UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI
MEDAN
SKRIPSI
PENGARUH LABA BERSIH, POTENSI PERTUMBUHAN, ROE, EPS DAN DER TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN
MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
OLEH
NAMA : ARIF MUDA ADI PERDANA
NIM : 050503100
DEPARTEMEN : AKUNTANSI
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Universitas Sumatera Utara
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pengaruh Laba
Bersih, Potensi Pertumbuhan, ROE, EPS dan DER Terhadap Kebijakan Dividen
Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia” adalah
benar hasil karya saya sendiri dan judul yang dimaksud belum pernah dimuat,
dipublikasikan, atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan skripsi
untuk Program Reguler S-1 Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas
Sumatera Utara. Semua sumber data dan informasi yang diperoleh telah
dinyatakan dengan jelas dan benar adanya. Apabila dikemudian hari pernyataan
ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Universitas
Sumatera Utara.
Medan, September 2010 Yang membuat pernyataan,
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
nikmat dan kemudahannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat
waktu guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Sumatera Utara.
Shalawat beriring salam penulis hadiahkan kepada Rasulullah SAW yang
syafa’atnya diharapkan di akhirat kelak.
Sepanjang proses penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak
bantuan, dukungan, serta do’a dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam
kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, MEc. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Hasan Sakti Siregar, M.Si, Ak dan Ibu Dra. Mutia Ismail,
MM, Ak. selaku Ketua Departemen dan Sekretaris Departemen Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Idhar Yahya, MBA selaku Dosen Pembimbing. Terima kasih
atas semua waktu dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis
selama proses penyusunan dan penyelesaian skripsi ini.
4. Ibu Dra. Narumondang B Siregar, MM, Ak, selaku Dosen Pembanding/
Penguji I dan Ibu Risanty SE, AK, MSi, selaku Dosen Pembanding/
5. Kedua orang tua penulis, Ayahanda Drs. Muda Sutan Harahap dan Ibunda
Dra. Radna Dewi Siregar terima kasih atas semua kasih sayang, do’a,
dukungan, didikan, dan semangat yang sangat berarti. Semoga penulis
dapat menjadi anak yang dapat dibanggakan.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, saran dan kritik yang membangun, sangat penulis harapkan dari para pembaca
untuk penulisan selanjutnya. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini
bermanfaat bagi para pembacanya.
Medan, September 2010 Peneliti,
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui apakah ada pengaruh laba bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER baik simultan dan parsial terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel laba bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER sebagai variabel independen dan dividend payout ratio(DPR) sebagai variabel dependen.
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2005-2008. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 143 perusahaan. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan sampel yang diperoleh dalam penelitian ini berjumlah 14 perusahaan dengan total 56 amatan. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah motode analisis statistic deskriptif, uji asumsi klasik dan uji hipotesis (uji t, uji F dan uji determinasi). Pengujian dalam penelitian ini dilakukan dengn menggunakan program computer SPSS 16.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel laba bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER berpengaruh secara simultan terhadap dividen payout ratio. Secara parsial laba bersih, ROE dan DER berpengaruh signifikan terhadap DPR. Potensi pertumbuhan dan EPS tidak berpengaruh signifikan terhadap DPR.
ABSTRACT
This research have a purpose to knowing that there are an effect net income, growth potensial, ROE, EPS and DER to Dividend policy to manufacturing company in Indonesian Stock Exange. The independend variabel in this research are net income, growth potensial, ROE, EPS and DER and the dependend variabel is dividend payout ratio.
The population in this research is manufacturing company that listed in Indonesia Stock Exchange year 2005-2008. The population in this research is amount 143 companies. Sampel electing is gotten by purposive sampling method and number of sample is gotten in this reaserarch is 14 company. With totalt observation is 56 observation. The method analyze that used are Statistic deskriptif, analyze, classic asumtion test and hipothesyst test (t test , F test and determination test). The examination in this research use SPSS 16 computer program.
The result in this research show that net income, growth potensial, ROE, EPS and DER as together (simultan) have an signifikan effect to DPR. Individually net income, ROE and DER have an effect to DPR. Growth potensial and EPS have no significant effect to DPR.
DAFTAR ISI
PERNYATAAN ... i
KATA PENGANTAR ... ii
ABSTRAK ... iv
ABSTRACT ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Perumusan Masalah... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Laba Bersih ... 7
2. Potensi Pertumbuhan ... 7
3. Return on Equity (ROE) ... 8
5. Debt to Equity Ratio (DER) ... 9
6. Kebijakan Dividen a. Pengertian Kebijakan Dividen ... 10
b. Jenis Kebijakan Dividen ... 10
c. Teori Kebijakan Dividen ... 11
d. Indikator Kebijakan Dividen ... 13
B.Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 14
C.Kerangka Konseptual dan Hipotesis Penelitian ... 16
1. Kerangka Konseptual ... 16
2. Hipotesis Penelitian ... 18
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 19
B. Jenis dan Sumber Data ... 19
C. Populasi Penelitian ... 20
D. Sampel dan Teknik Penentuan Sampel ... 20
E. Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 21
G. Metode dan Teknik Analisis Data... 23
1. Pengujian Asumsi Klasik ... 23
2. Pengujian Hipotesis ... 27
B. Hasil Analisis ... 31
1. Pengujian Asumsi Klasik ... 31
a. Hasil Uji Normalitas ... 31
b. Hasil Uji Heteroskedastisitas... 34
c. Hasil Uji Autokorelasi ... 36
d. Hasil Uji Multikolinearitas ... 37
2. Hasil Pengujian Hipotesis ... 39
a. Hasil Uji Koefisien Determinasi ... 39
b. Hasil Uji Signifikan Simultan (Uji F) ... 40
c. Hasil Uji Signifikan Parsial (Uji t) ... 41
C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 43
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 45
B. Keterbatasan ... 45
C. Saran ... 46
DAFTAR PUSTAKA ... 47
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
Tabel 2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 14
Tabel 3.1 Sampel Penelitian ... 20
Tabel 4.1 Statitstik Deskriptif ... 30
Tabel 4.2 One–Sample Kolmogorov–Smirnov Test ... 34
Tabel 4.3 Hasil Uji Heteroskedastisitas... 36
Tabel 4.4 Hasil Uji Autokorelasi ... 37
Tabel 4.5 Hasil Uji Multikolinearitas ... 38
Tabel 4.6 Variabel Entered/Removed ... 39
Tabel 4.7 Adjusted R2 ... 40
Tabel 4.8 Hasil Uji F ... 41
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual ... 16
Gambar 4.1 Grafik Histogram ... 32
Gambar 4.2 Grafik P-P Plot ... 33
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
Lampiran i Populasi dan Sampel Penelitian ... 49
Lampiran ii Data Penelitian ... 55
Lampiran iii Statitstik Deskriptif ... 58
Lampiran iv Uji Normalitas ... 58
Lampiran v Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 60
Lampiran vi Hasil Uji Autokorelasi ... 61
Lampiran vii Hasil Uji Multikolinearitas ... 61
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui apakah ada pengaruh laba bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER baik simultan dan parsial terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel laba bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER sebagai variabel independen dan dividend payout ratio(DPR) sebagai variabel dependen.
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2005-2008. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 143 perusahaan. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan sampel yang diperoleh dalam penelitian ini berjumlah 14 perusahaan dengan total 56 amatan. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah motode analisis statistic deskriptif, uji asumsi klasik dan uji hipotesis (uji t, uji F dan uji determinasi). Pengujian dalam penelitian ini dilakukan dengn menggunakan program computer SPSS 16.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel laba bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER berpengaruh secara simultan terhadap dividen payout ratio. Secara parsial laba bersih, ROE dan DER berpengaruh signifikan terhadap DPR. Potensi pertumbuhan dan EPS tidak berpengaruh signifikan terhadap DPR.
