DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
ATIKA MAYANG SARI
VIGOR DAYA SIMPAN DAN VIGOR KEKUATAN TUMBUH
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Vigor Daya Simpan dan Vigor Kekuatan Tumbuh Benih Jagung Hibrida (Zea mays L.) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Maret 2015
Atika Mayang Sari
NIM A24100041
ABSTRAK
ATIKA MAYANG SARI. Vigor Daya Simpan dan Vigor Kekuatan Tumbuh Benih Jagung Hibrida (Zea mays L.). Dibimbing oleh FAIZA CHAIRANI SUWARNO dan ANGGI NINDITA.
Kebutuhan jagung yang tinggi di Indonesia mengakibatkan meningkatnya kebutuhan benih jagung hibrida. Penelitian ini bertujuan untuk menguji vigor daya simpan dan vigor kekuatan tumbuh benih jagung hibrida. Penelitian dilakukan dalam dua percobaan yaitu pengusangan cepat kimia dengan etanol 96% dan pengujian cekaman kekeringan dengan Polyethylene glycol 6000. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dua faktor, yaitu 15 varietas jagung hibrida (Pertiwi 3, Bima Super, NK 33, DK 85, Bionix 09, BISI 18, P 21, BISI 2, BISI 816, DK 95, DK 77, Pertiwi 2, DK 979, NK 6326 dan BISI 222) dan perlakuan benih. Perlakuan untuk vigor daya simpan yaitu lamanya waktu pengusangan (0, 15, 30 dan 45 menit) sedangkan perlakuan untuk vigor kekuatan tumbuh yaitu perbedaan tekanan osmotik larutan PEG 6000 (0, -1, -1.25, -1.5 bar). Berdasarkan persentase DB, KCT, IV, BKKN dan panjang akar, benih dengan vigor daya simpan tertinggi yaitu
Pertiwi 2 dan BISI 816. Sedangkan benih dengan vigor kekuatan tumbuh tertinggi yaitu Pertiwi 3, BISI 18, DK 77, DK 85, DK 979 dan DK 95.
Kata kunci: cekaman kekeringan, etanol 96%, Polyethylene glycol 6000
ABSTRACT
ATIKA MAYANG SARI. Seed Storability and Vigor on Hybrid Corn (Zea mays
L.) Seeds. Supervised by FAIZA CHAIRANI SUWARNO dan ANGGI experiments on corn seeds vigor using Polyethylene glycol 6000. This experiment was arranged in randomize complete block design (RCBD) in two factors that is15 hybrid corn varieties (Pertiwi-3, Bima Super, NK 33, DK 85, Bionix 09, BISI 18, P 21, BISI 2, BISI 816, DK 95, DK 77, Pertiwi 2, DK 979, NK 6326 dan BISI 222) and level of seed treatment. Four level of etanol 96% soak period i.e. 0,15,30 and 45 minutes was arranged as first experiment for seed storability treatment. Four level of osmotic potential i.e. 0, -1, -1.25 and -1.5 bar was arranged as treatment in seed vigor experiment. Based on germination percentage (DB), velocity of growth (KCT), vigor index (IV), and dry weight of normal seedlings
(BKKN) the variety which has high storability period (VDS) are Pertiwi 2 and
BISI 816 seed. Through seed vigor experiment, Pertiwi 3, BISI 18, DK 77, DK 85, DK 979 and DK 95 variety elucidated highest result in germination percentage (DB), speed of germination (KCT), vigor index (IV), dry weight of normal
seedlings (BKKN) and length of radicles.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada
Departemen Agronomi dan Hortikultura
ATIKA MAYANG SARI
DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
VIGOR DAYA SIMPAN DAN VIGOR KEKUATAN TUMBUH
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Agustus 2014 ini ialah vigor benih jagung hibrida, dengan judul Vigor Daya Simpan dan Vigor Kekuatan Tumbuh Benih Jagung Hibrida (Zea mays L.).
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr Ir Faiza C Suwarno, MS dan Ibu Anggi Nindita, SP MSi selaku pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan saran. Penulis ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr Ir Winarso D Widodo, MS selaku pemimbing akademik penulis selama kuliah di Departemen Agronomi dan Hortikultura dan Bapak Dr Willy B Suwarno, SP MSi yang telah memberikan izin penulis untuk menggunakan 15 varietas jagung hibrida sebagai bahan penelitian. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, Edelweiss 47, teman-teman Pondok Assalamah BEM KM Berani Beda dan Biji Sawi atas segala doa dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Maret 2015
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR GAMBAR viii
DAFTAR LAMPIRAN viii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 2
Hipotesis 2
TINJAUAN PUSTAKA 2
Vigor Benih 2
Metode Pengusangan Cepat 2
Cekaman Kekeringan Benih Jagung 3
METODE PENELITIAN 3
Tempat dan Waktu 3
Bahan dan Alat 4
Metode Pelaksanaan 4
Pengamatan 5
HASIL DAN PEMBAHASAN 7
Kondisi Umum 7
Percobaan 1: Vigor Daya Simpan Benih dengan Perlakuan Perendaman
dalam Larutan Etanol 96% 8
Percobaan 2: Vigor Kekuatan Tumbuh Benih terhadap Cekaman
Kekeringan Menggunakan Polyethylene glycol 6000 13
SIMPULAN DAN SARAN 18
Simpulan 18
Saran 19
DAFTAR PUSTAKA 19
DAFTAR TABEL
1 Viabilitas awal benih jagung hibrida sebelum diberi perlakuan 7 2 Hasil rekapitulasi sidik ragam 15 varietas jagung hibrida pada
pengusangan cepat kimia menggunakan etanol 96%
8 3 Nilai tengah dari interaksi antara varietas jagung hibrida dengan
lamanya pengusangan benih secara kimia pada peubah daya berkecambah
9
4 Nilai tengah dari interaksi antara varietas jagung hibrida dengan lamanya waktu pengusangan benih secara kimia pada peubah kecepatan tumbuh
10
5 Nilai tengah indeks vigor dan bobot kering kecambah normal pada percobaan vigor daya simpan benih jagung hibrida
11 6 Hasil rekapitulasi percobaan vigor daya simpan benih dengan
perlakuan perendaman dalam larutan etanol 96% pada peubah DB, KCT, IV, BKKN
12
7 Hasil rekapitulasi sidik ragam 15 varietas jagung hibrida pada uji cekaman kekeringan menggunakan PEG 6000
13 8 Nilai tengah dari interaksi antara varietas jagung hibrida dengan
tekanan osmotik Polyethylene glycol 6000 pada peubah daya berkecambah
14
9 Nilai tengah dari interaksi antara varietas jagung hibrida dengan tekanan osmotik Polyethylene glycol 6000 pada peubah indeks vigor
15
10 Nilai tengah kecepatan tumbuh, panjang akar dan laju pertumbuhan kecambah pada percobaan vigor kekuatan tumbuh benih jagung hibrida
17
11 Hasil rekapitulasi percobaan vigor kekuatan tumbuh benih terhadap cekaman kekeringan menggunakan Polyethylene glycol
6000 pada peubah DB, IV, KCT, PA, dan BKKN
DAFTAR GAMBAR
1 Perendaman benih jagung dalam larutan etanol 96% 4 2 Serangan cendawan yang menyerang benih pada saat
pengecambahan (a) benih yang rusak akibat serangan kumbang (b) kumbang yang menyerang benih di ruang penyimpanan (c)
8
DAFTAR LAMPIRAN
1 Deskripsi varietas Pertiwi-3 22
2 Deskripsi varietas NK 33 23
3 Deskripsi varietas BISI 18 24
4 Deskripsi varietas P 21 25
5 Deskripsi varietas BISI 2 26
6 Deskripsi varietas BISI 816 27
7 Deskripsi varietas Pertiwi 2 28
8 Deskripsi varietas DK 979 29
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Jagung adalah salah satu tanaman pangan yang penting di Indonesia. Kebutuhan jagung sebagai bahan industri dua kali lebih banyak dibandingkan fungsinya sebagai bahan pangan (Kasryno et al. 2007). Tingginya permintaan membuat produksi jagung terus ditingkatkan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012 terjadi peningkatan produksi jagung menjadi 19.37 juta ton pipilan kering atau mengalami peningkatan sebesar 1.73 juta ton dari tahun sebelumnya. Peningkatan produksi ini terjadi karena adanya peningkatan luas panen jagung seluas 95.22 ribu hektar ke arah lahan marjinal dan peningkatan produktivitas jagung sebesar 3.28 ton hektar-1.
