SKRIPSI
PENGARUH STRUKTUR GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN
PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI
OLEH: DINI KRISTI
100503073
PROGRAM STUDI STRATA 1 DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya
bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Good Corporate Governance dan Ukuran Perusahaan terhadap Kinerja Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI ” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi Universitas
Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusaahaan atau lembaga,
dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau
dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan
ilmiah.
Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam
skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, 25 Juni 2014
Yang Membuat Pernyataan,
ABSTRAK
PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN
MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh struktur Good Corporate Governance yang terdiri dari kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, komisaris indenpenden dan komite audit serta pengaruh ukuran perusahaan terhadap kinerja keuangan (yang diukur menggunakan EVA/Economic Value Added). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2010-2013. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 40 perusahaan yang diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan regresi linier berganda untuk pengujian hipotesis.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara bersama-sama struktur good corporate governance dan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan yang diukur melalui EVA (Economic Value Added).. Uji parsial menunjukkan bahwa struktur Good Corporate Governance yaitu kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan yang diukur melalui EVA (Economic Value Added). Sedangkan struktur komisaris indenpenden dan komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
ABSTRACT
THE EFFECT OF GOOD CORPORATE GOVERNANCE AND FIRM SIZE TO FIRM PERFORMANCE ON MANUFACTURING COMPANIES LISTED IN
IDX
The purpose of this research is to examine the effect of Good Corporate Governance structure such as management ownership, institutional ownership, independent comittioners and audit comittees; and the effect of firm size on firm performance (measured by EVA/Economic Value Added). The populations in this study were manufacturing companies listed in Indonesia Stock Exchange (IDX) during the years 2010-2013. This study uses 40 sample companies based on the purposive sampling method. The ananlitical method used in descriptive quantitative by using multiple linear regression to test the hypothesis.
The results showed that together Good Corporate Governance structure and firm size affect the firm performance significantly. Partial test showed that Good Corporate Governance structure which the management ownership and institutional ownership have significant affect to firm performance. While, the independent committioners and audit committee do not affect to firm performance. The firm size have significant affect to firm performance.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah Bapa atas kasih, berkat dan
anugerahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Skripsi ini
berjudul “Pengaruh Struktur Good Corporate Governance dan Ukuran Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI”. Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Departemen Akuntansi Universitas Sumatera Utara.
Dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat
dukungan berupa pengarahan, bimbingan bantuan dan kerja sama dari banyak pihak.
Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada:
1. Bapak Prof.Dr. Azar Maksum, M.Ec.Ac, Ak., CA., selaku dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan selaku Dosen
Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran
dalam mengarahkan dan membimbing penulis untuk menyelesaikan
skripsi ini.
2. Bapak Dr.Syafruddin Ginting Sugihen, M.A.F.I.S., Ak., selaku Ketua
Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Sumatera Utara .
3. Bapak Drs. Hotmal Ja’far, M.M., Ak., selaku Sekretaris Departemen
selaku Ketua Penguji yang telah memberikan kritik dan saran untuk
kesempurnaan skripsi ini.
4. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si., Ak., selaku Ketua Program Studi S1
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan
selaku Dosen Penguji yang telah memberikan kritik dan saran untuk
kesempurnaan skripsi ini.
5. Ibu Dra. Mutia Ismail, M.M., Ak., selaku Sekretaris Program studi
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
6. Teristimewa kepada keluarga penulis, kedua orang tua (Drs. Seman
Singarimbun dan Ernawati br. Sitepu), kakak penulis ,Meliasari
Singarimbun dan abang penulis, Enda Sumana Singarimbun untuk cinta
kasih yang tak terbatas dan dukungan tiada henti.
7. Teman-teman KTB penulis Kak Henny, Rini, Jeshika, Vevi dan Ruth
yang banyak memberikan dukungan doa dan motivasi. Adik-adik
kelompok kecil yang terkasih Ingrid, Grace, Artasya, Tri Desli, Defi dan
Rohana yang telah banyak mengingatkan dan memberikan dukungan doa,
dan semangat. Sahabat-sahabat seperjuangan di akuntansi Sarah, Betty
Katrin, dan Ronauli yang saling menopang dalam melewati masa-masa
susah dan senang selama perkuliahan hingga menyelesaikan skripsi ini.
Serta seluruh teman – teman mahasiswa S1-Akuntansi Stambuk 2010
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam skripsi ini, untuk
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan skripsi
ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi banyak
pihak
Medan, 26 Juni 2014 Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8
1.3.1 Tujuan Penelitian ... 8
1.3.2 Manfaat Penelitian ... 9
1.4 Batasan Penelitian ... 9
1.5 Sistematika Penulisan ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11
2.1 Landasan Teori ... 11
2.1.1 Kinerja Keuangan Perusahaan ... 11
2.1.2 Good Corporate Governance ... 14
2.1.2.1 Pengertian Good Corporate Governance ... 15
2.1.2.2 Tujuan dan Manfaat Good Corporate Governance .... 19
2.1.2.3Stuktur Corporate Governance ... 20
2.1.2.3.1 Kepemilikan manajerial ... 21
2.1.2.3.2 Kepemilikan Institusional ... 22
2.1.2.3.3 Komisaris Independen ... 22
2.1.2.3.4 Komite Audit ... 23
2.1.2.4 Ukuran Perusahaan... 24
2.2 Penelitian Terdahulu ... 25
2.3 Kerangka Konseptual ... 30
2.3.1 Pengaruh Struktur GCG terhadap Kinerja Perusahaan ... 30
2.3.1.1 Kepemilikan manajerial dan Kinerja Perusahaan ... 32
2.3.1.2 Kepemilikan Institusional dan Kinerja Perusahaan ... 32
2.3.1.3 Komisaris Indenpenden dan Kinerja Perusahaan ... 33
2.3.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap kinerja Perusahaan ... 34
2.4 Hipotesis Penelitian ... 35
BAB III METODE PENELITIAN ... 36
3.1 Jenis Penelitian ... 36
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 36
3.3 Definisi Operasional ... 36
3.4 Populasi dan Sampel Penelitian ... 42
3.5 Jenis dan Sumber Data ... 43
3.6 Metode Pengumpulan Data ... 44
3.7 Teknis Analisis ... 44
3.6.1 Uji Statistik Deskriptif ... 44
3.6.2 Pengujian Asumsi Klasik ... 45
3.6.2.1 Uji Normalitas ... 45
3.6.2.2 Uji Multikolinearitas ... 45
3.6.2.4Uji Autokorelasi ... 46
3.6.2.4 Uji Heteroskedastisitas ... 46
3.6.3Uji Hipotesis ... 47
3.6.3.1 Uji Parsial (t Test) ... 48
3.8.3.2 Uji Simultan (F Test) ... 48
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 50
4.1 Data Penelitian ... 50
4.2Analisis Hasil Penelitian ... 50
4.2.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 50
4.2.2 Pengujian Asumsi Klasik ... 52
4.2.2.1 Uji Normalitas ... 52
4.2.2.2 Uji Multikolinearitas ... 53
4.2.2.3 Uji Heteroskedastisitas ... 54
4.2.2.4 Uji Autokorelasi ... 56
4.2.3 Uji Hipotesis ... 57
4.2.3.2 Uji Simultan (F Test) ... 58
4.2.3.3 Uji Parsial (t Test) ... 59
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian ... 60
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 66
5.1 Kesimpulan ... 66
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 27
Tabel 3.1 Langkah- langkah Perhitungan EVA ... 40
Tabel 3.2 Ringkasan Definisi Operasional dan Pengukurannya ... 40
Tabel 3.3 Kriteria Uji Autokorelasi ... 47
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif ... 51
Tabel 4.2 Uji Normalitas = Kolmogorov-Smirnov ... 53
Tabel 4.3 Uji Multikolinearitas ... 54
Tabel 4.4 Autokorelasi ... 56
Tabel 4.5 Hasil Uji Hipotesis ... 57
Tabel 4.6 Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji F).. ... 58
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual ... 30
ABSTRAK
PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN
MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh struktur Good Corporate Governance yang terdiri dari kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, komisaris indenpenden dan komite audit serta pengaruh ukuran perusahaan terhadap kinerja keuangan (yang diukur menggunakan EVA/Economic Value Added). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2010-2013. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 40 perusahaan yang diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan regresi linier berganda untuk pengujian hipotesis.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara bersama-sama struktur good corporate governance dan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan yang diukur melalui EVA (Economic Value Added).. Uji parsial menunjukkan bahwa struktur Good Corporate Governance yaitu kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan yang diukur melalui EVA (Economic Value Added). Sedangkan struktur komisaris indenpenden dan komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
ABSTRACT
THE EFFECT OF GOOD CORPORATE GOVERNANCE AND FIRM SIZE TO FIRM PERFORMANCE ON MANUFACTURING COMPANIES LISTED IN
IDX
The purpose of this research is to examine the effect of Good Corporate Governance structure such as management ownership, institutional ownership, independent comittioners and audit comittees; and the effect of firm size on firm performance (measured by EVA/Economic Value Added). The populations in this study were manufacturing companies listed in Indonesia Stock Exchange (IDX) during the years 2010-2013. This study uses 40 sample companies based on the purposive sampling method. The ananlitical method used in descriptive quantitative by using multiple linear regression to test the hypothesis.
