• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Determinan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Masyarakat Miskin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Determinan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Masyarakat Miskin"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS DETERMINAN PENGELUARAN KONSUMSI

RUMAH TANGGA MASYARAKAT MISKIN

DI KABUPATEN ACEH UTARA

TESIS

OLEH

KHAIRIL ANWAR

057018014/EP

SEKOLAH PASCASARJANA

MAGISTER EKONOMI PEMBANGUNAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ANALISIS DETERMINAN PENGELUARAN KONSUMSI

RUMAH TANGGA MASYARAKAT MISKIN

DI KABUPATEN ACEH UTARA

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains Dalam Program Studi Ekonomi Pembangunan Pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

KHAIRIL ANWAR

057018014/EP

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Tesis : ANALISIS DETERMINAN PENGELUARAN KONSUMSI RUMAH TANGGA MASYARAKAT MISKIN DI

KABUPATEN ACEH UTARA

Nama Mahasiswa : KHAIRIL ANWAR

Nomor Pokok : 057018014

Program Studi : EKONOMI PEMBANGUNAN

Menyetujui

Komisi Pembimbing,

(DR. Murni Daulay, M.Si) (Kasyful Mahalli, SE, M.Si)

Ketua Anggota

Ketua Program Studi, Direktur,

(DR. Murni Daulay, M.Si) (Prof. DR. Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc)

(4)

Telah diuji pada

Tanggal...

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua Sidang : DR. Murni Daulay, M.Si

Anggota : 1. Kasyful Mahalli, SE, M.Si

2. DR. Sya’ad Afifuddin, M.Ec

(5)

PENGANTAR

Puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala

atas limpahan rahmat, kasih sayang, dan hidayahnya sehingga penulis telah dapat

menyelesaikan tesis ini. Selawat serta salam kepada Nabi Muhammad Salallahu

Alaihi Wasalam, yang telah membawa cahaya penerangan dan ilmu pengetahuan ke

dunia ini.

Tesis ini mengangkat tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat miskin di

Kabupaten Aceh Utara di tinjau dari segi pengeluaran konsumsi, tema kemiskinan

yang diangkat disebabkan adanya fenomena yang menarik terkandung di dalamnya

berbagai permasalahan yang sangat komplek. Bahkan sampai saat ini belum ada satu

metode yang mampu memecahkan masalah kemiskinan sampai kepada akar

permasalahannya. Salah satu kelebihan yang terdapat dalam penelitian ini adalah

dengan tergambarnya perbedaan konsumsi masyarakat miskin yang tinggal di

pedesaan dengan konsumsi masyarakat miskin yang tinggal di perkotaan. Perbedaan

ini sekaligus dapat menunjukkan pola konsumsi dan kadar kemiskinan antara desa

dengan kota di Kabupaten Aceh Utara.

Dalam proses penelitian tesis ini, penulis banyak mendapatkan arahan,

bimbingan, bantuan, maupun kritikan kontruktif, oleh karenanya penulis

menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada

kedua pembimbing; DR. Murni Daulay, M.Si selaku pembimbing pertama

sekaligus ketua Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan, Kasyful Mahalli,

SE, M.Si selaku pembimbing kedua. Terima kasih juga turut penulis sampaikan

(6)

Irsyad Lubis, M.Soc, Sc yang telah memberikan banyak masukan dan saran-saran

dalam rangka penyempurnaan tesis ini.

Terima kasih kepada Drs. A. Hadi Arifin, M.Si selaku Rektor Universitas

Malikussaleh (Unimal) yang telah memberikan izin tugas belajar kepada penulis,

juga kepada Faisal Matriadi, SE, M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi Unimal

yang telah memberikan bantuan moril dan spirit kepada penulis untuk menyelesaikan

pendidikan pada Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara (SPs-USU).

Terima kasih kepada para sahabat, baik yang kuliah di Magister Ekonomi

Pembangunan SPs-USU, maupun rekan-rekan kerja khususnya di Fakultas Ekonomi

Unimal, yang tidak mungkin penulis sebutkan satu per satu. Kepada seluruh keluarga

besar (Almarhum) Ayahanda Tgk. Umar bin Abubakar dan (Almarhumah) Ibunda

Fatimah binti Muhammad. Terakhir penulis menyampaikan terima kasih kepada

istri tercinta Riza Izwarni dan ananda tersayang Muhammad Pavel Askari yang

dengan sabar telah mendampingi penulis dalam suka maupun duka.

Penulis menyadari tesis ini masih mengandung banyak kekurangan, baik dari

segi isi maupun tata cara penulisannya, karena penulis mengharapkan kritik dan

saran kontruktif demi kesempurnaan dimasa akan datang. Kiranya penulis

mengharapkan penelitian tesis ini memberikan manfaat kepada semua pihak yang

membacanya.

Medan, Juni 2007

(7)

DAFTAR ISI

Hal.

LEMBAR PENGESAHAN ... i

LEMBAR PERSEMBAHAN ... ii

PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI... v

DAFTAR TABEL... vii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN... x

ABSTRAK... xi

ABSTRACT... xii

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teoritis... 10

2.1.1 Teori Konsumsi... 10

2.1.2 Fungsi Konsumsi ... 12

2.1.3 Determinan Konsumsi ... 17

2.1.4 Pendapatan ... 21

2.1.5 Kemiskinan ... 25

2.1.6 Indikator Kemiskinan ... 28

2.2 Penelitian Terdahulu ... 34

2.3 Kerangka Konseptual... 40

2.4 Hipotesis ... 42

BAB III. METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian ... 44

3.2 Jenis dan Sumber Data... 44

3.3 Metode Penetapan Sampel... 44

3.4 Model Analisis... 47

3.5 Definisi Operasional ... 49

3.6 Uji Kesesuaian (Goodness of Fit) ... 51

3.6.1 Uji Statisti t... 52

3.6.2 Uji Statistik F... 53

(8)

3.7.1 Uji Multikolinearitas... 54

4.7.2 Uji Heterokedastisitas ... 55

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Profil Desa Objek... 57

4.1.1 Cluster Pesisir ... 57

4.1.2 Cluster Perkotaan ... 65

4.1.3 Cluster Pedalaman ... 73

4.2 Karakteristik Sosial Ekonomi ... 81

4.2.1 Umur Responden ... 82

4.2.2 Jenis Kelamin dan Status Perkawinan ... 83

4.2.3 Pendidikan... 84

4.2.4 Pekerjaan... 85

4.2.5 Pendapatan ... 88

4.2.6 Rata-rata Waktu Kerja ... 89

4.2.7 Jumlah Anak dan Tanggungan Keluarga... 90

4.2.8 Kondisi Rumah Tempat Tinggal... 91

4.3 Pengeluaran Konsumsi... 95

4.3.1 Pengeluaran Konsumsi Bahan Makanan ... 95

4.3.2 Pengeluaran Untuk Bahan Bukan Makanan ... 96

4.4 Uji Asumsi Klasik... 98

4.4.1 Uji Multikolinearitas... 98

4.4.2 Uji Heterokedastisitas ... 100

4.5 Estimasi Determinan Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Miskin di Kabupaten Aceh Utara ... 104

4.5.1 Model Konsumsi Makanan ... 105

4.5.2 Model Pengeluaran Konsumsi Bukan Makanan... 107

4.6 Pembuktian Hipotesis ... 108

4.6.1 Uji Parsial... 110

4.6.2 Uji Simultan ... 113

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 115

5.2 Saran... 118

DAFTAR PUSTAKA ... 122

(9)

DAFTAR TABEL

Hal.

Tabel 1.1 Komposisi Mata Pencaharian Utama dan Jumlah Penduduk

Nanggroe Aceh Darussalam Sebelum Tsunami ... 3

Tabel 1.2 Kecamatan, Desa dan Jumlah Penduduk Kabupaten Aceh Utara Tahun 2005 ... 6

Tabel 3.1 Lokasi dan Jumlah Sampel Menurut Cluster ... 46

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk dan Keluarga Miskin di Desa Matang Lada

dan Teupin Kuyun Kecamatan Seunudon ... 58

Tabel 4.2 Jumlah Penduduk dan Keluarga Miskin di Desa Matang Sijuk

Barat dan Paya Bateung Kecamatan Baktiya Barat ... 60

Tabel 4.3 Jumlah Penduduk dan Keluarga Miskin di Desa Kuala Cangkoi dan Matang Janeng Kecamatan Tanah Pasir ... 62

Tabel 4.4 Jumlah Penduduk dan Keluarga Miskin di Desa Tanoh Anoe dan Pante Gurah Kecamatan Muara Batu ... 64

Tabel 4.5 Jumlah Penduduk dan Keluarga Miskin di Desa Panton Labu

dan Ceumpeudak Kecamatan Tanah Jambo Aye ... 66

Tabel 4.6 Jumlah Penduduk dan Keluarga Miskin di Kelurahan Lhok

Sukon dan Desa Meunasah Dayah Kecamatan Lhok Sukon .... 68

Tabel 4.7 Jumlah Penduduk dan Keluarga Miskin di Desa Keude Geudong dan Blang Peuria Kecamatan Samudera ... 70

Tabel 4.8 Jumlah Penduduk dan Keluarga Miskin di Desa Keude Krueng Geukueh dan Tambon Tunong Kecamatan Dewantara ... 72

Tabel 4.9 Jumlah Penduduk dan Keluarga Miskin di Desa Meunasah

Blang dan Krueng Lingka Kecamatan Langkahan ... 74

Tabel 4.10 Jumlah Penduduk dan Keluarga Miskin di Desa Batu XII dan

Ulee Gampong Kecamatan Cot Girek ... 76

Tabel 4.11 Jumlah Penduduk dan Keluarga Miskin di Desa Tgk. Dibalee

dan Alue Pangkat Kecamatan Tanah Luas ... 78

Tabel 4.12 Jumlah Penduduk dan Keluarga Miskin di Desa Alue Papeun

(10)