Produksi jagung yang tinggi dapat dicapai dengan pengadaan varietas jagung yang berdaya hasil tinggi dan tahan terhadap berbagai kondisi lahan. Sifat ketahanan terhadap kekeringan salah satunya bisa diperoleh dari varietas jagung hibrida yang produksinya juga lebih tinggi dari varietas jagung bersari bebas (Damardjati et al. 2005). Varietas hibrida secara umum sudah dikenal oleh masyarakat luas, namum tidak semua petani yang melakukan budidayanya (Warisno 2007). Faktor harga benih jagung hibrida yang lebih mahal dibandingkan jagung bersari bebas serta terbatasnya penyediaan benih karena penggunaan benih hibrida maksimal hanya dua kali turunan menjadi kendala dalam budidaya jagung hibrida (Arief 2010). Hal ini membuat permintaan akan benih jagung hibrida terus meningkat dan diperkirakan tahun 2015 mencapai 60% dan tahun 2025 mencapai 75% dari benih yang digunakan petani (Deptan 2005).
Kebutuhan jagung hibrida yang tinggi membuat ketersediaan benih hibrida penting untuk diperhatikan. Menurut Koes dan Arief (2010) salah satu masalah yang dialami oleh para produsen benih yaitu rendahnya produk benih jagung hibrida (F1) yang dihasilkan, angkanya hanya berkisar 1.0 sampai 1.5 ton hektar-1 sedangkan kebutuhan benih jagung hibrida untuk satu hektar lahan mencapai 20-30 kg. Langkah-langkah ke arah peningkatan produktivitas hasil jagung hibrida perlu dilakukan dengan menjaga viabilitas benih ketika di penyimpanan.
Penggunaan benih yang terjaga kemurnian dan viabilitasnya ketika berada di penyimpanan akan menjaga daya tumbuh benih tetap tinggi yaitu diatas 80% serta menghindarkan tanaman dari penyakit bulai yang terbawa oleh benih (Andri dan Endrizal 2012). Hasil penelitian Koes dan Arief (2010) tentang pengujian ketahanan simpan benih jagung hibrida varietas Bima 5 dengan menggunakan
2
dengan peningkatan tekanan osmotik Polyethylene glycol 6000 sebagai simulasi cekaman kekeringan.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini yaitu:
1. Menguji vigor daya simpan benih jagung hibrida melalui pengusangan cepat kimia.
2. Menguji vigor kekuatan tumbuh benih jagung hibrida pada kondisi suboptimum cekaman kekeringan.
Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini yaitu:
1. Terdapat varietas jagung hibrida yang memiliki vigor daya simpan paling tinggi.
2. Terdapat varietas jagung hibrida yang memiliki vigor tertinggi dalam kondisi suboptimum cekaman kekeringan.
TINJAUAN PUSTAKA
Vigor Benih
Vigor benih merupakan kemampuan benih untuk tumbuh menjadi tanaman normal pada kondisi suboptimum baik di lapangan maupun di tempat penyimpanan (Sadjad 1994). Sebagai parameter viabilitas absolut, vigor dibagi menjadi dua yaitu Vigor Daya Simpan dan Vigor Kekuatan Tumbuh (Sadjad 1993). Vigor benih yang tinggi menurut Sutopo (2004) dicirikan oleh : (1) tahan disimpan lama (2) tahan terhadap hama dan penyakit (3) pertumbuhan yang cepat dan merata (4) mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi baik dalam keadaan suboptimum.
Copeland dan McDonald (2001) mengemukakan bahwa proses penuaan atau mundurnya vigor secara fisiologi ditandai dengan penurunan daya berkecambah, peningkatan jumlah kecambah abnormal, penurunan pemunculan kecambah di lapangan, terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman, meningkatnya kepekaan terhadap lingkungan yang ekstrim yang akhirnya dapat menurunkan produksi tanaman.
Metode Pengusangan Cepat
3 dan RH seperti yang diperkenalkan oleh Deluche (1971) atau menggunakan etanol yang pertama kali ditemukan oleh Sadjad (1981). Perlakuan ini merupakan salah satu upaya devigorasi atau upaya menurunkan vigor benih dengan meletakkannya pada lingkungan tidak menguntungkan sehingga benih mengalami kemunduran (Mungnisjah et al. 1994). Kondisi suboptimum bisa dihasilkan dengan penderaan menggunakan pengaruh kelembaban dan suhu atau secara kimia menggunakan zat-zat simulator seperti etanol. Setelah jangka waktu tertentu, benih-benih yang menunjukkan vigor yang tinggi diduga masih memperlihatkan daya berkecambah yang tinggi, sementara benih dengan vigor yang rendah akan memperlihatkan daya perkecambahan yang rendah pula (Saleh 2008). Berdasarkan percobaan Belo dan Suwarno (2012) pada benih padi, metode pengusangan cepat dengan perendaman dalam etanol cair 96% adalah metode mudah dan cepat untuk mendapatkan berbagai tingkat viabilitas.
Cekaman Kekeringan Benih Jagung
Cekaman abiotik seperti cekaman kekeringan, cekaman salinitas, cekaman suhu dan sebagainya, banyak ditemui di lahan-lahan pertanian yang membuat produksi tanaman tidak optimal. Cekaman kekeringan misalnya, dapat menurunkan produksi hingga 50% (Boyer 1982). Polyethylene glycol (PEG) merupakan senyawa yang biasa digunakan sebagai simulasi kondisi cekaman kekeringan dalam pengujian laboratorium selain melibiose dan mannitol (Kulkarni dan Deshpande 2007). Menurut Asay dan Johnson (1983) PEG mampu menstimulasi tanaman untuk memberikan respon terhadap cekaman kekeringan tanpa meracuni tanaman tersebut. Hal ini dimungkinkan karena Polyethylene glycol tidak diserap oleh tanaman (Verslues et al. 2006). Polyethylene glycol
menyebabkan penurunan potensial air secara homogen sehingga dapat digunakan untuk meniru besarnya potensial air tanah (Michel dan Kaufmann 1973). Keunggulan ini memungkinkan PEG dapat digunakan sebagai alternatif dalam seleksi genotip jagung pada fase vegetatif dan jagung kondisi kekeringan pada fase perkecambahan (Ogawa dan Yamauchi 2006).
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu
4
Bahan dan Alat
Bahan percobaan yang digunakan adalah 15 varietas benih jagung dengan deskripsi terlampir pada Lampiran 1 sampai 9 yaitu Bima Super, Bionix 09, BISI 2, BISI 18, BISI 222, BISI 816, DK 77, DK 85, DK 95, DK 979, NK 33, NK 6326, P 21, Pertiwi 2 dan Pertiwi 3. Bahan lain yang digunakan adalah larutan
Polyethylene glycol 6000 (PEG 6000), larutan etanol 96%, kertas koran putih, kertas label dan selotip. Alat-alat yang digunakan yaitu alat pengecambah benih (APB) tipe IPB 72-1, magnetic stirer, gelas piala, toples plastik, kain kasa, plastik klip, timbangan analitik, bak rendam, dan wadah penyimpanan.
Metode Pelaksanaan
Percobaan 1: Vigor Daya Simpan Benih dengan Perlakuan Perendaman dalam Larutan Etanol 96%
Percobaan ini dilakukan untuk melihat vigor daya simpan benih jagung hibrida dengan metode pengusangan cepat kimia menggunakan larutan etanol 96%. Metode ini merujuk pada penelitian Sadjad (1981) yang menunjukkan bahwa vigor daya simpan benih dapat diuji dengan metode pengusangan cepat kimia. Rancangan percobaan yang digunakan dalam percobaan ini adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dua faktor, yaitu lima belas varietas jagung hibrida dan lama perendaman menggunakan larutan etanol 96%. Waktu perendaman yang digunakan yaitu 15 menit, 30 menit dan 45 menit. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 180 satuan percobaan. Satu satuan percobaan terdiri dari 25 butir benih jagung hibrida.
