BAB IV
EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK
DISKRIPSI DAN RELEVANSI
Evaluasi kebijakan dalam perspektif alur proses/siklus kebijakan publik, menempati
posisi terakhir setelah implementasi kebijakan, sehingga sudah sewajarnya jika kebijakan
publik yang telah dibuat dan dilaksanakan lalu dievaluasi. Dari evaluasi akan diketahui
keberhasilan atau kegagalan sebuah kebijakan, sehingga secara normatif akan diperoleh
rekomendasi apakah kebijakan dapat dilanjutkan; atau perlu perbaikan sebelum dilanjutkan,
atau bahkan harus dihentikan. Evaluasi juga menilai keterkaitan antara teori (kebijakan)
dengan prakteknya (implementasi) dalam bentuk dampak kebijakan, apakah dampak
tersebut sesuai dengan yang diperkirakan atau tidak. Dari hasil evaluasi pula kita dapat
menilai apakah sebuah kebijakan/program memberikan manfaat atau tidak bagi masyarakat
yang dituju. Secara normatif fungsi evaluasi sangat dibutuhkan sebagai bentuk
pertanggung-jawaban publik, terlebih di masa masyarakat yang makin kritis menilai kinerja pemerintah.
Bab ini akan mengkaji tujuan, manfaat, jenis-jenis evaluasi, sampai metode analisis
evaluasi kebijakan. Mempelajari Bab ini mau tak mau akan bersinggungan dengan teori-teori
dari disiplin ilmu organisasi dan manajemen (fungsi pengawasan/ pengendalian),
Manajemen Sumberdaya Manusia, Ilmu politik, Kebijakan Publik, dll.
TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa mampu membedakan antara analisis kebijakan, analisis implementasi
2. Mahasiswa mampu memahami tujuan dan nilai-nilai evaluasi yang berbeda dengan
pengawasan
3. Mahasiswa mampu memahami dan membedakan macam evaluasi sesuai siklus
kebijakan
4. Mahasiswa mampu merancang dan melakukan evaluasi kebijakan
PENGANTAR ISI BAB
Kita mungkin sebenarnya tidak tahu pasti kapan evaluasi kebijakan itu dilakukan. Kita
tahu bilamana Presiden harus menyampaikan laporan pertanggung-jawaban di depan DPR
dan publik, bilamana Kepala Daerah melakukan hal yang sama di hadapan DPRD; bilamana
para wakil rakyat memanggil eksekutif dalam dengar pendapat dan meminta tanggapan.
Namun segala formalitas tersebut hanyalah pertanggung-jawaban politis, bukan
pertanggung-jawaban keseluruhan atas sebuah kebijakan. Kita mungkin dapat mengamati
adanya pengawasan yang dilakukan oleh BPKP, BPK, Irjen, dlsb; lalu apakah hal itu
merupakan sebuah bentuk evaluasi atau monitoring atas implementasi kebijakan?
Lalu apa, kapan, bagaimana oleh siapa evaluasi kebijakan itu dilakukan? Apakah
evaluasi kebijakan itu menilai isi/proses kebijakannya (yang dibuat bersama para wakil
rakyat; lalu siapa yang mengevaluasi wakil rakyat?), atau menilai hasil implementasinya saja
(lantas apa bedanya dengan analisis implementasi yang juga mengkaji berhasil-tidaknya
implementasi mencapai tujuan kebijakan?), apa beda antara analisis implementasi dengan
analisis evaluasi, apa manfaat keduanya? Berikut ini bersama-sama kita akan
mempelajarinya.
Analisis kebijakan publik telah berkembang jauh sebelum minat pada studi
implementasi muncul, bahkan analisis studi evaluasi telah lahir terlebih dahulu. Jika studi
kebijakan publik dianalogikan sebagai induknya, maka studi implementasi adalah anak
bungsu yang lahir setelah studi evaluasi (meski dalam urutan siklus kebijakan tidak akan ada
evaluasi jika implementasi tidak dilakukan), lantas apa bedanya, apakah hanya lokusnya atau
fokusnya ? Untuk menjawab hal tersebut terlebih dulu kita lihat ruang lingkup studi/ analisis
kebijakan publik yang menjadi induk studi implementasi dan studi evaluasi.
Analisis kebijakan publik (policy analysis) adalah kajian multi disiplin terhadap
kebijakan publik yang bertujuan untuk mengintegrasikan dan mengkontektualsasikan model
dan riset dari disiplin – disiplin tersebut yang mengandung orientasi problem dan kebijakan
(Parsons, xii). Atau yang menurut Wildavsky (1979) : analisis kebijakan publik adalah
subbidang terapan yang isinya tak dapat ditentukan berdasarkan disiplin yang terbatas, tapi
dengan segala sesuatu yang tampaknya sesuai dengan situasi dari masa dan hakekat dari
persoalannya.
Analisis kebijakan publik menurut Harold Laswell dalam buku Parsons tersebut
adalah analisis yang :
Multi method
Multi disciplinary
Berfokus pada problem
Berkaitan dengan pemetaan konstektualitas problem kebijakan, opsi kebijakan, dan
hasil kebijakan
Bertujuan untuk mengintegrasikan pengetahuan ke dalam suatu disipilin yang
Dari yang dinyatakan oleh Lasswell di atas, tampaknya lingkup analisis kebijakan
publik lebih berfokus pada persoalan proses pembuatan kebijakannya, yakni dari tahap
pendefinisian masalah, agenda setting, formulasi kebijakan sampai legalisasi kebijakan.
