24)

dalam genom sel T helper dengan bantuan enzim integrase. Selanjutnya, terjadilah

pembentukan protein virus. Protein virus yang dihasilkan nantinya akan berperan dalam pembentukan partikel-partikel virus pada membran plasma dengan bantuan

enzim protease. 17 Virus-virus yang infeksius dilepas dari sel dan disebut dengan

virion. 17 Mekanisme pembentukan sel T, sel B dan sel fagosit lainnya sudah tidak ada lagi karena sel T helper sudah lumpuh. Kelumpuhan mekanisme kekebalan inilah

yang disebut dengan AIDS atau sindrom kegagalan kekebalan. 23

(25)

Perjalanan infeksi HIV terjadi dalam tiga tahap yaitu penyakit primer akut,

penyakit kronis asimtomatis dan penyakit kronis simtomatis. Masa inku basi diperkirakan 5 tahun atau lebih.

Infeksi primer (sindrom retroviral akut) terjadi setelah virus HIV pertama sekali bereplikasi dalam kelenjar limfe regional. Pada tahap ini, terjadi peningkatan jumlah virus yang sangat cepat di dalam plasma, biasanya lebih dari 1 juta copy/µ l

disertai dengan penyebaran virus ke organ limfoid, saluran cerna dan saluran genital. Setelah viremia mencapai puncak, jumlah virus (viral load) akan menurun bersamaan

dengan berkembangnya respon imunitas seluler. Puncak viral load dan perkembangan respon imunitas seluler berhubungan dengan kondisi penyakit yang simtomatik pada sebagian besar pasien. Penyakit ini terjadi setelah 3 bulan terkena

infeksi. Gejala yang terjadi berupa ruam, demam, nyeri kepala, malaise dan limfadenopati menyeluruh. Fase ini mereda secara spontan selama 14 hari.

Setelah penyakit primer menurun, terjadilah infeksi HIV asimtomatis/dini. Masa infeksi ini dapat terjadi dalam waktu yang lama pada beberapa pasien. Pada masa infeksi asimtomatis, replikasi HIV terus berlanjut dan terjadi kerusakan sistem

imun. Gejala yang terjadi berupa limfadenopati generalisata persisten pada beberapa pasien sejak terjadinya serokonversi, yaitu perubahan tes antibodi HIV yang semula

negatif menjadi positif. Komplikasi kelainan kulit juga dapat terjadi seperti dermatitis seboroik dan terjadinya atau memburuknya psoriasis.

Selanjutnya akan terjadi infeksi simtomatik dengan gejala berupa komplikasi

(26)

tersebut jarang berat atau serius, namun komplikasi tersebut dapat mengganggu

pasien. Terjadinya penyakit kulit seperti herpes zoster, dermatitis seboroik, psoriasis dan ruam yang sebabnya tidak diketahui, sering terjadi dan mungkin resisten terhadap

pengobatan standar. Stomatitis aftosa juga sering terjadi pada tahap ini. Begitu juga halnya dengan kandidiasis oral, oral hairy leukoplakia, eritema gingivalis linier dan komplikasi oral yang sulit diobati seperti gingivitis ulseratif nekrotik akut. Diare

berulang dapat terjadi dan dapat menjadi masalah. Sinusitis bakterial merupakan manifestasi yang sering terjadi.

Bila telah terjadi infeksi oportunistik, yaitu penyakit yang berhubungan dengan penurunan imunitas yang serius, dapat dikatakan kondisi ini telah memasuki stadium lanjut.

Kecepatan perkembangan penyakit bervariasi antar individu, berkisar antara 6 bulan hingga lebih 20 tahun. Waktu yang diperlukan untuk berkembang menjadi

AIDS bila tanpa terapi antiretroviral adalah sekitar 5 tahun. Namun, bila diobati dengan ARV dapat bertahan sekitar 10 tahun. 17

2.5 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis pada penderita HIV/AIDS berhubungan dengan stadium klinis yang telah dialami oleh penderita tersebut. Berdasarkan ketetapan WHO, stadium klinis HIV/AIDS untuk dewasa maupun anak-anak masing-masing terdiri

(27)

Tabel 1. Stadium Klinis HIV/AIDS

Gejala terkait HIV Stadium Klinis

Asimtomatik 1

Gejala ringan 2

Gejala lanjut 3

Gejala berat/sangat lanjut 4

2.5.1 Stadium Klinis HIV/AIDS untuk Dewasa dan Remaja

Stadium klinis HIV/AIDS untuk dewasa dan remaja adalah sebagai berikut: 1. Infeksi Primer HIV

a. Asimtomatik

b. Sindrom retroviral akut

2. Stadium Klinis 1 a. Asimtomatik

b. Limfadenopati generalisata persisten 3. Stadium Klinis 2

a. Berat badan menurun yang sebabnya tidak dapat dijelaskan

b. Infeksi saluran nafas berulang (sinusitis, tonsilitis, bronkitis, otitis

(28)

f. Dermatitis seboroika g. Infeksi jamur kuku

4. Stadium Klinis 3

a. Berat badan menurun yang tidak dapat dijelaskan sebabnya (>

10%)

b. Diare kronis yang tidak dapat dijelaskan sebabnya lebih dari 1

bulan

c. Demam yang tidak diketahui sebabnya (intermitten maupun tetap

selama lebih dari 1 bulan) d. Kandidiasis oral persisten

e. Oral hairy leukoplakia

f. Tuberkulosis paru

g. Infeksi bakteri yang berat (infeksi tulang atau sendi, meningitis,

bakteremia selain pneumonia)

h. Stomatitis, gingivitis atau periodontitis ulseratif nekrotik akut

i. Anemia (Hb < 8 g/dL), neutropeni (< 500/mm3), dan atau trombositopeni kronis (< 50.000/mm3

5. Stadium Klinis 4

) yang tidak dapat dijelaskan sebabnya

a. HIV wasting syndrome (berat badan berkurang > 10% dari berat

badan semula, disertai diare kronik tanpa sebab yang jelas ( > 1

(29)

b. Pneumonia pneumocystis

c. Pneumonia bakteri berat yang berulang

d. Infeksi herpes simpleks kronis (orolabial, anorektal, genital atau

viseral lebih dari sebulan)

e. Kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru

f. Tuberkulosis ekstra paru g. Sarkoma Kaposi

h. Infeksi Sitomegalovirus

i. Toksoplasmosis susunan saraf pusat j. Ensefalopati HIV

k. Kriptokokus ekstra paru

l. Infeksi mikobakterium non-tuberkulosis yang luas (diseminata)

m. Kriptosporidiosis kronis

n. Mikosis diseminata (histoplasmosis, penisiliosis ekstra paru) o. Septikemia berulang

p. Limfoma (otak atau non-Hodgkin sel B) q. Karsinoma serviks invasif

2.5.2 Stadium Klinis HIV/AIDS untuk Bayi dan Anak

Stadium klinis HIV/AIDS untuk bayi dan anak adalah sebagai berikut: 1. Infeksi Primer HIV

(30)

