• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Karang Keras Acanthastrea echinata (Dana 1846) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Karang Keras Acanthastrea echinata (Dana 1846) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

1

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Karang merupakan biota dari ordo Scleractinia yang termasuk jenis tidak dilindungi undang-undang, namun dalam perdagangannya termasuk dalam daftar Appendiks II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Perdagangan karang hias dari alam dilakukan

berdasarkan mekanisme kuota yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal

Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam selaku pelaksana Otoritas Pengelola CITES setelah mendapat pertimbangan dari LIPI selaku pemegang Otoritas Ilmiah CITES di Indonesia (Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, 2011).

Data tahun 2011 yang dihimpun dari 1.076 stasiun pengamatan milik Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, menunjukkan hanya 5,58 % terumbu karang Indonesia yang tergolong sangat baik dan 26,95 % kondisinya baik. Sisanya, sebanyak 36,90 % berada dalam kondisi cukup baik, sedangkan 30,76 % kondisinya kurang baik. Kondisi karang yang kurang baik masih lebih tinggi dibandingkan kondisi karang yang sangat baik. Hal ini terjadi karena nelayan masih menggunakan teknik yang tidak ramah lingkungan seperti bubu, lampara, racun, dan bom (Anonima, 2012).

Salah satu upaya menanggulangi masalah kerusakan ekosistem karang di habitat alami serta mencari alternatif untuk mengurangi tekanan terhadap

(2)

suatu teknik penanaman dan pertumbuhan koloni karang baru dengan metode fragmentasi dimana benih karang diambil dari suatu induk koloni tertentu (Soedharma dan Arafat, 2007).

Transplantasi karang bertujuan untuk mempercepat regenerasi dari terumbu karang yang dapat dimanfaatkan untuk perdagangan dan peningkatan kualitas habitat karang. Kegiatan transplantasi karang merupakan salah satu usaha pengembangan populasi berbasis alam di habitat alam atau habitat buatan untuk mendapatkan produksi anakan yang dapat dipanen secara berkelanjutan

(Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, 2011).

Penelitian mengenai transplantasi karang keras di Indonesia telah banyak dilakukan. Beberapa genus karang yang berhasil ditransplantasikan dari famili Mussidae yaitu dari Genus Acanthastrea, Blastomussa, Cynarina, Lobophyllia, dan Symphyllia (Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, 2011). Jenis-jenis karang yang berhasil ditransplantasikan dari famili Mussidae yaitu Cynarina lacrymaris oleh Subhan (2003), Lobophyllia hemprichii oleh Arafat (2005), Respati (2005) dan Margono (2009), Blastomussa wellsi oleh Kamalikasari (2012). Jenis lainnya yaitu : Symphyllia agaricia, Lobophyllia corymbosa, Acanthastrea maxima, Acanthastrea echinata, dan Acanthastrea lordhowensis yang berhasil ditransplantasikan oleh PT. Aneka Tirta Surya.

(3)

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengamati pertumbuhan karang Acanthastrea echinata yang ditransplantasikan pada kondisi lingkungan sebenarnya. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi, baik untuk kepentingan penelitian, rehabilitasi ekosistem, maupun perdagangan.

1.2. Tujuan

(4)

4 2.1. Karang Keras Acanthastrea echinata

Karang keras termasuk ke dalam filum Coelentrata (Cnidaria) dari kelas Anthozoa dan sub-kelas Hexacoralia. Ciri khas dari hewan Cnidaria yaitu sengat yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsanya. Sel sengat ini dikenal dengan nama nematocyst (Nybakken, 2000).

Kemampuan berdasarkan pembentukan terumbu, karang dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu hermatifik dan ahermatifik. Kelompok hermatifik merupakan karang yang dapat membentuk terumbu sedangkan kelompok ahermatifik tidak dapat membentuk terumbu (Nybakken, 2000). Karang jenis Acanthastrea echinata termasuk kedalam kelompok karang hermatifik, karena mampu menghasilkan terumbu sendiri yang berasal dari hasil samping aktivitas fotosintesis yang dilakukan oleh alga zooxanthellae yang bersimbiosis dengan karang.

Sistem klasifikasi karang keras Acanthastreaechinata (Veron, 1986) adalah sebagai berikut (Chevalier, 1975; Veron and Picon, 1980):

Filum : Cnidaria Kelas : Anthozoa

Sub Kelas : Zooantharia (Hexacorallia) Ordo : Sclerectinia

Sub ordo : Favina Famili : Mussidae Genus : Acanthastrea

(5)

Gambar 1. Koloni Acanthastrea echinata (Veron, 1986)

Karakteristik dari karang Acanthastrea echinata adalah koloni dalam bentuk massive atau mengerak dan biasanya datar. Jenis koralid berupa cerioid atau subplacoid, melingkar dan memiliki dinding yang tipis. Septa mirip dengan Lobophyllia. Dalam keadaan hidup terlihat seperti adanya jaringan keriput melingkar di sekitar mulut. Koloni memiliki jaringan berdaging tebal di atas kerangka yang biasanya berbentuk lipatan konsentris (Veron, 1986).

Gambar 2. Koralid Bentuk Cerioid (Veron, 1986)

(6)

2.2. Parameter Perairan yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Karang

Distribusi dan pertumbuhan ekosistem terumbu karang tergantung dari beberapa parameter fisika-kimiawi perairan berikut :

2.2.1. Suhu

Terumbu karang pada umumnya tumbuh secara optimal pada kisaran suhu perairan laut rata-rata tahunan antara 25-29 0C, namun suhu di luar itu masih dapat ditolelir oleh spesies tertentu dari jenis karang hermatifik untuk dapat berkembang dengan baik (Thamrin, 2006). Secara langsung kondisi suhu perairan mempengaruhi kecepatan metabolisme suatu organisme perairan (Dahuri, 2003).

Perubahan suhu perairan, baik peningkatan maupun penurunan suhu yang ekstrim terbukti menyebabkan gangguan terhadap terumbu karang. Penelitian Lumban Gaol (2007) mengenai analisis SPL di perairan Indonesia menyatakan bahwa terjadinya bleaching di beberapa perairan di Indonesia disebabkan oleh anomali suhu yang memiliki pengaruh negatif terhadap ekosistem karang.

2.2.2. Salinitas

(7)

dapat hidup normal hanya pada perairan yang tidak banyak mengalami perubahan salinitas atau relatif stabil.

Nilai salinitas yang berkisar 29-31 ‰ berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rani et al. (2003) merupakan kisaran yang baik untuk reproduksi karang di perairan Indonesia. Berdasarkan penelitian Helfinalis (1999), nilai salinitas antara 30,2-34 ‰ merupakan salinitas normal untuk kehidupan karang.

2.2.3. Kekeruhan dan Sedimentasi

Sedimentasi memiliki pengaruh secara langsung maupun tidak langsung bagi pertumbuhan karang. Pengaruh langsung bagi pertumbuhan karang terjadi apabila sedimentasi yang masuk ke perairan merupakan sedimentasi yang berukuran besar sehingga dapat menutupi polip karang (Supriharyono, 2007). Pengaruh tidak langsung adalah sedimentasi yang masuk ke perairan dapat menyebabkan kekeruhan yang berdampak pada penurunan sinar matahari, sehingga dapat menurunkan laju pertumbuhan karang (Supriharyono, 2007).

Kondisi perairan yang keruh menyebabkan tidak semua jenis karang batu dapat tumbuh dengan baik. Hanya jenis-jenis karang batu yang mampu

beradaptasi dengan lingkungannya yang mampu bertahan hidup. Akan tetapi, pertumbuhan karang tersebut tidak maksimal, ditandai dengan ukurannya yang relatif kecil (Tuti H et al, 2010).

2.2.4. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen)

(8)

Perairan yang diperuntukkan bagi kepentingan perikanan memiliki kadar oksigen tidak kurang dari 5 mg/l. Kadar oksigen terlarut kurang dari 4 mg/l menimbulkan efek kurang menguntungkan bagi organisme akuatik (Effendi, 2003).

2.2.5. Nutrien (Nitrat, Amonia dan Ortofosfat)

Banyaknya kandungan nutrien di perairan juga mempengaruhi komunitas terumbu karang. Alga zooxanthellae membutuhkan nutrien untuk melakukan proses fotosintesis. Nitrogen di laut tersedia dalam berbagai jenis bentuk garam organik seperti nitrit, nitrat, amonia dan berbagai jenis senyawa mitrogen seperti asam amino dan urea, atau sebagai nitrogen molekuler. Alga pada umumnya lebih menggunakan amonia, nitrat dan nitrit (Tomascik et al., 1997).

Nitrat (NO3) merupakan bentuk utama dari nitrogen di perairan dan

merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan alga serta dapat dimanfaatkan secara langsung (Effendi, 2003). Nitrat tidak bersifat toksik bagi organisme akuatik. Kadar nitrat pada perairan alami tidak lebih dari 0,1 mg/liter. Kadar nitrat yang lebih dari 0,2 mg/l dapat menyebabkan eutrofikasi perairan. Pada skala komunitas, tingginya kandungan nutrien dapat menyebabkan

berkembangnya sponge dan alga yang dapat mencegah melekatnya larva karang (Sabarini, 2001).

Amonia (NH3) merupakan salah satu bentuk nitrogen anorganik pada

(9)

(tumbuhan dan akuatik yang telah mati) oleh mikroba dan jamur. Kadar nitrat yang mencapai nilai lebih dari 5 mg/l, dapat diindikasikan bahwa perairan tersebut mengalami pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan (Effendi, 2003).

