KONTROL SOSIAL MASYARAKAT TERHADAP SEKS BEBAS
SEBAGAI GAYA HIDUP REMAJ A
Studi Kasus : Siswi Sekolah Menengah Atas (SMA), Kota Binjai
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial
Disusun Oleh OKTA DEDI RAHMAD
0 8 0 9 0 1 0 1 2
DEPARTEMEN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK
Munculnya fenomena perilaku menyimpang remaja khususnya perilaku seks bebas dikalangan remaja Kota Binjai membuat peneliti ingin mengetahui bagaimana kontrol sosial masyarakat yang ada di Kota Binjai melihat fenomena seks bebas yang semakin banyak terjadi dan faktor apa saja yang membuat kalangan remaja melakukan seks bebas itu sendiri secara mendalam sehingga hasil dari lapangan yang dilakukan oleh peneliti dapat meberikan informasi kepada pembaca mengapa perilaku seks bebas itu dapat terjadi dan bagaimana kontrol masyarakat Kota Binjai terhadap perilaku seks bebas di kalangan remaja.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dimana peneliti ingin melihat langsung bagaimana kontrol sosial masyarakat terhadap seks bebas sebagai gaya hidup remaja dengan menggunakan informan sebanyak 8 orang yaitu 5 orang diantaranya informan kunci dan 3 orang informan tambahan. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan data skunder.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar disimpulkan bahwa faktor-faktor yang melatar belakangi remaja melakukan perilaku menyimpang adalah keingintahuan remaja yang sangat besar akan hal-hal yang baru diketahui dan ditemukan dalam pergaulan, lingkungan yang mendukung artinya kurangnya kontrol dari masyarakat dan ketidakperdulian masyarakat sekitar, remaja menganggap teman-teman sebaya lebih bisa menghargai dan menerima apa adanya sehingga remaja lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan teman dari pada dengan keluarganya serta terlalu cepat remaja menerima informasi dan hal-hal yang baru yang disampaikan teman sebaya tanpa dikontrol dan pengawasan orang tua.
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Skripsi yang berjudul “Kontrol Sosial Masyarakat Terhadap Seks Bebas Sebagai Gaya Hidup Remaja” (Studi Kasus : Siswi Sekolah
Menengah Atas (SMA), Kota Binjai, disusun sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Secara ringkas skripsi ini menceritakan tentang bagaimana kontrol masyarakat terhadap perilaku seks bebas yang dilakukan oleh kalangan remaja dan faktor-faktor yang menjadi pendorong remaja melakukan seks bebas.
Dalam penulisan ini penulis menyampaikan penghargaan yang tulus dan ucapan terimakasih yang mendalam kepada pihak-pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dra. Lina Sudarwati, M.Si, Selaku ketua Departemen Sosiologi dan
Drs. Muba Simanuhuruk, M.Sp., selaku Sekretaris Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang selalu memberikan masukan-masukan dalam penulisan skripsi ini,
memberikan segenap ilmu pengetahuan semasa perkuliahan, dan nasehat serta pengarahan yang telah diberikan sebagai penguji seminar proposal. 3. Rasa hormat dan terimakasih yang tidak akan dapat penulis ucapkan
dengan kata-kata kepada Ibu Dra. Lina Sudarwati, M.Si, selaku dosen pembimbing sekaligus dosen wali penulis yang telah banyak mencurahkan waktu, tenaga, ide-ide dan pemikiran dalam membimbing penulis dari awal perkuliahan hingga penyelesaian penulisan skripsi ini.
4. Segenap dosen, staff, dan seluruh pegawai Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Kak Fenni Khairifa, dan Kak Betty yang telah cukup banyak membantu penulis selama masa perkuliahan dalam hal administrasi.
penulis, Ayahanda dan Ibunda tercinta yang telah membesarkan saya dengan mencurahkan kasih sayangnya tiada terhingga dan tiada batasnya kepada saya, selalu memberikan doa’ dan nasehat, dan mendidik saya serta dukungan moril maupun materil kepada saya.
6. Secara khusus dan istimewa kepada Kakak saya Siti Muharidha, kakak satu-satunya dalam hidup saya yang selalu memberikan do’a, semangat, nasehat kepada saya dan masukan yang tidak ternilai harganya dalam penyelesaian skripsi ini.
7. Secara khusus dan istimewa penulis ucapkan salam tersayang kepada Ekawati Puji Rahayu, yang selalu mendukung saya dalam penyelesaian skripsi ini.
8. Kawan-kawan sosiologi angkatan 2008, kawan-kawan kost 46, Syahrul Payan, Derry Adrian, Arman Silalahi, Alfat Andri dan Jhon Pardamean Purba yang sudah memberikan dukungan dalam penulisan skripsi ini dan ketika bersama menuntut ilmu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
9. Kepada para informan yang ada di Kelurahan Kesatria Kota Binjai, serta pemerintahan Kecamatan Binjai Kota yang telah banyak membantu dalam memberikan informasi penelitian ini.
yang dapat penulis sampaikan, semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi para pembaca, dan akhir kata dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah membantu penulisan skripsi ini.
Medan, Agustus 2014
OKTA DEDY
DAFTAR ISI 2.1 Perilaku Menyimpang di Kalangan Remaja ... 19
2.2 Kontrol Sosial dan Peran Orang tua Terhadap Remaja ... 24
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 37
3.4.1 Data Primer ... 37
3.4.2 Data Skunder ... 38
3.5 Interpretasi Data ... 38
3.6 Jadwal Kegiatan ... 38
BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA 4.1 Deskripsi Kota Binjai ... 39
4.1.1 Letak Geografis ... 39
4.1.2 Demografi ... 40
4.1.3 Pemerintahan ... 41
4.2 Karakteristik Informan ... 42
4.2.1 Informan Kunci ... 43
4.2.2 Informan Tambahan ... 48
4.3.Kontrol Terhadap Perilaku Seks Bebas Remaja ... 53
4.4.Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Seks Bebas Pada Remaja ... 57
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 71
5.2 Saran ... 73
ABSTRAK
Munculnya fenomena perilaku menyimpang remaja khususnya perilaku seks bebas dikalangan remaja Kota Binjai membuat peneliti ingin mengetahui bagaimana kontrol sosial masyarakat yang ada di Kota Binjai melihat fenomena seks bebas yang semakin banyak terjadi dan faktor apa saja yang membuat kalangan remaja melakukan seks bebas itu sendiri secara mendalam sehingga hasil dari lapangan yang dilakukan oleh peneliti dapat meberikan informasi kepada pembaca mengapa perilaku seks bebas itu dapat terjadi dan bagaimana kontrol masyarakat Kota Binjai terhadap perilaku seks bebas di kalangan remaja.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dimana peneliti ingin melihat langsung bagaimana kontrol sosial masyarakat terhadap seks bebas sebagai gaya hidup remaja dengan menggunakan informan sebanyak 8 orang yaitu 5 orang diantaranya informan kunci dan 3 orang informan tambahan. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan data skunder.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar disimpulkan bahwa faktor-faktor yang melatar belakangi remaja melakukan perilaku menyimpang adalah keingintahuan remaja yang sangat besar akan hal-hal yang baru diketahui dan ditemukan dalam pergaulan, lingkungan yang mendukung artinya kurangnya kontrol dari masyarakat dan ketidakperdulian masyarakat sekitar, remaja menganggap teman-teman sebaya lebih bisa menghargai dan menerima apa adanya sehingga remaja lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan teman dari pada dengan keluarganya serta terlalu cepat remaja menerima informasi dan hal-hal yang baru yang disampaikan teman sebaya tanpa dikontrol dan pengawasan orang tua.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Fenomena kenakalan remaja merupakan masalah yang kompleks terjadi di berbagai kota di Indonesia. Sejalan dengan arus globalisasi dan teknologi yang semakin berkembang, arus informasi yang semakin mudah diakses serta gaya hidup modernisasi, disamping memudahkan dalam mengetahui berbagai informasi di berbagai media, di sisi lain juga membawa suatu dampak negatif yang cukup meluas di berbagai lapisan masyarakat.
Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI 2007) menunjukkan jumlah remaja di Indonesia mencapai 30 % dari jumlah penduduk, jadi sekitar 1,2 juta jiwa. Hal ini tentunya dapat menjadi asset bangsa jika remaja dapat menunjukkan potensi diri yang positif namun sebaliknya akan menjadi petaka jika remaja tersebut menunjukkan perilaku yang negatif bahkan sampai terlibat dalam kenakalan remaja.
Kondisi remaja di Indonesia saat ini dapat digambarkan sebagai berikut bedasarkan (SDKI 2007):
1. Pernikahan usia remaja
4. MMR 343/100.000 (17.000/th, 1417/bln, 47/hr perempuan meninggal) karena komplikasi kehamilan dan persalinan
5. HIV/AIDS: 1283 kasus, diperkirakan 52.000 terinfeksi, 70% remaja 6. Miras dan Narkoba.
Adapun Hasil Penelitian BNN bekerja sama dengan UI menunjukkan :
1. Jumlah penyalahguna narkoba sebesar 1,5% dari populasi atau 3,2 juta orang, terdiri dari 69% kelompok teratur pakai dan 31% kelompok
pecandu dengan proporsi laki-laki sebesar 79%, perempuan 21%.