Sedang Parsons menyatakan ada 2 kategori luas analisis dalam studi kebijakan publik yakni :
1. Analisis Proses Kebijakan yakni analisis bagaimana mendefinisikan proses kebijakan,
dimulai dari mendefinisikan problem sampai pada implementasi dan
pengevaluasiannya.
2. Analisis dalam dan untuk proses kebijakan, yakni kajian yang menggunakan teknik
analisis, riset, dan advokasi dalam pendefinisian problem sampai implementasinya.
Atau dengan kata lain, kategori pertama menganalisis untuk tujuan deskripsi dan
eksplanasi proses kebijakan, sedang yang kedua analisis untuk tujuan penilaian secara
analitis terhadap proses kebijakan (dan jika memugkinkan bersifat presriptif bagi
kasus yang di riset).
Dari rumusan Parsons di atas, maka analisis implementasi dan analisis evaluasi
adalah bagian dari analisis kebijakan publik, hanya pada satu tahap proses dan kedalaman
analisis yang berbeda tentunya. Meski demikian pada umumnya yang dipahami sebagai
analisis kebijakan adalah yang lebih berfokus pada proses pembuatan kebijakan,
sebagaimana yang dikatakan oleh Lasswell. Sedang analisis implementasi dan analisis
evaluasi memiliki focus berbeda sesuai namanya, kendati juga tetap merupakan analisis yang
multi disiplin.
Jika seseorang ingin mengkaji mengapa kebijakan ‘X’ tidak mencapai hasil yang
diinginkan, maka kajian apakah yang harus ia lakukan ? Kajian implementasi atau kajian
evaluasi ? Bukankah daur hidup sebuah kebijakan tidak bisa ditentukan, kapan ia dianggap
studi evaluasi saat kita mengkaji hasil suatu kebijakan yang sedang diimplementasikan ?
Untuk menjawab pertranyaan tersebut, kita lihat berikut ini.
Menurut rumusan Sabatier dan Mazmanian, melakukan studi implementasi berarti
berusaha memahami apa yang senyatanya terjadi setelah suatu program diberlakukan, yakni
peristiwa dan kegiatan dalam usaha untuk mengadministrasikannya dan usaha – usaha
untuk memberikan dampak tertentu pada masyarakat. Dari rumusan itu, maka lingkup studi
implementasi adalah seluruh kegiatan dan peristiwa yang terjadi setelah suatu kebijakan
diberlakukan.
Analisis dalam studi implementasi misalnya tidak mempertanyakan apakah sebuah
kebijakan yang gagal dalam pengimplementasiannya adalah sebuah kebijakan yang
benar-benar tepat untuk mencapai tujuan yang didinginkan (ini adalah pertanyaan evaluatif), studi
implementasi mempertanyakan apakah terjadi kesalahan atau kekurangan dalam proses
pengimplementasian dan apa sebabnya. Memang pada studi implementasi juga dapat
timbul pertanyaan evaluatif: “Apakah program – program tindakan yang dipilih telah sesuai
dengan tujuan tersebut ? atau apakah keputusan – keputusan yang dibuat untuk
mengimplementasikan kebijakan sudah tepat ? tapi pertanyaan tersebut tidak lepas dari
koridor penyusunan program –program tindakan sebagai hasil penafsiran implementor atas
sebuah kebijakan.
Antara analisis studi evaluasi dan analisis studi implementasi memang sering terjadi
overlap, karena keduanya bisa berangkat dari permasalahan yang sama: “Mengapa
kebijakan “X” tidak mencapai hasil yang diinginkan ?”, namun menjaga batas antara
keduanya adalah penting, studi implementasi hanya berkaitan dengan pertanyaan
perubahan sebagaimana yang dimaksudkan oleh kebijakan tersebut. Lebih jelasnya dapat
dilihat pada pendapat Jenkins berikut ini:
‘Studi implementasi adalah studi perubahan : bagaimana perubahan itu terjadi, bagaimana kemungkinan perubahan bisa dimunculkan. Juga merupakan studi tentang mikrostruktur dari kehidupan politik: bagaimana organisasi di dalam dan di luar system politik menjalankan fungsi mereka dan berinteraksi satu sama lain: apa memotivasi tindakan – tindakan mereka dan apa motivasi lain yang mungkin membuat mereka bertindak secara berbeda (Jenkins, 1978, p.200).
Sementara tujuan dan lingkup analisis (riset) evaluasi menurut Carol H. Weiss
(1972, p.4) adalah :
“To measure the effects of a program against the goals it set out to accomplish as a means of contributing to subsequent decision making about the program and improving future programming. The effect emphasizes the outcomes of the program, rather than its efficiecy, honesty, morale, or adherence to rule or standars. The comparison of effects with goals stresses the use of explicit criteria for judging how well the program is doing”.
Weis secara tegas menyatakan bahwa tujuan analisis evaluasi lebih pada pengukuran
efek dan dampak sebuah program/kebijakan pada masyarakat, dibanding pengukuran atas
efisiensi, kejujuran pelaksanaan, dan lain-lain yang terkait dengan standar-standar
pelaksanaan. Tujuan kebijakan itu sendiri adalah untuk menghasilkan dampak/perubahan,
sehingga wajar jika untuk itulah evaluasi dilakukan. Adapun yang membedakan antara
analisis studi implementasi dengan analisis studi evaluasi dapat kita lihat yang dinyatakan
oleh Parsons :” … evaluation eximines ‘how public policy and the people who deliver it may
be appraised, audited, valued and controlled” while the stud y of implementation is about
“how policy is put into action and practice” (1995, p. 461).