Unsur fosfat tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai elemen di perairan, melainkan dalam bentuk senyawa anorganik yang terlarut (ortofosfat dan polifosfat) dan senyawa organik yang berupa partikulat. Kadar fosfat yang

berlebihan dan nitrogen dapat menstimulir ledakan pertumbuhan alga. Ortofosfat merupakan bentuk fosfat yang dapat digunakan secara langsung oleh tumbuhan akuatik (Effendi, 2003).

Kandungan nutrien yang tinggi dalam perairan dapat mengakibatkan pertumbuhan karang menjadi lebih lambat (Birkeland, 1988). Pada daerah yang kaya akan nutrien, fitoplankton akan bertambah dan menghalangi cahaya yang masuk ke perairan. Persaingan tempat juga akan terjadi dengan bertambahnya keanekaragaman hewan bentik lainnya (Birkeland, 1988).

2.3. Transplantasi Karang

Transplantasi karang merupakan upaya pencangkokan atau pemotongan karang hidup untuk ditanam di tempat lain yang bertujuan untuk pembentukan terumbu karang secara alami. Pada awalnya, teknik transplantasi karang dimaksudkan untuk mempercepat regenerasi terumbu karang yang telah

(10)

untuk diperdagangkan sebagai karang hias (Herianto, 2007 ; Giyanto, 2007 ; Soedharma dan Arafat, 2007).

2.3.1. Transplantasi Karang di Dunia

Transplantasi karang di dunia telah banyak dilakukan, salah satunya dalam upaya restorasi terumbu karang (Edwards dan Gomez, 2008). Beberapa wilayah di dunia melakukan transplantasi karang dengan alasan sebagai berikut :

1. Polynesia Perancis. Transplantasi karang dilakukan sebagai usaha untuk menyelesaikan masalah erosi pantai di Matira Point.

2. Saint Leu, Pulau La Réunion. Transplantasi karang dilakukan untuk membuat kembali habitat ikan yang rusak diakibatkan oleh angin topan Firinga.

3. Pulau Mayotte (Samudera Hindia). Transplantasi karang bertujuan untuk memperbaiki kerusakan akibat reklamasi pada rataan terumbu sewaktu reklamasi pelabuhan.

4. Pulau Moturiki , Fiji. Transplantasi karang bertujuan untuk memperbaiki sebagian karang yag mati dalam kejadian pemutihan karang pada tahun 2000 dan 2002.

5. Pantai Prony, New Caledonia. Transplantasi karang dilakukan untuk

menyelamatkan koloni-koloni karang yang terancam oleh kegiatan reklamasi dan menggunakan karang tersebut untuk memperbaiki 2.000 m2 kerusakan karang.

(11)

2.3.2. Transplantasi Karang di Indonesia

Penelitian pendahuluan yang mengarah pada transplantasi karang

dilakukan oleh Boli (1994) dengan melakukan penanaman beberapa jenis karang bercabang Acropora di Pulau Lancang dan di sebelah utara Pulau Pari

(Soedharma dan Arafat, 2007).

Penelitian mengenai transplantasi karang dari famili Mussidae dilakukan oleh beberapa mahasiswa Perguruan Tinggi di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Subhan (2003) di Pulau Pari mengenai kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan karang jenis Cynarina lacrymaris, Euphyllia sp., dan Plerogyra sinuosa, menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup dari karang jenis Cynarina lacrymaris sebesar 22,22%. Laju pertambahan tinggi sebesar 0,03 cm perbulan, sedangkan laju pertambahan panjang sebesar 0,11 cm perbulan.

Respati (2005) melakukan penelitian di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu selama 5 bulan pada kedalaman 8 meter. Jenis karang yang ditransplantasikan yaitu Caulastrea sp. dan Lobophyllia hemprichii. Tingkat kelangsungan hidup untuk semua spesies adalah 100%. Laju pertumbuhan panjang dan lebar karang Lobophyllia hemprichii adalah pada perlakuan 3 (T3) yaitu 4,14 mm/bulan dan pada perlakuan 2 (T2) yaitu 3,81 mm/bulan.

(12)

Kamalikasari (2012) melakukan penelitan pula di Pulau Pramuka

mengenai adaptasi fragmen karang keras berpolip besar jenis Blastomussa wellsi yang dilakukan pada kedalaman 20 meter dan 12 meter. Tingkat kelangsungan hidup dari fragmen yang ditansplantasikan sebesar 100%. Rata-rata pertumbuhan fragmen karang terlihat pada nilai luas, sedangkan pada panjang dan lebar karang tidak berbeda jauh. Selisih nilai ukuran awal fragmen karang yaitu 0,53 mm2. Setelah 3 bulan pengamatan, selisih ukuran luas antara kedua kedalaman sebesar 5,21 mm2 , selanjutnya pada waktu 6 bulan pengamatan selisih ukuran luas menjadi 3,89 mm2 .

2.3.3. Jenis-Jenis Karang Transplantasi

Sesuai peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor SK. 09/IV/Set-3/2008 tentang Pedoman Penangkaran/Transplantasi Karang yang Diperdagangkan, jenis-jenis karang yang dapat ditransplantasi sebanyak 65 jenis (Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, 2011). Mempertimbangkan sifat biologi karang dan kondisi lingkungan, serta keberhasilan uji coba dan penelitian, jenis karang yang dapat dimanfaatkan /diperdagangkan sebanyak 24 jenis, sedangkan karang yang telah berhasil ditransplantasi dan belum dapat dimanfaatkan sebanyak 23 jenis (Tabel 2). Tabel 1. Daftar Jenis-Jenis Karang yang Berhasil Ditransplantasikan

No Jenis Karang No Jenis Karang

1 Acanthastrea echinata 1) 3) 40 Heliopora coerulea 1) 2 Acanthastrea lordhowensis 3) 41 Herpolitha limax 1) 3 Acanthastrea maxima 3) 42 Hydnophora exesa 1)

(13)

8 Caulastrea echinulata 1) 47 Merulina ampliata 1) 2) 9 Caulastrea sp. 2) 48 Millepora spp. 1)

10 Caulastrea tumida 1) 49 Montastrea annuligera 1) 11 Cynarina lacrymaris 1) 50 Montastrea spp. 1)

12 Cyphastrea serailia 1) 51 Montastrea valenciennesi 1) 13 Dendrophyllia fistula 1) 3) 52 Montipora sp. 1) 2)

14 Diploastrea heliopora 1) 53 Neomenzophyllia turbida 1) 15 Disticopora spp. 1) 54 Pectinia lactuca 1)

16 Echinophyllia aspera 2) 55 Physogyra lichtensteini 1) 3) 17 Echinopora lamellosa 2) 56 Plerogyra sinuosa 1) 3) 18 Euphyllia ancora 2) 57 Pocillopora damicornis 1) 2) 19 Euphyllia cristata 1) 3) 58 Pocillopora eydouxi 2) 20 Euphyllia divisa 1) 3) 59 Pocillopora verrucosa 1) 2) 21 Euphyllia glabrescens 1) 2) 60 Polyphyllia talpina 1) 22 Euphyllia paraancora 3) 61 Porites cylindrica 2) 23 Euphyllia yaeyamaensis 3) 62 Porites lichen 2) 24 Favia pallida 1) 3) 63 Porites nigricens 2)

25 Favia spp. 1) 64 Porites spp. 1)

26 Favites abdita 1) 3) 65 Scolymia vitiensis 1) 27 Favites chinensis 1) 3) 66 Seriatopora caliendrum 2) 28 Fungia fungites 1) 67 Seriatopora hystrix 1) 2) 29 Fungia moluccensis 1) 68 Stylophora pistilla 1) 2) 30 Fungia paumotensis 1) 69 Symphyllia agarricia 1) 3)

31 Fungia spp. 1) 70 Symphyllia sp. 1)

32 Galaxea astreata 1) 2) 71 Trachyphyllia geoffroyi 1) 33 Galaxea fascicularis 1) 2) 72 Tubastrea aurea 1) 3) 34 Goniastrea pectinata 1) 3) 73 Tubipora musica 1) 3) 35 Goniastrea retiformis 1) 74 Turbinaria mesenterina 1) 2) 36 Goniopora lobata 1) 3) 75 Turbinaria peltata 1) 2) 37 Goniopora minor 1) 3) 76 Turbinaria reniformis 2) 38 Goniopora stokesi 1) 77 Turbinaria stellulata 2) 39 Heliofungia actiniformis 1) 78 Wellsophyllia radiata 1) Keterangan :

1)

= Jenis-jenis karang yang dapat ditransplantasi (Peraturan Dirjen PHKA No. SK. 09/IV/Set-3/2008)

2)

(14)

3)

= Jenis-jenis karang yang berhasil ditransplantasi oleh unit usaha transplantasi dan belum dapat dimanfaatkan/diperdagangkan.

(Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, 2011)

2.3.4. Manfaat dan Kendala Transplantasi Karang

Transplantasi karang memiliki manfaat yang cukup banyak untuk masyarakat dan lingkungan. Soedharma dan Arafat (2007) menyatakan bahwa manfaat transplantasi karang adalah mempercepat regenerasi terumbu karang yang telah rusak, rehabilitasi lahan-lahan kosong atau rusak, menciptakan komunitas baru, konservasi plasma nutfah dan untuk keperluan perdagangan.

Pengembangan teknik transplantasi ini masih mengalami berbagai kendala. Secara umum, terdapat dua faktor yang menjadi kendala bagi

(15)

15 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2011 sampai Februari 2012,

bertempat di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta dan Laboratorium Produktivitas Lingkungan, Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Gambar 3. Lokasi Pengambilan Sampel dan Transplantasi Karang di Perairan Pulau Air, Pulau Panggang dan Pulau Pramuka

Pengambilan sampel karang dilakukan di Pulau Air dan Pulau Panggang, sedangkan transplantasi karang dilakukan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu (Gambar 3). Transplantasi karang dilakukan pada kedalaman 12 meter.