2. Kelompok teratur pakai terdiri dari penyalahguna ganja 71%, shabu 50%, ekstasi 42% dan obat penenang 22%.
3. Kelompok pecandu terdiri dari penyalahguna ganja 75%, heroin / putaw 62%, shabu 57%, ekstasi 34% dan obat penenang 25%.
4. Penyalahguna Narkoba Dengan Suntikan (IDU) sebesar 56% (572.000 orang) dengan kisaran 515.000 sampai 630.000 orang.
5. Beban ekonomi terbesar adalah untuk pembelian / konsumsi narkoba yaitu sebesar Rp. 11,3 triliun.
6. Angka kematian (Mortality) pecandu 15.00 orang meninggal dalam 1 tahun.
Dalam pembahasan yang dilakukan Jumiatun menemukan fakta bahwa ternyata dari 327 responden yang pernah melakukan hubungan seks pranikah 3,1% lebih beresiko mengalami KTD (kehamilan tidak diinginkan). Dalam
namun komunikasi yang baik juga harus dibangun. Ada 72,2% orang tua yang kurang terbuka jika berbicara tentang seks dan reproduksi, sedangkan yang kurang mengkomunikasikan tentang kesehatan reproduksi ada sekitar 70,9%, dan ada 63,6% orang tua yang tidak pernah mendiskusikan program televisi yang di tonton oleh remaja. Sedangkan dari intensitas komunikasi yang dilakukan orang tua dan remaja, ada 85% orang tua memberi tahukan kepada remaja hal-hal apa yang tidak boleh dilakukan, 79,5% orang tua memberitahukan batasan antara lawan jenis, namun ada 62,7% orang tua kurang berperan dalm penyelesaian masalah yang dihadapi oleh remaja. Kurangnya informasi yang didapat remaja dari orang tua menjadikan remaja cenderung mencari jawaban dari media yang ada. 71,6% remaja memilih media cetak majalah sebagai sumber informasi, 68,8% memilih koran, dan 50,5% memilih tabloid (Jumiatun, 2012).
norma yang ada. Jika tidak terbimbing, mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya.Melihat banyaknya kasus-kasus yang muncul berkaitan dengan perilaku remaja, misalnya kasus narkoba, mabuk-mabukan, perjudian, tawuran, hamil pranikah, aborsi, maupun pembuangan anak hasil hubungan gelap yang dilakukan remaja, menandakan bahwa telah terjadi penyimpangan perilaku seksual dan pola pergaulan pada sebagian remaja di Indonesia. Hal ini merupakan salah satu bentuk gaya hidup yang dijalani dan menjadi pilihan bagi sebagian remaja.
Bersamaan dengan ini kita juga melihat pertumbuhan kuantitatif tempat- tempat hiburan dan pusat-pusat perbelanjaan yang semakin berkembang. Fenomena tersebut secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi budaya dan pola hidup kaum remaja sekarang. Seperti yang telah diketahui, remaja merupakan sasaran potensial bagi para produsen dalam memasarkan produknya. Remaja yang bergaya hidup konsumtif rela mengeluarkan uang hanya untuk jaga gengsi dalam pergaulan. Baik itu masalah makanan dan minuman, pakaian, juga masalah hiburan (Food, Fashion, and Fun). Hal ini merupakan perwujudan dari naluri mempertahankan diri, karena setiap orang ingin dianggap eksis dalam lingkungan pergaulannya.
identitas diri melalui ekspresi tertentu yang mencerminkan perasaan.Gaya hidup saat ini telah menghilangkan batas-batas budaya lokal, daerah, maupun nasional karena arus gelombang gaya hidup global dengan mudahnya berpindah-pindah tempat melalui perantara media massa. Gaya hidup yang berkembang lebih beragam, tidak hanya dimiliki oleh suatu masyarakat saja. Hal tersebut karena gaya hidup dapat ditularkan dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya melalui media komunikasi (Rasyid, 2005 dalam Sudarwati & Hastuti, 2007).
terikut dan terimbas hal-hal yang tengah terjadi di sekitarnya, sehingga turut membentuk sikap dan pribadi mereka.
Perubahan gaya hidup pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebagai usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut gaya hidup. (Sudarwati & Hastuti, 2007)
Masalah seksual mungkin sama panjangnya dengan perjalanan hidup manusia, karena kehidupan manusia sendiri tidak terlepas dari masalah ini. Meskipun demikian masalah seksual seakan-akan tidak pernah habis dan tuntas dibahas orang dari masa ke masa. Seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan zaman yang semakin cepat, kini siapapun termasuk para remaja tersebut bisa dengan mudah memperoleh tontonan seksual yang selama ini dilarang atau ditabukan untuk dibahas secara transparan, dan yang tadinya hanya dijelaskan dari mulut ke mulut secara bisik-bisik.
Masa remaja awal merupakan masa transisi, dimana usianya berkisar antara 13 sampai 16 tahun atau yang biasa disebut dengan usia belasan yang tidak menyenangkan, dimana terjadi juga perubahan pada dirinya baik secara fisik, psikis, maupun secara sosial (Hurlock, 1973). Pada masa transisi
menyimpang tersebut akan menjadi perilaku yang mengganggu (Ekowarni, 1993). Melihat kondisi tersebut apabila didukung oleh lingkungan yang kurang kondusif dan sifat keperibadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai penyimpangan perilaku dan perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar aturan dan norma yang ada di masyarakat yang biasanya disebut dengan kenakalan remaja.
Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan kedalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh.
diharapkan dapat mengatasi berbagai kesulitan remaja sehingga perkembangan kepribadiannya dapat berlangsung dengan baik.
Kegagalan remaja dalam melakukan tugas perkembangannya termasuk dalam menjalin hubungan dengan lingkungan sosialnya sering menimbulkan konflik-konflik internal maupun konflik yang terjadi antar individu dan kelompok yang mengarah pada munculnya perilaku menyimpang atau kenakalan remaja. Sehingga dapat dikatakan bahwa pada dasarnya perilaku menyimpang atau kenakalan yang sering muncul pada kelompok remaja sebenarnya merupakan kompensasi dari segala kekurangan dan kegagalan yang dialaminya.
Faktor-faktor negatif seperti merebaknya informasi bertema pornografi di media masa, kurangnya penanaman moral agama dan adanya pengaruh pergaulan bebas, masuknya film dan VCD biru dari luar negeri ataupun dalam negeri yang bisa dengan mudah diperoleh dimana-mana. Bagi remaja yang selama ini terkungkung pengetahuannya, dan yang pada umumnya belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya, ini adalah saat yang tepat untuk memuaskan rasa ingin tahu remaja tersebut dan beberapa penyebab remaja melakukan hubungan seks (Pangkahila, 2000).
makin banyaknya kasus-kasus hubungan seks bebas di masyarakat. Seks bebas (free sex) sendiri merupakan perilaku yang didorong oleh hasrat seksual, dimana kebebasan tersebut menjadi lebih bebas jika dibandingkan dengan sistem regulasi tradisional dan bertentangan dengan sistem norma yang berlaku dalam masyarakat. Banyaknya remaja yang melakukan seks bebas terlihat dengan jelas dalam kehidupan sehari-hari khususnya di kota-kota besar.
Kehidupan remaja dikota Binjai pada saat sekarang ini cenderung hampir kearah barat-baratan dan selalu ingin mengikuti perkembangan zaman dalam segala aspek kehidupan remaja yang saya temui dikota Binjai istilahnya “anak zaman”, seperti dalam pergaulan mereka yang lebih senang dibebaskan dalam pengendalian dari orang tua setelah mereka berusia diatas 16 tahun sehingga setiap perilaku yang menurut mereka hal tersebut itu menyenangkan tetapi memiliki dampak yang negative akan mereka lakukan dan kemudian dalam pergaulan mereka yang lebih senang dengan trend style yang update juga mempengaruhi kehidupan remaja khususnya yang berada dikota Binjai dan cenderung memaksakan keadaan dalam kehidupannya tidak mengingat apabila status mereka adalah seorang pelajar yang tugasnya untuk belajar, belum bekerja dan hanya mengandalkan uang dari orang tuanya tetapi hal itu masih mungkin bias diikuti oleh kalangan remaja yang memiliki kedua orang tua dengan perekonomian yang lumayan tapi apabila untuk beberapa kalangan yang ingin dengan trend style yang update maka mereka akan berusaha untuk memnuhi keinginannya dengan jalan apapun teta[pi sesuai dengan kemampuan untuk bekerja yang sangat terbatas atau pun bahkan tidak memiliki kemampuan bekerja sama sekali.
menghasilkan uang dengan proses mudah tetapi tidak menyita waktu belajar sehingga orang tua tidak curiga. Khususnya bagi remaja putri yang melacurkan diri kehidupannya sudah sangat trend dikalangan remaja putri di Ksota Binjai atau istilahnya untuk “Betubang atau Betemong” yang artinya menjual diri(melacurkan diri) kepada om-om atau pria hidung belang untuk menghasilkan uang. Nongkrong di tempat-tempat karaokean,ktv,diskotik dan di salon kecantikan biasa mereka lakukan untuk menjajakan dirinya kepada pria hidung belang, karena hampir remaja yang “melacur” tidak ingin terlalu mencolok jika ingin bergaul ditempat-tempat yang hampir semua kalangan bias masuk untuk bergaul sehingga mereka memilih tempat-tempat seperti itu.