Meskipun dilakukan secara sistematis, namun ada beberapa hal yang membedakan
1. Evaluasi ditujukan untuk pembuatan keputusan, untuk menganalisis problem
sebagaimana yang didefinisikan oleh pembuat keputusan, bukan oleh periset,
sebab si pembuat keputusanlah yang berkentingan terhadap hasil evaluasi.
2. Evaluasi adalah riset yang dilakukan dalam setting kebijakan, bukan dalam
setting akademik, karenanya pertanyaan-pertanyaan evaluasi diarahkan oleh
program. Peneliti tidak membangun asumsi dan hipotesisnya sendiri
sebagaimana pada studi-studi lain.
3. Evaluasi memberikan penilaian atas pencapaian tujuan, bukan mengevaluasi
tujuan
Atau dari pernyataan Browne & Wildavsky : “Evaluators are able to tell us a lot
about what happened – which objectives, whose objectives, were achieved – and a little
about why – the causal connections (Hill & Hupe, 12), yang merupakan wilayah analisis
implementasi. Karena meski tujuan dan dampak saling berinteraksi namun dampak tidak
dapat dinilai melalui seperangkat tujuan yang dirumuskan secara tegas.
Michael Hill & Peter Hupe memperjelas perbedaan lingkup studi implementasi dan
studi evaluasi dalam table sebagai berikut :
Tabel IV.1 : Implementing and Evaluation Research
Object Research Act
Implementation Process/ Behaviours Discription
Outputs Explanation
Outcomes Theory building and Testing
Causal connections Analytical judgement
Evaluation Outcomes-value link Value judgement
IV.2. TUJUAN DAN FUNGSI EVALUASI
1. TUJUAN EVALUASI
a. Mengukur efek suatu program/kebijakan pada kehidupan masyarakat dengan
membandingkan kondisi antara sebelum dan sesudah adanya program
tersebut. Mengukur efek menunjuk pada perlunya metodologi penelitian.
Sedang membandingkan efek dengan tujuan mengharuskan penggunaan
kriteria untuk mengukur keberhasilan
b. Memperoleh informasi tentang kinerja implementasi kebijakan dan menilai
kesesuaian dan perubahan program dengan rencana
c. Memberikan umpan balik bagi manajemen dalam rangka perbaikan/
penyempurnaan implementasi
d. Memberikan rekomendasi pada pembuat kebijakan untuk pembuatan
keputusan lebih lanjut mengenai program di masa datang
e. Sebagai bentuk pertanggung-jawaban public/ memenuhi akuntabilitas public.
2. FUNGSI EVALUASI (William N. Dunn; Ripley)
Evaluasi kebijakan berfungsi untuk memenuhi akuntabilitas public,
karenanya sebuah kajian evaluasi harus mampu memenuhi esensi akuntabilitas
tersebut, yakni:
a. Memberikan Eksplanasi yang logis atas realitas pelaksanaan sebuah
program/kebijakan. Untuk itu dalam studi evaluasi perlu dilakukan
penelitian/kajian tentang hubungan kausal atau sebab akibat
b. Mengukur Kepatuhan, yakni mampu melihat kesesuaian antara pelaksanaan
c. Melakukan Auditing untuk melihat apakah output kebijakan sampai pada
sasaran yang dituju? Apakah ada kebocoran dan penyimpangan pada
penggunaan anggaran, apakah ada penyimpangan tujuan program, dan pada
pelaksanaan program
d. Akunting untuk melihat dan mengukur akibat sosial ekonomi dari kebijakan.
Misalnya seberapa jauh program yang dimaksud mampu meningkatkan
pendapatan masyarakat, adakah dampak yang ditimbulkan telah sesuai
dengan yang diharapkan, adakah dampak yang tak diharapkan.
IV.3.
DIMENSI EVALUASI
Secara garis besar ada dua dimensi penting yang harus diperoleh informasinya dari studi
dievaluasi dalam kebijakan public. Dimensi tersebut adalah
a. Evaluasi kinerja pencapaian tujuan Kebijakan, yakni mengevaluasi kinerja orang-orang
yang bertanggungjawab mengimplementasikan kebijakan. Darinya kita akan
memperoleh jawaban atau informasi mengenai kinerja implementasi, efektifitas dan
efisiensi, dlsb yang terkait.
b. Evaluasi kebijakan dan dampaknya, yakni mengevaluasi kebijakan itu sendiri serta
kandungan programnya. Darinya kita akan memperoleh informasi mengenai manfaat
(efek) kebijakan, dampak (outcome) kebijakan, kesesuaian kebijakan/program dengan
tujuan yang ingin dicapainya (kesesuaian antara sarana dan tujuan), dll
Menurut Palumbo dimensi kajian pada studi evaluasi mencakup keseluruhan siklus di
saat selesai diimplementasikan. Jika dikaitkan dengan kebutuhan informasi yang diperoleh
dari hasil evaluasi, maka dimensi evaluasi kebijakan meliputi hal-hal berikut :
Gambar IV.1. Dimensi Evaluasi dalam Siklus kebijakan
Sumber : Wayne Parsons (2001, h. 549) yang diadaptasi dari Palumbo.