Pengamatan dilakukan selama 6 bulan dan pengambilan data dilakukan tiap satu bulan sekali. Pengukuran parameter kimia perairan pada daerah perlakuan dilakukan di Laboratorium Proling dengan menggunakan sistem eksitu.

(16)

3.2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alat yang digunakan dalam pengambilan sampel karang, pengamatan, pengambilan data pertumbuhan karang serta pengamatan parameter lingkungan (Tabel 2). Tabel 2. Alat dan Bahan Penelitian

No Alat dan Bahan Keterangan

Biologi Hewan Karang

1 Peralatan SCUBA Peralatan selam bawah air 2 Pemotong karang Pengambilan sampel biota

3 Alas kayu Penahan pemotong karang

4 Wadah sampel Pengangkut sampel biota

5 Baskom Wadah perendam sampel biota

6 Rak paralon Tempat dasar fragmen

7 Jaring Dasar untuk balok semen

8 Tali pancing Pengikat fragmen dengan rak 9 Balok semen Tempat penempelan fragmen

10 Ember Tempat penampung

11 Pengaduk Mengaduk semen

12 Kabel ties Pengait kode fragmen

13 Penggaris Standar pengukur panjang dan karang 14 Kamera bawah air Dokumentasi penelitian

15 Kapal Transportasi ke stasiun pengamatan

16 Label tahan air Pengodean fragmen

17 Semen cair Penempel fragmen

18 Air Laut Campuran semen

19

Fragmen (Acanthastrea

echinata) Biota yang ditransplantasikan

Parameter Fisika-Kimia Perairan

1 Refraktometer Pengukur salinitas perairan

2 Termometer Pengukur suhu perairan

3 Alat titrasi oksigen terlarut Titrasi Winkler

(17)

Tabel 3. Parameter, Alat dan Periode Pengukuran Kegiatan Transplantasi

No Parameter Satuan Alat/Metode Periode

1 Suhu oC Termometer 1 bulan

Pengukuran parameter fisika-kimia perairan dimulai pada waktu pengambilan sampel karang, kemudian pada saat pengamatan biologi hewan karang, yang terdiri dari ketahanan hidup dang pengukuran luas, panjang dan lebar pada fragmen yang dilakukan selama satu bulan sekali. Pengamatan biologi hewan karang menggunakan kamera bawah air dan penggaris sebagai standar pengukuran yang nantinya diolah dengan menggunakan software ImageJ.

3.4. Metode Penelitian

3.4.1. Rancangan dan Konstruksi Transplantasi Karang

(18)

a. Pembuatan Substrat

Substrat dalam penelitian ini berupa substrat balok berbahan dasar semen (Gambar 4). Rak paralon yang telah diisi dengan semen terlebih dahulu agar tenggelam di dalam air dilingkari oleh tali pancing. Tali pancing digunakan untuk menyangkutkan substrat balok semen yang telah ditempelkan fragmen. Substrat balok semen didiamkan terlebih dahulu selama satu minggu di dalam air laut sebelum digunakan, hal ini dimaksudkan agar fragmen bersifat lebih alami. Semen cair yang digunakan untuk melekatkan fragmen dengan substrat balok, dicairkan dengan menggunakan air laut agar fragmen dapat langsung beradaptasi dibandingkan dengan menggunakan air tawar.

Gambar 4. Substrat dan Rak Paralon Kegiatan Transplantasi b. Pemasangan Rak Paralon

Rak yang digunakan dalam kegiatan transplantasi ini berupa paralon yang berukuran 100 cm x 100 cm berbentuk bujur sangkar. Paralon diisi dengan semen padat yang berfungsi untuk menjaga paralon agar tetap berada di dasar perairan. Pada tiap sudut rak diberi kaki dengan tinggi 10 cm, sedangkan pada bagian atas rak dibentangkan jaring berukuran 94 cm x 94 cm dengan mata jaring 2,2 cm x 2,2 cm. Tali pancing tambahan digunakan untuk mengaitkan substrat dengan tali pancing yang berada di atas rak paralon.

(19)

c. Pengadaan Sampel Karang

Fragmen yang ditransplantasikan berasal dari induk koloni karang

Acanthastrea echinata yang berbentuk mengerak dan ditemukan di Pulau Air dan Pulau Panggang. Induk koloni karang yang ditemukan ini kemudian dipotong dengan menggunakan besi dengan bantuan palu untuk melepaskannya dari substrat dasar perairan.

Koloni karang kemudian diangkat ke permukaan dengan hati-hati dan pada proses pengangkutannya selalu berada dalam air. Koloni kemudian dipotong dengan parang menjadi beberapa bagian dengan ukuran panjang 6-9 cm,

selanjutnya pinggiran fragmen karang dirapikan dengan menggunakan tang.

d. Pemasangan Fragmen

Bibit fragmen dipasang pada substrat balok dengan menggunakan semen cair. Label ditempelkan sebelum semen cair mengeras pada substrat balok untuk menandai fragmen. Setelah fragmen siap, kemudian fragmen ditempelkan pada rak paralon. Pengaitan bibit fragmen pada substrat balok menggunakan tali pancing (Gambar 5).

(20)

3.4.2. Metode Pengukuran Fragmen

Fragmen karang diukur menggunakan software ImageJ 1.46x (Gambar 6) yang meliputi pengukuran panjang dan lebar karang. Pengukuran data dilakukan dengan menggunakan satuan cm (senti meter).

Gambar 6. Tampilan Software ImageJ, (A) Panjang dan (B) Lebar

Pengukuran ini didapatkan dari foto fragmen yang diambil pada saat pengamatan. Penggaris yang diletakkan di sebelah karang menjadi skala pengukuran, kemudian dilakukan digitasi pada sekitar tepian karang dengan menggunakan ImageJ (Lampiran 6). Software ini akan menghasilkan data panjang dan lebar karang secara otomatis. Data panjang merupakan bagian terpanjang dari karang yang diukur, sedangkan data lebar didapatkan dari bagian yang lebih pendek dari panjang karang.

3.4.3. Pemulihan dan Perubahan Warna Karang

Pemulihan dan perubahan warna karang diamati dengan menggunakan hasil foto yang didapatkan dari pengamatan tiap bulannya. Pemulihan luka karang yang diakibatkan oleh pemotongan koloni (induk karang) menjadi fragmen karang

(21)

diamati berdasarkan penyembuhan luka serta pelebaran jaringan pada karang tiap bulannya, sedangkan perubahan warna karang dilihat dengan membandingkan warna karang dari awal pengamatan hingga akhir pengamatan.

3.5. Analisis Data

3.5.1. Tingkat Kelangsungan Hidup

Tingkat kelangsungan hidup fragmen dapat diketahui dengan

membandingkan antara jumlah fragmen karang hidup pada akhir penelitian (Nt)

dibandingkan dengan jumlah fragmen karang hidup pada awal penelitian (N0).

Perhitungan tingkat kelangsungan hidup karang menggunakan rumus (Ricker, 1975) :

... (1)

dimana :

SR = Tingkat kelangsungan hidup karang keras (Survival Rate) (%), Nt = Jumlah karang transplantasi pada waktu tertentu,

N0 = Jumlah karang transplantasi pada awal penelitian.

3.5.2. Pertumbuhan Mutlak Karang

Pertumbuhan mutlak berupa rata-rata ukuran fragmen karang yang ditransplantasikan selama 6 bulan dengan menggunakan rumus (Ricker, 1975) :

β

= L

i

L

0 ... (2)

Keterangan :

β = Pertumbuhan panjang/lebar karang keras (cm),

(22)

Lo = Panjang/lebar karang keras pada saat waktu ke-0, (cm) t = Waktu pengamatan karang keras (bulan)

3.5.3. Hubungan Parameter Fisika-Kimiawi Perairan dengan Pertumbuhan Karang

Variasi temporal karakteristik fisik-kimiawi perairan dapat dianalisis dengan menggunakan suatu pendekatan analisis statistik multivariabel yang didasarkan kepada Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis) (Bengen, 2000).

Analisis Komponen Utama (PCA) adalah metode statistika deskriptif yang bertujuan untuk mempresentasikan data dalam bentuk grafik informasi maksimum yang terdapat dalam suatu matrik data. Matrik data yang dimaksud terdiri dari bulan pengamatan (baris) dan parameter lingkungan (kolom). Data dari

parameter-parameter tersebut tidak mempunyai unit pengukuran data yang sama, oleh karena itu sebelum dilakukan Analisis Komponen Utama (PCA), data tersebut dinormalisasikan terlebih dahulu melalui pemusatan dan pereduksian (Bengen, 2000).

Hubungan pertumbuhan karang dengan parameter fisika-kimiawi perairan dapat dianalisis menggunakan Regresi Berganda (Multiple Regression). Regresi berganda adalah salah satu teknik analisis statistik yang digunakan untuk

mengestimasi hubungan fungsional di antara dua atau lebih variabel, yaitu antara variabel terikat (dependen; respon; Y) dengan satu atau lebih variabel bebas (independen variable, predictor, X) (SSI, 2011).

(23)

Keterangan :

Y = Variabel pertumbuhan (panjang/lebar) X1,X2,Xn = Variabel fisik-kimiawi

b1,b2,bn = Koefisien regresi

e = error/residu

Kriteria yang digunakan dalam pemilihan regresi berganda terbaik adalah dengan melihat nilai Koefisien Determinasi (R2) (Tabel 5). Koefisien determinasi merupakan bagian ragam peubah terikat yang dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh peubah bebas yang ada di dalam model (Hanum, 2011).