The results showed that together Good Corporate Governance structure and firm size affect the firm performance significantly. Partial test showed that Good Corporate Governance structure which the management ownership and institutional ownership have significant affect to firm performance. While, the independent committioners and audit committee do not affect to firm performance. The firm size have significant affect to firm performance.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Salah satu tujuan didirikannya perusahaan adalah untuk mensejahterakan
pemegang saham.Kesejahteraan dapat ditingkatkan melalui kinerja perusahaan yang
baik.Kinerja perusahaan yang baik menjadi suatu pertimbangan investor untuk
menanamkan investasinya.Dibutuhkan informasi yangdapat memberikan gambaran
dalam menilai dan memprediksi kemampuan perusahaan memberikan tingkat
pengembalian bagi investor.Informasi tersebut dapat diperoleh dari laporan keuangan
perusahaan.Penyajian laporan keuangan merupakan kewajiban manajemen
perusahaan sebagai wujud tanggung jawab sebagai pengelola perusahaan.Manajemen
sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi dan prospek
perusahaan dibanding pemegang saham.Tetapi informasi yang disampaikan sering
kali tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Hal iniakan mempengaruhi pengambilan
keputusan oleh pemegang saham.Adanya asimetri informasi antara pemegang saham
dan manajemen perusahaan tersebut menimbulkan masalah Corporate Governance.
Dari berbagai hasil pengkajian yang telah dilakukan oleh beberapa lembaga
penelitian, menunjukkan rendahnya pemahaman terhadap arti penting dan
strategisnya penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good
Corporate Governance) oleh para pelaku bisnis karena anggapan bahwa Corporate
Governance adalah suatu bentuk kepatuhan (conformance) terhadap peraturan dan
kinerja.Penelitian yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB)
menyimpulkan penyebab krisis ekonomi di negara-negara Asia, termasuk Indonesia,
adalah (1) mekanisme pengawasan dewan komisaris (board of director) dan komite
audit (audit committee) suatu perusahaan tidak berfungsi dengan efektif dalam
melindungi kepentingan pemegang saham, (2) pengelolaan perusahaan yang
belumprofessional (Girsang,2010).
Dapat dilihat dari beberapa kasus yang terjadi di Indonesia mengenai rendahnya
praktik Corporate Governanceyang mulai mengemuka sejak krisis tahun 1998 dan
diikuti banyaknya “fraud” yang dilakukan baik oleh perusahaan BUMN maupun
perusahaan pihak swasta seperti PT. Kimia Farma dan Lippo Bank menunjukkan
rendahnya praktik Corporate Governance di Indonesia. Dampak dari kurangnya
penerapan prinsip-prinsip GCG sangat luas, tidak hanya secara perseorangan atau
kelembagaan tetapi juga terhadap stabilitas ekonomi, seperti yang terjadi di Indonesia
saat ini.
Disisi lain,diberlakukannya ASEAN-China Free Trade Agreement( ACAFTA) di
awal tahun 2010 menyebabkan berubahnya peta persaingan perdagangan di
negara-negara ASEAN menjadi lebih kompetitif. Dengan diberlakukannya perjanjian ini,
maka produksi barang-barang asal China akan membanjiri pasar Indonesia,
mengingat barang produksi China relatif murah dan berdaya saing secara mutu sangat
berpengaruh terhadap perkembangan industri dalam negeri yang akan mengalami
kesulitan dalam pemasarannya.
Berdasarkan inventarisasi Komisi VI DPR (Riandi dan Hasan, 2011)ada sepuluh
tekstil dan produk tekstil (TPT), industri makanan dan minuman, industri petrokimia,
industri peralatan dan mesin pertanian, industri alas kaki, industri fiber sintetik,
industri elektronik (termasuk kabel dan peralatan listrik), industri permesinan,
industri rancang bangun serta industri baja. Dengan adanya fenomena ini, Indonesia
diharapkan mampu bertahan dan memiliki nilai lebih dalam menghadapi persaingan
dengan China, salah satu caranya adalah dengan penerapan tata kelola perusahaan
yang baik (Good Corporate Governance).
Menurut The Indonesian Institute for Corporate Governance, Corporate
Govenance didefinisikan sebagai serangkaian mekanisme untuk mengarahkan dan
mengendalikan suatu perusahaan agar operasional berjalan sesuai dengan harapan
stakeholder.Corporate Governance merupakan konsep yang mengatur keselarasan
hubungan organ-organ perusahaan, antara pemegang saham, dewan komisaris dan
dewan direksi yang mengelola perusahaan.Hubungan ini diatur melalui
prinsip-prinsip Corporate Governance antara lain accountability, transparency,
responsibility, fairness dan indenpendency.Penerapan Corporate Governance secara
konkret memiliki beberapa tujuan, antara lain memudahkan akses terhadap investasi
domestik maupun asing, mendapatkan cost of capital yang lebih murah, memberikan
keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja keuangan perusahaan,
meningkatkan keyakinan dan kepercayaan stakeholder terhadap perusahaan,
melindungi direksi dan komisaris dari tuntutan hukum serta melindungi hak
pemegang saham minoritas ( Purwaningtyas, 2011).
Dalam hubungannya dengan kinerja keuangan, penerapan GCG dapat
Corporate Governance bukan hanya menjadi kewajiban tetapi menjadi sebuah
kebutuhan yang menjembatani hubungan pihak-pihak yang berkepentingan dalam
perusahaan.Permasalahan yang kerap terjadi padaCorporate Governance
dilatarbelakangi adanya teori agensi ( agency theory) yang menekankan pentingnya
pemilik perusahaan (principal) menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada
professional (agent) yang lebih mengerti menjalankan suatu usaha. Namun, konflik
timbul karena adanya perbedaan kepentingan antara pemegang saham sebagai
principal dengan manajer pengelola sebagai agen.Asimetri antara manajemen dengan
pemilik memberikan kesempatan kepada manajer untuk berlaku oportunis untuk
memperoleh keuntungan pribadi.Misalnya, dengan tidak menyampaikan laporan
keuangan sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya untuk mendapatkan bonus
pribadi.Manajer dapat malakukan manajemen laba untuk menyesatkan pemilik
mengenaikinerja ekonomi perusahaan (Bukhori, 2012).Banyak manajer keuangan
yang melakukan manajemen laba supaya perusahaan dinilai memiliki kinerja
keuangan yang baik sehingga dapat menarik investor untuk melakukan investasi
dalam perusahaan.
