FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI PERUSAHAAN (STUDI PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR
DI JAKARTA ISLAMIC INDEX PERIODE 2007 – 2010)
TESIS
Oleh
Pipit Putri Hariani MD
097017071/Akt
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI PERUSAHAAN (STUDI PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR
DI JAKARTA ISLAMIC INDEX PERIODE 2007 – 2010)
TESIS
Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains
dalam Program Studi Ilmu Akuntansi pada
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
Pipit Putri Hariani MD
097017071/Akt
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
THE FACTORS THAT AFFECT THE VALUE OF THE FIRM
(STUDIES ON COMPANIES LISTED ON
THE JAKARTA ISLAMIC INDEX)
PERIOD 2007 - 2010
THESIS
By
Pipit Putri Hariani MD
097017071/Accounting
MAGISTER SCHOOL
UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA
MEDAN
Telah Diuji pada
Tanggal : 12 Januari 2012
PANITIA PENGUJI TESIS :
Ketua : Prof.Dr.Ade Fatma Lubis, MAFIS., MBA., CPA Anggota : 1. Drs. Syahyunan., M. Si
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan Tesis yang berjudul :
“Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Perusahaan (Studi Pada Perusahaan yang
Terdaftar di Jakarta Islamic Index Periode 2007 - 2010”
Adalah benar hasil kerja saya sendiri dan belum dipublikasikan oleh
siapapun sebelumnya. Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah
dinyatakan secara benar dan jelas.
Medan, Januari 2012 Yang membuat pernyataan:
Judul Penelitian : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI PERUSAHAAN (STUDI PADA PERUSAHAAN YANG
TERDAFTAR DI JAKARTA ISLAMIC INDEX
PERIODE 2007 – 2010) Nama Mahasiswa : Pipit Putri Hariani MD Nomor Pokok : 097017071
Program Studi : Akuntansi
Menyetujui Komisi Pembimbing,
(Prof.Dr.Ade Fatma Lubis, MAFIS,MBA,Ak)
Ketua Anggota
(Drs. Syahyunan, M.Si)
Ketua Program Studi, Direktur,
(Prof.Dr.Ade Fatma Lubis, MAFIS,MBA,Ak) (Prof.Dr.Ir.A. Rahim Matondang, MSIE)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Corporate Social
Responsibility, Leverage, Investment Opportunity Set, Ukuran Perusahaan,
Kepemilikan Manajerial, Profitabilitas, Komisaris Independen, Cash Holding, dan
Dividend Payout Ratio terhadap Nilai Perusahaan pada Jakarta Islamic Index tahun
2007-2010.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan (65 perusahaan) yang terdaftar di Jakarta Islamic Index selama tahun 2007 sampai dengan tahun 2010. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Digunakan sebanyak 8 perusahaan selama 4 tahun dari 2007- 2010, sehingga total observasi dalam penelitian ini menjadi 32 pengamatan. Teknik pengujian data adalah dengan menggunakan regresi linier berganda untuk menganalisis secara simultan dan parsial dengan tingkat signifikansi alpha 5%.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Corporate Social Responsibility,
Leverage, Investment Opportunity Set, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Manajerial,
Profitabilitas, Komisaris Independen, Cash Holding, dan Dividend Payout Ratio berpengaruh secara simultan terhadap nilai perusahaan. Tetapi hanya variabel
Investment Opportunity Set dan profitabilitas yang berpengaruh secara parsial
terhadap Nilai Perusahaan. Sementara itu, variabel Corporate Social Responsibility,
Leverage, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Manajerial, Komisaris Independen, Cash Holding, dan Dividend Payout Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap
Nilai Perusahaan pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index periode pengamatan 2007-2010.
Kata Kunci: Corporate Social Responsibility, Leverage, Investment Opportunity
Set, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Manajerial, Profitabilitas,
ABSTRACT
The purpose of this research is to analyze the influence of corporate social responsibility, leverage, investment opportunity set, firm size, managerial ownership, profitability, independent commisioners, cash holding and dividend payout ratio on the value of the firm in Jakarta Islamic Index in the years 2007 – 2010.
Population in this research are all companies (65 companies) that listed in Jakarta Islamic Index during years 2007 – 2010. Samples are taken by using purposive sampling method. I used 8 companies during 4 years starting 2007 – 2010, so total observation in this research are 32 observations. The using of analyzing method is by multiple regression linier simultaneously and partially with significant level 5%.
The result of this research, show that the corporate social responsibility, leverage, investment opportunity set, firm size, managerial ownership, profitability, independent commisioners, cash holding and dividend payout ratio influence value of the firm simultaneously. But only investment opporttunity set and profitability that influence value of the firm partially. Meanwhile, Corporate social responsibility, leverage, firm size, managerial ownership, independent commisioners, cash holding and dividend payout ratio do not influence value of the firm significanly in the companies listed Jakarta Islamic Index observation period in the years 2007 – 2010.
RIWAYAT HIDUP
1. NAMA : PIPIT PUTRI HARIANI MD
2. TEMPAT/TGL LAHIR : MEDAN / 12 JULI 1985
3. AGAMA : ISLAM
4. ORANG TUA
a. AYAH : SYAHRUDDIN
b. IBU : YUNERLY
5. ALAMAT : JL. DENAI GANG PRIBADI I NO. 30
MEDAN, SUMATERA UTARA.
6. PENDIDIKAN
a. SD Negeri 060824 Medan, Tamat Tahun 1997
b. SMP Negeri 8 Medan, Tamat Tahun 2000
c. SMU KESATRIA MEDAN, Tamat Tahun 2003
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
Segala puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayahnya serta kesehatan dan kesempatan kepada penulis
sehingga dapat menyelesaikan penulisan tesis ini. Shalawat beiring salam atas
junjungan Nabi Muhammad SAW yang insya Allah memberikan safaat kepada
penulis dan seluruh umatnya.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa segala yang dilakukan dalam
penyusunan tesis ini tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya bantuan dan
bimbingan serta dorongan dari berbagai pihak, untuk itu dengan segala kerendahan
hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM & H.,M.Sc (CTM), Sp.A(K), selaku
Rektor Universitas Sumatera Utara atas kesempatan yang diberikan untuk
mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Magister di Universitas Sumatera
Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE, selaku Direktur Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara atas kesempatan yang diberikan untuk
mengikuti dan menyelesaikan pendidikan magister pada Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA. CPA, selaku Ketua Program
yang juga selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberi bimbingan
dan arahan di sela-sela kesibukannya dari awal penulisan hingga selesainya
penulisan tesis ini.
4. Bapak Drs. Syahyunan, M.Si., selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak
memberi bimbingan dan mengarahkan penulis di sela-sela kesibukannya dari
awal penulisan hingga selesainya penulisan tesis ini.
5. Ibu Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si, Ak, Bapak Drs. Arifin Akhmad., M.Si., Ak,
dan Bapak Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, Ak selaku Dosen Penguji yang telah
memberikan saran dan masukan untuk kesempurnaan tesis ini.
6. Seluruh staf pengajar Program Magister Ilmu Akuntansi atas segala ilmu dan
pengetahuan yang telah diberikan, dan seluruh staf administrasi Program
Magister Ilmu Akuntansi.
7. Ibunda Yunerly dan Ayahanda Syahruddin tercinta, yang selalu mendoakan dan
memberikan dorongan moril maupun materil serta bantuan yang tak ternilai
dalam bentuk apapun juga, sehingga penulis dapat menyelesaikan kuliah dan
tesis ini.
8. Kakak-kakak, Abang-abang dan keponakan-keponakan ku tersayang, yang telah
memberi dukungan dan motivasi yang tak pernah henti.