Tabel 4. Interpretasi R2 Berdasarkan Sugiyono (2009)

R2 Interpretasi

0,80 – 1,00 Sangat Kuat

0,60 – 0,79 Kuat

0,40 – 0,59 Sedang

0,20 – 0,39 Rendah

0,00 – 0,19 Sangat Rendah

(24)

24

4.1. Kondisi dan Variasi Temporal Parameter Fisika-Kimiawi Perairan Kondisi perairan merupakan faktor utama dalam keberhasilan hidup karang. Perubahan kondisi perairan dapat mempengaruhi morfologi maupun fisiologi karang. Kondisi perairan tempat pengambilan sampel karang berdasarkan data (Lampiran 1) dengan kondisi perairan tempat transplantasi karang memiliki perbedaan yang tidak terlalu signifikan, namun masih memenuhi karakter baik untuk pertumbuhan karang (Tabel 5) pada bulan September 2011 hingga bulan Februari 2012.

Tabel 5. Nilai Parameter Fisika-Kimiawi Perairan Selama Penelitian Parameter

Waktu Pengamatan Paremeter (Bulan ke-i) Baku Mutu September Oktober November Desember Januari Februari

Suhu(a) (oC) 29 29 29 29 28 29 28-30

Berdasarkan : Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004

Keterangan : Untuk terumbu karang; (a) Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <20C dari suhu alami, (b) Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <5 % salinitas rata-rata musiman, (c) Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10 % kedalaman euphotic.

(25)

optimum bagi pertumbuhan biota karang, hal ini dinyatakan oleh Thamrin (2006), karang hermatipik tumbuh dan berkembang dengan subur antara 25 0C sampai 29

0

C. Menurut baku mutu air laut untuk biota laut, suhu pada tempat pengamatan masih tergolong normal (perubahan suhu yang terjadi tidak lebih dari 2 0C dari suhu alami).

Nilai salinitas yang didapatkan pada saat pengamatan berkisar antara 30

0

/00 hingga 35 0/00. Pengaruh salinitas terhadap kehidupan hewan karang sangat

bervariasi tergantung pada kondisi perairan laut setempat atau pengaruh alam, seperti run off, badai dan hujan (Supriharyono, 2007). Romimohtarto dan Juwana (2001) menyatakan bahwa keadaan perairan disenangi pertumbuhan karang meliputi salinitas di atas 30 0/00 tetapi di bawah 35 0/00. Nilai salinitas ini

menunjukkan batas cukup baik untuk pertumbuhan karang pada saat pengamatan. Kekeruhan merupakan indikasi peningkatan sedimentasi yang masuk ke dalam perairan. Kekeruhan tertinggi terjadi pada bulan Desember dengan nilai sebesar 1,05 NTU, sedangkan nilai terendah terjadi pada bulan September dengan nilai 0,25 NTU. Meningkatnya sedimentasi yang masuk ke perairan dapat

mengakibatkan penurunan laju pertumbuhan karang, hal ini dikarenakan sedimen yang masuk ke perairan menyebabkan kekeruhan. Kisaran nilai kekeruhan selama penelitian masih baik untuk biota laut karena nilainya berada di bawah 5 NTU (MENLH, 2008).

(26)

pada bulan September tidak masuk ke dalam kategori baik, karena menurut Effendi (2003) perairan yang diperuntukkan bagi kepentingan perikanan memiliki kadar oksigen tidak kurang dari 5 mg/l. Kadar oksigen terlarut kurang dari 4 mg/l menimbulkan efek kurang menguntungkan bagi organisme akuatik.

Nitrat (NO3) merupakan bentuk utama dari nitrogen di perairan dan

merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan alga (Effendi, 2003). Kandungan nitrat tertinggi terjadi pada bulan November dengan nilai 0,354 mg/l. Nilai tersebut sudah berada di atas nilai baku mutu yang ditetapkan untuk biota laut. Nitrat tidak bersifat toksik bagi organisme akuatik, akan tetapi apabila kadar nitrat lebih dari 0,2 mg/l, maka dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi

perairan yang dapat menyebabkan pertumbuhan alga dan tumbuhan air meningkat secara pesat (blooming) (Effendi, 2003).

Amonia merupakan salah satu senyawa kimia yang bersifat racun bagi biota perairan jika jumlahnya berlebihan di dalam perairan (Effendi, 2003). Kandungan amonia terendah adalah 0,126 mg/l sedangkan kandungan tertinggi mencapai 0,369 mg/l. Kandungan amonia yang terjadi pada bulan September hingga November berada sedikit lebih tinggi dari nilai yang ditetapkan pada baku mutu, yaitu sebesar 0,3 mg/l. Namun, nilai tersebut tidak terlalu mempengaruhi pertumbuhan karang, karena tiga bulan setelah itu kadar amonia menurun sehingga pertumbuhan karang semakin baik.

(27)

oleh alga, seperti filamentous alga dan makro alga seperti jenis Padina sp. (Gambar 7), alga ini dapat tumbuh dengan baik di sekitar rak dan pinggiran substrat fragmen.

Gambar 7. Alga Padina sp. yang Tumbuh pada Rak Transplantasi

Variasi temporal karakteristik fisik-kimiawi perairan pada saat pengamatan dapat dihubungkan dengan bulan pengamatan. Hasil analisis ini menggunakan Analisis Komponen Utama (PCA) dengan memperoleh dua sumbu utama penyusun yang masing-masing memberi kontribusi terhadap hubungan antara parameter fisika-kimiawi perairan.

Sumbu 1 (F1) mempunyai akar ciri (Eigenvalue) sebesar 4,17 dengan kontribusi sebesar 59,63%. Sumbu 2 (F2) memiliki akar ciri sebesar 2,13 dengan kontribusi sebesar 30,46%, sehingga interpretasi Analisis Komponen Utama ini dapat mewakili keadaan yang terjadi dengan tidak mengurangi informasi yang banyak dari data yang dianalisis.

(28)

Gambar 8. Hasil PCA terhadap Parameter Fisik-Kimiawi Perairan dengan Bulan Pengamatan

Korelasi nilai kekeruhan serta ortofosfat dapat dilihat pada bulan Desember 2011. Pada bulan ini nilai kekeruhan serta ortofosfat mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan bulan lainnya. Karakteristik fisik-kimiawi pada bulan Januari 2012 berkorelasi positif dengan nilai salinitas dan DO, sedangkan korelasi negatif dapat dilihat pada nilai suhu, amonia dan nitrat yang memiliki nilai paling rendah dibandingkan bulan lainnya. Selanjutnya, pada bulan Februari 2012 karakteristik fisik-kimiawi tidak memiliki perbedaan yang cukup signifikan, sehingga korelasi dari semua parameter memiliki nilai yang hampir sama dengan bulan-bulan lainnya.

4.2. Pemulihan dan Perubahan Warna Karang

(29)

(2008) menyatakan bahwa awal pertumbuhan karang ditandai dengan mulai menutupnya bekas potongan yang terjadi saat fragmentasi karang.

September Oktober November

Desember Februari

Gambar 9. Pemulihan Luka dan Perubahan Warna pada Acanthastrea echinata

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Margono (2009) menunjukkan bahwa karang jenis Lobophyllia hemprichii yang diberikan 2 perlakuan, yaitu Perlukaan 1 dan Perlukaan 2, terlihat bahwa karang yang mengalami Perlukaan 1 mengalami pemulihan yang lebih cepat dibandingkan Perlukaan 2. Hal ini diduga akibat lendir yang dikeluarkan pada perlukaan 2 lebih banyak dibandingkan Perlukaan 1, akan tetapi pada bulan ke-2 pengamatan Perlukaan 2 memiliki tingkat pemulihan yang lebih cepat dibandingkan perlukaan 1. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat stres pada karang sudah berkurang.

(30)

pengamatan. Pada akhir pengamatan, fragmen yang mengalami luka telah sembuh dan tumbuh berkembang menyeluruh ke semua bagian polip karang.

Karang jenis Acanthastrea echinata yang ditransplantasikan mengalami perubahan warna tiap bulannya. Pada bulan September karang berwarna hijau, kemudian bulan selanjutnya karang menjadi berwarna hijau pekat lalu berubah menjadi coklat kekuningan hingga bulan terakhir pengamatan. Perubahan warna karang juga terjadi pada penelitian Prastiwi (2011), karang jenis Lobophytum strictum mengalami perubahan warna pada minggu ke-2, dari warna coklat pucat menjadi warna coklat segar.

Suharsono (2008) menyatakan bahwa karang yang hidup di tempat yang dangkal biasanya mempunyai warna yang cerah, hal tersebut dilakukan oleh karang untuk mengurangi penetrasi cahaya yang berlebihan. Oleh karena itu, salah satu penyebab perubahan warna pada karang jenis Acanthastrea echinata dapat disebabkan oleh perbedaan kedalaman pada saat pengambilan sampel awal dengan kedalaman pada saat karang ditransplantasikan. Koloni karang (induk karang) ditemukan pada kedalaman 20-21 meter, sedangkan pada saat

ditransplantasikan fragmen karang diletakkan pada kedalaman 12 meter.

4.3. Tingkat Kelangsungan Hidup

Tingkat kelangsungan hidup karang memberikan pengaruh terhadap kelestarian ekosistem terumbu karang. Berdasarkan penelitian yang telah

(31)

Seluruh fragmen yang ditransplantasikan memiliki tingkat kelangsungan hidup sebesar 100 %. Karang jenis Acanthastrea echinata yang ditransplantasikan pada awalnya berjumlah 10 fragmen dan pada akhirnya dapat bertahan hidup hingga bulan keenam pengamatan. Harriot dan Fisk (1998) menyatakan bahwa kegiatan transplantasi dikatakan berhasil dari sudut pandang biologis apabila jumlah karang yang hidup antara 50-100 %. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi pada kegiatan transplantasi ini menunjukkan bahwa transplantasi berjalan dengan baik. Karang dari famili Mussidae memiliki ketahanan hidup baik dan bersifat invasif terhadap jenis karang lain yang berdekatan (Soedharma dan Arafat, 2005).