Implementasi GCG diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan nilai tambah
perusahaan.Kinerja perusahaan meningkat berdampak pada kesejahteraan pihak
manajemen perusahaan dan pemegang saham (shareholders).Karena prinsip-prinsip
dasar dari good corporate governance pada dasarnya memiliki tujuan untuk
memberikan kemajuan terhadap kinerja suatu perusahaan.
Corporate Governance merupakan konsep yang diajukan demi peningkatan
menjamin akuntabilitas manajemen terhadap stakeholder dengan mendasarkan pada
kerangka peraturan.Ada empat mekanisme Corporate Governance yang sering
dipakai dalam berbagai penelitian terhadap Corporate Governance yang bertujuan
untuk mengurangi konflik keagenan yaitu komite audit, kepemilikan manajerial,
kepemilikan institusional dan komisaris independen.Menurut Jensen dan Meckling
(1976), kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional adalah dua mekanisme
Corporate Governance utama yang membantu menyelesaikan masalah
keagenan.Kepemilikan manajerial ikut menentukan metode akuntansi yang
digunakan dan manajemen bertanggung jawab terhadap operasional perusahaan
secara langsung. Sementara kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk
mengendalikan pihak manajemen melalui proses monitoring secara efektif sehingga
mengurangi pihak manajemen melakukan manajermen laba ( Boediono, 2005).
Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi
dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali,
serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi
kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak semata-mata demi
kepentingan perusahaan (Gusti,2011).Dewan komisaris merupakan inti dari
pelaksanaan Good Corporate Governanceyang ditugaskan untuk menjamin
pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola
perusahaan serta terlaksananya akuntabilitas (Kartikasari, 2011).
Selain penerapan Corporate Governance, investor dan kreditor perlu
mempertimbangkan karakteristik perusahaan yang mempengaruhi kinerja
diperhatikan.Ukuran perusahaan merupakan hal yang penting dalam proses pelaporan
laporan keuangan. Ukuran perusahaan dalam penelitian ini diukur dari seberapa besar
asset yang dimiliki oleh perusahaan.Aset yang dimiliki perusahaan merujuk pada
besarnya hak dan kewajiban serta pemodalan perusahaan.Perusahaan dengan asset
yang besar biasanya memiliki daya tarik yang lebih bagi masyarakat. Hal ini
menyebabkan perusahaan akan lebih berhati-hati dalam melaporkan laporan
keuangannya. Perusahaan diharapkan akan selalu menjaga stabilitas kinerja keuangan
mereka.
Beberapa peneliti menemukan tidak adanya hubungan antara Corporate
Governancedan ukuran perusahaan terhadap kinerja perusahaan seperti pada
penelitian Bukhori (2012) yang meneliti pengaruh Corporate Governance dan ukuran
perusahaan terhadap kinerja perusahaan. Penelitian ini menyimpulkan tidak terdapat
pengaruh yang signifikan antara mekanisme Internal Corporate Governanceterhadap
kinerja perusahaan.Demikian pula ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan
terhadap kinerja perusahaan.
Sedangkan beberapa penelitian menemukan adanya hubungan yang positif
penerapan mekanisme Corporate Governance terhadap kinerja perusahaan, seperti
pada penelitian Rahmayanti (2011) yang menguji pengaruh mekanisme Corporate
Governanceterhadap manajemen laba (earnings management) dan kinerja
perusahaan. Hasil penelitian dapat disimpulkan pengaruh mekanisme Corporate
Governanceterhadap kinerja perusahaan (reported performance) yang diukur dengan
profitabilitas (EBIT/Asset) menunjukkan variabel institutional ownership, kualitas
perusahaan dan ukuran dewan komisaris berpengaruh signifikan negatif terhadap
kinerja perusahaan. Dan penelitian ini didukung oleh Amba (2013) yang meneliti
pengaruh Corporate Governance terhadap kinerja perusahaan, menemukan variabel
CEO duality, komisaris indenpenden dan leverage berpengaruh negatif terhadap
kinerja perusahaan sementara komite audit dan kepemilikan institusional berpengaruh
positif terhadap kinerja keuangan.
Karena terdapat variasi mekanisme Corporate Governance yang digunakan dalam
penelitian maka peneliti tertarik untuk menguji kembali teori yang telah ada.Sampel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur.Industri
manufaktur merupakan penopang utama industri di sebuah Negara ( Bapepam, 2002).
Penelitian terhadap perusahaan manufaktur dinilai penting karena perusahaan
manufaktur merupakan jumlah emiten terbesar dibandingkan jumlah emiten yang
di-listing dalam BEI yaitu sebanyak 136(tahun 2012).Hal ini menunjukkan manufaktur
memiliki pengaruh yang signifikan dalam perdagangan dalam BEI, sehingga
pemilihan perusahaan manufaktur ini dapat mempresentasikan kondisi
perusahaan-perusahaan publik di Indonesia.Berdasarkan penjabaran diatas, peneliti
akanmelakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Stuktur Corporate Governance dan Ukuran Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Manufaktur yang terdaftar pada BEI”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah struktur Corporate Governance (yang terdiri dari: kepemilikan
manajerial,kepemilikan institusional, komisaris indenpenden, dan komite audit)
berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan pada perusahaan manufaktur
yang terdaftar di BEI?
2. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan
pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan penelitian
Berdasarkan pokok permasalahan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui pengaruh dari struktur Corporate Governance yang terdiri
darikepemilikan manajerial,kepemilikan institusional, komisaris indenpenden,
dan komite audit terhadap kinerja keuangan perusahaan.
2. Mengetahui pengaruh ukuran perusahaan terhadap kinerja keuangan
perusahaan.
1.3.2 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu melengkapi
penelitian-penelitian terdahulu, mengenai pengaruh dalam penerapan Corporate
Governance terhadap kinerja keuangan perusahaan.Disamping itu, penelitian
ini juga diharapkan mampu menambah pengetahuan atau dijadikan refrensi
terhadap penelitian serupa pada penelitian selanjutnya.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan menjadi refrensi
kepada manajemen untuk lebih memperhatikan penerapan praktik Corporate
Governance dalam menjalankan perusahaan.
1.4 Batasan Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan batasan masalah agar permasalahan
dapat dibahas dengan lebih rinci dan memberikan pemahaman yang lebih jelas, maka
batasan masalah dalam penelitian ini hanya pada masalah struktur Corporate
Governance, ukuran perusahaan, dan kinerja keuangan pada perusahaan manufaktur
yang terdaftar dalam BEI pada tahun 2010 sampai 2013 serta telah melaporkan
laporan keuangan tahunannya.
1.5 Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai penelitian, maka disusunlah
suatu sistematika penulisan yang berisi:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan
manfaat penelitian, batasan penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini berisikan landasan teori dan tinjauan literature penelitian
sebelumnya, kerangka pemikiran dan hipotesis yang digunakan.
Bab ini akan menjelaskan data-data yang digunakan dalam penelitian ini,
pendekatan penelitian, jenis penelitian, populasi dan sampel, teknik
pengambilan data dan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian
ini.
BAB IV ANALISIS DAN HASIL
Bab ini memaparkan hasil penelitian yang berisi seputar proses pengolahan
data, hasil temuan dan analisis pengolahan data terhadap variabel.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisikan kesimpulan dari hasil penelitian, keterbatasan penelitian
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Kinerja Keuangan Perusahaan
Perusahaan merupakan suatu bentuk entitas yang secara sistematis menjalankan
fungsi danoperasionalnya untuk mencapai tujuan tertentu.Tujuan tersebut merupakan
harapan yang ingin dicapai oleh setiap pihak yang berkepentingan (stakeholder)
dalam perusahaan tersebut.Kinerja merupakan gambaran dari tingkat pencapaian hasil
atas pelaksanaan suatu kegiatan operasional.Kinerja keuangan perusahaan merupakan
salah sartu alat ukur untuk mengukur kualitas prusahaan dan memperlihatkan
kemampuan perusahaan untuk memberikan keuntungan dari asset, ekuitas maupun
hutang.