Tabel 4.13 Jenis Kelamin dan Status Perkawinan Kepala Keluarga ... 83

Tabel 4.14 Pendidikan Kepala Keluarga dan Rata-rata Pendidikan Anggota Keluarga... 84

Tabel 4.15 Pekerjaan Utama dan Pekerjaan Sampingan Kepala Keluarga .. 87

Tabel 4.16 Pendapatan dari Pekerjaan Sampingan Kepala Keluarga (Rupiah Per Bulan) ... 88

Tabel 4.17 Rata-rata Waktu Kerja Kepala Keluarga (Jam) ... 89

Tabel 4.18 Jumlah Anak dan Tanggungan Keluarga... 90

Tabel 4.19 Kondisi Rumah Tempat Tinggal Keluarga ... 92

Tabel 4.20 Rata-rata Konsumsi Bahan Makanan Masyarakat Miskin Kabupaten Aceh Utara Menurut Jenis Barang ... 95

Tabel 4.21 Rata-rata Konsumsi Bahan Makanan Masyarakat Miskin Kabupaten Aceh Utara Menurut Jenis Barang ... 97

Tabel 4.22 Uji Multokolinieritas Model Konsumsi Makanan dan Pengeluaran Konsumsi Bukan Makanan ... 99

Tabel 4.23 Hasil Uji Park Model Konsumsi Makanan ... 102

Tabel 4.24 Hasil Uji Park Model Pengeluaran Konsumsi Bukan Makanan. 104 Tabel 4.25 Hasil Estimasi Model Konsumsi Makanan... 105

Tabel 4.26 Hasil Estimasi Model Pengeluaran Bukan Makanan... 107

(11)

DAFTAR GAMBAR

Hal.

Gambar 1: Preferensi Konsumen Selama Konsumsi Periode Pertama dan

Kedua ... 16

Gambar 2: Kerangka Konseptual Faktor-faktor yang mempengaruhi

Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Miskin... 42

Gambar 3: Peta Wilayah Sampel Menurut Cluster... 45

Gambar 4: Grafik Scatterplot Model Konsumsi Makanan ... 101

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Hal.

Lampiran 1: Kuisioner Penelitian ... 126-129

Lampiran 2: Output SPSS: Descriptive ... 130-131

Lampiran 3: Output SPSS: Frequency... 132-141

Lampiran 4: Output SPSS: Regression model konsumsi makanan ... 142-149

Lampiran 5: Output SPSS: Regression model pengeluaran konsumsi

bukan makanan ... 150-157

Lampiran 6: Output SPSS: Uji multikolinieritas (uji R)... 158-161

Lampiran 7: Output SPSS: Uji heterokedastisitas (uji Park) ... 162-163

(13)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinasi variabel pendapatan, aktivitas ekonomi, dan anggota rumah tangga, juga perbedaan lokasi tempat tinggal terhadap konsumsi masyarakat miskin di Kabupaten Aceh Utara. Metode yang digunakan untuk menganalisis data dengan model regresi linier berganda, dengan mensifikasi dalam metode Least Square Dummy Variabel (LSDV).

Data yang digunakan merupakan data cross-section yang dikumpulkan melalui kuisioner. Observasi dilakukan pada 180 kepala keluarga yang dibagi secara merata pada tiga clusters yaitu; pesisir, pedalaman, dan perkotaan. Penetapan sampel di lakukan secara two stage clusters, pada tingkat pertama ditetapkan 12 kecamatan dari 22 kecamatan yang ada. Pada tingkat kedua, ditetapkan 2 desa dari dari masing-masing 12 kecamatan, dan dari desa dalam satu kecamatan ditetapkan 15 Kepala keluarga yang ditetapkan secara judgement sampling.

Hasil estimasi menemukan semua variabel bebas bertanda positif dan signifikan mempengaruhi besarnya konsumsi makanan, sebaliknya bertanda negatif dan signifikan terhadap pengeluaran konsumsi bukan makanan. Hasil estimasi juga menemukan besarnya konsumsi berbagai jenis bahan makanan masyarakat perkotaan lebih kecil dari konsumsi makanan masyarakat pedalaman sebesar Rp.12.046,94. Namun lebih besar dari konsumsi bahan makanan masyarakat pesisir yaitu Rp.13.238,54. Sementara besarnya pengeluaran konsumsi berbagai jenis bukan makanan masyarakat perkotaan lebih besar dari konsumsi bukan makanan masyarakat pedalaman Rp.57.045,73. Dan juga lebih besar dari konsumsi bukan makanan masyarakat pesisir yaitu Rp.31.760,25. Variasi kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan konsumsi makanan sebesar 92,5 persen, dan pengeluaran konsumsi bukan makanan sebesar 87,4 persen. Spesifikasi model sudah sangat baik dengan terbebasnya model dari pelanggaran asumsi klasik multikolinieritas dan heterokedastisitas.

Hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi masukan berarti kepada pemerintah daerah Kabupaten Aceh Utara dan pihak-pihak terkait dalam menyusun rencana, dan mengimplementasikan kebijakan pembangunan, terutama dalam upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin, dan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam program penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Aceh Utara.

(14)

ABSTRACT

The aim of this research is to recognize the income variable, the economic activity, and the family size determination, also differences of society living against poor society’s consumption in North Aceh Regency. The Method that used to analyze the data is Multiple Linear Regression model, specified in Least Square Dummy Variable (LSDV) method.

The data which used in this research is cross-section data, collected from questioner. The observation attended on 180 families that divided equally in three clusters; coastal area, hinterland, and urban. The sample decision was notified in two stage clusters, on the first level was notified 12 districts from 22 districts, on the second level was notified 2 villages from each 12 district, and for a village in a district was notified 15 families which was determined by judgment sampling.

The estimation result found that all of independent variable positive significantly influenced the food consumption. Otherwise, the negative ones significantly influenced the non-food consumption outcome. The estimation result also found that the level of consumption for many kinds of urban food was fewer than hinterland society food consumption about Rp.12.046,94. However, the urban consumption more excessively than coastal area society about Rp.13.238,54. While the level of consumption outcome for many kinds of non-food urban consumption larger than non-food hinterland consumption about Rp.57.045,73. Also larger than non-food coastal society consumption about Rp.31.760,25. The variation of independent variable capability to explain the food consumption about 92,5% and non-food consumption outcome about 87,4%. The specification models were appropriated which the model free of multicollinierity and Heteroscedasticity classic assumption collision.

The result of this research was expected to be a good suggestion to the North Aceh Government and related department to arrange the planning and implementing the development policy, especially to improve the life level of poor society, and could be a guidance for poorness decreasing in North Aceh Regency.

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Kemiskinan telah menjadi masalah yang dibicarakan secara global, hal ini

dapat dilihat dari berbagai tulisan seperti; Levinsohn et.al (1999), Suharyadi et.al

(2000), Asra (2000) dan banyak peneliti lainnya yang menyoroti masalah

kemiskinan. Berbagai isu yang menyangkut masalah kemiskinan disampaikan, mulai

dari sebab-sebab kemiskinan, perangkap kemiskinan, kondisi sosial, pendidikan,

kesehatan masyarakat miskin, sampai kepada strategi penganggulangan kemiskinan.

Sejak tahun 1994 berbagai usaha penanggulangan kemiskinan di Provinsi

Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) diimplementasikan dengan berbagai program

pembangunan, seperti Program Inpres Desa Tertinggal (IDT), Pembangunan

Prasarana Pendukung Desa Tertinggal (P3DT), Program Pembangunan Kecamatan

(PPK), Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP). Pada saat krisis

ekonomi telah diluncurkan program Jaring Pengaman Sosial (JPS), Program

Pembangunan Masyarakat Mulia Sejahtera (PMMS), Program Pengembangan

Ekonomi Rakyat (PER), Gema Assalam, dan berbagai program sosial lainnya.

Tujuannya adalah untuk merubah nasib masyarakat miskin ke arah yang lebih

sejahtera dalam seluruh aspek kehidupannya. Dari laporan yang ada, semua program

yang diluncurkan telah terimplementasi dengan baik. Kendati demikian, kenyataan di

lapangan memperlihatkan efektivitas program-program belum optimal. Hal ini

diperkirakan akibat masih adanya elemen-elemen penting yang belum lengkap

(16)

Keberhasilan suatu program, termasuk program penangggulangan

kemiskinan, paling tidak bergantung pada tiga elemen pokok, yaitu : (1) Pemahaman

tentang seluk beluk kelompok sasaran dan wilayah sasaran yang hendak dituju oleh

program; (2) Kesesuaian antara tujuan program dengan hakekat permasalahan yang

dihadapi oleh kelompok miskin (kelompok sasaran); dan (3) Pemilihan instrumen

atau paket program yang paling sesuai serta ketersediaan prasarana dan sarana

penunjang. Meskipun demikian, ketiga elemen ini belum menjamin berhasilnya suatu

program, melainkan baru merupakan syarat perlu (necessary condition). Untuk

benar-benar menjamin keberhasilan program masih diperlukan berbagai persyaratan

lain, yaitu kapabilitas sistem organisasi pelaksana, sistim informasi, dan latar

belakang sosial, budaya serta politik yang melingkupinya.