4.4. Pertumbuhan Rata-Rata Transplantasi Karang

Bentuk pertumbuhan karang jenis Acanthastrea echinata adalah massive. Nilai ukur pertumbuhan karang dilihat dari nilai rata-rata panjang dan lebar (Tabel 6). Pengukuran fragmen pada transplantasi karang dilakukan pada bulan Agustus 2011 (pengukuran awal) hingga bulan Februari 2012.

Tabel 6. Ukuran Rata-rata dan St.dev Fragmen Karang Transplantasi

Ukuran Waktu Pengamatan

Agust-11 Sep-11 Okt-11 Nop-11 Des-11 Jan-12 Feb-12

Rata-rata pertumbuhan karang jenis Acanthastrea echinata yang dilihat dari pertambahan panjang dan lebar mengalami peningkatan dari bulan awal pengamatan hingga akhir pengamatan.

(32)

rata-rata peningkatan yang terjadi tiap bulannya sebesar 0,23 cm – 0,46 cm. Ukuran lebar mencapai 7,06 cm, dengan rata-rata peningkatan yang terjadi tiap bulannya sebesar 0,22 cm – 0,32 cm.

Gambar 10. Rasio Pertumbuhan Panjang dan Lebar Karang Selama 6 Bulan Pengamatan

Rasio pertumbuhan panjang dan lebar karang dapat diketahui dengan menggunakan analisis regresi linear (Azis, 2002). Rasio pertumbuhan karang menunjukkan bahwa terjadi peningkatan panjang maupun lebar tiap bulannya, sehingga dapat terlihat pola pertumbuhan linear yang konstan dari karang jenis Acanthastrea echinata.

Suharsono (2008) mengungkapkan bahwa karang berbeda dengan hewan lain dalam hal pengertian pertumbuhan. Pola pertumbuhan hewan pada umumnya mengikuti pola grafik sigmoid, yaitu pada awal pertumbuhannya akan lambat, kemudian diikuti dengan pertumbuhan yang cepat pada umur muda dan

pertumbuhan berhenti pada umur tua. Karang pada umumnya mempunyai pola

(33)

pertumbuhan linier extension, dimana kecepatan tumbuh relatif konstan sepanjang hidupnya.

Pertumbuhan mutlak karang (Gambar 11) yang ditransplantasikan selama 6 bulan memiliki nilai panjang sebesar 1,94 ± 1,37 cm, dan nilai lebar sebesar 1,51 ± 1,06 cm. Pertumbuhan ini tergolong lambat, sama halnya seperti yang diungkapkan oleh Suharsono (2008), karang dengan bentuk pertumbuhan massive dan karang yang hidup soliter biasanya lambat pertumbuhannya.

Gambar 11. Pertumbuhan Mutlak Panjang dan Lebar Karang Bulan Agustus 2011

– Februari 2012

Beberapa jenis karang yang berasal dari genus Porites, Favites, Favia mempunyai kecepatan tumbuh antara 1,5 – 2 cm/tahun (Suharsono, 2008). Penelitian transplantasi yang telah dilakukan oleh Cahyadi tahun 2001 di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, kecepatan tumbuh dari karang keras jenis Porites

nigrescens bernilai antara 1,25-1,47 cm/bulan, sedangkan karang keras dari jenis Favites spp, Favia spp mempunyai kecepatan tumbuh antara 1,5-2 cm/tahun.

Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Kamalikasari (2012) mengenai transplantasi karang jenis Blastomussa wellsi, menghasilkan nilai pertumbuhan mutlak panjang pada 3 bulan awal sebesar 1,84 mm, lalu 3 bulan kemudian

(34)

sebesar 2,63 mm. Selanjutnya nilai mutlak lebar pada 3 bulan awal sebesar 1,83 mm, lalu 3 bulan kemudian sebesar 2,46 mm.

4.5. Hubungan Pertumbuhan Karang Transplantasi dengan Parameter Fisika-Kimiawi di Perairan

Data pertumbuhan karang merupakan nilai dari panjang dan lebar karang. Peubah tak bebas berupa X diganti dengan nilai parameter fisik-kimiawi perairan berikut :

X1 = Suhu (T) X2 = Salinitas (S) X3 = Kekeruhan (K)

X4 = Nitrat (N) X5 = Oksigen Terlarut (D) X6 = Amonia (A)

X7 = Ortofosfat (O)

Hasil analisis Regresi Berganda (Multiple Regression) dengan metode Stepwise pada panjang dan lebar karang adalah sebagai berikut :

a. Panjang

Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa semua peubah bebas dalam data ini memiliki korelasi yang rendah dengan nilai koefisien determinasi (R2) 0,306. Model regresi penuh yang melibatkan semua peubah bebas (Tabel 7).

P = -29,051 + 0,839T + 0,707S + 0,680K – 1,798D -1,821A Tabel 7. Analisis Regresi Model Penuh Data Panjang

(35)

A -1,821 0 65535 - -1,821 -1,821

O 0,000 0 65535 - 0,000 0,000

Pada model ini terjadi multikolinear pada peubah T, S, K, D, N, A dan O. Setelah melakukan metode Stepwise sebanyak 4 kali (Lampiran 4), langkah terbaik yang didapatkan ada pada langkah 4. Model ini mengandung peubah bebas K, D, N dan A dengan persamaan

P = 220,194 + 24,249K -37,774D – 83,363N -51,277A

Nilai koefisien determinasi (R2) yang dihasilkan dari model ini sebesar 0,941. Hal ini menunjukkan bahwa keempat parameter fisik-kimiawi tersebut berkorelasi sangat kuat (Tabel 8).

Tabel 8. Analisis Regresi Model Terbaik Hasil Metode Stepwise

Coefficients

Intercept 220,194 104,491 2,107 0,282 -1107,485 1547,872

K 24,249 11,138 2,177 0,274 -117,278 165,777

D -37,774 18,660 -2,024 0,292 -274,875 199,327

N -83,363 39,687 -2,101 0,283 -587,634 420,908

A -51,277 23,956 -2,140 0,278 -355,671 253,116

b. Lebar

Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa semua peubah bebas dalam data ini memiliki korelasi yang rendah dengan nilai koefisien determinasi (R2) 0,264. Model regresi penuh yang melibatkan semua peubah bebas (Tabel 9).

P = -19,053 + 0,608T + 0,563S + 0,351K -1,811D -2,300A Tabel 9. Analisis Regresi Model Penuh Data Lebar

(36)

S 0,563 0 65535 - 0,563 0,563

K 0,351 0 65535 - 0,351 0,351

D -1,811 0 65535 - -1,811 -1,811

N 0,000 0 65535 - 0,000 0,000

A -2,300 0 65535 - -2,300 -2,300

O 0,000 0 65535 - 0,000 0,000

Sama halnya dengan panjang, pada model ini terjadi multikolinear pada peubah T, S, K, D, N, A dan O. Setelah melakukan metode Stepwise sebanyak 5 kali (Lampiran 5), langkah terbaik yang didapatkan ada pada langkah 5. Model ini mengandung peubah bebas T, S dan K dengan persamaan

P = -29,199 + 0,792T + 0,397S + 0,344K

Nilai koefisien determinasi (R2) yang dihasilkan dari model ini sebesar 0,972. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga parameter fisik-kimiawi tersebut berkorelasi sangat kuat (Tabel 10).

Tabel 10. Analisis Regresi Model Terbaik Hasil Metode Stepwise

Coefficients

Standard

Error t Stat P-value

Lower 95%

Upper 95%

Intercept -29.119 7.459 -3.904 0.060 -61.214 2.976

T 0.792 0.213 3.722 0.065 -0.124 1.708

S 0.397 0.053 7.529 0.017 0.170 0.623

(37)

37 5.1 Kesimpulan

Tingkat kelangsungan hidup karang jenis Acanthastrea echinata yang ditransplantasikan di Pulau Pramuka, Kepulaun Seribu tergolong tinggi. Seluruh fragmen yang ditransplantasikan memiliki tingkat kelangsungan hidup sebesar 100 %. Pertumbuhan mutlak karang yang ditransplantasikan selama 6 bulan memiliki nilai panjang sebesar 1,94 ± 1,37 cm, dan nilai lebar sebesar 1,51 ± 1,06 cm.

Hubungan pertumbuhan karang dengan parameter fisika-kimiawi perairan menunjukkan korelasi yang sangat kuat pada panjang dan lebar karang. Pada panjang karang nilai koefisien determinasi (R2) yang dihasilkan sebesar 0,941, sedangkan nilai koefisien determinasi (R2) pada lebar karang sebesar 0,972.

5.2 Saran

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk penelitian selanjutnya mengenai transplantasi karang, antara lain :

1. Pemotongan karang jenis massive dari koloni sebaiknya dilakukan dengan menggunakan gunting khusus atau alat pemotong khusus, agar fragmen karang berbentuk lebih rapi dan memiliki ukuran yang sama.

(38)

HIKMAH CUT RAMADHANA

SKRIPSI

DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

(39)

PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP KARANG

KERAS

Acanthastrea echinata

(DANA1846) DI PULAU

PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU

Adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini.

Bogor, Januari 2013

(40)

HIKMAH CUT RAMADHANA. Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Karang Keras Acanthastrea echinata (Dana 1846) di Pulau Pramuka,

Kepulauan Seribu. Dibimbing oleh Dietriech G. Bengen dan Beginer Subhan. Data tahun 2011 yang dihimpun dari 1.076 stasiun pengamatan milik Pusat Penelitian Oseanografi LIPI menunjukkan hanya 5,58 % terumbu karang Indonesia yang tergolong sangat baik dan 26,95 % kondisinya baik. Sisanya, sebanyak 36,90 % berada dalam kondisi cukup baik, sedangkan 30,76 % kondisinya kurang baik.

Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian terumbu karang adalah melalui transplantasi karang. Transplantasi karang merupakan suatu teknik penanaman dan pertumbuhan koloni karang baru dengan metode

fragmentasi dimana benih karang diambil dari suatu induk koloni tertentu. Transplantasi karang bertujuan untuk mempercepat regenerasi terumbu karang yang telah mengalami kerusakan atau untuk memperbaiki daerah terumbu karang yang rusak, terutama untuk meningkatkan keragaman dan persen penutupan.

Transplantasi karang dilakukan pada bulan Juli 2011 sampai Februari 2012, bertempat di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta. Transplantasi karang dilakukan pada kedalaman 12 meter. Karang yang ditransplantasikan adalah jenis Acanthastrea echinata. Parameter yang diamati berupa panjang dan lebar karang, serta parameter fisik-kimiawi yang mempengaruhinya. Data ini kemudian diolah untuk mendapatkan informasi mengenai tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan mutlak karang dan hubungan faktor fisik-kimiawi di perairan dengan pertumbuhan karang.

Kondisi perairan tempat pengamatan transplantasi karang memiliki kisaran suhu 28-29 0C. Nilai salinitas yang didapatkan pada saat pengamatan berkisar antara 30-35 0/00. Kekeruhan bernilai 0,25-1,05 NTU, sedangkan nilai oksigen

terlarut pada perairan memiliki nilai 4,88-6,03 mg/l. Kandungan nitrat berada pada kisaran 0,13-0,37 mg/l dan nilai ortofosfat berkisar antara 0,004-0,278 mg/l.

Seluruh fragmen yang ditransplantasikan memiliki tingkat kelangsungan hidup sebesar 100 %. Pertumbuhan mutlak karang yang ditransplantasikan selama 6 bulan memiliki nilai panjang sebesar 1,94 ± 1,37 cm dan nilai lebar sebesar 1,51 ± 1,06 cm. Penutupan luka terjadi pada bulan Oktober, setelah itu terjadi

pelebaran jaringan hingga bulan keenam pengambilan data.

(41)

© Hak Cipta milik Hikmah Cut Ramadhana, tahun 2013

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa

mencantumkan atau menyebutkan sumbernya

2. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian,

penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau

tinjauan suatu masalah

(42)

HIKMAH CUT RAMADHANA

SKRIPSI

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Kelautan pada

Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan

DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

(43)

KARANG KERAS Acanthastrea echinata (DANA 1846) DI PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU

Nama Mahasiswa : Hikmah Cut Ramadhana Nomor Pokok : C54080070

Departemen : Ilmu dan Teknologi Kelautan

Menyetujui,

Pembimbing Utama Pembimbing Anggota

Prof. Dr. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA Beginer Subhan, S.Pi, M.Si. NIP. 19590105 198312 1 001 NIP. 19800118 200501 1 003

Mengetahui,

Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan

Prof. Dr. Ir. Setyo Budi Susilo, M.Sc NIP. 19580909 198303 1 003

(44)

penelitian yang dituangkan dalam skripsi berjudul “PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP KARANG KERAS Acanthastrea echinata

(DANA 1846) DI PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU”. Skripsi ini merupakan tugas akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

kesarjanaan di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan yaitu Sarjana Ilmu Kelautan.

Penulis menyadari banyak pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Ucapan terima kasih dengan tulus dan penghargaan setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada :

1. Kedua orang tua saya, Ir. Hudnawati, MM dan Ir.Usman, MM atas doa restu yang diberikan, serta abang dan kakak saya, Haqul Baramsyah, Husnul Cut Wahyuni dan Hulya Cut Septiyani atas motivasi dan semangatnya.

2. Prof. Dr. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA dan Beginer Subhan, S.Pi., M.Si. selaku pembimbing I dan II, serta Dr. Ir. Hawis H. Madduppa, M.Si selaku dosen penguji atas bimbingan, pengetahuan, dan nasehat yang telah diberikan. 3. Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc. selaku pembimbing akademik, atas

bimbingannya kepada penulis.

4. Suryo Kusumo, S.Pi. selaku pihak Asosiasi Koral Kerang dan Ikan Hias Indonesia (AKKII) yang telah memberikan bantuan serta kesempatan untuk dapat melakukan transplantasi karang.

5. Bapak Mahyudin beserta istri dan keluarga, Bapak Halimun, Bapak Leo, serta semua pihak di Pulau Pramuka atas bantuannya di lapangan.

6. Ludvi Kamalikasari, Ade Ayu Mustika, Sancha Sadewa, dan Riandi Ernanda atas kerjasama dalam penelitian.

7. Fisheries Diving Club (FDC-IPB) atas pendidikan dan pelatihan yang diberikan terutama kepada teman-teman Diklat 26 dan 27 atas perjuangannya, serta Diklat 24, Diklat 25, Diklat 28, Diklat 29, Diklat 30 dan seluruh anggota FDC atas kebersamaannya.

(45)

penuh kepada penulis.

10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu dalam memberikan sumbangan saran, bimbingan dalam penelitian, pengolahan data, dan penyusunan skripsi secara sukarela.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan penulis sendiri sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapan. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

(46)

DAFTAR ISI ... ix DAFTAR TABEL ... xi DAFTAR GAMBAR ... xii DAFTAR LAMPIRAN ... xiii 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tujuan ... 3 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 4 2.1. Karang Keras Acanthastrea echinata ... 4 2.2. Parameter Perairan yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan

(47)

3.4.3. Pemulihan dan Perubahan Warna Karang ... 20 3.5. Analisis Data ... 21 3.5.1. Tingkat Kelangsungan Hidup ... 21 3.5.2. Pertumbuhan Mutlak Karang ... 21 3.5.3. Hubungan Parameter Fisika-Kimiawi Perairan dengan

Pertumbuhan Karang ... 22 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 24 4.1. Kondisi dan Variasi Temporal Parameter Fisika-Kimiawi Perairan 24 4.2. Pemulihan dan Perubahan Warna Karang ... 28 4.3. Tingkat Kelangsungan Hidup ... 30 4.4. Pertumbuhan Rata-Rata Transplantasi Karang ... 31 4.5. Hubungan Pertumbuhan Karang Transplantasi dengan Parameter

(48)
(49)

1. Koloni Acanthastrea echinata (Veron, 1986) ... 5 2. Koralid Bentuk Cerioid (Veron, 1986) ... 5 3. Lokasi Pengambilan Sampel dan Transplantasi Karang ... 15 4. Substrat dan Rak Paralon Kegiatan Transplantasi ... 18 5. Pemasangan Fragmen dan Bentuk Rak Paralon ... 19 6. Tampilan Software ImageJ, (A) Panjang dan (B) Lebar ... 20 7. Alga Padina sp. yang Tumbuh pada Rak Transplantasi ... 27 8. Hasil PCA terhadap Parameter Fisik-Kimiawi Perairan dengan Bulan

Pengamatan ... 28 9. Pemulihan Luka dan Perubahan Warna pada Acanthatrea echinata ... 29 10.Rasio Pertumbuhan Panjang dan Lebar Karang Selama 6 Bulan

Pengamatan ... 32 11.Pertumbuhan Mutlak Panjang dan Lebar Karang Bulan Agustus 2011 –

(50)

1. Nilai Parameter Fisika-Kimia Perairan Selama Penelitian Pada Perairan

Keberadaan Alami dan Penelitian ... 42 2. Data Pertumbuhan Karang Acanthastrea echinata ... 43 3. Hasil Analisis Komponen Utama (PCA) Bulan Pengamatan dengan

(51)

1

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Karang merupakan biota dari ordo Scleractinia yang termasuk jenis tidak dilindungi undang-undang, namun dalam perdagangannya termasuk dalam daftar Appendiks II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Perdagangan karang hias dari alam dilakukan

berdasarkan mekanisme kuota yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal

Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam selaku pelaksana Otoritas Pengelola CITES setelah mendapat pertimbangan dari LIPI selaku pemegang Otoritas Ilmiah CITES di Indonesia (Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, 2011).

Data tahun 2011 yang dihimpun dari 1.076 stasiun pengamatan milik Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, menunjukkan hanya 5,58 % terumbu karang Indonesia yang tergolong sangat baik dan 26,95 % kondisinya baik. Sisanya, sebanyak 36,90 % berada dalam kondisi cukup baik, sedangkan 30,76 % kondisinya kurang baik. Kondisi karang yang kurang baik masih lebih tinggi dibandingkan kondisi karang yang sangat baik. Hal ini terjadi karena nelayan masih menggunakan teknik yang tidak ramah lingkungan seperti bubu, lampara, racun, dan bom (Anonima, 2012).

Salah satu upaya menanggulangi masalah kerusakan ekosistem karang di habitat alami serta mencari alternatif untuk mengurangi tekanan terhadap

(52)

suatu teknik penanaman dan pertumbuhan koloni karang baru dengan metode fragmentasi dimana benih karang diambil dari suatu induk koloni tertentu (Soedharma dan Arafat, 2007).

Transplantasi karang bertujuan untuk mempercepat regenerasi dari terumbu karang yang dapat dimanfaatkan untuk perdagangan dan peningkatan kualitas habitat karang. Kegiatan transplantasi karang merupakan salah satu usaha pengembangan populasi berbasis alam di habitat alam atau habitat buatan untuk mendapatkan produksi anakan yang dapat dipanen secara berkelanjutan

(Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, 2011).