Pengukuran kinerja adalah suatu proses penilaian pelaksanaan tugas
(performance) setiap bagian atau unit dalam suatu organisasi atau perusahaaan sesuai
dengan standar kinerja atau tujuan yang telah ditetapkan(Mulyadi, 2001).Pengukuran
kinerja perusahaan berfungsi untuk memotivasi manajer dan karyawan untuk
mencapai tujuan perusahaan yaitu profit yang optimal, serta sebagai alat monitoring
untuk mencegah perilaku menyimpang oleh masing-masing pihak yang
berkepentingan (Sabrina,2010).Dengan demikian pengukuran kinerja perusahaan
diharapkan memberikan pengaruhpositifterhadap kinerja perusahaan.Pengukuran
kinerja merupakan salah satu bentuk kewajiban dan tanggungjawab perusahaan dalam
dengan realisasinya (Hardikasari,2011). Laporan keuangan merupakan hasil dari
proses akuntansi yang digunakan sebagai alat komunikasi antar pihak yang
berkepentingan dalam perusahaan. Dalam hubungannya dengan kinerja, laporan
keuangan sering digunakan sebagai dasar pengukuran kinerja perusahaan.Laporan
keuangan adalah suatu cerminan dari kondisi perusahaan karena memuat informasi
mengenai posisi keuangan, laporan kinerja manajemen, laporan arus kas dan
perubahan posisi keuangan perusahaan.
Analisis terhadap kinerja perusahaan pada umumnya dilakukan dengan
menganalisis laporan keuangan, yang mencakup perbandingan kinerja perusahaan
dengan perusahaan lain dalam industri yang sama dan mengevaluasi kecenderungan
keuangan perusahaan sepanjang waktu (Mulyadi 2001:416). Dengan mengukur
kinerja, dapat diukur seberapa efisien dan efektif seorang manajer atau sebuah
perusahaan itu dalam mencapai tujuannya.
Kriteria yang dipakai dalam mengukur kinerja keuangan berbeda-beda pada
setiap perusahaan yang didasari oleh tujuan dan kepentingan pihak-pihak yang
terkait. Terdapat berbagai cara dalam mengukur kinerja keuangan perusahaan seperti
Return On Equity (ROE) dan Return On Asset ( ROA). ROE merupakan rasio yang
digunakan untuk mengukur kinerja manajemen dalam mengelola ekuitas yang
dimilikinya untuk menghasilkan laba bersih perusahaan.Semakin besar ROEsemakin
besar keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan terhadap setiap ekuitas yang
dimiliki (Akroman, 2009). ROA menunjukkan kemampuan total asset yang dimiliki
perusahaan dalam mengasilkan laba operasi. Hasil pengembalian total aktiva
menghasilkan laba. Semakin tinggi laba yang dihasilkan, semakin efektif kinerja
perusahaan (Napitupulu, 2009).
Menurut Poeradisastra (2001) penghitungan kinerja perusahaan berdasarkan rasio
ROA dan ROE lebih mengandalkan laba semu perusahaan dan mengabaikan adanya
biaya modal dalam perusahaan, sehingga tidak memberikan informasi yang
sebenarnya tentang kinerja keuangan perusahaan. Oleh karena itu, dibutuhkan alat
pengukur kinerja keuangan lainnya yang dapat menggambarkan kondisi kinerja
keuangan perusahaan dengan lebih akurat.Penilaian kinerja perusahaan dapat
dilakukan juga dengan menggunakan ukuran nilai tambah ekonomi (Economic Value
Added-EVA).EVA merupakan suatu konsep yang memfokuskan perusahaan untuk
menciptakan nilai tambah perusahaan dan menilai kinerja perusahaan secara adil
dengan menggunakan ukuran tertimbang (weighted) dari struktur modal yang ada
(Widayanto 1993).
Dengan penghitungan EVA diharapkan dapat diperoleh hasil perhitungan pada
upaya penciptaan nilai perusahaan (Creating a Firms value) yang lebih realistis.
Menurut Kiryanto(1997:125) Nilai bisa diartikan “nilai guna, daya guna maupun
benefits yang dinikmati oleh stakeholders”. Hal ini disebabkan karena EVA dihitung
berdasarkan kepentingan kreditur dan terutama para pemegang saham dan bukan
berdasar nilai buku yang bersifat historis.
EVA dapat dihitung dengan mengurangi laba operasional setelah pajak (NOPAT)
dengan biaya modal (Cost of Capital) yang dikeluarkan oleh perusahaan.
Keterangan:
NOPAT (Net Operating Profit After Tax) = EBIT- Tax
WACC = biaya modal rata-tara tertimbang (Weighted Average Cost of CapitaL)
Untuk mengetahui suatu perusahaan itu mengalami penambahan nilai ekonomi
(Economic Added Value- EVA) atau tidak dapat dilihat berdasarkan kriteria sebagai
berikut:
• Jika EVA> 0, menunjukkan bahwa perusahaan berhasil menciptakan
nilai (create value) bagi pemilik modal sehingga menandakan bahwa
kinerja keuangan perusahaan tersebut baik. Semakin besar EVA yang
dihasilkan, semakin besar tingkat pengembalian investasi dari yang
diinvestasikan oleh pemegang saham.
• Jika EVA< 0, menunjukkan tidak terjadinya proses penambahan nilai
ekonomis bagi perusahaan sehingga mengindikasikan kinerja keuangan
perusahaan buruk. Kondisi ini menunjukkan laba yang tersedia tidak
memenuhi harapan para penyandang dana terutama pemegang saham
untuk mendapatkan hasil dari investasinya.
• Jika EVA = 0, menunjukkan posisi impas karena semua laba yang
diperoleh digunakan untuk membayar kewajiban kepada penyandang
dana baik kreditur dan pemegang saham (Widayanto, 1993).
2.1.2 Corporate Governance
Corporate Governance atau yang dikenal sebagai tata kelola perusahaan
pihak pengelolaan perusahaan yang menimbulkan masalah agensi (agency
problem).Manajer sebagai pengelola memiliki lebih banyak informasi mengenai
kinerja perusahaan dan prospek perusahaan dimasa depan dibandingkan pemilik
perusahaan (pemegang saham). Manajer berkewajiban memberikan informasi kepada
pemilik, yang dapat dilakukan dengan pengungkapan informasi melalui laporan
keuangan. Ketidakseimbangan penguasaan informasi akan memicu timbulnya suatu
kondisi yang disebut asimetri informasi ( information asimetry).
Adanya asimetri informasi antara pemilik (principal) dengan manajer (agent)
memberikan kesempatan pada manajer untuk melakukan kecurangan (fraud) dalam
penyajian laporan keuangan yang menyesatkan pemilik (pemegang saham) mengenai
kinerja perusahaan (Ujiyantho,2007) . Melihat permasalahan tersebut, para pemegang
saham merasa perlu untuk melakukan kegiatan pengawasan terhadap
manajemen.Sistem pemonitoran dan pengontrolan yang diterapkan dalam perusahaan
tersebut dikenal dengan istilah tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate
Governance).
2.1.2.1Pengertian Corporate Governance
Corporate Governance merupakan konsep yang diajukan demi
peningkatan kinerja perusahaan melalui supervisi atau monitoring kinerja
manajemen dan menjamin akuntabilitas manajemen terhadapstakeholder
dengan mendasarkan pada kerangka peraturan. Penerapan Corporate
keberhasilan perusahaan dalam menetapkan kebijakan strategis dalam
menjalankan praktik bisnisnya.
IICG (2012) mendefinisikan Good Corporate Governancesebagai
struktur, sistem, dan proses yang digunakan oleh organ-organ perusahaan
sebagai upaya untuk memberikan nilai tambah perusahaan secara
berkesinambungan dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan
kepentingan stakeholderlainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan
norma yang berlaku.