ABSTRACT
This research have a purpose to knowing that there are an effect net income, growth potensial, ROE, EPS and DER to Dividend policy to manufacturing company in Indonesian Stock Exange. The independend variabel in this research are net income, growth potensial, ROE, EPS and DER and the dependend variabel is dividend payout ratio.
The population in this research is manufacturing company that listed in Indonesia Stock Exchange year 2005-2008. The population in this research is amount 143 companies. Sampel electing is gotten by purposive sampling method and number of sample is gotten in this reaserarch is 14 company. With totalt observation is 56 observation. The method analyze that used are Statistic deskriptif, analyze, classic asumtion test and hipothesyst test (t test , F test and determination test). The examination in this research use SPSS 16 computer program.
The result in this research show that net income, growth potensial, ROE, EPS and DER as together (simultan) have an signifikan effect to DPR. Individually net income, ROE and DER have an effect to DPR. Growth potensial and EPS have no significant effect to DPR.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembiayaan merupakan salah satu hal yang penting bagi keberhasilan usaha
perusahaan. Fungsi ini penting karena dalam kegiatan operasinya perusahaan
sangat membutuhkan dana. Baik perusahaan besar maupunkecil dana sangat
dibutuhkan untuk menjalankan kegiatan usahanya. Dana yang dibutuhkan bisa
diperoleh baik melalui pembiayaan dari dalam perusahaan (internal financing)
maupun pembiayaan dari luar perusahaan (eksternal financing). Sumber
pembiayaan modal internal adalah berupa pemanfaatana laba yang ditahan
(retained earning), yaitu laba yang tidak dibagikan sebagai dividen. Sumber
pembiayaan eksternal diperoleh perusahaan dengan melakukan pinjaman kepada
pihak klien atau menjual sahamnya kepada masyarakat (go public) di pasar modal.
Aspek financial adalah salah satu faktor yang selalu dipertimbangkan bagi
setiap investor dalam menganalisis tingkat pengembalian investasinya. Investor
melakukan investasi pada suatu perusahaan tertentunya mengharapkan return atas
investasi mereka,. Menurut Pradhono (2004: 149), “ return yang diterima oleh
pemegang saham adalah pengembalian yang diterima atas investasi yang telah
dilakukan. Return tersebut dapat berupa capital gain yaitu keuntungan yang
diperoleh dari selisih pergerakan harga saham pada saat membeli dan menjual dan
keuntungan yang diperoleh dari pembagian dividen atau laba yang dibagikan
Laba (income) sering dinyatakan sebagai indikasi kemampuan perusahaan
dalam membayar dividen. Laba bersih yang diperoleh perusahaan sebagaian
diberikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen, sebagian lagi disisihkan
menjadi laba ditahan karena itu tingkat pembayaran dividen yang dilakukan oleh
perusahaan bervariasi tergantung kebijakan perusahaan. Para pemegang saham
tentunya tentu berharap mendapatkan dividen dalam jumlah yang besar tetapi
perusahaan mempunyai pertimbangan yang logis karena perusahaan harus
memikirkan kelangsungan hidup perusahaan dimasa mendatang.
Satu hal yang perlu diingat adala kebijakan dividen merupakan bagian yang
menyatu dengan kebijakan pendanaan perusahaan. Dengan melihat kebijakan
perusahaan dan peluang bisnis yang melibatkan keputusan pendanaan perusahaan
yang melibatkan laba ditahan maka dapat dilakukan evaluasi kelayakan investasi
yang dapat memaksimalkan profit perusahaan. Setiap periode perusahaan harus
memutuskan apakah laba yang diperoleh oleh perusahaan akan ditahan untuk
pendanaan berinvestasi atau akan didistribusikan ke para pemegang saham.
Banyak perusahaan yang memperoleh laba yang besar terkadang tidak
membagikan dividen kepada para pemegang saham, akan tetapi lebih mencoba
untuk melakukan pengembangan bisnis dengan adanya pembentukan divisi
organisasi pada suatu perusahaan untuk mempelajari kelayakan investasi dan
ekspansi bisnis. Hal ini terjadi karena pada dasarnya laba yang diperioleh akan
dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Lalu timbul pertanyaan
, jika tidak membagikan dividen, untuk apakah laba yang diperoleh tersebut?.
dan terdapat kelebihan dari dana tersebut, maka kelebihan dana tersebut akan
dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen kas ( Van Horne &
Wachowize, 2005: 496).
Perusahaan didalam operasi normalnya terkadang mempunyai laba yang besar
dalam kegiatan bisnisnya selama setahun tetapi laba tersebut tidak mencerminkan
jumlah kas atau likuiditas perusahaan yang sebenarnya. Hal ini disebabkan
pendapatan maupun penjualan tidak selamanya diterima berupa kas tetapim masih
berupa piutang yang akan diterima beberapa tahun ke depan. Namun, perusahaan
tetap mengakui sebagai pendapatan dan melaporkannya ke dalam laporan laba
rugi dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dalam hal pengakuan
pendapatan untuk tujuan akuntansi meskipun tidak menerima seluruhnya berupa
kas. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi perusahaan dalam hal pembagian
dividen kepada para pemegang saham. Bagi perusahaan, informasi yang
terkandung dalam dividen payout ratio ( DPR) digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam penganbilan keputusan investasi, yaitu apakah akan
menanamkan dananya atau tidak pada suatu perusahaan. Banyak pemegang saham
yang hidup dari penghasilan berupa dividen, mereka tentu akan akan memilih
saham-saham yang dividennya dapat mereka andalkan.
Fenomena yang terjadi aalah banyak perusahaan yang memiliki pertumbuhan
laba yang cenderung menurun, dividen yang diberikan perusahaan justru lebih
besar dari tahun sebelumnya dan sebaliknya banyak perusahaan yang memiliki
pertumbuhan laba yang meningkat, dividen yang diberikan perusahaan justru
memberikan dividen sama sekali selama lima tahun berturut-turut. Berdasarkan
fenomena tersebut laba yang dihasilkan bukanlah satu-satunya faktor yang
dipertimbangkan pihak manajemen dalam menetapkan besarnya dividen payout
ratio. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen suatu perusahaan
seperti faktor likuiditas, kebutuhan dana untuk membayar hutang, tingkat ekspansi
bisnis yang direncanakan, faktor pengawasan, ketentua-ketentuan dari pemerintah,
pajak kekayaan dari pemegang saham.
Helmi (2004) menyatakan untuk membayar dividen suatu perusahaan harus
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi alokasi laba untuk dividend an
untuk laba ditahan. Ada faktor utama yang harus dipertimbangkan, misalnya
ktersedian kas karena walaupun perusahaan memperoleh laba namun jika uang
kas tidak mencukupi maka ada kemungkinan perusahaan memilih menahan laba
tersebut untuk diinvestasikan kembali bukan diberikan kepada pemegang saham
dalam bentuk dividen. Pembagian dividend an pertumbuhan perusahaan ingin
mengetahui berapa laba bersih yang diperoleh perusahaan dan laba tersebut
berupa yang akan diberikan sebagai dividen.