Dari gambar tersebut dapat disimpulkan bahwa kajian dalam studi evaluasi kebijakan
meliputi dimensi-dimensi:
1. Evaluasi Proses pembuatan kebijakan atau sebelum kebijakan dilaksanakan. Pada tahap
ini menurut Palumbo diperlukan dua kali evaluasi, yakni
a. Evaluasi Desain Kebijakan, untuk menilai apakah alternative-alternatif yang dipilih
sudah merupakan alternative yang paling hemat dengan mengukur hubungan antara
biaya dengan manfaat (cost-benefit analysis), dll yang bersifat rasional dan terukur.
b. Evaluasi Legitimasi kebijakan, untuk menilai derajad penerimaan suatu kebijakan
atau program oleh masyarakat/stakeholder/kelompok sasaran yang dituju oleh
kebijakan tersebut. Metode evaluasi diperoleh melalui jajak pendapat (pooling),
survery, dll.
2. Evaluasi Formatif yang dilakukan pada saat proses implementasi kebijakan sedang
berlangsung Tujuan evaluasi formatif ini utamanya adalah untuk mengetahui seberapa
jauh sebuah program diimplementasikan dan kondisi-kondisi apa yang dapat diupayakan
untuk meningkatkan keberhasilannya. Dalam istilah manajemen, evaluasi formatif adalah
monitoring terhadap pengaplikasian kebijakan. Evaluasi Formatif banyak melibatkan
ukuran-ukuran kuantitatif sebagai pengukuran kinerja implementasi.
3. Evaluasi Sumatif yang dilakukan pada saat kebijakan telah diimplementasikan dan
memberikan dampak . Tujuan evaluasi Sumatif ini adalah untuk mengukur bagaimana
efektifitas kebijakan/program tersebut member dampak yang nyata pada problem yang
ditangani.
IV.4. EVALUASI FORMATIF
1. TUJUAN EVALUASI FORMATIF:
Evaluasi Formatif adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan program yang memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
a. Merupakan evaluasi terhadap proses
c. Menggunakan model-model dalam implementasi
d. Biasanya bersifat kuantitatif
e. Melihat dampak jangka pendek dari pelaksanaan kebijakan/ program
Tujuan evaluasi formatif ini adalah untuk melihat :
a. Sejauh mana sebuah program mencapai target populasi yang tepat
b. Apakah penyampaian pelayanannya telah sesuai dan konsisten dengan
spesifikasi program atau tidak;
c. Sumberdaya apa yang dikeluarkan dalam melaksanakan program tersebut
(Rossi & Freeman dalam Parsons, h.550).
2. JENIS EVALUASI FORMATIF
a. Evaluasi administratif : Biasanya evaluasi administrative dilakukan dalam
lingkup pemerintahan yang dikaitkan dengan aspek-aspek ketaatan financial
dan prosedur.
b. Evaluasi Yudisial : Evaluasi yang berkaitan dengan obyek-obyek hukum
c. Evaluasi Politik: Evaluasi yg dilakukan oleh lembaga-lembaga politik
3. ASPEK-ASPEK EVALUASI FORMATIF
Aspek-aspek kinerja implementasi yang dievaluasi dalam evaluasi formatif ini
adalah :
a. Effort Evaluation: Mengevaluasi kecukupan input program
b. Performance Evaluation: Mengkaji output dibandingkan dengan input program.
c. Effectiveness Evaluation: Mengkaji apakah pelaksanaannya sesuai dengan
sasaran & tujuan
e. Process Evaluation: Mengkaji metode pelaksanaan, aturan dan prosedur dalam
pelaksanaan
Sedang menurut Wiiliam N. Dun aspek-aspek kinerja kebijakan yang harus
dievaluasi adalah sebagaimana yang tampak di dalam tabel berikut ini:
Tabel IV.1. Katagori Evaluasi
Katagori Pertanyaan Ilustrasi
Efektifitas Apakah hasil yang diinginkan telah
tercapai? Unit Pelayanan
Efisiensi Seberapa banyak upaya yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan?
Cost-benefit Ratio; Manfaat bersih; Unit Biaya
Kecukupan Seberapa jauh pencapaian hasil yang diinginkan untuk
Ketepatan Apakah hasil (tujuan) yang diinginkan benar-benar berguna atau bernilai
Program public harus merata dan eisien
Sumber: William N. Dunn (1999; h 609)
IV.5. EVALUASI SUMATIF/EVALUASI DAMPAK
1. PENGERTIAN DAMPAK
a. Dampak adalah perubahan kondisi fisik maupun sosial sebagai akibat dari
b. Akibat yang dihasilkan oleh suatu intervensi program pada kelompok sasaran
(baik akibat yang diharapkan atau tidak diharapkan), dan sejauh mana akibat
tersebut mampu menimbulkan pola perilaku baru pada kelompok sasaran
(impact)
c. Akibat yang dihasilkan oleh suatu intervensi program pada kelompok sasaran,
baik yang sesuai dengan yang diharapkan ataupun tidak dan apakah akibat
tersebut tidak mampu menimbulkan perilaku baru pada kelompok sasaran
(effects)
2. TUJUAN EVALUASI SUMATIF/DAMPAK
Evaluasi sumatif umumnya dilakukan untuk memperoleh informasi terkait dengan
efektifitas sebuah kebijakan/program terhadap permasalahan yang diintervensi.
Evaluasi ini bertujuan untuk:
a. Menilai apakah program telah membawa dampak yang diinginkan terhadap
individu, rumah tangga dan lembaga
b. Menilai apakah dampak tersebut berkaitan dengan intervensi program
c. Mengeksplore apakah ada akibat yang tidak diperkirakan baik yang positif
maupun yang negatif
d. Mengkaji bagaimana program mempengaruhi kelompok sasaran, dan apakah
perbaikan kondisi kelompok sasaran betul-betul disebabkan oleh adanya
program tersebut ataukah karena faktor lain.