Percobaan diawali dengan membungkus 25 butir benih menggunakan kain kasa. Selanjutnya kantong kain kasa dimasukkan ke dalam toples plastik yang berisi larutan etanol 96% sehingga benih terendam dengan sempurna selama 15 menit, 30 menit dan 45 menit. Setelah direndam, benih dikeringanginkan hingga larutan etanol 96% pada benih menguap. Pengujian dilakukan dengan metode Uji Kertas Digulung didirikan dalam plastik (UKDdp). Peubah yang diamati yaitu daya berkecambah (DB), indeks vigor (IV), bobot kering kecambah normal (BKKN), dan kecepatan tumbuh (KCT).
5 Percobaan 2 : Vigor Kekuatan Tumbuh Benih terhadap Cekaman
Kekeringan Menggunakan Polyethylene glycol 6000
Percobaan ini dilakukan untuk mengukur vigor kekuatan tumbuh benih jagung hibrida dengan simulasi cekaman kekeringan menggunakan Polyethylene glycol 6000. Rancangan percobaan yang digunakan dalam percobaan ini adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dua faktor, yaitu lima belas varietas jagung hibrida dan tekanan osmotik larutan. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Metode pengecambahan benih yang digunakan yaitu Uji Kertas Digulung didirikan didalam plastik (UKDdp). Kertas koran putih sebagai media pengecambahan benih dibasahi dengan larutan Polyethylene glycol 6000 dengan tekanan osmotik -1 bar, -1.25 bar dan -1.5 bar. Penentuan tekanan osmotik
Polyethylene glycol 6000 diperoleh dari rumus Michel dan Kaufmann (1973):
ψs = - ( 1.18 x 10-2) C - (1.18 x 10-4) C2 + (2.67 x 10-4)CT + (8.39 x 10-7)
Selanjutnya dilakukan pengamatan untuk peubah daya berkecambah (DB), indeks vigor (IV), bobot kering kecambah normal (BKKN), kecepatan tumbuh (KCT) dan panjang akar (PA).
Kedua percobaan menggunakan model linear sebagai berikut:
Yijk = μ + αi +βj + ɣk + (α, ɣ)ik + εijk
(α, ɣ)ik = pengaruh interaksi varietas ke-i dan perlakuan ke-k
εijk =pengaruh galat jenis varietas ke-i, ulangan ke-j dan perlakuan ke-k
Data dianalisis menggunakan analisis ragam (Uji F). Uji nilai tengah yang digunakan adalah Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada selang kepercayaan 5% (Gomez dan Gomez 1995).
Pengamatan
1. Daya Berkecambah (DB).
6
DB % = ƩKecambah Normal I+ƩKecambah Normal II
Total benih yang dikecambahkan x 100% 2. Indeks Vigor (IV)
Pengamatan dilakukan terhadap jumlah kecambah normal pada hitungan pertama (hari ke- 3). Indeks Vigor dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
IV % = ƩKecambah Normal hitungan I
Total benih yang dikecambahkanx 100% 3. Kecepatan Tumbuh (KCT)
Kecepatan tumbuh diukur berdasarkan persentase kecambah normal harian yang tumbuh per etmal pada kurun waktu perkecambahan dalam kondisi optimum. Kecambah normal dihitung sejak hari pertama hingga hari kelima setelah tanam. Rumus kecepatan tumbuh adalah sebagai berikut :
Kecepatan Tumbuh (% etmal−1) = Ni ti
5
i=1
Keterangan:
t = waktu pengamatan ke-i (etmal)
N = persentase kecambah normal setiap waktu pengamatan ke-i i = lama waktu pengamatan
4. Bobot Kering Kecambah Normal (BKKN)
Kecambah yang diperoleh pada uji daya tumbuh benih dikeringkan dalam inkubator pada suhu 60 0C selama 3 x 24 jam, setelah itu dimasukkan ke dalam desikator dan setelah dingin ditimbang. Berat kering kecambah normal dihitung dari total bobot kering kecambah pada hari ke-5.
5. Panjang Akar (PA)
7
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum
Benih yang digunakan dalam percobaan ini mempunyai viabilitas yang berbeda-beda. Kondisi awal benih pada bulan September 2013 masih dalam keadaan baik dengan viabilitas tinggi dilihat dari daya berkecambah benih yang berkisar antara 86%-100% (Tabel 1). Bulan Agustus 2014 viabilitas benih dari beberapa varietas mengalami penurunan menjadi 70% sampai 98%. Varietas yang mengalami penurunan secara signifikan yaitu varietas jagung DK77, P 21 dan Pertiwi 2 secara berurutan mengalami penurunan daya berkecambah dari 90%, 86%, 100% menjadi 77.33%, 70.67% dan 78.67%. Penurunan viabilitas paling tinggi yaitu benih Pertiwi 2. Penurunan viabilitas ini mungkin disebabkan kadar air benih yang cukup tinggi dibandingkan dengan varietas lain yaitu 9.2%. Menurut Koes dan Arief (2008) kadar air benih yang tinggi dapat menurunkan viabilitas benih secara signifikan ketika di penyimpanan. Namun, hal ini juga tidak sejalan dengan pendapat Koes dan Rahmawati (2009) yang menyatakan kadar air terbaik untuk menyimpan benih berkisar 10%-12%.
Tabel 1 Viabilitas awal benih jagung hibrida sebelum diberi perlakuan. Varietas Agustus 2014; KA: kadar air diukur bulan September 2013
8
atau Sitophilus zeamays dapat menimbulkan kehilangan mencapai 30% dalam waktu simpan 6 bulan. Kumbang ini, merusak bagian-bagian penting dari benih seperti kotiledon, endosperm dan sering juga merusak bagian plumula dan radikula (Gambar 2b). Selain itu, dalam proses pengecambahan benih, ditemukan juga serangan cendawan Fusarium sp. pada benih (Gambar 2a). Serangan cendawan ini menghambat perkecambahan dan perkembangan pertumbuhan benih sehingga menurunkan viabilitas benih
Percobaan 1: Vigor Daya Simpan Benih dengan Perlakuan Perendaman dalam Larutan Etanol 96%
Hasil rekapitulasi sidik ragam (Tabel 2) untuk analisis pengusangan cepat benih secara kimia menggunakan etanol 96% menunjukkan pengaruh nyata varietas dan perlakuan waktu rendam benih terhadap daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh dan bobot kering kecambah normal benih yang diuji. Pengaruh sangat nyata oleh varietas menunjukkan adanya perbedaan viabilitas benih sehingga respon yang diberikan pada percobaan juga berbeda. Pengaruh lamanya waktu perendaman benih menunjukkan adanya perbedaan kekuatan benih bertahan dari deraan etanol 96%.
a b c
Gambar 2 (a) Serangan cendawan yang menyerang benih pada saat perkecambahan (b) benih yang rusak akibat serangan kumbang (c) kumbang yang menyerang benih di ruang penyimpanan
Tabel 2 Hasil rekapitulasi sidik ragam 15 varietas jagung hibrida pada pengusangan cepat kimia menggunakan etanol 96%.
Peubah Varietas Waktu pengusangan Interaksi
KT Fhit KT Fhit KT Fhit
DB+ (%) 9.08 5.65** 363.54 226.08** 102.51 1.52* IV+ (%) 10.13 3.29** 459.76 149.43** 4.14 1.35 tn KCT(%etmal-1) 97.10 7.68** 5432.41 429.85** 32.71 2.59**
9 Tabel 2 memperlihatkan interaksi antara varietas dan lamanya waktu rendam benih dengan etanol 96%, pengaruh sangat nyata dapat dilihat pada peubah kecepatan tumbuh benih. Pengaruh nyata pada interaksi antara keduanya terlihat pada daya berkecambah. Interaksi antara varietas benih dan lamanya waktu perlakuan tidak berpengaruh nyata pada indeks vigor dan bobot kering kecambah normal.