Pada umumnya pihak manajemen cenderung untuk melakuakn pembayaran
dividen sesuai dengan kebijakan dividen yang telah ditetapkan. Akan tetapi ada
pihak manajemen yang menahan kas mareka untuk melunasi kewajiban dan
melakukan investasi. Apabila kondisinya melakukan iunvestasi maka perusahaan
pada umumnya melakukan pembayaran dividen kepada para pemegang saham
Dari pernyataan-pernyataan diatas, penulis menyimpulkan bahwa dalam
menetapkan kebijakan dividen, manajemen tentu sangat memperhatikan laba
bersih yang dihasilkan perusahaan dan kas yang tersedia di perusahaan. Jumlah
kas yang berasal dari aktivitas oparasi merupakan indikator yang menentukan
pakah kegiatan operasi perusahaan dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk
melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar
dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan sumber pendanaan.
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik mengadakan penelitian dengan
judul “ Pengaruh Laba Bersih, Potensi Pertumbuhan, ROE, EPS, DER
Terhadap Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, maka dirumuskan masalah
yang diteliti sebagai berikut: “Apakah ada pengaruh laba bersih, potensi
pertumbuhan, ROE, EPS dan DER baik simultan dan parsial terhadap kebijakan
dividen pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh laba
bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER baik simultan dan parsial
terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
D.Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi peneliti, untuk menambah wawasan dan memperluas pola piker secara
ilmiah dalam bidang akuntansi terutama dalam memahami laba bersih,
potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER dan pengaruhnya terhadap
kebijakan dividen perusahaan,
2. Bagi peneliti lainnya, dapat menjadi bahan referensi dalam melakukan
penelitian sejenis,
3. Bagi investor, dapat dijadikan pertimbangan untuk menetapkan investasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis 1. Laba Bersih
Laba bersih adalah kelebihan seluruh pendapatan atas seluruh biaya untuk
suatu periode tertentu setelah dikuarangi pajak penghasilan yang disajikan dalam
bentuk laporan laba rugi. Para akuntan menggunakan istilah “net income” untuk
menyatakan kelebihan pendaopatan atas biaya dan istilah “net loss” untuk
menyatakan kelebihan biaya atas pendapatan. Untuk menentukan keputusan
investasinya, calon investor perlu menilai perusahaan dari segi kemampuan untuk
memperoleh laba bersih sehingga diharapkan perusahaan dapat memberikan
tingkat pengambalian yang tinggi. Laba bersih (net income) dapat dijadikan
ukuran kinerja perusahaan selama satu periode tertentu. Earning merupakan suatu
ukuran berupa besar harta yang masuk (pendapatan dan keuntungan) melebihi
harta yang keluar (beban dan kerugian).
2. Potensi Pertumbuhan
Semakin cepat tingkat pertumbuhan perusahaan, semaklin besar kebutuhan
akan dana untuk membiayai perluasan. Semakin besar kebuthan dana dimasa
mendatang, semakin mungkin perusahaan menahan pendapatan, bukan
membayarkannya sebagai dividen. Karena itu potensi pertumbuhan perusahaan
menjadi faktor yang penting dalam kebijakan dividen. Rumus yang digunakan
Potensi pertumbuhan=
3. Return on Equity (ROE)
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam menciptakan laba. Salah
satu rasio yang diguanakan dalam mengukur tingkat profitabilitas perusahaan
adalah return on equity (ROE). Rasio ini menunjukkan tingkat keuntungan dari
investasi yang ditanamkan pemegang saham (L.Thian Hin, 2001:64). ROE sering
disebut rate of return on net worth, yaitu kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri yang dimiliki sehingga ROE ini
ada yang menyebutnya sebagai rentabilitas modal sendiri. Rasio ini merupakan
ukuran profitabilitas dari sudut pandang pemegang saham. Menurut Darsono
(2005: 57), “ ROE menunjukkan kesuksesan manajemen dalam memaksimalkan
tingkat kembalian pada pemegang saham. Semakin tinggi rasio ini akan semakin
baik karena memberikan tingkat kembalian yang lebih besar pada pemegang
saham. Sehingga pembanding untuk rasio ini adalah tingkat suku bunga bebas
resiko misalkan suku bunga bank Indonesia. Rumus yang digunakan untuk
mengukur rasio profitabilitas adalah sebagai berikut:
ROE=
4. Earning Per Share (EPS)
Earning per share merupakan laba yang diperoleh perusahaan per lembar
saham. Laba perusahaan merupakan alat ukur yang berguna untuk
membandingkan laba suatu entitas dari waktu ke waktu jika terjadi perubahan
dalam stuktur modal. Laba per saham sejak dulu dihitung dan digunakan oleh para
analis keuangan. Perhitungan laba per saham yang mengarah ke masa depan
mencoba memberikan informasi menganai laba per saham yang mungkin akan
diperoleh di masa datang. Menurut Syamsudin (1985) dalam Hairunnisa (2004)
pada umumnya manajemen perusahaan dan pemegang saham sangat tertarik akan
EPS karena hal ini menggambarkan jumlah rupiah yang diperoleh untuk setiap
lembar saham biasa. Para calon pemegang saham tertarik dengan EPS yang besar.
Karena hal ini merupakan salah satu indikator keberhasilan perusahaan. Rumus
untuk menghitung EPS adalah sebagai berikut:
EPS=
5. Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to equity ratio yaitu rasio yang menunjukkan persentase penyedian dana
oleh pemegang saham terhadap pemberi pinjaman. Semakin tinggi rasio, semakin
rendah pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham. Dari
perspektif kemampuan membayar kewajiban jangka panjang, semakin rendah
rasio akan semakin baik kemampuan dalam membayar kewajiban jangka panjang
(Darsono, 2005:54). Rumusnya adalah sebagai berikut:
DER=
6. Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam keputusan
pendanaan perusahaan. Rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio)
menentukan jumlah laba yang dapat ditahan dalam perusahaan sebagai sumber
pendanaan. Akan tetapi dengan menahan laba saat ini dalam jumlah yang besar
dalam perusahaan juga berarti lebih sedikit uang yang akan tersedia bagi
pembayaran dividen pada saat ini. Jadi aspek utama dalam kebijakan dividen
perusahaan adalah menentukan alokasi laba yang tepat antara pembayaran dividen
dengan penambahan laba ditahan perusahaan (James, 2005:270). Menurut Sartono
(2001: 281), “ kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh
perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan
ditahan guna pembiayaan investasi di masa mendatang.” Kebijakan dividen
bersangkutan dengan penentuan pendapatan (earning) antara penggunaan
pendapatan untuk dibayarakan kepada pemegang saham sebagai dividen atau
untuk digunakan di dalam perusahaan yang berarti laba tersebut harus ditahan di
dalam perusahaan (Riyanto, 2001: 265).
b. Jenis Kebijakan Dividen
Menurut Indrio dan Basri (2002:231), secara umum kebijakan dividen yang
ditempuh perusahaan yaitu: stable dividend policy, fluctuating dividend policy dan
kombinasi stable policy dan fluctuating dividend policy.
1) Stable dividend policy
Pada kebijaksanaan ini besarnya dividen yang dibayarkan selalu stabil dalam
jumlah yang tetap, stabil yang makin naik dan stabil yang main turun. Jadi
terjadi fluktuasi dalam net income. Apabila pada suatu saat kondisi
perusahaan mengalami kerugian, pembayaran dividen akan diambilkan dari
cadangan stabilisasi dividen.
2) Fluctuating dividend policy
Pada kebijakan ini besarnya dividen yang dibayarkan berdasarkan pada
tingkat keuntungan pada akhir periode. Apabila tingkat keuntungan tinggi
maka besarnya dividen yang akan dibayarkan relatif tinggi, dan sebaliknya
bila tingkat keuntungan rendah maka besarnya dividen yang dibayarkan
juga rendah atau bisa dikatakan selalu proporsional dengan keuntungan.