1.2. Per umusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana kontrol sosial masyarakat terhadap seks bebas sebagai gaya hidup remaja?
2. Faktor-faktor apa yang menyebabkan remaja melakukan seks bebas?
1.3. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui bagaimana kontrol sosial masyarakat terhadap seks bebas sebagai gaya hidup remaja?
2. Untuk menganalisis faktor-faktor apa yang menyebabkan remaja melakukan seks bebas?
1.4. Manfaat Penelitian
Setiap penelitian diharapkan mampu memberikan manfaat baik untuk diri sendiri ataupun orang lain, terlebih lagi untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Adapun manfaat yang diharapkan dan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
tentang Pengembangan Masyarakat, Sosiologi Perkotaan, Sosiologi Keluarga serta kajian Norma dan Nilai Sosial.
2. Manfaat praktis, diharapkan penelitian ini dapat
meningkatkankemampuan penulis dalam membuat suatu karya ilmiah dan dapat menjadi bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya, serta diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada pemerintah untuk mengatasi masalah seks bebas dikalangan remaja.
1.5. Definisi Konsep
Dalam penelitian ilmiah, disamping berfungsi untuk memfokuskan dan mempermudah suatau penelitian, konsep juga berfungsi sebagai panduan yang nantinya digunakan peneliti untuk menindak lanjuti sebuah kasus yang di teliti dan menghindari terjadinya kekacauan akibat kesalahan penafsiran dalam sebuah penelitian. Adapun konsep yang digunakan sesuai dengan konteks penelitian ini, antara lain adalah :
1. Tr end
Trend adalah sesuatu yang sedang di bicarakan oleh banyak orang saat ini dan kejadiannya berdasarkan fakta. Istilah “trend” dalam
2. Melacur atau Pelacur an
Pelacuran atau melacur adalah penjualan jasa seksual, seperti seks oral atau hubungan seks, untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK). Dalam pengertian yang lebih luas, seseorang yang menjual jasanya untuk hal yang dianggap tak berharga juga disebut melacurkan dirinya sendiri, misalnya seorang musisi yang bertalenta tinggi namun lebih banyak memainkan lagu-lagu komersil.
Di Indonesia pelacur sebagai pelaku pelacuran sering disebut sebagai sundal atau sundel. Ini menunjukkan bahwa prilaku perempuan sundal itu sangat begitu buruk hina dan menjadi musuh masyarakat, mereka kerap digunduli bila tertangkap aparat penegak ketertiban. Pekerjaan melacur sudah dikenal di masyarakat sejak berabad lampau ini terbukti dengan banyaknya catatan seputar mereka dari masa kemasa.
3. Penyimpangan
bagian daripada makhluk sosial. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.
4. Gaya Hidup
Gaya hidup didefinisikan sebagai cara hidup yang diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia di sekitarnya (pendapat) .
Gaya hidup hanyalah salah satu cara mengelompokkan konsumen secara psikografis. Gaya hidup pada prinsipnya adalah bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uangnya. Ada orang yang senang mencari hiburan bersama kawan-kawannya, ada yang senang menyendiri, ada yang bepergian bersama keluarga, berbelanja, melakukan kativitas yang dinamis, dan ada pula yang memiliki dan waktu luang dan uang berlebih untuk kegiatan sosial-keagamaan. Gaya hidup dapat mempengaruhi perilaku seseorang, dan akhirnya menentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang .
5. Seks Bebas
seks ataupun sensasi seks untuk mengatasi kejenuhan. Seks bebas sangat tidak layak dilakukan mengingat resiko yang sangat besar. Pada remaja biasanya akan mengalami kehamilan diluar nikah yang memicu terjadinya aborsi. Ingat aborsi itu sangatlah berbahaya dan beresiko kemandulan bahkan kematian. Selain itu tentu saja para pelaku seks bebas sangat beresiko terinfeksi virus HIV yang menyebabkan AIDS, ataupun penyakit menular seksual lainnya.
BAB II KAJ IAN PUSTAKA
2.1 Per ilaku Menyimpang di Kalangan Remaja
merampok, menjambret, memakai narkoba, menjadi pelacur, tawuran dan lainlain (Kamanto Sunarto 2006:78).
Perilaku menyimpang dalam defenisi umum tersebut dapat dibedakan dari abnormalitas statis. Ada kesepakatan bahwa perilaku menyimpang tidak berarti menyimpang dari norma-norma tertentu. Konsep perilaku menyimpang ini juga perlu dibedakan dari perilaku yang kurang diinginkan dan dari peranan yang menyimpang. Karena tidak semua tingkah laku yang tidak diinginkan menyimpang dari aturan-aturan normatif, dan dilain pihak dan belum tentu perilaku menyimpang dari aturan normatif itu tidak diinginkan.
Deviasi tingkah laku ini juga merupakan gejala yang menyimpang dari tendensi sentral atau menyimpang dari ciri-ciri umum rakyat kebanyakan.
Deviasi merupakan penyimpangan terhadap kaidah atau norma-norma dan nilai-nilai dalam masyarakat. Kaidah timbul dalam masyarakat karena diperlukan sebagai pengatur hubungan antara seseorang dengan orang lain atau antara seseorang dengan masyarakatnya. Diadakannya kaidah serta peraturan di dalam masyarakat bertujuan supaya ada konformitas warga masyarakat terhadap nilai- nilai yang berlaku di dalam masyarakat yang bersangkutan (Soerjono Soekanto, 1990:237).
Di Indonesia, secara umum penyimpangan perilaku pada remaja diartikan sebagai kenakalan remaja atau juvenile delinquency. Penyimpangan perilaku remaja ini mempunyai sebab yang majemuk, sehingga sifatnya mulai kasual. Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal (Kartono, 1998).
terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Kenakalan remaja merupakan salah satu bentuk penyimpangan yang dilakukan remaja karena tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan, dan norma sosial yang berlaku. Bentuk-bentuk kenakalan remaja antara lain : bolos sekolah, merokok, berkelahi, tawuran, menonton film porno, minum minuman keras, seks diluar nikah, menyalahgunakan narkotika, mencuri, memperkosa, berjudi, membunuh, kebut-kebutan dan banyak lagi yang lain.
Beberapa hal yang mempengaruhi timbulnya kenakalan remaja antara lain (Bagong Narwoko, 2007: 94-96) :
1. Pengaruh teman sebaya
2. Faktor keluarga
Faktor keluarga sangat berpengaruh terhadap timbulnya kenakalan remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orangtua terhadap aktivitas anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orang tua dapat menjadi pemicu timbulnya kenakalan remaja. Pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya kenakalan remaja.
Perselisihan dalam keluarga atau stress yang dialami keluarga juga berhubungan dengan kenakalan. Pola pengasuhan anak juga berpengaruh besar, anak yang nakal kebanyakan berasal dari keluarga yang menganut pola menolak karena mereka selalu curiga terhadap orang lain dan menentang kekuasaan.
3. Media Massa
penyulut perilaku agresif remaja, dan menyebabkan terjadinya pergeseran moral pergaulan, serta meningkatkan terjadinya berbagai pelanggaran norma susila.
2.2 Kontr ol Sosial dan Per an Or ang tua Ter hadap Remaja
Kontrol sosial merupakan lembaga sosial yang berbeparan melakukan pengendalian perilaku anggota masyarakat agar kehidupan sosial tetap dalam keadaan konform (Elly, 2011: 256). Berdasarkan hal tersebut bentuk perilaku menyimpang yang dilakukan remaja merupakan bukti lemahnya kontrol sosial dari institusi-institusi pendukung perkembangan perilaku remaja tersbut.
Norma atau nilai itu dijadikan bagian dari kepribadiannya. Maka, kita dapat menyaksikan tindak-tanduk orang suku tertentu yang berbeda dari suku lainnya dan di dalam suku tertentu itu pun pola perilaku orang yang berasal dari kelas sosial atas berbeda dari yang kelas sosial bawah. Demikian pula agama dan pendidikan bisa mempengaruhi kelakuan seseorang. Semua itu pada hakikatnya ditimbulkan oleh norma dan nilai yang berlaku dalam keluarga, yang diturunkan melalui pendidikan dan pengasuhan orang tua terhadap anak-anak mereka secara turun-temurun. Tidak mengherankan jika nilai-nilai yang dianut oleh orang tua akhirnya juga dianut oleh remaja. Tidak mengherankan kalau ada pendapat bahwa segala sifat negatif yang ada pada anak sebenarnya ada pula pada orang tuanya (Jumiatun,2012).