9. Teman-teman di Program Magister Ilmu Akuntansi, yang penuh dengan rasa
kekeluargaan dan persahabatan dalam memberi sumbangan pikiran selama
Akhirnya, semoga Allah SWT selalu melimpahkan berkah dan
hidayah-Nya, dan apa yang penulis lakukan ini mendapatkan ridho-Nya serta berguna bagi
penulis khususnya dan pembaca umum. Amin
Medan, Januari 2012
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 11
1.3.Tujuan Penelitian ... 12
1.4.Manfaat Penelitian ... 12
1.5.Originalitas ... 13
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Nilai Perusahaan ... 16
2.1.2. Corporate Social Responsibility ... 20
2.1.4. Investment Opportunity Set ... 30
2.1.5. Ukuran Perusahaan ... 33
2.1.6. Kepemilikan Manajerial ... 35
2.1.7. Profitabilitas ... 37
2.1.8. Komisaris Independen ... 39
2.1.9. Cash Holding ... 42
2.1.10. Dividend Payout Ratio ... 44
2.1.11. Jakarta Islamic Index ... 49
2.2. Review Penelitian Terdahulu ... 51
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS 3.1. Kerangka Konsep ... 55
3.2. Hipotesis Penelitian ... 59
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian ... 61
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 61
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 61
4.4. Metode Pengumpulan Data ... 63
4.5. Definisi Operasional Variabel ... 63
4.5.1. Variabel Dependen ... 63
4.5.2. Variabel Independen ... 65
4.6. Metode Analisis Data ... 72
4.8. Uji Hipotesis ... 77
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian ... 80
5.1.1. Deskripsi Statistik Data Penelitian ... 81
5.1.2. Pengujian Asumsi Klasik ... 88
5.1.3. Pengujian Hipotesis ... 97
5.2. Pembahasan ... 105
5.2.1. Pengaruh CSR terhadap Nilai Perusahaan ... 105
5.2.2. Pengaruh Leverage terhadap Nilai Perusahaan ... 106
5.2.3. Pengaruh IOS terhadap Nilai Perusahaan ... 107
5.2.4. Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan ... 107
5.2.5. Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Nilai Perusahaan ... 108
5.2.6. Pengaruh Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan ... 109
5.2.7. Pengaruh Komisaris Independen terhadap Nilai Perusahaan ... 110
5.2.8. Pengaruh Cash Holding terhadap Nilai Perusahaan ... 110
5.2.9. Pengaruh Dividend Payout Ratio terhadap Nilai Perusahaan ... 111
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 112
6.3. Saran ... 114
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Review Peneliti Terdahulu ... 52
4.1 Prosedur Pengambilan Sampel ... 62
4.2 Daftar Perusahaan Sampel ... 62
4.3 Defenisi Operasional Variabel ... 71
5.1 Deskriptif Statistik ... 81
5.2 Masalah Heteroskedastisitas ... 89
5.3 Uji Normalitas ... 92
5.4 Uji Multikolinearitas ... 93
5.5 Uji Heteroskedastisitas ... 95
5.6 Uji Autokorelasi ... 97
5.7 Uji Statistik F ... 98
5.8 Uji Statistik t ... 99
5.9 Koefisien Determinasi ... 104
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
1.1 Tobin’s Q ... 4
3.1. Kerangka Konsep ... 55
5.1. Masalah Heteroskedastisitas ... 88
5.2. Normal PP – Plot ... 91
5.3. Histogram ... 91
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Hal
1 Daftar Populasi JII ... 120
2 Indeks CSR Berdasarkan GRI ... 121
3 Data Variabel ... 127
4 Perhitungan Variabel ... 129
5 Data Mentah ... 139
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Corporate Social
Responsibility, Leverage, Investment Opportunity Set, Ukuran Perusahaan,
Kepemilikan Manajerial, Profitabilitas, Komisaris Independen, Cash Holding, dan
Dividend Payout Ratio terhadap Nilai Perusahaan pada Jakarta Islamic Index tahun
2007-2010.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan (65 perusahaan) yang terdaftar di Jakarta Islamic Index selama tahun 2007 sampai dengan tahun 2010. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Digunakan sebanyak 8 perusahaan selama 4 tahun dari 2007- 2010, sehingga total observasi dalam penelitian ini menjadi 32 pengamatan. Teknik pengujian data adalah dengan menggunakan regresi linier berganda untuk menganalisis secara simultan dan parsial dengan tingkat signifikansi alpha 5%.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Corporate Social Responsibility,
Leverage, Investment Opportunity Set, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Manajerial,
Profitabilitas, Komisaris Independen, Cash Holding, dan Dividend Payout Ratio berpengaruh secara simultan terhadap nilai perusahaan. Tetapi hanya variabel
Investment Opportunity Set dan profitabilitas yang berpengaruh secara parsial
terhadap Nilai Perusahaan. Sementara itu, variabel Corporate Social Responsibility,
Leverage, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Manajerial, Komisaris Independen, Cash Holding, dan Dividend Payout Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap
Nilai Perusahaan pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index periode pengamatan 2007-2010.
Kata Kunci: Corporate Social Responsibility, Leverage, Investment Opportunity
Set, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Manajerial, Profitabilitas,
ABSTRACT
The purpose of this research is to analyze the influence of corporate social responsibility, leverage, investment opportunity set, firm size, managerial ownership, profitability, independent commisioners, cash holding and dividend payout ratio on the value of the firm in Jakarta Islamic Index in the years 2007 – 2010.
Population in this research are all companies (65 companies) that listed in Jakarta Islamic Index during years 2007 – 2010. Samples are taken by using purposive sampling method. I used 8 companies during 4 years starting 2007 – 2010, so total observation in this research are 32 observations. The using of analyzing method is by multiple regression linier simultaneously and partially with significant level 5%.
The result of this research, show that the corporate social responsibility, leverage, investment opportunity set, firm size, managerial ownership, profitability, independent commisioners, cash holding and dividend payout ratio influence value of the firm simultaneously. But only investment opporttunity set and profitability that influence value of the firm partially. Meanwhile, Corporate social responsibility, leverage, firm size, managerial ownership, independent commisioners, cash holding and dividend payout ratio do not influence value of the firm significanly in the companies listed Jakarta Islamic Index observation period in the years 2007 – 2010.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan dunia bisnis sekarang ini sangatlah pesat. Hal ini dapat dilihat
dari semakin banyaknya muncul perusahaan pesaing yang memiliki keunggulan
kompetitif yang baik. Banyaknya kompetitor-kompetitor bisnis yang muncul
mengakibatkan terjadinya dinamika bisnis yang berubah-ubah. Dinamika bisnis yang
berubah-ubah tersebut menyebabkan banyak perusahaan membutuhkan tambahan
pendanaan untuk lebih mengembangkan usahanya agar mampu “bertahan hidup”.
Sumber pendanaan tersebut dapat diperoleh dengan berbagai cara diantaranya adalah
dengan investasi dan pembiayaan dari owners (equity) dan nonowners (liabilities)
sehingga kegiatan operasional dapat berjalan dengan baik.
Go public merupakan salah satu cara yang dirasakan lebih efisien dalam
memperoleh sumber dana, namun tidak mudah untuk menarik dana melalui investasi,
mengingat adanya perbedaan karakteristik para investor didalam menilai sebuah
investasi. Dibutuhkan laporan keuangan untuk pengambilan keputusan investasi
karena angka-angka pada laporan keuangan mampu mencerminkan kinerja suatu
perusahaan. Oleh sebab itu, laporan keuangan digunakan sebagai sumber informasi
yang dibutuhkan oleh investor sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam
pengambilan keputusan investasi di pasar modal dan dari laporan keuangan tersebut
yang diperdagangkan. Pada pasar modal yang efisien, harga saham mencerminkan
semua informasi yang relevan dari suatu perusahaan dan pasar akan bereaksi apabila
terdapat informasi baru.
Jensen dan Meckling (1976), Watts dan Zimmerman (1986) menyatakan
bahwa laporan keuangan yang dibuat dengan angka-angka akuntansi yang benar
diharapkan dapat meminimalkan konflik diantara pihak-pihak yang berkepentingan.
Dengan laporan keuangan yang dilaporkan oleh agen sebagai pertanggungjawaban
kinerjanya, principal dapat menilai, mengukur dan mengawasi sampai sejauh mana
agen tersebut bekerja untuk meningkatkan kesejahteraannya serta sebagai dasar
pemberian kompensasi kepada agen. Investor juga dapat melihat gambaran kondisi
perusahaan secara fundamental sebagai dasar pengambilan keputusan investasinya.
Mengingat pentingnya laporan keuangan maka perusahaan publik yang
terdaftar di BEI (Bursa Efek Indonesia), setiap tahunnya wajib melaporkan laporan
keuangan dan laporan tahunan kepada bursa efek, investor dan publik. Laporan
keuangan dan laporan tahunan yang dilaporkan tersebut dipergunakan para investor
untuk mengetahui perkembangan kinerja perusahaan serta sebagai langkah
pengambilan keputusan investasi pada masa yang akan datang.