3) kombinasi stable policy dan fluctuating dividend policy
Pada kebijakan ini besarnya dividen yang dibayarkan sebagian ada yang
bersifat stabil atau tetap, tetapi sebagian yang lain bersifat proporsional
dengan tingkat keuntungan yang dicapai. Apabila perusahaan tidak
mendapatkan laba para pemegang saham masih mendapat dividen tetap dan
apabila didapatkan keuntungan dari hasil operasinya di daqpatkan bagian
keuntungan. Bagian dividen yang proporsional besarnya tidak sama dengan
dividen yang menggunakan kebijakan fluktuatif.
c. Teori Kebijakan Dividen
Ada beberapa teori yang relevan dalam kebijakan dividen yaitu: smoothing
theory, clientele effect theory, tax preference theory , dividend irrelevance theory,
bird in the hand theory, residual theory of dividend, teori signal atau isi formasi
dividen ( information content of dividend)
Teori ini dikembangkan oleh Litner. Teori ini mengatakan bahwa jumlah
dividen bergantung akan keuntungan perusahaan sekarang dan dividen tahun
sebelumnya.
2) Clientele Effect Theory
Teori ini diungkapkan oleh Black ang Scholes. Teori ini mengatakan bahwa
kelompok (clientele) pemegang saham yang berbeda akan memiliki
preferensi yang berbeda terhadap kebijakan dividen perusahaa
3) Tax Preference Theory
Menurut teori ini, investor tidak terlalu menyukai dividen karena dividen
diberlakukan bagi investor capital gain atau dividen. Pada umumnya
besarnya pajak yang diberlakukan berbeda, dimana pajak untuk dividen
lebih besar dibandingkan pajak untuk capital gain.
4) Dividen Irrelevance Theory
Menurut teori ini kebijakan dividen tidak akan memberikan pengaruh
apapun pada harga saham tersebut.
5) Bird in The Hand Theory
Teori ini mengatakan pembayaran dividen mengurangi ketidakpastian
karena dividen diterima saat ini, sedangkan capital gain diterima di masa
mendatang.
6) Residual Theory of Dividend
Menurut teori dividen residual, dividen ditentukan dengan cara: a).
mempertimbangkan kesempatan investasi perusahaan, b).
besarnya modal sendiri yang dibutuhkan investasi, c). memanfaatkan laba
ditahan untuk memenuhi kebutuhan akan modal sendiri semaksimal
mungkin, d). membayar dividen hanya jika ada sisa laba.
7) Teori Signal atau Isi Informasi Dividen (information contain of dividend)
Ada kecenderungan harga saham akan naik jika ada pengumuman kenaikkan
dividen, dan harga saham akan turun jika ada pengumuman penurunan
dividen. Teori tersebut kemudian dikenal sebagai teori signal atau isi
informasi dividen. Menurut teori ini, dividen mempunyai kandungan
informasi, yaitu prospek perusahaan di masa yang akan datang.
d. Indikator Kebijakan Dividen
Indikator yang digunakan untuk mengukur kebijakan dividen adalah rasio
pembayaran dividen (dividen payout ratio atau DPR). DPR merupakan rasio hasil
perbandingan antara dividen dengan laba yang tersedia bagi pemegang saham
biasa dan secara sistematis dirumuskan sebagai berikut:
DPR=
Penelitian terdahulu yang dapat mendukung penelitian ini adalah Triana
hidayati (2006), Karina (2006), Farih Hakaim (2007) dan Happy S Hartadi (2006).
Tinjauan penelitian terdahulu pada table 2.1 sebagai berikut.
Tabel 2.1
Tinjuan Penelitian Terdahulu
Nama peneliti (Tahun)
Judul Variabel Hasil
Triana Hidayati (2006)
faktor-faktor yang mempengaruhi dividen kas di bursa efek Jakarta tahun 1999-2003
Independen: ROI, cash ratio, current ratio, debt to total asset, earning per share (EPS),
cash dividend pay out ratio
Dependen: cash dividend
cash dividend pay out ratio
secara signifikan mempengaruhi cash dividend.
ROI, Cash Ratio, Current Ratio, DTA, dan EPS tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan cash dividend Karina Cahyati (2006) Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi dividen per share pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek jakarta
Independen: current ratio, debt to equity ratio, dividen per share tahun sebelumnya, earning per share, total assets turn over
Dependen: dividen per share
Farih Rahman Hakim (2007) Analisis Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Rasio Pembayaran Deviden pada Perusahan Manufaktur yang MembagikanDeviden dan Terdaftar di BEJ Tahun 2003-2005
Independen: cash position, profitability, firm size dan debt to equity ratio Dependen: devidend payout ratio cash posisition, profitability,firm size dan debt to equity ratio secara simultan berpengaruh
signifikan terhadap variabel devidend payout ratio Secara parsial variabel cash posisition dan profitability berpengaruh secara signifikan terhadap variabel devidend payout ratio
firm size dan debt to equity ratio tidak berpengaruh signifikanterhadap variabel devidend payout ratio Happy S Hartadi (2006) Analsis faktor-faktor yang mempengaruhi dividen payout raio pada perusahaan go public yang listed di bursa efek Jakarta periode 2001-2003. Independen cash positon, profitabilitas, potensi pertumbuhan, ukuran perusahaan, dan debt to equity ratio Dependen dividend payout ratio terdapat hubungan antara rasio pembayaran dividen dengan posisi kas, profitabilitas, Debt to Equity Ratio , ukuran perusahaan, dan potensi pertumbuhan. Cash Position
C. Kerangka Konseptual dan Hipotesis 1. Kerangka Konseptual
Kerangka koenseptual merupakan sintesis atau ekstrapolasi teori yang
mencerminkan ketertarikan antara variabel yang diteliti dan merupakan tuntutan
untuk memecahkan masalah penelitian serta merumuskan hipotesis (Jurusan
Akuntansi, 2004:13). Kerangka konseptual dalam penelitian ini dapat dilihat pada
[image:30.595.131.506.318.527.2]gambar 2.1 sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Laba bersih adalah selisih antara pendapatan dengan beban perusahaan baik
operasional dan non operasional. Laba bersih selain didistribusikan kepada para
pemegang saham, sebagian sisa laba yang diperoleh oleh perusahaan akan
digunakan untuk membiayai untuk membiayai investasi. Apabila kondisi
perusahaan sedang baik, perusahaan cenderung melakukan investasi dari pada
membayar dividen dalam jumlah yang besar ( Suharli). Hal yang seperti ini tentu
akan menimbulkan masalah kepentingan antara pemegang saham dan pihak
manajemen. Apabila perusahaan mempunyai banyak aliran kas bebas, maka Laba Bersih
(X1)
Return on Equity (X3)
Potensi pertumbuhan (X2)
Earning Per Share (X4)
Debt to Equity Ratio (X5)
perusahaan cenderung untuk meningkatkan penggunaan uang kas untuk
keuntungan perusahaan atau dengan kata lain perusahaan lebih memilih untuk
melakukan investasi yang mempunyai nilai positif. Dengan demikian dapat
dikatakan apabila perusahaan mempunyai laba bersih yang besar maka
kemungkinan kebijakan perusahaan dalam membagi dividen akan semakin besar.
Pada potensi pertumbuhan, semakin cepat tingkat pertumbuhan perusahaan
maka semakin besar kebutuhan akan dana untuk membiayai perluasan
perusahaan. Semakin besar kebutuhan dana di masa mendatang semakin mungkin
perusahaan menahan pendapatan bukan membayar dividen. Kerena itu potensi
pertumbuhan menjadi faktor penting dalam kebijakan dividen.