Daya Berkecambah
Tabel 3 menunjukkan penurunan daya berkecambah pada setiap peningkatan lama waktu pengusangan benih terjadi pada semua varietas jagung hibrida. Varietas yang memiliki daya berkecambah benih tertinggi sebelum diberi perlakuan adalah benih BISI 222 (98.66%) kemudian Pertiwi 3 dan BISI 816 dengan nilai tengah DB 93.33 %. Benih dengan daya berkecambah terendah adalah DK 77 (77.33%), P 21 (70.67%) dan Pertiwi 2 (78.67%). Daya berkecambah benih ini tidak mencapai batas minimum daya berkecambah benih bervigor baik yaitu 80 %. Benih BISI 816 memperoleh nilai tengah DB tertinggi dan benih NK 33 memperoleh daya berkecambah benih terendah yaitu sebesar 18.67% pada pengusangan 15 menit. Daya berkecambah yang paling tinggi setelah benih didera selama 30 menit yaitu Bionix 09 dengan nilai tengah 48% dan yang terendah yaitu NK 33 (8%) dan DK 95 (9.33%). Pada penderaan 45 menit, daya berkecambah tertinggi diperoleh benih Pertiwi 2 dan NK 6326 dengan nilai tengah 18.67% dan yang terendah NK 33 dan DK 95 dengan nilai tengah 0%. Tabel 3 Nilai tengah dari interaksi antara varietas jagung hibrida dengan lamanya
pengusangan benih secara kimia pada peubah daya berkecambah.
10
Perlakuan pengusangan 15 menit menurunkan DB secara nyata pada benih BISI 18, DK 979, DK 85, NK 33 dan P 21 (45.33%, 28%, 40%, 18.67% dan 30.67%). Pengusangan benih selama 30 menit menurunkan DB secara nyata pada benih BISI 222, BISI 2, Bima Super, BISI 816, Pertiwi 3, DK 77, NK 6326, Pertiwi 2 dan DK 95 (29.33%, 14.67%, 28%, 26.67%, 34.67%, 18.67%, 37. 33%, 40% dan 9.33%). Benih yang mampu bertahan dari penderaan hingga 45 menit yaitu Bionix 09 dengan nilai tengah 13.33%. Menurut Pian (1981) penurunan daya berkecambah ini terjadi karena etanol yang digunakan sebagai bahan pengusangan pada konsentrasi tertentu dapat merusak dinding sel benih. Etanol menyebabkan terjadinya disintegrasi membran sel dan mendenaturasi protein sehingga bagian sel menjadi rusak dan aktivitas enzimatis menurun. Penurunan aktivitas enzim berkorelasi positif dengan daya berkecambah benih (Handayani 2013).
Kecepatan Tumbuh
Nilai tengah interaksi antara varietas dan perlakuan memperlihatkan penurunan persentase kecepatan tumbuh dari setiap varietas yang diuji. Pada penderaan 15 menit, 12 varietas jagung hibrida mengalami penurunan kecepatan tumbuh yang nyata. Tiga varietas lainnya, NK 6326, BISI 816, dan Pertiwi 2 mengalami penurunan kecepatan tumbuh secara nyata pada penderaan 30 menit yaitu menjadi 10.40% etmal-1, 8.26% etmal-1, dan 11.37% etmal-1.
Tabel 4 Nilai tengah dari interaksi antara varietas jagung hibrida dengan lamanya waktu pengusangan benih secara kimia pada peubah kecepatan tumbuh.
11 Kecepatan tumbuh benih pada Tabel 4 memperlihatkan nilai tengah benih tertinggi pada perlakuan 0 menit yaitu BISI 222 (33.33% etmal-1) dan Pertiwi 3 (33.26% etmal-1) sedangkan yang terendah yaitu P 21 (19.77% etmal-1). Setelah diusangkan selama 15 menit, KCT tertinggi diperoleh Pertiwi 3 dan BISI 816
dengan nilai tengah lebih dari 23% etmal-1 dan yang terendah NK 33 dengan nilai tengah 4.68% etmal-1. Hasil pengusangan benih selama 30 menit menunjukkan nilai tengah KCT tertinggi diperoleh Bionix 09 (13.68% etmal-1 ) dan nilai terendah
masih NK 33 dengan nilai 1.97% etmal-1. Nilai tengah benih yang paling tinggi pada penderaan 45 menit yaitu Pertiwi 2 (5.35% etmal-1) sedangkan yang paling rendah yaitu DK 95 dan NK 33 dengan nilai 0% etmal-1.
Indeks Vigor dan Bobot Kering Kecambah Normal
Tabel 5 menunjukkan varietas yang memiliki indeks vigor diatas rata-rata dengan nilai yang paling tinggi adalah Pertiwi 3 (44.33%) dan tidak berbeda nyata dengan benih BISI 222, Bima Super, BISI 816, dan Pertiwi 2 (37.33%, 35% 41.33%, dan 37.66%). Namun menurut Koes dan Arief (2010) indeks vigor dapat dikatakan tinggi apabila nilainya diatas 75%. Varietas benih yang memiliki nilai tengah indeks vigor dibawah rata-rata adalah BISI 18, DK 979, DK 95, DK 85, DK 77, P 21 dan NK 33 yang merupakan varietas benih jagung dengan nilai tengah indeks vigor terendah yaitu sebesar 13.66%.
Tabel 5 Nilai tengah indeks vigor dan bobot kering kecambah normal pada percobaan vigor daya simpan benih jagung hibrida.
12
Kisaran bobot kering kecambah normal benih yang diuji yaitu 25.77 mg hingga 39.81 mg dengan rata-rata sebesar 34.25 mg. Varietas jagung hibrida yang memiliki bobot kering kecambah normal tertinggi yaitu Pertiwi 3 (39.81 mg). Nilai tengah varietas tersebut tidak berbeda nyata dengan varietas BISI 222, DK 979, Bima Super, BISI 816, Bionix 09, NK 6326, BISI 18 dan Pertiwi 2. Sedangkan varietas P 21 dan NK 33 merupakan varietas dengan nilai tengah BKKN terendah yaitu 29.39 mg dan 25.77 mg. Berdasarkan penelitian Koes dan Arief (2010), bobot kering kecambah memiliki korelasi negatif dengan lamanya daya simpan benih jagung. Penyimpanan benih selama 6 bulan dapat menyebabkan penurunan berat kering kecambah sebesar 0.03 g kecambah-1.
Rekapitulasi Peubah
Kesimpulan percobaan vigor daya simpan benih dengan perlakuan perendaman dalam larutan etanol 96% diperoleh dari penilaian terhadap masing-masing peubah. Varietas terbaik untuk peubah daya berkecambah dan kecepatan tumbuh dilihat dari lamanya benih mampu bertahan terhadap pengusangan dengan etanol 96%. Varietas terbaik untuk peubah daya berkecambah benih yaitu Bionix 09 yang mampu bertahan hingga penderaan 30 menit sedangkan varietas terbaik untuk peubah kecepatan tumbuh yaitu Bisi 816, NK 6326 dan Pertiwi 2 yang mampu bertahan hingga penderaan 15 menit.
13 Varietas terbaik untuk peubah indeks vigor dan bobot kering kecambah normal dilihat dari nilai tengah tertinggi varietas. Varietas terbaik untuk indeks vigor yaitu Bima Super, BISI 222, BISI 816, Pertiwi 2 dan Pertiwi 3 sedangkan untuk peubah bobot kering kecambah normal yaitu Bima Super, Bionix 09, BISI 222, BISI 816, DK 979, Pertiwi 2, dan Pertiwi 3. Rekapitulasi peubah memperlihatkan Pertiwi 2 dan BISI 816 memperoleh peringkat tertinggi untuk vigor daya simpan benih jagung hibrida.