Dalam beberapa penelitian dijelaskan bahwa kondisi keluarga sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik dan mental seorang remaja. Dalam hal itu ditemukan bahwa kebanyakan remaja yang terlibat ternyata adalah anak dari korban perceraian orang tua dimana anak merasa tidak membutuhkan orang tua dalam menjalani hidup, dan menurutnya siapa yang dapat memberinya ketenangan adalah lebih pentig dibanding sosok orang tua. Tanpa adanya fungsi kontrol dari peran orang tua menjadikan pengaruh dari teman sepermainan maupun pacarnya yang kurang baik akan dengan mudah untuk diterima tanpa harus ada yang melarang dimana ini menjadi fungsi dari orang tua.
bahwa teman sebagai tempat curhat dan bercerita tentang pengalawan antara teman yang satu dengan yang lainnya. Tidak jarang seorang teman mempengaruhi temannya yang lain untuk melakukan hal yang diperbuatnya dengan pacarnya dimana dalam hal ini hubungan sex pra nikah. Sedikit banyaknya teman tempatnya bercerita akan terpengaruh dan dan timbul keinginan untuk juga mencobanya. Di pahami dan disadari atau tidak, namun kondisi ini memang ada menurut beberapa literatur dan hasil penelitian yang banyak dilakukan bahwa pengaruh dari teman dan ceritanya sangat mempengaruhi perilaku sex pra nikah yang dilakukan para remaja.
Semua kondisi tidak kondusif bagi pembentukan kepribadian remaja di atas, apabila terjadi maka yang pertama menjadi korban adalah anak-anaknya terutama dalam usia remaja, di mana sosok figur panutan masih dibutuhkan dalam kerangka pembentukan identitasnya (Soerjono Soekanto, 2004:70). Jadi, sebab- sebab perilaku yang menyimpang pada remaja ini tidak hanya terletak pada lingkungan famili, tetapi juga disebabkan oleh konteks kulturalnya.
2.3 Nor ma Sosial
anggota masyarakat pada umumnya. Dalam setiap masyarakat, norma sosial biasanya terpusat pada kegiatan seharihari yang bermakna bagi anggota- anggotanya. Norma sosial yang terpusat itu dinamakan pranata sosial, contohnya keluarga.
Keluarga merupakan konkritisasi dari sejumlah norma sosial yang mengatur hubungan antar jenis, hubungan orang tua dengan anak, sosialisasi dalam keluarga, mengatur dan mengarahkan hubungan sehari-hari meskipun dalam keluarga ada kekhususan normatif dimana berhubungan dengan pribadi- pribadi dalam keluarga tersebut. Akan tetapi dapat juga diketemukan-aspek umum dalam kehidupan berkeluarga dan aspek umum ini erat hubungannya dengan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Jadi dapat disimpulkan bahwa norma sosial adalah patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat tertentu yang memungkinkan seseorang untuk menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakannya itu akan dinilai oleh orang lain dan norma ini merupakan kriteria bagi orang lain untuk mendukung atau menolak perilaku seseorang.
Pada dasarnya norma itu muncul mempertahankan atau memelihara nilainilai yang berlaku dalam masyarakat, karena nilai itu adalah gambaran mengenai apa yang baik, yang diinginkan, yang pantas, yang berharga yang mempengaruhi perilaku sosial dari orang yang memiliki nilai itu. Untuk menjaga itu, maka disusunlah suatu norma yang mampu memelihara nilai-nilai tersebut. Apabila perilaku atau tindakan yang terjadi dalam masyarakat tidak sesuai dengan normanorma masyarakat tersebut, maka ia dikatakan menyimpang.
Dalam hal ini perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dibedakan atas empat macam yaitu:
1. Perilaku menyimpang yang dilihat dan dianggap sebagai kejahatan.
2. Penyimpangan seksual dalam arti perilaku yang lain dari biasanya.
3. Bentuk-bentuk konsumsi yang berlebihan, misalnya alkohol.
4. Gaya hidup yang lain dari yang lain.
Akan tetapi penyimpangan apapun yang terjadi haruslah selalu dilihat dari segi dimana dalam suatu masyarakat tertentu telah digariskan terlebih dahulu apa yang normal terhadap masyarakat itu. Dasarnya adalah bahwa penyimpangan itu tidak selalu sama untuk setiap masyarakat.
hasil kesepakatan di dalam kehidupan masyarakat yang antara masyarakat yang satu dan masyarakat lainnya terdapat karakter sosiokultural yang berbeda-beda. Inilah yang mengakibatkan timbulnya perbedaan konsep nilai-nilai dan norma sosial yang berlaku di masing-masing kelompok. Kehidupan masyarakat yang baik adalah kehidupan masyarakat yang memilki komitmen nilai-nilai dan norma- norma sebagai patokan untuk menjadi manusia-manusia yang beradab. Konsep tentang sesuatu yang baik beserta pedoman untuk mencapai konsep tersebut yang bermoral adalah manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai ideal beserta kepatuhan akan norma-norma sebagai pedoman untuk mencapai kehidupan ideal tersebut. Oleh karena itu, jika terjadi perubahan, maka yang terpenting adalah arti dan tujuan dari perubahan itulah yang terpenting. Perubahan yang baik adalah perubahan yang direncanakan dengan seperangkat tujuan yang jelas, yaitu pembangunan.
Beberapa hal yang merusak atau mengganggu proses asimilasi remaja dengan keluarganya sehingga remaja mencari kenyamanan bergaul di luar keluarga adalah (Soerjono Soekanto, 2004:70) :
1. Tidak ada saling pengertian mengenal dasar-dasar kehidupan bersama.
2. Terjadinya konflik mengenai otonomi, di mana satu pihak orang tua ingin agar anaknya dapat mandiri, di lain pihak keluarga mengekangnya.
4. Pengendalian dan pengawasan orang tua yang berlebihan.
5. Ketiadaan rasa saling menolong dan kebersamaam dalam keluarga.
6. Adanya masalah dalam hubungan antara ayah dan ibu.
7. Jumlah anak yang banyak yang kurang mendapatkan kasih sayang orang tua
8. Campur tangan pihak luar keluarga.
9. Kedudukan sosial ekonomi yang berada di bawah standard.
10.Pekerjaan orang tua yang tidak seimbang, seperti jabatan ibu yang lebih tinggi dari ayah.
11.Aspirasi orang tua yang tidak disesuaikan dengan kenyataan yang terjadi.
12.Konsepsi peranan keluarga yang menyimpang dari kenyataan.
13.Timbulnya favoritismedi kalangan anggota keluarga, yang ini akan menimbulkan perhatian yang kurang adil merata dan seimbang di antara anggota keluarga.
2.4 Gaya Hidup di Per kotaan
Menurut Bagong Suyanto (2004), salah satu kelompok yang rentan untuk ikut terbawa arus perubahan jaman adalah para remaja. Karena remaja memiliki karakteristik tersendiri yang unik yakni labil, sedang pada taraf mencari identitas, mengalami masa transisi dari remaja menuju status dewasa, dan sebagainya. Secara sosiologis, remaja umumnya amat rentan terhadap pengaruh-pengaruh eksternal. Karena proses pencarian jati diri, mereka mudah sekali terombang- ambing, dan masih merasa sulit menentukan tokoh panutannya. Mereka juga mudah terpengaruh oleh gaya hidup masyarakat di sekitarnya. Karena kondisi kejiwaan yang labil, remaja mudah terpengaruh dan labil. Mereka cenderung mengambil jalan pintas dan tidak mau memikirkan dampak negatifnya. Di berbagai komunitas dan kota besar yang metropolitan, tidak heran jika hura-hura, seks bebas, menghisap ganja dan zat adiktif lainnya cenderung mudah menggoda para remaja (Bagong Suyanto, 2004).
banyak diketahui macam gaya hidup yang berkembang di masyarakat sekarang misalnya :
1. Gaya Hidup Hedonis
Gaya hidup hedonis adalah suatu pola hidup yang aktivitasnya untuk mencari kesenangan hidup, seperti lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, lebih banyak bermain, senang pada keramaian kota, senang membeli barang yang disenanginya, serta selalu ingin menjadi pusat perhatian.
2. Gaya Hidup Instan
dengan jalan paling cepat, tepat namun dengan hasil optimum. Itulah sebabnya manusia berlomba menciptakan “mesin pemercepat proses” untuk menghemat waktu, biaya, daya, dan tujuan kemudahan. Sebagai contoh, mesin kalkulator, telepon genggam, computer dan lainnya. Kemudahan-kemudahan yang diusung alat-alat teknologi ini mempengaruhi perilaku, pola hidup, pandangan, falsafah hidup, tidak saja para remaja tetapi juga anak-anak, bahkan mungkin sebagian besar orang tua. Hal ini terlihat dari perubahan perilaku masyarakat yang ingin mendapatkan sesuatu dengan mudah tanpa menghiraukan, apakah cara yang di tempuh wajar atau tidak.