ROE merupakan ukuran efektifitas perusahaan dalam menghasilkan
keuntungan dengan memanfaatkan aktiva tetap yang dfigunakan untuk operasi.
Semakin besar ROE menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin baik kerena
tingkat kembalian investasi (return) semakin besar. Seperti diuraikan sebelumnya,
bahwa return yang diterima oleh investor dapat berupa pendapatan dividen dan
capital gain. Dengan demikian meningkatnya ROE juga akan meningkatkan
pendapatan dividen (terutama cash dividend).
Earning per share merupakan tingkat keuntungan bersih yang mampu diraih
perusahaan pada saat menjalankan operasinya. Dividen akan dibagikan apabila
perusahaan memperoleh keuntungan. Keuntunngan yang layak dibagikan kepada
pemegang saham adalah keuntungan setelah perusahaan memenuhi seluruh
kewajiban bunga dan pajak. Oleh karena itu dividen diambil dari keuntungan
mempengaruhi bersarnya dividen. Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu
diketahui bahwa semakin tinggi EPS diharapkan semakin bersar dividen yang
dibagikan.
Debt to equity ratio mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajibannya melalui modal sendiri. Peningkatan kewajiban akan mempengaruhi
besar kecilnya laba bersih termasuk dividen yang dibayarkan karena kewajiban
tersebut lebih diprioritaskan dari pada pembagian dividen (Darsono, 2005:52).
2. Hipotesis Penelitian
Menurut Erlina (2007:41), “Hipotesis menyatakan hubungan yang diduga
secara logis antara dua variabel atau lebih dalam rumusan preposisi yang dapat di
uji secara empiris”. Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara terhadap
masalah yang akan diuji kebenarannya melalui analisis data yang relevan dan
kebenarannya akan diketahui setelah dilakukan penelitian. Beradasarkan kerangka
konseptual yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan hipotesis
sebagai berikut: laba bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER
berpengaruh baik secara simultan dan parsial terhadap kebijakan divideb pada
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian asosiatif kausal. Menurut
Umar (2003 : 30) penelitian asosiatif kausal adalah “penelitian yang bertujuan
untuk menganalisis hubungan antara satu variabel dengan variable lainya atau
bagaimana suatu variable mempengaruhi variabel lain”. Dengan kata lain desain
kausal berguna untuk mengukur hubungan-hubungan antar variabel riset atau
berguna untuk menganalisis bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel
yang lain.
B. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yaitu
data yang diukur dalam bentuk skala numerik (Kuncoro, 2003; 124) dan
merupakan data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung, yang
berupa catatan maupun laporan historis yang telah tersimpan dalam arsip, baik
yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan. Data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa laporan keuangan
perusahaan selama periode 2005 sampai dengan 2008. Data penelitian didapatkan
C. Populasi Penelitian
Menurut Sugiono (2004: 72) “ Populasi adalah wilayah generalisasi yang
terdiri atas objek dan subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, kemudian ditarik kesimpulannya”.
Berdasarkan pengertian di atas maka yang menjadi populasi penelitian ini adalah
seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun
2005-2008. Populasi penelitian berjumlah 143 perusahaan.
D. Sampel dan Teknik Penentuan Sampel
Menurut sugiyono (2004: 73)“sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Sampel dalam penelitian ini
adalah 14 perusahaan manufaktur. Jumlah pengamatan yang digunakan dalam
penelitian ini sebanyak 56 (14x4 tahun ) amatan. Metode pengambilan sampel
dilakukan dengan purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel
berdasarkan suatu kriteria dengan pertimbangan judgement sampling (Jogiyanto,
2004:79). Pada table 3.1 berikut ini adalah perusahaan-perusahaan yang
[image:34.595.108.517.591.745.2]menjadi sampel dalam penelitian ini.
Tabel 3.1 Sampel Penelitian
NO Emiten Kode
1
Astra Grafia Tbk ASGR
2
Kageo Igar Jaya Tbk IGAR
3
Kalbe Farma Tbk KlBF
4
Tempo Scan Fasifik Tbk TSPC
5
6
Indofood Sukses Makmur Tbk INDF 7
Lion mesh Prima Tbk LMSH
8
Unilever ndonesia Tbk UNVR
9
Astra Otopart Tbk AUTO
10
Indocement Tunggal Prakasa Tbk INTP 11
Semen Gresik Persero Tbk SMGR
12
Good Year Indonesia Tbk GDYR
13
Kimia Farma Tbk KAEF
14
Trias Sentosa Tbk TRST
Kriteria yang digunakan dalam pengambilan sampel dengan teknik purposive
sampling adalah sebagai berikut:
1. perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI priode tahun 2005 -2008,
2. perusahaan manufaktur tidak pernah delisting pada periode tersebut,
3. perusahaan manufaktur yang membagikan deviden secara berturut mulai
dari periode tahun 2005 - 2008.
E. Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Variabel independen yang diguanakan dalam penelitian ini adalah dividend
payout ratio sedangkan variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah laba
bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER. Defenisi operasional dan
Tabel 3.2
Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel
No Variabel Defenisi Pengukuran Skala
1 laba bersih kelebihan seluruh pendapatan atas seluruh biaya untuk suatu periode tertentu setelah dikurangi pajak penghasilan yang disajikan dalam laporan laba rugi
laba bersih akhir tahun Rasio
2 Potensi pertumbuhan
Kenaikan /penurunan total aktiva saat ini dengan masa lalu
Rasio
3 ROE keuntungan
bersih yang mampu diraih oleh perusahaan pada saat menjalankan operasinya
Rasio
4 EPS EPS merupakan laba yang
diperoleh perusahaan per lembar saham. Laba per saham merupakan alat ukur yang berguna untuk membandingkan laba dari berbagai entitas usaha yang berbeda dan untuk
membandingkan laba suatu entitas dari waktu ke waktu jika terjadi perubahan dalam struktur modal
5 DER menunjukkan
persentase penyediaan dana oleh pemegang saham terhadap pemberi
pinjaman
Rasio
6 Dividend payout ratio
Menunjukan persentase dividen kas yang diterima oleh pemegang saham
Rasio
F. Metode dan Teknik Analisis Data 1. Pengujian Asumsi Klasik
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini model analisis
regresi sederhana dengan menggunakan bantuan software SPSS for windows
version.16. Penggunaan metode analisis regresi dalam pengujian hipotesis,
terlebih dahulu diuji apakah model tersebut memenuhi asumsi klasik atau tidak.
Uji asumsi Klasik terdiri atas uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji
multikolineritas dan uji autokorelasi.
a. Uji Normalitas
diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti
distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak
valid untuk jumlah sampel kecil. Ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual
berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analsis grafik dan uji statistik.
1)Analisis Grafik
Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual adalah dengan
melihat grafik histrogram yang membandingkan antara data observasi dengan
distribusi yang mendekati distribusi normal. Namun demikian hanya dengan
melihat histogram hal ini dapat menyesatkan khususnya untuk jumlah sampel
yang kecil. Metode yang lebih handal adalah dengan melihat normal probability
plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal.
Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal, dan ploting data
residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi data residual
normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti
garis diagonalnya.
2)Analisis Statistik
Uji statistik lain yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual
adalah uji statistik non-parametrik. Kolmogorov-smirnov(K-S). Uji KS dibuat
dengan membuat hipotesis :
Ho : data residua l berdistribusi normal,
b. Uji Multikolinieritas
Uji Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
ditemukan korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak
terjadi korelasi di antara variabel independen. Jika variabel independen saling
berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah
variabel independen sama dengan nol. Multikolineritas dapat juga dilihat dari (1)
nilai tolerance dan lawannya (2) variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini
menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel
independen lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap variabel independen
menjadi variabel dependen dan diregres terhadap variabel independen lainnya.
Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak
dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama
dengan nilai VIF tinggi ( karena VIF=1/ tolerance). Nilai cutoff yang umum
dipakai untuk menunjukkan adanya multikolineritas adalah nilai tolerance <0.10
atau sama dengan nilai VIF> 10.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji ini memiliki tujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan variabel dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain.
Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya tetap, maka
disebut dengan heteroskedastisitas. Untuk melihat ada tidaknya
heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat grafik Scatterplot antara nilai
prediksi variabel dependen dengan residualnya. Jika ada pola seperti titik-titik
Namun, jika tidak ada pola yang jelas serta titik menyebar ke atas dan di bawah
angka 0 pada sumbu Y, berarti tidak terjadi heteroskedastisitas.
d. Uji Autokorelasi
Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam suatu model regresi linear ada
korelasi antar kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada
periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem
autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang
waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan
pengganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Hal ini sering
ditemukan pada data runtut waktu (times series) karena ”ganguan” pada seorang
individu/ kelompok cenderung mempengaruhi ”gangguan” pada individu/
kelompok yang sama pada periode berikutnya.
Pada data crossection (silang waktu), masalah autokorelasi relatif jarang terjadi
karena ”gangguan” pada observasi yang berbeda berasal dari individu . Kelompok
yang berbeda berasal dari invidu kelompok yang berbeda. Model regresi yang
baik adalah yang bebas dari autokorelasi. Ada beberapa cara yang dapat
digunakan untuk mendeteksi masalah dalam autokorelasi di antaranya adalah
dengan Uji Durbin Watson pada buku stastistik relevan. Menurut Sunyoto
(2009:91), Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi adalah sebagai
berikut:
1) angka D-W di bawah –2 berarti ada autokorelasi positif,
2) angka D-W di antara -2 sampai +2, berarti tidak ada autokorelasi,
2. Uji Hipotesis
Hipotesis diuji dengan menggunakan analisis regresi linear berganda, dengan
persamaan sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 +b3 X3 + b4 X4 + b5 X5 + e
Dimana:
Y = Dividend Payout Ratio
a = Konstanta
X1 = Laba Bersih
X2 = Potensi Pertumbuhan
X3 = Return on Equity
X4 = Earning Per share
X5 = Debt to Equity Ratio
b1 = Koefisien regresi Laba Bersih
b2 = Koefisien regresi Potensi Pertumbuhan
b3 = Koefisien regresi Return on Equity
b4 = Koefisien regresi Earning Per share
b5 = Koefisien regresi Debt to Equity Ratio
e = Tingkat error
Hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji koefisien determinasi, uji F
dan uji t.
a. Uji Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan
adalah antara nol dan satu. Nilai R² yang kecil berarti kemampuan variabel
independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai
yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir
semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel-variabel
dependen,. Secara umum koefisien determinasi untuk data silang (crossection)
relative rendah karena adanya variasi yang besar antara masing-masing
pengamatan, sedangkan untuk data runtun waktu (Time series) biasanya
mempunyai nilai koefisien determinasi yang tinggi. Koefisien determinan berkisar
antara nol sampai dengan satu (0 ≤ R² ≤ 1). Hal ini berarti R²=0 menunjukkan
tidak adanya pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen,
bila R² semakin besar mendekati 1 menunjukkan semakin kuatnya pengaruh
variabel independen terhadap variabel dependen dan bila R² semakin kecil
mendekati nol maka dapat dikatakan semakin kecilnya pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen.
b. Uji Simultan (Uji F)
Uji ini pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang
dimasukkan dalam model ini mempunyai pengaruh secara bersama – sama
terhadap variabel dependen.
Bentuk pengujiannya :
Ho: b1 = b2 = 0, artinya variabel independen secara simultan tidak
berpengaruh terhadap variabel dependen.
Ha: b1, b2, ≠ 0, artinya semua variabel independen secara simultan
Kriteria pengambilan keputusan :
Jika probabilitas < 0.05, maka Ha diterima,
Jika probabilitas > 0.05, maka Ha ditolak.
c. Uji Parsial (Uji t)
Uji statistik t disebut juga sebagai uji signifikan individual. Uji ini
menunjukkan seberapa jauh pengaruh variabel independen secara parsial
terhadapn variabel dependen.
Bentuk pengujiannya adalah :
Ho:b1 = 0, artinya suatu variabel independen secara parsial tidak berpengaruh
terhadap variabel dependen.
Ha : b1 ≠ 0, artinya variabel independen secara parsial berpengaruh terhadap
variabel dependen.
Kriteria pengambilan keputusan :
Jika probabilitas < 0.05 maka Ha diterima
BAB IV
ANALISIS HASIL PENELITIAN
A.Data Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah industri manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2005-2008. Jumlah data yang digunakan dalam
penelitian ini berjumlah 56 amatan. Berikut ini merupakan statistik secara
[image:44.595.110.508.333.498.2]umum dari seluruh data yang digunakan:
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Laba_Bersih 56 -3.194 2.5256 6.16015 7.447455 Potensi_Pertumbuhan 56 -8.90 83.26 8.8570 17.00497
ROE 56 -2.90 111.23 26.2446 24.40128
EPS 56 -176.81 962.21 1.926222 257.63919
DER 56 .23 3.11 .8800 .63904
DPR 56 -257.90 302.94 43.3396 67.92176
Valid N (listwise) 56
Sumber: lampiran iii
Berdasarkan data dari tabel 4.1 dapat dijelaskan bahwa:
1. variabel laba bersih memiliki nilai minimum (terkecil) -3.194, nilai
maksimum (terbesar) 2.5256 dan mean (nilai rata-rata) 6.16015 dan standart
deviation (simpangan baku) variabel ini adalah 7.447455,
2. variabel potensi pertumbuhan memiliki dengan nilai minimum (terkecil)
-8.90, nilai maksimum (terbesar) 83.26 dan mean (nilai rata-rata) 8.8570 dan
3. variabel ROE memiliki nilai minimum (terkecil) -2.90, nilai maksimum
(terbesar) 111.23 dan mean (nilai rata-rata) 26.2446 dan standart deviation
(simpangan baku) variabel ini adalah 24.40128,
4. variabel EPS memiliki nilai minimum (terkecil) -176.81, nilai maksimum
(terbesar) 962.21 dan mean (nilai rata-rata) 1.926222dan standart deviation
(simpangan baku) variabel ini adalah 257.63919,
5. variabel DER memiliki nilai minimum (terkecil) 0.23, nilai maksimum
(terbesar) 3.11 dan mean (nilai rata-rata) 0.88 dan standart deviation
(simpangan baku) variabel ini adalah 0.63904
6. variabel DPR memiliki nilai minimum (terkecil) -257.90, nilai maksimum
(terbesar) 302.94 dan mean (nilai rata-rata) 43.3396 dan standart deviation
(simpangan baku) variabel ini adalah 67.92176
7. jumlah amatan yang digunakan ada sebanyak 56 amatan.
B. Hasil Analisis
1. Pengujian Asumsi Klasik a. Hasil Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel
pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak, dengan membuat
hipotesis sebagai berikut:
Ho : data residual terdistribusi normal
Ada dua cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi apakah residual
berdistribusi normal atau tidak, yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik. Pada
penelitian ini akan digunakan kedua cara tersebut.
1) Analisis Grafik
Analisis grafik dapat digunakan dengan dua alat, yaitu grafik histogram dan
grafik P-P Plot. Data yang baik adalah data yang memiliki pola distribusi normal.