3. DIMENSI DAMPAK
a. Dampak pada masalah publik (pada kelompok sasaran) yang diharapkan atau
tidak.
b. Dampak pada kelompok di luar sasaran sering disebut eksternalitas / dampak
melimpah (spillover effects)
c. Dampak sekarang dan dampak yang akan datang.
d. Dampak biaya langsung yang dikeluarkan untuk membiayai program dan
dampak biaya tak langsung yang dikeluarkan publik akibat suatu kebijakan
(misalnya dampak terhadap pengeluaran rumah-tangga akibat relokasi
pemukiman yang menyebabkan jarak ke sekolah/tempatkerja makin jauh, dlsb).
4. APRRAISAL DIMENSI DAMPAK
Menurut Langbein (1980) memperkirakan dampak perlu memperhitungkan
dimensi-dimensi sebagai berikut:
a. Waktu. Dimensi waktu ini penting diperhitungkan karena kebijakan dapat
memberikan dampak yang panjang, baik sekarang maupun pada masa yang
akan datang. Semakin lama periode evaluasi waktu semakin sulit mengukur
dampak, sebab :
1) Hubungan kausalitas antara program dengan kebijakan semakin kabur,
2) Pengaruh factor-faktor lain yang harus dijelaskan juga semakin banyak,
3) jika efek terhadap individu dipelajari terlalu lama maka akan kesulitan
menjaga track record individu dalam waktu yg sama.
4) Semakin terlambat sebuah evaluasi dilakukan akan semakin sulit mencari
data dan menganalisis pengaruh program yang diamati.
Selain memperhatikan efektifitas pencapain tujuan, seorang evaluator harus
pula memperhatikan
1) Berbagai dampak yang tak diinginkan,
2) Dampak yang hanya sebagian saja dari yang diharapkan dan
3) Dampak yang bertentangan dari yang diharapkan
c. Tingkat Agregasi Dampak
Dampak juga bersifat agregatif artinya bahwa dampak yang dirasakan secara
individual akan dapat merembes pada perubahan di masyarakat secara
keseluruhan
d. Tipe Dampak
Ada 4 tipe utama dampak program :
1) Dampak pada kehidupan ekonomi : penghasilan, nilai tambah dsb
2) Dampak pada proses pembuatan kebijakan: apa yg akan dilakukan pada
kebijakan berikutnya
3) Dampak pada sikap publik : dukungan pada pemerintah, pada program dsb
4) Dampak pada kualitas kehidupan individu, kelompok dan masyarakat yg
bersifat non ekonomis.
5. UNIT-UNIT SOSIAL TERDAMPAK
Sebuah kebijakan/program dapat membawa dampak pada berbagai unit sosial
b. Dampak individual : biologis (penyakit, cacat fisik dsb karena kebijakan
teknologi nuklir misalnya), psikologis (stress, depresi, emosi dsb), lingkungan
hidup (tergusur, pindah rumah dsb), ekonomis (naik turunnya penghasilan,
c. Dampak organisasional : langsung (terganggu atau terbantunya pencapaian
tujuan organisasi), tak langsung (peningkatan semangat kerja, disiplin)
d. Dampak pada masyarakat (meningkatnya kesejahteraan; dlsb)
e. Dampak pada lembaga dan sistem sosial (meningkatnya kesadaran kolektif
masyarakat; menguatnya solidaritas sosial, dlsb)
6. FAKTOR-FAKTOR KEGAGALAN DAMPAK
Sebuah kebijakan/program bisa saja gagal memperoleh dampak yang diharapkan
meski proses implementasi berhasil mewujudkan output sebagaimana yang
dituntut oleh program tersebut, namun ternyata gagal mencapai outcomesnya;
apalagi jika proses implementasi gagal mewujudkan keduanya. Hal ini menurut
Anderson bisa saja disebabkan karena :
1) Sumber daya yang tidak memadai
2) Cara implementasi yang tidak tepat (misalkan pilihan-pilihan tindakan yang
kontra produktif seperti studi banding atau membeli mobil bagi pejabat yang
memakan banyak biaya dengan tujuan meningkatkan kapasitas layanan)
3) Masalah publik sering disebabkan banyak faktor tetapi kebijakan yang dibuat
hanya mengatasi satu faktor saja
4) Cara menanggapi kebijakan yang justru dapat mengurangi dampak yang
diinginkan (misalkan karena takut dianggap melanggar prosedur, maka
implementers bertindak sesuai ‘textbook’ walau situasinya mungkin berbeda)
5) Tujuan-tujuan kebijakan tak sebanding bahkan bertentangan satu sama lain
(misalnya kebijakan untuk menumbuhkan industry dalam negeri yang
memberi insentif pajak dan kemudahan modal; tapi di sisi lain ada kebijakan
6) Biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar dari masalahnya (yang ini sering
terjadi di Indonesia, terutama karena seringnya terjadi mark-up harga,
ataupun karena bentuk-bentuk kegiatan yang terkesan dicari-cari untuk
penyerapan anggaran yang seharusnya tidak dibutuhkan.