Organization of Economic Coorporation and Development (OECD)
(2004) mendefinisikan:Corporate Governance sebagai seperangkat sistem yang
mengarahkan dan mengendalikan perusahaan. Dimana, sistem tersebut berupa
peraturan yang menetapkan hubungan antara hak dan kewajiban para pemegang
saham, manajerial dan pihak lain yang terlibat dalam perusahaan.
Sir Adrian Cadbury (Global Corporate Governance Forum - World
Bank,2000)menjelaskan Corporate Governance sebagai berikut:
Corporate Governance is concerned with holding the balance between economic and social goals and between individual and communal goals. The Corporate Governance framework is there to encourage the efficient use of resources and equally to require accountability for the stewardship of those resources. The aim is to align as nearly as possible the interests of individuals, corporations and society. Penjelasan ini menekankan bahwa Corporate Governance merupakan
keseimbangan antara tujuan ekonomi dan tujuan sosial serta tujuan individu dan
tujuankomunitas.Disamping itu juga menekankan akuntabilitas dalam
pengelolaan segalasumber daya yang memperhatikan seluruh kepentingan, baik
Keberadaan struktur dalam organisasi lebih menekankan bagaimana
aktivitas dalam organisasi dibagi, diorganisir dan dikordinasi (Stoner et al
dalam Arifin,2005).Corporate Governance, sebagai suatu struktur memfasilitasi
penentuan sasaran-sasaran dari suatu perusahaan dan sebagai sarana untuk
melakukan teknik monitoring kinerja perusahaan. Struktur
CorporateGovernanceharus didesain untuk mendukung jalannya aktivitas
organisasi secara bertanggungjawab dan terkendali dengan mengacu pada
prinsip-prinsip GCG (Tranparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi,
Kewajaran dan Kesetaraan ).
Lima prinsip tersebut digunakan untuk mengukur seberapa jauh
penerapan Corporate Governance dalam suatu perusahaan (Komite Nasional
Kebijakan Governance, 2012).
1. Transparansi ( Transparancy)
Transparansi berhubungan dengan penyediaan informasi materiil perusahaan
yang memadai, akurat dan tepat waktu, antara lain meliputi situasi keuangan,
kinerja perusahaan, pemegang saham dan manajemen perusahaan serta faktor
risiko yang mungkin timbul.
2. Akuntabilitas (Accountability)
Prinsip akuntabilitas berkaitan dengan kejelasan fungsi, struktur, sistem dan
pertanggungjawaban setiap pemangku kepentingan dalam perusahaan, sesuai
dengan wewenang yang dilimpahkan dalam pelaksanaan tanggung jawab
kontrol yang efektif berdasarkan distribusi kekuasaan baik antara pemilik
(pemegang saham) dengan manajerial (pengelola).
3. Responsibilitas (Responsibility)
Responsibilitas terkait dengan kewajiban perusahaan dalam mematuhi peraturan
dan hukum yang berlaku, serta melaksanakan tanggung jawab kepada
masyarakat dan lingkungan. Bentuk tanggung jawab dapat dikatakan sebagai
kontribusi perusahaan terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan dengan cara
manajemen dampak (minimisasi dampak negatif dan maksimisasi dampak
positif) terhadap seluruh pemangku kepentingannya.
4. Indenpendensi ( Indenpedency)
Independency (kemandirian) berhubungan dengan pengelolaan perusahaan
secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh atautekanan dari
pihak manajemen yang tidak sesuai dengan peraturan
danperundangan-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yangsehat.
5. Kewajaran dan Kesetaraan ( Fairnes)
Prinsip ini menekankan pada jaminan perlindungan atas hak pemegang saham
minoritas dan perlakuan yang wajar terhadap semua investor.Praktik kewajaran
dan kesetaraan ini juga mencakup adanya sistem dari aturan dan hukum yang
jelas serta berlaku untuk semua pihak.
2.1.2.2 Tujuan dan Manfaat Corporate Governance
Penerapan Good Corporate Governanceakan memberikan banyak manfaat
langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan. Menurut IICG (2013)
berbagai manfaat yang diperoleh dengan penerapan Corporate Governance
antara lain sebagai berikut:
• Meningkatkan kinerja perusahaan karena proses pengambilan keputusan
menjadi lebih baik sehingga menghasilkan keputusan yang optimal,
meninggkatkan efisiensi serta lebih meningkatkan pelayanan kepada
stakeholder.
• Good Corporate Governanceakan meminimalkan tindakan penyalahgunaan
wewenang oleh pihak manajerial perusahaan. Hal ini akan menekan
kemungkinan kerugian (agency cost) bagi perusahaan maupun pihak yang
berkepentingan lainnya akibat tindakan tersebut.
• Memaksimalkan nilai perusahaan dan pemegang saham dengan
meningkatkan transparansi, akuntabilitas, reabilitas, tanggung jawab dan
keadilan dalam rangka memperkuat posisi perusahaan. Peningkatan nilai
saham akan meningkatkan kepercayaan investor untuk meningkatkan
investasi mereka. Bagi pemegang saham, penerapan Good Corporate
Governance dengan sendirinya akan meningkatkan nilai dividen yang
mereka terima.
• Penerapan Corporate Governanceakan meningkatkan kualitas laporan
keuangan perusahan. Manajemen akan lebih hati-hati dan lebih transparan
dalam menyajikan laporan keuangan karena adanya kewajiban untuk
• Praktik Good Corporate Governance juga memperhatikan kepentingan
karyawan sebagai bagian dari stakeholder sehingga motivasi dan kepuasan
kerja karyawan juga akan meningkat. Hal ini juga akan meningkatkan
produktivitas dan rasa kepemilikan (sense of belonging) karyawan terhadap
perusahaan.
Berdasarkan manfaat dan keuntungan yang diberikan dalam penerapan
Good Corporate Governance, maka penting bagi para pelaku usaha untuk
menerapkan Corporate Governance agar dapat mencapai pertumbuhan yang
berkualitas dan berkesinambungan.
2.1.2.3 StrukturCorporate Governance
Pengimplementasian Good Corporate Governancemembutuhkan suatu
bentuk mekanisme (Corporate GovernanceMechanism) yang dapat
dipertanggungjawabkan.Struktur Corporate Governance merupakan aturan,
prosedur, hubungan yang jelas antara pihak yang mengambil keputusan dengan
pihak yang mengawasi pengelolaan dalam pelaksanaan keputusan yang diambil.
Terdapat dua pengendalian dalam penerapan Corporate
Governance,yaitu pengendali internal dan pengendali eksternal (Sutedi,
2012).Pengendali internal perusahaan terdiri dari dewan komisaris dan dan
dewan direksi.Pengendali eksternal meliputi kontrol yang melibatkan semua
perangkat yang ada diluar perusahaan. Perangkat tersebut meliputi pasar uang
dan pasar modal yang bersaing, perangkat hukum dan perundang-undangan
terbuka serta konsumen yang aktif dan sadar akan hak dan kewajibannya.
Pengendali eksternal ini lebih berperan untuk mendisiplinkan manajer
dibandingkan pengendali internal, karena lebih mempunyai kekuatan dan
pengaruh.
Indikator-indikator strukturCorporate Governance yang digunakan
dalam penelitian ini mencakup kepemilikan manajerial, kepemilikan
institusional, komisaris indenpenden dan komite audit.
2.1.2.3.1 Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan manajerial dalam perusahaan akan menentukan
kebijakan dan strategi yang akan diambil dalam menentukan
pencapaian tujuan dalam perusahaan. Secara teoritis, jika kepemilikan
manajemen rendah maka terjadinya perilaku oportunistik manajemen
semakin besar (Jao dan Gagaring, 2011).Kepemilikan manajerial dapat
mengurangi masalah agensi karena kinerja manajer akan lebih baik
seiring dengan peningkatan saham manajer dalam perusahaan.
Manajer akan berusaha untuk memperbaiki kinerja perusahaan
sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.