Nilai perusahaan pada dasarnya dapat diukur melalui beberapa aspek, salah
satunya adalah dengan harga pasar saham perusahaan karena harga pasar saham
perusahaan mencerminkan penilaian investor secara keseluruhan atas setiap ekuitas
yang dimiliki. Harga pasar saham menunjukkan penilaian sentral dari seluruh pelaku
Jika nilai suatu perusahaan dapat diproksikan dengan harga saham maka
memaksimumkan nilai pasar perusahaan sama dengan memaksimumkan harga pasar
saham.
Naik turunnya harga saham di pasar modal menjadi sebuah fenomena yang
menarik untuk dibicarakan berkaitan dengan isu naik turunnya nilai perusahaan itu
sendiri. Krisis ekonomi global yang terjadi pada tahun 2008 berdampak terhadap
pasar modal Indonesia yang tercermin dari terkoreksi turunnya harga saham hingga
40–60 persen dari posisi awal tahun 2008 (Kompas, 25 November 2008), yang
disebabkan oleh aksi melepas saham oleh investor asing yang membutuhkan
likuiditas dan diperparah dengan aksi “ikut-ikutan” dari investor domestik yang
ramai-ramai melepas sahamnya. Kondisi tersebut secara harfiah mempengaruhi nilai
perusahaan karena nilai perusahaan itu sendiri jika diamati melalui kemakmuran
pemegang saham yang dapat diukur melalui harga saham perusahaan di pasar modal.
Index harga saham gabungan yang terkoreksi dari 1.757,258 pada awal Januari 2007
melemah ke basis point 1.256,704 pada awal September 2008 (Kompas, 25
November 2008). Hal ini juga tercermin dari banyaknya perusahaan yang mengalami
penurunan laba sampai dengan mengalami kerugian sehingga menimbulkan
pemutusan hubungan kerja (PHK). Gambar 1.1 berikut ini merupakan perhitungan
rata-rata nilai perusahaan berdasarkan rasio Tobin’s Q mulai dari 2007 sampai
Gambar 1.1. Rata-Rata Nilai Tobin’s Q
Sumber : Hasil Penelitian, 2012 (Data Diolah)
Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa nilai perusahaan yang dihitung
dengan Tobin’s Q dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 menunjukkan
perubahan setiap tahun yang sangat bervariasi dan menunjukkan fluktuasi naik turun
di tiap tahun yang berbeda dan menunjukkan gejala yang sama di semua perusahaan
sampel.
Dari data yang diperoleh menunjukkan fenomena yang sama yaitu terjadinya
penurunan nilai perusahaan pada seluruh perusahaan sampel di tahun 2008, walaupun
demikian rasio tobin’s q masing-masing perusahaan terbilang baik karena berada di
atas nilai 1.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi naik turunnya nilai perusahaan,
salah satunya Corporate Social Responsibility (CSR) yang merupakan suatu konsep
tanggung jawab semata berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan (firm
value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya saja. Tanggung jawab
perusahaan juga harus berpijak pada konsep triple bottom lines yaitu juga harus
memperhatikan kesejahteraan sosial dan lingkungan (Elkington, 1997 dalam CSR
Indonesia.com). Karena kondisi keuangan saja tidak cukup menjamin nilai
perusahaan tumbuh secara berkelanjutan (sustainable).
Di Indonesia sendiri sudah banyak perusahaan-perusahaan yang dengan
bangga mengatakan produk yang dikembangkannya merupakan produk ramah
lingkungan sebagai apresiasi kepedulian sosialnya terhadap masyarakat dan
lingkungan. Tupperware misalnya, dengan gencarnya melakukan publikasi atas
konsepnya ini melalui beberapa media pemasaran. Para pengembang perumahan pun
ramai-ramai telah mengadopsi Corporate Social Responsibility dengan menciptakan
konsep “green house” pada bangunannya. Tidak ketinggalan juga, banyak pabrik
deterjen saat ini mempergunakan kertas yang bisa didaur ulang sebagai pembungkus.
Bahkan McDonald’s mengganti kotak pembungkus styrofoamnya yang
membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat dihancurkan tanah dengan kertas
pembungkus yang lebih ringan dan mudah didaur ulang. Hal tesebut menjelaskan
bahwa akhir-akhir ini perusahaan bukan hanya mementingkan profit motif tetapi juga
memperhatikan lingkungan disekitarnya. Investor akan melihat kondisi ini dan akan
meningkatkan image positif dan akan meningkatkan nilai perusahaan.
Fenomena ini mengartikan bahwa konsep Corporate Social Responsibility
Terlepas dari pro dan kontra terhadap konsep ini, namun Kiranya memang wajar dan
sangat sah jika terdapat kalangan yang menyikapi konsep Corporate Social
Responsibility (CSR) dengan penuh skeptisisme, menyatakan bahwa motif dasar dari
semua konsep itu hanyalah strategi untuk tetap bisa melanggengkan motif dasar yang
tidak berubah, yaitu motif primitif pengusahaan keuntungan sebesar mungkin dan
akumulasi kapital. CSR masih kerap menunjukkan kecenderungan sebagai kegiatan
kosmetik. Ia menjadi sekedar fungsi kepentingan public relations, citra korporasi atau
reputasi dan kepentingan perusahaan untuk mendongkrak nilai perusahaan di bursa
saham. CSR hanya dilakukan sebagai pemenuhan kecenderungan global tanpa
substansi distribusi kesejahteraan sosial dan pelestarian lingkungan, jauh dari gagasan
John Elkington tentang konsep triple bottom line. Terlepas dari pro dan kontra
tersebut hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti diantaranya Yuniasih
dan Wirakusuma (2007) menunjukkan hasil bahwa kinerja keuangan dan Corporate
Social Responsibility berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, sedangkan
Nurlela & Islahudin (2008) menunjukkan hasil yang bertentangan yakni tidak adanya
pengaruh antara pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap nilai
perusahaan.
Penggunaan hutang pada perusahaan bisa digunakan untuk mengukur nilai
perusahaan karena dengan adanya hutang yang tinggi menyebabkan nilai perusahaan
menjadi turun. Kondisi tersebut terjadi karena investor mempertimbangkan bahwa
hutang yang tinggi menyebabkan resiko yang besar pula terhadap pengembalian atas
bunga yang harus dibayarkan oleh perusahaan sehingga laba menjadi menurun dan
modal pemegang saham juga ikut menurun. Hal ini didukung oleh penelitian yang
dilakukan oleh Sujoko dan Soebiantoro (2007), serta Susanti (2010) menemukan
hasil bahwa Leverage mempunyai hubungan negatif dan signifikan terhadap nilai
perusahaan. Artinya semakin tinggi Leverage suatu perusahaan, maka nilai
perusahaannya akan turun.
Fenomena bonus plan yang tidak pernah habis-habisnya dibicarakan dalam
dunia bisnis menyebabkan timbulnya motif-motif pribadi oleh manajer. Sebagian
besar tenaga kerja di Indonesia bekerja adalah untuk mencari uang, bukan untuk
mencari pekerjaan, hal tersebut tentunya akan menimbulkan konflik-konflik tertentu.
Dalam proses memaksimalkan nilai perusahaan akan muncul konflik kepentingan
antara manajer dan pemegang saham (pemilik perusahaan) yang sering disebut
agency problem.
Tidak jarang pihak manajemen yaitu manajer perusahaan mempunyai tujuan
dan kepentingan lain yang bertentangan dengan tujuan utama perusahaan dan sering
mengabaikan kepentingan pemegang saham. Perbedaan kepentingan antara manajer
dan pemegang saham ini mengakibatkan timbulnya konflik yang biasa disebut agency
conflict, hal tersebut terjadi karena manajer mengutamakan kepentingan pribadi,
sebaliknya pemegang saham tidak menyukai kepentingan pribadi dari manajer karena
apa yang dilakukan manajer tersebut akan menambah biaya bagi perusahaan sehingga
terhadap harga saham sehingga menurunkan nilai perusahaan (Jensen dan Meckling,
1976).
Konflik antara manajer dan pemegang saham atau yang sering disebut dengan
masalah keagenan dapat diminimumkan dengan suatu mekanisme pengawasan yang
dapat mensejajarkan kepentingan-kepentingan tersebut diantaranya dengan adanya
kepemilikan saham oleh manajemen. Dengan kepemilikan saham oleh manajerial,
diharapkan manajer akan bertindak sesuai dengan keinginan para principal karena
manajer akan termotivasi untuk meningkatkan kinerja yang disebabkan oleh adanya
rasa memiliki atas sebagian perusahaan yang akhirnya akan dapat meningkatkan nilai
perusahaan.