Pada grafik histogram, data yang mengikuti atau mendekati distribusi normal
adalah distribusi data dengan bentuk lonceng. Pada grafik P-P Plot, sebuah data
dikatakan berdistribusi normal apabila titik-titik datanya tidak menceng ke kiri
atau ke kanan, melainkan menyebar di sekitar garis diagonal.
[image:46.595.135.441.475.681.2]Gambar 4.2 Uji Normalitas Sumber: Lampiran iv
Dengan melihat tampilan grafik histogram, kita dapat melihat bahwa
gambarnya telah berbentuk lonceng dan tidak menceng kekanan atau ke kiri yang
menunjukkan bahwa data telah terdistribusi secara normal. Pada grafik P-P Plot
terlihat titik-titik menyebar di sekitar garis diagonal dan tidak jauh dari garis
diagonal. Kedua grafik tersebut menunjukkan bahwa model regresi tidak
menyalahi asumsi normalitas.
2) Uji Statistik
Pengujian normalitas data dengan hanya melihat grafik dapat menyesatkan
kalau tidak melihat secara seksama, sehingga kita perlu melakukan uji normalitas
apakah data di sepanjang garis diagonal berdistribusi normal, maka dilakukan uji
Kolmogorov-Smirnov (1 sample KS) dengan melihat data residualnya apakah
berdistribusi normal atau tidak. Jika nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05
maka data tersebut terdistribusi normal. Jika nilai signifikansinya lebih kecil dari
0,05 maka distribusi data adalah tidak normal. Hasil uji Kolmogorov-Smirnov
[image:48.595.116.503.315.514.2]dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 56
Normal Parametersa Mean .0000000
Std. Deviation 62.82292993
Most Extreme Differences Absolute .170
Positive .170
Negative -.141
Kolmogorov-Smirnov Z 1.272
Asymp. Sig. (2-tailed) .079
a. Test distribution is Normal.
Sumber: Lampiran iv
Hasil uji Kolmogorov-Smirnov pada penelitian ini menujukkan probabilitas =
0,79. Dengan demikian, data pada penelitian ini berdistribusi normal dan dapat
digunakan untuk melakukan Uji-t dan Uji-f karena 0,79 > 0,05 (H0 diterima)
b. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Ghozali (2005:105) Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah
ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi
heteroskedastisitas. Pengujian heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan uji
grafik dengan melihat grafik scatterplot yaitu dengan cara melihat titik-titik
penyebaran pada grafik dan uji glejser, dengan cara meregres seluruh variabel
independen dengan nilai absolute residual (absut) sebagai variabel dependennya.
Perumusan hipotesis adalah :
H0 : tidak ada heteroskedastisitas,
Ha : ada heteroskedastisitas.
Jika signifikan < 0,05 maka Ha diterima (ada heteroskedastisitas) dan jika
[image:49.595.168.488.448.674.2]signifikan > 0,05 maka H0 diterima (tidak ada heteroskedastisitas).
Gambar 4.3
Tabel 4.3
Hasil Uji Heteroskedastisitas Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
T Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 31.769 13.224 2.402 .020
Laba_Bersih -2.265E-5 .000 -.342 -2.106 .040
Potensi_Pertumbuhan .620 .412 .214 1.504 .139
ROE -.084 .334 -.042 -.253 .801
EPS .002 .024 .012 .093 .926
DER 19.449 11.080 .252 1.755 .085
a. Dependent Variable: Absut
Sumber: Lampiran v
Pada gambar 4.3 tentang grafik scatterplot diatas terlihat titik-titik menyebar
secara acak tidak membentuk sebuh pola tertentu yang jelas serta tersebar baik
diatas maupun dibawah angka nol pada sumbu y. Hal ini berarti tidak terjadi
heteroskedastisitas pada model regresi sehingga model regresi layak dipakai untuk
melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Dari tabel 4.3
diatas kita dapat melihat bahwa nilai signifikansi untuk variabel laba bersih adalah
0,04 (>0.05), untuk variabel potensi pertumbuhan adalah 0,139 (>0,05), untuk
variabel ROE adalah 0,801 (>0.05), untuk variabel EPS adalah 0,139 (>0,05) dan
untuk variabel DER adalah 0,085 (>0,05). Dari hasil ini maka dapat
disimpulkan bahwa tidak terdapat masalah heteroskedastisitas karena semua
variabel independennya memiliki signifikan lebih besar dari 0,05.
b. Uji Autokorelasi
Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam suatu model linear ada korelasi
(sebelumnya). Model regresi yang baik adalah yang bebas dari autokorelasi.
Masalah autokorelasi umumnya terjadi pada regresi yang datanya time series.
Untuk mendeteksi masalah autokorelasi dapat dilakukan dengan menggunakan uji
Durbin Watson. Mengacu kepada pendapat Sunyoto (2009:91), Pengambilan
keputusan ada tidaknya autokorelasi adalah sebagai berikut:
1) angka D-W dibawah -2 berarti ada autokorelasi positif,,
2) angka D-W diantara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi,
[image:51.595.110.510.253.472.2] [image:51.595.118.511.348.443.2]3) angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif.
Tabel 4.4
Hasil Uji Autokorelasi Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate Durbin-Watson
1 .380a .145 .059 65.88924 1.731
a. Predictors: (Constant), DER, ROE, EPS, Potensi_Pertumbuhan, Laba_Bersih
b. Dependent Variable: DPR Sumber: Lampiran vi
Tabel 4.4 memperlihatkan nilai statistik D-W sebesar 1,731 Angka ini
terletak di antara -2 sampai +2, dari pengamatan ini dapat disimpulkan bahwa
tidak terjadi autokorelasi dalam penelitian ini.
c. Hasil Uji Multikolinieritas
“Uji multikolinearitas dilakukan untuk menguji apakah pada model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas” (Ghozali, 2005:91). Menurut
Ghozali (2005) “adanya gejala multikolinearitas dapat dilihat dari tolerance value
atau nilai Variance Inflation Factor (VIF). Batas tolerance value adalah 0,1 dan
multikolinearitas. Apabila tolerance value > 0,1 atau VIF < 10 = tidak terjadi
multikolinearitas. Hasil pengujian terhadap multikolinearitas pada penelitian ini
[image:52.595.104.517.200.430.2]dapat dilihat pada tabel 4.5
Tabel 4.5
Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficientsa
Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
t Sig.
Collinearity
Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 3.741 19.687 .190 .850
Laba_Bersih -7.279E-6 .000 -.080 -.455 .651 .555 1.802
Potensi_Pertumbuhan .699 .614 .175 1.139 .260 .724 1.381
ROE .548 .497 .197 1.101 .276 .536 1.865
EPS .020 .036 .075 .549 .586 .918 1.090
DER 22.402 16.494 .211 1.358 .180 .710 1.407
a. Dependent Variable: DPR
Sumber: Lampiran vii
Berdasarkan tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa tidak ada satupun variabel
bebas yang memiliki nilai VIF lebih dari 10 dan tidak ada yang memiliki
tolerance value lebih kecil dari 0,1. Jadi dapat disimpulkan bahwa penelitian ini
bebas dari adanya multikolinearitas. Dari hasil analisis, didapat nilai VIF untuk
variabel laba bersih adalah 1.802 (<10) dan nilai tolerance sebesar 0,555 (>0,1),
nilai VIF untuk variabel potensi pertumbuhan adalah 1.381(<10) dan nilai
tolerance sebesar 0.724 ( >0.1), nilai VIF untuk variabel ROE adalah 1.865 (<10)
dan nilai tolerance sebesar 0.536 ( >0.1), nilai VIF untuk variabel EPS adalah
1.090(<10) dan nilai tolerance sebesar 0.918 ( >0.1) dan nilai VIF untuk variabel
maka dapat disimpulkan bahwa semua variabel bebas yang dipakai dalam
penelitian ini lolos uji gejala multikolinearitas.