2. Stadium Klinis 1 a. Asimtomatik

b. Limfadenopati meluas persisten 3. Stadium Klinis 2

a. Hepatomegali persisten yang penyebabnya tidak jelas

b. Infeksi virus (wart) yang ekstensif c. Moluskum kontagiosum yang ekstensif

d. Ulkus mulut berulang

e. Pembesaran parotis persisten f. Eritema gingival linear

g. Herpes zoster

h. Infeksi saluran nafas atas kronis atau berulang

i. Infeksi jamur kuku 4. Stadium Klinis 3

a. Malnutrisi sedang yang tidak jelas penyebabnya dan tidak respons

terhadap terapi standar

b. Diare persisten lebih dari 14 hari

c. Demam persisten ( > 37,50

d. Kandidiasis oral persisten (setelah usia 6-8 minggu)

C intermiten atau tetap > 1 bulan)

e. Oral hairy leukoplakia

f. Gingivitis atau periodontitis ulseratif nekrotik akut g. Tuberkulosis kelenjar dan tuberkulosis paru

(31)

i. Anemia (Hb > 8 g/dL), neutropeni (< 500/mm3) dan atau trombositopeni kronis (< 50.000/mm3

5. Stadium Klinis 4

) dengan sebab tidak jelas

a. Gangguan tumbuh kembang yang berat yang penyebabnya tidak

jelas atau wasting yang tidak respons terhadap terapi standar b. Pneumonia pneumocystis

c. Infeksi bakteri berat yang berulang (infeksi tulang atau sendi,

meningitis selain pneumonia)

d. Infeksi herpes simpleks kronis (> 1 bulan) e. Tuberkulosis ekstra paru

f. Sarkoma Kaposi

g. Kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru

h. Toksoplasmosis susunan saraf pusat (setelah usia 1 bulan) i. Ensefalopati HIV

j. Infeksi sitomegalovirus setelah usia 1 bulan

k. Kriptokokus ekstra paru l. Mikosis endemik diseminata

m. Kriptosporidiosis kronis

n. Infeksi mikobakterium non-tuberkulosis diseminata (luas) o. Fistula rektum terkait HIV

(32)

2.6 Manifestasi Oral

Dokter gigi perlu mengetahui dan mengenal komplikasi oral pada penderita yang terinfeksi HIV atau AIDS agar dapat memberikan suatu perawatan yang tepat.

Faktor-faktor yang mendorong terjadinya manifestasi oral yang berhubungan dengan HIV adalah jumlah CD4 yang kurang dari 200/µ L, level RNA-HIV dalam plasma di atas 3.000 copy/mL, xerostomia, kebersihan mulut yang buruk dan merokok.

Seseorang dengan status HIV tidak diketahui, manifestasi oral yang terjadi dapat memberikan petunjuk bahwa ia terinfeksi HIV meskipun tidak terdiagnosa infeksi.

Pada penderita HIV yang belum mendapatkan perawatan, adanya manifestasi oral tertentu menandakan perkembangan HIV. Pada penderita yang mendapatkan terapi ARV, manifestasi oral yang terjadi memberikan tanda meningkatnya level RNA-HIV

dalam plasma. 3 Berikut ini adalah gambaran kondisi oral yang sering terjadi pada penderita HIV.

3

a. Xerostomia

Xerostomia merupakan faktor yang paling berperan dalam kerusakan gigi pada penderita HIV. Lebih dari 400 macam pengobatan dapat menyebabkan gejala

xerostomia. Sekitar 30%-40% penderita HIV mengalami xerostomia sedang sampai berat akibat pengobatan yang diberikan ( mis. Didanosine) atau terjadinya proliferasi sel CD8+ pada kelenjar saliva mayor. Penggunaan kristal methamphetamin dapat

(33)

Gambar 3. Kerusakan gigi kurang dari 1 tahun dari kiri ke kanan dengan “meth mouth”

b. Kandidiasis

Ada tiga gambaran kandidiasis oral yang sering terjadi yaitu angular cheilitis,

kandidiasis eritematous dan kandidiasis pseudomembranosus. Angular chelitis memiliki gambaran berupa eritema atau terjadinya retakan pada ujung mulut. Dapat

terjadi dengan atau tanpa kandidiasis eritematous atau pseudomembranosus. Penyakit ini dapat menetap untuk waktu yang lama jika tidak mendapatkan perawatan. Dapat dirawat dengan menggunakan antifungal topikal pada daerah yang terkena 4 kali

sehari selama 2 minggu.

Kandidiasis eritematous memiliki gambaran berupa lesi merah, datar, licin

pada permukaan dorsal lidah, palatum keras atau palatum lunak. Ini dapat digambarkan sebagai “kissing lesion”, yang berarti jika lesi terdapat pada lidah, palatum juga akan memiliki gambaran lesi yang sama seperti pada lidah. Penyakit ini

cenderung simtomatik dimana pasien merasakan mulut seperti terbakar terutama saat makan makanan asin, pedas atau minum minuman yang mengandung asam.

(34)

dapat dihapus dengan meninggalkan permukaan merah dan berdarah. Organisme

yang paling sering terlibat adalah Candida albicans, walaupun banyak juga terdapat spesies lainnya.

4 5

6a 6b

Gambar : 4. Angular cheilitis; 5. Kandidiasis eritematous; 6. Kandidiasis pseudomembranosus; a. Ringan atau sedang, b. Berat

c. Oral Hairy Leuko plakia

Kondisi ini disebabkan oleh virus Epstein-Barr. Mempunyai gambaran berupa lesi putih berambut pada lateral lidah yang tidak dapat dihapus, asimtomatik dan tidak

(35)

Gambar 7. Oral hairy leukoplakia

d. Eritema Gingiva Linear

Eritema gingiva linear atau “red band gingivitis” tampak sebagai pita merah di sepanjang margin gingiva yang dapat atau tidak disertai perdarahan dan rasa sakit.

Paling sering terlihat pada gigi anterior, tapi sering meluas ke gigi posterior. Dapat juga terjadi pada gingiva bebas dan cekat dalam bentuk plak seperti petechiae. Dapat dirawat dengan debridement yaitu dibilas dengan 0,12% suspensi klorheksidin

glukonat 2 kali sehari selama 2 minggu dan meningkatkan kebersihan mulut di rumah.

(36)

e. Periodontitis Ulseratif Nekrotik

Periodontitis ulseratif nekrotik memiliki gambaran penyakit yang sama dengan gingivitis ulseratif nekrotik. Gingivitis ulseratif nekrotik mengalami destruksi

yang cepat pada jaringan lunak sedangkan periodontitis ulseratif nekrotik pada jaringan keras. Penyakit ini merupakan tanda penurunan imun yang berat. Mempunyai gambaran berupa nyeri hebat, kehilangan gigi, perdarahan, berbau busuk,

ulserasi papila gingiva dan kehilangan jaringan lunak dan tulang yang cepat. Dapat dirawat dengan menghilangkan plak, kalkulus dan jaringan nekrotik dengan

menggunakan 0,12% klorheksidin glukonat atau 10% povidone-iodine dan pemberian antibiotik serta meningkatkan nutrisi pasien.