Riset-riset pengembangan yang dilakukan perusahaan dalam upaya
meningkatkan kinerja perusahaan yang secara berkesinambungan dilakukan, mungkin
dampaknya tidak dirasakan saat ini namun dalam jangka panjang akan dirasakan oleh
perusahaan. Banyaknya kompetitor yang hadir menyebabkan perusahaan berusaha
terus menerus melakukan penelitian-penelitian untuk menemukan hal baru, yang
berbeda dengan kompetitornya.
Kebijakan dalam pengambilan keputusan investasi terkait dengan Investment
Opportunity Set pun akan dilakukan dengan pertimbangan yang matang karena salah
dalam pengambilan keputusan investasi akan berdampak negatif terhadap kinerja
perusahaan dimasa yang akan datang, sebab hal ini menjadi salah satu acuan investor
Umumnya investor lebih tertarik dengan perusahaan-perusahaan besar secara
ukuran, baik besar dalam aktivanya maupun dalam penjualannya. Sifat alamiah dasar
manusia yang selalu ingin menghindari resiko yang melahirkan sebuah pandangan
bahwa dengan aktiva maupun tingkat penjualan yang besar maka perusahaan tersebut
memiliki resiko yang lebih kecil dalam kesulitan pengembalian modal karena
perusahaan besar umumnya sudah berada pada tahap maturaty sehingga investor
lebih percaya untuk menanamkan modalnya pada perusahaan besar dan menyebabkan
nilai perusahaan naik.
Dewan komisaris dibentuk dalam upaya mengawasi dan memberi petunjuk
serta arahan kepada pengelola perusahaan atau manajemen. Dalam hal ini,
manajemen bertanggung jawab untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing
perusahaan, sedangkan dewan komisaris bertanggung jawab untuk mengawasi
manajemen. Hal ini berarti dewan komisaris dapat melakukan pengawasan sehingga
menjamin bahwa manajemen bertindak sesuai dengan pemilik perusahaan (Investor)
dan informasi yang dimilki oleh manajemen akan diungkapkan semua kepada para
stakeholders, sehingga tingkat kepercayaan investor terhadap perusahaan menjadi
meningkat dan juga akan meningkatkan nilai perusahaan.
Dalam menjalankan tugasnya, Dewan Komisaris berfungsi untuk mendukung
tercapainya pelaksanaan iklim disiplin dan pengendalian tata kelola yang baik
sehingga dapat mengurangi kesempatan terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan
Indonesia dikelola oleh sebagian besar anggota keluarga sendiri sehingga tingkat
independensinya dipertanyakan.
Menahan sejumlah kas dalam perusahaan pun dapat juga merupakan
informasi yang berharga bagi investor dalam mengambil keputusan investasi.
Penentuan tingkat Cash Holding perusahaan merupakan salah satu keputusan
keuangan penting yang harus diambil oleh seorang manajer keuangan. Cash Holding
dapat digunakan untuk beberapa hal, antara lain dibagikan kepada para pemegang
saham berupa dividen, melakukan pembelian kembali saham, melakukan investasi
atau menyimpannya untuk kepentingan perusahaan dimasa depan. Perusahaan harus
dapat menjaga kas yang dimiliki pada tingkat yang optimal karena menahan kas yang
terlalu besar dalam aktiva misalnya adalah hal yang tidak produktif karena akan
memerlukan biaya yang tinggi dalam pemeliharaannya. Para investor akan melihat
situasi ini sebagai sebuah sinyal yang menggambarkan tingkat efektifitas manajemen
perusahaan dalam mengelola dananya dan menjadi andil dalam menentukan naik dan
turunnya nilai perusahaan.
Nilai perusahaan juga dapat dilihat dari kemampuan perusahaan membayar
dividen. Besarnya dividen ini dapat mempengaruhi harga saham. Apabila dividen
yang dibayar tinggi, maka harga saham cenderung tinggi sehingga nilai perusahaan
juga tinggi. Sebaliknya apabila dividen yang dibayarkan kecil maka harga saham
perusahaan tersebut juga rendah. Kemampuan membayar dividen erat hubungannya
yang besar, maka kemampuan membayar dividen juga besar. Oleh karena itu, dengan
dividen yang besar akan meningkatkan nilai perusahaan.
Fenomena ini berdasarkan pada tujuan investor melakukan investasi yang
pada umumnya adalah untuk mendapatkan keuntungan berupa dividen atau capital
gain. Pemegang saham selalu berharap untuk mendapat dividen dalam jumlah besar
atau minimal relatif stabil dari tahun ke tahun. Sebagian lagi dari laba bersih
perusahaan merupakan laba ditahan yang akan disiapkan oleh perusahaan untuk
melakukan investasi kembali (Reinvestment). Hal inilah yang merupakan inti dari
kebijakan dividen, khususnya dalam menentukan dividend payout ratio.
Setiap faktor-faktor tersebut memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap
nilai perusahaan. Namun dari banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi nilai
perusahaan, penelitian ini menggunakan variabel Corporate Social Responsibility,
Leverage, Investment Opportunity Set, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Manajerial,
Profitabilitas, Komisaris Independen, Cash Holding, dan Dividend Payout Ratio
didalam mempengaruhi nilai perusahaan.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian, maka rumusan masalah penelitian ini
adalah : Apakah Corporate Social Responsibility (CSR), Leverage, Investment
Opportunity Set (IOS), Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Manajerial, Profitabilitas,
secara simultan dan parsial terhadap nilai perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic
Index?
1.3. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis secara simultan dan parsial pengaruh Corporate Social Responsibility
(CSR), Leverage, Investment Opportunity Set (IOS), Ukuran Perusahaan,
Kepemilikan Manajerial, Profitabilitas, Komisaris Independen, Cash Holding, dan
Dividend Payout Ratio terhadap nilai perusahaan.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
1. Bagi Peneliti
Diharapkan penelitian ini mampu menjadi pelatihan intelektual yang diharapkan
dapat menambah pemahaman terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi nilai
perusahaan.
2. Bagi Peneliti selanjutnya dan Akademisi
Penelitian ini diharapkan akan melengkapi temuan-temuan empiris yang telah ada
dibidang akuntansi untuk kemajuan dan pengembangan ilmiah dimasa yang akan
datang.
3. Bagi Manajemen dan Investor
Bagi manajemen sebagai bahan masukan dan sumbangan informasi dalam
nilai perusahaan. Sedangkan bagi investor, penelitian ini diharapkan dapat
dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi di pasar modal.
1.5. Originalitas
Variabel penelitian ini merupakan replikasi dari beberapa penelitian
diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Susanti (2010) yang meneliti
tentang Analisis Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Nilai Perusahaan. Hasil
dari penelitiannya menyebutkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan
antara variabel Board Independence, Profitabilitas, dan Investment Opportunity Set
terhadap nilai perusahaan. Selain itu juga ditemukan variabel Struktur Kepemilikan
Manajemen dan Dividend Payout Ratio memiliki pengaruh positif dan tidak
signifikan dengan nilai perusahaan, namun terdapat hubungan negatif antara nilai
perusahaan dengan variabel Cash Holding dan Finance Risk (Leverage).
Alasan melakukan replikasi adalah peneliti ingin melihat apakah faktor-faktor
yang mempengaruhi nilai perusahaan, hasilnya masih konsisten pada periode
pengamatan yang berbeda. Penelitian sebelumnya dilakukan pada tahun 2004-2008,
sedangkan pada penelitian ini dilakukan selama empat tahun berturut-turut yaitu
2007-2010 dengan asumsi penelitian dilakukan untuk melihat apakah faktor-faktor
tersebut memiliki konsistensi terhadap hasilnya ketika tahun pengamatannya diubah
dan karakteristik saham-saham perusahaannya berbeda. Penelitian sebelumnya
meneliti pada perusahaan non keuangan, sedangkan penelitian ini dilakukan pada
saham-saham syariah selama empat tahun berturut-turut dengan kriteria-kriteria yang telah
ditentukan. Penelitian terdahulu menggunakan uji Ordinary Least Square (OLS)
sedangkan penelitian ini menggunakan regresi linier berganda. Perbedaan lainnya
adalah adanya penambahan variabel lain yaitu Corporate Social Responsibility, yang
merupakan salah satu variabel penelitian oleh Yuniasih dan Wirakusuma (2007), serta
Ukuran Perusahaan yang merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Herawaty
(2008).