Penelitian mengenai transplantasi karang keras di Indonesia telah banyak dilakukan. Beberapa genus karang yang berhasil ditransplantasikan dari famili Mussidae yaitu dari Genus Acanthastrea, Blastomussa, Cynarina, Lobophyllia, dan Symphyllia (Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, 2011). Jenis-jenis karang yang berhasil ditransplantasikan dari famili Mussidae yaitu Cynarina lacrymaris oleh Subhan (2003), Lobophyllia hemprichii oleh Arafat (2005), Respati (2005) dan Margono (2009), Blastomussa wellsi oleh Kamalikasari (2012). Jenis lainnya yaitu : Symphyllia agaricia, Lobophyllia corymbosa, Acanthastrea maxima, Acanthastrea echinata, dan Acanthastrea lordhowensis yang berhasil ditransplantasikan oleh PT. Aneka Tirta Surya.

(53)

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengamati pertumbuhan karang Acanthastrea echinata yang ditransplantasikan pada kondisi lingkungan sebenarnya. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi, baik untuk kepentingan penelitian, rehabilitasi ekosistem, maupun perdagangan.

1.2. Tujuan

(54)

4 2.1. Karang Keras Acanthastrea echinata

Karang keras termasuk ke dalam filum Coelentrata (Cnidaria) dari kelas Anthozoa dan sub-kelas Hexacoralia. Ciri khas dari hewan Cnidaria yaitu sengat yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsanya. Sel sengat ini dikenal dengan nama nematocyst (Nybakken, 2000).

Kemampuan berdasarkan pembentukan terumbu, karang dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu hermatifik dan ahermatifik. Kelompok hermatifik merupakan karang yang dapat membentuk terumbu sedangkan kelompok ahermatifik tidak dapat membentuk terumbu (Nybakken, 2000). Karang jenis Acanthastrea echinata termasuk kedalam kelompok karang hermatifik, karena mampu menghasilkan terumbu sendiri yang berasal dari hasil samping aktivitas fotosintesis yang dilakukan oleh alga zooxanthellae yang bersimbiosis dengan karang.

Sistem klasifikasi karang keras Acanthastreaechinata (Veron, 1986) adalah sebagai berikut (Chevalier, 1975; Veron and Picon, 1980):

Filum : Cnidaria Kelas : Anthozoa

Sub Kelas : Zooantharia (Hexacorallia) Ordo : Sclerectinia

Sub ordo : Favina Famili : Mussidae Genus : Acanthastrea

(55)

Gambar 1. Koloni Acanthastrea echinata (Veron, 1986)

Karakteristik dari karang Acanthastrea echinata adalah koloni dalam bentuk massive atau mengerak dan biasanya datar. Jenis koralid berupa cerioid atau subplacoid, melingkar dan memiliki dinding yang tipis. Septa mirip dengan Lobophyllia. Dalam keadaan hidup terlihat seperti adanya jaringan keriput melingkar di sekitar mulut. Koloni memiliki jaringan berdaging tebal di atas kerangka yang biasanya berbentuk lipatan konsentris (Veron, 1986).

Gambar 2. Koralid Bentuk Cerioid (Veron, 1986)

(56)

2.2. Parameter Perairan yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Karang

Distribusi dan pertumbuhan ekosistem terumbu karang tergantung dari beberapa parameter fisika-kimiawi perairan berikut :

2.2.1. Suhu

Terumbu karang pada umumnya tumbuh secara optimal pada kisaran suhu perairan laut rata-rata tahunan antara 25-29 0C, namun suhu di luar itu masih dapat ditolelir oleh spesies tertentu dari jenis karang hermatifik untuk dapat berkembang dengan baik (Thamrin, 2006). Secara langsung kondisi suhu perairan mempengaruhi kecepatan metabolisme suatu organisme perairan (Dahuri, 2003).

Perubahan suhu perairan, baik peningkatan maupun penurunan suhu yang ekstrim terbukti menyebabkan gangguan terhadap terumbu karang. Penelitian Lumban Gaol (2007) mengenai analisis SPL di perairan Indonesia menyatakan bahwa terjadinya bleaching di beberapa perairan di Indonesia disebabkan oleh anomali suhu yang memiliki pengaruh negatif terhadap ekosistem karang.

2.2.2. Salinitas

(57)

dapat hidup normal hanya pada perairan yang tidak banyak mengalami perubahan salinitas atau relatif stabil.

Nilai salinitas yang berkisar 29-31 ‰ berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rani et al. (2003) merupakan kisaran yang baik untuk reproduksi karang di perairan Indonesia. Berdasarkan penelitian Helfinalis (1999), nilai salinitas antara 30,2-34 ‰ merupakan salinitas normal untuk kehidupan karang.

2.2.3. Kekeruhan dan Sedimentasi

Sedimentasi memiliki pengaruh secara langsung maupun tidak langsung bagi pertumbuhan karang. Pengaruh langsung bagi pertumbuhan karang terjadi apabila sedimentasi yang masuk ke perairan merupakan sedimentasi yang berukuran besar sehingga dapat menutupi polip karang (Supriharyono, 2007). Pengaruh tidak langsung adalah sedimentasi yang masuk ke perairan dapat menyebabkan kekeruhan yang berdampak pada penurunan sinar matahari, sehingga dapat menurunkan laju pertumbuhan karang (Supriharyono, 2007).

Kondisi perairan yang keruh menyebabkan tidak semua jenis karang batu dapat tumbuh dengan baik. Hanya jenis-jenis karang batu yang mampu

beradaptasi dengan lingkungannya yang mampu bertahan hidup. Akan tetapi, pertumbuhan karang tersebut tidak maksimal, ditandai dengan ukurannya yang relatif kecil (Tuti H et al, 2010).

2.2.4. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen)

(58)

Perairan yang diperuntukkan bagi kepentingan perikanan memiliki kadar oksigen tidak kurang dari 5 mg/l. Kadar oksigen terlarut kurang dari 4 mg/l menimbulkan efek kurang menguntungkan bagi organisme akuatik (Effendi, 2003).

2.2.5. Nutrien (Nitrat, Amonia dan Ortofosfat)

Banyaknya kandungan nutrien di perairan juga mempengaruhi komunitas terumbu karang. Alga zooxanthellae membutuhkan nutrien untuk melakukan proses fotosintesis. Nitrogen di laut tersedia dalam berbagai jenis bentuk garam organik seperti nitrit, nitrat, amonia dan berbagai jenis senyawa mitrogen seperti asam amino dan urea, atau sebagai nitrogen molekuler. Alga pada umumnya lebih menggunakan amonia, nitrat dan nitrit (Tomascik et al., 1997).

Nitrat (NO3) merupakan bentuk utama dari nitrogen di perairan dan

merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan alga serta dapat dimanfaatkan secara langsung (Effendi, 2003). Nitrat tidak bersifat toksik bagi organisme akuatik. Kadar nitrat pada perairan alami tidak lebih dari 0,1 mg/liter. Kadar nitrat yang lebih dari 0,2 mg/l dapat menyebabkan eutrofikasi perairan. Pada skala komunitas, tingginya kandungan nutrien dapat menyebabkan

berkembangnya sponge dan alga yang dapat mencegah melekatnya larva karang (Sabarini, 2001).

Amonia (NH3) merupakan salah satu bentuk nitrogen anorganik pada

(59)

(tumbuhan dan akuatik yang telah mati) oleh mikroba dan jamur. Kadar nitrat yang mencapai nilai lebih dari 5 mg/l, dapat diindikasikan bahwa perairan tersebut mengalami pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan (Effendi, 2003).

Unsur fosfat tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai elemen di perairan, melainkan dalam bentuk senyawa anorganik yang terlarut (ortofosfat dan polifosfat) dan senyawa organik yang berupa partikulat. Kadar fosfat yang

berlebihan dan nitrogen dapat menstimulir ledakan pertumbuhan alga. Ortofosfat merupakan bentuk fosfat yang dapat digunakan secara langsung oleh tumbuhan akuatik (Effendi, 2003).

Kandungan nutrien yang tinggi dalam perairan dapat mengakibatkan pertumbuhan karang menjadi lebih lambat (Birkeland, 1988). Pada daerah yang kaya akan nutrien, fitoplankton akan bertambah dan menghalangi cahaya yang masuk ke perairan. Persaingan tempat juga akan terjadi dengan bertambahnya keanekaragaman hewan bentik lainnya (Birkeland, 1988).

2.3. Transplantasi Karang

Transplantasi karang merupakan upaya pencangkokan atau pemotongan karang hidup untuk ditanam di tempat lain yang bertujuan untuk pembentukan terumbu karang secara alami. Pada awalnya, teknik transplantasi karang dimaksudkan untuk mempercepat regenerasi terumbu karang yang telah

(60)

untuk diperdagangkan sebagai karang hias (Herianto, 2007 ; Giyanto, 2007 ; Soedharma dan Arafat, 2007).

2.3.1. Transplantasi Karang di Dunia

Transplantasi karang di dunia telah banyak dilakukan, salah satunya dalam upaya restorasi terumbu karang (Edwards dan Gomez, 2008). Beberapa wilayah di dunia melakukan transplantasi karang dengan alasan sebagai berikut :

1. Polynesia Perancis. Transplantasi karang dilakukan sebagai usaha untuk menyelesaikan masalah erosi pantai di Matira Point.

2. Saint Leu, Pulau La Réunion. Transplantasi karang dilakukan untuk membuat kembali habitat ikan yang rusak diakibatkan oleh angin topan Firinga.

3. Pulau Mayotte (Samudera Hindia). Transplantasi karang bertujuan untuk memperbaiki kerusakan akibat reklamasi pada rataan terumbu sewaktu reklamasi pelabuhan.