Gambar 9. Periodontitis ulseratif nekrotik

f. Sarkoma Kaposi

Sarkoma kaposi merupakan keganasan oral yang paling sering berhubungan

dengan HIV. Kejadian ini menurun secara dramatis dengan pemberian antiretroviral. Sarkoma kaposi berhubungan dengan virus herpes dan telah diidentifikasi sebagai

(37)

merah dan asimtomatik dengan perubahan warna ke arah yang lebih gelap pada lesi

yang lebih tua. Dapat simtomatik yang disebabkan adanya trauma atau infeksi. Diagnosis pasti memerlukan biopsi. Dapat dirawat dengan injeksi kemoterapi lokal

seperti vinblastin sulfat atau dapat juga dilakukan pembedahan.

Gambar 10. Sarkoma Kaposi

g. Oral Warts − Human Papilloma Virus

Oral warts yang disebabkan oleh human papiloma virus meningkat secara dramatis pada pemberian terapi antiretroviral. Pada sebuah studi, disimpulkan bahwa

risiko warts (kutil) yang disebabkan oleh human papiloma virus berhubungan dengan rekonstitusi imun. Mempunyai gambaran seperti bunga kol, tajam, atau meninggi dengan permukaan datar. Dapat dilakukan bedah, bedah laser atau krioterapi.

a b

(38)

h. Herpes Simpleks

Herpes simpleks virus (HSV)-1 merupakan infeksi yang menyebar dan umumnya menimbulkan lesi pada mulut. Didahului oleh vesikel lalu ruptur menjadi

ulser yang irregular dan sakit yang dapat berkelompok. Lesi pada bibir mudah untuk dikenali. Lesi mulut yang terdapat pada jaringan yang berkeratin termasuk palatum keras dan gusi perlu dicurigai terinfeksi HSV. Ulser herpetik dapat sembuh sendiri

tanpa perawatan meskipun pengobatan antivirus seperti asiklovir terkadang diperlukan untuk mengontrol penyebaran penyakit.

Gambar 12. HSV-1

i. Ulser Aftosa Rekuren

Ulser aftosa rekuren terjadi pada jaringan yang tidak berkeratin dan bergerak seperti mukosa labial, mukosa bukal, dasar mulut, permukaan ventral lidah, orofaring

posterior, vestibulum maksila dan mandibula. Penyebabnya tidak diketahui. Lesi ditandai dengan halo inflamasi dan ditutupi pseudomembran abu-abu kekuningan. Lesi ini sangat nyeri terutama bila mengkonsumsi makanan asin, pedas, makanan dan

(39)

mg/5 mL) 2x/3x sehari yang dikumur selama satu menit lalu dibuang. Perawatan

diteruskan sampai simtom menghilang. Untuk kasus yang lebih berat, dapat digunakan kortikosteroid sistemik seperti prednisone.

Gambar 13. Ulser Aftosa Rekuren

j. Ulserasi Neutropenik

Ulserasi neutropenik merupakan ulserasi yang sangat nyeri dan dapat terjadi pada jaringan berkeratin dan tidak. Penyakit ini berhubungan dengan jumlah granulosit yang kurang dari 800/µ L. Adanya ulser yang besar yang tidak dapat

diidentifikasi sebagai ulser lainnya perlu dicurigai sebagai ulserasi neutropenik. Frekuensi lesi meningkat pada penderita HIV meskipun penyebab meningkatnya

(40)

Gambar 14. Ulserasi Neutropenik

2.7 Diagnosis

Untuk mendiagnosis suatu infeksi HIV pada seseorang, perlu dilakukan tes

HIV. Tes HIV adalah suatu tes darah yang digunakan untuk memastikan apakah seseorang sudah positif terinfeksi HIV atau tidak dengan cara mendeteksi adanya antibodi HIV di dalam sampel darahnya. 25 Antibodi adalah suatu protein yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh untuk menyerang kuman tertentu. 26

Ada beberapa macam tes HIV yang dapat digunakan untuk mendiagnosa

apakah seseorang positif terinfeksi atau tidak. Macam-macam tes HIV tersebut antara lain sebagai berikut.

1. Tes Elisa (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)

Tes ini menunjukkan hasil yang positif bila antibodi serum mengikat antigen

virus murni di dalam enzyme-linked antihuman globulin. Tes ini mulai menunjukka n hasil positif pada bulan ke 2-3 setelah terinfeksi yang lama-lama akan menjadi

(41)

spesifikasinya rendah.25 Tes ELISA ini hanya sensitif terhadap antibodi jenis IgG, sedangkan antibodi yang muncul pada penderita AIDS pertama sekali hanyalah IgM yang menyebabkan tidak akan terdeteksi. 24

2. Tes Western Blot

Pemeriksaan Western Blot cukup mahal, sulit, interpretasinya membutuhkan pengalaman dan lama pemeriksaannya sekitar 24 jam. 24 Tes ini berperan sebagai penentu diagnosis AIDS setelah positif dengan tes ELISA.4 Tes ini merupakan kebalikan dari tes ELISA yaitu memiliki spesifikasi yang tinggi namun sensitifitasnya rendah (56%).24,25 Karena sifat kedua tes ini berbeda, perlu dipadukan penggunaannya untuk mendapatkan hasil yang akurat. 25

3. Tes CD4

Sel CD4 adalah suatu jenis sel darah putih atau limfosit yang merupakan

bagian penting dari sistem kekebalan tubuh kita. Sel ini disebut juga sel T4, sel penolong, atau sel CD4+. Selain sel CD4, terdapat juga sel CD8 (T8) yang merupakan sel pembunuh. Sel CD8 ini membunuh sel kanker atau sel yang terinfeksi

virus. Kedua sel ini dapat dibedakan berdasarkan protein tertentu yang terdapat di permukaan sel dimana sel CD4 mempunyai protein CD4 pada permukaannya.

Jumlah CD4 normal biasanya berkisar antara 500-1.600/mm3 darah. Sedangkan sel CD8 normalnya berkisar antara 375-1.100/mm3

Pada tes CD4 ini, yang dilihat adalah perbandingan antara CD4 dengan CD8. Pada orang sehat, perbandingan CD4 dan CD8 berkisar antara 0,9 dan 1,9 yang

(42)

berarti setiap sel CD8 mempunyai 1-2 sel CD4. Pada orang yang terinfeksi dengan

HIV, perbandingan ini menurun secara drastis, yang berarti jumlah sel CD8 lebih banyak dibandingkan dengan sel CD4.

Jumlah sel CD4 dapat berubah-ubah. Infeksi dapat sangat mempengaruhi jumlah CD4. Bila terjadi infeksi, jumlah CD4 dan CD8 akan naik. Pascavaksinasi juga dapat meningkatkan jumlah CD4. Karena jumlahnya yang dapat berubah-ubah,

beberapa dokter lebih senang menggunakan persentase CD4. Persentase ini lebih stabil dibandingkan jumlah CD4. Persentase normal adalah 20%-40% yang berarti

20%-40% dari sel limfosit adalah CD4. Persentase CD4 dibawah 14% menunjukkan kerusakan yang parah dari sistem kekebalan tubuh. Berdasarkan defenisi Depkes, seseorang dikatakan AIDS bila jumlah CD4 di bawah 200 atau persentase CD4 di

bawah 14%.