Alasan memasukkan variabel Corporate Social Responsibility dalam
penelitian ini adalah dikarenakan beberapa penelitian terdahulu yang mencari
pengaruh antara Corporate Social Responsibility dan nilai perusahaan menemukan
hasil yang berbeda-beda dan juga dikarenakan Corporate Social Responsibility
merupakan isu penting yang sedang dioptimalkan oleh pemerintah khususnya dalam
mengatasi kerusakan lingkungan akibat pemanasan global.
Variabel Ukuran Perusahaan menjadi salah satu variabel yang diikut sertakan
dalam penelitian ini karena karakteristik investor di Indonesia pada umumnya lebih
menyukai menanamkan modalnya pada perusahaan dengan ukuran aktiva yang besar
dibandingkan perusahaan dengan skala aktiva yang kecil. Ukuran Perusahaan juga
dijadikan sebagai penambahan variabel penelitian karena ingin melihat apakah
investor melihat ukuran perusahaan sebagai penentu dalam investasi pada
saham-saham yang terdaftar di Jakarta Islamic Index, karena saham-saham-saham-saham Jakarta Islamic
besar, penelitian ini dimaksudkan melihat dan menganalisis apakah fenomena yang
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Landasan Teori 2.1.1. Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap perusahaan, yang
sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang tinggi membuat nilai
perusahaan juga tinggi. Tujuan utama perusahaan menurut theory of the firm adalah
untuk memaksimumkan kekayaan atau nilai perusahaan (value of the firm) (Salvatore,
2005). Memaksimalkan nilai perusahaan sangat penting artinya bagi suatu
perusahaan, karena dengan memaksimalkan nilai perusahaan berarti juga
memaksimalkan kemakmuran pemegang saham yang merupakan tujuan utama
perusahaan. Menurut Husnan (2000) nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia
dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Sedangkan menurut
Keown (2004) nilai perusahaan merupakan nilai pasar atas surat berharga hutang dan
ekuitas perusahaan yang beredar. Nilai perusahaan merupakan persepsi investor
terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham.
Harga saham yang tinggi membuat nilai perusahaan juga tinggi. Nilai
perusahaan yang tinggi akan membuat pasar percaya tidak hanya pada kinerja
perusahaan saat ini namun juga pada prospek perusahaan di masa depan.
Nilai perusahaan dalam penelitian ini didefinisikan sebagai nilai pasar, seperti
nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran pemegang saham secara maksimum
apabila harga saham perusahaan meningkat. Semakin tinggi harga saham, maka
makin tinggi kemakmuran pemegang saham. Untuk mencapai nilai perusahaan
umumnya para pemodal menyerahkan pengelolaannya kepada para profesional. Para
profesional diposisikan sebagai manajer ataupun komisaris.
Nurlela dan Islahuddin (2008) menjelaskan bahwa enterprise value (EV) atau
dikenal juga sebagai firm value (nilai perusahaan) merupakan konsep penting bagi
investor, karena merupakan indikator bagi pasar menilai perusahaan secara
keseluruhan. Sedangkan Wahyudi (2006) dalam Nurlela dan Islahuddin (2008)
menyebutkan bahwa nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh
calon pembeli andai perusahaan tersebut dijual. Dalam penilaian perusahaan
terkandung unsur proyeksi, asuransi, perkiraan, dan judgment. Ada beberapa konsep
dasar penilaian yaitu : nilai ditentukan untuk suatu waktu atau periode tertentu; nilai
harus ditentukan pada harga yang wajar; penilaian tidak dipengaruhi oleh kelompok
pembeli tertentu.
Secara umum banyak metode dan teknik yang telah dikembangkan dalam
penilaian perusahaan, di antaranya adalah : a) pendekatan laba antara lain metode
rasio tingkat laba atau price earning ratio, metode kapitalisasi proyeksi laba; b)
pendekatan arus kas antara lain metode diskonto arus kas; c) pendekatan dividen
antara lain metode pertumbuhan dividen; d) pendekatan aktiva antara lain metode
penilaian aktiva; e) pendekatan harga saham; f) pendekatan economic value added
nilai perusahaan. Akan tetapi di balik tujuan tersebut masih terdapat konflik antara
pemilik perusahaan dengan penyedia dana sebagai kreditur. Jika perusahaan berjalan
lancar, maka nilai saham perusahaan akan meningkat, sedangkan nilai hutang
perusahaan dalam bentuk obligasi tidak terpengaruh sama sekali. Jadi dapat
disimpulkan bahwa nilai dari saham kepemilikan bisa merupakan index yang tepat
untuk mengukur tingkat efektifitas perusahaan.
Berdasarkan alasan itulah, maka tujuan manajemen keuangan dinyatakan
dalam bentuk maksimalisasi nilai saham kepemilikan perusahaan, atau
memaksimalisasikan harga saham. Tujuan memaksimumkan harga saham tidak
berarti bahwa para manajer harus berupaya mencari kenaikan nilai saham dengan
mengorbankan para pemegang obligasi. Nilai perusahaan dapat juga dilihat melalui
nilai pasar atau nilai buku perusahaan dari ekuitasnya.
Menurut Fama (1978) nilai perusahaan akan tercermin dari harga sahamnya.
Harga pasar dari saham perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual disaat
terjadi transaksi disebut nilai pasar perusahaan, karena harga pasar saham dianggap
cerminan dari nilai aset perusahaan sesungguhnya. Nilai perusahaan yang dibentuk
melalui indikator nilai pasar saham sangat dipengaruhi oleh peluang-peluang
investasi. Adanya peluang investasi dapat memberikan sinyal positif tentang
pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga dapat meningkatkan
nilai perusahaan.
Sebelum krisis nilai perusahaan dan nominalnya cukup tinggi. Tapi setelah
November 2008). Suatu perusahaan dikatakan mempunyai nilai yang baik jika kinerja
perusahaan juga baik. Nilai perusahaan dapat tercermin dari harga sahamnya. Jika
nilai sahamnya tinggi bisa dikatakan nilai perusahaannya juga baik. Karena tujuan
utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan
kemakmuran pemilik atau para pemegang saham.
Rasio-rasio keuangan digunakan investor untuk mengetahui nilai pasar
perusahaan. Rasio tersebut dapat memberikan indikasi bagi manajemen mengenai
penilaian investor terhadap kinerja perusahaan dimasa lampau dan prospeknya
dimasa depan. Ada beberapa rasio untuk mengukur nilai pasar perusahaan, salah
satunya Tobin’s Q. Rasio ini dinilai bisa memberikan informasi paling baik, karena
dalam Tobin’s Q memasukkan semua unsur hutang dan modal saham perusahaan,
tidak hanya saham biasa saja dan tidak hanya ekuitas perusahaan yang dimasukkan
namun seluruh asset perusahaan. Dengan memasukkan seluruh asset perusahaan
berarti perusahaan tidak hanya terfokus pada satu tipe investor saja yaitu investor
dalam bentuk saham namun juga untuk kreditur karena sumber pembiayaan
operasional perusahaan bukan hanya dari ekuitasnya saja tetapi juga dari pinjaman
yang diberikan oleh kreditur (Sukamulja, 2004).
Jadi semakin besar nilai Tobin’s Q menunjukkan bahwa perusahaan memiliki
prospek pertumbuhan yang baik. Hal ini dapat terjadi karena semakin besar nilai
pasar asset perusahaan dibandingkan dengan nilai buku asset perusahaan maka
semakin besar kerelaan investor untuk mengeluarkan pengorbanan yang lebih untuk
2.1.2 Corporate Social Responsibility (CSR)
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility)
sebenarnya telah menjadi pemikiran para pembuat kebijakan sejak lama. Bahkan
dalam Kode Hammurabi (1700-an SM) yang berisi 282 hukum telah memuat sanksi
bagi para pengusaha yang lalai dalam menjaga kenyamanan warga atau menyebabkan
kematian bagi pelanggannya, disebutkan bahwa hukuman mati diberikan kepada
orang-orang yang menyalahgunakan ijin penjualan minuman, pelayanan yang buruk
dan melakukan pembangunan gedung di bawah standar sehingga menyebabkan
kematian orang lain.