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) mempunyai 17 Kabupaten, 4

kota, 228 kecamatan, 642 mukim, 112 kelurahan dan 5.947 desa. Selain itu Provinsi

NAD yang mempunyai penduduk 4.218.486 jiwa (sebelum tsunami) terdiri dari

2.159.127 jiwa laki-laki dan 2.138.538 jiwa perempuan. Jumlah penduduk ini hanya

mengalami pertumbuhan hanya 1,26 persen. Pertumbuhan yang relatif kecil ini

cenderung diakibatkan karena daerah ini dalam sepuluh tahun terakhir terus dilanda

konflik sehingga banyak penduduk Provinsi NAD yang migrasi ke provinsi-provinsi

lain yang dianggap lebih aman, di lain pihak perpindahan penduduk dari provinsi lain

ke Provinsi NAD justru mengalami penurunan sehingga pertambahan penduduk hasil

(17)

Tabel 1.1

Komposisi Mata Pencaharian Utama dan Jumlah Penduduk Nanggroe Aceh Darussalam Sebelum Tsunami

Mata pencaharian utama)** No Kabupaten/Kota Jumlah

penduduk)* Pertanian Jasa-jasa Lainnya

1

Kota Banda Aceh Kab. Aceh Besar Kota Sabang Kab. Pidie Kab. Bireun

Kab. Aceh Utara

Kota Lhokseumawe Kab. Aceh Timur Kota Langsa Kab. Aceh Tamiang Kab. Aceh Jaya Kab. Aceh Barat Kab. Nagan Raya Kab. Aceh Barat Daya Kab. Aceh Selatan Kab. Simeulu Kab. Aceh Singkil Kab. Aceh Tengah Kab. Bener Meriah Kab. Aceh Tenggara Kab. Gayo Lues

TOTAL 4.297.485

Sumber : )*Satkorlak PBP (diolah) 2005 )**Kompas, 28 Desember 2004

Konflik berkepanjangan, krisis ekonomi ditambah lagi dengan bencana alam

gempa dan tsunami membuat masyarakat Aceh tenggelam dalam penderitaan

berkepanjangan. Bencana alam gempa dan tsunami yang melanda Aceh telah

meluluhlantakkan berbagai sektor perekonomian Aceh. Pasca tsunami, banyak

lahan-lahan pertanian di pantai barat Aceh yang telah menjadi laut, padahal selama

sebelum tsunami produksi lahan-lahan pertanian tersebut dapat mencukupi

kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Pemerintah telah merencanakan untuk

(18)

lumpur bergaram yang dibawa gelombang tsunami, hal ini tentu saja memerlukan

waktu yang cukup lama. Apalagi dibeberapa daerah ada sekitar 2.900 lahan pertanian

hilang sama sekali ditelan laut.

Lumpuhnya perekonomian Aceh yang ditimbulkan bencana gempa dan

tsunami, ternyata telah menyebabkan jumlah penduduk miskin diperkirakan

bertambah satu juta jiwa. Bila pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin di NAD

sebanyak 1,1 juta jiwa, realitasnya pada saat sekarang ini telah melampaui 2 juta

jiwa. Oleh karenanya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial, diperlukan

adanya kebijakan-kebijakan yang dapat mengurangi angka kemiskinan. Hal ini

disebabkan tingkat pengagguran yang tetap tinggi yaitu 9,8%, sedangkan tingkat

kemiskinan bisa mencapai 16,6%. Sedangkan penyerapan tenaga kerja sangat

tergantung pada pertumbuhan ekonomi pada tahun 2005 yang diperkirakan hanya

5,3% dan tingkat inflasi 7,5% (Kompas, 26 Januari 2005).

Langkah-langkah penanggulangan kemiskinan dapat didekati dari dua sisi.

Pertama, meningkatkan pendapatan melalui peningkatan produktivitas. Sisi ini

memberi peluang dan perlindungan kepada masyarakat miskin yang berkemampuan

dalam pengelolaan potensi yang ada untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dalam

berbagai kegiatan ekonomi, sosial budaya, dan politik; Kedua, mengurangi

pengeluaran melalui minimalisasi beban kebutuhan dasar yang kurang perlu seperti

tembakau (rokok), dan lainnya dan mempermudah akses untuk pendidikan,

kesehatan, dan lainnya yang mendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat miskin.

Kabupaten Aceh Utara, dengan jumlah penduduk pada tahun 2005 mencapai

(19)

terutama sektor industri (zona industri). Pencanangan kabupaten ini sebagai zona

industri merupakan upaya pengembangan sektor industri yang tidak terlepas dengan

sektor pertanian, artinya pengembangan sektor industri tetap berbasis pada sektor

pertanian. Namun pemanfaatan sumberdaya daerah yang dimiliki tersebut masih

mengalami banyak kendala. Selain disebabkan oleh masih minimnya informasi

tentang potensi daerah yang dapat dikembangkan, juga belum terciptanya iklim

investasi yang memadai, terutama dalam penyediaan infrastruktur, disamping

kestabilan politik dan keamanan yang rentan oleh berbagai gangguan.

Secara geografis Kabupaten Aceh Utara terletak pada posisi 4º 54' – 5º 18'

Lintang Utara (LU) dan 96º 20' – 97 º 21' Bujur Timur (BT), dengan luas wilayah

3.477,13 Km² atau 347.713 Ha. Kabupaten ini memiliki batasan wilayah sebagai

berikut; sebelah utara dengan Kabupaten Bireuen, sebelah selatan dengan Kabupaten

Aceh Timur, sebelah barat dengan Kabupaten Aceh Tengah, sebelah timur dengan

Selat Malaka.

Keadaan topografinya sangat bervariasi, dari dataran rendah sampai berbukit

dan sedikit pergunungan. Rata-rata ketinggian daerah ini adalah 125 m di atas

permukaan laut. Dataran rendah pada umumnya terdapat di sepanjang kawasan

pantai dan jalan negara yang memanjang dari arah Barat ke Timur, sedangkan

dataran tinggi/perbukitan dan pergunungan terdapat di sepanjang daerah pedalaman

di bagian selatan. Sekitar 43,6 % dari luas wilayah ini berada pada ketinggian

25-500 m di atas permukaan laut, sementara tingkat kelerengannya sangat bervariasi,

(20)

Tabel 1.2

Kecamatan, Desa dan Jumlah Penduduk Kabupaten Aceh Utara Tahun 2005

PENDUDUK)** NO KECAMATAN DESA)*

LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH

1

Tanah Jambo Aye Langkahan

Sumber: )* Aceh Mapframe, 2005

)** Badan Pusat Statistik (BPS), 2005

Laju pertumbuhan ekonomi Aceh Utara pada tahun 2005 mengalami

penurunan sebesar 7,97 persen. Hal ini sebagai dampak dari penurunan pertumbuhan

di sektor industri pengolahan. Demikian juga halnya dengan pendapatan regional per

kapita juga mengalami penurunan sebesar 2,25 persen (BPS, 2006). Dengan adanya

penurunan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita masyarakat, dapat

dipastikan akan berdampak terhadap sektor riel dan juga perubahan dalam pola

(21)

Suatu hal yang sangat sulit dalam menentukan kriteria miskin bagi

masyarakat Indonesia pada umumnya sebagaimana juga yang terjadi di Aceh Utara.

Dalam hal-hal tertentu masyarakat akan merasa terusik bila dimasukkan dalam

katagori miskin, sementara disaat yang lain justru banyak masyarakat yang berada

dalam katagori sejahtera yang mendaftarkan diri dalam katagori miskin. Oleh

karenanya, diperlukan suatu pendekatan yang komprehensif untuk menentukan

kelompok masyarakat miskin melalui pendekatan pengeluaran konsumsi rumah

tangga masyarakat di Kabupaten Aceh Utara, agar kebijakan-kebijakan pemerintah

dalam upaya mengentaskan kemiskinan tepat sasaran.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, maka masalah-masalah yang

ingin diteliti dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Berapa besar pengaruh pendapatan rumah tangga terhadap pengeluaran konsumsi

masyarakat miskin di Kabupaten Aceh Utara?

b. Berapa besar pengaruh aktivitas ekonomi kepala rumah tangga terhadap

pengeluaran konsumsi masyarakat miskin di Kabupaten Aceh Utara?

c. Berapa besar pengaruh jumlah anggota keluarga terhadap pengeluaran konsumsi

masyarakat miskin di Kabupaten Aceh Utara?

d. Berapa besar pengaruh perbedaan lokasi tempat tinggal terhadap pengeluaran

(22)

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas, maka tujuan dari

penelitian ini adalah:

a. Untuk menganalisis pengaruh pendapatan rumah tangga terhadap pengeluaran

konsumsi masyarakat miskin di Kabupaten Aceh Utara.

b. Untuk menganalisis pengaruh aktivitas ekonomi kepala rumah tangga terhadap

pengeluaran konsumsi masyarakat miskin di Kabupaten Aceh Utara.

c. Untuk menganalisis pengaruh jumlah anggota keluarga terhadap pengeluaran

konsumsi masyarakat miskin di Kabupaten Aceh Utara.

d. Untuk menganalisis pengaruh perbedaan lokasi tempat tinggal terhadap

pengeluaran konsumsi masyarakat miskin di Kabupaten Aceh Utara.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua

stackholder, terutama kepada pemerintah daerah, masyarakat dan pengembangan

ilmu pengetahuan.

a. Hasil penelitan dapat berguna sebagai gambaran umum pola pengeluaran

konsumsi masyarakat miskin di Kabupaten Aceh Utara pasca tsunami dan

variabel-variabel sosial ekonomi yang mempengaruhinya.

b. Penelitian ini berguna kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, terutama untuk

dijadikan bahan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kesejahteraan

masyarakat.