Karena tes CD4 tidak banyak tersedia di Indonesia, dan bila ada mungkin

harganya terlalu mahal, dapat juga digunakan jumlah limfosit total sebagai gantinya. Tes ini jauh lebih murah dan dapat dilakukan di hampir semua laboratorium. Meskipun hasilnya tidak dapat disamakan persis dengan jumlah CD4, jumlah limfosit

total ini dapat digunakan sebagai tanda untuk membantu mengambil keputusan dalam pengobatan. Jumlah limfosit total antara 1.000-1.200 sama dengan jumlah CD4 200

dan ini sebagai pertanda untuk dimulainya terapi antiretroviral. 26

4. Tes Viral Load

Tes viral load adalah suatu tes untuk mengukur jumlah virus HIV dalam

(43)

Tes PCR (polymerase chain reaction) yang dibuat oleh Roche menggunakan

suatu enzim untuk menggandakan virus HIV dalam sampel darah. Kemudian reaksi kimia menandai virus. Penanda diukur dan dipakai untuk menghitung jumlah virus.

Tes bDNA (branched DNA) menggabungkan bahan yang menimbulkan cahaya dengan contoh darah. Bahan ini mengikat bibit HIV. Kemudian jumlah cahaya diukur dan dijadikan jumlah virus. Penemunya adalah Chiron.

Terapi antiretroviral dipertimbangkan bila jumlah viral load di atas 55.000. Hasil tes viral load terbaik adalah bila dilaporkan sebagai ‘tidak terdeteksi’. Namun,

hasil tes ‘tidak terdeteksi’ tergantung pada kepekaan dari tes yang dipakai untuk tes contoh darah.26

2.8 Perawatan

Saat ini perawatan yang diberikan pada orang dengan HIV/AIDS adalah berupa terapi antiretroviral. Antiretroviral (ARV) adalah obat yang menghambat replikasi HIV. Tujuan terapi ARV adalah menekan replikasi HIV secara maksimum,

meningkatkan limfosit CD4 dan memperbaiki kualitas hidup penderita yang nantinya akan dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas. Kompleksitas antara pasien,

patogen dan obat akan mempengaruhi seleksi obat dan dosis. Ada tiga golongan utama ARV, yaitu:

1. Penghambat masuknya virus. Mekanisme kerjanya berikatan dengan

subunit GP41 selubung glikoprotein virus sehingga fusi virus ke sel target dihambat. Satu-satunya obat penghambat fusi ini adalah enfuvirtid (T-20).

21

(44)

a. Analog nukleosida/nukleotida (NRTI/NtRTI). NRTI dan NtRTI

mempunyai mekanisme yang sama yaitu NRTI dan NtRTI diubah secara intraseluler melalui tahapan proses fosforilasi kemudian

berkompetisi dengan nukleotida natural menghambat reverse

transcriptase sehingga perubahan RNA menjadi DNA terhambat.

Perbedaannya NRTI memerlukan 3 tahapan proses fosforilasi

(penambahan gugus fosfat) sedangkan NtRTI hanya 2 tahapan fosforilasi. Obat ini dapat berupa:

i. Analog nukleosida

- Analog thymin: zidovudin (ZDV/AZT) dan stavudin (d4T)

- Analog cytosin: lamivudin (3TC) dan zalcitabin (ddC) - Analog adenin: didanosine (ddI)

- Analog guanin: abacavir (ABC)

ii. Analog nukleotida: analog adenosin monofosfat: tenofovir b. Non-nukleosida (NNRTI). Mekanisme kerjanya tidak melalui

tahapan fosforilasi intraseluler tetapi berikatan langsung dengan reseptor pada reverse transcriptase dan tidak berkompetisi dengan

nukleotida natural. Aktivitas antiviral terhadap HIV-2 tidak kuat. Obat ini dapat berupa:

- Nevirapin (NVP)

(45)

3. Penghambat enzim protease (PI). Mekanisme kerjanya adalah protease

inhibitor berikatan secara reversible dengan enzim protease yang mengkatalisa pembentukan protein yang diperlukan untuk proses

pematangan virus yang mengakibatkan virus yang terbentuk tidak masuk dan tidak mampu menginfeksi sel lain. PI adalah ARV yang potensial, terdiri dari:

a. Ritonavir (RTV)

b. Saquinavir (SQV) c. Indinavir (IDV) d. Nelfinavir (NFV)

e. Amprenavir (APV) f. Lopinavir (LPV)

25

(46)

BAB 3

VIRGIN COCONUT OIL

Indonesia merupakan negara produsen kelapa terbesar kedua setelah Filipina.7 Hal ini terjadi karena kelapa umumnya tumbuh di kawasan pantai. Hampir di seluruh

propinsi di Indonesia dapat dijumpai tanaman kelapa yang pengusahaannya berupa perkebunan rakyat.

Sejak zaman dahulu, negara Indonesia telah dikenal sebagai negara agraris. Berbagai jenis tanaman dapat tumbuh dengan subur di negara ini, mulai dari jenis tanaman tingkat rendah (jamur dan lumut) hingga tanaman tingkat tinggi yaitu

tanaman yang telah mempunyai semua bagian (akar, batang, daun, bunga dan biji).

27

28

Kelapa merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mampu tumbuh dan berproduksi dengan baik.

Salah satu tanaman tingkat tinggi yang terdapat di Indonesia adalah kelapa.

28

Pohon kelapa juga memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan manusia, mulai dari buah, batang, daun hingga akarnya. Bagian pohon

kelapa yang banyak memiliki manfaat adalah buahnya. Salah satu olahan dari buah kelapa adalah minyak kelapa murni (VCO).

Namun, apa sebenarnya VCO dan bagaimana manfaatnya bagi kehidupan manusia? Pada bab ini, akan dibahas lebih lanjut mengenai VCO dan bagaimana manfaat dan peranannya dalam kehidupan sehari-hari.

(47)

3.1 Definisi

Minyak kelapa murni (VCO) berbeda dengan minyak kelapa biasa. Minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO) adalah minyak yang dihasilkan dari

buah kelapa segar tanpa melalui penambahan bahan kimia ataupun proses yang melibatkan panas yang tinggi.29 Selain itu, juga tidak melalui tahap pemurnian, pemucatan dan penghilang aroma.7 Minyak kelapa murni juga memiliki warna dan rasa yang berbeda dari minyak kelapa biasa. 29 Minyak kelapa biasa terbuat dari kopra dan dalam proses pembuatannya pun melalui tahap pemurnian (refined),

pemutihan (bleaching) dan penghilang aroma (deodorised) yang dikenal dengan RBD Coconut Oil (minyak kelapa RBD). Kopra biasanya tercemar oleh debu, kotoran, jamur, bakteri, dsb sehingga harus diproses agar minyak yang dihasilkan

bersih, tampak bening, putih dan tidak bau.30 Berdasarkan defenisi CODEX Alimentarius, VCO adalah minyak dan lemak makan yang dihasilkan tanpa

mengubah minyak. Jadi, minyak yang diperoleh hanya dengan perlakuan mekanis dan pemanasan minimal. Karena tidak melalui pemanasan yang tinggi, vitamin E dan enzim-enzim yang terkandung di dalamnya dapat dipertahankan.