Percobaan 2: Vigor Kekuatan Tumbuh Benih terhadap Cekaman Kekeringan Menggunakan Polyethylene glycol 6000
Percobaan ini bertujuan untuk melihat kekuatan tumbuh benih dalam kondisi cekaman kekeringan. Hasil analisis memperlihatkan bahwa varietas benih yang digunakan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap semua peubah yang diuji seperti daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh, bobot kering kecambah normal dan panjang akar. Selain varietas, perbedaan tekanan osmotik dari PEG 6000 yang diberikan juga memperlihatkan pengaruh yang berbeda sangat nyata. Menurut Michel dan Kaufmann (1973), pengaruh ini karena adanya cekaman kekeringan pada tanaman yang disebabkan terhambatnya penyerapan air oleh akar kecambah. Semakin tinggi konsentrasi PEG 6000 yang diberikan dalam perlakuan, akan semakin kuat subetilen larutan ini mengikat air sehingga tidak bisa diserap oleh benih untuk perkecambahan.
Analisis interaksi antara varietas dan tekanan osmotik larutan menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Interaksi yang sangat nyata diperlihatkan oleh peubah indeks vigor benih. Interaksi yang nyata ditunjukkan oleh peubah daya berkecambah benih. Peubah kecepatan tumbuh, bobot kering kecambah normal dan panjang akar menunjukkan tidak ada interaksi yang nyata antara varietas jagung yang digunakan dengan tekanan osmotik larutan yang diberikan. Uji lanjut hanya dilakukan pada peubah yang berpengaruh nyata dan sangat nyata. Tabel 7 Hasil rekapitulasi sidik ragam 15 varietas jagung hibrida pada uji
cekaman kekeringan menggunakan PEG 6000.
Peubah Varietas Tekanan osmotik Interaksi
14
Daya Berkecambah
Berdasarkan data pada Tabel 8, benih yang mengalami penurunan daya berkecambah secara nyata pada tekanan osmotik -1 bar yaitu BISI 816 (74.66%). Benih Bionix 09, dan P 21 mengalami penurunan daya berkecambah secara nyata pada tekanan osmotik -1.25 bar. Tekanan osmotik -1.5 bar menurunkan DB secara nyata pada benih Bima Super, BISI 222, DK 95 dan NK 6326. Benih lainnya yaitu BISI 2, BISI 18, DK 77, DK 85, DK 979, NK 33, Pertiwi 2 dan Pertiwi 3 belum mengalami penurunan DB secara nyata meskipun sudah didera dengan tekanan osmotik -1.5 bar. Data menyimpang terjadi pada varietas DK 979, DK 85 dan DK 77 di tekanan osmotik -1.25 bar karena daya berkecambahnya lebih rendah dibandingkan tekanan osmotik -1.5 bar. DB tertinggi pada tekanan osmotik 0, -1, dan -1.25 bar adalah BISI 222 dengan nilai tengah secara berurutan 98.66%, 88%, 89.33% dan yang terendah adalah P 21 dengan nilai tengah 70.66%, 56%, 49.33%. DB tertinggi pada tekanan osmotik -1.5 bar yaitu Pertiwi 3 (94.66%) dan yang terendah tetap P 21 (46.67%).
Tabel 8 Nilai tengah dari interaksi antara varietas jagung hibrida dengan tekanan osmotik Polyethylene glycol 6000 pada peubah daya berkecambah
Varietas Tekanan osmotik larutan PEG 6000
0 bar -1 bar -1.25 bar -1.5 bar Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata pada DMRT 5%.
15 Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada masing-masing varietas tidak ada perbedaan nyata daya berkecambah benih seiring dengan peningkatan tekanan osmotik larutan PEG 6000, akan tetapi terlihat penurunan angka persentase daya berkecambah pada setiap peningkatan tekanan osmotik larutan PEG 6000. Hal ini sejalan dengan penelitian Farsiani dan Ghobadi (2009) yang memperlihatkan penurunan persentase daya berkecambah benih jagung tongkol dan jagung manis seiring meningkatnya cekaman kekeringan yang diberikan. Menurut Van der Berg dan Zeng (2006), defisit air mempengaruhi perkecambahan benih dan mengakibatkan benih tumbuh abnormal. Perkecambahan benih akan mengalami gagal berkecambah dan daya berkecambah menurun apabila terjadi cekaman kekeringan karena air tidak cukup untuk melunakkan kulit. Hal ini dikarenakan air merupakan komponen penting dalam pertumbuhan benih terutama dalam aktivasi enzim (Agustrina 2008).
Indeks Vigor
Dilihat dari penurunan nilai tengah indeks vigor, ke-15 varietas benih jagung hibrida mengalami penurunan indeks vigor secara nyata pada tekanan osmotik -1 bar.
Tabel 9 Nilai tengah dari interaksi antara varietas jagung hibrida dengan tekanan osmotik Polyethylene glycol 6000 pada peubah indeks vigor
Varietas Tekanan osmotik larutan PEG 6000
0 bar -1 bar -1.25 bar -1.5 bar Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata pada DMRT 5%.
16
tidak berbeda nyata dengan benih BISI 222 (82.67%), DK 979 (78.67%), Bima Super (78.67%), BISI 816 (76%), dan DK 95 (81.33%). Sedangkan nilai tengah terendahnya yaitu P 21 (41.33%) dan Bionix 09 (37.33%). Pemberian cekaman kekeringan sebesar -1 bar dan -1.25 bar, indeks vigor tertinggi diperlihatkan oleh benih DK 95 dengan nilai 25.33% dan 13.33%. Indeks vigor paling rendah pada tekanan osmotik -1 bar yaitu BISI 18 dan Bionix 09 dengan nilai 0%. Sedangkan pada tekanan osmotik -1.25 bar, indeks vigor benih yang terendah bernilai 0% yaitu NK 6326, BISI 18, BISI 2, DK 77, BISI 816, P 21, dan NK 33. Cekaman kekeringan -1.5 bar menunjukkan indeks vigor tertinggi benih yaitu Pertiwi 3 dengan nilai 6.67% disusul benih BISI 222 (2.76%), BISI 18, DK 77, DK 95, dan Pertiwi 2 dengan nilai 1.33%. Selain benih tersebut, benih NK 6326, BISI 2, DK 979, DK 85, Bima Super, BISI 816, P 21, Bionix 09, dan NK 33 merupakan benih dengan nilai tengah terkecil sebesar 0%.
Kecepatan Tumbuh, Panjang Akar, dan Bobot Kering Kecambah Normal
Selain daya berkecambah dan indeks vigor, kecepatan tumbuh benih juga menjadi indikasi tinggi atau rendahnya vigor suatu lot benih. Lebih spesifik, kecepatan tumbuh menghitung kemampuan berkecambah benih per hari tanam. Varietas benih yang menghasilkan lebih banyak kecambah normal diawal-awal tanam menunjukkan tingginya vigor benih tersebut. Dari data yang diperoleh pada Tabel 10 dapat diketahui bahwa benih yang memiliki kecepatan tumbuh tertinggi yaitu varietas Pertiwi 3 (24.45% etmal-1) dan tidak berbeda nyata dengan benih DK 95 (23.91% etmal-1). Tingginya tekanan osmotik cekaman kekeringan yang diberikan tidak begitu berpengaruh terhadap perkecambahan normal benih dari kedua varietas tersebut. Hal ini berbeda dengan respon yang diperlihatkan oleh varietas P 21 (13.88% etmal-1). Varietas ini bisa dikatakan memiliki vigor yang rendah sehingga sangat peka terhadap cekaman kekeringan.
Parameter lain yang tidak kalah penting dalam pengukuran vigor kekuatan tumbuh benih jagung hibrida dari cekaman kekeringan adalah kondisi akar yang dalam hal ini direpresentasikan oleh panjang akar. Akar merupakan bagian yang bersentuhan langsung dengan media tanam benih. Menurut Dubrovsky and Go´mezlomeli (2003) dalam menghadapi cekaman kekeringan, tanaman melakukan berberapa strategi bertahan hidup yang dimulai dari fase perkecambahan yaitu dengan membentuk formasi akar yang panjang dan memiliki percabangan yang banyak serta mempertahankan turgor sel tanaman dengan mengakumulasi senyawa organik yang dapat menurunkan potensial osmotik sel (Sopandie 2006).