3. Gaya Hidup Per misif
sebelumnya mereka tidak mengganggu orang yang peduli dengan ketidak peduliannya. Akibatnya nilai luhur terkikis dan dosa berkembang dengan cepat.
4. Gaya Hidup Bebas
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. J enis Penelitian
Dalam mengumpulkan data lapangan, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Dengan menggunakan penelitian kualitatif peneliti akan memperoleh informasi atau data yang lebih mendalam mengenai Kontrol sosial masyarakat terhadap seks bebas sebagai gaya hidup remaja. Penelitian kualitatif digunakan untuk melihat individu secara utuh serta berusaha untuk menggambarkan fenomena yang terjadi.
3.2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di kota Binjai. Adapun yang menjadi alasan pemilihan lokasi tersebut, karena peneliti ingin mengetahui bagaimana kontrol masyarakat terhadap perilaku seks bebas yang dilakukan oleh pelajar SMA di kota Binjai. Lokasi penelitian juga merupakan tempat yang dekat dengan tempat penelitian berdomisili sehingga memudahkan dalam mengakses data yang diperlukan.
3.3. Unit Analisis dan Infor man 3.3.1. Unit Analisis
Adapun yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah: 1. Kontrol sosial masyarakat
2. Siswi Pelajar SMA Kota Binjai 3. Gaya hidup remaja
4. Peran Orang tua dalam mengawasi anak 5. Peran institusi pendidikan
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyimpangan seks bebas
3.3.2. Infor nan
1. Remaja usia Sekolah Menengah Atas. 2. Orang Tua.
Informan Tambahan
1. Pelajar Sekolah Menengah Atas. 2. Guru
3. Masyarakat
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
3.4.1. Data Pr imer
Untuk mendapatkan data primer dalam penelitian ini akan dilakukan dengan cara:
1. Observasi
Metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan. (Bungin,2007:115).
2. Wawancara
Bentuk wawancara yang dilakukan adalah wawancara mendalam (dept interview) mengadakan tanya jawab secara langsung dan ditambah dengan menggunakan instrumen berupa pedoman wawancara (interview guide) agar menjadi terarah. Wawancara dilakukan untuk mengetahui Bagaimana Kontrol sosial masyarakat terhadap seks bebas sebagai gaya hidup remaja.
3.4.2. Data Sekunder
Pengumpulan data dapat diambil dengan cara penelitian kepustaka dan pencatatan dokumen dari beberapa literatur seperti buku-buku referensi, surat kabar, majalah, karya ilmiah, jurnal dan mengakses internet yang berkaitan langsung dengan masalah penelitian serta dapat dianggap relevan dengan masalah yang diteliti. Oleh karena itu, sumber data skunder diharapkan berperan membantu, mengungkap data yang diharapkan, membantu memberi keterangan sebagai pelengkap dan bahan perbandingan. (Bungin, 2001: 129)
3.5. Inter pr etasi Data
2002:137) Sehingga pada akhirnya dapat memahami dan menemukan jawaban dari penelitian tersebut.
3.6. J adwal Kegiatan
Bulan Ke -
No. Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 Pra Observasi √
2 ACC Judul √
3 Penyusunan Proposal Penelitian √ √ √
4 Seminar Proposal √
5 Revisi Proposal √
6 Penelitian Ke Lapangan √ √ √
7 Pengumpulan dan Analisis Data √ √ √
8 Bimbingan Skripsi √ √ √ √
9 Penulisan Laporan Akhir √ √ √ √
BAB IV
DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA
4.1 Deskr ipsi Kota Binjai 4.1.1 Letak Geogr afis
Letak geografis Binjai 03°03'40" - 03°40'02" LU dan 98°27'03" - 98°39'32" BT. Ketinggian rata-rata adalah 28 meter di atas permukaan laut. Sebenarnya, Binjai hanya berjarak 8 km dari Medan bila dihitung dari perbatasan di antara kedua wilayah yang dipisahkan oleh Kabupaten Deli Serdang. Jalan Raya Medan Binjai yang panjangnya 22 km, 9 km pertama berada di dalam wilayah Kota Medan, Km 10 sampai Km 17 berada dalam wilayah Kabupaten Deli Serdang dan mulai Km 17 adalah berada dalam wilayah Kota Binjai.
Ada 2 sungai yang membelah Kota Binjai yaitu Sungai
Bingai dan Mencirim yang menyuplai kebutuhan sumber air bersih bagi PDAM Tirta Sari Binjai untuk kemudian disalurkan untuk kebutuhan penduduk kota. Namun di pinggiran kota, masih banyak penduduk yang menggantungkan kebutuhan air mereka kepada air sumur yang memang masih layak dikonsumsi.
• Utara: Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deli Serdang
• Selatan :Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deli Serdang
• Barat: Kabupaten Langkat
• Timur: Kabupaten Deli Serdang
Lima kilometer terakhir Jalan Raya Medan Binjai yang panjangnya 22 kilometer berada di dalam kawasan Kota Binjai, dengan 9 kilometer pertama di kawasan Kota Medan, dan Kilometer 10 - 17 di Kabupaten Deli Serdang. Sebenarnya, Binjai hanya berjarak 8 kilometer dari Medan, jika dihitung dari sempadan di antara kedua-dua wilayah yang dipisahkan oleh Kabupaten Deli Serdang.
Terdapat dua batang sungai yang menyebelahkan Kota Binjai, iaitu Sungai Bingai dan Sungai Mencirim yang membekalkan air bersih kepada PDAM Tirta Sari Binjai untuk disalurkan kemudian kepada penduduk-penduduk kota. Namun di pinggiran kota, masih terdapat banyak penduduk yang bergantung kepada air perigi untuk keperluan air mereka.
4.1.2 Demogr afi
tenaga kerja berdaya produktif sekitar 160,000 orang. Banyak juga penduduk Binjai yang bekerja di Medan disebabkan jarak yang agak dekat.
Agama-agama yang diamalkan di Binjai termasuk:
1. Islam: dipeluk oleh kebanyakan kaum Jawa dan Melayu, dengan masjid terbesar terletak di Jalan Kapten Machmud Ismail.
2. Kristian: dipeluk sebahagian besar oleh kaum Batak Karo.
3. Buddhisme: dipeluk oleh kebanyakan kaum Tionghoa yang tinggal di Binjai Kota dan Binjai Barat.
4. Hinduisme: dipeluk terutamanya oleh kaum India, dengan sebuah kuil yang terletak di Jalan Ahmad Yani.
4.1.3 Pemer intahan
Kota Binjai terbahagi kepada lima buah kecamatan yang dibahagikan lagi menjadi 37 buah kelurahan dan desa. Kelima-lima buah kecamatan tersebut ialah:
1. Binjai Kota 2. Binjai Utara 3. Binjai Selatan 4. Binjai Barat 5. Binjai Timur.
2010 s/d 2015. Pejabat Walikota terletak di Balai Kota yang beralamat di Jalan Jenderal Sudirman No. 6, Binjai.
Kota Binjai dahulu merupakan ibu pejabat Polis Langkat yang menguruskan kawasan Kota Binjai dan Kabupaten Langkat. Pada tahun 2001, ibu pejabat Langkat ditempatkan semula di Stabat, ibukota Kabupaten Langkat, dan pejabatnya diambil alih oleh Kota Binjai untuk dijadikan ibu pejabat Kota Binjai (Polresta Binjai).
Tepat di hadapan Pejabat Walikota terletak Lapangan Merdeka dan Pendopo Umar Baki di Jalan Veteran. Lapangan Merdeka merupakan dataran kota sedangkan Pendopo Umar Baki merupakan dewan serba guna untuk mengadakan majelis-majelis, baik resmi maupun tidak.
4.2 Kar akter istik Infor man
4.2.1 Infor man Kunci
Nama : Putri Hardianti
Usia : 16 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Pendidikan terakhir : siswa menengah pertama
Status pendidikan : pelajar
Remaja puteri yang bernama asli Putri Hardianti bertempat tinggal di jalan Tamtama Kelurahan Kesatria kota Binjai, dia bersekolah di salah satu sekolah menengah atas(SMA) Negeri di kota Binjai memiliki ciri-ciri kulit putih, rambut ikal panjang dan bertubuh agak kecil. Putri memiliki hobi “nongkrong” dan makan ini biasa duduk-duduk di salah satu coffe shop yang ada di kota Binja “Koktong” bersama teman-temannya.
Nama : Adinda Syafitri
Usia : 16 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Pendidikan terakhir : sekolah menengah pertama
Status pendidikan : pelajar
Adinda syafitri adalah seorang remaja puteri berusia 16 tahun yang betempat tinggal di jalan Tamtama kelurahan Kesatria kota Binjai, dia bersekolah di salah satu sekolah menengah atas(SMA) Negeri di kota Binjai. Remaja puteri yang biasa dipanggil dinda ini merupakan anak ke-3 dari 3 bersaudara, dinda memiliki ciri-ciri rambut panjang,berkulit putih,hidung jambu dan bertubuh tinggi.