Minyak kelapa murni (VCO) mempunyai asam lemak yang tidak terhidrogenasi seperti minyak kelapa biasa. Hal ini disebabkan karena VCO banyak

mengandung asam lemak rantai sedang (Medium Chain Fatty Acid/MCFA). MCFA mempunyai sifat mudah diserap sampai ke mitokondria sehingga dapat meningkatkan metabolisme tubuh.

31

29

Setelah dikonsumsi, setibanya di dalam saluran cerna, dinding

(48)

organ hati untuk dimetabolisir. Di dalam hati, minyak kelapa murni diproses untuk

memproduksi energi saja dan digunakan untuk meningkatkan fungsi semua kelenjar endokrin, organ dan jaringan tubuh. 30 MCFA yang paling banyak terkandung dalam VCO adalah asam laurat (lauric acid). 29 Pada minyak kelapa biasa, kandungan asam lemaknya adalah golongan asam lemak rantai panjang (LCFA) sehingga ukuran molekul asam-asam lemaknya besar. Oleh karena itu, perlu diproses terlebih dahulu

di dalam saluran cerna sebelum bisa diserap melalui dinding usus dengan proses penguraian menjadi unit-unit asam lemak ukuran kecil dan berbentuk asam lemak

bebas (free fatty acids) melalui proses hidrolisa dan emulsi dengan bantuan cairan empedu. Setelah teremulsi dengan sempurna, barulah bisa diserap melalui dinding usus dan kemudian ditampung di dalam saluran getah bening. 30

Jadi, VCO dan minyak kelapa biasa memiliki banyak perbedaan sehingga kita dapat membedakannya. Perbedaan tersebut dapat terlihat antara lain dari bahan baku,

proses dan zat-zat yang dikandungnya.

3.2 Bahan Baku

Bahan baku yang biasa digunakan dalam pembuatan minyak kelapa murni

adalah kelapa dalam atau kelapa lokal. Kelapa dalam terdiri dari dua jenis yaitu kelapa hijau dan kuning. Kelapa hijau disebut juga Cocos nucifera Linn, sedangkan kelapa kuning disebut Cocos nucifera.

(49)

tersebut mampu menghasilkan kelapa sebanyak 3-4 ton/ha dengan kualitas yang baik

untuk dijadikan bahan baku minyak kelapa murni.

Sebenarnya, dapat juga digunakan kelapa jenis hibrida untuk pembuatan

minyak kelapa murni selain kelapa dalam. Namun, kelapa jenis hibrida merupakan hasil dari mutasi gen yang memerlukan kondisi tertentu, pupuk kimia dan pestisida dalam pembudidayaannya. Hal ini dapat menimbulkan residu kimia dalam buah

kelapa yang dihasilkan sehingga tidak murni lagi.

Bentuk fisik kelapa dalam antara lain mempunyai batang yang lurus, ramping

dan tidak bercabang dengan tinggi mencapai 10m-14m dan mempunyai akar serabut. Pohon kelapa biasanya tumbuh di pantai hingga ketinggian 900 m dari permukaan laut dengan pH tanah 6,2-8,3. Tanaman kelapa dapat tumbuh subur pada curah hujan

1.800-2.500 dan kisaran suhu 280C-320C. Daunnya berpelepah atau bersirip genap sekitar 30-40 pelepah dengan panjang 2m-4m. Biasanya, pohon kelapa dalam tua

mampu menghasilkan 12-16 pelepah dalam setahun, tergantung dari umur dan kesuburannya. Setiap pelepah mempunyai 250 anak daun dan setiap bulannya akan menghasilkan bunga kelapa. 7

3.3 Kandungan Gizi

Minyak kelapa memiliki komponen yang terdiri dari asam lemak jenuh (90%) dan asam lemak tak jenuh (10%). Berdasarkan jumlah atomnya, asam lemak jenuh

(50)

karbon. 7,30 Dengan demikian, dalam minyak kelapa murni terdapat MCFA yang merupakan komponen asam lemak berantai sedang yang memiliki banyak fungsi antara lain mampu merangsang produksi insulin sehingga proses metabolisme

berjalan lancar dan dapat mengubah protein menjadi sumber energi.

Asam lemak yang terkandung dalam VCO memiliki berbagai komposisi yang terdiri dari asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh dengan persentase yang

berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya, secara umum dapat kita lihat komposisi asam lemak VCO pada tabel 2 berikut.

7

Tabel 2. Komposisi asam lemak minyak kelapa murni (VCO)

29, 31

Asam lemak Jumlah (%)

Asam lemak jenuh

Asam laurat 46,0-50,50

Asam miristat 16,18-19,9

Asam palmitat 7,5-9,8

Asam kaprilat 6,1-6,8

Asam kaprat 6,0-8,6

Asam stearat 1,5-3,4

Asam kaproat 0,2-0,4

Asam arachnidat 0,02

Asam lemak tidak jenuh

Asam oleat 6,4-6,5

Asam linoleat 1,3-2,7

Asam palmitoleat 0,2

Tabel 2 diatas menunjukkan komposisi asam lemak yang terkandung pada

(51)

Tabel 3. Komposisi kandungan kimia VCO dari berbagai sumber

Nama Asam Lemak Jenuh Jenis Rantai Asam Laurat (C12H24O2) 43-51 45,1-53,2 47 44,1-51,3 Asam Miristat (C14H28O2)

Panjang

16-21 16,8-21 17,5 13,1-18,5 Asam Palmitat (C16H32O2) 7,5-10 7,5-10,2 8,8 7,5-10,5

Asam Stearat (C18H36O2) 2-4 2-4 3 1,0-3,2

Nama asam lemak tak jenuh Asam Oleat (C18:1)

Total % asam lemak rantai pendek

5,4-10,6 4,65-10,6 8 4,1-5,6

Total % asam lemak rantai medium

47,5-59 50,1-61,2 53,3 48,6-61

Total % asam lemak rantai panjang

31,5-47,5 32,9-48,3 38,5 27,6-43

1. Kokonut Pacific

2. CODEX STAN 210-1999 (Named Vegetables Oils, Rev. 1-2001;

3. Thieme, J.G. 1968 dalam Palungkun, R. 2001

4. Watson, Greg. Jan 2002

3.4 Standar Kualitas

Sebenarnya, pembuatan minyak kelapa telah dilakukan secara turun-temurun oleh para leluhur kita dalam kegiatan sehari-harinya. Namun, apakah minyak tersebut dapat dikatakan sebagai VCO? Tentunya hal ini harus mengarah pada standar kualias

(52)