(23)

d. Sebagai referensi bagi pihak-pihak lain yang memiliki minat untuk melakukan

penelitian lanjutan yang berhubungan dengan pengeluaran konsumsi maupun

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teoritis

2.1.1 Teori Konsumsi

Dalam ilmu ekonomi, pengertian konsumsi lebih luas dari pada pengertian

konsumsi dalam percakapan sehari-hari. Dalam percakapan sehari-hari konsumsi

hanya dimaksudkan sebagai hal yang berkaitan dengan makanan dan minuman.

Dalam ilmu ekonomi, semua barang dan jasa yang digunakan oleh konsumen untuk

memenuhi kebutuhannya disebut pengeluaran konsumsi. Dikonsumsi artinya

digunakan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan.

Manusia sebagai makhluk individu dan sosial mempunyai kebutuhan yang

tidak terbatas, baik dalam jumlah maupun jenisnya. Untuk memperoleh berbagai

kebutuhan tersebut seseorang memerlukan pengeluaran untuk konsumsi. Dari semua

pengeluaran yang dilakukan tersebut sekurang-kurangnya dapat memenuhi tingkat

kebutuhan minimum yang diperlukan.

Samuelson (1999:101) menyebutkan salah satu tujuan ekonomi adalah untuk

menjelaskan dasar-dasar prilaku konsumen. Pendalaman tentang hukum permintaan

dan mengetahui bahwa orang cenderung membeli lebih banyak barang, apabila harga

barang itu rendah, begitu sebaliknya. Dasar pemikirannya tentang prilaku konsumen

bahwa orang cenderung memilih barang dan jasa yang nilai kegunaannya paling

tinggi.

(25)

pendapatan yang diterima oleh masyarakat menyebabkan masyarakat harus menunda

untuk mengkonsumsi barang-barang yang mempunyai nilai guna tinggi.

Nurhadi (2000:22) konsumsi adalah kegiatan manusia menggunakan atau

memakai barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan. Mutu dan jumlah barang atau

jasa dapat mencerminkan kemakmuran konsumen tersebut. Semakin tinggi mutu dan

semakin banyak jumlah barang atau jasa yang dikonsumsi, berarti semakin tinggi

pula tingkat kemakmuran konsumen yang bersangkutan sebaliknya semakin rendah

mutu kualitas dan jumlah barang atau jasa yang dikonsumsi, berarti semakin rendah

pula tingkat kemakmuran konsumen yang bersangkutan. Masih menurut Nurhadi

(2000:23) tujuan konsumsi adalah untuk mencapai kepuasan maksimum dari

kombinasi barang atau jasa yang digunakan.

Salvatore (1994:67) berpendapat bahwa individu meminta suatu komoditi

tertentu karena kepuasan yang diterima dari mengkonsumsi suatu barang. Sampai

pada titik tertentu, semakin banyak unit komoditi yang dikonsumsi individu tersebut

per unit waktu, akan semakin besar utiliti total yang akan diterima. Dari sisi lain

Samuelson (1999:107) menyebutkan bahwa apabila harga meningkat dan pendapatan

nominal tetap, maka pendapatan riil akan menurun, maka konsumen akan

mengurangi pembelian hampir semua jenis barang.

Menurut Rosydi (1996:148), konsumsi secara umum diartikan sebagai

penggunaan barang-barang dan jasa-jasa yang secara langsung akan memenuhi

kebutuhan manusia. Selanjutnya Sukirno (2000:337) mendefinisikan konsumsi

sebagai pembelanjaan yang dilakukan oleh rumah tangga atas barang-barang dan

jasa-jasa akhir dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dari orang yang melakukan

(26)

Rumah tangga menerima pendapatan dari tenaga kerja dan modal yang

mereka miliki, membayar pajak kepada pemerintah dan kemudian memutuskan

berapa banyak dari pendapatan setelah pajak digunakan untuk konsumsi dan berapa

banyak untuk ditabung (Mankiw, 2003:51).

2.1.2 Fungsi Konsumsi

Putong (2003:184) membuat suatu hipotesa pendapatan absolut yang

menyatakan bahwa bila pendapatan nasional naik dari sebelumnya, maka konsumsi

juga akan ikut naik, tetapi besarnya kenaikan konsumsi tidak sebesar kenaikan

pendapatan, sehingga umumnya besarnya tingkat tabungan akan semakin bertambah.

Dornbusch dan Fisher (1994:235) terdapat hubungan yang erat dalam praktek

antara pengeluaran konsumsi dan pendapatan disposibel. Lebih lanjut Dornbusch

melihat bahwa individu merencanakan konsumsi dan tabungan mereka untuk jangka

panjang dengan tujuan mengalokasikan konsumsi mereka dengan cara terbaik yang

mungkin selama hidup mereka. Lebih lanjut Dumairy (1996) menyebutkan konsumsi

berbanding lurus dengan pendapatan.

Dalam teori makro ekonomi dikenal berbagai variasi model fungsi konsumsi.

Fungsi konsumsi yang paling dikenal dan sangat lazim ditemukan dalam buku-buku

makro ekonomi tentulah fungsi konsumsi Keynesian:

) (Y f

C = (2.1)

Atau,

C = C (Y – T) (2.2)

(27)

function (Mankiw, 2003:52). Secara lebih spesifik Keynes memasukkan komponen

marginal propensity to comsume (MPC) ke dalam persamaan konsumsinya sehingga

menjadi:

Y c c

C= 0 + 1 , c0 > 0, 0 < c < 1 (2.3)

John Maynard Keynes menyatakan bahwa pengeluaran konsumsi masyarakat

tergantung pada (berbanding lurus) dengan tingkat pendapatannya. James S.

Duesenberry mengusulkan model lain. Berkaitan dengan hipotesisnya tentang

pendapatan relatif, ia berpendapat bahwa tingkat pendapatan yang mempengaruhi

pengeluaran konsumsi masyarakat bukan tingkat pendapatan efektif, maksudnya

pendapatan rutin yang efektif diterima, tapi oleh tingkat pendapatan relatif (Dumairy,

1996).

Milton Friedman mengajukan model lain lagi, terkenal dengan hipotesis

pendapatan permanen. Menurut Friedman tingkat pendapatan yang menentukan

besar kecilnya konsumsi adalah tingkat pendapatan permanen. Tentu saja, selain

tingkat pendapatan sebagai variabel pengaruh utama, terdapat kemungkinan beberapa

variabel lain turut mempengaruhi besar kecilnya pengeluaran konsumsi masyarakat.

Untuk menghitung besarnya pendapatan permanen dari pendapatan ”rutin-faktual”

berdasarkan data pendapatan yang ada, diasumsikan bahwa pendapatan permanen

sekarang (YPt) berhubungan dengan pendapatan sekarang (Yt) dan pendapatan satu

periode yang lalu (Yt-1)dalam bentuk:

(28)

Menurut model Evans (1969) jika fungsi konsumsi ditambahkan laju inflasi

sebagai variabel lain yang diduga turut mempengaruhi besar kecilnya pengeluaran

konsumsi masyarakat, sehingga model lengkapnya:

) , (YP P f

C = (2.6)

Dimana, C merupakan konsumsi, YP sebagai variabel pendapatan permanen

dan P sebagai variabel inflasi. Secara linear model konsumsi ini dapat dikongkritkan

sebagai:

P c YP c c

C = 0 + 1 + 2 (2.7)

Sukirno (2001) membedakan dua pengertian tentang kecondongan

mengkonsumsi marjinal dan kecondongan mengkonsumsi rata-rata:

− Kecondongan mengkonsumsi marjinal dinyatakan sebagai MPC (Marginal

Propensity to Consume) dapat didefinisikan sebagai perbandingan diantara

tambahan konsumsi dibagi dengan pertambahan pendapatan disposibel yang

diperoleh;

Yd C MPC

ΔΔ

= (2.8)

− Kecondongan mengkonsumsi rata-rata dinyatakan sebagai APC (Average

Propensity to Consume) didefinisikan sebagai perbandingan diantara tingkat

pengeluaran konsumsi dengan tingkat pendapatan disposibel, nilai APC dapat

dihitung dengan menggunakan formula:

Yd C

APC = (2.9)

(29)

Konsumsi adakalanya tidak sesuai sebagaimana yang diharapkan, hal ini

terjadi karena keterbatasan anggaran. Fisher mencoba membuat persamaan yang

menganalisis tentang batas anggaran untuk konsumsi pada dua periode, yaitu; pada

periode pertama tabungan sama dengan pendapatan dikurangi konsumsi:

S = Y1 – C1 (2.10)

Dimana S adalah tabungan. Dalam periode kedua, konsumsi sama dengan

akumulasi tabungan (termasuk bunga tabungan) ditambah pendapatan periode kedua,

yaitu:

C2 = (1 + r) S + Y2 (2.11)

Dimana r adalah tingkat bunga riel. variabel S menunjukkan tabungan atau

pinjaman dan persamaan ini berlaku dalam kedua kasus. Jika konsumen pada periode

pertama kurang dari pendapatan periode pertama, berarti konsumen menabung dan S

lebih besar dari nol. Jika konsumsi periode pertama melebihi pendapatan periode

pertama, konsumen meminjam dan S kurang dari nol. Untuk menderivasi batas

anggaran konsumen, maka kombinasi persamaan (2.10) dan persamaan (2.11)

menghasilkan:

C2 = (1 + r) (Y1 – C1) + Y2 (2.12)

Persamaan ini menghubungkan konsumsi selama dua periode dengan

pendapatan dalam dua periode. Preferensi konsumen yang terkait dengan konsumsi

dalam dua periode bisa ditampilkan oleh kurva indeferens. Kurva ini menunjukkan

kombinasi konsumsi periode pertama dan periode kedua yang membuat konsumen

(30)

Gambar 1: Preferensi Konsumen Selama Konsumsi Periode Pertama dan Kedua

Gambar 2.1 di atas menunjukkan dua dari banyak kurva indeferen. Kurva

indeferen yang lebih tinggi seperti IC2 lebih disukai daripada kurva indeferen yang

lebih rendah IC1. Konsumen tetap merasa senang mengkonsumsi pada titik W, X dan

Y, tetapi lebih menyukai titik Z (Mankiw, 2003:431).