Lingkungan dapat berpengaruh karena lingkungan yang baik anak-anak yang tinggal dilingkungan itu akan baik juga tetapi apabila linkungannya sendiri buruk anak yang tinggal akan berperilaku menyimpang juga. Iya dapat, karena diawali pacaran para remaja ingin mencari tau hal-hal yang dialami dalam pacaran yang dialami oleh teman mainnya yang sebelum sudah berpacaran. Dibenarkan, karena para remaja juga ingin tahu lawan jenisnya dalam masa sekolah
Nama : Rika Ray
Usia : 16 tahun
Jenis kelamin : permpuan
Pendidikan terakhir : sekolah mengah pertama
Status pendidikan : pelajar
Berhubungan badan dan berbeda-beda pasangan Salah pergaulan, berteman dengan teman yang sudah sering melakukan seks bebas Pernikahan dini,hamil muda yang berujung malu, Ya,apalagi teman kita bergaul sudah melakukan seks berganti-ganti pasangan, pasti kita terpengaruh Kalangan tuna susila atau wanita bayaran Tidak ada, pengaruh inilah yang membuat pelaku seks bebas merajarela dikehidupan kita. Orang tua dapat menasehati,mengajarkan dan mengenalkan lingkungan yang sehat dan meningkatkan agama anak
Dapat,pergaulan bebas didasari besarnya dari pacaran yang berlebihnya rasa cinta yang membuat saling memiliki,sudah melakukan hubungan seks terus putus kemudian akhirnya sering melakukan hubungan seks dengan orang lain
dengan pasangan yang berbeda. Menyekolahkan anaknya ke
Nama : Melisa Daliyani
Usia : 17 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Pendidikan terakhir : sekolah menengah pertama
Status pendidikan : pelajar
Melisa daliyani merupakan seorang remaja puteri yang baru saja berusia 17 tahun dan bertempat tinggal di jalan Perintis Kemerdekaan (Kebun Lada). Dia memiliki kulit berwarna kulit sawo matang, berambut pendek, dan bertubuh agak berisi. Melisa Daliyani baru saja menyelesaikan ujian akhir nasional(UAN) dan sekarang kegiatannya hanyaikut bimbingan tes dan ikut kursus-kursus komputer dan bahasa inggris. Remaja puteri yang memiliki hobi berbelanja ini merupakan anak pertama dari 2 bersaudara, kemudian dia juga memiliki hobi “nongkrong” bersama teman-temannya di salah satu coffe shop yang ada di kota Binjai Koktong, Es Teler 77 dan karoke di Binjai Super Mall.
agama kepada anaknya sehingga anaknya takut kepada Tuhan untuk melakukan dosa. Ya dapat karena seks bebas diawali dengan bebasnya para remaja bergaul tanpa memilih teman-temanya mana yang memberikan pengaruh baik kepada dirinya. Dengan memperketat pergaulan anak seperti mengawasi anak-anak kita dengan siapa bergaul. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap penyimpangan seks bebas karena jika ada pembiaran oleh masyarakat setempat maka banyak orang yang melakukan seks bebas
4.2.2 Infor man Tambahan
Nama : Dedi Eka Yudi
Usia : 42 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Berhubungan badan tanpa status pernikahan dan berganti-ganti pasangan. Pergaulan yang terlalu mengikuti zaman seperti kebarat-baratan dapat merusak rumah tangga apbila berumah tangga dan tidak dapat membangun rumah tangga yang baik dan harmonis tentunya dapat berindikasi sebab perilaku sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang ada disekitar. “ ibarat kata kita bergaul dengan pencuri maka kita akan terikut untuk mencuri,kalau kita bergaul dengan tukang ngaji maka kita kan pandai mengaji”. saya rasa hukumannya akan ditanggung nya sendiri nanti dengan tuhannya. orang tua punya peran penting dalam membentuk sikap anaknya sebab anak mencontoh apa yang dia lihat dikeluarganya, kebanyakan pergaulan bebas akan melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan aturan, bisa jadi melakukan seks bebas yang bermula dari pacaran dan melakukan hubungan suami istri tanpa adanya ikatan.
Menurut beliau dengan mengontrol penuh setiap kegiatan anaknya dapat mengatasi tindakan menyimpang pada remaja, memberikan motivasi baik terhadap anak, mengajarkan anak tentang nilai-nilai kebaikan sangat berpengaruh. Mungkin awalnya dari pacaran, terus tanpa kontrol keluarga dan dipengaruhi lingkungan bisa saja dari pacaran mengarah kepada seks bebas. Sudah banyak contohnya. Ya boleh saja asal tidak melanggar aturan yang ada.
bila ketahuan membawa lawan jenisnya kekamar kostn langsung saja dilaporkan kepada orangtuanya karena anaknya merupakan tanggung jawab dari orangtua.
Nama : Sukaryawati
Usia : 48 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Ibu sukaryawati adalah seorang ibu rumah tangga yang berusia 48 tahun dengan ciri-ciri memakai jilbab,berkulit putih dengan ada tahi lalat didekat dagunya dan bertubuh adak gemuk. Ibu sukaryawati biasa dipanggil bu wati ini bertempat tinggal di jalan Prajurit kelurahan Kesatria kota Binjai.
tidak bagus manfaatnya bagi remaja tersebut, seharusnya remaja itu banyak belajar ke agaman sebagai bekal dia kelak untuk masa depannya supaya kehidupannya bermanfaat kepada kedua orangtuanya.
Nama : Sri Wardani
Usia : 48 Tahun
Jenis kelamin : perempuan
Ibu wardani adalah seorang ibu rumah tangga berusia 48 tahun yang memiliki ciri-ciri berkulit putih,memakai jilbab dan bertubuh agak tinggi besar. Ibu wardani bertempat tinggal di jalan Tamtama kelurahan kota Binjai. Keseharian ibu wardani adalah mengurus ketiga orang anak-anaknya yang berjumlah 3 orang, anak bu wardani terdiri dari 2 orang puteri dan seorang putera. Anak pertama bu wardani duduk dibangku sekolah menengah atas (SMA) dan baru saja selesai menyelesaikan ujian akhir nasional (UAN) dan ujian akhir sekolah (UAS), sedangkan anak kedua dari ibu wardani masih duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP) Negeri kelas 2 dan anak ketiganya juga baru mau masuk sekolah menengah pertama(SMP).
salah bergaul, jadinya ya gak ada aturan lagi anak anak muda yang baru besar itulah, biarlah itu keluarga dan tuhannya yang menghukum, nanti kalau awak yang menghukum bisa-bisa kekantor polisi. Orang tua seharusnya lebih aktif alam mengontrol pertumbuhan anaknya.
Iya seperti saya bilang tadi tu lah,karna salah bergaul jadi menyimpang tindakannya,Memberikan arti akan bahaya seks bebas,orang tua mengetahui kemana anaknya agar terus terkontrol, namanya masih muda, jiwa nya labil. Sangat berpengaruh. Kalau saya boleh-boleh saja asal sesuai dengan koridornya.
4.3. Kontr ol Sosial Or angtua Ter hadap Per ilaku Seks Bebas Remaja
“Bagi saya hal yang perlu dilakukan bila ada anak-anak remaja yang melakukan tindakan yang tidak benar seperti pacaran dan berdua-dua dijalanan pasti saya tegur meskipun itu bukan anak saya apalagi mereka pacaran dilingkungan tempat saya tinggal, itu kan bisa menggangu orang lain yang sedang beristirahat”
Wawancara dengan informan 19 Juli 2014
Dari penuturan beliau, dapat digambarkan bahwa remaja yang melakukan penyimpangan bermula dari teman sepermainan yang berbeda jenis kelaminnya, dimana bermula dari pacaran dan berdua-duaan dimalam hari tanpa memperdulikan lingkungan sekitar, tidak hanya itu saja remaja-remaja yang berasal dari luar daerah yang menetap di Kota Binjai dan menempati rumah kostkost juga tidak terlepas dari perilaku seks bebas.
Banyaknya fenomena rumah-rumah kost yang bebas dimasuki remaja wanita dan pria dan remaja putri yang sudah mulai menjadi simpanan hidung belang di kota Binjai mengindikasi apabila mulai terjadi perilaku seks bebas oleh remaja-remaja kota Binjai. Hal tersebut dipertegas oleh pernyataan informan Pak Dedi Eka Yudi berikut, yaitu:
“Sekarang tempat kost-kost sudah menjadi tempat dimana remaja- remaja melampiaskan hasrat seksnya terhadap lawan jenisnya, meskipun pemilik kost sudah memberikan peringatan terhadap anak kost agar tidak membawa teman lelaki atau perempuan tanpa sepengetahuan pemilik kost tetap saja remaja-remaja tersebut membawanya masuk kedalam kost dengan cara diam-diam”
Dokumentasi Salah satu kos-kosan yang bebas membawa masuk lawan jenis kedalam kamar di Jalan Tamtama, Binjai.