7) Banyak masalah publik yang tak mungkin dapat diselesaikan
8) Timbulnya masalah baru sehingga mendorong pengalihan perhatian dan
tindakan
9) Sifat dari masalah yang akan dipecahkan (Anderson, 1996)
IV.6. STUDI EVALUASI KEBIJAKAN
Evaluasi program atau kebijakan tidak dapat dilakukan hanya melalui kajian
teoritik atau hanya melalui data-data sekunder, sebab jika hal tersebut yang dilakukan,
maka penilaian dan rekomendasi yang dihasilkan tidak valid karena hanya berdasarkan
perkiraan saja. Untuk dapat disebut sebagai sebuah Studi/kajian, maka Evaluasi
kebijakan harus memenuhi hal-hal berikut ini.
6.1. KARAKTERISTIK PENELITIAN EVALUASI
a. Evaluasi harus empirik tidak spekulatif hipotetik atau asumtif teoritik
b. Tidak bias pada satu alternatif atau dampak tertentu
c. Rasional, harus sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan dihadapan pakar
d. Kajian harus dilakukan dari berbagai aspek
e. Handal dan sahih baik dalam analisis, ketersediaan data dan reliabilitas
6.2. TEKNIS PENELITIAN EVALUASI
Penelitian evaluasi kebijakan bukanlah hal yang dapat dipandang sepele karena
dari hasil penelitian tersebut diharapkan diperoleh masukan/umpan balik dan
penilaian-penilaian yang akurat atas sebuah kinerja kebijakan/program, serta
hasilnya dapat dipertanggung-jawabkan. Untuk itu Leonard Rutman memberikan
panduan yang perlu diperhatikan sbb:
a. Sebelum pelaksanaan :
1) Gunakan prosedur-prosedur ilmiah
a) Mengamati dan memahami tujuan evaluasi
b) Mengamati dan memilih kriteria
c) Mengamati sensitivitas metode
2) Focus pada proses dan outcomes kebijakan/program, bukan hanya pada
outcomesnya saja. Dengan demikian dapat diperoleh informasi mengenai
aktifitas-aktifitas apa menghasilkan apa; serta memungkinkan upaya
replikasi di kemudian hari.
3) Jangan batasi dampak hanya pada sasaran-sasaran yang dinyatakan secara
formal saja, sebab tidak semua sasaran kebijakan dinyatakan secara
formal. Konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi akibat
program/kebijakan juga dipertimbangkan. Untuk itu manfaatkan hasil
penelitian yang terkait, gunakan logika, atau pengalaman-pengalaman
atas program yang serupa.
4) Pertimbangkan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pembuat
keputusan di masa mendatang, bukan hanya kebutuhan saat ini.
b. Persiapan sebelum menguji Program:
1) Definisi Program Secara Jelas.
Harus dipastikan bahwa label yang diberikan pada sebuah program
memiliki makna dan maksud yang sama bagi semua yang terlibat,
sehingga jelas data mana yang harus diukur (definisi konsep harus jelas,
sehingga definisi operasionalnya juga jelas dan dapat direplikasikan).
2) Spesifikasi Sasaran/goals.
Karena sasaran-sasaran merupakan criteria keberhasilan program, maka
harus dinyatakan secara spesifik agar dapat diperoleh tolok ukurnya.
Sayangnya seringkali tujuan/sasaran tersebut hanya disebutkan secara
umum, jangka panjang, bahkan kadang kontradiksi dan tidak terkait
dengan aktifitas-aktifitas program. Jika hal ini terjadi, maka peneliti
bertanggung-jawab untuk merumuskannya secara bersama-sama dengan
perencana program dan manajer program1.
3) Keterkaitan Rasional.
Harus ada keterkaitan rasional antara program yang akan dievaluasi
dengan sasaran yang dituju dan dampak yang diharapkan. Ada tidaknya
kaitan rasional tersebut, dapat menentukan apakah program tersebut
yang harus dimodifikasi atau sasaran dan hasil yang harus dirubah (misal
Program Pelatihan Angkatan Kerja dengan sasaran jangka panjang
berkurangnya angka pengangguran. Akan lebih masuk akal jika dikaitkan
dengan sasaran jangka pendek : pencapaian tenaga kerja berketrampilan.
4) Pastikan Kegunaan Evaluasi. Kendati studi evaluasi dimaksudkan sebagai
akuntabilitas program, serta untuk memberikan informasi yang terkait
dengan pelaksanaan dan hasil program kepada pembuat keputusan dan
manajemen, namun seringkali studi evaluasi dilakukan dengan
maksud-maksud tertentu, yang disebut oleh Edward Suchman sebagai
Pseudoevaluations2. Karenanya evaluator juga harus mengetahui siapa
yang menghendaki dan mendanai studi evaluasi tersebut untuk mencegah
timbulnya ketegangan dengan administrator program.
5) Spesifikasikan Variabel-variabel Evaluasi
a) Spesifikasikan komponen-komponen program, dengan memperjelas
terdiri dari komponen-komponen aktifitas apa saja program tersebut
(misalnya PKK dengan 10 Program PKKnya). Gunanya adalah sebagai
Component testing untuk menguji sumbangan keefektifan
masing-masing komponen terhadap program.
b)Spesifikasikan sasaran-sasaran dan efeknya. Bukan hanya yang
dinyatakan secara formal dalam dokumen atau oleh pengelola
program, namun juga sasaran-sasaran latent dan dampak-dampak lain
yang diharapkan oleh masyarakat (misal kasus program Bantuan
Langsung Tunai BLT yang ditujukan untuk meringankan beban
masyarakat miskin akibat kenaikan harga BBM, dapat ditanggapi
beragam – missal: apa criteria ‘miskin’ dan apa criteria ‘meringankan’
yang dimaksudkan oleh program tsb? Karena jawabannya dapat
beragam, demikian juga dampaknya).