4. Pulau Moturiki , Fiji. Transplantasi karang bertujuan untuk memperbaiki sebagian karang yag mati dalam kejadian pemutihan karang pada tahun 2000 dan 2002.

5. Pantai Prony, New Caledonia. Transplantasi karang dilakukan untuk

menyelamatkan koloni-koloni karang yang terancam oleh kegiatan reklamasi dan menggunakan karang tersebut untuk memperbaiki 2.000 m2 kerusakan karang.

(61)

2.3.2. Transplantasi Karang di Indonesia

Penelitian pendahuluan yang mengarah pada transplantasi karang

dilakukan oleh Boli (1994) dengan melakukan penanaman beberapa jenis karang bercabang Acropora di Pulau Lancang dan di sebelah utara Pulau Pari

(Soedharma dan Arafat, 2007).

Penelitian mengenai transplantasi karang dari famili Mussidae dilakukan oleh beberapa mahasiswa Perguruan Tinggi di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Subhan (2003) di Pulau Pari mengenai kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan karang jenis Cynarina lacrymaris, Euphyllia sp., dan Plerogyra sinuosa, menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup dari karang jenis Cynarina lacrymaris sebesar 22,22%. Laju pertambahan tinggi sebesar 0,03 cm perbulan, sedangkan laju pertambahan panjang sebesar 0,11 cm perbulan.

Respati (2005) melakukan penelitian di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu selama 5 bulan pada kedalaman 8 meter. Jenis karang yang ditransplantasikan yaitu Caulastrea sp. dan Lobophyllia hemprichii. Tingkat kelangsungan hidup untuk semua spesies adalah 100%. Laju pertumbuhan panjang dan lebar karang Lobophyllia hemprichii adalah pada perlakuan 3 (T3) yaitu 4,14 mm/bulan dan pada perlakuan 2 (T2) yaitu 3,81 mm/bulan.

(62)

Kamalikasari (2012) melakukan penelitan pula di Pulau Pramuka

mengenai adaptasi fragmen karang keras berpolip besar jenis Blastomussa wellsi yang dilakukan pada kedalaman 20 meter dan 12 meter. Tingkat kelangsungan hidup dari fragmen yang ditansplantasikan sebesar 100%. Rata-rata pertumbuhan fragmen karang terlihat pada nilai luas, sedangkan pada panjang dan lebar karang tidak berbeda jauh. Selisih nilai ukuran awal fragmen karang yaitu 0,53 mm2. Setelah 3 bulan pengamatan, selisih ukuran luas antara kedua kedalaman sebesar 5,21 mm2 , selanjutnya pada waktu 6 bulan pengamatan selisih ukuran luas menjadi 3,89 mm2 .

2.3.3. Jenis-Jenis Karang Transplantasi

Sesuai peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor SK. 09/IV/Set-3/2008 tentang Pedoman Penangkaran/Transplantasi Karang yang Diperdagangkan, jenis-jenis karang yang dapat ditransplantasi sebanyak 65 jenis (Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, 2011). Mempertimbangkan sifat biologi karang dan kondisi lingkungan, serta keberhasilan uji coba dan penelitian, jenis karang yang dapat dimanfaatkan /diperdagangkan sebanyak 24 jenis, sedangkan karang yang telah berhasil ditransplantasi dan belum dapat dimanfaatkan sebanyak 23 jenis (Tabel 2). Tabel 1. Daftar Jenis-Jenis Karang yang Berhasil Ditransplantasikan

No Jenis Karang No Jenis Karang

1 Acanthastrea echinata 1) 3) 40 Heliopora coerulea 1) 2 Acanthastrea lordhowensis 3) 41 Herpolitha limax 1) 3 Acanthastrea maxima 3) 42 Hydnophora exesa 1)

(63)

8 Caulastrea echinulata 1) 47 Merulina ampliata 1) 2) 9 Caulastrea sp. 2) 48 Millepora spp. 1)

10 Caulastrea tumida 1) 49 Montastrea annuligera 1) 11 Cynarina lacrymaris 1) 50 Montastrea spp. 1)

12 Cyphastrea serailia 1) 51 Montastrea valenciennesi 1) 13 Dendrophyllia fistula 1) 3) 52 Montipora sp. 1) 2)

14 Diploastrea heliopora 1) 53 Neomenzophyllia turbida 1) 15 Disticopora spp. 1) 54 Pectinia lactuca 1)

16 Echinophyllia aspera 2) 55 Physogyra lichtensteini 1) 3) 17 Echinopora lamellosa 2) 56 Plerogyra sinuosa 1) 3) 18 Euphyllia ancora 2) 57 Pocillopora damicornis 1) 2) 19 Euphyllia cristata 1) 3) 58 Pocillopora eydouxi 2) 20 Euphyllia divisa 1) 3) 59 Pocillopora verrucosa 1) 2) 21 Euphyllia glabrescens 1) 2) 60 Polyphyllia talpina 1) 22 Euphyllia paraancora 3) 61 Porites cylindrica 2) 23 Euphyllia yaeyamaensis 3) 62 Porites lichen 2) 24 Favia pallida 1) 3) 63 Porites nigricens 2)

25 Favia spp. 1) 64 Porites spp. 1)

26 Favites abdita 1) 3) 65 Scolymia vitiensis 1) 27 Favites chinensis 1) 3) 66 Seriatopora caliendrum 2) 28 Fungia fungites 1) 67 Seriatopora hystrix 1) 2) 29 Fungia moluccensis 1) 68 Stylophora pistilla 1) 2) 30 Fungia paumotensis 1) 69 Symphyllia agarricia 1) 3)

31 Fungia spp. 1) 70 Symphyllia sp. 1)

32 Galaxea astreata 1) 2) 71 Trachyphyllia geoffroyi 1) 33 Galaxea fascicularis 1) 2) 72 Tubastrea aurea 1) 3) 34 Goniastrea pectinata 1) 3) 73 Tubipora musica 1) 3) 35 Goniastrea retiformis 1) 74 Turbinaria mesenterina 1) 2) 36 Goniopora lobata 1) 3) 75 Turbinaria peltata 1) 2) 37 Goniopora minor 1) 3) 76 Turbinaria reniformis 2) 38 Goniopora stokesi 1) 77 Turbinaria stellulata 2) 39 Heliofungia actiniformis 1) 78 Wellsophyllia radiata 1) Keterangan :

1)

= Jenis-jenis karang yang dapat ditransplantasi (Peraturan Dirjen PHKA No. SK. 09/IV/Set-3/2008)

2)

(64)

3)

= Jenis-jenis karang yang berhasil ditransplantasi oleh unit usaha transplantasi dan belum dapat dimanfaatkan/diperdagangkan.

(Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, 2011)

2.3.4. Manfaat dan Kendala Transplantasi Karang

Transplantasi karang memiliki manfaat yang cukup banyak untuk masyarakat dan lingkungan. Soedharma dan Arafat (2007) menyatakan bahwa manfaat transplantasi karang adalah mempercepat regenerasi terumbu karang yang telah rusak, rehabilitasi lahan-lahan kosong atau rusak, menciptakan komunitas baru, konservasi plasma nutfah dan untuk keperluan perdagangan.

Pengembangan teknik transplantasi ini masih mengalami berbagai kendala. Secara umum, terdapat dua faktor yang menjadi kendala bagi

(65)

15 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2011 sampai Februari 2012,

bertempat di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta dan Laboratorium Produktivitas Lingkungan, Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Gambar 3. Lokasi Pengambilan Sampel dan Transplantasi Karang di Perairan Pulau Air, Pulau Panggang dan Pulau Pramuka

Pengambilan sampel karang dilakukan di Pulau Air dan Pulau Panggang, sedangkan transplantasi karang dilakukan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu (Gambar 3). Transplantasi karang dilakukan pada kedalaman 12 meter.

Pengamatan dilakukan selama 6 bulan dan pengambilan data dilakukan tiap satu bulan sekali. Pengukuran parameter kimia perairan pada daerah perlakuan dilakukan di Laboratorium Proling dengan menggunakan sistem eksitu.

Gambar

Gambar 1. Koloni Acanthastrea echinata (Veron, 1986)
Gambar 3. Lokasi Pengambilan Sampel dan Transplantasi Karang di Perairan
Tabel 2. Alat dan Bahan Penelitian
Tabel 3. Parameter, Alat dan Periode Pengukuran Kegiatan Transplantasi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Febrianti dan Riharjo (2013) yang menyatakan bahwa ketidakpastian lingkungan berpengaruh positif dan signifikan

Dari hasil pendampingan selama sebulan yang telah penulis lakukan, maka penulis dapat menyimpulkan masalah yang dialami oleh Keluarga Dampingan Anak Agung Istri

Tujuan dalam perancangan bentuk bangunan ini yaitu menghasilkan bentuk bangunan yang sesuai dengan identitas arsitektur hijau. Pengolahan bentuk bangunan mengambil

Latar belakang masalah penelitian ini adalah adanya hambatan terhadap kegiatan mengajar mata diklat sistem transmisi pada mata pelajaran sistem transmisi otomatis karena (1)

project-based learning, problem-based learning, dan discovery learning telah direkomendasikan oleh kurikulum 2013 sebagai strategi efektif dalam pembelajaran

Pendayagunaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SD Swasta Lembah Jaya efektif dalam pembiayaan mutu pendidikan, hal ini juga sesuai dengan program pembiayaan yang

Aktivitas laporan keuangan IAI Wilayah DKI Jakarta dibagi atas penerimaan dan pengeluaran tidak terikat meliputi Keanggotaan, Pendidikan Profesi Berkelanjutan (PPL),

mimbar dan memberi denda kepada mereka.Kemudian beliau naik ke mimbar lagi dan berpidato, kemudian bertanya, „Apakah kalian telah rida?‟Jawab mereka, „Ya‟.(HR.