Tabel 4. Standar Mutu VCO

Karakteristik Persyaratan

Versi 1 Versi 2 Versi 3

Kadar air (%W) 0,1 0,2 0,3

Kotoran 0,05% 0,5

Bilangan iod (mg iod/g sampel) 6-11 6,3-10,6 8-10 Bilangan penyabunan (mg KOH/g) 248-265 248-265 255-265 Bilangan peroksida (mg O2/g sampel) 0,002 0,015 1

Bilangan tak tersabunkan (g/kg) 15 15

N/A Bilangan Reichert 6-8,5 6-8,5

Bilangan Polenske 13-18 13-18

1. Kokonut Pacific

2. CODEX STAN 210-1999 (Named Vegetables Oils, Rev. 1-2001;

3. Standar Industri Indonesia dalam Palungkun, R. 2001

Minyak kelapa murni tidak mudah tengik karena kandungan asam lemak

jenuhnya tinggi sehingga proses oksidasi tidak mudah terjadi. Bila kualitas VCO rendah, proses ketengikan akan mudah terjadi karena pengaruh oksigen, keberadaan air dan mikroba yang dapat mengurai kandungan asam lemak yang terdapat dalam

VCO menjadi komponen lain. Secara fisik, VCO harus berwarna jernih yang menandakan di dalamnya tidak tercampur oleh bahan dan kotoran lain. Bila di

(53)

tersebut dapat juga merupakan komponen blondo yang tidak tersaring semuanya.

Kontaminan seperti inilah yang dapat mempengaruhi kualitas VCO. 28

Gambar 15. Perbedaan warna minyak kelapa sawit, minyak kelapa dan minyak kelapa murni (VCO)

3.5 Proses Pembuatan

Kandungan kimia yang paling utama dalam sebutir kelapa yaitu air, protein dan lemak (minyak). Ketiga senyawa tersebut merupakan emulsi dan protein berperan sebagai emulgatornya yang berfungsi mempererat ikatan emulsi tersebut. Dengan

ikatan emulsi tersebut, protein akan membungkus butir-butir minyak kelapa dengan suatu lapisan tipis sehingga butir-butir minyak tersebut tidak akan bisa bergabung,

demikian juga dengan air. Prinsip pembuatan VCO adalah merusak ikatan emulsi tersebut sehingga minyak kelapa murni (VCO) bisa keluar. 28

Ada beberapa macam metode pengolahan kelapa untuk menghasilkan VCO

yang banyak dilakukan. Pengolahan tersebut antara lain dengan cara :

28

(54)

pemanasan bertahap/bertingkat, fermentasi, enzimatis, pengasaman, sentrifugasi,

metode pancingan dan metode dingin dan segar.32 Metode-metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing baik dalam proses pengolahan maupun

kualitas minyak yang dihasilkan. 28,32 Namun, pada bab ini akan dibahas salah satu metode pembuatan VCO yaitu metode dingin dan segar dimana bila dilihat secara proses tidak begitu sulit untuk dilakukan dan dari kualitas minyak yang dihasilkan

juga baik dan nyaris sempurna. 32

a. Pembuatan kelapa dengan metode dingin dan segar

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memilih kelapa secara khusus. Buah

kelapa segar dipilih dari pohon yang cukup tua karena semakin tinggi pohon kelapa atau semakin tua pohonnya maka akan semakin sempurna senyawa kimia yang

dikandungnya. Setelah dipanen, kelapa dibiarkan di tempat teduh selama dua minggu atau satu bulan dengan tujuan agar enzim pembentuk minyak segera terbentuk dan nantinya memisahkan minyak dari bagian kasar dan padat. Setelah didiamkan

beberapa lama, kelapa diparut kemudian diperas tanpa penambahan air sama sekali. Hasil perasan pertama didiamkan sekitar tiga sampai lima jam sampai terbentuk tiga

lapisan yaitu air pada lapisan paling bawah, bagian padat berwarna putih pada lapisan tengah dan minyak pada lapisan paling atas. Begitu juga ampas perasan kedua dan selanjutnya yang dapat ditambahkan air matang lalu didiamkan dengan cara yang

(55)

b. Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan dari metode ini adalah proses pembuatannya yang benar-benar dingin (tanpa pemanasan), bersih dan sekaligus sehat. Dengan demikian, VCO yang

dihasilkan memiliki nilai dan kualitas yang tinggi. Kandungan MCT (medium chain

triglycerida) nya juga maksimal dibandingkan dengan cara yang lainnya.

Kekurangan metode ini adalah dalam pemilihan buahnya. Bila menggunakan

metode ini, diharuskan memilih buah yang sempurna. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, buah yang dipilih harus buah yang segar dari pohon yang cukup tua

untuk mendapatkan kualitas hasil yang maksimal. Kelapa pantai memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan kelapa pedalaman atau pegunungan karena ketahanannya terhadap lingkungan yang ekstrim membuatnya memiliki senyawa

kimia yang sempurna. Jadi, ada beberapa variabel yang berpengaruh terhadap kualitas dari buah kelapa yaitu habitat tanaman kelapa, varietas, umur pohon kelapa, umur

(56)

BAB 4

MEKANISME KERJA VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DALAM

MENYEMBUHKAN LESI ORAL PADA PENDERITA HIV/AIDS

Manusia mempunyai mekanisme tersendiri untuk melindungi tubuhnya dari segala yang membahayakan kesehatannya, yaitu berupa sistem imun. Sistem imun

menjaga setiap bagian tubuh sehingga dapat bekerja secara normal. Pada penderita AIDS, sistem imun ini rusak dan tidak dapat bekerja secara normal sehingga mudah terserang penyakit. Obat-obatan yang diberikan terhadap penderita berupa obat

antiretroviral. Namun, obat-obatan tersebut memberikan efek samping yang cukup berat kepada penderita seperti pengecilan otot, mual, muntah, anoreksia, ulserasi,

perdarahan, anemia, dll.

Pada tahun 1980, telah dilakukan beberapa penelitian yang menemukan bahwa asam lemak jenuh rantai sedang (MCFA), berupa asam laurat dan asam kaprat,

dapat digunakan secara efektif dalam membunuh virus HIV. MCFA tidak seperti standard pengobatan yang digunakan dalam pengobatan HIV dimana mekanisme

kerjanya menyerang materi genetik virus. MCFA mempunyai mekanisme kerja yang berbeda yaitu menghancurkan virus dengan sederhana.

Sebagian besar bakteri dan virus dibungkus oleh lapisan lipid (lemak),

(57)

mikroorganisme mempunyai struktur seperti cairan. Asam lemak pada membran

mikroorganisme mempunyai perlekatan yang longgar sehingga membran mempunyai derajat mobilitas dan fleksibilitas yang tinggi. Kandungan inilah yang membuat

mikroorganisme dapat bergerak, meliukkan tubuhnya dan dapat menembus suatu permukaan yang tipis.