Kepemilikan saham manajerial akan membantu menyelaraskan
kepentingan antara manajer dan pemegang saham, sehingga manjer
merasakan secara langsung manfaat dari keputusan yang diambil serta
ikut menanggung risiko dalam sebagai konsekuensi dari pengambilan
keputusan yang salah (Sabrina,2010).
Kepemilikan saham instititusional adalah kepemilikan saham
oleh pemerintah, institusi keuangan, institusi berbadan hukum,
institusi luar negeri dan institusi lainnya.Adanya kepemilikan saham
oleh investor institusionalakan mendorong peningkatan pengawasan
yang lebih optimal terhadap kinerja manejemen, karena kepemilikan
saham mewakili suatu sumber kekuasaaan yang dapat digunakan
untuk mendukung atau sebaliknya kinerja manajemen (Sabrina, 2010).
Keberadaan investor institusional dapat menunjukkan
mekanisme Corporate Governance yang kuat karena dapat memonitor
kinerja manajemen perusahaan.
2.1.2.3.3Komisaris Indenpenden
Komisaris indenpenden adalah anggota komisaris yamg tidak
terlibat secara langsung dalam perusahaan dan tidak mewakili
pemegang saham.Dewan komisaris wajib menjalankan tugas dan
tanggung jawabnya secara indenpenden, dalam arti dapat menjalankan
tugas secara objektif dan bebas dari tekanan pihak-pihak yang
berkepentingan, termasuk dalam hubungan satu sama lain maupun
hubungan terhadap direksi.
Peran dewan komisaris indenpenden diharapkan akan
meminimalisir masalah agensi yang timbul antara direksi dan
pemegang saham (Nababan,2013). Dewan komisaris memiliki peran
bahwa para manajer benar-benar meningkatkan kinerja perusahaan
sebagai bagian dari pencapaian tujuan perusahaan.
2.1.2.3.4 Komite Audit
Komite Audit merupakan salah satu dari komponen GCG yang
berperan penting dalam system pelaporan keuangan yaitu dengan
mengawasi partisipasi manajemen dan auditor indenpenden dalam
proses pelaporan keuangan.
Keputusan Menteri BUMN Nomor: Kep-103/MBU/2002
mendefinisikan komite audit adalah suatu badan yang dibentuk oleh
dewan komisaris yang bekerja secara kolektif dan berfungsi membantu
komisaris dalam menjalankan tugasnya. Komite audit bersifat
indenpenden baik dalam pelaksanaan tugasnya maupun dalam
pelaporan serta bertanggung jawab langsung kepada komisaris.
Menurut IKAI(Ikatan Komite Audit Indonesia) tahun 2004,
tugas pokok dari komite audit adalah membantu dewan komisaris
dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja perusahaan. Hal ini
berkaitan dengan review sistem pengendalian pihak internal
perusahaan, memastikan kualitas laporan keuangan, dan meningkatkan
efektivitas fungsi audit.
Laporan keuangan merupakan suatu produk dari manajemen
sebagai pihak internal perusahaan yang kemudian diverifikasi oleh
eksternal auditor.Dalam pola hubungan tersebut, komite audit
auditor. Tugas komite audit juga erat kaitannya dengan penelahaan
terhadap risiko perusahaan dan ketaatan terhadap peraturan.
2.1.3Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan suatu skala yang menentukan besar kecilnya
suatu perusahaan. Ukuran perusahaan mencerminkan seberapa besar total asset yang
digunakan dalam perusahaan. Total asset yang dimiliki perusahaan menggambarkan
pemodalan, serta hak dan kewajiban yang dimilikinya (Bukhori, 2012). Semakin
besar ukuran perusahaan, semakin besardana yang dikelola dan semakin kompleks
pengelolaannya.
Perusahaan besar cenderung mendapat perhatian yang lebih oleh masyarakat.
Dengan demikian, perusahaan dituntut untuk menjaga stabilitas perusahaan dan
meningkatkan kreadibilitasnya dalam menyajikan laporan keuangan karena
perusahaan besar memiliki basis pengguna laporan keuangan yang lebih besar( Jao
dan Gagaring, 2011). Untuk menjaga stabilitas dan kreadibilitasnya, perusahaan tentu
saja akan berusaha menjaga dan terus meningkatkan kinerjanya
2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai pengaruh Corporate Governancedengan kinerja perusahaan
telah banyak diteliti terlebih dahulu. Beberapa penelitian sebelumya dapat dilihat
sebagai berikut:
Sekaredi (2011), penelitian dilakukan dengan metode purposive sample.Sampel
terdaftar sebagai perusahan LQ45 periode tahun 2005 sampai dengan 2009. Hasil
penilitian ini menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif
signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan, dewan komisaris independen
berpengaruh negatif signifikan, dewan komisaris berpengaruh positif tidak signifikan,
dewan direksi berpengaruh positif tidak signifikan terhadap pasar sedangkan terhadap
kinerja operasional berpengaruh negatif signifikan, dan komite audit berpengaruh
negatif tidak signifikan terhadap pasar sedangkan berdasarkan operasional
perusahaan berpengaruh negatif signifikan.
Penelitian Gurbuz et al.(2010) merumuskan hubungan antara Corporate
Governance terhadap kinerja perusahaan.Dalam penelitiannya tersebut, Gurbuz et al.
(2010) menggunakan kepemilikan institusional sebagai variabel indenpenden dan
ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol.Hasil penelitian ini menunjukkan
kepemilikan institusional dan ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kinerja perusahaan (ROA).
Sabrina (2010) yang meneliti hubungan antara Corporate Governance dan
struktur perusahaan terhadap kinerja perusahaan.Penelitian ini menggunakan 42
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.Hasil penelitian ini menunjukkan
adanya hubungan positif antara Corporate Governance terhadap kinerja perusahaan
(ROE) sedangkan pada struktur kepemilikan tidak terdapat hubungan yang signifikan
antara kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional terhadap kinerja
perusahaan.
Penelitian serupa juga dilakukan oleh Bukhori (2012), penelitian dilakukan
di BEI tahun 2010.Sebanyak 160 perusahaan digunakan sebagai sampel dengan
menggunakan analisis regresi berganda.Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat
pengaruh yang signifikan antara mekanisme internal Corporate Governanceterhadap
kinerja perusahaan.Demikian pula ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan
terhadap kinerja perusahaan.
Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian Situmorang (2012) yang
meneliti pengaruh GCG terhadap nilai dan kinerja perusahaan pada perusahaan
manufaktur yang terdaftar pada BEI.Dari hasil penelitian ditemukan bahwa secara
parsial dan simultan kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional tidak
berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.
Amba(2013) juga meneliti pengaruh Corporate Governance terhadap kinerja
keuangan perusahaan.Penelitian ini menggunakan variabel komisaris yang
merangkap (CEO duality), komite audit, komisaris indenpenden, kepemilikan
manajerial, struktur kepemilikan, investor institusional.Dari hasil penelitian
ditemukan bahwa Corporate Governance berpengaruh terhadap kinerja keuangan
perusahaan.Komisaris yang merangkap (CEO duality), komisaris indenpenden dan
leverage berpengaruh negatif terhadapkinerja perusahaan sementara komite audit dan
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu NO Peneliti Judul Penelitian Variabel
Penelitian
Hasil Penelitian
1 Sekaredi yang terdaftar di LQ45 tahun
performance with a perspective on institutional
dependen: Kinerja Perusahaan (ROA) Governance dan struktur
Dependen: Kinerja Perusahaan perusahaan (ROE) , Struktur
Pengaruh Good Corporate mekanisme Internal Corporate
Dependen:
Kinerja Keuangan Komite audit dan kepemilikan terdaftar di BEI.