17 makanan pada kotiledon dan endosperm diubah secara maksimal untuk pertumbuhan dan menambah bobot kecambah.
Varietas yang memiliki nilai tengah bobot kering kecambah normal paling tinggi setelah diberi cekaman kekeringan yaitu Pertiwi 3 (86.75 mg). Sedangkan yang paling rendah adalah benih P 21 (34.04 mg) dan BISI 2 (36.58 mg). Dilihat dari daya berkecambah benih BISI 2 yang cukup tinggi, rendahnya bobot kering kecambah normal dimungkinkan karena benih memiliki ukuran kecambah yang kecil dan tidak berkembang karena adanya hambatan pertumbuhan oleh PEG 6000.
Rekapitulasi Peubah
Kesimpulan percobaan vigor kekuatan tumbuh benih terhadap cekaman kekeringan menggunakan Polyethylene glycol 6000 diperoleh dari penilaian terhadap masing-masing peubah. Varietas terbaik pada peubah daya berkecambah yaitu BISI 2, BISI 18, NK 33, DK 77, DK 85, DK 979, Pertiwi 2, dan Pertiwi 3. Varietas tersebut mampu bertahan dari cekaman kekeringan hingga -1.5 bar tekanan osmotik larutan PEG 6000. Pada peubah indeks vigor semua varietas jagung hibrida mengalami penurunan yang sangat signifikan pada tekanan osmotik -1 bar.
18
Tabel 11 Hasil rekapitulasi percobaan vigor kekuatan tumbuh benih terhadap cekaman kekeringan menggunakan Polyethylene glycol 6000 pada peubah DB, IV, KCT, PA, dan BKKN.
√: varietas yang mampu bertahan hingga penderaan -1.5 bar tekanan osmotik larutan PEG 6000 pada peubah DB, varietas yang memiliki nilai tengah tertinggi pada peubah KCT, PA dan BKKN; -: varietas yang mengalami penurunan < -1.5 bar tekanan osmotik larutan PEG 6000 pada peubah DB atau varietas yang berbeda nyata dengan nilai tertinggi pada peubah KCT, PA dan BKKN.
Varietas terbaik pada peubah kecepatan tumbuh, panjang akar, dan bobot kering kecambah normal dilihat dari nilai tengah tertinggi setiap varietas. Pada peubah kecepatan tumbuh varietas terbaiknya yaitu DK 95 dan Pertiwi 3. Pada peubah panjang akar varietas terbaiknya yaitu BISI 18, BISI 222, DK 77, DK 85, DK 95, DK 979, NK 6326, dan Pertiwi 3. Sedangkan pada peubah bobot kering kecambah normal varietas terbaik yaitu Pertiwi 3. Rekapitulasi peubah memperlihatkan Pertiwi 3 memperoleh peringkat tertinggi untuk vigor kekuatan tumbuh benih jagung hibrida pada cekaman kekeringan disusul pada posisi kedua yaitu DK 95, BISI 18, DK 77, DK 85, dan DK 979. Vigor kekuatan tumbuh yang tinggi pada varietas DK 979 sesuai dengan deskripsi varietas yang menunjukkan ketahanan terhadap kekeringan.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Percobaan vigor daya simpan benih dengan perlakuan perendaman dalam larutan etanol 96% menunjukkan penurunan DB secara nyata terjadi pada pengusangan 45 menit dan KCT pada pengusangan 30 menit. Berdasarkan hasil
19 dengan vigor daya simpan tertinggi. Percobaan vigor kekuatan tumbuh benih terhadap cekaman kekeringan menggunakan Polyethylene glycol 6000 menunjukkan penurunan DB secara nyata terjadi pada tekanan osmotik -1.5 bar kecuali untuk benih BISI 2, BISI 18, DK 77, DK 85, DK 979, NK 33, Pertiwi 2, dan Pertiwi 3. Vigor kekuatan tumbuh tertinggi berdasarkan hasil rekapitulasi peubah DB, IV, KCT, PA, dan BKKN adalah Pertiwi 3 dan posisi kedua adalah
DK 95, BISI 18, DK 77, DK 85, dan DK 979. Saran
Perlu dilakukan pengujian yang sama untuk varietas jagung hibrida yang lain sebagai pedoman penyimpanan benih. Pengujian benih bisa menjadi gambaran kondisi benih dan bahan pertimbangan untuk pengembangan jagung hibrida selanjutnya. Selain itu, perlu dilakukan pengujian cekaman kekeringan dengan tekanan osmotik yang lebih dari -1.5 bar untuk benih BISI 2, BISI 18, DK 77, DK 85, DK 979, NK 33, Pertiwi 2, dan Pertiwi 3.
DAFTAR PUSTAKA
Agustrina R. 2008. Perkecambahan dan pertumbuhan kecambah leguminoceae di bawah pengaruh medan magnet. Lampung (ID). Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung. Hal: 342-347.
Andri, Endrizal. 2012. Akselerasi peningkatan produksi dan produktivitas jagung melalui sl-ptt jagung hibrida di Jambi. Jambi (ID). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi.
Arief. 2010. Pembibitan jagung [internet]. Jakarta (ID) [diunduh 10 Februari 2014]. Tersedia pada: http://epetani.deptan.go.id/budidaya/pembibitan-jagung-53
Asay KH, Johnson DA. 1983. Breeding for drought resistance inrange grass. J Res
57(4): 441-455.
Belo SM, Suwarno FC. 2012. Penurunan viabilitas benih padi (Oryza sativa L.) melalui beberapa metode pengusangan cepat. J Agron Indonesia. 40 (1): 29 - 35.
Bergvinson D. 2002. Post harvest training manual. Major insect pest maize in storage . Mexico (US). CIMMYT.
[BPS] Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. 2012. Produksi padi, jagung, dan kedelai tahun 2012 [Internet]. Jakarta (ID) [diunduh 6 November 2013]. Tersedia pada: http://www.bps.go.id
Boyer JS. 1982. Plant productivity and environment. Science. (218):443-448 Copeland LO, McDonald MB. 2001. Principles of seed science and technology
4th edition. London (GB): Kluwer Academic Publishers. 425 p.
20
[Deptan] Departemen Pertanian. 2005. Prospek dan arah pengembangan agribisnis jagung. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Di dalam: Departemen Pertanian, editor. Pekan Serealia Nasional 2010. Jakarta (ID). Delouche JC. 1971. Determinants of seed quality. Seed Technology Laboratory.
Starkville (US. Mississipi State University.
Dubrovsky JG, Go´mez-lomeli LF. 2003. Water defisit accelerates determinate developmental program of the primary root and does not affect lateral root initiation in asonorant desert cactus (Pachycereus pringlei, cactaceae).
American J. Botany (90): 823–831.
Efendi R. 2009. Tanggap genotipe jagung toleran dan peka terhadap cekaman kekeringan pada fase perkecambahan. Prosiding Seminar Nasional Serealia.
Balai Penelitian Tanaman Serealia
Farsiani A, Ghobadi ME. 2009. Effects of PEG and NaCl stress on two cultivars of corn (Zea mays L.) at germination and early seedling stages. World Academy of Science, Engineering and Technology Vol:33 2009-09-21 Gomez KA, Gomez AA. 1995. Prosedur Statistik untuk Penelitian Pertanian.
Sjamsuddin E, Baharsjah JS, penerjemah. Jakarta (ID): UI Pr. Terjemahan dari: Statistical Procedures for Agricultural Research.
Handayani MDA. 2013. Pengaruh konsentrasi etanol dan lama deraan pada viabilitas benih buncis (Phaseolus Vulgaris L.) [Skripsi]. Lampung (ID). Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung
Kasryno. 2007. Gambaran umum ekonomi jagung Indonesia [Internet]. [diunduh 20 Januari 2010].