Selanjutnya masih dalam Mankiw (2003:439) Franco Modigliani dalam

analisis hipotesis daur hidupnya membuat persamaan yang memasukkan periode

waktu dan kekayaan. Seorang konsumen yang berharap hidup selama T tahun,

memiliki kekayaan W dan mengharapkan menghasilkan pendapatan Y sampai ia

pensiun selama R dari sekarang, maka persamaannya dapat ditulis:

C = (W + RY)/T (2.13)

Sehingga fungsi konsumsi seseorang dapat ditulis;

C = (1/T) W + (R/T)Y (2.14)

Konsumsi Periode kedua C2

Y

X Z

IC2

W

IC1

C1

Konsumsi

(31)

Jika setiap orang dalam perekonomian merencanakan konsumsi seperti ini,

maka konsumsi agregat serupa dengan fungsi konsumsi individual. Bisanya,

konsumsi agregat tergantung pada kekayaan dan pendapatan. Oleh karena itu fungsi

konsumsi perekonomian adalah:

C = W + Y (2.15)

Dimana parameter adalah kecenderungan mengkonsumsi marginal dari

kekayaan dan parameter adalah kecenderungan mengkonsumsi marginal dari

pendapatan.

2.1.3 Determinan Konsumsi

Banyak faktor yang menentukan permintaan konsumsi atau pengeluaran

individu atas barang-barang dan jasa-jasa dalam suatu perekonomian. Menurut

Spencer (1977:165) faktor tersebut diantaranya adalah pendapatan disposibel yang

merupakan faktor utama, banyaknya anggota keluarga, usia dari anggota keluarga,

pendapatan yang terdahulu dan pengharapan akan pendapatan dimasa yang akan

datang.

Dalam buku Survei Biaya Hidup di sebutkan bahwa pengeluaran masyarakat

khususnya pengeluaran konsumsi pada dasarnya dipengaruhi oleh banyak faktor,

baik yang bersifat kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif. Faktor yang bersifat

kualitatif antara lain; tingkat pendidikan dan selera. Sedangkan yang bersifat

kuantitatif adalah jumlah pendapatan dan anggota keluarga (BPS Daerah Istimewa

Aceh, 1999).

Menurut Samuelson (1999:169) bahwa faktor-faktor pokok yang

(32)

pendapatan disposibel sebagai faktor utama, pendapatan permanen dan pendapatan

menurut daur hidup, kekayaan dan faktor penentu lainnya seperti faktor sosial dan

harapan tentang kondisi ekonomi dimasa yang akan datang. Dornbusch (1994:238)

mengutip hipotesis daur hidup yang dikembangkan oleh Modigliani melihat bahwa

merencanakan perilaku konsumsi dan tabungan masyarakat untuk jangka panjang

dengan mengalokasikan konsumsi mereka dengan cara terbaik yang mungkin

diperoleh selama hidup mereka.

Dalam serangkaian makalah yang ditulis pada tahun 1950-an Franco

Modigliani dan kolaboratornya Albert Ando dan Richard Brumberg menggunakan

model perilaku konsumen Fisher untuk mempelajari fungsi konsumsi. Salah satu

tujuan mereka adalah memecahkan teka teki konsumsi. Menurut model Fisher,

konsumsi tergantung pada pendapatan seumur hidup seseorang, Modigliani

menekankan bahwa pendapatan bervariasi secara sistematis selama kehidupan

seseorang dan tabungan membuat seseorang dapat menggerakkan pendapatan dari

masa hidupnya ketika pendapatan tinggi ke masa hidup ketika pendapatan rendah

(Mankiw, 2003:439).

Selanjutnya Sukirno (2000:101) menyebutkan bahwa disamping faktor

pendapatan rumah tangga, kekayaan dan pajak pemerintah, konsumsi rumah tangga

juga ditentukan oleh beberapa faktor antara lain:

1. Ekspektasi, mengenai keadaan dimasa yang akan datang sangat

mempengaruhi konsumsi rumah tangga pada masa kini, keyakinan bahwa

pada masa mendatang akan mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi akan

(33)

2. Jumlah penduduk, dalam analisis mengenai pembelanjaan agregat yang

diperhatikan adalah konsumsi penduduk Negara. Oleh sebab itu tingkat

konsumsi bukan saja tergantung pada tingkat pendapatan yang diperoleh

seseorang tetapi juga yang diterima penduduk secara keseluruhan.

3. Tingkat harga, dalam analisis Keynesian sederhana dimisalkan bahwa tingkat

harga adalah tetap, maka setiap kenaikan pendapatan berarti terjadi kenaikan

pendapatan riel. Dalam keadaan yang demikian, apabila pendapatan

meningkat 100 persen dan MPC sebesar 0,80 (80%) dari kenaikan

pendapatan itu akan dikonsumsikan, hal ini menunjukkan terjadi kenaikan

konsumsi yang sebenarnya.

Parkin (1993:672) sependapat dengan teori-teori ahli lainnya bahwa

pengeluaran konsumsi rumah tangga ditentukan oleh banyak faktor. Namun menurut

Parkin yang paling penting dari faktor-faktor yang menentukan pengeluaran

konsumsi hanya dua, yaitu; pendapatan disposibel (disposable income) dan

pengharapan terhadap pendapatan dimasa akan datang (expected future income).

Penny (1994:28) menyatakan besarnya konsumsi yang dapat dinikmati

seseorang sangat tergantung pada besarnya pendapatan. Dalam hal ini konsumsi

tersebut meliputi kebutuhan primer, kebutuhan sekunder maupun kebutuhan tertier.

Golongan yang berpenghasilan rendah cenderung berkonsumsi untuk memenuhi

kebutuhan dasar. Apabila pendapatan meningkat, porsi pendapatan yang akan

digunakan untuk pangan akan menurun.

Nicholson (1991:77) menyatakan bahwa persentase pendapatan yang

dibelanjakan untuk pangan cenderung turun jika pendapatan meningkat. Kondisi ini

(34)

dengan persentase pengeluaran untuk pangan. Keadaan ini lebih dikenal dengan

Hukum Engel (Engel’s Law).

Dalam hukum Engel dikemukakan tentang kaitan antara tingkat pendapatan

dengan pola konsumsi. Hukum ini menerangkan bahwa pendapatan disposibel yang

berubah-ubah pada berbagai tingkat pendapatan. Dengan demikian, naiknya

pendapatan, maka persentase yang digunakan untuk sandang dan pelaksanaan rumah

tangga adalah cenderung konstan. Sementara persentase yang digunakan untuk

pendidikan, kesehatan dan rekreasi semakin bertambah (Ackley, 1992:281).

Kadariah (1996:21) menambahkan bahwa pada umumnya golongan yang

berpendapatan rendah mengeluarkan sebagian besar dari pendapatannya untuk

keperluan hidup yang mutlak seperti; pangan, perumahan dan sandang. Makin tinggi

pendapatan seseorang, makin kecil pengeluaran yang dialokasikan untuk kebutuhan

pokok.

Delorme dan Ekulend (1993:244) menyatakan bahwa kelompok

berpenghasilan tinggi mempunyai kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (average

propensity to consume) yang lebih kecil daripada kelompok masyarakat

berpenghasilan rendah. Pitomo (1992:2) menambahkan bahwa rumah tangga miskin

pada umumnya mengeluarkan pendapatannya lebih besar untuk kebutuhan dasar,

baik yang terdiri dari kebutuhan maupun konsumsi individu (makanan, pakaian,

perumahan) maupun keperluan pelayanan sosial tertentu (air minum, sanitasi,

transportasi, kesehatan dan pendidikan).

(35)

2.1.4 Pendapatan

Sebagaimana diketahui bahwa pembangunan yang sedang giat-giatnya

dilaksanakan oleh Negara-negara yang sedang berkembang bertujuan untuk

meningkatkan pendapatan riel per kapita, pendapatan ini pada umumnya masih

rendah. Gejala umum yang sering terjadi dalam proses pembangunan di

Negara-negara berkembang adalah hasrat konsumsi dari masyarakat yang tinggi sebagai

akibat dari kenaikan pendapatan.

Menurut Sukirno (2006:47) pendapatan adalah jumlah penghasilan yang

diterima oleh penduduk atas prestasi kerjanya selama satu periode tertentu, baik

harian, mingguan, bulanan ataupun tahunan. Beberapa klasifikasi pendapatan antara

lain: 1) Pendapatan pribadi, yaitu; semua jenis pendapatan yang diperoleh tanpa

memberikan suatu kegiatan apapun yang diterima penduduk suatu Negara. 2)

Pendapatan disposibel, yaitu; pendapatan pribadi dikurangi pajak yang harus

dibayarkan oleh para penerima pendapatan, sisa pendapatan yang siap dibelanjakan

inilah yang dinamakan pendapatan disposibel. 3) Pendapatan nasional, yaitu; nilai

seluruh barang-barang jadi dan jasa-jasa yang diproduksikan oleh suatu Negara

dalam satu tahun.

Menurut Sobri (1987:50) pendapatan disposibel adalah suatu jenis

penghasilan yang diperoleh seseorang yang siap untuk dibelanjakan atau

dikonsumsikan. Besarnya pendapatan disposibel yaitu pendapatan yang diterima

dikurangi dengan pajak langsung (pajak perseorangan) seperti pajak penghasilan.