Perhatian para pembuat kebijakan tentang CSR menunjukkan telah adanya
kesadaran sejak lama bahwa terdapat potensi timbulnya dampak buruk dari kegiatan
usaha. Dampak buruk tersebut tentunya harus direduksi sedemikian rupa sehingga
tidak membahayakan kemaslahatan masyarakat sekaligus tetap ramah terhadap iklim
usaha.
Di Indonesia Corporate Social Responsibility telah berkembang sejak
dikeluarkannya UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ini
memberikan gambaran bahwa pemerintah juga sangat peka terhadap
masalah-masalah yang mungkin akan ditimbulkan oleh kegiatan operasional perusahaan baik
bagi masyarakat umum, karyawan maupun lingkungan.
Pertanggungjawaban sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility
(CSR) merupakan mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela
interaksinya dengan stakeholders. The World Business Council for Sustainable
Development (WBCSD) menjelaskan, Corporate Social Responsibility atau tanggung
jawab sosial perusahaan didefinisikan sebagai komitmen bisnis untuk memberikan
kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerja sama dengan
para karyawan serta perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas setempat
maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang
bermanfaat baik bagi bisnis sendiri maupun untuk pembangunan.
Corporate Social Responsibility menjadi salah satu faktor yang
mempengaruhi nilai perusahaan karena salah satu dasar pemikiran yang melandasi
Corporate Social Responsibility yang pada saat ini dianggap sebagai inti etika bisnis
adalah kesadaran bahwa perusahaan tidak hanya memiliki kewajiban ekonomi dan
legal terhadap pemegang saham (shareholder) saja, tetapi juga memiliki kewajiban
sosial terhadap stakeholder (pemangku kepentingan) seperti pemerintah, customers,
investors, masyarakat, pegawai dan bahkan kompetitor. Stakeholder theory
berpandangan bahwa perusahaan harus melakukan pengungkapan sosial sebagai salah
satu tanggung jawab kepada para stakeholder.
Beberapa tahun terakhir banyak perusahaan semakin menyadari pentingnya
menerapkan program Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bagian dari
strategi bisnisnya, ini berkaitan dengan tuduhan bahwa industri adalah penyumbang
terbesar dari terjadinya pemanasan global jelas tidak terbantahkan lagi. Penggunaan
energi yang boros hingga buangan limbah gas karbon akibat proses produksi
Pemanasan global selalu menjadi isu yang didengungkan perusahaan besar di dunia.
Kondisi ini berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia. Menurut data yang
dihimpun melalui
2007 yang menampilkan beragam perusahaan yang telah mengimplementasikan
program CSR baru-baru ini, nampak jelas terlihat bahwa isu yang dibangun belum
menyentuh masalah pemanasan global sama sekali. Banyak perusahaan menyatakan
dengan gagah bahwa dengan programnya secara nyata akan mengurangi
permasalahan bangsa dan masyarakat Indonesia terutama kemiskinan, pengembangan
masyarakat, hingga pendidikan dan kesehatan.
Bila demikian halnya, pemanasan global nampaknya belum dianggap masuk
dalam masalah bangsa karena berdasarkan tulisan Kanis Dursin di harian The Jakarta
Post (1 Mei 2007) yang berjudul Most Indonesian Not Aware of Global Warming
mengungkapkan fakta minimnya pemahaman masyarakat Indonesia akan pemanasan
global. Hal ini dibuktikan dengan adanya survey AC Nilsen di Jakarta, Bandung,
Semarang, Surabaya dan Medan dengan 1700 responden. Di Jakarta, hanya 24%
orang yang paham akan pemanasanan global, demikian juga di Semarang.
Dalam Isu pemanasan global, tampaknya belum ada perusahaan di Indonesia
yang menempatkannya sebagai bagian dari strategi CSR. Padahal, harusnya
perusahaan-perusahaan segera sadar bahwa Indonesia juga merupakan salah satu
negara penyumbang karbon besar karena deforestasi dan borosnya penggunaan bahan
bakar fosil. Hal ini ironis karena seharusnya badan usaha yang melaksanakan CSR
banyak dan membantu mempercepatnya MDGs (Millennium Development Goals)
yang merupakan janji negara kepada rakyatnya didalam pembangunan, kemudian hal
ini
Hal inilah yang mungkin saja menciptakan hasil yang tidak konsisten didalam
penelitian, misalnya saja penelitian Basamalah dan Jermias (2005) menunjukkan
bahwa salah satu alasan manajemen melakukan pelaporan sosial adalah untuk alasan
strategis, namun meskipun belum bersifat mandatory, tetapi dapat dikatakan bahwa
hampir semua perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sudah
mengungkapkan informasi mengenai CSR dalam laporan tahunannya. Dari perspektif
ekonomi, perusahaan akan mengungkapkan suatu informasi jika informasi tersebut
dapat meningkatkan nilai perusahaan (Verecchia, 1983 dalam Basamalah dan
Jermias, 2005). Pada penelitian yang dilakukan oleh Kusumadilaga (2010)
menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara pengungkapan Corporate
Social Responsibility terhadap nilai perusahaan. Sebaliknya pada penelitian yang
dilakukan oleh Nurlela dan Islahudin (2008) menunjukkan hasil yang bertentangan
yakni tidak adanya pengaruh antara pengungkapan Corporate Social Responsibility
terhadap nilai perusahaan.
akan membawa dampak yang positif pula bagi pencitraan perusahaan dimata calon
investor, yang akhirnya akan mempengaruhi nilai perusahaan yang tercermin dari
harga sahamnya.
Pertanggungjawaban sosial perusahaan diungkapkan di dalam laporan yang
disebut Sustainability Reporting. Sustainability Reporting adalah pelaporan mengenai
produknya di dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development)
(ACCA, 2004 dalam Anggraini, 2006). Sustainability report harus menjadi dokumen
strategik yang berlevel tinggi yang menempatkan isu, tantangan dan peluang
Sustainability Development yang membawanya menuju kepada core business dan
sektor industrinya.
Berkaitan dengan pelaksanaan CSR, perusahaan bisa dikelompokkan ke
dalam beberapa kategori. Meskipun cenderung menyederhanakan realitas, tipologi ini
menggambarkan kemampuan dan komitmen perusahaan dalam menjalankan CSR.
Pengkategorian dapat memotivasi perusahaan dalam mengembangkan program CSR,
dan dapat pula dijadikan cermin dan guideline untuk menentukan model CSR yang
tepat.
Menurut Suharto (2007) dengan menggunakan dua pendekatan, sedikitnya
ada delapan kategori perusahaan. Perusahaan ideal memiliki kategori reformis dan
progresif. Tentu saja dalam kenyataannya, kategori ini bisa saja saling bertautan.
1. Berdasarkan proporsi keuntungan perusahaan dan besarnya anggaran CSR:
a. Perusahaan Minimalis. Perusahaan yang memiliki profit dan anggaran CSR
yang rendah. Perusahaan kecil dan lemah biasanya termasuk kategori ini.
b. Perusahaan Ekonomis. Perusahaan yang memiliki keuntungan tinggi, namun
anggaran CSR-nya rendah. Perusahaan yang termasuk kategori ini adalah perusahaan besar, namun pelit.
c. Perusahaan Humanis. Meskipun profit perusahaan rendah, proporsi anggaran
CSR nya relatif tinggi. Perusahaan pada kategori ini disebut perusahaan dermawan atau baik hati.
d. Perusahaan Reformis. Perusahaan ini memiliki profit dan anggaran CSR yang
tinggi. Perusahaan seperti ini memandang CSR bukan sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk lebih maju.
2. Berdasarkan tujuan CSR: apakah untuk promosi atau pemberdayaan masyarakat:
a. Perusahaan Pasif. Perusahaan yang menerapkan CSR tanpa tujuan jelas,
kegiatan karitatif. Perusahaan seperti ini melihat promosi dan CSR sebagai hal yang kurang bermanfaat bagi perusahaan.
b. Perusahaan Impresif. CSR lebih diutamakan untuk promosi daripada untuk
pemberdayaan. Perusahaan seperti ini lebih mementingkan ”tebar pesona” daripada ”tebar karya”.
c. Perusahaan Agresif. CSR lebih ditujukan untuk pemberdayaan daripada
promosi. Perusahaan seperti ini lebih mementingkan karya nyata daripada tebar pesona.
d. Perusahaan Progresif. Perusahaan menerapkan CSR untuk tujuan promosi dan
sekaligus pemberdayaan. Promosi dan CSR dipandang sebagai kegiatan yang bermanfaat dan menunjang satu-sama lain bagi kemajuan perusahaan.