Khayatnezhad M, Roza G, Shahzad JS, Roghayyeh ZM. 2010. Effects of PEG stress on corn cultivars (Zea mays L.) at germination stage. World Applied SciencesJ. 11 (5): 504-506
Koes F, Arief R. 2008. Pengaruh densitas dan volume kemasan plastik terhadap mutu benih jagung setelah disimpan. Jakarta (ID). Puslitbangtan. Badan Litbang: 897p
Koes F, Arief R. 2010. Deteksi dini mutu dan ketahanan simpan benih jagung hibrida F1 Bima 5 melalui uji pengusangan cepat (AAT). Sulawesi Selatan (ID). Balai Penelitian Tanaman Serealia.
Koes F, Rahmawati. 2009. Pengaruh lama penyimpanan terhadap mutu benih dan produktivitas jagung. Seminar Nasional Serealia Maros. 29 Juli 2009. Maros (ID)
Kulkarni M, Deshpande U. 2007. In vitro screening of tomato genotypes for drought resistance using polyethylene glycol. Afr J Biotechnolog. 6 (6): 691-696 [Internet]. [diunduh 10 Februari2014]. Tersedia pada http://waset.org/publications/7936
21 Pian ZA. 1981. Pengaruh uap etil alkohol terhadap viabilitas benih jagung (Zea mays L.) dan pemanfaatannya untuk menduga daya simpan [Disertasi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.
Sadjad S. 1981. Peranan benih dalam usaha pengembangan usaha palawija. Bul Agr. XII (2):1-5.
Sadjad S. 1993. Dari Benih kepada Benih hal : 85. Jakarta (ID); Grasindo. Sadjad S. 1994. Kuantifikasi Metabolisme Benih hal :1-2. Jakarta (ID); Grasindo. Saleh N. 2008. Penggunaan benih sehat untuk pencapaian produktivitas kedelai.
Buletin Iptek Tanaman Pangan. 3 (2) 2008 [Internet]. [Diunduh tanggal 10 Februari 2014] Tersedia pada http://www.digilib.litbang.deptan. go.id/repository/index/1560.
Sopandie D. 2006. Perspektif fisiologi dalam pengembangan tanaman pangan di lahan marjinal. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Fisiologi Tanaman. Bogor (ID). Fakutas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 16 September 2006. Sutopo L. 2004. Teknologi Benih hal : 161. Jakarta (ID); Rajawali Press.
Van den Berg LV, Zeng YJ. 2006. Response of South African indigenous grass species to drought stress induced by polyethylene glycol (PEG) 6000 Afr. J Bot 2006 72, 284-286.
Verslues PE, M Agarwal, KS Agarwal, J Zhu. 2006. Methods and concepts in quantifying resistance to drought, salt and freezing, abiotic stresses that affect plant water status. ThePlant Journal. 45, 523–539.
22
LAMPIRAN
Lampiran 1 Deskripsi varietas Pertiwi 3 Tanggal dilepas : 2009
Asal :PW-18 x PW-26 PW-18 dikembangkan dari
populasi Dk888PW-26 dikembangkan dari populasi P4 oleh PT. Agri Makmur Pertiwi
Umur : Dalam
50% keluar polen : + 55 hari 50% keluar rambut : + 57 hari Masak fisiologis : + 103 hari
Batang : Besar, kokoh, tegap
Warna batang : Hijau
Tinggi tanaman : + 296 cm Jumlah daun : 14-16 helai Warna daun : Hijau tua Keragaman tanaman : Seragam Perakaran : Sangat baik
Kerebahan : -
Bentuk malai : Besar dan terbuka
Warna sekam : Ungu
Warna anther : Ungu
Warna rambut : Merah muda
Tongkol : Besar dan panjang
Bentuk tongkol : Silindris Kedudukan tongkol : + 92 cm
Kelobot : Menutup tongkol dengan baik (+ 98%)
Tipe biji : Semi gigi kuda
Baris biji : Lurus
Warna biji : Jingga Jumlah baris/tongkol : 14 - 16 baris Bobot 1000 biji : + 300 g
Rata-rata hasil : 9.64 t/ha pipilan kering Potensi hasil : 13.74 t/ha pipilan kering
Ketahanan : Tahan bulai, karat daun dan hawar daun Keterangan : Adaptasi luas, anjuran jarak tanam 75 cm x
20 cm 1 tanaman/lubang
Pemulia : Andree Christantius, Moedjiono, dan Deny Setiawan
23 Lampiran 2 Deskripsi varietas NK 33
Tanggal dilepas : 14 Februari 2003
Asal : NT 6661 adalah hibrida F1 dari silang tunggal (single cross) antara galur tropis NP 5038 dengan galur tropis NP 5063 yang dikembangkan oleh PT. Novartis (Thailand)
Umur : Berumur dalam
50% polinasi : + 55 hari 50% keluar rambut : + 56 hari Masak fisiologis : + 100 hari
Batang : Besar dan kokoh
Warna batang : Hijau Tinggi tanaman : + 190 cm Warna daun : Hijau tua Keragaman tanaman : Seragam
Perakaran : Baik
Kerebahan : Tahan rebah
Bentuk malai : Tegak, sedang, dan terbuka
Warna malai : Hijau
Warna sekam : Hijau bergaris Warna anthera : Coklat
Warna rambut : Merah Bentuk tongkol : Silindris Kedudukan tongkol : + 95 cm
Kelobot : Menutup tongkol sangat baik
Tipe biji : Semi mutiara
Warna biji : Kuning Jumlah baris/tongkol : 14 - 16 baris Bobot 1000 biji : + 300 g
Rata-rata hasil : 8.10 t/ha pipilan kering Potensi hasil : 10.12 t/ha pipilan kering
Ketahanan : Agak tahan terhadap penyakit bulai, hawar daun, dan karat
Daerah pengembangan :Beradaptasi pada dataran rendah sampai ketinggian 850 m dpl.
24
Lampiran 3 Deskripsi varietas BISI 18
Tanggal dilepas : 12 Oktober 2004
Asal : F1 silang tunggal antara galur murni FS46 Keragaman tanaman : Seragam
Perakaran : Baik
Kerebahan : Tahan rebah
Bentuk malai : Kompak dan agak tegak Warna sekam : Ungu kehijauan
Warna anthera : Ungu kemerahan Warna rambut : Ungu kemerahan Tinggi tongkol : + 115 cm
Kelobot : Menutup tongkol cukup baik
Tipe biji : Semi mutiara
Warna biji : Oranye kekuningan Jumlah baris/tongkol : 14 - 16 baris
Bobot 1000 biji : + 303 g
Rata-rata hasil : 9.1 t/ha pipilan kering Potensi hasil : 12 t/ha pipilan kering
Ketahanan :Tahan terhadap penyakit karat daun dan bercak daun
Daerah pengembangan :Daerah yang sudah biasa menanam jagung hibrida pada musim kemarau dan hujan, terutama yang menghendaki varietas berumur genjah-sedang
Keterangan : Baik ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 1000 m dpl
25 Lampiran 4 Deskripsi varietas P 21
Tanggal dilepas : 29 Juli 2003
Asal : F1 dari silang tunggal (single cross) antara galur murni F30Y87 dengan M30Y877, keduanya adalah galur murni Tropis yang dikembangkan oleh Pioneer Hi-Bred (Thailand) Co., Ltd Batang : Tegap, besar, dan cukup kokoh Warna batang : Hijau
Tinggi tanaman : + 210 cm
Daun : Setengah tegak dan lebar
Warna daun : Hijau tua Keragaman tanaman : Sangat seragam
Perakaran : Baik
Kerebahan : Tahan rebah Bentuk malai : Besar dan terbuka Warna malai : Putih kekuningan Warna sekam : Hijau keunguan
Warna rambut :Hijau terang/putih dengan warna kemerahan di ujungnya
Tongkol : Besar, panjang, dan silindris
Kedudukan tongkol : Di pertengahan tinggi tanaman (+ 95 cm) Kelobot : Menutup biji dengan baik
Tipe biji : Semi mutiara
Warna biji : Oranye
Baris biji : Tidak lurus dan rapat Jumlah baris/tongkol : 14 - 16 baris
Bobot 1000 biji : + 311 g
Rata-rata hasil : 6.1 t/ha pipilan kering Potensi hasil : 13.3 t/ha pipilan kering
Ketahanan : - Tahan terhadap karat daun, bercak daun
26
Lampiran 5 Deskripsi varietas BISI 2 Tahun dilepas : 1995
Asal : F1 dari silang tunggal antara FS 4 dengan FS 9. FS 4 dan FS 9 merupakan tropical inbreed yang dikembangkan oleh Charoen Seed Co., Ltd. Thailand dan Dekalb Plant Genetic, USA.