6) Spesifikasikan Variabel-variabel antesedennya. Anteseden variable
adalah factor-faktor konteks yang dapat mempengaruhi jalannya program
(misalnya karakteristik target kebijakan; sifat dasar permasalahan
sehingga memerlukan intervensi kebijakn, dll).
7) Spesifikasikan variable-variabel Interveningnya dengan menanyakan :
”setelah program dijalankan, factor-faktor apakah yang dapat mendukung
atau menghambat pencapaian sasaran program?
8) Measurement : setelah mengetahui apa saja yang harus diukur, maka
langkah selanjutnya adalah memilih tehnik pengukuran yang tepat untuk
menilai. Untuk itu perlu : a). ketepatan indicator (tolok ukur) yang
digunakan; b). Reliabilitas alat ukur (hasil yang diberikan konsisten meski
dilakukan dalam situasi yang berbeda) dan c). Validitas alat ukur
(ketepatan alat ukur dalam mengukur fenomena).
c. Kriteria yang harus dipenuhi dalam evaluasi :
1) Relevansi : harus mampu memberikan informasi yang tepat pada
pembuat dan pelaku kebijakan, mampu menjawab secara benar
pertanyaan dalam waktu yang tepat
2) Signifikan : harus mampu memberikan informasi yang baru dan penting.
Antecedent
3) Validitas : mampu memberikan pertimbangan yang tepat sesuai dengan
hasil nyata/data empiric mengenai hasil kebijakan.
4) Reliabilitas : dapat membuktikan bahwa hasilnya diperoleh dengan
penelitian yang teliti
5) Obyektif : tidak memihak /bias
6) Tepat waktu
7) Daya guna : hasil penelitian dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh
pelaku dan pembuat kebijakan
6.3. METODA DAN MODEL-MODEL STUDI EVALUASI
Beragam methoda dan model-model evaluasi program yang dapat digunakan
untuk mengukur kinerja implementasi Program/kebijakan. Untuk pemahaman
yang lebih baik dan lebih dalam (sebab buku ini hanya untuk memberikan
informasi dasar saja), salah satu buku yang dianjurkan dan patut dipelajari adalah
buku “Measuring Performance in Public and Nonprofit Organizations” karya
6.4. PROBLEM DALAM STUDI EVALUASI
1. Ketidakpastian dan ketidakjelasan tujuan kebijakan
2. Evaluasi tidak dilakukan dengan sistematis, sehingga kesulitan menguji
kausalitas bahwa dampak memang disebabkan oleh kebijakan tersebut
3. Dampak kebijakan biasanya menyebar di luar sasaran kebijakan
4. Kesulitan dalam memperoleh data primer
5. Data sekunder yang tersedia seringkali kurang valid
6. Resistensi pejabat/penanggung-jawab program yang merasa diawasi
7. Evaluasi cenderung kurang melihat dampak (kurang valid), tapi lebih suka
6.5. EVALUASI KEBIJAKAN DI INDONESIA)*
1. Sering tidak sungguh-sungguh karena evaluatornya dari Pemerintah sendiri.
2. Hasil evaluasi tidak konklusif, membahas banyak persoalan tetapi tanpa arah
yang jelas, sehingga tak ada rekomendasi yang argumentatif
3. Bersifat formalitas dari pada berdasarkan kebutuhan riel. Karena dilakukan
secara rutin maka hasilnya kurang tajam. Hanya untuk memenuhi formalitas,
membaca data dan memasukkannya dalam form-form tertentu. (*lihat juga
catatan kaki no 2 tentang pseudoevaluation).
IV.7. PERTANYAAN-PERTANYAAN DALAM STUDI EVALUASI
1. MENURUT SOFIAN EFFENDI Tujuan dari evaluasi kebijakan public adalah untuk
mengetahui variasi dalam indicator-indikator kinerja yang digunakan untuk
menjawab tiga pertanyaan pokok (lihat, Nugroho, h.284),:
a. Bagaimana kinerja implementasi kebijakan, sejauh mana variasi kesesuaian
capaian kebijakan (output dan outcomes yang dihasilkan dari proses
implementasi) dengan indicator-indikator yang telah ditetapkan.
b. Faktor-faktor apa yang menyebabkan variasi tersebut? Apakah karena factor
yang terkait dengan isi program/kebijakan itu sendiri, apakah karena cara
kerja dalam pengorganisasian implementasi kebijakan (output yang terkait
dengan kinerja implementers); atau karena lingkungan implementasi
kebijakan yang mempengaruhi variasi outcomes tersebut.
c. Bagaimana strategi untuk lebih meningkatkan kinerja implementasi
kebijakan? Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah tugas pengevaluasi
2. MENURUT RANDALL B. RIPLEY
Untuk mengukur capaian riel sebuah program/kebijakan, maka dari hasil kajian
evaluasi harus diperoleh jawaban-jawaban atas persoalan berikut ini:
a. Kelompok dan kepetingan mana yg memiliki akses dalam pembuatan
kebijakan?
b. Apakah pembuatan kebijakan dilakukan secara cukup rinci, terbuka dan
memenuhi prosedur?
c. Apakah program-program kebijakan didesain secara logis ?
d. Apakah sumber daya yg menjadi input program telah memadai untuk
mencapai tujuan ?
e. Apa standar implementai yang baik bagi kebijakan tsb ?
f. Apakah program dilaksanakan sesuai standar efisiensi ekonomi? Apakah uang
digunakan dengan tepat dan jujur?
g. Apakah kelompok sasaran memperoleh pelayanan seperti yg didesain dalam
program ?
h. Apakah program juga memberikan dampak pada kelompok non sasaran? Apa
jenis dampaknya ?
i. Apa dampak yg diharapkan dan tak diharapakan pada masyarakat ?
j. Kapan tindakan program dilaksanakan dan dampaknya diterima oleh
masyarakat ?