Masalah pendapatan tidak hanya dilihat dari jumlahnya saja, tetapi

bagaimana distribusi pendapatan yang diterima oleh masyarakat. Adapun

(36)

Indonesia; pertama, perolehan faktor produksi, dalam hal ini faktor yang terpenting

adalah tanah. Kedua, perolehan pekerjaan, yaitu perolehan pekerjaan bagi mereka

yang tidak mempunyai tanah yang cukup untuk memperoleh kesempatan kerja

penuh. Ketiga, laju produksi pedesaan, dalam hal ini yang terpenting adalah produksi

pertanian dan arah gejala harga yang diberikan kepada produk tersebut.

Pendapatan per kapita dapat diartikan pula sebagai penerimaan yang

diperoleh rumah tangga yang dapat mereka belanjakan untuk konsumsi yaitu yang

dikeluarkan untuk pembelian barang konsumtif dan jasa-jasa, yang dibutuhkan

rumah tangga bagi pemenuhan kebutuhan mereka (Sumardi, 1982:83) Dalam hal ini

pendapatan per kapita determinan potensi ekonomi yang penting selain luas Negara

serta penduduk suatu Negara (Todaro, 1998:25).

Rendahnya pertumbuhan pendapatan per kapita disuatu Negara berarti juga

mencerminkan rendahnya pertumbuhan GNP dan ini terjadi pada Negara-negara

yang sedang berkembang. Usaha-usaha untuk meningkatkan pendapatan per kapita

masyarakat, yaitu dengan cara menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai,

menggalakkan program kerja berencana dan yang terakhir transfer pemerintah

kepada golongan-golongan masyarakat yang berpendapatan rendah. Dengan

menggunakan pajak yang efektif untuk membiayai transfer tersebut sekaligus untuk

mengurangi perbedaan kemakmuran antar anggota masyarakat.

Pass dan Lowes (1994:444) menyebutkan pendapatan nasional adalah nilai

netto dari semua barang dan jasa (produk nasional) yang diproduksi setiap tahunnya

dalam suatu Negara. Pendapatan nasional dapat ditentukan dengan tiga cara

(37)

1. Cara produksi neto, output/produk dalam negari dari barang-barang dan

jasa-jasa yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan dalam suatu Negara. Total

output ini tidak mencakup nilai barang-barang dan jasa-jasa yang diimpor.

Untuk mendapatkan produk nasional bruto, produk domestik bruto harus

ditambah dengan pendapatan bersih yang diterima dari luar negeri.

2. Cara pendapatan, total pendapatan yang diterima penduduk suatu Negara

sebagai balas jasa dari produksi barang dan jasa yang sedang berlangsung.

Pendapatan ini disebut pendapatan faktor, sebab ditambahkan pada

faktor-faktor produksi, dan pembayaran transfer (transfer payment) tidak

dimasukkan dalam perhitungan, seperti tunjangan sakit, tunjangan

pengangguran dimana tidak ada barang atau jasa yang diterima sebagai

imbalannya.

3. Cara Pengeluaran, total pengeluaran domestik oleh penduduk suatu Negara

pada konsumen dan investasi barang-barang. Hal ini mencakup pengeluran

pada barang dan jasa jadi (tidak termasuk barang atau jasa setengah jadi) dan

termasuk barang-barang yang tidak terjual dan yang ditambahkan pada

persediaan (investasi persediaan).

Dewasa ini sumber pendapatan sebagian besar rumah tangga di pedesaan

tidak hanya dari satu sumber, melainkan dari beberapa sumber atau dapat dikatakan

rumah tangga melakukan diversifikasi pekerjaan atau memiliki aneka ragam sumber

pendapatan (Susilowati dkk, 2002).

Bagi rumah tangga pedesaan yang hanya menguasai faktor produksi tenaga

(38)

dimanfaatkan dan tingkat upah yang diterima. Kedua faktor ini merupakan fenomena

dari pasar tenaga kerja pedesaan. Kesempatan kerja pedesaan ditentukan oleh pola

produksi pertanian, produksi barang dan jasa non-pertanian di pedesaan,

pertumbuhan angkatan kerja dan mobilitas tenaga kerja pedesaan. Di sektor

pertanian, besarnya kesempatan kerja dipengaruhi oleh luas lahan pertanian,

produktivitas lahan, intensitas dan pola tanam, serta teknologi yang diterapkan.

Disektor non-pertanian kesempatan kerja ditentukan oleh volume produksi, teknologi

dan tingkat harga komoditi (Kasryno, 2000).

Pendapatan rumah tangga pertanian ditentukan oleh tingkat upah sebagai

penerimaan faktor produksi tenaga kerja. Nilai sewa tanah sebagai penerimaan dari

penguasaan asset produktif lahan pertanian. Dengan demikian tingkat pendapatan

rumah tangga pedesaan sangat dipengaruhi oleh tingkat penguasaan faktor produksi.

Menurut Malian dan Siregar (2000) pendapatan rumah petani pinggiran

perkotaan juga bersumber dari tiga kegiatan utama, yaitu kegiatan dalam usaha tani

sendiri (on-farm), kegiatan pertanian di luar usaha tani sendiri (off-farm) dan

kegiatan di luar sektor pertanian (non-farm). Untuk petani yang berada di pedesaan,

pendapatan yang bersumber dari kegiatan on-farm dan off-farm umumnya mencapai

lebih dari 90 persen.

2.1.5 Kemiskinan

Miskin adalah suatu keadaan seseorang yang mengalami kekurangan atau

tidak mampu memenuhi tingkat hidup yang paling rendah serta tidak mampu

(39)

dapat berupa konsumsi, kebebasan, hak mendapatkan sesuatu, menikmati hidup dan

lain-lain (Husen, 1993).

Menurut De Vos kemiskinan adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak

mampu mencapai salah satu tujuannya atau lebih, tujuan-tujuan yang dimaksud di

sini tentunya dapat diinterpretasikan sesuai persepsi seseorang. Dengan demikian,

kemiskinan dapat diartikan berdasarkan kondisi seseorang dalam mencapai

tujuan--tujuan yang diinginkan (Suparta, 2003).

Di lain pihak Friedmann (1979), mendefinisikan kemiskinan sebagai

ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuatan sosial. Basis

kekuatan sosial meliputi modal yang produktif atau asset (misalnya, tanah,

perumahan, peralatan, kesehatan dan lain-lain); sumber-sumber keuangan (income

dan kredit yang memadai); organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk

mencapai kepentingan bersama (partai politik, sindikat, koperasi dan lain-lain);

jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang-barang dan lain-lain;

pengetahuan dan keterampilan yang memadai; dan informasi yang berguna untuk

memajukan kehidupan anda.

De Vos (1991) juga memberikan pengertian kemiskinan berdasarkan

be-berapa pendekatan, yaitu batasan secara absolut dan batasan relatif. Kemiskinan

secara absolut memberikan pengertian keadaan seseorang dalam pemenuhan

kebutuhan minimum untuk hidup tanpa melihat kondisi lingkungan masyarakat.

Sedangkan pengertian kemiskinan relatif memberikan pengertian keadaan seseorang

bila dibandingkan dengan kondisi masyarakatnya sering berpindah-pindah lapangan

(40)

Dari segi sosial, kemiskinan penduduk dapat juga disebutkan sebagai suatu

kondisi sosial yang sangat rendah, seperti penyediaan fasilitas kesehatan yang tidak

mencukupi dan penerangan yang minim (Sumardi dan Dieter, 1985). Kondisi sosial

lain dari penduduk miskin biasanya dicirikan oleh keadaan rumah tangga dimana

jumlah anggota keluarga banyak, tingkat pendidikan kepala rumah tangga dan

anggota rumah tangga rendah, dan umumnya rumah tersebut berada di pedesaan

(BPS, 2002).

Dari segi ekonomi, rumah tangga miskin dicirikan oleh jenis mata

pencaharian pada sektor informal di pedesaan maupun di perkotaan, sering

berpindah-pindah mata pencaharian dari produktivitas yang rendah sehingga

menyebabkan pendapatan yang rendah. Karakteristik lain dari rumah tangga miskin

adalah kecenderungan untuk menyediakan sebagian besar dari anggaran rumah untuk

memenuhi kebutuhan pangan. Alokasi pendapatan yang cenderung hanya untuk

memenuhi kebutuhan pangan merupakan cerminan adanya kemiskinan rumah tangga

(Hasbullah, 1983).

Sekurang-kurangnya ada dua pendekatan untuk memberikan pengertian

tentang kemiskinan. Pertama adalah pendekatan absolut yang menekankan pada

pemenuhan kebutuhan fisik minimum, tolok ukur yang dipakai adalah kebutuhan

minimal yang harus dipenuhi oleh seseorang atau keluarga agar dapat

melangsungkan hidupnya pada taraf yang layak. Pendekatan kedua adalah

pendekatan relatif dimana kemiskinan ditentukan berdasarkan taraf hidupnya relatif

dalam masyarakat (Suparlan, 1984).

(41)

operasional kriteria kemiskinan itu ditetapkan dengan tolok ukur garis kemiskinan.

Penduduk miskin adalah golongan masyarakat yang berada di bawah garis

kemiskinan, sedangkan target pembangunan biasanya dirumuskan sebagai upaya

mengentaskan golongan masyarakat miskin agar mereka bisa berada di atas garis

kemiskinan tersebut.

Mubyarto (1990) mengungkapkan bahwa kemiskinan adalah manifestasi dari

keadaan keterbelakangan masyarakat, dimana melalui upaya-upaya pendidikan dan

modernisasi, kemiskinan dan keterbelakangan akan berkurang. Selanjutnya menurut

Esmara (1979), yang dimaksud dengan tingkat kemelaratan absolut lebih banyak

ditujukan terhadap tingkat kehidupan penduduk secara absolut, baik yang diukur

dengan pemakaian kalori, tingkat gizi, sandang, sanitasi, pendidikan, dan sebagainya.