Variabel
Dependen: Nilai Perusahaan dan Kinerja Perusahaan
2.3 Kerangka Konseptual
Berdasarkan latar belakang masalah, tinjauan pustaka dan hasil penelitian
terdahulu maka kerangka konseptual dalam penelitian ini digambarkan sebagai
berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa kinerja keruangan perusahaan
dipengaruhi oleh kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komisaris
indenpenden, komite audit dan ukuran perusahaan.
2.3.1 Pengaruh struktur Good Corporate Governance terhadap Kinerja perusahaan
Teori keagenan menjelaskan bagaimana pihak-pihak tang terlibat dalam
perusahaan berprilaku. Pada dasarnya pihak-pihak yang terlibat memiliki
kepentingan yang berbeda karena adanya pemisahan antara kepemilikan dan
Corporate Governance (X1)
KINERJA
KEUANGAN
( EVA)
(Y)
Komite Audit
Kepemilikan Manajerial Kepemilikan Institusional Komisaris Indenpenden
pengendali perusahaan.Perbedaaan kepentingan tersebut menimbulkan suatu
konflik yang potensial dalam perusahaan.Corporate Governance merupakan
sistem tata kelola perusahaan yang di dasarkan pada teori keagenan yang
bertujuan untuk mengurangi kepentingan pemegang saham dan stakeholder
lainnya.Adanya good corporate governance manajer dapat diawasi dengan baik
dan agency cost dapat dikurangi (Sabrina, 2010).
Kinerja keuangan perusahaan ditentukan sejauh mana keseriusan perusahaan
dalam menerapkan corporate governance. Perusahaan yang menerapkan
corporate governance yang baik memiliki kinerja operasional perusahaan yang
baik dan di ikuuti oleh kinerja pasar yang baik yang terlihat dari nilai saham
perusahaan (Sabrina,2010). Menurut Niu (2006) dalam Praptiningsih (2009),
struktur corporate governance yang kuat akan menekan perilaku opurtunistik
yang dilakukan manajemen sehingga akan meningkatkan kualitas dan keandalan
penyajian laporan keuangan. Menurut Kusumawati dan Riyanto (2005) dalam
Trisnantari (2010) semakin baik implementasi corporate governance dalam
perusahaan akan meningkatkan nilai pasar perusahaan, hal ini dapat dilihat dari
peningkatan harga saham yang dibayar oleh investor. Hasil penelitian Silveira dan
Barros (2006) menemukan adanya pengaruh yang signifikan penerapan corporate
governance terhadap nilai peruasahaan.Gunarsih (2003) menemukan bahwa
corporate governance yang diproksikan dengan struktur kepemilikan
2.3.1.1 Kepemilikan Manajerial dan Kinerja Perusahaan
Menurut Jansen dan Meckling (19760 dalam Trisnantari (2010) besarnya
kepemilikan saham oleh manajerial perusahaan akan mempengaruhi pengambilan
keputusan oleh manajer sebagai pemegang saham. Kepemilikan ini akan
mensejajarkan kepentingan manajemen dan pemegang saham.
Hasil penelitian sebelumnya menyatakan bahwa masalah keagenan dapat
dikontrol dengan meningkatkan kepemilikan manajerial (sartono, 2001).Dengan
meningkatnya kepemilikan manajerial, pihak manajemen akan mengutamakan
kepentingan pemegang saham karena mereka merupakan bagian dari pemegang
saham.Menurut Trisnansari (2010), manajer akan lebih termotivasi untuk
meningkatkan kesejahteraan pemegang saham dimana hal ini akan berpengaruh
terhadap peningkatan nilai perusahaan.
2.3.1.2 Kepemilikan Institusional dan Kinerja Perusahaan
Kepemilikan institusonal bertindak sebagai pihak yang memonitor
pengelolaan perusahaan dan penegendali tindakan manajemen perusahaan.
Investor institusional akanmemantau secara professional perkembangan investasi
yang ditanamkan oleh pemegang saham. Hal ini memperkecil kemungkinan
manajemen untuk melakukan kecurangan sehingga dapat menyelaraskan
kepentingan manajemen dan kepentingan stakeholder lainnya untuk
meningkatkan kinerja perusahaan.
Kepemilikan Institusional dalam proporsi yang besar akan mempengaruhi
kinerja keuangan perusahaan. Menurut Slovin dan Sushka (1993) dalam
menjadi alat monitoring yang efektif. Semakin besar kepemilikan institusional
semakin besar kontrol eksternal terhadap perusahaan sehingga dapat mengurangi
agency cost.
2.3.1.3 Komisaris Indenpenden dan Kinerja Perusahaan
Komisaris indenpenden merupakan faktor penting yang mempengaruhi
manajemen dalam menyajikan laporan keuangan perusahaan.Hal tersebut sejalan
dengan pernyataan Mizruchi (1983) dalam Hapsoro (2006) bahwa dewan
komisaris merupakan “the ultimate center of control”.Semakin besar fungsi
service dan kontrol dewan komisaris semakin baik kinerja perusahaan karena
semakin banyak ahli dalam memberikan masukan terhadap pelaksanaan
operasional perusahaan.Coller dan Gregory (1999) menyatakan semakin besar
dewan komisaris semakin mudah melakukan monitoring atas kegiatan
perusahaan.
2.3.1.4 Komite audit dan Kinerja Perusahaan
Komite audit bertugas mengawasi dan menjaga kreadibilitas penyajian
laporan keuangan serta berperan penting dalam menjamin terlaksananya
corporate governance yang baik. Keberadaan komite audit menjadi penghubung
antara manajemen perusahaan dengan stakeholder lainnya dalam penyampaian
informasi keuangan perusahaan. Hasil penelitian sebelumnya menemukan bahwa
keberadaan komite audit berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan (Black
et al, 2003;Daryatno, 2004; Veronica dan Yanivi, 2004; Siallagan dan
Machfoedz, 2006). Hal ini membuktikan bahwa komite audit dapat meningkatkan
H1: Struktur Corporate Governance yang terdiri dari kepemilikan manajerial,
kepemilikan institusional, komisaris indenpenden, komite audit
berpengaruh terhadap kinerja keuangan pada perusahaan manufaktur
yang terdaftar di BEI.
2.3.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Kinerja Perusahaan
Ukuran perusahaan dalam penelitian ini dilihat dari banyaknya asset yang
dimiliki perusahaan.Darmawati 92004) dalam Bukhori (2012) menyatakan bahwa
perusahaan besar memiliki kekuatan financial yang lebih besar dalam menunjang
kinerja dalam perusahaan, tetapi perusahaan dihadapkan pada masalah keagenan
yang lebih besar.
Lin (2006); Wreight et.al (2009) menemukan bahwa ukuran perusahaan
berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.Hal ini menunjukkan perusahaan besar
lebih menjanjikan kinerja yang baik.Penelitian Moses(1987) dalam Dewi (2010)
menemukan bahwa perusahaan besar mendapatkan perhatian lebih dari
pemerintah maupun masyarakat umum sehingga mengharuskan manajemen untuk
meningkatkan kinerja perusahaan dan mengurangi resiko penyalahgunaan
wewenang oleh manajemen.
2.4 Hipotesis Penelitian
Hipotesis menyatakan dugaan sementara hubungan antara variabel independen
dengan variabel dependen. Berdasarkan teori dan kerangka pemikiran diatas, maka
dalam penelitian ini ditentukan hipotesis alternatifsebagai berikut:
H1: Struktur Corporate Governance yang terdiri dari kepemilikan manajerial,
kepemilikan institusional, komisaris indenpenden, komite audit
berpengaruh terhadap kinerja keuangan pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEI.
H2: Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional yang bertujuan untuk menguji
dan mencari hubungan antarvariabel.Peneliti mencari menjelaskan suatu hubungan,
memperkenalkan dan menguji berdasarkan teori yang telah ada.