IV.8. IMPLIKASI HASIL EVALUASI TERHADAP PROGRAM/KEBIJAKAN
Hasil kajian evaluasi atas sebuah program/kebijakan akan berimplikasi pada
keberlangsungan program/kebijakan termaksud, yang menurut Weis (dalam Shafritz
and Hyde, 1987) adalah sebagai berikut:
a. Meneruskan atau mengakhiri program
b. Memperbaiki praktek & prosedur administrasinya
c. Menambah atau mengurangi strategi dan tehnik implementasi
d. Melembagakan program ke tempat lain
e. Mengalokasikan sumber daya ke program lain
f. Menolak atau menerima pendekatan/teori yang digunakan oleh Program/
kebijakan sebagai asumsi
KESIMPULAN
Secara teoritik siklus terakhir dalam proses kebijakan adalah evaluasi, yang bertujuan
memberikan informasi mengenai kinerja Program/kebijakan setelah diimplementasikan.
Evaluasi sangatlah penting sebagai bentuk akuntabilitas public pemerintah atas kinerjanya.
Namun melakukan evaluasi atas sebuah program/kebijakan yang dapat memberikan
masukan bagi pemerintah/pembuat keputusan dengan hasil yang dapat
dipertanggung-jawabkan tidaklah mudah. Sebagian karena kesulitan yang bersifat instrinctive (karena sifat
dampak yang berdimensi luas dan dapat menyebar), juga karena beragam kebijakan juga
menuntut beragam metode pengukuran yang sesuai; serta karena kurangnya usaha yang
serius untuk itu. Untuk menghasilkan studi evaluasi yang benar-benar berguna, maka
memahami criteria evaluasi yang harus dipenuhi, memahami metoda penelitian evaluasi,
TUGAS UNTUK MAHASISWA
1. Tunjukkan perbedaan obyek analisis dalam lingkup studi implementasi dan lingkup studi
evaluasi, dengan mengambil sebuah contoh kebijakan/program yang sedang
dilaksanakan di sekitar anda.
2. Dari contoh kasus kebijakan/program yang sama, buatlah rencana penelitian evaluasinya
dengan memperimbangkan apa saja yang menjadi:
a. Definisikan Program secara jelas (dengan melihat terdiri dari apa saja
komponen-komponen Program tersebut
b. Spesifikasikan sasaran-sasaran tujuan/goals program, dampaknya serta yang
menjadi unit-unit sosial terdampaknya.
c. Buatlah kerangka keterkaitan rasional antara tujuan/sasaran dengan aktifitas
program dengan mengidentifikasikan apa saja yang dapat menjadi variable
anteseden dan variable intervening.
d. Susunlah indicator yang reliable (andal) dan valid (terpercaya) bagi masing
masing variable tersebut.
SENARAI
Evaluasi Proses kebijakan Evaluasi Formatif Evaluasi Sumatif
Dampak kebijakan Impak Kebijakan Efek kebijakan
Effort Evaluation Performance Evaluation Process Evaluation
Effectiveness Evaluaition Dimensi Waktu Dampak Agregasi Dampak
Unit Sosial terdampak Faktor Kegagalan Dampak Peusedoevaluation
DAFTAR PUSTAKA
1. Anderson, James E; Public Policy Making, Reinhart and Wiston, New York; 1970.
2. Dolbeare, Kenneth M. (ed); Public Policy Evaluation; Sage Yearbooks in Politics and Public Policy; 1975.
3. Dunn, William N. Public Policy Analysis – An Introduction; Pearson education; New jersey; 1981.
4. Dye, Thomas R. Understanding Public Policy, Prentice Hall Inc, New Jersey, 1978. 5. Hill, Michael & Peter Hupe, Implementing Public Policy: Governance in Theory and
Practice, Sage Publication, London, 2002.
6. Kingdon, John W, Agendas, Alternative and Public Poilicies Little Brown & Company, Totonto: 1984.
7. Meltsner, Arnold J. Policy analysis in the Bureaucracy, University of California Press, 1986.
8. Meyer, Robert R & Ernest Greenwood; Rancangan Penelitian Kebijakan Sosial; CV. Rajawali, Jakarta, 1984.
9. Nugroho, Riant Public Policy, Elekmedia Komputindo, Jakarta; 2008 10. Parsons, Wayne : Public Policy: Prenada Media, Jakarta, 2005.
11. Poister, Theodore H.; Measuring Performance in Public and Nonprofit Organizations;
john Wiley & Sons; San Fransisco, 2003.
12. Ripley Randall B.; Policy Analysis in Political Science, Nelson Hall, Chicago, 198. 13. Rossi, Peter H. & Walter Williams (eds); Evaluating Social Programs – Theory;
Practice, and Politics; Seminar Press; New York; 1972
14. Rutman, Leonard (ed.), Evaluation Research Methods- a basic Guide; Sage Publication, London, 1977
15. Weis, Carol H. Evaluation Research : Methods for Assesing Program Effectiveness,