Esmara menyimpulkan, bahwa dalam menentukan garis kemelaratan perlu

ditentukan suatu kebutuhan minimum yang memungkinkan orang hidup dengan

layak. Menurutnya, memang sukar menentukan batas kelayakan jumlah pendapatan,

pengeluaran konsumsi, kebutuhan kalori, dan sebagainya yang dapat digunakan

sebagai titik tolak perhitungan. Esmara menyebutkan batas kebutuhan minimum

tersebut sebagai "garis kemiskinan". Batas tersebut juga biasa disebut dengan "garis

kemiskinan” (Mubyarto,1990).

2.1.6 Indikator Kemiskinan

Ada dua pendekatan seseorang tergolong sebagai orang miskin. Pertama,

pendekatan absolut yang menekankan pada pemenuhan kebutuhan fisik manusia.

Tolok ukur yang dipakai adalah kebutuhan keluarga, dengan memperhatikan

(42)

melangsungkan kehidupannya secara sederhana, tetapi memadai sebagai warga

masyarakat yang layak. Termasuk didalamnya kebutuhan akan pangan, perumahan,

sandang, pemeliharaan kesehatan dan pendidikan anak. Menurut pendekatan ini

kemiskinan dipahami sebagai suatu keadaan dimana seseorang atau sekelompok

orang tidak mampu mencapai kebutuhan fisik pada tingkat minimal dari standar

kebutuhan yang sudah ditetapkan (Suparlan, 1993).

Kedua adalah pendekatan relatif yang mendefinisikan kemiskinan dalam

kaitannya dengan kebutuhan seseorang di dalam masyarakat. Tolok ukur yang

dipakai adalah tingkat pendapatan kepala keluarga per bulan atau per tahun.

Berdasarkan tolok ukur ini seseorang yang tergolong miskin ditentukan berdasarkan

kedudukan relatifnya dalam masyarakat dengan memperhatikan sejauhmana mutu

kehidupannya berbeda dibandingkan dengan rata-rata mutu kehidupan yang berlaku

secara keseluruhan. Menurut pendekatan relatif, kemiskinan sekelompok orang

dalam masyarakat yang hidup dalam keadaan melarat, terhina, dan tidak layak

disebabkan tidak meratanya pembagian pendapatan di dalam masyarakat.

Kemiskinan dapat juga ditentukan dengan cara membandingkan tingkat

pendapatan individu atau keluarga dengan pendapatan yang dibutuhkan untuk

memperoleh kebutuhan dasar minimum. Dengan demikian, tingkat pendapatan

minimum merupakan pembatas antara keadaan miskin dan tidak miskin. Konsep

kemiskinan seperti ini dikenal sebagai konsep kemiskinan absolut. Pada kondisi lain

bila tingkat pendapatan sudah mencapai tingkat pemenuhan kebutuhan dasar

minimum, tetapi masih jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan pendapatan

(43)

dibandingkan dengan keadaan masyarakat di sekitarnya. Konsep kemiskinan seperti

ini dikenal sebagai kemiskinan relatif (Esmara, 1986).

Dengan demikian, sekurang-kurangnya ada dua pendekatan yang digunakan

untuk pemahaman tentang kemiskinan, yaitu pendekatan absolut dan pendekatan

relatif. Pendekatan pertama adalah perspektif yang melihat kemiskinan secara

absolut yaitu berdasarkan garis absolut yang biasanya disebut dengan garis

kemiskinan (Syahrir, 1992). Pendekatan yang kedua adalah pendekatan relatif, yaitu

melihat kemiskinan itu berdasarkan lingkungan dan kondisi sosial masyarakat.

Pendekatan yang sering digunakan oleh para ahli ekonomi adalah pendekatan

dari segi garis kemiskinan (poverty line). Garis kemiskinan diartikan sebagai batas

kebutuhan minimum yang diperlukan seseorang atau rumah tangga untuk dapat

hidup dengan layak. Akan tetapi, diantara para ekonom terdapat perbedaan dalam

menetapkan tolok ukur yang digunakan untuk menetapkan garis kemiskinan tersebut.

Para pakar kemiskinan dan lembaga pemerintah mencoba menetapkan garis

kemiskinan tersebut berdasarkan alasan yang logis, yaitu berdasarkan kebutuhan

pokok (basic needs). Kebutuhan pokok (basic needs) merupakan kebutuhan

minimum yang diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia baik yang berupa

konsumsi individu seperti perumahan, pakaian, ataupun keperluan pelayanan sosial

seperti kebutuhan air minum, transportasi, kesehatan, dan pendidikan (Sumardi dan

Dieter, 1985).

Manullang (1971) membedakan kebutuhan pokok (basic needs) menjadi dua,

yaitu kebutuhan primer dan kebutuhan skunder. Kebutuhan primer adalah kebutuhan

(44)

perumahan. Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang diperlukan guna

melengkapi kebutuhan primer seperti alat-alat dan perabotan.

Sinaga dan White (1980) menyatakan bahwa kemiskinan dibedakan dalam

dua bentuk, yaitu kemiskinan alamiah dan kemiskinan buatan. Kemiskinan alamiah

merupakan kemiskinan yang timbul sebagai akibat sumberdaya yang langka

jumlahnya atau karena perkembangan teknologi yang rendah. Kondisi ini dapat

diatasi dengan pembangunan infrastruktur fisik, pemasukan modal serta

pengembangan teknologi baru. Kemiskinan buatan (tidak jauh bedanya dengan

kemiskinan struktural). Menurut mereka, bahwa kemiskinan lebih erat hubungannya

dengan perubahan-perubahan struktur ekonomi, teknologi dan pembangunan itu

sendiri. Karena kelembagaan yang ada membuat masyarakat tidak menguasai sarana

ekonomi dan fasilitas secara merata. Kemisknan buatan ini dapat diatasi, misalnya

dengan mencari strategi perombakan struktural kelembagaan serta hubungan sosial

ekonomi dalam masyarakat.

Untuk menghasilkan program yang benar-benar mengenai sasaran penduduk

miskin tersebut perlu dibuat pengelompokan penduduk miskin berdasarkan kriteria

yang jelas, yaitu melalui penetapan suatu batas kemiskinan yang sesuai dengan

keadaan kemiskinan di daerah itu sendiri. Penetapan batas kemiskinan tersebut

haruslah berdasarkan landasan teori yang kuat sehingga dapat digunakan sebagai

batas kemiskinan yang sesuai dengan keadaan kemiskinan di suatu lokasi dengan

kondisi dan waktu tertentu. Garis kemiskinan dapat pula digunakan untuk melihat

berapa luas kemiskinan di suatu daerah, yaitu dengan melihat persentase penduduk

(45)

dapat juga digunakan sebagai indikator keberhasilan pembangunan yang

dilaksanakan di suatu daerah (Todaro, 1994).

Menurut BPS (2007), keluarga yang sama sekali tidak mempunyai

kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok atau orang yang mempunyai sumber

mata pencaharian akan tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga yang layak

bagi kemanusiaan dengan ciri-ciri atau kriteria sebagai berikut :

(i) Pembelanjaan rendah atau berada di bawah garis kemiskinan, yaitu kurang dari

Rp.175.324 untuk masyarakat perkotaan, dan Rp.131.256 untuk masyarakat

pedesaan per orang per bulan di luar kebutuhan non pangan;

(ii) Tingkat pendidikan pada umumnya rendah dan tidak ada keterampilan;

(iii) Tidak memiliki tempat tinggal yang layak huni, termasuk tidak memiliki

MCK;

(iv) Pemilikan harta sangat terbatas jumlah atau nilainya;

(v) Hubungan sosial terbatas, belum banyak terlibat dalam kegiatan

kemasyarakatan; dan

(vi) Akses informasi (koran, radio, televisi, dan internet) terbatas.

Menurut Sajogyo (1977), garis kemiskinan berdasarkan kebutuhan minimum

rumah tangga adalah senilai 2.140 kg beras setiap orang per tahun di pedesaan dan

360 kg beras setiap orang per tahun di daerah kota. Penetapan garis kemiskinan ini

yang setara dengan nilai beras dimaksudkan ini untuk dapat membandingkan tingkat

hidup antar waktu dan perbedaan harga kebutuhan pokok antar wilayah. Pendapat

Sajogyo ini pada masa berikutnya mendapat kritikan dari Both dan Sundrum, karena

dalam kenyataannya beras tidak merupakan bahan kebutuhan pokok penduduk

(46)

Selain itu, taksiran Sajogyo masih mengundang kritik karena digunakannya

data konsumsi rumah tangga dan mengalihkannya menjadi data dalam arti per

kapita, yaitu dengan membaginya dengan ukuran rumah tangga rata-rata di setiap

daerah. Di sini dianggap ukuran rumah tangga dalam setiap kelompok pengeluaran

masyarakat adalah sama sedangkan pada kenyataannya tidak demikian (Suparta,

1997).

Dalam literatur studi kemiskinan didokumentasikan bahwa ukuran garis

kemiskinan berdasarkan kemampuan pengeluaran per kapita untuk memenuhi suatu

tingkat minimum kebutuhan kalori mula-mula dikemukakan oleh Den Daker dan

Rath pada tahun 1971 dalam studi mereka di India. Ukuran garis kemiskinan ini

kemudian diterapkan di Indonesia oleh BPS (Arief, 1993).

Di Indonesia untuk pertama kali BPS (tahun 1984) menetapkan garis

kemiskinan berdasarkan nilai makanan dalam rupiah setara dengan 2.100 kalori per

orang setiap hari ditambah dengan kebutuhan non pangan yang utama seperti

sandang, pangan, transportasi, dan pendidikan.