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah asosiatif
kausal,yaitu“Penelitian asosiatif adalah menghubungkan dua variabel atau lebih”
Erlina (2008:34).Menurut Sugiyono (2007:30) desain kausal adalah penelitian yang
bertujuan menganalisis hubungan sebab akibat antara variabel independen (variabel
yang mempengaruhi) dan variabel dependen (variabel yang dipengaruhi).Jadi,
penelitian asosiatif kausal adalah penelitian yang menghubungkan antara dua variabel
atau lebih untuk menganalisis hubungan sebab akibat antara variabel - variabel
tersebut.
3.2Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) yang di peroleh dari
situs
modal terbesar di Indonesia.Penelitian ini dilakukan mulai dari April 2014 sampai
3.3 Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan penjelasan definisi dari variabel yang dipilih oleh
peneliti.Definisi operasional memberi batasan atau arti suatu variabel dengan
menguraikan hal yang harus dikerjakan oleh peneliti untuk mengukur variabel
tersebut. Adapun variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Variabel Independen
Variabel independen merupakan variabel bebas yang tidak dipengaruhi
variabel lain. Variabel independen sering disebut sebagai variabel stimulus, variabel
prediktor, variabel antesenden, variabel eksogen.Variabel bebas merupakan variabel
yang menjadi sebab berubahnya atau timbulnya variabel terikat (Idrus, 2009).
Adapun variabel independen dalam penelitian ini adalah:
1. Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan manajerial merupakan persentase kepemilikan saham yang
dimiliki oleh manajemen perusahaan (Sudibyo, 2013). Peningkatan kepemilikan
manajemen memiliki pengaruh terhadap peningkatan kinerja perusahaan.Variabel ini
digunakan untuk mengetahui manfaat kepemilikan manajerial dalam mengurangi
konflik keagenan. Adapun kepemilikan manajerial diukur melalui:
Kepemilikan Manajerial = ����� ℎ��ℎ������ �������� ��ℎ�����������
����� ������ ℎ��� ���� �������� x 100 %
2. Kepemilikan Institusional
Kepemilikan Institusional merupakan jumlah persentase hak suara yang
dimiliki oleh institusi.Kepemilikan institusi yang dimaksud disini adalah pemerintah,
meningkatkan pengawasan terhadap perilaku manajemen untuk memanfaatkan
discretionary accruals dalam laporan keuangan. Dalam penelitian ini, kepemilikan
institusional diukur sebagai berikut:
Kepemilikan Institusional = ����� ℎ��ℎ������ ������� ����������
����� ����� ��ℎ������ ������� x 100%
3. Komisaris Independen
Komisaris independen adalah anggota komisaris yang tidak memiliki
hubungan bisnis yang bersifat subtansial dengan perusahaan yang dapat
mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak indenpenden. Proporsi dewan
komisaris diukur dengan:
Proporsi Dewan Komisaris Indenpenden=��������� ���� ������� ���� ���� ������ ℎ���
������������ ����� ��������� x 100%
4. Komite Audit
Komite audit adalah badan pengawas yang dibentuk oleh dewan komisaris
yang memiliki otoritas yang indenpenden dalam menjalankan fungsinya dan bertangung
jawab secara langsung terhadap dewan komisaris. Komite audit ini bermanfaat untuk
melaksanakan pekerjaan dewan komisaris secara lebih rinci termasuk untuk
meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan tata kelola perusahaan (Corporate
Governance) oleh manajemen. Dalam penelitian ini, pengaruh komite audit terhadap
kinerja keuangan perusahaan diukur dari banyaknya anggota komite audit yang
5. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan adalah suatu skala pengkalsifikasian besar kecil
perusahaan melalui berbagai cara, antara lain total aktiva, log size, nilai pasar saham
dan lain-lain (Dewi,2010).Machfoeds (1994) dalam Dewi (2010) menglasifikasikan
ukuran perusahaan menjadi tiga bagian yaitu, perusahaan besar (large firm),
perusahaan menengah (medium-size),dan perusahaan kecil (small firm). Penentuan
ukuran perusahaan ini berdasarkankepada total asset perusahaan. Dalam penelitian
ini, total aset dipilih sebagai proksi dari variabel ukuran perusahaan karena total aset
lebih stabil dan representatif dalam menunjukkan ukuran perusahaan dibandingkan
dengan kapitalisasi pasar dan penjualan karena sangat dipengaruhi oleh supply dan
demand. Karena dispersi untuk total asset tinggi maka digunakan logaritma natural
untuk mengantisipasinya (Sudarmadji dan Sudarto, 2007).
Size = Ln Total Assets
b. Variabel Dependen
Variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi
atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2007). Disebut varibel
terikat karena keberadaan variabel ini dipengaruhi variabel bebas/variabel independen
dan keberadan variabel ini sebagai variabel yang dijelaskan dalam topik penelitian
(Prasetyo dan Jannah, 2008). Variabel dependen juga sering disebut sebagai variable
output, variable criteria, variable konsekuen, variable endogen. Variabel dependen
dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan perusahaan.Kinerja adalah pencapaian
dengan suatu standar (Sari, 2010).Pengukuran kinerja ini bertujuan untuk mengetahui
efektivitas operasional perusahaan.Kinerja keuangan dalam penelitian ini diukur
dengan menggunakan nilai tambah ekonomi(Economic Value Added – EVA).
EVA merupakan suatu alat analisis keuangan untuk menilai profitabilitas yang
realistis dari operasi perusahaan dan EVA menggunakan biaya modal dalam
perhitungannya. Selain itu, EVA juga mempertimbangkan dengan adil harapan para
penyandang dana melalui perhitungan biaya modal tertimbang (Weighted Average
Cost of Capital – WACC) dari struktur modal perusahaan. Menurut David Young S
dan O,Byrne Stephen (2001) langkah-langkah perhitungan EVA sebagai berikut:
Tabel 3.1
Langkah-langkah perhitungan EVA
Komponen EVA Rumus perhitungan masing-masing komponen EVA
NOPAT EBIT (1-Tarif pajak)
WACC ����
����+������Cost Of Debt (1- T) +
������
����+������ ROE
Modal yang di
investasikan
Kewajiban Jangka Panjang + Ekuitas pemegang saham
EVA NOPAT – WACC x Modal yang di investasikan
Sumber :David Young S dan O,Byrne Stephen (2001)
Keterangan:
NOPAT =Net Operating Profit After Taxes ( Laba operasi bersih setelah pajak)
EBIT = Earning Before Interest and Taxes( Laba sebelum pajak)
WACC= Weighted Average Cost of Capital( Biaya modal rata-rata tertimbang)
Tabel 3.2
Ringkasan Definisi Operasional dan Pengukurannya Jenis
Variabel
Variabel Penelitian
Definisi Parameter Skala ukuran saham yang dimiliki manajer
Persentase hak suara yang dimiliki oleh institusi.
Persentase
jumlah saham yang dimiliki institusi dari total saham yang beredar. komisaris yang tidak
memiliki hubungan bisnis yang bersifat subtansial dengan perusahaan yang dapat mempengaruhi
Komite audit adalah badan pengawas yang dibentuk oleh dewan
komisaris yang memiliki otoritas yang
indenpenden dalam menjalankan fungsinya dan bertangung jawab
secara langsung logaritma natural dari total asset, yang mencerminkan
seberapa besar total
Size = Ln Total Aset
asset yang digunakan yang dapat mengukur keberhasilan suatu
3.4 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan
manufaktur yang terdafar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2010-2013
yaitu yang berjumlah sebanyak 136 perusahaan yang terdaftar dalam IDX tahun
2010-2013.Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar
dalam BEI.Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purpose
sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan kriteria tertentu. Adapun kriteria
sampel yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia periode
2010-2013.
2. Perusahaan manufaktur yang menerbitkan laporan keuangan tahunan secara
berturut-turut per 31 Desembertahun 2010-2013 yang dinyatakan dalam
rupiah (Rp).
3. Perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit untuk
periode yang berakhir 31 Desember tahun 2010-2013.
4. Perusahaan yang memiliki data kepemilikan manjerial, kepemilikan