MCFA sama seperti asam lemak pada membran virus dan dapat diserap oleh

virus tersebut. Namun, MCFA mempunyai ukuran molekul yang lebih kecil. Oleh karena itu, MCFA dapat melemahkan membran virus sampai hancur. Selanjutnya,

membran menjadi robek hingga materi yang terkandung didalamnya keluar dan membunuh virus tersebut. Sel darah putih akan membersihkan dan membuang debris sel tersebut dengan cepat. MCFA membunuh virus tanpa menyebabkan efek samping

terhadap jaringan tubuh manusia. Mekanisme yang sama juga terjadi pada bakteri yang dilapisi oleh lipid. Dengan demikian, asam laurat dapat digunakan untuk

mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri yang dilapisi oleh lipid. MCFA juga dapat membunuh strain virus HIV yang sudah resisten dengan obat-obatan tanpa menyebabkan resistensi virus. Beberapa virus dan bakteri yang dilapisi

lipid yang dapat diinaktivasi oleh asam laurat secara efektif adalah sitomegalovirus, virus Eipstein-barr, pneumonovirus, Staphylococcus aureus, organisme gram positif

dan gram negatif, Haemophilus influenza, dll.

32

Orang dengan daya tahan tubuh yang rendah, bahkan sangat rendah, seperti pada penderita AIDS dapat dengan mudah terinfeksi oleh virus dan bakteri. Beberapa

(58)

rongga mulut. Oleh karena itu, manifestasi oral yang terjadi yang disebabkan oleh

virus ataupun bakteri yang berlapiskan lipid dapat diobati dengan asam laurat yang terdapat dalam VCO.

Sebagian besar lemak dan minyak dalam alam terdiri dari 98-99% trigliserida. Begitu juga dengan minyak kelapa murni yang mengandung sebagian besar asam laurat. Asam laurat merupakan bentuk trigliserida. Trigliserida adalah tiga asam

lemak yang bergabung dengan molekul gliserol. Di dalam sistem pencernaan, trigliserida akan dipecah ke dalam bentuk digliserida (dua asam lemak yang berikatan

dengan gliserol), monogliserida (satu asam lemak yang berikatan dengan gliserol) dan asam lemak bebas. Hanya monogliserida dan asam lemak bebas yang mempunyai kandungan antimikroba. Jadi, dalam hal sifat antimikroba, dapat dikatakan bahwa

monogliserida dan asam lemak bebas bersifat aktif sedangkan trigliserida dan digliserida bersifat inaktif. Oleh karena itu, asam laurat akan menjadi aktif apabila

melalui proses pencernaan atau dikonversi ke dalam bentuk monogliserida dan asam lemak bebas. Asam lemak yang mempunyai kandungan antimikroba yang paling besar adalah asam laurat dalam bentuk monogliserida yaitu monolaurin. 33 Selain bersifat antimikroba, asam laurat juga dapat meningkatkan jumlah sel T helper CD4 dengan menstimulasi pembentukan sel T helper di dalam jaringan limfoid. Dengan

terstimulasinya pembentukan sel T helper, secara simultan pembentukan antibodi-antibodi dalam tubuh penderita HIV/AIDS juga akan meningkat. Akibatnya, respon imunitas tubuh juga meningkat karena sel T helper berfungsi sebagai penghasil

(59)

VCO tidak hanya bersifat antiviral dan antibakterial, tapi juga bersifat

antifungal. Salah satu substansi alami yang berpotensi sebagai antifungal adalah asam kaprilat. Asam kaprilat merupakan asam lemak rantai sedang (MCFA) yang terdapat

dalam minyak kelapa murni. Asam kaprilat sangat efektif dalam memberantas kandida dan bentuk-bentuk jamur lainnya. Asam kaprilat merupakan pengobatan alternatif untuk penderita yang mempunyai reaksi sampingan terhadap obat-obatan

antifungal. Telah dilaporkan bahwa asam kaprilat efektif sebagai antifungal sama seperti nystatin yang merupakan antifungal yang paling populer, bahkan tanpa efek

samping. Asam kaprilat sering dijual dalam bentuk kombinasi dengan antifungal herbal sebagai suplemen makanan untuk menyembuhkan infeksi jamur.

Mengenai efektivitas VCO sebagai terapi penderita HIV/AIDS, telah

dilakukan beberapa penelitian untuk membuktikan keampuhannya. Penelitian ini pertama sekali dilaporkan oleh Conrado Dayrit, M.D., seorang profesor farmakologi

di Universitas Fillipina dan mantan Presiden Akademi Sains dan Teknologi Nasional, Fillipina. Dalam penelitiannya, ia membagi 14 pasien dengan HIV yang berusia 22-38 tahun ke dalam tiga kelompok. Tidak seorang pun dari pasien tersebut yang

mendapatkan terapi HIV lainnya. Penelitian yang dilakukan ialah membandingkan monolaurin (monogliserida asam laurat yang terdapat dalam minyak kelapa) dengan

minyak kelapa murni. Grup pertama diberikan 22 gram monolaurin sehari. Grup kedua 7,2 gr monolaurin. Grup ketiga 3,5 sdm minyak kelapa. Kadar minyak kelapa pada grup ketiga mengandung jumlah asam laurat sebagai penghasil monolaurin sama

(60)

mengalami penurunan viral load. Sembilan pasien itu adalah dua dari grup pertama,

empat dari grup kedua dan tiga dari grup ketiga. Sebelas pasien mengalami peningkatan berat badan. Penelitian ini menunjukkan bahwa monolaurin dan minyak

kelapa efektif dalam mengobati HIV/AIDS.

Sejumlah peneliti dari berbagai perguruan tinggi yang tergabung dalam Perhimpunan Biokimia dan Biologi Molekuler Indonesia (PBBMI) juga meneliti

khasiat minyak kelapa murni (VCO). Dalam Seminar XVII dan Kongres X PBBMI di Pekanbaru, Riau, 30 November-1 Desember 2005, sejumlah peneliti tersebut

mengungkapkan penelitiannya dan melaporkan bahwa VCO berkhasiat dalam mengobati HIV/AIDS, bahkan juga sejumlah penyakit lainnya seperti diabetes mellitus, jantung koroner, dll.

33

Seorang peneliti Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Darwa Suryani, juga ikut melakukan penelitian terhadap VCO dan melaporkan bahwa VCO memiliki

kandungan asam laurat yang hampir sama dengan asam laurat yang dikandung air susu ibu (ASI). VCO mengandung asam laurat sebanyak 48 persen sedangkan ASI 38 persen. Ia mengatakan bahwa asam laurat dapat mematikan virus penyebab berbagai

penyakit seperti flu, HIV/AIDS dan berbagai penyakit generatif.

Penelitian Darwa memperkuat penelitian yang jauh sebelumnya dilakukan

oleh ilmuwan Amerika Serikat, Mary Enig PhD tahun 1995. Ia menegaskan bahwa monolaurin dari VCO mampu menyembuhkan AIDS. Penegasan Enig diperkuat oleh “The Indian Coconut Journal” yang mengatakan dari sekian banyak asam lemak

(61)

persentase yang tinggi. Enig juga menyimpulkan bahwa manusia dewasa

(62)

BAB 5 KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa VCO mempunyai peranan yang efektif dalam mengobati lesi oral penderita

HIV/AIDS, baik lesi oral yang disebabkan oleh virus atau bakteri yang dilapisi oleh lipid maupun lesi oral yang disebabkan oleh kandida (jamur).