“berpisah” tempat tinggal dengan orang tua, sehingga pengawasannya kurang. Perlu pengawasan ketat terhadap anak yang tinggal berpisah dari orangtua, seperti pernyataan informan Pak Dedi Eka Yudi berikut berikut.
“Bagi saya, kalau anak tinggal berpisah dari orang tua saya sebagai orang tua pasti selalu memperhatikan dan mengawasi tindakan anak meskipun melalui alat komunikasi, akan tetapi hal sekecil itu juga sangat berguna dalam mengkontrol si anak dalam kehidupannya yang terpisah dari orangtuanya.”
Wawancara dengan informan 19 Juli 2014
“Bagi saya hubungan pacaran itu tidak penting dilakukan oleh remaja karena selain dilarang oleh agama, pacaran juga dapat merusak proses pembelajaran remaja dalam mendapatkan pendidikan dari sekolahnya.”
Wawancara dengan informan 19 Juli 2014
Kontrol masyarakat pun berperan dalam perilaku pelajar, misalnya untuk pelajar yang kos. Apakah RT/RW bertindak tegas akan daerahnya. Ada beberapa kelurahan di Binjai yang menyediakan kos-kosan yang aturannya bebas, misalnya kosan putri bisa membawa teman laki-lakinya masuk kedalam kamar. Ini bukanlah hal yang tabu lagi, bahkan saling terbuka satu sama lain, anehnya masyarakat sekitar tampak tidak peduli dengan keberadaan kos tersebut yang membebaskan peraturan untuk penghuninya. Sebagai warga yang baik seprti pernayataan yang disampaikan informan Pak Dedi Eka Yudi berikut, yaitu:
“Menurut saya untuk mengatasi perilaku seks bebas para remaja perlu adanya pengawasan dari semua pihak, misalnya bila ada anak kost yang membawa masuk lawan jenisnya kekamar kostnya tanpa seijin ibu kostnnya itu harus diperingati atau diberi sanksi tidak boleh ngekost ditempat tersebut lagi atau bila ketahuan membawa lawan jenisnya kekamar kostn langsung saja dilaporkan kepada orangtuanya karena anaknya merupakan tanggung jawab dari orangtua.”
Wawancara dengan informan 19 Juli 2014
4.4 Faktor -Faktor Yang Menyebabkan Seks Bebas Pada Remaja
berbagai makna merupakan hal yang penting bagi Weber. Menurutnya seorang haruslah menyadari tentang fakta bahwa perilaku bermakna samar dalam bentuk- bentuk yang tidak bermakna. Banyak perilaku tradisional begitu biasa seakan- akan hampir tidak bermakna. Dalam hal ini dimaksudkan adalah adanya budaya dan norma-norma yang seharusnya dijunjung tinggi karena didalam budaya terdapat nilai-nilai dan norma sosial. Hal ini dipertegas oleh pernyataan informan Ibu Sukaryawati, yaitu:
“Menurut saya, remaja-remaja masa kini sudah tidak mempedulikan peraturan-peraturan yang ditanamkan oleh masyarakat atau orang terdahulu, kalau contohnya menurut saya seperti dulunya kalau kita bertamu kerumah teman tidak sampai kemalaman dan masih memiliki kesopanan terhadap orang yang dituakan atau warga ditempat dia tinggal, kalau sekarang ini remaja-remaja tidak mempedulikan waktu berkunjung dan berkeliaran diluar rumah sampai-sampai subuh pun masih berkeliaran diluar”.
Wawancara dengan informan 19 Juli 2014
kesopanan, Norma kesusilaan, Norma hukum. Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan oleh informan Ibu Sukaryawati, yaitu:
“Dalam agama kita juga sudah dilarang bahwa melakukan seks tanpa adanya ikatan yang sah itu haram dan apabila ketahuan bisa dikenakan sanksi yang berat.”
Wawancara dengan informan 19 Juli 2014
Dikaitkan dengan perilaku pelajar, penyimpangan yang mereka lakukan menjadi tidak bermakna ketika norma-norma dan adat istiadat tidak lagi diberlakukan pada kehidupan mereka. Sesuatu tidak memiliki makna hanyalah jika sesuatu itu tidak dapat dihubungkan dengan aksi peranan metode dan kegunaannya. Suatu kategori fakta adalah tidak memiliki makna akan tetapi penting untuk menjelaskan aksi menyangkut berbagai fenomena psikologinya seperti kegembiraan, kebiasaan, dan lain-lain. begitu pula perilaku pelajar yang menyimpang itu termasuk tidak bermakna karena tidak ada kegunaannya, makna kegunaannyalah yang tidak ada dari perilaku pelajar yang menyimpang itu, tetapi perilaku psikologis mereka seperti bahagia, sedih, kebiasaan mereka itu menjelaskan kalau bahwasanya mereka melakukan aksi, meskipun aksinya tersebut tidak menghasilkan sesuatu yang berguna.
melalu majalah dan televisi, bukan hanya melihat, mereka bisa mencoba dan
merasakan trend tersebu it tinggal pilih dan beli. Sekarang mencoba sesuatu yang baru tetapi tidak sesuai dengan norma-norma dan adat istiadat adalah menjadi hal yang biasa untuk para eremaja. Menggunakan celana pendek ataupun rok mini ditempat umum adalah gaya hidup. Hal ini dipertegas dengan pernyataan siswi sekolah menengah atas(SMA) Rika Ray sebagai berikut:
“Kalau kita tidak mengikuti trend sekarang bisa-bisa kita dibilang tidak
update, tidak a ida salah sih kalau ki uta mengikuti gaya sekarang ini lagiankan tidak ada aturan yang melarang kita untuk memakai alat-alat
atau pakaian yang terbaru namanya juga trend masa kini” Wawancara dengan informan 20 Juli 2014
Seks bebas yang terjadi di kalangan pelajar terjadi karena adanya faktor- faktor yang mendukung. Ada beberapa faktor yang mendukung sehingga adanya peluang untuk pelajar melakukan seks bebas. Salah satu faktor penyebab terjadinya seks bebas ini adalah lingkungan tempat tinggal termasuk juga keluarga, selain keluarga teman bergaul juga sangat mempengaruhi. Penggunaan internet tanpa pengawasan orang tua bisa juga menjadi penyebab, dunia maya yang seharusnya menjadi tempat bersosialisasi untuk mendapatkan teman baru bisa jadi membawa dampak yang merugikan pelajar. Berdasarkan hasil wawancara menurut pemikiran peneliti ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran perilaku pelajar kota Binjai adapun fakor-faktor yang mempengaruhi pergeseran perilaku pelajar adalah sebagai berikut :
tingkah tetapi itu kembali lagi keorangtuanya bagaimana dia mendidik anaknya dengan baik, kalau diajari dan diberiakan contoh-contoh yang baik tidak akan ada masalah”
Wawancara dengan informan 19 Juli 2014
Seharusnya pergaulan remaja didalam lingkungannya bermain harus dengan kontrol orang tua atau orang yang dituakan, bisa jadi keluarga, teman yang lebih tua, teman sebaya dan bahkan tetangga atau orang-orang yang tinggal didekat lingkungannya bermain dan tempat tinggalnya. Dengan begitu remaja tidak bisa bertindak sesuka hatinya. Dan remaja harus dibekali dengan pengetahuan begitu juga pengetahuan tentang seks, agar remaja bisa membedakan mana yang wajar dan yang tidak wajar. Dan akhirnya kembali kepada pribadi masing-masing untuk menjaga diri. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Ibu Sri Wardani yaitu:
“Memberikan arti akan bahaya tentang seks bebas, dan tidak lepas dari dapat mengatasi perilaku menimpang sianak, memang masa-masa remaja adalah masa dimana anak belajar dan mencari tahu jati dirinya untuk itulah orangtua mengarahkan kejalan yang benar.”
Wawancara dengan informan 19 Juli 2014
dapat menjelaskan bahwa ketua RT/RW tidak mau tahu akan situasi kosan tersebut, terkadang mereka tahu tetapi takut menyinggung pemilik kos yang terkadang merupakan warga dari RT/RW tersebut dan ada juga yang beda kelurahan maupun beda kota.
Di Binjai sendiri masih banyak terdapat kos-kosan dengan embel- embel bebas, dan biasa lebih mahal daripada kos-kosan dengan aturan yang ketat tersebut. Ada juga sebagian kosan yang penghuni kosnya harus mengikuti tata tertib baik secara lisan maupun tulisan, bahkan tidak segan-segan pengurus kos memberitahukan atau menanyakan ketika penghuni kos melakukan kegiatan yang dianggap melanggar peraturan kos. Seharusnya setiap kos ada peraturan yang harus dibuat agar bisa mencegah terjadinya perilaku penyimpangan, terutama dikalangan pelajar. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Bapak Dedi Eka Yudi yaitu:
“Penting sekali ada peran aktif dari masyarakat terhadap perilaku remaja pelajar apalagi pelajar-pelajar yang ngekost dan terpisah jauh dari orang tuanya kalau tidak ada yang memberikan peringatan dan pengawasan terhadap perilakunya bisa mengarah kepada perilaku yang menyimpang, untuk rumah kost peran pemilik kost lah yang sangat berpengaruh agar kegiatan anak-anak kost tidak mengarah terhadap perilaku ya ng menyimpang”.