Secara garis besar ada dua cara orang memandang kemiskinan. Sebagian orang

berpendapat bahwa kemiskinan adalah suatu proses, sedangkan sebagian lagi

memandang kemiskinan sebagai suatu akibat atau fenomena di dalam masyarakat.

Sebagai suatu proses, kemiskinan mencerminkan kegagalan suatu sistem masyarakat

dalam mengalokasikan sumber daya dan dana secara adil kepada anggota

masyarakatnya. Dengan demikian, kemiskinan dapat dipandang pula sebagai salah

satu akibat dari kegagalan kelembagaan pasar dalam mengalokasikan sumber daya

(47)

kemiskinan struktural. Di dalam konsep kemiskinan nisbi dinyatakan bahwa garis

kemiskinan berubah-ubah menurut kondisi perekonomian yang bersangkutan.

Pandangan tentang kemiskinan sebagai suatu fenomena atau gejala dari suatu

masyarakat melahirkan konsep kemiskinan mutlak. Dalam kemiskinan mutlak, suatu

perekonomian mempunyai patokan garis kemiskinan yang tetap sepanjang waktu.

Misalkan garis kemiskinan suatu perekonomian dinyatakan konsumsi kalori, yaitu

2.100 kalori per hari. Jika nilai tersebut dianggap konstan sepanjang waktu, maka

kemiskinan yang terjadi di perekonomian tersebut adalah kemiskinan mutlak.

Tolok ukur kemiskinan dari BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana

Nasional) dikategorikan ke dalam kelompok Pra KS 1 (Pra Keluarga Sejahtera Tahap

Pertama) disebut miskin, bila lima indikator di bawah ini tidak dipenuhi oleh

keluarga tersebut, yakni :

(i) Anggota keluarga melaksanakan ibadah agama;

(ii) Pada umumnya anggota keluarga makan dua kali sehari atau lebih;

(iii) Anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah,

belanja/sekolah, dan bepergian;

(iv) Bagian lantai yang terluas bukan dari tanah; dan

(v) Anak sakit atau pasangan usia subur ingin ber KB dibawa ke sarana

kesehatan.

Departemen Sosial menetapkan bahwa seseorang individu berada di bawah

Garis Fakir Miskin (GFM) apabila tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok minimal,

yaitu sejumlah rupiah untuk membayar makanan setara 2.100 kkal sehari ditambah

(48)

pengeluaran minimum untuk pemenuhan kebutuhan bukan makanan itulah yang

disebut Garis Kemiskinan.

2.2 Penelitian Terdahulu

De Vos (1991) dengan mengunakan konsep Expended Linier Expenditure

System dimana jumlah anak dianggap sebagai faktor pembeda (differentiating factor)

terhadap pengeluaran subsisten. Hasil estimasi i semuanya bernilai positif dan

konsisten dengan konsep pengeluaran subsisten. Total pengeluaran subsisten (Γi)

dari berbagai jenis pengeluaran (makanan, pakaian, perumahan, pengeluaran lain

yang bersifat tetap, pembangunan & rekreasi). Dengan bertambahnya jumlah anak.

Total pengeluaran subsisten (Γi) atau garis kemiskinan untuk masing-masing

kelompok anggota keluarga, yaitu kelompok dengan 1 hingga 6 anggota keluarga

(AK) ternyata cukup bervariasi yaitu masing-masing 12.355, 16.489, 24.355, 28.476,

32.184, dan 33.912. Demikian pula koefisien dari masing-masing pengeluaran

semuanya bertanda positif (sejalan dengan teori konsumsi Keynes) dan t hitung

lebih besar dari t tabel.

Darlina (1994) mengemukakan bahwa pendapatan yang diperoleh oleh dosen

yang mengajar saja dan dosen yang berpendapatan selain mengajar digunakan

sebagian besar untuk konsumsi bukan makanan. Secara keseluruhan konsumsi yang

dilakukan dosen yang berpenghasilan hanya dari mengajar lebih besar daripada

konsumsi yang dilakukan dosen yang berpendapatan selain mengajar. Hasil

penelitiannya ditunjukkan dengan elastisitas antara kedua kelompok objek. Dosen

(49)

sedangkan dosen yang berpendapatan selain mengajar memiliki elastisitas sebesar

0,5383.

Keban (1995) mencoba menggambarkan profil kemiskinan di Nusa Tenggara

Timur dengan menganalisis rumah tangga berdasarkan data Susenas 1983. Di dalam

analisisnya dinyatakan bahwa suatu keluarga tergolong miskin kalau ratio

pengeluaran untuk makanan terhadap total pengeluaran melebihi 75 persen. Keban

juga mengatakan bahwa criteria ini sifatnya multivariate yang disebut “Logit

Regression” atau Logit. Temuannya tentang penyebab kemiskinan adalah perbedaan

letak kabupaten, letak di kota dan didesa, tingkat pendidikan, lapangan pekerjaan dan

jumlah anggota keluarga.

Sementara Masbar (1996) mengukur garis kemiskinan di Kodya Banda Aceh

dengan menggunakan konsep Extended Linier Expenditure System dimana jumlah

anak dianggap sebagai faktor pembeda terhadap pengeluaran subsisten. Total

pengeluaran subsisten (Γi) atau garis kemiskinan untuk masing-masing kelompok

anggota keluarga dengan 1 hingga 6 orang anak ternyata cukup bervariasi. Garis

kemiskinan untuk masing-masing kelompok anggota keluarga itu adalah Rp.

102.977,78, Rp. 101.112,13, Rp. 166.950,68, Rp.164.803,69, Rp. 158.271,11 dan

Rp. 210.239,39. Dengan demikian semakin banyak anggota keluarga itu semakin

besar pula garis kemiskinannya. Namun demikian tingkat kemiskinan per kapita

menjadi lebih rendah karena pendapatan relatif kecil itu dibagi dengan anggota yang

lebih banyak.

BPS Daerah Istimewa Aceh (1999), Peta Konsumsi Pangan di Indonesia”

menyatakan, secara Nasional diakui bahwa penduduk Aceh menduduki rangking

(50)

konsumsi protein nabati masih rendah. Disini berarti belum adanya

penganekaragaman konsumsi pangan, hal ini sudah terpola sejak dahulu.

Susanti (2000) mengemukakan bahwa perkembangan rata-rata pengeluaran

konsumsi rumah tangga di Provinsi Aceh periode 1986-1998 sebesar 5,2 persen per

tahun. Pertumbuhan PDRB membawa pengaruh yang positif terhadap pengeluaran

konsumsi rumah tangga masyarakat di Provinsi Aceh. Hal tersebut ditunjukkan

dengan hasil regresi yang didapat C = 409,160 +0,61897PDRB. Sehingga

membuktikan bahwa setiap perubahan dari pendapatan memberi efek pada konsumsi.

Anwar (2001) yang meneliti tentang dampak krisis moneter terhadap

konsumsi masyarakat Provinsi Aceh menyimpulkan bahwa konsumsi dipengaruhi

oleh pendapatan per kapita dan inflasi sebesar 98,5%. Namun koefisien inflasi

secara parsial berhubungan dengan inflasi dengan koefisien -0,00256%. Untuk

memperlihatkan dampak krisis digunakan variabel dummy, karena penelitiannya

dimasukkan variabel inflasi, maka data yang digunakan merupakan data atas harga

berlaku.

Isnawati (2001) yang meneliti tentang dampak krisis ekonomi terhadap

konsumsi dan tabungan masyarakat Provinsi Aceh menyimpulkan bahwa dampak

dari krisis ekonomi terhadap konsumsi sebesar 78,05%. Sedangkan dampak krisis

terhadap tabungan mencapai 97,6%.

Suparta (2003) penelitiannya juga menggunakan konsep Extended Linear

Expenditure System di desa IDT pada Kabupaten Aceh Besar dengan jumlah

tanggungan keluarga sebagai faktor pembeda. Hasil penelitian ini juga disebutkan

Gambar

Gambar 1: Preferensi Konsumen Selama Konsumsi   Periode Pertama dan Kedua
Gambar 1: Peta Wilayah Sampel Menurut Cluster
Tabel 3.1 Lokasi dan Jumlah Sampel Menurut Cluster
Tabel 4.1 Jumlah Penduduk dan Keluarga Miskin di Desa Matang Lada dan Teupin Kuyun
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui hubungan (korelasi) antara pendapatan kepala rumah tangga, jumlah anggota rumah tangga, pendidikan kepala rumah tangga, lama berumah tangga/usia perkawinan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor tingkat pendapatan, tingkat pendidikan ibu rumah tangga, jumlah anggota rumah tangga, dan umur perkawinan

Adakah perbedaan pola konsumsi rumah tangga kaya dan miskin di

Berdasarkan kajian penelitian terdahulu maka dapat disimpulkan bahwa variabel-variabel seperti konsumsi pemerintah, pendapatan rumah tangga, jumlah penduduk, dan aset

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor tingkat pendapatan, tingkat pendidikan ibu rumah tangga, jumlah anggota rumah tangga, dan umur perkawinan

Hasil penelitian yang menunjukkan tidak adanya pengaruh pengeluaran konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi ini sangat kontraditif

Penelitian lain menemukan pengaruh negatif faktor ekonomi yaitu pendapatan terhadap konsumsi ikan pada rumah tangga ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh (Onumah

H 1 : tidak semua dari b i (i = 1, 2, 3, ..., k) adalah nol, (pendapatan kepala rumah tangga, jumlah anggota rumah tangga, pendidikan kepala rumah tangga, lama berumah tangga dan