Efektivitas Virgin Coconut Oil dalam mengobati lesi oral pada penderita HIV/AIDS tidak hanya dengan sifat antimikroba yang dimilikinya, tetapi VCO juga mampu menstimulasi pembentukan sel T helper yang nantinya akan meningkatkan

sistem imun penderita AIDS. Dengan menurunnya kadar viral load dan meningkatnya sistem imun, disertai dengan pemberantasan virus atau bakteri yang

bersangkutan terhadap timbulnya manifestasi oral, akan menyebabkan terjadinya penyembuhan lesi oral yang terjadi pada penderita AIDS dan akan mengurangi kemungkinan ia untuk mudah terkena infeksi lainnya.

VCO dapat dikonsumsi tanpa menimbulkan efek samping terhadap tubuh dan tidak bersifat toksik sehingga aman digunakan. Selain itu, VCO juga tidak

menyebabkan resistensi virus dan justru dapat membunuh virus yang telah resisten terhadap obat-obatan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa VCO memiliki peranan yang efektif dalam mengobati penderita HIV/AIDS juga memiliki khasiat

(63)

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonymous. AIDS from wikipedia, the free encyclopedia.

2. Darwis I. Efek antiviral Virgin Coconut Oil (VCO) pada pengobatan Acquired

Immunodeficiency Syndrome (AIDS). 13 Juni 2008.

3. Anonymous. Perspective – Oral manifestations of HIV disease. Top HIV Med

2005; 13(5): 143-8

4. Kurniati SC. Berbagai aspek klinis AIDS dan penatalaksanaannya.

5. Awan. Efek samping dari obat AIDS “tidak berbeda” dari AIDS itu sendiri. 3

Okt 2008.

15 Feb 2009.

6. Arixs. Minyak perawan untuk HIV AIDS•Di Mataram dikembangkan VCO

Lombok. 29 Mei 2006.

7. Sutarmi, Rozaline H. Taklukkan penyakit dengan VCO. Ed 5. Jakarta: Penebar

(64)

8. Yogha. All about Virgin Coconut Oil: VCO fakta dari laboratorium. 10 Nov

2005.

9. Suroso A. Minyak kelapa murni untuk HIV/AIDS. 5 Des 2005.

10. Multicultural HIV/AIDS and Hepatitis C Service. Akibat-akibat yang

ditimbulkan oleh HIV/AIDS. 18 Des 2003.

11. Departement of Health and Family Service. HIV infection-Disease fact sheet

series. Juni 2006.

12. Siregar FA. Pengenalan dan pencegahan AIDS. USU digital library. 2004:

1-9.

13. Pantaleo G. Mechanisms of human immunodeficiency virus (HIV) escape from

the immune response.

Mar 2009)

14. Chin J, ed. Manual pemberantasan penyakit menular. Alih bahasa. Kandun

IN. 17. 2000: 1-4.

15. Siregar FA. AIDS dan upaya penanggulangannya di Indonesia. USU digital

library. 2004: 1-12.

16. Rasmaliah. Epidemiologi HIV/AIDS dan penanggulangannya. USU digital

library. 2001: 1-5

17. Departemen Kesehatan RI. Pedoman pelayanan kefarmasian untuk orang

(65)

18. Anonymous. Aids, beyond thread, hope and trought. Warta Widya Mandala

2007; 1(2): 1-2.

19. Phair JP, Chadwick EG. Infection in the immunocompromised host. In:

Infection diseases. 344-6.

20. Virella G, ed. Microbiology and infectious diseases. 3rd

21. Lehner T. Imunologi pada penyakit mulut. Alih Bahasa. Farida R, Suryadhana

NG. Ed 3. Jakarta: EGC, 1995: 127-34.

Ed. USA: William & Wilkins, 1997: 501-11.

22. Ishmayana S. Adakah obat untuk HIV/AIDS saat ini?.

23. Lubis I. Epidemiologi AIDS. Cermin Dunia Kedokteran 1992; 75: 10-2.

24. Lubis I. Pemeriksaan laboratorium untuk HIV. Cermin Dunia Kedokteran

1992; 75: 13-6.

25. Ozzy. Penyakit menular seks & HIV/AIDS-Tes HIV. 17 Feb 2009.

26. Yayasan Spiritia. Lembaran informasi tentang HIV/AIDS untuk orang yang

hidup dengan HIV/AIDS (Odha). Apr 2003: 410-5.

27. Rindengan B, Novarianto H. Pembuatan dan pemanfaatan minyak kelapa

murni. Ed 4. Jakarta: Penebar Swadaya, 2005: 5-17.

28. Setiaji B, Prayugo S. Membuat VCO berkualitas tinggi. Ed 2. Jakarta: Penebar

Swadaya, 2006: 3-21

29. Timoti H. Aplikasi teknologi membran pada pembuatan virgin coconut oil

(66)

30. Budiarso IT. Minyak kelapa, minyak goreng yang paling aman dan paling

sehat. 26 Apr 2004.

31. Nuralamsyah A. Minyak kelapa murni: harapan nilai tambah yang

menjanjikan. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2005: 1-4

32. Baswardojo D. Seluk beluk pembuatan minyak kelapa & VICO. 28 Apr 2005.

(20 Mar 2009).

33. Fife B, Kabara JJ, Emeritus CD. The health benefits of virgin coconut oil.

Apr 2009).

34. Darwis I. Kelapa sebagai obat penyakit mematikan. 12 Jul 2008. (20 Apr

Gambar

Gambar 1. Struktur Virus HIV
Gambar 2. Siklus Replikasi HIV
Tabel 1. Stadium Klinis HIV/AIDS
Gambar : 4. Angular cheilitis; 5. Kandidiasis eritematous; 6. Kandidiasis pseudomembranosus; a
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui kadar asam lemak bebas yang terdapat dalam minyak kelapa murni (Virgin coconut oil) dan dibandingkan dengan

dan distribusi partikel Minyak kelapa murni bermanfaat sebagai makanan fungsional tetapi minyak kelapa murni mempunyai rasa tidak enak sehingga kurang dapat diminati

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Daya simpan minyak kelapa murni ditinjau dari kandungan %FFA yang terbentuk,

Ukuran partikel dan distribusi partikel Minyak kelapa murni bermanfaat sebagai makanan fungsional tetapi minyak kelapa murni mempunyai rasa tidak enak sehingga kurang

minyak kelapa murni Santan kelapa (lapisan atas) Blondo (lapisan tengah) air (lapisan bawah).. Flowsheet pembuatan sediaan emulsi minyak

Virgin Coconut Oil (VCO) merupakan produk olahan dari buah kelapa yang dibuat dengan metode secara fisika atau biokimia untuk menghasilkan minyak kelapa murni dengan karakter kadar

Cara pembuatan minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO) menggunakan cuka lontar yaitu terlebih dahulu membuat asam cuka dari nira lontar, kemudian membuat santan

Terhadap Kadar ALB Minyak Kelapa Murni Pada gambar 8 dapat dilihat bahwa ALB minyak kelapa murni yang dihasilkan untuk berbagai macam waktu pengadukan yang cenderung