Kategori yang menjadi acuan penulis merupakan kategori yang dikeluarkan
oleh Global Reporting Initiative (GRI) yang meliputi 6 (enam) kategori yaitu
ekonomi, lingkungan, praktek tenaga kerja, hak azasi manusia, sosial dan tanggung
jawab produk sebagai dasar sustainability reporting (laporan berkelanjutan).
2.1.3 Leverage
Menurut Brigham dan Houston (2001) stuktur modal merupakan kombinasi
hutang dan ekuitas dalam struktur keuangan jangka panjang perusahaan. Dalam
studi-studi empiris, leverage didefinisikan sebagai sebuah ukuran yang menunjukkan
seberapa besar tingkat penggunaan hutang dalam membiayai aktiva perusahaan. Ada
tiga ukuran leverage yang sering digunakan sebagai proxy dari struktur modal yaitu
rasio total debt to total asset, rasio long-term debt to total asset dan short-term debt
to total asset. Pengukuran ini sesuai dengan penelitian Chen (2008).
Penggunaan modal pinjamam yang biasa disebut Leverage dimaksudkan
ini dikarenakan penggunaan Leverage mempunyai implikasi penting dan memberikan
manfaat yaitu ;
1. Pembayaran bunga adalah tax deductible, yang menurunkan biaya efektif hutang.
2. Debtholder memperoleh return yang pasti.
3. Melalui financial leverage dimungkinkan laba per lembar saham akan meningkat.
4. Kendali terhadap operasi perusahaan oleh pemegang saham yang ada tidak
berubah.
Kerugian yang ditimbulkan dari penggunaan leverage, yaitu :
1. Semakin tinggi debt ratio, semakin beresiko perusahaan. Karena semakin tinggi
biaya tetapnya yaitu berupa pembayaran bunga.
2. Jika sewaktu-waktu perusahaan kesulitan keuangan dan operating income tidak
cukup untuk menutup beban bunga, maka akan menyebabkan kebangkrutan.
Dari pendapat Brigham dan Houston tersebut dapat dijelaskan bahwa hutang
bisa berpengaruh positif maupun negatif terhadap nilai perusahaan. Pada titik tertentu
peningkatan hutang akan menurunkan nilai perusahaan karena manfaat yang
diperoleh dari penggunaan hutang lebih kecil daripada biaya yang ditimbulkannya.
Para pemilik perusahaan biasanya menciptakan hutang pada tingkat tertentu untuk
menaikkan nilai perusahaan.
Bagi perusahaan, hutang mempunyai dua keuntungan. Pemegang hutang
(debtholder) mendapat pengembalian yang tetap yang pertama. Kedua, bunga yang
dibayarkan dapat mengurangi beban pajak sehingga menurunkan efektif dari hutang.
Kelemahan hutang yaitu bila semakin tinggi rasio hutang (debt ratio), semakin tinggi
pula resiko perusahaan sehingga suku bunga makin tinggi. Apabila perusahaan
mengalami kesulitan keuangan dan laba operasi tidak mencukupi untuk menutupi
beban bunga maka pemegang saham harus dapat menutup kekurangan tersebut, dan
menghambat perkembangan perusahaan yang pada gilirannya dapat membuat
pemegang saham berpikir dua kali untuk tetap menanamkan modalnya. Modigliani
dan Miller mengatakan bahwa teori struktur modal yang optimal didasarkan atas
keseimbangan antara manfaat dan biaya dari pembiayaan dengan hutang. Manfaat
terbesar dari suatu pembiayaan dengan hutang adalah bunga atas hutang dapat
mengurangi pendapatan kena pajak.
Mengingat hutang adalah instrumen yang sensitif terhadap perubahan nilai
perusahaan. Semakin tinggi proporsi hutang maka semakin tinggi harga saham karena
penggunaan hutang diharapkan mampu menambah tingkat pengembalian perusahaan
sehingga pada akhirnya mampu meningkatkan harga perusahaan tersebut melalui
pemenuhan modal yang dibutuhkan perusahaan dalam rangka melancarkan kegiatan
operasional. Ketersediaan modal akan membuat perusahaan mampu bertahan bahkan
mampu berkembang menjadi lebih besar.
Ada beberapa pandangan yang dikemukakan berkaitan dengan struktur modal,
diantaranya :
1. Pecking Order Theory
Teori ini dikenalkan pertama kali oleh Donaldson sejak tahun 1961,
sedangkan penamaan packing order theory dilakukan oleh Myers pada tahun 1984.
Secara singkat teori ini menyatakan bahwa: (a) Perusahaan menyukai internal
financing (pendanaan dari hasil operasi perusahaan berwujud laba ditahan), (b)
Apabila pendanaan dari luar (external financing) diperlukan, maka perusahaan akan
penerbitan obligasi, kemudian diikuti oleh sekuritas yang berkarakteristik opsi
(seperti obligasi konversi), baru akhirnya apabila masih belum mencukupi, maka
saham baru diterbitkan. Sesuai dengan teori ini, tidak ada suatu target debt to equity
ratio, karena ada dua jenis modal sendiri, yaitu internal dan external. Modal sendiri
yang berasal dari dalam perusahaan lebih disukai daripada modal sendiri yang berasal
dari luar perusahaan.
Menurut Myers (1984) perusahaan lebih menyukai penggunaan pendanaan
dari modal internal, yakni dana yang berasal dari aliran kas, laba ditahan dan
depresiasi. Urutan penggunaan sumber pendanaan dengan mengacu pada packing
order theory adalah: internal fund (dana internal), debt (hutang), dan equity (modal
sendiri). Dana internal lebih disukai dari dana eksternal karena dana internal
memungkinkan perusahaan untuk tidak perlu "membuka diri lagi" dari sorotan
pemodal luar. Kalau bisa memperoleh sumber dana yang diperlukan tanpa
memperoleh "sorotan dan publisitas publik" sebagai akibat penerbitan saham baru.
Dana eksternal lebih disukai dalam bentuk hutang daripada modal sendiri karena dua
alasan. Pertama adalah pertimbangan biaya emisi. Biaya emisi obligasi lebih murah
dari biaya emisi saham baru.
Husnan (1996) menyatakan bahwa hal ini disebabkan karena penerbitan
saham baru akan menurunkan harga saham lama. Kedua, manajer khawatir kalau
penerbitan saham baru akan ditafsirkan sebagai kabar buruk oleh para pemodal, dan
membuat harga saham akan turun. Hal ini disebabkan antara lain oleh kemungkinan
2. Signaling Theory
Isyarat atau signal menurut Brigham dan Houston (2001) adalah suatu
tindakan yang diambil manajemen perusahaan yang memberi petunjuk bagi investor
tentang bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan. Dalam Brigham dan
Houston (2001), perusahaan dengan prospek yang menguntungkan akan mencoba
menghindari penjualan saham dan mengusahakan setiap modal baru yang diperlukan
dengan cara-cara lain, termasuk penggunaan hutang yang melebihi target struktur
modal yang normal. Perusahaan dengan prospek yang kurang menguntungkan akan
cenderung untuk menjual sahamnya. Pengumuman emisi saham oleh suatu
perusahaan umumnya merupakan suatu isyarat (signal) bahwa manajemen
memandang prospek perusahaan tersebut suram. Apabila suatu perusahaan
menawarkan penjualan saham baru, lebih sering dari biasanya, maka harga sahamnya
akan menurun, karena menerbitkan saham baru berarti memberikan isyarat negatif
yang kemudian dapat menekan harga saham sekalipun prospek perusahaan cerah.