Umur : 50% keluar rambut : + 56 hari
Panen : + 103 hari
Batang : Tinggi dan tegap
Warna batang : Hijau Tinggi tanaman : + 232 cm
Daun : Panjang, lebar, dan terkulai Warna daun : Hijau cerah
Keragaman tanaman : Seragam
Perakaran : Baik
Kerebahan : Tahan
Tongkol : Sedang, silindris, dan seragam Kedudukan tongkol : Di tengah-tengah batang Kelobot : Menutup tongkol dengan baik Tipe biji : Setengah mutiara (semi flint) Warna biji : Kuning oranye
Jumlah baris/tongkol : 12 - 14 baris Bobot 1000 biji : + 265 g
Rata-rata hasil : 8.9 t/ha pipilan kering Potensi hasil : 13 t/ha pipilan kering
Ketahanan : Toleran terhadap penyakit bulai dan karat daun
27 Lampiran 6 Deskripsi varietas BISI 816
Tanggal dilepas : 2009
Asal : F1 silang tunggal antara galur murni B126 sebagai induk betina dan galur murni B128 sebagai induk jantan
Umur : Dalam
50% keluar polen : + 55 hari 50% keluar rambut : + 71 hari Masak fisiologis :
Dataran rendah : + 102 hari Dataran tinggi : + 130 hari
Batang : Besar, kokoh, tegap
Warna batang : Hijau tua Tinggi tanaman : + 217 cm Jumlah daun : 12-14 helai Keragaman tanaman : Seragam Perakaran : Sangat baik
Kerebahan :
-Bentuk malai : Sedikit terbuka dan agak tegak Warna malai : Ungu kemerahan
Warna sekam : Ungu kemerahan Warna anther : Ungu kemerahan Warna rambut : Ungu kemerahan
Tongkol : Besar dan panjang ( + 20 cm) Bentuk tongkol : Silindris
Kedudukan tongkol : + 115 cm
Kelobot : Menutup tongkol dengan baik (+ 98%) Tipe biji : Semi mutiara (semi flint)
Baris biji : Lurus
Warna biji : Oranye
Jumlah baris/tongkol : 14 - 18 baris Bobot 1000 biji : + 330 g
Rata-rata hasil : 10.38 t/ha pipilan kering Potensi hasil : 13.65 t/ha pipilan kering
Ketahanan : Tahan busuk pucuk tongkol, bulai, karat daun dan hawar daun
28
Lampiran 7 Deskripsi varietas Pertiwi 2 Tanggal dilepas : 2009
Asal : PW-18 x PW-10 PW-18 dikembangkan
dari populasi Dk888PW-10 dikembangkan dari populasi Arjuna oleh PT. Agri Makmur Pertiwi
Umur : Dalam
50% keluar polen : + 55 hari 50% keluar rambut : + 57 hari Masak fisiologis : + 101 hari
Batang : Besar dan kuat
Warna batang : Hijau Tinggi tanaman : + 294 cm Jumlah daun : 12-14 helai Keragaman tanama : Seragam Perakaran : Sangat baik
Kerebahan : -
Bentuk malai : Besar terbuka
Warna malai : Ungu
Warna sekam : Ungu
Warna anther : Ungu
Warna rambut : Merah muda
Tongkol : Besar dan panjang ( + 20 cm) Bentuk tongkol : Silindris
Kedudukan tongkol : + 95 cm
Kelobot : Menutup tongkol dengan baik (+ 98%)
Tipe biji : Semi gigi kuda
Baris biji : Lurus
Warna biji : Oranye-kuning Jumlah baris/tongkol : 14 - 16 baris Bobot 1000 biji : + 309 g
Rata-rata hasil : 9.66 t/ha pipilan kering Potensi hasil : 13.66 t/ha pipilan kering
Ketahanan : Tahan bulai, karat daun dan hawar daun Keterangan : Beradaptasi luas, anjuran jarak tanam 75
cm x 20 cm 1 tanaman/lubang
Pemulia :Andre Christantius, Moedjiono, dan Deny Setiawan
29 Lampiran 8 Deskripsi varietas DK 979
Tanggal dilepas : 17 Maret 2004
Asal : Jagung hibrida Monsanto TB 9001 adalah persilangan ganda (doble cross) TB 840134 FF/TB 840134 MF) dengan (TB 840134 FM/TB 840134 MM), tetua betina (TB 840134 FF/TB 840134 MF) dan tetua jantan (TB 840134 FM/TB 840134 MM) adalah persilangan tunggal. Galur-galur TB 840134 FM, TB 840134 MM, TB 840134 FF, TB 840134 MF berasal dari populasi yang berbeda. Galur ini dikembangkan oleh Departemen Penelitian Perbenihan
Kelobot : Menutup tongkol dengan baik
Tipe biji : Semi mutiara
Warna biji : Oranye kuning Jumlah baris/tongkol : 14 - 16 baris Bobot 1000 biji : + 300 g
Rata-rata hasil : 9.25 t/ha pipilan kering Potensi hasil : 11.94 t/ha pipilan kering
Ketahanan : Tahan terhadap penyakit karat, toleran terhadap penyakit bulai
Keunggulan : Tahan terhadap kekeringan (stress air) dan tahan rebah sesuai untuk daerah yang sering terjadi angin dengan kecepatan yang tinggi seperti di Langkat (Sumut)
30
Lampiran 9 Deskripsi varietas BISI 222 Tanggal dilepas : 2009
Asal : F1 silang tunggal antara galur murni B126 sebagai induk betina dan galur murni B128
Bentuk malai : Sedikit terbuka dan agak tegak Warna malai : Ungu kemerahan
Warna sekam : Ungu kemerahan Warna anther : Ungu kemerahan Warna rambut : Ungu kemerahan
Tongkol : Besar dan panjang ( + 20 cm) Bentuk tongkol : Silindris
Kedudukan tongkol : + 115 cm
Kelobot : Menutup tongkol dengan baik (+ 98%) Tipe biji : Semi mutiara (semi flint)
Baris biji : Lurus
Warna biji : Oranye
Jumlah baris/tongkol : 14 - 18 baris Bobot 1000 biji : + 330 g
Rata-rata hasil : 10.38 t/ha pipilan kering Potensi hasil : 13.65 t/ha pipilan kering
Ketahanan : Tahan busuk pucuk tongkol, bulai, karat daun dan hawar daun
Keterangan : Daerah pengembangan daerah endemik, dan penyakit busuk pucuk tongkol yang banyak terjadi di dataran tinggi
31
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Maninjau pada tanggal 16 Mei 1992. Penulis merupakan anak pertama dari lima orang bersaudara dari pasangan Bapak Zulhelmi dan Ibu Salma. Penulis mengawali pendidikan di TK ABA Pandan pada tahun 1997 hingga 1998. Setelah lulus dari TK penulis melanjutkan sekolah di SDN 17 Pandan dan MDA Muhammadiyah Pandan pada tahun 1998 hingga 2004. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Tanjung Raya (2004-2007) dan SMAN 1 Tanjung Raya (2007-2010). Tahun 2010, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
Selama kuliah penulis aktif dalam beberapa organisasi seperti Forum Lingkar Pena Bogor tahun 2010-2011, IPB Farmer Student (I’Fast) Club tahun 2011, Sekretaris Biro Kestari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian tahun 2011-2012, Sekretaris Umum BEM Fakultas Pertanian tahun 2012-2013, Sekretaris Kementrian Pertanian BEM Keluarga Mahasiswa IPB tahun 2013 hingga 2014. Selain itu penulis juga mengikuti beberapa kepanitiaan seperti Malam Persahabatan Faperta, Panitia Pelaksana Pemira KM IPB 2011,