2. Hasil Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan tujuan untuk menguji ada tidaknya
pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen.
Tabel 4.6
Variables Entered/Removedb
Model Variables Entered
Variables
Removed Method
1 DER, ROE, EPS,
Potensi_Pertumbuhan, Laba_Bersiha
. Enter
a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: DPR Sumber: Data Olahan SPSS, 2010
Berdasarkan tabel 4.6 diatas, maka dapat diketahui bahwa :
1) variabel yang dimasukkan kedalam persamaan adalah variabel independen
yaitu laba bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER tidak ada
variabel independen yang dikeluarkan,
2) metode yang digunakan untuk memasukkan data yaitu metode enter.
a. Hasil Uji Koefisien Determinasi
Nilai yang digunakan untuk melihat uji koefisien determinasi yang adalah
nilai Adjusted R2 pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam
menerangkan variasi variabel dependen. Dalam hal ini adjusted R2 digunakan
terhadap dividen kas. “Adjusted R2 dianggap lebih baik dari R2 karena nilai
adjusted R2 dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan
kedalam model”(Ghozali, 2005).
Tabel 4.7
Adjusted R2
Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R
Square Std. Error of the Estimate
1 .380a .145 .59 65.88924
a. Predictors: (Constant), DER, ROE, EPS, Potensi_Pertumbuhan, Laba_Bersih
b. Dependent Variable: DPR
Sumber: Lampiran viii
Besarnya AdjustedR2 berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan SPSS
16 diperoleh sebesar 0.59. Dengan demikian besarnya pengaruh yang diberikan
oleh variabel laba bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER terhadap
DPR adalah sebesar 59%. Sedangkan sisanya sebesar 41% adalah dipengaruhi
oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
b. Hasil Uji Signifikan Simultan (Uji F)
Uji F digunakan untuk menguji hubungan regresi antar variabel dependen
dengan Uji F digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh secara
bersama-sama variabel bebas terhadap variabel terikat. Uji F dapat dicaridengan melihat F
hitung dari tabel Anova output SPSS versi 16 for windows, selain itu
jugamembandingkan hasil dari probabilitas value. Jika probabilitas value >
variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap vartiabel dependen.
[image:55.595.117.509.186.315.2]Hasil uji simultan dapat dilihat pada table 4.8 sebagai berikut.
Tabel 4.8 Hasil Uji F
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 36665.462 5 7333.092 1.689 .004a
Residual 217069.629 50 4341.393
Total 253735.091 55
a. Predictors: (Constant), DER, ROE, EPS, Potensi_Pertumbuhan, Laba_Bersih
b. Dependent Variable: DPR
Sumber: Lampiran viii
Pada tabel Anova dapat diketahui nilai probabilitas value dalam penelitian ini
adalah 0,004 yang berarti angka ini berada jauh di bawah 0,05 maka Ha diterima.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah variabel laba bersih, potensi pertumbuhan,
ROE, EPS dan DER berpengaruh signifikan terhadap DER.
c. Hasil Uji Signifikan Parsial (Uji t)
Untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel
terikat yaitu antara bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER terhadap
DPR dalam penelitian ini dilakukan pengujian terhadap koefisien regresi yaitu
dengan uji t. Berdasarkan perhitungan SPSS versi 16 for windows yang dapat
dilihat pada tabel 4.9 dapat diketahui nilai probabilitas value masing-masing
variabel independen terhadap variabel dependen. Jika probabilitas value > 0.05
variabel independen secara parsial berpengaruh terhadap vartiabel dependen.
Hasil uji simultan dapat dilihat pada table 4.9 sebagai berikut.
Tabel 4.9 Hasil Uji t Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
T Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 3.741 19.687 .190 .005
Laba_Bersih 7.279 .000 -.080 -.455 .021
Potensi_Pertumbuhan .699 .614 .175 1.139 .260
ROE .548 .497 .197 1.101 .043
EPS .020 .036 .075 .549 .586
DER -22.402 16.494 .211 1.358 .003
a. Dependent Variable: DPR
Sumber: Lampiran viii
Variabel laba bersih berpengaruh positif dan signifikan terhadap terhadap
DPR. Hal ini dapat terlihat dari nilai signifikan 0.021 (<0.05). Variabel potensi
pertumbuhan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap DPR. Hal ini
dapat terlihat dari nilai signifikan 0.260 (>0.05). Variabel ROE berpengaruh
positif dan signifikan terhadap DPR. Hal ini dapat terlihat dari nilai signifikan
0.043 (>0.05). Variabel EPS berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap
DPR. Hal ini dapat terlihat dari nilai signifikan 0.586 (>0.05), Variabel DER
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap DPR. Hal ini dapat terlihat dari
nilai signifikan 0.003 (>0.05). Dari tabel 4.9 diatas dapat diperoleh model
persamaan regresi berganda sebagai berikut:
Keterangan:
a. Nilai konstanta adalah 3.741 artinya jika variabel laba bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER bernilai 0, maka DPR akan meningkat
sebesar 3.741,
b. Nilai koefisien laba bersih 7.279 artinya setiap kenaikan laba bersih akan meningkatkan nilai DPR sebesar 7.279,
c. Nilai koefisien potensi pertumbuhan adalah 0.699 artinya setiap kenaikan nilaI potensi pertumbuhan akan meningkatkan nilai DPR sebesar 0.699,
d. Nilai konstanta ROE adalah 0.548 artinya setiap kenaikan nilai ROE akan meningkatkan nilai DPR sebesar 0548.
e. Nilai konstanta EPS adalah 0.020 artinya setiap kenaikan nilai EPS akan meningkatkan nilai DPR sebesar 0.020,
f. Nilai konstanta DER adalah 0.003 artinya setiap kenaikan nilai DER akan menurunkan nilai DPR sebesar 0.003.
C. Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh laba bersih,
potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER baik simultan dan parsial terhadap
kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia.. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah laba
penelitian ini adalah dividend payout ratio. Populasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun
2005-2008 dimana jumlah populasi yang digunakan adalah sebanyak 143 perusahaan.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling
dimana jumlah amatan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 56 (14 x 4
tahun). Pengujian yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji asumsi klasik
(normalitas, heteroskedastisitas, autokorelasi dan multikolineritas) dan uji
hipotesis (uji t, uji F dan uji determinasi). Berdasarkan hasil uji besarnya adjusted
R2 berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan SPSS 16 diperoleh sebesar
0.59. Dengan demikian besarnya pengaruh yang diberikan oleh variabel laba
bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER terhadap dividend payout ratio
adalah sebesar 59%. Sedangkan sisanya sebesar 49% adalah dipengaruhi oleh
faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil uji simultan
diperoleh kesimpulan laba bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER
berpengaruh secara simultan terhadap dividen payout ratio. Berdasarkan hasil uji
parsial diperoleh laba bersih, ROE dan DER berpengaruh signifikan terhadap
DPR. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Farih
Rahman hakim (2007), Karina Cahyati (2006) dan Happy S Hartadi (2006).
Variabel Potensi pertumbuhan dan EPS tidak berpengaruh signifikan terhadap
DPR. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Triana Hidayati
(2006) dan Happy S Hartadi (2006). Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian pada bab sebelumnya, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Variabel laba bersih, potensi pertumbuhan, ROE, EPS dan DER secara
simultan berpengaruh signifikan ter