Kasus yang dialami Enron pada bulan Desember 2001 salah satu bukti yang
bisa dijadikan bahan pertimbangan didalam pengambilan kebijakan hutang. Diawali
ketika Kenneth Lay, seorang pengamat ekonomi dan mantan wakil menteri pada
Departemen Interior Amerika Serikat, membangun Enron di tahun 1985 dengan
melakukan penggabungan dua perusahaan gas alam yang memiliki sistem pipanisasi
terpadu, ketika bergabung bersama, membentuk untuk pertama kalinya sistem
nasional yang dapat mendistribusikan gas alam ke pabrik-pabrik seluruh negeri. Lay
perusahaan lain, dan di tahun 1987 hutang yang dimiliki Enron sudah sebesar 75%
dari nilai pasar sahamnya, yang berakibat menciptakan masalah yang berlarut-larut
dalam perusahaan.
Untuk memasuki beberapa pasar yang ia perdagangkan, ia harus meminjam
lagi sejumlah uang yang sangat besar untuk membeli infrastruktur yang dibutuhkan
untuk mengangkut, menyimpan, dan mengirimkan komoditas yang diperdagangkan.
Tingkat hutang yang tinggi menyebabkan terbuka lebarnya jalan kebangkrutan dan
juga akan menurunkan peringkat investasi serta juga akan membuat bank menarik
pinjamannya kembali. Ditambah lagi dengan kecurangan yang dilakukan oleh
Anderson sebagai akuntan dalam menutupi keadaan ini. Tingkat hutang yang dimiliki
Enron membuat nilai perusahaannya jatuh sampai menjadi nol dan kehilangan 70
milyar dolar AS atas kerugian tersebut.
Hasil penelitian yang dilakukan Sujoko dan Soebiantoro (2007), dan Susanti
(2010) menamukan hasil bahwa leverage mempunyai hubungan negatif dan
signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya semakin tinggi leverage suatu
perusahaan, maka nilai perusahaannya akan turun.
2.1.4 Investment Opportunity Set
Investment opportunity Set (IOS) diperkenalkan pertama kali oleh Myers pada
tahun 1977. Investment opportunity Set (IOS) menurut Myers (1977) adalah
kombinasi antara aktiva yang dimiliki perusahaan (assets in place) dan pemilihan
Sementara Gaver dan Gaver (1993) mengemukakan definisi Investment Opportunity
Set (IOS) sebagai nilai perusahaan yang besarnya tergantung pada pengeluaran yang
ditetapkan oleh manajemen untuk masa mendatang dalam ukuran uang, yang pada
saat ini sebagai alternatif investasi yang expected returnnya lebih besar. Perbedaan
nilai buku saham dan nilai pasar tidak lain adalah Investment opportunity Set (IOS).
Kenaikan nilai perusahaan yang dihasilkan dari berbagai alternatif pilihan
kesempatan investasi perusahaan dimasa yang akan datang adalah IOS.
Nilai perusahaan dipengaruhi oleh dua hal yaitu asset yang saat ini telah
ditempatkan dan opsi untuk investasi di masa depan. Investment Opportunity Set
(IOS) lebih ditekankan pada opsi investasi di masa depan. Opsi investasi di masa
depan dapat diperoleh jika perusahaan memiliki proyek dengan net present value
positif. Investment opportunity Set (IOS) bukan merupakan pertumbuhan riil yang
dicapai perusahaan saat ini namun kesempatan perusahaan untuk bertumbuh di masa
mendatang. Sehingga ukuran Investment opportunity Set (IOS) secara esensi selain
dikaitkan dengan diperolehnya proyek yang menguntungkan adalah investasi
perusahaan di research and development serta aktiva tetap. Dengan melakukan
investasi untuk R&D dan aktiva tetap, perusahaan akan menikmati pertumbuhan riil
dimasa mendatang.
Investment opportunity Set (IOS) meliputi pengeluaran modal untuk
pengenalan produk baru, atau memperluas jangkauan pasar produk yang ada,
kebijakan akuntansi yang menguntungkan. Lebih lanjut Myers (1977), menyatakan
bahwa semua biaya variable adalah bagian dari Investment opportunity Set (IOS).
Pengukuran Investment opportunity Set (IOS) beragam, baik yang
menggunakan faktor tunggal maupun dengan menggunakan kombinasi beberapa
faktor. Sebagian besar menggunakan ukuran data-data pasar modal dalam
menghitung Investment opportunity Set (IOS) karena lebih banyak menggunakan
ukuran harga saham dan market value of equity sebagai proksi dari Investment
opportunity Set (IOS). Investment opportunity Set (IOS) dapat diamati dari
pertumbuhan nilai buku perusahaan di masa mendatang. Nilai perusahaan di masa
mendatang akan tercermin dari harga saham, karena harga saham mencerminkan
present value dari arus kas di masa mendatang yang akan diterima investor.
Untuk mencapai tujuan perusahaan, manajer membuat keputusan investasi
yang menghasilkan net present value positif. Fama (1978). mengatakan bahwa nilai
perusahaan semata-mata ditentukan oleh keputusan investasi. Pendapat tersebut dapat
diartikan bahwa keputusan investasi itu penting, karena untuk mencapai tujuan
perusahaan hanya akan dihasilkan melalui kegiatan investasi perusahaan. Keputusan
investasi tidak dapat diamati secara langsung.
Jenis pengeluaran modal tampaknya besar pengaruhnya terhadap nilai
perusahaan, karena jenis informasi tersebut akan membawa informasi tentang
pertumbuhan pendapatan yang diharapkan di masa yang akan datang. Mc Connel dan
Muscarella (1984) menguji gagasan dalam kaitannya dengan tingkat pengeluaran
relatif terhadap harapan-harapan sebelumnya, mengakibatkan kenaikan return atas
saham sekitar waktu pengumuman, dan sebaliknya return negatif atas perusahaan
melakukan penurunan pengeluaran modal. Temuan tersebut telah membawa kepada
suatu hasil yang menyatakan bahwa keputusan investasi yang dilakukan mengandung
informasi yang berisi sinyal-sinyal akan prospek perusahaan di masa yang akan
datang.
2.1.5 Ukuran Perusahaan
Besar (ukuran) perusahaan dapat dinyatakan dalam total aktiva, penjualan dan
kapitalisasi pasar. Semakin besar total aktiva, maka semakin banyak modal yang
ditanam. semakin banyak penjualan, maka semakin banyak perputaran uang. Semakin
besar kapitalisasi pasar, maka semakin dikenal dalam masyarakat. Perusahaan yang
memiliki total aktiva besar menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah mencapai
tahap kedewasaan dimana dalam tahap ini arus kas perusahaan sudah positif dan
dianggap memiliki prospek yang baik dalam jangka waktu yang relatif lama, selain
itu juga mencerminkan bahwa perusahaan relatif lebih stabil dan lebih mampu
menghasilkan laba dibanding perusahaan dengan total aset yang kecil.
Menurut Sujoko dan Soebiantoro (2007) ukuran perusahaan yang besar
menunjukkan perusahaan mengalami perkembangan sehingga investor akan
merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Hal tersebut dikarenakan
perusahaan-perusahaan yang memilki size yang cukup besar, umumnya sudah berada
yang akan datang serta pangsa pasar relatif menunjukkan daya saing perusahaan lebih
tinggi dibanding pesaing utamanya. Investor akan merespon positif sehingga nilai
perusahaan akan meningkat. Kemudian pada umumnya perusahaan dengan ukuran
yang besar memilki total aktiva yang besar pula sehingga dapat menarik investor
untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut dan akhirnya saham tersebut
mampu bertahan pada harga yang tinggi. Pada umumnya perusahaan dengan size
kecil sangat riskan terhadap perubahan kondisi ekonomi dan cenderung kurang
menguntungkan dibandingkan dengan saham dengan size besar.
Dari beberapa penelitian yang dilakukan terkait dengan pengaruh ukuran
perusahaan terhadap nilai perusahaan, menunjukkan hasil yang konsisten yaitu
berpengaruh positif signifikan, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Sujoko
dan Soebinatoro (2007) serta Herawaty (2008) yang konsisten menemukan hasil
bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai
perusahaan, hal ini menunjukkan semakin besar perusahaan maka semakin baik nilai
perusahaannya.
Semakin besar ukuran perusahaan, biasanya informasi yang tersedia untuk
investor dalam pengambilan keputusan sehubungan dengan investasi dalam saham
perusahaan tersebut semakin banyak. Ukuran perusahaan dapat diproksikan ke dalam
logaritma natural dari total aktiva (Brigham and Houston, 2001).
Ukuran perusahaan merupakan salah satu hal yang dipertimbangkan
perusahaan dalam menentukan kebijakan hutangnya. Perusahaan besar diantaranya