Wawancara dengan informan 19 Juli 2014
sudah pernah mengalam ki atau melakukan hubun usia remaja ini pelaku hubungan seks itu sendi dialaminya dalam berhubungan seks kepada t
dipertegas dengan pernyataan siswi sekolah menengah yakni:
ugan seks itu sendiri biasanya pada
nri akan menceritakan hal-hal yang neman-teman terdekatnya. Hal ini
atas(SMA) Rika Ray,
“Bagi saya sih wajar-wajar saja kalau ada teman yang menceritakan tentang kehidupan pribadinya apa lagi tentang hubungan asmaranya,
mau menceritak gan tentang hubungan asmara
menceritakan te bntang hubungan seks dengan tersebutkan wajar dilakukan oleh teman, namanya kesah teman kita epasti kita dengarkan”
Wawancara dengan informan 20 Juli 2014
sampai mana dan
nan Rika yang berkumpul dengan teman-temannya di
mempunyai masalah pribadi atau masalah dengan orang tuanya, maka ia akan lebih sering membicarakan dengan teman-temannya karena mereka merasa lebih nyaman berbagi dengan teman dibanding dengan keluarga. Telah terjadi pergeseran perilaku remaja sehingga mereka memaknai virginitas itu bukanlah hal yang penting, sebelumnya mereka menganggap virginitas itu adalah hal yang harus dijaga, tetapi dengan terjadinya pergeseran perilaku remaja maka makna virginitas itu sudah tidak diindahkan lagi. Teman sebaya merupakan faktor penting dalam mengatasi perubahan dan permasalahan yang mereka hadapi (Bagong Narwoko, 2007: 94-96). Karena hal inilah yang membuat para remaja sangat rentan akan melakukan hubungan seks pra nikah karena informasi yang didapat oleh teman sebayanya tidak disaring mana hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk tanpa adanya bimbingan atau kontrol yang baik dari orang tua ataupun masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Hal ini dapat dipertegas oleh pernyataan dari pernyataan siswi sekolah menengah atas (SMA) Adinda Syafitri yakni:
“karena dengan pergaulan bebas awal dari remaja mengenal dan mendapatkan informasi dari luar mengenai seks itu sendiri, tetapi menurut saya kalau kita pandai menjaga diri serta pandai menetukan mana yang benar dan salah saya rasa selama kita melakukan perbuatan tersebut tidak ada masalahkan.”
Wawancara dengan informan 20 Juli 2014
pengaruh dari teman-teman sebaya juga lebih memberikan dampak langsung kepada seorang remaja dalam melakukan hubungan seks dan perbuatan menyimpang lainnya karena bagi mereka selain orangtua teman sebaya atau sepermainan juga mereka anggap sebagai keluarga mereka juga. Hal ini dipertegas oleh pernyataan Adinda Syafitri, yaitu:
“Menurut saya teman sepermainan atau sahabat dekat kita bagi saya keluarga kedua saya karena apabila kita ada masalah pribadi yang tidak bisa kita selesaikan saya akan ceritakan kepada teman-teman saya”.
Wawancara dengan informan 20 Juli 2014
“Mengontrol penuh setiap kegiatan anaknya, memberikan motivasi baik terhadap anak, mengajarkan anak tentang nilai nilai kebaikan sangat berpengaruh.”
Wawancara dengan informan 19 Juli 2014
Namun, ketika pelajar itu dilepas tanpa sebelumnya diberikan pemahamanpemahaman mengenai seks maka pelajar itu sendiri akan secara sendirinya akan mendapatkan informasi dari luar keluarga sehingga ujung-ujungnya coba-coba karena keingintahuan yang besar dan jika terjerumus akhirnya akan menganggap seks itu hal yang biasa dan cenderung pelajar mengalami kebiasaan.
Penggunaan teknologi dan komunikasi. Penggunaan handphone dengan teknologi pendukung seperti kamera dan memiliki kapasitas kartu memori memudahkan para pelajar menyimpan data seperti foto dan video yang sama sekali tidak untuk mendidik. Internet juga menjadi salah satu faktor, adanya jejaring sosial yang memudahkan para pelajar kenal satu sama lain dengan mudah dengan hanya berselancar di internet, terkadang terjadi transaksi melalui via internet dan jejaring sosial. Tidak sampai disitu saja penggunaan internet tanpa pengawasan orang tua memudahkan pelajar bebas menyelami dunia maya yang terkadang ada beberapa situs khusus dewasa tetapi sengaja dibuka oleh remaja pelajar karena rasa ingin tahu yang begitu besar. Seperti penuturan informan Adinda Syafitri berikut, yaitu:
Skype. Selain itu juga kalau misalny aa ada tugas dari sekolah saya mencari jawabannya melaui internet. Kalau menonton video-video porno
jarang sih lebih sering lihat dari handpo ane temen yang mengkoleksi video porno”
Wawancara dengan informan 20 Juli 2014
Dokumentasi Pelajar sehabis pulang sekolah yang berkumpul dan berfoto- foto.
Penggunaan handphone dan internet seha lrusnnya dalam pengawasan orang
pelajar akan menjauhi perilaku menyimpang, dalam hal seks bebas. kurangnya pengetahuan tentang seks membuat para pelajar merasa bersalah ketika terjebak dalam perilaku seks bebas. semua ini disebabkan adanya pergaulan yang kurang terkontrol. Hal tersebut dapat dipertegas dengan pernyataan informan Ibu Sukaryawati, yaitu:
“Menurut ibu, jaman sekarang ini dari yang muda sampai yang tua sudah bisa menggunakan atau membuka internet dengan mudah melalui komputer atau handpone, untuk anak-anak yang baru pertama kali menggunakan media sosial yang ada diinternet perlu adanya pengawasan orangtua agar manfaat yang positif dari internet tersebut didapatkan oleh sianak”.
Wawancara dengan informan 19 Juli 2014
Penggunaan internet dikalangan remaja bagaikan dua sisi mata pisau, dimana yang salah satunya berguna, membantu pelajar dalam mencarikan informasi untuk tugas dan PR mereka, tetapi disisi lain penggunaan “ social network” misalnya facebook, twitter, camfrog, youtube dan lain-lain. tanpa ada pengawasan bisa saja pelajar melakukan tindakan yang akhirnya menjerumuskan mereka kedalam seks bebas. Hal tersebut dapat dipertegas dengan pernyataan informan Adinda Syafitri berikut, yaitu:
produk-produk terbaru melalui online shop spert baju, celana, sepetau dan aksesoris lainnya yang kita butuhkan”.
Wawancara dengan informan 20 Juli 2014
Kurangnya pemahaman tentang agama. Kedekatan dengan tuhan akan membuat seorang manusia takut akan dosa, pelajar yang dekat dengan tuhannya akan menjauhi larangan yang akhirnya mendapatkan dosa ketika dilakukan. Keluarga seharusnya sudah mengenalkan agama kepada anakanya ketika masih kecil hingga remaja sehingga penanaman nilai-nilai baik yang diajarkan oleh agama menjadi benteng dari setiap remaja untuk dapat berperilaku yang sesuai dengan norma yang ada dimasyarakat. Kurangnya pemahaman tentang agama akan menyebabkan remaja menjadi lebih cenderung lupa akan dosa dan kedua orang tua sehingga remaja terjerumus dalam perilaku seks bebas . Hal ini dipertegas oleh pernyataan siswi sekolah menengah atas(SMA)Melisa Daliyani yakni:
“Ya peran orang tua sangat penting dalam mengajarkan pendidikan agama kepada anaknya sehingga anaknya takut kepada Tuhan untuk melakukan dosa.”
Wawancara dengan informan 20 Juli 2014
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Masa remaja merupakan masa peralihan antara anak-anak dan dewasa yang ditandai dengan berlangsungnya proses-proses perubahan secara biologis, psikologis dan sosiologis. Dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang melatar belakangi remaja melakukan perilaku menyimpang adalah:
1. Keingintahuan remaja yang sangat besar akan hal-hal yang baru diketahui
dan ditemukan dalam pergaulan.
2. Lingkungan yang mendukung artinya kurangnya kontrol dari masyarakat dan ketidakperdulian masyarakat sekitar.
3. Remaja menganggap teman-teman sebaya lebih bisa menghargai dan menerima apa adanya sehingga remaja lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan teman dari pada dengan keluarganya.
4. Terlalu cepat menerima informasi dan hal-hal yang baru yang disampaikan teman sebaya tanpa dikontrol dan pengawasan orang tua.
5. Ajakan dan rayuan dari teman